malam yang tak terduga
Hujan deras masih mengguyur Jakarta tanpa henti, suara air memukul atap seng rumah kontrakan kecil nomor 7 seperti genderang yang tak pernah berhenti. Malam itu udara terasa sangat lembab dan panas, meski hujan deras di luar. Lampu ruang tengah kecil hanya menyala satu neon putih yang sudah agak kuning, cahayanya redup dan hangat. Om Joko sudah tiga hari berangkat syuting ke Banyuwangi, meninggalkan rumah hanya dihuni Ari dan Tante Maya. Rumah yang biasanya sudah sepi kini terasa lebih intim, lebih pengap, dan lebih berbahaya.
Tante Maya duduk di tepi kasur tipis yang sudah dibentangkan langsung di lantai ruang tengah. Kasur tipis itu hanya muat untuk satu orang, sprei putihnya sudah agak kusut karena sering dipakai untuk tidur siang. TV menyala menyiarkan berita perang timur tengah. Daster rumah tipis berwarna pastel yang biasa dipakainya malam ini terasa lengket di kulit karena cuaca lembab. Rambutnya yang biasa tergerai agak basah karena baru mandi sore tadi. Wajahnya sedikit meringis, tangannya mengusap pinggang pelan.
"Ari... punggung Tante pegel sekali hari ini. Cuci baju banyak, nyapu halaman, masak... tolong pijitin
Tante ya, seperti biasa," pintanya pelan, suaranya biasa saja, tidak ada nada malu atau gugup.
Ari yang sedang berdiri di ambang ruang tengah langsung mengangguk. Jantungnya sudah mulai berdegup lebih cepat dari biasanya. Malam ini dia hanya memakai celana kolor katun tipis yang longgar, tanpa celana dalam di dalamnya karena cuaca panas. "Boleh Tante. Di kasur sini aja?"
Tante Maya mengangguk pelan, lalu berbaring tengkurap di kasur tipis yang langsung menyentuh lantai keramik. Tubuhnya yang montok terasa berat di kasur yang tipis. Dasternya naik pelan sampai ke tengah paha karena posisi tengkurap, memperlihatkan kulit kuning langsat yang halus, paha yang penuh, dan pinggul yang sangat montok, bulat, dan empuk. Celana dalam hitamnya yang tipis masih terlihat samar di balik daster yang naik.
Ari duduk di samping kasur, di sebelah kiri Tante Maya. Dia mengambil botol minyak urut yang biasa disiapkan di dekat kasur, menuang sedikit ke telapak tangannya, lalu menggosokkan kedua tangannya hingga hangat.
Mulai dari kaki. Tangan Ari memijat telapak kaki Tante Maya dengan lembut, lalu naik ke betis dan paha belakang. Tekanannya pelan dan ritmis, jari-jarinya menekan otot-otot yang tegang dengan gerakan melingkar yang lambat.
"Di situ Ari... enak sekali," desah Tante Maya pelan. Matanya tertutup nyaman, wajahnya menghadap ke arah dinding ruang tengah. Dia merasa benar-benar nyaman, tidak ada malu atau kegelisahan. Pijatan Ari memang selalu enak dan membantu meredakan pegalnya.
Tangan Ari naik perlahan ke paha belakang Tante Maya. Jarinya menekan otot-otot yang tegang dengan gerakan melingkar yang lambat. Setiap tekanan membuat Tante Maya mendesah kecil karena nyaman, tubuhnya sedikit rileks.
"Lebih atas lagi Ari... di pinggul Tante... pelan-pelan ya... ahh... di situ enak sekali," kata Tante Maya
dengan suara rileks.
Ari menurut. Tanganannya naik ke pinggul Tante Maya, memijat otot yang pegal dengan gerakan yang lebih dalam. Tapi gerakan itu membuat tubuhnya semakin merapat. Selangkangan Ari sekarang tepat di belakang pinggul Tante Maya. Celana kolor katun tipisnya mulai bergeser pelan karena gerakan memijat yang semakin lebar.
Tante Maya masih merasa nyaman. "Ari... posisinya agak susah ya dari samping. Kalau mau kamu naik keatas Tante aja, mungkin pijatannya lebih enak. Boleh kok, Tante nyaman aja."
