kenakalan winda
Awal Kilas Balik - -
CLEEEEEPPP
Winda menjerit lirih saat bonggol batang berukuran besar milik adik kandungnya itu bergerak keatas.
Menguak bibir kemaluannya dan menyelinap masuk ke dalam lubang kencingnya yang sudah merekah merah.
"Dekk.. Ohhh... Ohhh.. Adeekkk... Jangan dimasukin..." Seru Winda makin panis saat kepala penis Pandu tak menghiraukan larangannya. Maju dan terus masuk semakin dalam ke lubang senggamanya.
"Sedikit aja, Mbaakkk..." Lenguh Pandu sambil mencengkram pinggang Winda
"Aaahhh... Jangan Dekkk.. Ohhh... Jangannn...!!" Erang Winda yang terus berusaha menolak perlakuan cabul adik kandungnya.
Namun, sekuat apapun hati Winda berusah menahan dorongan penis Pandu. Tetap saja, tubuhnya membiarkan batang kemaluan besar Pandu menerobos masuk kedalam salah satu lubang tubuhnya.
Memperbolehkan tongkat sakti Pandu mendorong bibir vaginanya dengan ujung kemaluannya.
"Aaahhh.. Anjiiimmmm...!" Lenguh Winda mencoba menahan rasa pedih sekaligus nikmat saat penis Pandu memaksan vaginanya merenggang lebih lebar. Penis besar adiknya seolah memaksa bibir kemaluannya ikut masuk kedalam. Terseret oleh urat kemaluan yang bertonjolan disekujur batang penis saudara kandungnya. "Pelan-pelan Dek..!"
"Ssshhh... Kalo pelan-pelan, nanti keburu suamimu selesai ngobrolnya, Mbak..." Lenguh Pandu terus menghentak maju. Menyorongkan kemaluannya menerobos vagina Winda. Merenggangkan celah nikmat
"Ahhh... Kampret kamu, Dekk..." Raung Winda yang secara spontan menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa desakan penis Pandu makin merenggangkan lubang vaginanya yang semalam baru saja dipergunakan Mas Ardi.
"Bentaran ah Mbak... Kontolku... Belom masuk semua... " Pinta Pandu sedikit memaksa
"Udaaahh Ahhh, Deekk... Jangan diterusin lagi..." Lenguh Winda memohon ampun. "Ahhh.. Udah Dek...
Sakit..."
"Makanya... Biar gak sakit... Santai saja Mbak... Lemesin oto-otot memekmu..." Bisik Pandu yang terdengar samar di tengah deru hawa nafsu Winda yang makin yang menyala-nyala, "Ntar juga lama-lama enak..."
"Aaaaahhh.. Adeeeekk... Jangan.... Masih ada Mas Ardi disebelah..." Erang Winda yang terdengar melarang, tapi sama sekali tak menghalau perlakuan mesum adiknya. Karena ia juga penasaran untuk merasakan penis Pandu yang terasa jauh lebih besar ketimbang penis suaminya
CLEEEP
"Huuuooohhh.... Sumpah... Biarpun memek ini sudah sering dientot suamimu... Tapi kok rasa jepitan memekmu... Masih terasa sempit banget ya, Mbaaaakkkk…..?" Tanya Pandu ketika kepala penisnya makin menguak gerbang kemaluan Winda yang seolah menolak tusukan paksanya.
"Nngghhhh... Uuhhhh.... Adeeeekkk..." Erang Winda yang meskipun menggelengkan kepala, akan tetapi pensaran untuk merasakan kenikmatan desakan batang penis Pandu yang hangat dan panas.
Menyelusup masuk ke dalam vaginanya dan mengobok-obok liang peranakannya tanpa bisa ia tahan-
tahan lagi.
Beberapa kali, Winda mencoba mengatupkan kedua pahanya, namun Pandu segera mengetuk telapak kakinya untuk lebih lebar. Begitupun ketika Winda mencoba mengeraskan pantatnya, saudara kandungnya itu malah meremas dan menyibakkan bulatan bokongnya. Sehingga mau-tak mau, Winda pun akhirnya merasakan vaginanya saat dijejali batang yang begitu sesak, penuh dan tak menyisakan ruang di vaginanya.
"Nungging dikit, Mbak..." Pinta Pandu ketika setengah batang penisnya terasa tenggelam didalam liang kencing Winda yang becek dan licin.
