Petualangan Ari di rumah tante maya & para wanita tetangga kompleks (bab 2)

 



minggu yang panjang


Sudah seminggu Ari tinggal di rumah kontrakan kecil nomor 7. Hari-harinya terasa monoton tapi penuh usaha. Pagi-pagi sekali dia biasa bangun, membantu Tante Maya menyiram tanaman di halaman depan yang sempit, lalu setelah sarapan dia keluar rumah membawa selembar kertas yang sudah ditulis rapi daftar lowongan kerja dari koran bekas dan informasi dari tetangga. Tubuh atletisnya dari kerja sawah membuat dia kuat berjalan kaki keliling kompleks dan sampai ke jalan raya utama, tapi hatinya selalu gelisah. "Aku nggak mau lama-lama numpang. Harus cepat dapat kerja," gumamnya dalam hati setiap pagi.

Om Joko bekerja sebagai kru film. Pekerjaannya tidak tetap, kadang dia jadi lighting crew, kadang grip, kadang assistant camera. Jadwalnya sering tidak menentu. Kadang pulang malam sekali, kadang malah lembur sampai subuh di lokasi syuting di pinggiran Jakarta atau studio kecil di daerah Cikarang. Om Joko cerita bahwa dia sudah 20 tahun berkecimpung di dunia film, mulai dari nol sebagai helper sampai sekarang kadang dipercaya mengatur peralatan untuk sinetron dan iklan. Penghasilannya cukup untuk hidup sederhana, tapi tidak mewah.

Suatu malam setelah makan malam, saat Om Joko sedang istirahat di sofa sambil minum kopi hitam, Ari memberanikan diri bertanya. Ruang tamu kecil itu terasa lebih hangat karena lampu neon redup.

"Om... kerjaan Om di film itu gimana sih? Seru nggak?" tanya Ari pelan sambil duduk di kursi kayu seberang sofa.

Om Joko tersenyum lelah, garis kerut di sudut matanya terlihat jelas. "Seru sih Ari, tapi capek. Kadang kita syuting dari pagi sampai malam, kadang malah overtime sampai pagi berikutnya. Lighting harus pas, kamera harus stabil, aktor-aktornya kadang rewel. Tapi ya itu... dunia hiburan. Kadang dapat proyek bagus, kadang sepi berbulan-bulan. Untung Tante Maya sabar."

Tante Maya yang sedang membereskan piring di dapur sempit ikut nimbrung dari kejauhan. Suaranya lembut. "lya Ari, Om kamu itu kerjaannya nggak tentu. Kadang pulang bawa duit lumayan, kadang cuma bawa capek doang."

Ari mengangguk pelan. Dia memperhatikan Om Joko dan Tante Maya. Sudah hampir 12 tahun mereka menikah, tapi belum punya anak. Ari penasaran, tapi dia terlalu pemalu untuk bertanya langsung.

Akhirnya Om Joko sendiri yang membuka cerita malam itu, seolah tahu apa yang dipikirkan keponakannya.

"Kamu pasti heran ya kenapa Om sama Tante belum punya anak," kata Om Joko sambil menatap

cangkir kopinya. Suaranya pelan, ada nada sedih yang tersembunyi. "Dulu kami sempat berusaha. Tante Maya pernah hamil dua kali, tapi keguguran. Dokter bilang ada masalah di rahim Tante. Kami sudah coba pengobatan, tapi biayanya mahal. Kerja Om juga nggak stabil. Akhirnya kami putuskan untuk istirahat dulu. Sekarang sudah terbiasa berdua. Tante Maya bilang yang penting sehat dan tetap bisa bersama."

Tante Maya keluar dari dapur, mengusap tangan ke daster-nya. Wajahnya agak murung tapi tetap

tersenyum lembut. "lya Ari... Tuhan belum kasih rezeki anak buat kami. Tante sudah terima. Yang penting Om Joko sehat, kita bisa makan setiap hari. Kamu jangan mikirin itu ya. Fokus cari kerja aja dulu."

Ari merasa tidak enak. "Maaf Om, Tante... saya nggak bermaksud ikut campur."

"Gapapa,"

jawab Om Joko sambil menepuk lututnya sendiri. "Kamu keluarga. Di rumah kecil ini kita

harus terbuka. Lagian kamu juga lagi berusaha keras cari kerja. Gimana hari ini? Ada panggilan wawancara?"

Ari menggeleng pelan.

"Belum Om. Kemarin saya daftar di toko material dekat gerbang kompleks,

katanya nunggu panggilan. Hari ini saya keliling ke warung-warung di jalan raya, tapi kebanyakan sudah penuh karyawan. Besok saya coba lagi ke pabrik kecil di daerah sebelah."

Tante Maya duduk di sofa di samping suaminya. "Kamu sabar ya Ari. Jakarta ini memang susah. Banyak yang baru datang seperti kamu, tapi pelan-pelan pasti ada jalan. Kalau capek jalan kaki, bilang ke Tante.

Kadang Om bisa pinjam motor tetangga."

Percakapan malam itu berlangsung pelan. Om Joko bercerita tentang pengalaman syuting yang lucu, aktor yang lupa dialog, lampu yang mati mendadak di tengah take, dan kru yang harus kerja lembur sambil makan mie instan di lokasi. Tante Maya sesekali tertawa kecil, tapi Ari melihat ada sedikit kesedihan di matanya ketika topik anak tersinggung tadi. Rumah yang sempit ini membuat segala percakapan terasa dekat, hampir tak ada privasi.

