siang setlah basah basahan
Sinar matahari siang masih terang menyusup lewat jendela kecil kontrakan Mbak Dewi. Jam dinding menunjukkan pukul 13.40. Ari duduk tegak di sofa ruang tamu yang sempit, tubuhnya masih agak lembab setelah kejadian di kamar mandi tadi. Kaos oblong longgar yang dipinjamkan suami Mbak Dewi menempel di kulitnya.
Di belakangnya, Mbak Dewi berdiri sambil memijat bahu Ari dengan tangan kecil yang hangat. Di balik daster tipisnya yang masih agak lembab, tidak ada bra. Payudara jumbonya yang bebas langsung menempel erat di punggung Ari. Dua gundukan lembut, berat, dan hangat itu bergoyang pelan setiap kali Dewi menekan pijitan. Putingnya yang mengeras terasa samar-samar menyentuh tulang belakang Ari melalui kain daster yang tipis. Sensasi kulitnya yang halus dan hangat terasa sangat langsung.
"Enak nggak Ari?" tanya Dewi pelan, suaranya agak serak tapi penuh tawa kecil. Napasnya menyentuh tengkuk Ari, membuat bulu kuduknya berdiri. "Mbak pijit yang kuat ya.. bahu kamu tegang banget tadi.
Kamu angkat kardus banyak pas bantu acara Sinta... makanya pegel."
Ari menggigit bibir, berusaha menahan desahan yang hampir keluar. Payudaranya... nempel langsung di punggungku... tanpa bra... lembut... berat... hangat... putingnya terasa... aku nggak boleh mikir begini... tapi rasanya... enak sekali... "İya Mbak... enak sekali..." jawabnya hampir berbisik.
Dewi tertawa renyah di belakangnya, tawanya ringan dan playful seperti biasa. "Hahaha... adik Mbak ini manis banget. Kamu bilang 'enak' tapi badannya tegang gini. Bahu kamu tegang, atau... yang lain?
Hahaha!"
Tangan Dewi turun pelan ke punggung Ari, memijat lebih dalam dengan gerakan melingkar. Setiap tekanan membuat payudara jumbonya yang bebas bergeser dan menekan lebih erat ke punggung Ari. Ari bisa merasakan putingnya yang mengeras semakin jelas menyentuh tulang belakangnya. Sensasi itu membuat kontolnya berdenyut kuat di dalam celana pendek.
Dewi terus memijat sambil bercanda. "Kamu lucu banget sih Ari... tadi di kamar mandi kamu basah
kuyup, kontolnya tegang gede... sekarang Mbak pijit, kamu masih tegang juga. Besar banget loh... Mbak masih kaget. Adik Mbak ini punya 'keistimewaan' yang nggak biasa ya? Hahaha!"
Ari merasa wajahnya panas. "Mbak... jangan bahas itu lagi... aku malu..."
tertawa lebih renyah, tubuhnya bergoyang pelan sehingga payudara jumbonya yang bebas bergesekan lebih intim di punggung Ari. "Ya udah... Mbak berhenti. Tapi serius... kamu baik banget hari ini. Bantu acara Sinta, beresin, terus bantu shower bocor. Mbak senang punya adik kayak kamu. Kalau nggak ada kamu, Mbak pasti capek banget."
Tangan Dewi berhenti memijat. Dia mundur selangkah, lalu berjalan ke depan Ari dan duduk di pangkuannya dengan santai, seolah itu hal biasa. Payudara jumbonya yang bebas menekan dada Ari dengan lembut dan berat. "Ari... kamu capek nggak? Duduk gini aja... Mbak mau peluk sebentar. Hari ini
seru banget... tapi capek juga."
Ari membeku. Tubuh Dewi yang hangat dan wangi menempel erat di tubuhnya. Kontolnya yang sudah tegang menekan paha Dewi. Dewi pasti merasakannya, tapi dia hanya tersenyum nakal dan tertawa kecil.
"Hahaha... lagi-lagi tegang ya? Lucu banget... besarnya masih nempel di paha Mbak. Mbak kaget loh... adik Mbak ini... hahaha... punya kontol gede gini. Tapi nggak apa-apa... Mbak anggap kamu adik lucu... adik yang basah dan tegang."
Dewi mendekatkan wajahnya. Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya dalam hidup Ari, bibirnya disentuh bibir seorang wanita. Dewi menciumnya lembut, pelan, dan penuh tawa kecil. "Ini pertama kali kamu cium cewek ya? Lucu... bibir kamu kaku banget... hahaha... rileks aja Ari... Mbak ajarin."
Ciuman itu semakin dalam. Lidah Dewi menyentuh lidah Ari dengan playful. Ari merasa dunia berputar. Ini ciuman pertamaku... dengan Mbak Dewi... istri orang... tapi rasanya... enak sekali...
Dewi tertawa di sela ciuman. "Hahaha... kamu manis banget.. ciuman pertama adik Mbak. lucu. tapi
enak juga."