"Nggak mau... ?" Tolak Winda tak mau melakukan permintaan Pandu.
"Dikit aja, Mbak.. Biar aku cepet keluar…."
Namun herannya, biarpun Winda bimbang karena ingin persetubuhan paksa ini tak berlanjut semakin jauh. Akan tetapi ia pelan-pelan menunggingkan pantatnya. "Begini...?" Ucapnya spontan dan menuruti permintaan Pandu. Mempersilakan penis besar adiknya untuk terus menembus celah kemaluannya yang merah merona.
"Oooohhh.. Iyaaaa, Bener banget,
Mbaakk.. "Ucap Pandu gemas dan merenggangkan lagi kedua
bulatan pantat Winda sambil melesakkan batang penisnya maju.
"Sssshhh... Nnnnggggg...
" Lenguh Winda mencengkram tepian jendela dapurnya sambil terus
mengawasi suaminya dari dalam. la bahkan membuka lebar kedua pahanya lebih lebar lagi pinggulnya
supaya daging panjang nan panas milik Pandu, bisa terus mendesak masuk lebih dalam.
Hingga, beberapa saat kemudian...
DUUGGG.
Pandu merasa jika ujung penisnya menabrak dinding lembut yang tak memperbolehkan penisnya
melesak semakin jauh lagi.
"Eehhh.... Kontolku gabisa masuk lagi, Mbak...?"
"Uuuhhhhh... Mentok, Dek..." Jawab Winda menengok kearah Pandu. Terus menggigit bibir tipisnya.
"Masa...?" Lenguh Pandu sambil memaksa penisnya maju lagi.
DUUUUGGG
"Aaaaahhh.. Sakit Dek...." Seru Winda yang buru-buru menahan perut Pandu supaya tak memajukan tubuhnya, "Jangan Yaaa... Nanti bayiku kenapa-napa..."
"Bayiku...." Ralat Pandu segera merevisi perkataan Winda.
"Aaahhh.. Terserah... " Seru Winda, "Pokoknya jangan paksain lagi kontolmu masuk... Sakit.!"
"Ssssshhhh.. Pijatan otot memekmu, benar-benar membuat kontolku berasa kesedot-sedot, Mbak...
Aaahhh.... Enak bangeet... " Erang Pandu mendiamkan sesaat kemaluannya dalam vagina Winda yang terus berdenyut. "Ga kebayang deh.. Gimana rasa puasnya suamimu, yang bisa terus ngerasain pijatan memekmu yang seenak ini..."
"Mmpppfffhhh...
" Sahut Winda yang hanya bisa berpegangan erat di jendela dapur sambil melihat
suaminya yang masih sibuk berbincang dengan atasannya.
"Aku mulai sodok memekmu ya, Mbak...?" Tanya Pandu yang tanpa menunggu persetujuan Winda, langsung menggerakkan pinggulnya maju mundur. Memompa vagina gemuk Winda yang ia ulangi secara terus menerus. Keluar, masuk. Keluar, masuk. Keluar, masuk.
"Mmmpppffffhhh..." Geleng Winda seolah menolak, tapi diam saja. Membiarkan vaginanya mulai dirojoh-
rojoh oleh penis besar adiknya.
PLAK PLAK PLAK PLAK
Suara pantat Winda, menyambut tepukan perut Pandu. Membuat tubuh Winda yang hanya diam, perlahan bergoyang seiring hentakan penis adik kandungnya yang keluar masuk dengan gerakan yang konstan. Payudaranya juga ikut terombang-ambing.
Rambut basah Winda yang semula terbungkus handukpun mulai terburai, jatuh kepunggung dan menjuntai kebawah. Keringat Winda pun perlahan mulai meleleh. Menghiasi dahi, hidung, dan leher
"Ohhh.... Ngentotin wanita hamil... Ternyata bisa begitu seksi ya, Mbak..." Bisik Pandu dengan tubuh yang juga mulai berkeringat sambil terus mengecupi pundak kakak kandungnya.
"Udah ya Dekkk.. Ssssshhhh.... Hhhhhh....."
"Kok udah...?"
"Ada Mas Ardi..." Ulang Winda kehabisan kata-kata.
"Biarin aja dia fokus ngurusin pekerjaannya, Mbak..." Bisik Pandu sambil menjilat telinga Winda, "Jadi biar aku bisa fokus buat ngurusin istrinya..."
