ulang tahun kecil di kontkkan
Ari bangun pagi seperti biasa. Hari ini adalah ulang tahun anak mbak dewi. Ari sudah berjanjin akan datang, bertepatan dengan hari liburnya. Sudah beberapa minggu berlalu sejak malam-malam yang penuh ketegangan di rumah Om Joko. Rutinitasnya di minimarket dan kehidupan sehari-hari mulai terasa lebih stabil.
Ari duduk di tepi kasur kecilnya, mengambil HP bekas yang sudah dibelinya beberapa hari lalu dengan uang tabungan dari gaji. Nokia jadul yang masih layak pakai, cukup untuk telepon dan WhatsApp. Dia tersenyum kecil. Akhirnya bisa punya HP sendiri setelah hampir dua bulan di Jakarta.
"Pagi Ari," sapa Tante Maya dari dapur saat Ari keluar kamar. Om Joko sudah duduk di ruang tamu sambil minum kopi. "Mau sarapan dulu? Hari ini libur kan?"
"lya Tante, pagi Om," jawab Ari sopan. "Makasih, tapi aku langsung berangkat. Ada acara ulang tahun anak teman kerja."
Om Joko mengangguk. "Hati-hati di jalan ya. Jangan pulang malam."
Tante Maya hanya tersenyum lembut. "Hati-hati ya Ari."
Ari mengangguk, lalu berangkat menuju kontrakan Mbak Dewi yang letaknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit jalan kaki di kompleks petak yang sama.
Saat Ari tiba sekitar pukul 09.30 pagi, acara ulang tahun Sinta yang ke-2 sudah mulai ramai. Beberapa tetangga kontrakan datang, ibu-ibu rumah tangga dengan anak kecil mereka. Ada balon warna-warni digantung di teras kecil, kue ulang tahun sederhana berbentuk angka 2 di meja ruang tamu, dan beberapa makanan ringan yang disiapkan Mbak Dewi.
Kontrakan Mbak Dewi memang kecil sekali. Hanya ada satu kamar tidur, satu ruang tamu yang sekaligus ruang makan, dapur sempit, dan satu kamar mandi di belakang. Rumah petak sederhana yang berdempetan dengan kontrakan lain.
"Ari! Kamu datang!" Mbak Dewi menyambut dengan senyum lebar. Hari ini dia memakai kaos longgar dan celana pendek rumah, rambutnya diikat ponytail. Kulit putih mulusnya terlihat segar. "Masuk masuk, Mbak senang kamu datang."
Ari tersenyum malu. "Selamat ulang tahun ya Sinta . Ini hadiah kecil dari aku." Dia menyerahkan sebuah boneka kecil beruang yang dibelinya di minimarket beberapa hari lalu kepada anak mbak dewi yang
berdiri disamping ibunya malu malu.
Dewi mengambilnya dengan mata berbinar. "Wah, Sinta pasti suka. Makasih ya Ari. Kamu baik banget.
Insting ari yang terbiasa membantu mbak dewi di minimarket langsung berjalan, Ari langsung membantu melayani tamu. Dia menmbantu apa yang dia bisa, membagikan makanan ringan, dan bermain sebentar dengan anak-anak kecil yang datang. Sinta, anak Dewi yang lucu dengan rambut ikal, senang sekali melihat Ari. Beberapa kali dia memanggil "Om Ali" sambil menunjuk boneka barunya.
Suami Dewi hanya bisa video call sebentar dari Sumatera di tengah2 acara. Di layar HP, suaminya tersenyum lelah. "Selamat ulang tahun ya Sayang. Papa lagi kerja, nanti pulang bawa oleh-oleh. Dewi, makasih ya,. Maaf aku nggak bisa pulang."
Dewi tersenyum di depan HP, tapi Ari melihat ada sedikit kesedihan di matanya. "lya Mas, nggak apa.
Sinta senang kok."
Acara berlangsung santai dan ramai sampai jam 12 siang. Satu per satu tetangga pulang setelah foto bersama, makan kue, dan memberikan ucapan selamat. Jam 12.15, kontrakan kecil itu sudah sepi lagi.
Hanya tersisa Ari yang masih membantu membereskan sisa-sisa acara.
"Wah, makasih banyak Ari," kata Dewi sambil mengusap keringat di dahi. "Kalau nggak ada kamu, Mbak pasti repot banget. Duduk dulu, Mbak ganti baju sebentar, panas sekali hari ini."