Tangan Dewi turun pelan ke pinggang Ari, lalu ke celana pendeknya. Dia meraba kontol Ari yang sudah sangat tegang melalui kain. "Wah... besar banget... Mbak kaget beneran. Kamu nggak sabar ya?
Hihihi... tenang... Mbak juga... sudah basah dari tadi di kamar mandi."
Dewi berdiri sebentar, melepaskan daster-nya dengan gerakan santai. Payudara jumbonya langsung bebas, bergoyang berat dan indah di depan wajah Ari. Celana dalamnya tampak mulai basah menempel ketat di selangkangannya yang mulus itu. Dia melepas celana dalamnya dengan cepat. Tubuh Dewi kini telanjang sepenuhnya di depan Ari. Tampak memek mulus tanpa bulu yamg berkilat karena cairannya sendiri
Ari hanya bisa menatap dengan napas tersengal. Payudaranya... pantatnya... memeknya... semuanya cantik.. aku nggak percaya ini terjadi..
Dewi tersenyum nakal sambil naik ke pangkuan Ari lagi. "Hahaha... lihat deh muka kamu... kayak anak
kecil yang baru lihat permen. Lucu banget... sekarang Mbak mau coba 'permen' adik Mbak ini."
Dia meraih kontol Ari yang besar dan panjang, mengusapnya pelan dengan tangan kecilnya. "Besar banget... Mbak kaget... tapi Mbak suka... pelan-pelan ya Ari... ini pertama kali buat kamu kan?"
Ari mengangguk, suaranya hampir hilang. "lya Mbak... pertama kali..." ari berbohong, ga mungkin dia menceritakan kalau dia udah ngentot dengan tantenya sendiri
Dewi mencium Ari lagi, kali ini lebih dalam dan penuh nafsu. "Hihihi... pertama kali Ari... Mbak senang jadi yang pertama... rileks aja.... Mbak yang atur, jangan berisik yaa takut anakku bangun."
Dewi mengangkat pinggulnya, mengarahkan kontol Ari ke memeknya yang mulus dan sudah basah.
Kepala kontol yang besar menyentuh bibir memek Dewi yang hangat dan licin, lalu pelan-pelan masuk.
Dewi mendesah panjang, suaranya bergetar. "Ahh... besar banget... pelan Ari... enak... penuh sekali..."
Ari merasakan kehangatan dan kebasahan memek Dewi yang menggenggam kontolnya erat. Sensasi itu luar biasa. Memek Mbak Dewi... hangat... basah... ketat... aku di dalam... ini nyata...
Ani. klai be aerak. aik-turun iak.a yuadarankal ya desamby , srgrang sedak ii depan wajah Ari.
Mereka bergerak bersama dalam ritme yang lambat. Dewi mencium Ari lagi, lidah mereka bermain, sementara pinggulnya terus naik-turun. Payudaranya bergoyang di dada Ari, putingnya menyentuh kulit Ari. Setiap gerakan membuat kontol Ari semakin dalam masuk ke memek Dewi.
"Ahh... Ari... lebih dalam... Mbak rasain ujungnya nyentuh paling dalam... ahh.... enak banget..." desah
Dewi, matanya setengah terpejam menikmati sensasi penuh yang luar biasa.
Ari memeluk pinggang Dewi, tangannya meremas pantat bulat besarnya yang montok. Nafsunya sudah tak terbendung, tapi dia tetap pelan menikmati setiap gesekan batang kontolnya dengan lubang memek mbak dewi yang sempit itu.
Dewi semakin cepat, desahannya semakin dalam dan panjang tapi tetap menahan suaranya agar tidak terdengar ke tetangga. "Ari... Mbak... Mbak mau keluar... ahh... pelan... tapi enak sekali... kontol kamu... menggesek dinding Mbak... ahh... panas.. penuh..."
Tubuh Dewi menegang hebat. Memeknya mengejang kuat menggenggam kontol Ari. Dia orgasme dengan desahan panjang yang penuh kenikmatan, tubuhnya bergetar hebat, payudaranya bergoyang liar.
"Ahhh... Ari.... Mbak keluar... puas sekali.. ahh....
Ari juga tidak tahan lagi. Dengan dorongan terakhir yang dalam, dia menyemprotkan spermanya yang panas dan banyak ke dalam memek Mbak Dewi. Sperma menyembur kuat, memenuhi rahim Dewi. Ari mendesah tertahan, tubuhnya bergetar hebat.
Mereka berdua diam sebentar, napas tersengal, tubuh masih saling menempel. Sperma Ari masih berada di dalam memek Dewi, menetes pelan ke sofa.
Dewi tersenyum lelah tapi puas, mencium kening Ari dengan lembut. "Ahh... pertama kali kamu sama mbak... dan langsung keluar dalam mbak siang bolong... Mbak suka... sangat suka..."
Ari hanya bisa memeluk Dewi erat, hatinya penuh emosi yang campur aduk - bahagia, bersalah, dan puas yang luar biasa.
bersambung
0 Komentar