"Hhhhhh.. Adeeekkk..." Seru Winda mencubit paha Pandu
"Aduuuhh... Atau kamu mau persetubuhan ini aku hentikan disini...?" Goda Pandu yang kemudian menghentakkan penisnya dalam-dalam ke vagina Winda. Membalas cubitan kakak kandungnya
"Aaahhhh...." Pekik Winda sedikit mengaduh.
"lya... Mbak mau aku hentikan sodokan kontolku...? Atau mau terus kusiksa seperti ini...?" Seru Pandu yang kemudian dan menampar pantat Winda keras-keras.
PLAAAAKKK..
"Aduuhh...! Adeeeekkk..!" Seru Winda panik dengan kerasnya suara tepukan tangan Pandu buru-buru mengintip kearah suaminya yang masih telephone dengan atasannya. Ardi sempat menengok, namun tak menghiraukan suara itu. Dan kembali sibuk dengan percakapannya. "Jangan berisik, Dek...!! Mas Ardi bisa denger..!!"
"Hehehehe... Habisan aku gemes liat kemunafikan kamu, Mbak..." Seru Pandu berterus terang.
"Mbak...? Munafik...?"
"lya.... Kamu pura-pura menolak aku cabulin, tapi sebenernya suka aku entotin..." Jawab Pandu yang lagi-lagi menepuk pantat Winda kencang-kencang.
PLAAAAAAAAKKK.
Jauh lebih kencang dari sebelumnya.
"AADEEEEKKK.!!! " Jerit Winda dengan nada tegas, seolah memperingatkan lagi perlakuan kasar Pandu sambil lagi-lagi mengitip kearah suaminya yang kali ini juga menengok kearah jendela dapur.
"Duh... Gara-gara kamu... Mas Ardi jadi denger jeritan Mbak nih Dek..."
"Senyumin aja, Mbak... Hehehee..."
"Ihhhsss... Ngaco deh kau..." Winda yang melihat tatatan Ardi, buru-buru melambaikan tangan dan membalas wajah penasaran Ardi dengan senyumnya. Seolah berusaha memberitahukan ke suaminya jika istrinya baik-baik saja.
"Istri pinter..." Celetuk Pandu ketika melihat kemahiran Winda saat menyakinkan suaminya hingga lelaki
itu kembali sibuk dengan obrolannya.
"Udah aahhh... Mbak mau beberes lagi..." Ucap Winda sambil mencoba maju dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Pandu
"Bentaran aahhh... " Tahan adik Winda mempererat cengkraman tangannya sehingga membuat Winda
tak bisa bergerak kemana-mana lagi.
"Mau apa lagi sih, Dekk...?"
"Kita khan masih ada urusan yang belom kelar..." Sahut Pandu terus menggoda kemaluan kakak kandungnya, dengan ulah jahil batang penisnya. "Lagian... Mbak belum kasih tahuku...Enak nggak aku entotin..?" Goda Pandu yang kemudian meremas pantat bulat Winda. Berusaha mendapatkan pengakuan jujur dari mulut kakak kandungnya.
"Ga ada enak-enaknya...!" Sahut Winda ketus.
"Bener..?" Goda Pandu yang kali ini, menggerak-gerakkan otot penisnya. Sehingga membuat kemaluannya seolah bernafas. Mengembung dan mengempis sehingga membuat liang senggama Winda merasa sesak, sekaligus lega dalam waktu yang bersamaan.
"Ooouugghh... Ssshhh.... Udah aahhh... Hhhhh... Mbak mau beres-beres nih..." Lenguh Winda dengan kalimat terputus-putus dan tubuh yang bergetar menahan geli pada vaginanya.
"Bilang dulu...!" Pinta Pandu lagi sambil terus menggoda vagina Winda dengan otot penisnya. "Ayo...
Bilang Mbak... Enak mana...? Kontol suamimu atau kontol adik kandungmu ini..?"
"ANJIMMMM..." Erang Winda yang terus mendapat siksaan kedut nikmat penis Pandu.
"Ayo... Bilang... Mbak... Biar segera kupuasi memek gatelmu ini...!" Bisik Pandu yang kali ini meremas kedua payudara Winda, dan memelintir putingnya. "Ayoo bilangg Mbak Windaku... Buruaann..!"
