PART 3
Terlihat begitu dari punggung dan wangi tubuh harumnya yang terhirup hidungku, memicu aliran darah dari jantung ke selangkangan. Batang kejantanan pun sontak berdenyut dan mengeras sempurna. Celana pendek yang dikenakan langsung terasa sempit. Perasaan bergejolak di dada yang naik turun, kutahan dengan setenang mungkin sambil memijat leher Mama Mirna. Kuusahakan sebiasa mungkin tapi lama kelamaan terangsang juga.
“Maaf, Ma. Punggung Mama ... dipijet juga?” tanyaku tercekat.
“Iya, di situ juga pegel. Duduk aja di belakang Mama biar gak capek berdiri,” jawab Mama Mirna.
Ia beringsut memajukan pinggul agar aku dapat duduk di belakang. Kedua kaki yang tersingkap, disilakan saja tanpa ditutup lagi dengan handuk kimononya. Berasa grogi aku mengangkangkan kaki untuk duduk di sofa yang memanjang itu. Kedua tangan pun terasa kikuk saat menyentuh kulit punggung Mama Mirna. Andai ia menyandarkan tubuh ke aku atau duduk memutar maka akan terlihat jelas batang kejantanan yang berdiri mengacung di balik celana pendekku. Susah payah kuatur napas agar embusannya tidak mengenai leher Mama Mirna yang putih, bersih, mulus dan berbulu halus itu.
"Minyaknya gak usah terlalu banyak ya, Riz. Sedikit aja," kata Mama Mirna tanpa menolehkan kepala.
Lalu, tiba-tiba ia menyandarkan punggung ke dada. Aku tercekat melihat dari balik punggung, bulatan buah dada putih bersih mengacung dengan puting coklat kemerahan. Handuk kimononya menyingkap ke samping sehingga memperlihatkan pangkal pahanya yang putih sekal, bak mengundang lidahku untuk menjilati. Mama Mirna mengembuskan napas pelan sambil memejamkan mata. Kedua tangannya meremas pahaku di kanan kiri.
Tentu ia merasakan tonjolan batang kejantanan di pinggulnya yang tersandar ke selangkangan, pikirku.
"Oooh, Fariz. Mama pengen," kata Mama Mirna tiba-tiba dengan suara mendesah yang lirih kudengar.
Aku terdiam kikuk. Bahkan tidak tahu harus melakukan apa saat Mama Mirna bangkit dan duduk kembali menghadap ke arahku. Tubuh indah dengan handuk kimono yang terbuka lebar itu kini terpampang di hadapanku. Mata tidak bisa lepas memandangi buah dadanya yang bulat mengkal, puting coklat kemerahan serta bulu-bulu halus di gundukan belahan sela paha. Ternyata Mama Mirna tidak mengenakan pakaian dalam apa pun di balik handuk komono itu. Kerasnya batang kejantananku di balik celana, tidak dapat dikatakan lagi. Terasa sesak dan ingin dikeluarkan.
Belum sempat aku menjawab, bibir Mama Mirna yang mungil mengecup lembut saat kedua tangannya memegang pipiku. Mama Mirna memang sudah ingin melakukan hubungan percintaan ini.
Pantesan aku dibuatnya terangsang dulu, pikirku.
“Fariz, Mama kesepian. Mama butuh kamu.”
Lagi-lagi belum sempat aku menjawab kata-kata itu, Mama Mirna sudah memasukkan lidah ke mulutku yang terbuka. Lidah kami pun bertautan. Tanganku yang hanya diam di kedua paha, ditarik ke arah buah dadanya. Dengan mata yang memejam, digesek-gesekkan telapak kedua tanganku di puting coklat kemerahannya. Terasa buah dada dan putingnya tersentuh tanganku, Mama Mirna melepaskan ciuman dan mendesah kuat.
"Oooh, Riz! Oooh, Riz! Mama udah lama pengen ini!"
Kata-kata itu membuatku semakin terangsang. Aku berdiri mengarahkan selangkangan yang masih tertutup celana, ke bibir Mama Mirna. Ia mendongak terkejut. Lalu sambil membungkuk, kuremas kedua bulatan buah dada Mama Mirna dengan lembut. Mama Mirna menengadah menatapku.
Dengan tersenyum, Mama Mirna melepas tali pinggang. Membuka retsleiting dan menarik celana yang kupakai sekaligus dengan celana dalam. Begitu melihat batang kejantananku yang tercukur bersih, tegak mengacung di depan wajah, ia langsung mengecup bulatan kepalanya.
Batang kejantanan yang keras sempurna itu, berdenyut saat kecupan hangat dari bibir Mama Mirna berlanjut dengan hisapan. Mama Mirna memasukkan batang kejantananku ke dalam mulut dan memaju-mundurkan kepalanya. Bulatan kepala yang mengkilat kemerahan itu pun sontak basah dan mengeluarkan cairan bening kental.

0 Komentar