Petualangan Ari di rumah tante maya & para wanita tetangga kompleks (bab 11)

 



Setelah kejadian di kamar mandi yang penuh tawa dan ketegangan, Ari dan Mbak Dewi akhirnya berhasil mematikan shower yang bocor. Air berhenti menyembur, tapi lantai kamar mandi sudah banjir genangan, dan tubuh mereka berdua basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Mbak Dewi kini berdiri berhadap hadapan dengan Ari. Daster tipisnya yang basah kuyup menempel ketat ke tubuhnya seperti kulit kedua. Di balik kain yang hampir transparan itu, terlihat jelas bra hitam sederhana yang basah dan menempel sempurna di payudara jumbonya, serta celana dalam berwarna senada yang membungkus pantat bulat besarnya. Payudara jumbo Dewi terlihat sangat penuh dan berat, tertekan oleh bra basah sehingga bentuknya semakin menonjol. Putingnya yang mengeras karena dinginnya air terlihat samar-samar menembus lapisan bra dan daster. Pinggang langsingnya berkilau karena air, dan belahan selangkangan dewi yang terbungkus celana dalam basah nampak sangat jelas tercetak. Tetesan air masih mengalir pelan dari lehernya turun ke celah payudara yang dalam.


Dewi masih terkikik kecil,. "Hihihi... akhirnya mati juga shower-nya! Ari, kamu pahlawan hari ini! Tapi lihat deh kita berdua... kayak habis main air hujan bareng di kontrakan! Lucu banget sih... adik Mbak yang basah kuyup dan... hahaha... masih 'bangun' gitu.... Mbak kaget tadi pas nempel di pantat Mbak!" Ari merasa wajahnya panas seperti terbakar. Hatinya berdegup kencang, campuran malu yang luar biasa, rasa bersalah karena Mbak Dewi sudah berkeluarga dan punya anak, tapi nafsunya yang besar membuat kontolnya sulit lemas. Ya Tuhan... bra dan celana dalamnya kelihatan semua... payudaranya... pantatnya... "Mbak Dewi... maaf... aku... aku nggak sengaja..."


Dewi masih tertawa renyah, bahunya bergoyang, payudaranya yang jumbo ikut bergoyang berat di balik bra dan daster basah, membuat kainnya semakin menempel dan memperlihatkan bentuk bra yang basah. "Nggak apa-apa Ari... Mbak tahu kok kamu nggak sengaja. Tapi serius... besar banget! Mbak kaget beneran. Adik Mbak ini ternyata 'berbakat' ya? Hahaha! Tenang aja, Mbak nggak marah. Malah lucu.. biasanya cowok seumuran kamu gampang banget naiknya.., hihihi... 'senjata'nya langsung siap!


Kamu kayak superhero basah kuyup yang datang nolong, tapi superhero-nya malah tegang duluan!" Ari ingin tenggelam ke lantai. Dia mundur selangkah, tapi lantai licin membuatnya hampir tergelincir.


Sensasi pantat montok yang kenyal dan hangat, ditambah garis celana dalam yang basah, masih terasa di kepala kontolnya. "Mbak... please... jangan digituin... aku malu banget..."


Dewi masih terkikik sambil mengambil dua handuk bersih dari rak. "Ya udah, sini handuk. Kamu basah kuyup gini... nanti masuk angin. Mbak juga basah... bra sama celana dalam ini jadi nempel semua deh.


Lihat nih... semuanya kelihatan." Dia menarik sedikit daster-nya yang basah, memperlihatkan betapa bra dan celana dalamnya menempel sempurna di tubuhnya, lalu tertawa lagi. "Hahaha... Mbak kayak ikut kontes basah kuyup!"


Ari mengambil handuk dengan tangan gemetar. Mereka keluar dari kamar mandi dengan hati-hati karena lantai licin. Dewi memberikan handuk kepada Ari, lalu masuk ke kamar tidur sebentar untuk mengganti baju. Ari berdiri di ruang tamu, mengusap tubuhnya yang basah sambil berusaha menenangkan diri.


Kenapa harus terjadi gini... bra dan celana dalamnya basah... payudaranya... pantatnya... susah banget dikontrol...


Beberapa menit kemudian, Dewi keluar dengan daster baru yang agak tebal, tapi tetap pendek sampai pertengahan paha. Rambutnya masih basah, kulit putih mulusnya terlihat segar dan mengkilap karena sisa kelembaban. Payudara jumbonya masih terlihat padat di balik kain, dan saat dia berjalan, pantat bulat besarnya bergoyang pelan dengan sensual. Dia membawa dua cangkir teh hangat dan duduk di sebelah Ari di sofa kecil.


"Minum dulu Ari. Maaf ya tadi ribet. Shower emang sering bocor kalau hujan deras. Kamu baik banget langsung bantu... meskipun akhirnya kita berdua basah bareng. Hahaha!" Dewi tersenyum nakal, matanya melirik sebentar ke pangkuan Ari yang masih agak menonjol.


Ari tersenyum gugup sambil menunduk, tangannya memegang cangkir teh hangat. "lya Mbak Dewi... aku cuma khawatir Mbak kesetrum atau apa. Tapi... maaf soal... yang tadi... aku nggak sengaja." Dewi tertawa lagi, suaranya renyah dan ringan. "Nggak apa-apa Ari.... Mbak sudah bilang kan? Lucu kok.