Winda yang tak mampu menahan godaan birahi Pandu, akhirnya menyerah. la lalu mengangguk-anggukkan kepala dan mengakui perlakuan penis Pandu pada vaginanya, bisa memberikan kenikmatan yang jauh lebih dahsyat ketimbang penis suaminya.
"Bilaaangg.!!"
"AAaarrgghhh.. Kampreeettt.!!!" Erang Winda yang secara spontan, langsung menggapai pantat Pandu dan menggerak-gerakkan maju. Seolah meminta Pandu untuk segera menyetubuhinya cepat-cepat,
"lyaaaa... Enakan kontolmu.... Aaaahhh.. Cepet...!! Puasin memek Mbak, Dek...!!"
"Hehehehe... Gitu dooongg..." Kekeh Pandu girang ketika mendengar jawaban WInda yang seperti alunan lagu yang begitu syahdu ditelinganya.
"Ayo.. Buruan... Puasin Mbak, Dek...Entotin.... Sebelum Mas Ardi balik...!" Pinta Winda yang terus menggoyang pantat Pandu
"Aku Sayang kamu, Mbak...!" Balas Pandu yang dengan sigap, segera menggoyang pinggulnya lagi.
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
Suara sodokan penis Pandu pun langsung mengaduk-aduk vagina Winda. Membuat Winda langsung mendesah-desah keenakan. Mengerang dan melenguh dalam diam, sambil terus berpegangan di jendela dan mengawasi gerak-gerik suaminya
Sungguh, bercinta dikala suami ada dirumah benar-benar membuat dada Winda berdetak begitu kencang.
Satu sisi, Winda khawatir ketahuan. Satu sisi lagi, ia penasaran dengan orgasme yang akan
segera ia dapatkan. Karena jujur, sensasi persetubuhan yang ia lakukan pagi itu bersama Pandu, benar-benar berbeda, dan membuat orgasmenya seperti datang lebih cepat daripada biasanya.
Dan ternyata benar, belum juga lima menit Pandu mengaduk-aduk liang peranakannya, Winda mulai merasakan sebuah perasaan kehangatan yang sangat ia kenal. Disusul oleh denyut nikmat yang terasa semakin menjalar dari pangkal kemaluannya.
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
Suara tepukan penis Pandu terdengar makin nyaring. Mememuhi ruang dapur tempat mereka bersetubuh. Untuk beberapa saat, Winda khawatir jika suara tepukan senggama kemaluannya terdengar oleh Mas Ardi. Dan membuat suaminya itu curiga lalu menangkap basah dirinya saat sedang
berselingkuhan.
Namun, entah kenapa saat merasa sodokan penis besar Pandu, Winda tiba-tiba melupakan kekhawatirannya itu. la hanya bisa mendesah dan terus membiarkan perlakuan cabul Pandu pada tubuhnya.
"Mpppfffhhhh. Deeekkk.. Oohhhh...Pelan-pelaaann...." Hanya desahan yang bisa Winda lakukan saat itu. Karena jujur, Winda merasakan sebuah sensasi yang berbeda pada persetubuhannya pagi itu. la merasa jika penis besar Pandu yang sedang keluar masuk di lubang kemaluannya, terasa benar-benar beda dengan penis kecil suaminya
"Nggghhh... Aku jadi pengen cepet-cepet ngecrot di memekmu, Mbak..." Seru Pandy yang tak menghiraukan permintaan Winda, "Keburu suamimu selesai ngobrol..."
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
"Aaaaaahhhhh.. Adeekkk...!!" Pekik Winda secara spontan keluar dari mulutnya karena sodokan penis
Pandu yang semakin dalam menggelitik syarat liang senggamanya.
"Tahan bentaran ya, Mbak... " Seru Pandu yang seperti kesetanan terus menghajar kemaluan kakak kandungnya dari belakang, "Sedikit lagi aku keluar...
"Hhhh... Ssshh... Kamu mau keluar...?" Ulang Winda setelah mendengar kalimat yang terdengar begitu menyejukkan di telinganya.
"lyaaa..." Sahut Pandu terus menggoyang pinggulnya, "Mbak masih lama.?"
"Hhhh... Mbak...." Winda menjeda kalimatnya. la tak mungkin mengatakan 'İya' karena hal itu akan membuat Pandu lebih percaya diri dengan ulah mesum yang sedang ia lakukan padanya. Oleh
karenanya, kakak Pandu itu buru-buru menggeleng dan kembali memperlihatkan wajah kesalnya. "Ayo buruan deh kalo mau keluar... Memek Mbak udah sakit...!!"
