"Oooh, Mama Mirna. Ooooooooh, Mamaaa!"
Aku menggelinjang. Remasan tangan di buah dada Mama Mirna lepas, berganti jadi remasan di rambutnya yang hitam lurus panjang. Mama Mirna melingkarkan kedua tangan di pinggangku untuk menahan sambil terus memaju-mundurkan kepala. Ia menyedot dengan kuat batang kejantanan yang keras memenuhi rongga mulutnya hingga aku mendesah lagi.
"Oooh, Mama Mirnaaaaa. Oooh, Mama Mirnaaaaa!"
Mama Mirna mendongak, melihat parasku yang membelalak dengan rahang mengeras. Tampaknya, Mama Mirna sangat suka melihatku berdiri kelonjotan. Tubuh seperti menggigil. Bergetar hingga membungkukkan badan.
"Panggil Mirna aja atau panggil Sayang aja, Sayang. Kalo lagi bercinta gini, aku gak mo kehilangan kemesraan dari Sayang," ucap Mama Mirna.
Aku terkejut mendengar itu. Kulihat Mama Mirna berhenti menghisap otot keras panjang di sela paha dan hanya menatap. Tersentuh dengan permintaannya yang tulus itu, aku tersenyum mengangguk.
"Ya, Sayang. Kalo cuma kita berdua di rumah, aku panggil Sayang aja ke Mirna," kataku.
Kemudian aku membungkuk dan mencium kening Mama Mirna. Kucium lama rambut hitamnya yang lurus panjang itu. Kuremas dan elus, bergantian.
Mama Mirna tampak senang mendengar jawabanku. Ia tersenyum. Kedua tangannya terulur menuntunku duduk kembali. Kedua kakiku dikangkangkan terbuka, menjuntai ke dua sisi sofa. Aku tertegun, melihat Mama Mirna bak seorang istri sedang melayani suami. Jujur, melebihi sikap Rahma kepadaku kalau di ranjang.
“Sayang sangat mesra dan romantis kalo bercinta,” bisikku.
Mama Mirna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, melirik. Dengan berpegangan pada bahuku, ia naik ke atas selangkangan. Kedua kakinya menjejak di sebelah pinggang. Lalu satu tangan meraih batang kejantananku yang diarahkan ke liang kenikmatannya. Kepala batang kejantanan yang membulat mengkilat kemerahan itu, digesek-gesekkan di bibir liang kewanitaan.
"Oooh ... enak banget, Sayang! Oooh!" desah Mama Mirna lirih.
Aku yang sudah sangat terangsang, langsung membalas ciumannya. Lidah terulur masuk ke mulut, saling lilit, saling jepit dan saling gesek di dalam. Gemas, aku sedot lidahnya kuat-kuat saat pinggul Mama Mirna mulai dimaju-mundurkan pelan. Tanganku pun ditangkupkan ke buah dada putih bersihnya. Puting buah dadanya yang semula kuelus, bergantian kupelintir.
"Oooh, Sayaaaaaaang!" jerit Mama Mirna.
Ciuman dilepaskan, sontak Mama Mirna menggelinjang di pangkuan. Pinggul bulat besarnya yang menimpa selangkangan, bergerak maju mundur lebih cepat kini. Kedua tangan mungil Mama Mirna pun lembut memeluk erat leherku agar tidak terjatuh karena gerakannya sangat liar. Pegangan di leherku yang erat, tidak membuatku susah bernapas. Justru membuatku tambah terangsang. Buah dada Mama Mirna sudah tidak terpegang tanganku lagi. Terbanting naik-turun karena gerakan liarnya.
Tak puas, aku peluk tubuh telanjang Mama Mirna sehingga terlihat indah kontras warna tubuh kami berdua yang Mami Mirna berkulit putih cerah dan aku coklat terang, ditimpa kilauan cahaya lampu. Suhu badan kami menjadi panas karena menempel rapat. Dua bulatan buah dada yang tergencet di dada, guncangan pinggul bulat saat duduk menghentak di pangkuan, menjadi rangsangan bagiku. Keringat kami berdua mulai bercucuran.

0 Komentar