Kini aku melakukan tugas yang sempat tertunda tadi.Ya, aku pun mulai mengukur badan Bagas untuk dibikinin setelan baju jas beserta celananya sama Om Fadil. Aku mengukurnya mulai dari; lingkar perut, lingkar dada, lingkar leher, lingkar pinggang, panjang kaki dan lain-lain yang biasa dilakukan penjahit untuk membuat setelan jas, baju dan celana, semua aku ukur. Terakhir aku mengukur dan memastikan kaki Bagas untuk memilih ukuran sepatu yang pas buatnya.
Selanjutnya aku berjalan keluar sebentar untuk memberikan catatan berisikan ukuran tadi ke Om Fadil, aku sempatkan singgah terlebih dulu ke toilet sebentar untuk bersihin diri. Sekembalinya aku dari ke privatw room aku mengambil semua barang bawaan Bagas, tak lupa pakaian yang barusan dipakainya Bagas, semua barang ia kemas ke dalam kardus paket.
Tiba-tiba ...
Muncul keisenganku untuk mencari tahu mengenai Bagas.
“Duh Pril, kamu naksir ya sama Bagas?” Gumamku menggoda diriku sendiri.
Kubuka kembali kardus tadi, dan ternyata di sana sudah ada dompet Bagas. Dari situ aku ambil identitasnya Bagas, saat KTP-nya kuambil dari lempitan kecil di dompet, secara tak sengaja ada sebuah foto ikutan jatuh.
“Foto seorang cewek, hmmm...” Gumamku sejenak menilai foto itu. “Lumayan cantik sih, ada lesung pipit di pipinya. Tapi kayaknya masih cantikan aku. Iih...! Kenapa sih, aku malah membandingin-bandingkan diriku dengan foto itu, ya.”
Jujur ada perasaan cemburu dan penasaran jadi satu. Aku lalu memasukkan kembali identitas Bagas ke dalam dompetnya. Namun foto gadis berlesung pipit itu malah aku kantongin,entah apa yang ada di pikiranku sekarang? Cemburukah aku atau...? Hoooo... Huuff!
Rasa ingin tahuku semakin besar mengenai sosok Bagas, aku tak hanya ngepoin dompetnya, kini aku meraba-raba saku calana Bagas dan ternyata ada sebuah handphone. Selanjutnya aku mengambil handphone itu dari saku celana bagas.
“HP jadul gini masih dipake, hahaha...” Aku tertawa geli setelah melihat HP Nokia 3310 yang waktu jamannya lumayan terkenal bandel bahkan kalo dilempar ke gukguk pun ga bakalan rusak HP itu. Namun kemudian aku sedikit mengernyitkan dahiku, otakku mulai berpikir.
“Hmm...anak muda kayak Bagas, kok masih pake HP jadul kayak gini ya?” Padahal aku sempat membaca berkas dan biodatanya Bagas, bahwa dia adalah lulusan dari sebuah SMA favorite yang cukup elit di kota asalnya.
“Masak kuat bayar SPP sekolah elit tapi HP-nya butut gini?”
Ah, lagi-lagi semua tentang bagas mulai bermunculan di kepalaku! "Pril, sadar! Elo itu lebih tia dari tuh anak! Namun di hatiku berkata sebaliknya. “Emang ada yang salah ya, kalo April naksir Bagas? Dia emang ganteng dan itu tuh bodynya machoo abis tauuuk gak! Dia termasuk kriterian gue banget gitu.
Selagi April sedang memikirkan sosok Bagas kita dengerin respon dari pembaca, dan kali ini datang dari Pakdhe Hiu.
(“Wah, kebangetan HP jadul masih aja dipelihara, Gas, Gas.” Pakdhe Hiu hanya geleng-geleng kepala saja. “Kalo yang dipelihara ikan mujaer atau bawal misalnya mungkin sudah bisa panen tuh! Hahaha... Tapi salut sama Bagas dengan perjuangannya mewujudkan mimpi dan cita-citanya kelak.”)
Satu jam kemudian..
Sudah satu jam lebih, aku berdiam diri, menunggu Bagas sadar atau siuman dari obat bius. Ada perasaan berkecamuk tak jelas di hati, membuat aku akhirnya tergoda untuk menghabiskan sebotol minuman keras yang tadi sempat aku ambil dari lemari pendingin yang berada di dapur ruko tempat kerjanya Om Fadil.
Aku lihat Bagas dalam keadaan duduk terikat dan telanjang bulat karena ulahku tadi. Mau gimanapun aku tak boleh tebang pilih, aku harus adil dalam menjalankan tugas. Sekarang saatnya aku harus mengetest mentalnya Bagas.