Akan tetapi, Winda tak pandai berbohong. Karena semakin ia menahan gejolak birahinya yang hendak meledak dalam waktu singkat. Kedua kakinya terasa mulai bergetar. Denyut nikmat di pangkal kemaluannya juga semakin menyebar cepat dan meluas hingga ke sekitaran perut serta ulu hatinya.
Sehingga, dalam beberapa detik kemudian, tubuh Winda pun mulai mengejang.
"Aaahhh.. Siall..!" Batin Winda marah kepada dirinya sendiri saat merasakan denyut nikmat di sekitaran vaginanya tak dapat ia tahan-tahan lagi. "Aaahhh.. Ssshhh... Windaaa.. Tahan... Sebentar lagi Pandu bakalan keluar kok... Tahaannn.. Sebentar lagi adik kandungmu ini selesai..." Sambung Winda sambil terus mencengkram bingkai jendela dapurnya. Mempertahankan kekuatan kakinya yang semakin rapuh.
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
"Ohhh.. Enak banget memekmu, Mbakkk... Terasa mijit-mijit kontolku..." Seru Pandu yang terus berusaha melesakkan seluruh batang penisnya dalam vagina Winda. Membuat Winda yang sudah mati-matian mempertahankan kehormatan dirinya, serasa sia-sia.
Karena beberapa detik setelahnya, Winda pun menyerah.
Serta mengakui kenikmatan penis adiknya yang begitu nikmat.
"Ahhhh... Aku gak tahan lagi... Ahhh... Adeeeek... Aaahhh.... Mbak... Mau keluar, Dekk..." Seru Winda yang kemudian memindahkan mencengkram tangannya kebelakang. Menancapkan kuku-kuku jarinya di pantat Pandu dan meremasnya dengan kuat, "ANNNJIMMMM.. Aaahhh... cepet banget, Dek... Mbak mau keluar... Ohhh.. ANJIIIMMM... NGENTOOOTT.. mbak MAAU KELUAARRR, DEEEKKK... ААААННН NGENTTTOOTTT... KONTOLMU ENAAAAK BANGET DEEEKK...."
CREET CREETT CREEEECREEETT CREEETT CREEETTIT
Winda mengejang dan menghentak-hentakkan tubuhnya kebelakang. Menghempas-hempaskan vagina serta pantatnya ke arah kemaluan Pandu. "OOooohhh.. Adeeekkk... Aahhhh..."
"Eeehh.. Bentar Mba... Tunggu aku... Aku juga mau keluar...!!" Seru Pandu semakin mempercepat genjotan penisnya menghajar vagina Winda yang sudah semakin berair karena lelehan lendir orgasmenya
Akan tetapi, Winda yang terlanjur lemas karena orgasmenya, tak mampu menuruti permintaan Pandu lebih lanjut. Karena secara tiba-tiba, lututnya melemas dan kekuatan otot tubuhnya pun menghilang.
Winda seperti orang pingsan dan tubuh hamilnya longsor kebawah. Biarpun satu tangannya masih berusaha berpegangan di bingkai jendela dapurnya, tetap saja ia tak sanggup berdiri lebih lama.
"Eehh.. Eeeehh... Mbak..." Seru Pandu saat sedang asyik-asyiknya mengejar orgasmenya, tiba-tiba merasa kaget saat melihat Winda ambruk. Sehingga Pandu pun buru-buru memegangi tubuh hamil Winda supaya tak terkulai lemas dan jatuh kelantai dapur.
PLOOOPPP...
Tusukan penis Pandu pun juga ikut-ikutan terlepas dari jepitan vagina Winda. Karena pantat kakaknya itu sudah terlanjur turun duluan sebelum Pandu sempat mempertahankan posisi senggamanya.
"Aaaahhh Deekkk..." Rintih Winda sambil menggigit bibir dan memejamkan mata. Alis matanya bertaut dan tubuhnya menggigil. Dan anehnya, ketika Winda tak sengaja melepas penis Pandu dari vaginanya, tubuhnya langsung menggigil. Disertai kedut nikmat yang begitu hebat.
SSSEEERRRR...SSSEEERRRR..SSSEEERRRR....