Ari ragu sebentar, tapi karena Tante Maya sendiri yang mengizinkan, dia akhirnya naik pelan dan mengangkangi pinggul Tante Maya dari belakang. Lututnya berada di sisi kiri dan kanan pinggul Tante Maya. Posisi ini memang membuat tangannya lebih bebas memijat punggung dan pinggang Tante Maya
dengan tekanan yang lebih kuat dan merata.
"Begini lebih enak Tante?" tanya Ari pelan, suaranya sudah agak bergetar karena posisi ini membuat
kontolnya semakın dekat dengan tubun lante vaya.
"lya... jauh lebih enak. Teruskan ya Ari," jawab Tante Maya dengan suara nyaman, matanya masih tertutup rileks.
ri melanjutkan pijatan. Tangan memijat perlahan tapi bertenaga dari pinggang ke atas. Karena posisi
lenganakanaı vana lebar. celana kolor katun tıpisnva mulaı beraeser dan terbuka sendırı pelan-pela
dari samping. Ari tidak sadar, karena fokus memijat.
Tante Maya masih merasa nyaman. Tapi saat Ari memijat agak ke atas dengan tekanan yang lebih dalam, celana kolor Ari tanpa sengaja bergeser lebih lebar. Kontol Ari yang sudah setengah tegang kini terbebas dan tanpa sengaja menyentuh belahan pantat Tante Maya yang montok melalui daster tipis.
Ari langsung tersentak. "Maaf Tante... celana kolor aku... bergeser sendiri... aku nggak sengaja..."
Suaranya gemetar, penuh rasa bersalah dan malu. Wajahnya panas sekali. Dia merasa seperti pengkhianat, tapi nafsunya yang besar sudah mulai membara.
Tante Maya tersentak kecil. Awalnya dia hanya merasa nyaman dengan pijatan, tapi sekarang ada sensasi panas dan keras yang menempel di belahan pantatnya. Birahinya mulai naik pelan. Kenangan waktu mati lampu di dapur itu mulai muncul kembali "Ari.. itu... apa ya?" tanyanya pelan, suaranya masih agak rileks tapi mulai ada nada lain.
Ari buru-buru minta maaf lagi. "Maaf Tante... aku benar-benar nggak sengaja... aku mundur tante..."
Tante Maya diam sebentar. Di dalam hatinya terjadi peperangan batin yang hebat dan menyiksa.
Ini Ari... keponakan Bang Joko... anak yang kita terima numpang di rumah ini... aku nggak boleh.. ini
salah besar... Bang Joko percaya sama aku.. aku ini istri orang... harusnya aku suruh dia mundur sekarang juga... ini sudah keterlaluan... aku akan merusak semuanya....
Tapi sensasi kontol Ari yang panas, tebal, dan berdenyut pelan di belahan pantatnya membuat tubuhnya bereaksi lain. Ada kehangatan yang menyebar cepat ke selangkangannya, memeknya mulai basah tanpa bisa ditahan.
Kenapa rasanya enak sekali... lama sekali aku nggak merasakan yang begini... Bang Joko jarang sekali... cuma sebentar... ini cuma pijatan.. cuma kebetulan... aku nggak sengaja... aku nggak berniat... tapi... kenapa aku malah ingin dia tetap di sini... kenapa tubuhku malah bereaksi seperti ini...
aku jahat... aku istri yang buruk... tapi... rasanya panas... enak...
Rasa bersalah bertarung sengit dengan birahi yang mulai bangkit. Tante Maya merasa kotor, merasa hina, merasa bersalah kepada suaminya, tapi juga merasa hidup kembali setelah sekian lama. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya mulai tersengal pelan. Dia merasa terbelah antara ingin menolak dan ingin membiarkan sensasi itu berlanjut sedikit lagi.
Akhirnya, dengan suara yang hampir bergetar karena malu dan gugup, Tante Maya memberanikan diri.
"Lanjutkan aja ari, gak apa tante ngerti kok, oh ya skalian tambahin minyak lagi ya, sama itu...Celana dalam Tante... takut kena minyak urut... lepas aja ya... biar nggak kotor. Celana kolor kamu juga... lepas aja sekalian, biar nggak kotor kena minyak."