Aku lalu menyiramkan minuman beralcohol ke arah wajah Bagas. Ya, sisa-sisa minumanku terakhir yang masih tersisa di dalam gelas. Dan dari efek siramanku barusan, membuat Bagas gelagapan dan akhirnya ia sadar dari pingsannya.
Dalam mungkin karena ia kaget melihat kondisi dan keadaannya saat ini, membuat Bagas pun berteriak. “Toooolllloooonnnnggg....!”
Aku yang sudah sedikit hilang kendali, langsung saja memberikannya sebuah pukulan ringan ke arah tenggorokan Bagas. Seketika kulihat mata Bagas melotot merah, mungkin ia sedang menahan rasa sakit di tenggorokannya.
"Maaf gas...! Kamu tahan, ya? Aku kasih test mental yang ngga bakal bagas lupain seumur hidup." Gumamku kembali dalam hati.
Mukaku terasa tebal, darahku berdesir dan panas dari suhu tubuhku naik. Gerah, ada perasaan campur aduk nggal karuan yang aku rasakan membuatku lepas kendali.
Aku melepaskan ikatan rambut, dan tanpa rasa malu berlanjut menggusur kaos yang kugunakan. Aku sempat merasakan kulit tubuhku merinding, akibat menerima udara dingin dari kandungan freon yang keluar dari AC di ruangan ini. Namun itu tak berlangsung lama, efek dari minuman beralcohol yang sempat aku minum tadi kembali bisa menghangatkan tubuhku. Dan efeknya juga menaikan adrenalin dan nafsu birahiku yang sempat tertunda tadi.
Kenekatanku terus berlanjut, aku malah perlahan-lahan melepaskan satu persatu pakaian yang kukenakan. Kemudian melemparkannya ke sembarangan tempat. Dan barang terakhir yang masih kupegang adalah secarik celana dalam yang sudah benar-benar basah kuyup, akibat dari lendir yang keluar sangat deras dari memekku.
Aku berjalan ke arah Bagas dengan bertingkah genit.
Melihat Bagas seperti sedang menahan sakit, membuatku sedikit iba. Langsung kuciumi kupingnya, lidahku menari ke sana ke mari. Namun efek dari alcohol yang kuminum membuat perasaanku kembali berkecamuk di hatiku seperti mau berontak.
Seketika aku teringat kembali foto cewek yang tadi kutemukan dan kulihat membuatku langsung bereaksi . “Aku cemburu, Gaaaas! Aku lampiaskan saja rasa cemburuku ini sama Bagas!”
Buugghh... Pukulan sedikit keras kuarahkan ke ulu hatinya Bagas.
“Maaf, Gaaas...!” ucapku dalam hati sambil menyeringai padanya.
Efek dari pukulanku membuat mulutnya terbuka lebar dan refleks celana dalam yang masih berada di tanganku tadi, aku langsung masukan ke mulutnya.
Bagas nggak bisa berontak, rasa sakitnya memaksanya untuk terdiam, cuma lontaran kata yang tak terdengar jelas karena sumpalan di mulutnya menghalangi vocal suaranya.
“Makan tuh, celana dalam April! Basah semua gara-gara kamu, Gas!” Gumamku membatin.
Sisi binalku benar-benar tak tertahankan, aku bergerak duduk di pangkuan Bagas. Penis Bagas yang menegang sempurna kududuki, terasa sedikit menggesek memek dan pantatku.
Jantungku benar-benar berdesir, ingin rasanya aku melenguh kencang, tapi malu kalo ketauan Bagas membuatku bertahan. Aku mulai melumat bibir bawahnya Bagas sambil tanganku tak berhenti memainkan puting Bagas.Dadanya benar-benar bidang, mulutku turun mengulum putingnya.
Melihat bagas menikmati apa yang aku lakukan, membuat nafsuku semakin naik, aku tak hanya menghisap dan mengulum, namun juga kulakukan gigitan-gigitan lembut ke daerah puting Bagas.
“Memekku semakin banjir, Gatel banget Gaaaas!” desahku dalam hati.
Pantatku semakin menekan ke bawah memaksa penis Bagas bergesekan langsung dengan memekku.
"Enak banget, gaaas!! Baru digesek aja, gimana 'ntar kalau dimasukin, ya? April benar-benar udah ga tahan pengen teriak, tapi malu sama kamu, Gaaas!” Gumamku dalam hati.
Hhmmpp...
Hhmmpp...
Haaaah.....
Haaaah.....
Haaaah.....
“April orgasme Gaaaaas!” teriakku dalam hati, jujur aku malu kalo Bagas sampe tahu.
Serrrr.... Serrr.... Serrr....