"Aaaahhhh.. Adeeeekkkk.... Kok... Memek Mbak...? Aaaahhhh..Adeeekkk..." Lenguh Winda saat mendapati lelehan lendir kenikmatannya, mengalir keluar. Merembes keluar dari liang senggamanya.
Turun kepaha dalamnya dan mengalir turun kearah betis.
BRRUUUKKK
Winda pun terjatuh dilantai dapur dengan gelinjang tubuh yang tak dapat ia tahan-tahan sama sekali.
Terkulai lemas, dan terlentang di lantai dapur dengan vagina yang masih bocor karena terus mengeluarkan cairan kenikmatannya
"Kamu squirt Mbak...?" Heran Pandu ketika melihat gelinjang tubuh Winda yang tak kunjung berhenti
SSSEEERRRR..SSSEEERRRR..SSSEEERRRR... SEERRRRRR
"Aaahhh...Heegghh.. Heegghh.. ANJIIMMM... Deekk.. Iyaaaaa... Ooohhh... ANJIIMMM.... Mbak ga tahan lagi.... Oohhh... Enak bangettt....'
" Racau Winda sambil merem melek keenakan.
"Oke Pak.... Nanti laporannya aku segera kirim..." Sahut Ardi yang tiba-tiba terdengar mendekat.
"Mbak.. Mas Ardi udah selesai..." Seru Pandu saat mendengar langkah Ardi berjalan mendekat. la buru-buru menarik tubuh Winda dan menyandarkannya di dinding dapur, "Mbaakkk... Jangan tiduran disini, Ahhh... Mas Ardi datang...
"Kenapa Dek...?" Sahut Winda seperti orang sakau. Yang hanya tersenyum dan tak menghiraukan kepanikan adik kandungnya.
"Sebentar lagi saya berangkat kok, Pak..." Sambung Ardi yang terdengar semakin dekat, "Nanti kita lanjut dikantor saja... Baik-baik Pak... Segera..."
"Aaahhh siaalll... " Rutuk Pandu yang tanpa mempedulikan Winda, segera mengambil celananya lalu memasukkan penisnya yang masih butuh pelampiasan. Pandu harus melupakan keinginan untuk menyetubuhi Winda dan buru-buru menolong kakak kandungnya
"Maaassss.. " Rintih Winda saat melihat suaminya masuk kedapu, "Mas... Ardiii.... Tolong...!!"
"Ehhh...? Winda...!! Kamu kenapa...?" Tanya Ardi panik dan segera berlari menghampiri Winda yang masih tergolek lemas dilantai dapur. "Pandu... Mbak mu kenapa...!!?"
"Gak tau Mas... Mbak Winda tadi tiba-tiba lemes dan ngejoprak disitu..." Seru Pandu yang dengan sigap mengambilkan minum buat Winda.
"Trus..? Ini air apa...?" Tanya Ardi lagi, "Kok daster Mbakmu sampe basah gini.?"
"Aku ngompol, Mas... " Seru Winda lirih sambil tersenyum malu-malu.
"Haaaahhh....?!! Kok bisa...?"
"Tadi pas aku pengen ke kamar mandi... Gak tau kenapa... Kaki aku tiba-tiba lemes, Mass..." Jelas WInda sedikit berbohong karena tak mungkin ia bercerita jika genangan air dilantai itu adalah cairan squirting yang keluar karena persetubuhannya dengan Pandu, "Trus karena gak tahan lagi.. Aku jadi kencing disini...
"Bussyeettt... Jadi air yang ada di kakiku ini... Itu kencing kamu, Dek...?" Kaget Ardi
"lya Mas... Maaf..."
"lihhhsssss... Kamu tuh ya... Jorok banget sih...?" Sambung suami Winda sambil berjingkat jijik menjauhi genangan cairan squirting istrinya.
"Yaaa.. Namanya juga wanita hamil, Mas... Kalo hamil mah memang sering kencing begini..." Seru Winda mulai jutek karena ucapan suaminya, "Tolong aku dong, Mas... Aku pengen kekamar mandi...."
"Ngggg... Aku... Aku udah pake baju kerja, Dek... " Bingung Ardi yang tak ingin penampilannya berantakan karena membantu istrinya, "Hmmmm.... Pandu.. Tolong bantu Mbakmu ya..."
"lilllihhh.. Mas beneran ga mau bantuin aku...?" Kesal Winda.