Dewi masuk ke kamar tidur sebentar. Saat keluar, dia sudah memakai daster rumah tipis berwarna pastel yang pendek sampai pertengahan paha. Kainnya cukup tipis sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas - payudara jumbonya yang padat, pinggang langsing, dan pantat bulat besar yang montok. Kulit putih mulus khas Sunda-nya terlihat semakin cerah karena keringat tipis.
Ari berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi sulit.
"Mbak... sudah beres semua kok. Aku bantu cuci
piring dulu ya."
Dewi tersenyum. "Kamu capek nggak? Duduk saja, Mbak yang cuci."
Tapi Ari tetap membantu. Mereka berdiri berdampingan di dapur sempit, Ari mencuci piring sementara Dewi mengeringkannya. Tubuh mereka sesekali bersenggolan karena ruangan yang sempit. Aroma sabun cuci piring bercampur dengan parfum ringan Dewi.
Setelah selesai membereskan sekitar pukul, Dewi menghela napas lega. "Capek juga ya hari ini. Sinta sudah tidur di kamar. Mbak mandi dulu ya Ari, kamu tunggu sebentar. Nanti kita ngobrol mbak buatkan minum yang enak."
Ari mengangguk. "lya Mbak Dewi. Aku tunggu di ruang tamu."
Beberapa menit kemudian, dari arah kamar mandi terdengar suara shower yang tiba-tiba berisik keras, diikuti teriakan Mbak Dewi yang panik.
"Aduh! Ari! Ari tolong!!!"
Ari langsung berlari ke belakang. Pintu kamar mandi tidak dikunci. Saat dia mendorong pintu, pemandangan di depannya membuat jantungnya berdegup kencang.
Mbak Dewi berdiri tepat di bawah shower head yang letaknya tinggi di dinding. Shower head itu bocor parah, air menyembur deras ke bawah seperti hujan deras. Dewi berusaha menahan shower head dengan kedua tangan, mendorongnya ke atas agar semprotan tidak mengenai wajah dan tubuhnya sepenuhnya, tapi air tetap menyembur liar ke segala arah. Daster tipisnya sudah basah kuyup, menempel ketat seperti kulit kedua dan hampir transparan.
Payudara jumbo Dewi terlihat sangat jelas - bulat sempurna, berat, dan bergoyang pelan setiap kali dia berusaha menahan shower head. Putingnya mengeras karena air dingin, menonjol jelas menembus kain basah. Pinggang langsing dan pantat bulat besarnya juga terpampang, kain daster menempel di belahan pantat yang montok.
"Ari... shower-nya bocor!!" teriak Dewi sambil menahan shower head ke atas dengan kedua tangan,
tubuhnya basah kuyup dari ujung rambut sampai kaki.
Ari buru-buru masuk ke kamar mandi yang sempit itu. "sini aku bantu mbak!"
Ruangan sangat kecil, lantai sudah licin. Ari berdiri tepat di belakang Dewi dan meraih shower head di atas. Tangan Ari menutupi tangan Dewi, tubuhnya menempel rapat di punggung Dewi yang basah.
Karena posisi itu, pinggulnya tanpa sengaja menempel erat di pantat bulat besar Dewi. Kontolnya yang mulai tegang tanpa sadar menekan belahan pantat melalui kain daster yang basah yang membuat kontolnya menjadi mengeras sempurna
Di sisi kamar mandi ada cermin panjang. Dari posisinya di belakang, Ari bisa melihat jelas pantulan bagian depan tubuh Mbak Dewi di cermin itu - payudara jumbo yang masih terbalut bra nya yang juga sudah basah mengkilap dan bergoyang, perut langsing yang naik-turun karena napas cepat, dan wajah Dewi yang memerah.
"Pelan-pelan Ari... aku pegang dari sini..." kata Dewi dengan suara setengah panik. Tubuhnya bergerak gelisah, pantat bulat besarnya bergesekan dengan paha dan pinggul Ari saat dia berusaha menutup kebocoran shower nya.
Air terus menyembur deras, membasahi baju Ari juga. Daster Dewi semakin transparan memperlihatkan bra hitam dan CD yang sewarna. Ari bisa melihat semuanya di cermin lekuk tubuh Dewi yang sempurna.
"Aduh... basah semua..." keluh Dewi. Tapi tiba-tiba dia melirik ke cermin dan melihat Ari yang ikut basah kuyup - kaosnya menempel ke dada, celana kolornya basah, dan tonjolan yang mulai jelas terlihat di bagian depan. Panik di wajah Dewi berubah menjadi tawa yang meledak.