Ari hanya bisa mengangguk pelan mengikuti permintaan tantenya. Tangannya gemetar turun, melepas celana kolornya sendiri, lalu membantu Tante Maya melepas celana dalam hitamnya.tante maya mengangkat pinggulnya sedikit u tuk membantu ari melepaskan celana dalamnya. Keduanya kini telanjang di bagian bawah. Pemandangan pantat tante maya yang sangat montok dan mulus membiat kontol ari menegang sekeras kerasnya, rasa tidak percaya apa yang dia alami sekarang ini bercampur dengan rasa bersalah juga birahinya yang sudah sangat tinggi bercampur aduk. Apalagi tampak Memek Tante Maya yang sudah basah sekali kini terlihat dari belahan pantatnya yang sangat bulat itu. Ari menguatkan hatinya, berusaha keras untuk tetap pada tujuannya untuk memijat tante nya
Ari menuangkan lebih banyak minyak ke tangannya kemudian Ari kembali memijat punggung atas Tante Maya. Tapi posisi mereka sekarang telanjang di bagian bawah membuat kontolnya sekarang lebih sering bertemu dengan pantat tante maya.. Kepala kontolnya yang basah dan panas berkali kali menggesek belahan pantat tante maya, menggesek anus tante maya, bahkan sesekali menempel tepat di bibir memek Tante Maya, Hanya menempel, menggesek pelan karena gerakan pijatan.
Tante Maya mendesah pelan. Birahinya naik dengan cepat. "Ari... itu... nempel sekali..."
Ari minta maaf lagi, suaranya gemetar. "Maaf Tante... aku nggak sengaja... mau aku mundur?"
" Gak apa ari lanjutin aja, yang penting badan tante bisa enakan...agak naik pijatannya ya..."
Ari menaikkan pijatannya dj punggung Tante Maya. Tapi posisi dengan mengangkangi . kontolnya sekarang tepat di belakang memek Tante Maya. Kepala kontolnya yang udah basah dan panas makin sering menempel tepat di bibir memek Tante Maya, tapi belum masuk. Hanya menempel, menggesek pelan karena gerakan pijatan.
Tante Maya mendesah lebih panjang. "Ari... itu.. nempel sekali... Tante mulai... ahh..."
Ari masih memijat dengan konsentrasi yang sudah hampir hilang. Pinggulnya maju sangat pelan karena gerakan memijat. Kepala kontolnya mulai mendorong pelan ke bibir memek Tante Maya, tapi masih belum masuk sepenuhnya. Hanya kepalanya yang menyelinap sedikit demi sedikit ke dalam celah yang hangat dan licin.
Tante Maya mendesah panjang. "Ahh... Ari... pelan... pelan sekali... Tante merasa enakan... pijat lebih ke atas lagi..."
Ari naikkan pijatannya ke pundak Tante Maya. Gerakan itu membuat pinggulnya maju lagi. Kepala kontolnya masuk sedikit demi sedikit, membelah bibir memek Tante Maya yang basah.
Tante maya yang sudah melupakan semuanya karena kenikmatan yang dia dapat dari ari gak sadar kalau tiap pergerakan tangan adi ke atas punggungnya mebuat kontol adi juga perlahan lahan mulai masuk makin dalam ke memeknya. Ari bukan tidak sadar hal itu, tapi kenikmatan yang dia rasakan membuatmya lupa diri siapa yang sedang berada di bawah tubuh ya saat ini ya itu istri im nya joko yang begitu baik kepadanya selama ini. Sampai tanpa mereka sadari seluruh batang kontol Ari tenggelam sepenuhnya di dalam memek Tante Maya. Ari masih memijat pundak Tante Maya seolah tidak ada apa-apa, tapi kontolnya sudah berdenyut di dalam.
"Ahhh... penuh sekali Ari..." desah Tante Maya tertahan di bantal. Tubuhnya bergetar hebat. Memeknya berdenyut-denyut menggenggam kontol Ari erat sekali.
Ari merasa sangat bersalah, malu, tapi juga kenikmatan yang luar biasa. Kontolnya yang panjang dan tebal kini sepenuhnya berada di dalam memek Tante Maya yang hangat dan basah. Dia masih memijat pundak Tante Maya dengan tangan gemetar, seolah pijatan itu masih berlangsung biasa.
bersambung
0 Komentar