"Ngggg... " Ardi menatap istrinya dengan raut wajah bingung, "Aku beneran harus segera berangkat ke kantor sekarang, Deeek... Kalo baju aku kotor setelah nolongin kamu... Berarti aku harus ganti baju lagi dong...?"
"Emang kenapa kalo Mas ganti baju lagi...?" Ucap Winda sambil menatap kesal kearah suaminya, "Jadi beneran nih...? Mas ga mau bantuin aku...?"
"Hmmm.. Aku bisa... Telat... " Sahut Ardi yang mengucapankan alasannya pelan. "Ngg.. Kalo ga.... Mas coba telpon Pak Romo dulu ya, Sayang...
"Gausah deh, Mas... Aku minta bantu Pandu aja..." Celetuk Winda kesal.
"Nggg.. Beneran...?"
"lya... Mending Mas urusin kerjaanmu aja... Ketimbang ngurus istrimu ini..." Lanjut Winda, "Udah sana...
Ketimbang Mas telat ngantor..."
"Ngggg... Gak gitu juga sih, Dek... " Sahut Ardi bingung, "Bentar... Aku ijin bentaran..."
"Udah-udah... Aku bakalan banyak minta tolongnya, Mas... " Balas Winda sewot, "Aku pengen mandi sekalian... Daster aku lepek.... Dan Badan aku basah air kencing semua ini..."
"Kamu uhmmm.. Pengen mandi juga...?" Lirik Ardi dengan wajah bingung kearah Winda dan Pandu secara bergantian,
"Berarti bisa makin lama ya, Dek...?"
"lyaaaa...!!" Jawab Winda makin ketus, "Makanya.... Kalo Mas emang ga bisa ngeluangin waktu berlama-lama dengan istrimu ini sekarang... Mendingan Mas langsung ke kantor aja, Mas... Biarin Pandu aja yang mandiin aku..."
"Pandu mandiin kamu...?" Bingung Ardi melihat sikap kesal Winda.
"lya..." Jawab Winda ketus lagi.
"Telanjang...?"
"Helloowww...? Menurut Mas ...? Mana ada mandi tanpa telanjang, Mas...?!" Cecar Winda
"Kalo Pandu nanti sange...? Trus dia ngaceng karena liat tubuh telanjangmu gimana...?" Celetuk Ardi
"Mas takut Pandu berbuat cabul ke aku...?"
"Yaaaa... Aku khan khawatir aja, Sayang... Lelaki mana coba yang ga kepengen menikmati tubuh seksimu ini....?"
"Hmmm... Mas khawatir aku dientot adik aku sendiri...?"
"lya..."
"Jadi Mas mau aku langsung ganti baju aja tanpa bersih-bersih badan, gitu...? Biar seharian tubuhku beroma kencing...?"
"Nggggg.... " Jawab Ardi dilema, "Atau... Kalo engga... Semisal...."
KRRRINGGGG... KRRRINGGGG.. KRRRINGGGG...
Belum juga Ardi sempat mengutarakan kalimatnya, terdengar suara dering telephonenya kembali.
"Aduh... Pak Romo kenapa lagi sihhh...?" Bingung Ardi melihat nama pemanggil yang tertera di layar handphonenya
"Udah... Mending... Mas angkat dulu aja telephonnya... Abis gitu langsung berangkat kerja..." Seru Winda yang kemudian menjulurkan tangannya kearah Pandu. Supaya menolongnya bangun dari lantai,
"Kasian... Pasti bosmu lebih membutuhkanmu sekarang.."
"Gitu ya, Sayang...?" Jawab Ardi galau.
"lya... Aku bisa mandi ama Pandu aja...." Ucap Winda yang segera mengamit tangan suaminya, dan mengecup pelan, "Kamu tenang aja, Mas... Aku nanti mandi pakai handuk lebar kok..."
"Hmmmm.. Beneran..?"
"lya... Mana mungkin aku ngebiarin Pandu ngaceng atau pengen ngentotin aku karena ngelihat tubuh milik suamiku tersayang ini, aku umbar-umbar kepadanya..?"
"Hehehehe.. Iya sih... " Jawab Ardi yang kemudian tersenyum, "Aku percaya kamu, Dek..."
"Yaudah kalo gitu... Gih.. Sana berangkat...
"Iya, Sayang.... Makasih banyak..." Seru Ardi yang kemudian memanggil adik iparnya, "Pandu... Nanti tolong bantu mbakmu sebentar ya...?
0 Komentar