Kamu panik lari masuk, basah kuyup, terus... hahaha... 'senjata'nya langsung siap. Adik Mbak ini kok punya ukuran segede itu? Hahaha! Tenang aja, Mbak anggap kamu adik lucu... adik yang basah dan tegang. Besok-besok kalau shower bocor lagi, panggil kamu ya... biar kita basah bareng lagi! Hahaha!" Ari merasa pipinya panas. Dia menyesap tehnya pelan, tapi di dalam hati emosinya berkecamuk. Mbak Dewi ngeledek... tapi dia nggak marah... malah ketawa... aku harus berhenti mikir macam-macam... tapi tubuhnya tadi... bra basahnya... pantatnya nempel... aroma tubuhnya masih tercium... susah banget dilupain....


Mereka ngobrol ringan sambil minum teh. Dewi bercerita tentang Sinta yang semakin aktif, tentang


suaminya yang jarang pulang karena kerja di Sumatera, dan tentang betapa capeknya mengurus anak sendirian. Ari mendengarkan dengan sabar, sesekali memberi komentar pendek. Tapi di dalam hati, dia terus gelisah. Setiap kali Dewi tertawa atau bergeser di sofa, bayangan payudara jumbo dan pantat montok yang basah tadi muncul lagi. Kontolnya masih setengah tegang, membuatnya duduk agak kaku.


"Eh Ari, mau mba pijit sebentar nggak? Kamu kan udah bantu mbak seharian, Cuma bahu doang kok...


adik Mbak kan rajin."


Ari ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Bisa Mbak Dewi... tapi pelan-pelan ya." Dewi tersenyum. "Makasih ya... duduk yang nyaman, Mbak pijit dari belakang, biar lebih enak sebentar mba tutup aja pintunya ya kita pakai AC aja biar lebih adem, siang ini panas banget." Ari duduk tegak lesehan di karpet itu. Mbak Dewi pindah di belakangnya, setelah menutup pintu dan menyalakan Ac. Tangan kecilnya yang hangat mulai memijat bahu Ari dengan lembut. Karena posisi itu, payudara jumbo Dewi yang masih agak lembab menempel langsung ke punggung Ari.


Sensasi itu sangat jelas dan intens - dua gundukan yang lembut, berat, dan hangat menekan punggungnya melalui kain daster tipis. Payudara Dewi yang penuh dan kenyal bergoyang pelan setiap kali dia menekan pijitan, membuat putingnya yang mengeras terasa samar-samar menyentuh tulang belakang Ari. Kelembaban kulitnya yang masih tersisa membuat sensasi itu semakin sensual, hangat,


dan licin.


Ari langsung tegang maksimal. Napasnya tersengal pelan. Ya Tuhan... payudaranya.. langsung nempel di punggungku...apakah dia tidak memakai bra... lembut sekali... berat... hangat... aku bisa rasakan bentuknya... putingnya... aku salah... tapi aku nggak mau dia berhenti...


Dewi memijat dengan gerakan melingkar yang kuat tapi lembut, jari-jarinya menekan otot bahu Ari.


Setiap gerakan membuat payudara jumbonya bergeser dan menekan lebih dalam ke punggung Ari.


"Enak nggak Ari?" tanya Dewi pelan, suaranya agak serak dan hangat di telinga Ari. Napasnya menyentuh tengkuk Ari, membuat bulu kuduknya berdiri.


"lya Mbak... enak sekali..." jawab Ari, suaranya hampir hilang. Hatinya berdegup kencang.


Payudaranya... besar banget... nempel erat... setiap tekanan... aku rasakan semuanya... Mbak Dewi...


maaf... aku nggak kuat...


Dewi tertawa kecil di belakangnya, tawanya renyah tapi kali ini ada nada yang lebih dalam. "Bagus...


Mbak pijit yang kuat ya... bahu kamu tegang banget. Kamu angkat kardus banyak tadi... makanya pegel.


Mbak balas budi nih... adik Mbak yang baik..."


Tangan Dewi turun pelan ke punggung Ari, memijat lebih dalam. Payudara jumbonya ikut bergeser, menekan punggung Ari dengan gerakan yang sensual dan berat. Ari bisa merasakan kelembaban kulit Dewi, kehangatan tubuhnya, dan bobot payudara yang penuh itu setiap kali Dewi membungkuk sedikit untuk memijat lebih rendah.


"Enak ya...?" bisik Dewi lagi, suaranya semakin dekat ke telinga Ari.


"lya Mbak... enak..." jawab Ari, suaranya hampir hilang.


Suasana ruang tamu kecil itu tiba-tiba terasa lebih intim. Dewi duduk lebih rileks, tubuhnya semakin menempel ke punggung Ari. Payudara jumbonya yang lembut dan hangat terus menekan punggung Ari dengan kuat. Siang itu masih panjang di kontrakan kecil itu, dan ketegangan sensual di antara mereka semakin terasa nyata - manis, lucu, dan semakin sulit dihindari.


bersambung



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar