MAMA MERTUAKU PART 2



 PART 2





“Selamat Pagi, Fariz.”


“Pagi, Ma. Wah, Mama tau aja masakan kesukaan saya.”


“Tau dong," jawab Mama Mirna sambil tersenyum.


Wajahnya menunduk ke meja yang sedang dirapikan. Tersenyum dengan wajah yang menunduk begitu, hidung mancungnya terlihat indah. Lalu, Mama Mirna mengangkat wajah dan bertanya, "Kamu hari ini mo ke mana, Riz?”


“Gak ke mana-mana, Ma. Paling cuci mobil.”


“Bisa temenin Mama ntar ya? Mama mo anter berlian pesanan orang.”


“OK, Ma.”


Selesai sarapan, aku membantu membersihkan ruangan makan. Mama Mirna menyiapkan semua yang akan dibawa. Setelah semua beres, aku pun menemaninya mengantar pesanan berlian yang diminta pembeli.


Selama perjalanan, Mama Mirna bercerita bahwa ia kesepian sejak Rahma makin sibuk dengan berbagai aktivitas syuting sinetron dan iklan. Suaminya pun jarang datang. Jangankan menginap, berkunjung saja jarang. Untung aku tinggal di rumah itu yang walaupun malam hari baru bisa berjumpa tetapi Mama Mirna merasa ditemani.


Perlahan, aku mulai akrab dengan Mama Mirna. Di sela perjalanan ke orang-orang yang memesan berlian, Mama Mirna menyempatkan membeli makan siang. Kami santap bersama di rumah makan dan sebagian lagi dipesannya untuk dibawa pulang. Kami pergi dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 5.00 sore.


Sesampai di rumah setelah pergi seharian, Mama Mirna menghabiskan waktu berendam di kamar mandi. Tampaknya sangat kelelahan. Setelah beliau mandi, aku pun bergegas membersihkan badan. Mama Mirna tidak masak makan malam lagi. Makanan yang dibeli saat ke luar tadi, dipanaskan dan kami santap bersama.


Saat akan nonton TV bersama, Mama Mirna mengganti pakaiannya dengan baju tidur, model handuk kimono seperti punyaku. Lalu, duduk selonjoran di sofa panjang yang kulihat waktu pulang malam setelah mengantar Rahma. Sofa yang biasa didudukinya itu, mengarah ke TV. Sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek, tiduran telentang di karpet. Aku merasa lelah seharian mengantar Mama Mirna. Tak sadar, hampir tertidur.


“Riz, kamu capek gak? Tolong pijetin leher Mama dong. Pegel banget.”


Suasana yang hening, pecah karena tiba-tiba Mama Mirna meminta untuk memijat. Aku membuka mata dan menoleh ke arahnya duduk. Posisi tiduran di karpet, menyebabkan kubisa melihat jelas pinggul putih sekalnya yang membulat karena kedua kaki yang ditekuk. Handuk kimono bagian bawah melorot tersingkap. Melihat tidak sengaja begitu, aku pun jadi kikuk.


“Mi-mijet di-di mana, Ma?”


Aku tergagap. Segera bangun dan duduk di karpet. Saat melirik, aku melihat jelas bulatan pantat Mama Mirna dari sela handuk kimononya yang tersingkap. Kualihkan pandangan ke kanan-kiri karena grogi.


“Sini. Leher dan punggung Mama pegel banget. Ambil minyak untuk pijet di kamar Mama ya. Yang botolan warna bening.”


Mama Mirna bangkit dari tiduran dan duduk dengan kaki yang tetap ditekuk. Ia menunjuk ke kamar. Lalu, memejamkan mata sambil memegangi tengkuk. Saat aku datang, kulihat kepalanya digerakkan ke kanan dan kiri sambil mengusap-usap tengkuk. Aku mendekati Mama Mirna yang beringsut memperbaiki duduk. Kepala ditundukkan dan handuk kimono di bagian bahu dibuka agar aku leluasa memijat.


"Sini, Riz. Pegel banget."


Mama Mirna menunjuk ke leher yang ditekuk dengan tangan yang diulurkan ke belakang. Aku meneguk ludah saat tangan menyentuh kulit punggungnya yang putih lembut. Bagai aliran listrik yang langsung menyengat tubuh, sentuhan itu seperti menghipnotis. Aku berdiri diam menikmati kelembutan kulitnya saat mengelus.


"Oooh, lembut sekali," bisikku.


Ketika kulit leher yang putih bersih dan mulus itu mulai dipijat dengan lembut, bulatan buah dada Mama Mirna terlihat jelas dari posisiku yang berdiri di belakangnya. Tidak mengenakan bra dan puting buah dada mengkalnya juga terlihat. Coklat kemerahan dengan bentuk seperti menegang. Mancung karena mencuat di ujung bulatan buah dada yang putih bersih itu.

Posting Komentar

0 Komentar