Hari-hari berikutnya Ari semakin tekun mencari kerja. Pagi-pagi dia keluar rumah dengan kemeja polo lusuh dan celana jeans panjang yang sudah agak pudar. Dia berjalan kaki keliling kompleks, bertanya ke warung kelontong, bengkel motor, sampai ke toko bangunan. Sore harinya dia pulang dengan kaki pegal, kadang membawa koran bekas yang penuh iklan lowongan. Setiap pulang, Tante Maya selalu

menyambut dengan senyum dan segelas air putih dingin.

"Masih belum dapat ya Ari?" tanya Tante Maya suatu sore sambil menyodorkan air.

"Belum Tante... tapi saya nggak nyerah. Besok saya coba ke kawasan industri kecil di sebelah utara

kompleks," jawab Ari sambil duduk di kursi ruang tamu, kakinya terasa berat.

Om Joko yang kebetulan pulang lebih awal malam itu ikut nimbrung. "Kamu kuat Ari. Badan kamu dari sawah, pasti tahan. Kalau butuh surat rekomendasi, Om buatin. Meski kerjaan Om di film, tapi nama Om cukup dikenal di kalangan kru."

Malam-malam Ari sering duduk di kamar kecilnya yang bersebelahan dengan dapur. Suara Tante Maya

mencuci piring atau Om Joko menonton televisi samar terdengar lewat dinding tipis. Kadang dia teringat sentuhan tak sengaja di dapur pada hari pertama, paha yang berdempetan dengan pantat Tante Maya yang montok. Ari selalu buru-buru menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu. "Fokus cari kerja... jangan mikir yang aneh-aneh," bisiknya pada diri sendiri.

Suatu sore, saat Ari baru pulang dari mencari kerja dan sedang duduk di teras kecil dengan wajah lelah, terdengar suara langkah kaki mendekat.

Seorang wanita berjilbab rapi berjalan ke arah rumah mereka.

Jilbabnya warna pastel lembut, baju kurung panjang yang longgar tapi tetap menonjolkan lekuk tubuh montoknya. Payudaranya besar dan padat, pinggulnya lebar khas wanita Sunda. Usianya tampak sekitar

38 tahun, wajahnya cantik dengan senyum malu-malu.

Tante Maya yang sedang menyapu teras langsung menyapa ramah. "Bu Dian! Silakan masuk Bu. Jarang-

jarang ke sini."

Bu Dian tersenyum lembut. "Maaf ganggu sore-sore Tante Maya. Saya cuma mau nganter undangan rapat RT minggu depan. Pak Udin lagi sibuk di balai RT, jadi saya yang keliling. Saya istri Pak Udin, ketua

RT di kompleks ini."

Tante Maya mengajak Bu Dian masuk ke ruang tamu kecil. Ari yang masih duduk di teras langsung berdiri canggung, tangannya agak gemetar.

"Ini Ari, keponakan Om Joko yang baru datang dari desa seminggu lalu," kata Tante Maya memperkenalkan.

Bu Dian menoleh ke Ari dan tersenyum ramah. "Oh... anak baru ya? Selamat datang di kompleks ini.

Saya Bu Dian, istri Pak Udin ketua RT. Rumah kami nomor 12, tidak jauh dari sini."

Ari mengangguk cepat, pipinya terasa panas. Suaranya hampir hilang. "I-iya Bu... nama saya Ari. Baru numpang di sini."

Bu Dian mengamati Ari sebentar, tubuh atletisnya yang tinggi, wajahnya yang masih polos dan pemalu.

"Kamu lagi cari kerja ya? Kalau butuh info lowongan, bilang aja ke saya atau Pak Udin. Kadang ada tetangga yang butuh karyawan di toko atau bengkel."

"Makasih Bu..." jawab Ari pelan, matanya tidak berani lama-lama menatap. Tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa Bu Dian sangat cantik. Jilbabnya rapi, gerakannya anggun, dan tubuh montoknya terlihat jelas meski tertutup baju kurung longgar.

Mereka bertiga duduk sebentar di ruang tamu. Bu Dian menyerahkan undangan rapat RT kepada Tante Maya sambil ngobrol ringan tentang cuaca dan kondisi kompleks. Ari hanya diam mendengarkan, sesekali mencuri pandang ke arah Bu Dian. Setiap kali Bu Dian tertawa kecil, jilbabnya bergeser sedikit, memperlihatkan leher putihnya yang halus.

Setelah sekitar sepuluh menit, Bu Dian berdiri. "Saya pulang dulu ya Tante. Anak saya nunggu di rumah.

Ari, semangat cari kerjanya ya."

"lya Bu... hati-hati," jawab Ari sambil berdiri juga, suaranya masih rendah.

Begitu Bu Dian pergi, Tante Maya menutup pintu dan tersenyum ke Ari. "Bu Dian orangnya baik ya. Istri Pak Udin ketua RT yang ramah dan suka bantu tetangga. Suaminya Pak Udin memang sibuk sekali."

Ari hanya mengangguk. Di dalam hatinya, pertemuan singkat itu meninggalkan kesan yang aneh. Ada sesuatu pada Bu Dian,kecantikan khas Sunda, tubuh montok yang tertutup jilbab, dan senyum malu-malu, yang membuat dadanya berdegup lebih cepat. Tapi Ari cepat menggelengkan kepala. "Fokus cari kerja dulu... jangan mikir yang macam-macam," bisiknya dalam hati.

Malam itu, saat sudah di kamar kecilnya yang bersebelahan dengan dapur, Ari berbaring sambil memandang langit-langit. Seminggu yang penuh usaha mencari kerja, cerita Om Joko tentang dunia film dan perjuangan Tante Maya, serta pertemuan pertama dengan Bu Dian, istri Pak Udin ketua RT, membuat pikirannya penuh. Rumah yang sempit ini mulai terasa semakin hangat... dan semakin berbahaya bagi nafsunya yang besar.

bersambung


Posting Komentar

0 Komentar