"Hahaha! Ari... kamu juga basah kuyup gini! Lihat deh, baju kamu kayak habis disiram hujan deras!
Hahaha!" Dewi tertawa lepas, bahunya bergoyang, payudaranya yang jumbo ikut bergoyang di balik daster basah. "Mbak cuma teriak , kamu langsung lari masuk kayak pahlawan... sekarang kita berdua basah bareng! Lucu banget sih... adik Mbak yang basah kuyup!"
Ari merasa wajahnya panas sekali. "Mbak... maaf.... aku cuma khawatir..."
Dewi masih tertawa, tapi matanya sempat melirik ke bawah di cermin. Dia merasakan sesuatu yang keras, panjang, dan tebal menekan pantatnya dari belakang. Kontol Ari sudah sangat tegang, ukurannya yang besar terasa jelas menekan belahan pantatnya. Dewi sedikit kaget - sekilas dia membayangkan ukirannya— tapi bukannya malu atau panik, dia malah tertawa lebih keras sambil menutup mulut dengan satu tangan yang basah.
"Eh... Ari... itu... hahaha... kamu... kamu lagi tegang ya? Hahaha! Besar banget loh... Mbak kaget! Adik Mbak kok punya... hahaha... senjata gede gitu? Lucu banget... sekarang Mbak nggak cuma basah karena air shower, tapi juga karena ketawa! Hahaha!"
Ari merasa malu setengah mati. "Mbak... maaf.... aku.... aku nggak sengaja..."
Dewi masih terkikik, tubuhnya bergoyang karena tawa, pantat bulat besarnya bergesekan pelan dengan kontol Ari yang tegang. "Nggak apa-apa Ari... Mbak nggak marah kok.. malah lucu! Kamu kayak superhero yang basah kuyup pas datang nolong... tapi superhero-nya malah... hahaha... tegang! Besar banget sih... Mbak baru sadar adik Mbak ini punya 'keistimewaan'... hahaha! Tenang aja... Mbak anggap kamu adik lucu... adik yang basah dan... hahaha... tegang!"
Tawa Dewi yang renyah membuat suasana yang tadinya tegang jadi lebih ringan dan fun, tapi tetap penuh ketegangan. Dia tetap memegang shower head ke atas dengan kedua tangan, tangan satunya berpindah ketangan ari yang coba membantu untuk menjaga keseimbangan, air masih menyembur deras, tubuhnya bergoyang karena tawa. Payudaranya yang jumbo bergoyang jelas di cermin, putingnya menonjol. Pantat montoknya terus bergesekan pelan dengan kontol Ari yang tegang.
merasa malu setengah mati, tapi tawanya ikut tertular sedikit. Hatinya berdegup kencang, campuran antara panik, bersalah, nafsu yang membara, dan rasa lucu yang aneh. Mbak Dewi lihat... dia merasakan... tapi dia malah ketawa dan ngeledek... aku harus gimana... tapi ruangannya sempit... tapi juga kok rasanya enak sekali...
"Ari... pegang shower head-nya lebih kuat... Mbak nggak bisa sendiri... hahaha... tapi jangan dorong Mbak terlalu keras... nanti kita berdua jatuh... terus tambah basah lagi! Hahaha!" Dewi masih tertawa, tapi tangannya tetap memegang lengan Ari erat, seolah takut jatuh di lantai licin.
Ari berusaha menutup keran sambil menahan segala emosi yang berkecamuk. Malu, bersalah, nafsu, dan rasa lucu yang ikut tertular dari tawa Mbak Dewi.
"Sudah hampir... tahan dulu Mbak Dewi..." kata Ari dengan suara agak gemetar, napasnya tersengal.
Dewi mengangguk sambil masih terkikik. "lya... cepat Ari.... Mbak sudah basah kuyup... tapi... hahaha... kamu juga... lucu banget... adik Mbak yang basah kuyup dan... hahaha.. tegang gede gini.. Mbak kaget ukurannya... tapi lucu... Mbak nggak nyangka hari ini jadi seru gini... besok-besok kalau shower bocor lagi, panggil kamu ya... hahaha!"
Moment itu terasa lama sekali di kamar mandi kecil yang penuh uap air dan suara semprotan air deras.
Tubuh mereka saling menempel rapat, kain basah menempel di kulit, tawa Mbak Dewi yang renyah bercampur dengan degup jantung Ari yang kencang, dan ketegangan yang tak terucapkan menggantung di udara. Ari berusaha keras menahan diri..
bersambung
Report content on this page
0 Komentar