Cairan memeku mengalir deras, aku tahan untuk tak melenguh untuk sedikit meredam rasa yang sangat nikmat, tubuhku sedikit melengkung ke belakang diikuti oleh gigitanku ke bibir bagian bawah.
"Enak..enaaakk banget, Gaasss.. lebih enak dari mastrubasi...!" Gumamku dalam hati sambil mengatur napasku. “Gaaaas, April kayaknya JATUH CINTA sama kamu...!”
30 menit kemudian...
Oh, my god! Aku dibikin spechless sama Bagas!
Pemandangan di depanku, benar-benar bikin aku salting! Pasalnya; Bagasnya cakep, sangat cakep. Ganteng, sangat ganteng kamu Gas! Bagas terlihat sudah berpakaian rapi menggunakan setelan jas jahitan Om Fadil yang barusan aku ambil.
Takut ketauan salting di depan Bagas, aku segera memaksanya memakai jam tangan khusus buat murid ke Bagas. Jam tangan canggih yang di dalamnya terdapat GPS dan masih banyak lagi kelebihan lainnya dari jam canggih itu.
Namun dilain kecanggihan-kecanggihan yang dimiliki, fungsi sebenarnya jam tangan ini untuk memberi pelajaran kepada MURID supaya nurut sama kami para master. Jam tangan ini memiliki kelebihan bisa mengeluarkan daya kejut listrik yang diatur sesuka hati sama yang memegang remote control -nya.
Aku penasaran dengan jam itu, berfungsi apa tidaknya? Dan aku pun mencobanya, kutekan tombol kecil di jam itu.
Dan, tiba-tiba...
Bagas terpelanting, ia berguling-guling ke sana ke mari.
"Maaf ya, Gas! Aku cuma bercanda." Gumamku membatin. “Aku tidak boleh menunjukan rasa simpatiku pada Bagas, ntar ia ngelunjak. Hehehe...”
Ngisengin Bagas, ternyata asyik juga ya, aku tertawa tertahan sambil senyum-senyum sendiri berjalan di depan Bagas.
Setelahnya, aku dan bagas menuju ruang medical check-up. Di sana aku mengenalkan Bagas ke dokter Sari. Bagas harus benar-benar sehat dan tidak ada riwayat penyakit sebelum ia melangkah ke tahap selanjutnya.
Tak lama kemudian, setelah menjalani berbagai test kesehatan dari dokter Sari, aku dan Bagas meneruskan perjalanan kembali. Membawa Bagas ke tujuan selanjutnya. Tapi di tengah perjalanan terjadi insiden kecil, gerakan refleks-ku membuat Bagas pingsan.
"Kamu sih Gas, pegang-pegang pahaku. Kan bikin aku kaget." Aku benar-benar khawatir melihat Bagas terkapar. Tenaga yang aku keluarin tak bisa kukontrol karena diliputin rasa malu dan kaget, aku menusukkan siku tanganku sekencang-kencangnya ke arah perut Bagas.
“Gaaaas, maafin April...!” Gumamku diliputi kekuatiran akan keadaan Bagas saat ini.
Tubuh Bagas kutatih dan sedikit kuseret kembali ke ruangan dokter Sari dengan agak kesusahan. Badannya yang kekar dan berat, sangat menyusahkanku, ketimbang ukuran tubuhku yang kecil ini. Bagas masih terbaring di tempat tidur yang biasa digunakan untuk chek kesehatan.
Sedangkan aku menungguinya, duduk disampingnya. Kepalaku, aku sandarkan ke dadanya. “Nyaman Gas, April suka. Gas maafin, aku ya. Sadar donk...!”
Jujur aku ngerasa bersalah, sekaligus merasa khawatir. Walaupun setelah diperiksa tadi oleh dokter Sari dan Beliau menerangkan, “kalau Bagas pingsan karena kecapek’an dan lapar”.
“Nggak ada bosan-bosannya, aku menatap wajahnya, Bagas ganteng!” Gumamku dalam hati.
Muka gantengnya bikin april benar-benar ga tahan untuk nyium...
April beraniin diri majuin kepala...
Cuuuppp....
“Enak, sekali lagi. Aaaaah....!”
Cuuuppp....
Bibir kami bersatu, kali ini aku yang memberanikan diri melumat bibirnya. Kan dia dalam keadaan tak sadar alias pingsan.
Eehhmm....
Eehhmm....
Eehhmm....
Bibir Bagas membalas, dia melumat bibirku balik.
“Oh my god! Bagas sadar...!” Mukaku merah padam.
Dan....
Plaaak...!
Refleks tamparanku bersarang ke pipi Bagas. “Maaf, Gaaaas!”
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar