ADAPTASI PART 10


SEMUA TERJADI DI LUAR KENDALI​

POV BAGAS

Masih dalam kondisi setengah sadar, aku merasakan sedikit geli karena ada kepala bersandar di dadaku. Dan pada saat akan membuka mata, sedikit kaget aku dibuatnya karena aku mendengar suara wanita berkata lirih. " Nyaman, Gas. April suka! Gas, maafin April, ya! Sadar donk!"

Niat mau membuka mata, akhirnya aku urungkan, aku tak ingin April tahu, jika aku telah sadarkan diri, aku berfikir dia pasti malu kalo ketauan olehku. Tidak beberapa lama kemudian kurasakan kepalanya bergeser, selanjutnya aku merasakan ada hembusan napas di depan mukaku.

“Apa yang mau kamu lakukan, Pril?” Gumamku masih dalam kondisi menutup mata.

Dan selanjutnya, kurasakan bibirnya yang lembut mengecup bibirku wakau hanya sebentar, tetapi menyebabkan jantungku benar-benar bergetar.

Aku merasakan bibirnya menciumku lagi, namun kali ini berbeda dan terasa lama dari ciuman berganti kuluman. Bibirku terasa basah dan dengan sangat lembut bibir itu masih mengulumku karena rasa nikmatnya. Aku mencoba membuka mulutku dan membalas kuluman bibirnya sambil perlahan-lahan kubuka mata, sudut mataku bertemu dengan sorot matanya yang sayu. April langsung bergerak mundur, bibir kami terlepas dan terlihat mukanya memerah padam. Sepertinya dia terkejut, ketika mendapatkan balasan dari kulumanku.

Plaak!

“Auuww! Sakit, Pril!” Teriakku mengeluh kesakitan ketika mendapatkan tamparan keras dari April, wajahku memerah dan meninggalkan bekas tangannya.

Seketika April membalikan badan, pergi meninggalkanku begitu saja tanpa mengucapkan kata-kata. Tamparan yang sangat keras dan telak dari April seketika membuat kesadaranku kembali penuh, kupegang pipiku. Panas rasanya.

“Dasar gadis menyebalkan!” Omelku membatin. “April sepertinya memiliki kepribadian ganda.”

Jujur melihat tingkah pola April, aku malah tersenyum sendiri, tak peduli berkali-kali dia menyiksa Bagas, malah Bagas jadi mikirin drinya. “Bagas, gadis ganas kayak gitu kamu taksir?”

Plaak! Kutepuk jidatku sendiri.

“Fokus sama tujuan kamu, Gas...! Ingat, kamu ke sini ‘kan mau mencari jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di pikiranmu! Bukan mau cari cewek!”

Sejenak aku teringat anin. "Lagi apa ya, anin?" “Huffffttt...!” Aku seketika menutup mulut karena keceplosan. Pasalnya, aku sekarang lost contact (terputus komunikasi) dengannya karena HP-ku ditahan sama April.

Tetapi, tiba-tiba...

Aku sedikit kaget karena April ternyata sudah berdiri di hadapanku, lamunanku tentang sosok Anin pun seketika hilang dengan ditariknya tanganku secara paksa

“Cepat, ikutin April, Gas!” ujar gadis manis berkacamata itu tegas dan berwajah datar. “Ngelamun aja kerjaan elo?”

“Hehehe... Tapi, kita mau ke mana Pril?” tanyaku bingung sambil garuk-garuk kepala.

“Makan...!” balasnya singkat dan cepat.

“April yang tadi itu....” ujarku berusaha menjelaskan kejadian tadi.

Namun, tiba-tiba..

Tangan April seketika menutup mulutku, seakan ingin memotong ucapanku.

“Jangan pernah bahas lagi masalah itu, faham! Atau kamu mau ini....” Sambil ia mengacungkan kepalan tangannya di depan wajahku.

“Galak banget.” ucapku lirih.

“Bilang apa tadi, hah?!” Matanya melotot tajam pertanda ia serius marah.


“Ampun, Pril! Enggak deh, nggak lagi.” Sahutku refleks tanganku langsung bersedekap menutupi dadaku.








Telegram : @cerita_dewasa








Jam di dinding kantin menunjukan pukul 5 sore, sudah tak ada lagi seorang pengunjung pun di sana. Hanya ada aku, April dan seorang ibu tua penjaga kantin. Aku memesan makanan yang sama dengan April ,yaitu; nasi goreng dan es jeruk.




Setelah obrolan ringan penuh basa-basi sewaktu makan, kami sempatkan duduk sejenak di kantin. Aku yang sejak tadi hanya mengikuti kemauannya, hanya bisa menunggu ke mana dia akan membawaku selanjutnya.






“Gas.” Panggilnya pelan.


“Iya, Pril.” sahutku.


“Boleh April tanya?” Sembari kedua tangannya diletakkan di atas meja menopang dagunya.


"Imut, Manis, dan cantik." Gumamku membatin. “Eh, malah aku memandangi gadis menyebalkan ini yang kini ada di depanku!”


“Bagaaaaaas....!” Teriaknya sedikit kencang karena merasa pertanyaannya tadi tidak kugubris membuat lamunanku seketika buyar.


“Eeh, iya Pril!” sahutku sedikit kaget. “Boleh-boleh, Pril. Mau tanya apa?” Aku berusaha bersikap tenang di hadapannya.


“Tentang ini, Gas?” Sambil ia mengeluarkan kartu emas milikku. Kemudian meneruskan bertanya. “Siapa yang ngasih kartu ini ke elo?”


“Orang misterius, Pril.” Jawabku cepat.


“Hmmm...misterius gimana, Gas?” tanya April heran dan sedikit penasaran.


“Sampai detik ini, Bagas baru sekali bertemu dengannya dan Bagas pun tidak mengenalnya. Dia sama sekali tidak menyebutkan namanya ke Bagas dan bodohnya lagi Bagas juga tak sempet bertanya siapa namanya, keburu orangnya menghilang.” Terangku. Emang kenapa, Pril?” Aku balik bertanya.


“April boleh tahu nggak? Kayak apa ciri-cirinya, Gas?” sahut April.


“Gadis ini, ditanyain nggak ia jawab. Eh malah, dia nanya balik!” Gerutuku dalam hati.




Bentar Bagas ingat-ingat dulu, Pril. “Hmmm...sosoknya adalah seorang pria mungkin usianya sekitar 40-50 tahun, berpenampilan sedikit aneh menurut Bagas.”


“Aneh gimana, Gas?” tanya April makin penasaran.


“Dia memakai kacamata dan membawa payung, Pril, Bagas nggak tahu tiba-tiba saja ia sudah duduk di sebelah Bagas sewaktu Bagas di taman beberapa waktu lalu. Dan sebelum Bagas sempat bertanya siapa namanya? Tahu-tahu orangnya sudah menghilang. Bagas mencarinya juga nggak ketemu, dalam hitungan detik, orangnya hilang kayak lenyap ditelan bumi gitu, Pril.” Terangku menjelaskan kejadian tempo hari sewaktu di taman kota.


“Frame kacamatanya berwarna biru, Gas?” tanyanya lagi.


“Iya.” Jawabku singkat.


“Payungnya hitam?” cecar April.


“Iya.” jawabku cepat. “Emang kamu kenal dia, Pril?” Aku bertanya balik.




April tak menjawab pertanyaanku, nampak mukanya terlihat sedikit serius.




“Enggak kok, Gas. April juga nggak tahu.” jawab April berkelit.




Melihat gelagat April, aku bisa menangkap ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Namun, aku hanya memutuskan untuk diam saja.




“Terus tujuanmu ke sini mau ngapain, Gas?” tanya April.




Huuh... Aku menghela napas sejenak lalu mulai menjawab pertanyaan April. “Bagas belum yakin, Pril. Bagas penasaran dan pengen tahu tentang Ayah, dan rasa penasaran itulah yang membawa Bagas sampai ke sini! Orang yang Bagas ceritain tadi, yang menyuruh Bagas ke sini buat menemuinnya.”


“Bagas.” ucap April lirih.


“Iya, Pril.” Jawabku singkat.


“Jika benar orang itu yang ngasih kartu ke Bagas, berarti kamu harus menyelesaikan semua tahapan di sini sebelum bisa menemuinya.” ucap April dengan wajah serius.


“Kamu kenal Beliau, Pril?” tanyaku, dan seketika mataku sedikit berbinar.


“Dengerin dulu, Gas! Jangan dipotong omongon April, oke!”




Aku menganggukan kepala, menuruti perintahnya.




“April tahu siapa yang ngasih kartu itu ke kamu, Gas?” Terang April sambil ia membuka dompetnya berwarna biru muda dan menunjukkan kartu emas yang sama padaku.




Aku terbelalak, terkejut.




“Kenapa April juga punya kartu emas yang sama persis dengan punyaku itu? Apa hubungannya dengan paman yang pernah bertemu dan sekaligus memberikan kartu emas itu di taman tempo hari? Terus tahapan apa saja yang harus aku lalui?” Pertanyaan pertanyaan itu berkecamuk di benakku, namun aku hanya memutuskan untuk diam dan tak memotong perkataan April.


“Bingung ya, kamu Gas? Kenapa April punya kartu yang sama?” tanya April seolah mengetahui apa yang sedang kupikirkan tadi.




Sekali lagi aku menjawab hanya dengan anggukan kepala saja. April seperti mudah sekali membaca pikiranku.




“April kasih pertanyaan sekali lagi ke kamu, Gas. Baru setelah itu akan April jelaskan sedikit ke bagas.” Katanya lalu ia bertanya. “Kamu tahu tujuanmu dibawa ke sini, Gas?”




Aku jawab dengan gelengan kepala.




“Ok, April akan bercerita sedikit ke kamu, Gas. Di sini adalah “Akademi pelatihan untuk mendidik orang untuk menjadi seorang agen”. Dan hanya orang-orang pilihan saja yang bisa mendapatkan kartu emas berlogo “IN” ini, Gas. Mungkin kamu dianggap layak dan pantas dengan orang yang memberimu kartu ini. Seorang calon agen sepertimu, kami menyebutnya dengan istilah MURID. Seorang murid harus melalui 6 (enam) tahapan sebelum ia benar-benar lulus dan mendapatkan nantinya kartu emas berlogo “OUT”. Untuk setiap tahapan, murid akan diajari langsung oleh PARA MASTER di masing-masing kelas. Dalam sebulan murid tersebut akan dibekali keahlian dari masing-masing master, namun......” April tiba-tiba menghentikan kata-katanya sejenak.




Aku mendengarkan semua penjelasan dari April dengan cermat dan seksama.




“Tak semudah itu, Gas. Karena setiap tahapan para master akan benar-benar menguji kapasitas muridnya itu apakah layak atau tidaknya ia untuk melanjutkan ke kelas berikutnya. Dan yang menjadi momok (atau hal yang menakutkan) kalo saja murid itu mendapatkan “kartu merah” yang artinya sang master menilai penguasaan materi yang diserap murid tidak berjalan dengan baik. Mendapat kartu merah sama saja artinya “MATI”. Seorang murid yang mendapatkan kartu merah bakalan dibuang ke sebuah pulau neraka menggunakan helicopter. Nggak ada akses keluar dari pulau itu kecuali melalui jalur udara. Beberapa hari kemudian, setelah murid itu dibuang ke pulau maka akan diturunkan tim algojo yang berisikan 5 (lima) orang pembunuh bayaran dengan skill tinggi dan memiliki kemampuan membunuh di atas rata-rata. April kurang paham, siapa tim algojonya. Namun santer terdengar kabar dari teman-teman sesama master bahwa kelima orang itu dulunya juga berasal dari akademi pelatihan ini. Sifat pembangkang,arogan, bengis dan kejam membuat mereka tersingkir sebagai agen. Namun mereka tetap dipelihara oleh “Big Boss” karena kemampuan mereka membunuh sangatlah hebat. Jangan sampai berurusan dengan mereka, Gas. Pulau neraka habitat mereka, kalo kamu sampai mendapat “kartu merah” kamu bakalan berhadapan dengan mereka. Di sana seperti ajang perburuan dari kelima algojo itu akan memburu dan berlomba-lomba membunuh buruannya. Kepala murid yang gagal, di hargai dengan harga yang sangat mahal. Sebenarnya ada cara untuk kembali, kalo saja seorang murid mendapatkan kartu merah dari master...Tapi itu juga mustahil menurut April....” 




April tak meneruskan kata-katanya tersebut sehingga memaksaku untuk bertanya akibat rasa penasaran. “Apa itu, Pril?”




“Diburu atau memburu...seorang murid yang mendapatkan kartu merah bisa saja kembali meneruskan pelatihannya kalo saja setelah 7 hari ia masih bisa bertahan hidup di pulau neraka itu. Tapi itu sepertinya sangat mustahil karena pulau itu sangat kecil, Gas. Dalam kurun waktu kurang dari 7 hari, kelima algojo pasti bakal menemukannya. Nggak ada pilihan lain kalo terpaksa masuk ke sana, tapi kalo boleh April berpendapat. Walaupun presentase keberhasilnya sangatlah kecil, menurut analisa April kalo saja berada di sana lebih baik berburu daripada diburu, Gas. Lebih baik mati bertempur dari pada berpangku tangan menunggu ajal. Paham kamu, Gas?”




Aku mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.




“Sedikit, Pril.” sahutku lirih.


“Bagas.” ucap April lirih.


“Iya, Pril.” jawabku cepat.


“Berusahalah untuk tetap hidup, apa pun resikonya, berjanjilah pada April!”ucapnya berkata cukup serius.




Aku menganggukan kepala.




“Dan....” ucap April dengan kalimatnya yang gantung.


“Jangan pernah berpikir untuk mundur atau pun kabur, Gas! Tempat ini sangat rahasia dan kamu telah mengetahuinya, kalo saja sampai kamu mundur atau kabur maka dipastikan pula nyawamu bakal melayang. Jam tangan yang kamu kenakan itu sudah dilengkapi oleh GPS, di mana pun kamu bersembunyi maka agen pemburu bakal menemukanmu dengan mudah, Gas. Dan hanya satu cara untuk melepaskannya, yaitu mendapatkan kartu emas berlogo OUT karena di balik kartu itulah terdapat kode angka untuk melepaskan jam tangan itu. Paham?”




Kuanggukan kepalaku.




“April teruskan ya, Gas..! Berarti mau tidak mau, kamu harus tetep berada di sini, Gas. Dan jalan satu-satunya yang harus kamu pilih hanya lewati tahapan demi tahapan dan berusaha lah untuk tetap hidup. Kamu sudah masuk ke sini, walau pun tanpa penjelasan akan apa yang bakal menimpamu di sini Gas! Berjuanglah untuk sesuatu yang kamu anggap penting, dan sekali lagi tetap hidup. Sang pemberi kartu telah berhasil menghasutmu hingga kamu bisa sampai di sini. Kamu tidak tahu ya, kalo kamu itu sebetulnya sudah masuk perangkap yang ia pasang, Gas. Mau tidak mau, suka tidak suka, maka hadapilah apa yang sudah kamu putuskan. Seperti ditipu ‘kan, Gas?”




Aku mencerna ucapan april. "Benar sekali apa yang dikatakan april tadi kok aku baru sadar ya?" Gumamku membatin. Seketika gigiku mengerat keras, aku merasa kesal dan marah pada Paman dan terutama pada diriku sendiri. “Berarti aku dijebak supaya masuk ke sini!” Gemuruh amarah seketika berkecamuk, bergolak dan bergelora di dadaku.




Melihat perubahan raut wajahku, April langsung tanggap. Dia berusaha menenangkanku dengan memegang tanganku erat-erat.




“Gas...April percaya kok, Bagas bakalan mampu menyelesaikan semuanya, yang penting berusaha dangan segenap kemampuanmu, jangan malu untuk bertanya dan teruslah berlatih itu kunci keberhasilannya.” Nasehat April dengan suara yang menyejukkan, kurasakan telapak tangannya sangat halus sekali, memberikan usapan lembut di tanganku.




Aneh, seketika amarahku lenyap, aku merasakan ketenangan saat ini. Kupandang dalam matanya, mata kami bertemu. April tersenyum sangat manis, akhrinya kuanggukan kepala sembari ikut tersenyum.




“Thanks ya, Pril.” jawabku.


“Kendalikan emosimu, Gas...! Dengarkan, baik-baik...! April yakin orang yang memberimu kartu mempunyai jawaban yang selama ini kamu cari entah apa pun itu? Hanya kamu yang tahu, Gas. Dan dia juga tidak bermaksud untuk menjerumuskanmu ke sini untuk sekedar memperdayaimu! Mungkin dia melakukan hasutan itu karena dia tidak punya cara lain untuk membawamu ke sini! Gas, ketahuilah bahwa orang yang memberikan kartu itu pasti punya harapan besar sama kamu. Seorang master yang memberi kartu ini juga bertanggung jawab tentang keberhasilanmu, Gas. Dia bahkah rela mempertaruhkan gelar masternya buat kamu karena jikalau kamu gagal maka gelar masternya ikutan dicabut dan itu konsekuensinya. Dan April sangat yakin yang memberikan kartu ini adalah Om Belut. Dia adalah master senior di sini! Asal kamu tahu Gas, selama 25 tahun Beliau menjabat di sini, belum pernah sekali pun Beliau merekomendasikan seorang murid, kamu adalah pilihan pertamanya, maka itu jangan kecewakan dia, Gas. Pasti ada alasan yang sangat kuat sehingga Om Belut memberikan kartunya ke kamu Gas. Gunakan rasa penasaran kamu, kenapa Beliau memilihmu dan jadikan itu sebagai cambuk untuk melewati semua tahapan. Om Belut salah satu master di sini. Kamu bisa menemuinya di tahapan ke-6. Otomatis kamu harus mendapatkan terlebih dahulu kartu hijau di masing-masing tahapan sebelum kamu sampai di sana!. Maka berusaha lah Gas, Om Belut pasti tahu kapasitasmu sehingga Beliau memilihmu! Paham?”




Sekali lagi, kuanggukan kepalaku.




“Priiil...” suaraku lirih.




April mengernyit.




“Makasih.” ucapku masih terdengar lirih.




April hanya tersenyum.




“Manis banget kamu Pril kalo kamu tersenyum.” Gumamku dalam hati.




Aku masih melamun mencerna semua yang dijelaskan april kepadaku, timbul tanda tanya besar dibenakku. “Siapa sebenarnya April kok dia sampai tahu sedetail ini? Punya maksud apa, April sehingga membocorkan semua informasi yang baru saja ia jelaskan kepadaku tadi? Dan setiap kata-katanya mengandung maksud untuk memberiku semangat.”




Namun, tiba-tiba...




Aku dibuatnya kaget dan terperanjat!!




Karena tiba-tiba April berkata. “Gas, kamu penasaran ‘kan siapa aku? Dan kamu mau tanya, kenapa aku tahu semuanya?”




Sekali lagi kuanggukan kepala, sambil tersenyum ke arahnya. “Kok April seakan bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan, ya?”




“Karena....aku salah satu dari ke-enam MASTER itu, Gas.” jawabnya sedikit tegas seperti langsung menyambung perkataan hatiku.




Aku hanya menganggukkan kepala, sebenarnya aku mulai curiga dari awal dia mengeluarkan kartu yang sama denganku. Aku sudah mengira April ini, adalah mantan murid di sini atau bisa saja dia salah satu yang bergelar master.




“Hebat kamu Pril, di usia masih muda kamu sudah menjadi “master”, pasti dia memiliki bakat dan keahlian khusus." Gumamku membatin.




“Ayo Gas kita lanjutin jalan!” Sahut April lalu terlihat ia melemparkan koin perak ke arah ibu penjaga kantin, dan lemparan yang sangat cepat itu ditangkap pula dengan sangat lihai oleh ibu itu. Aku sedikit kaget, berarti semua orang-orang yang berada di sini sepertinya mempunyai keahlian spesial.




Kuputuskan berjalan mengekor di belakang April.




Kami singgah sebentar untuk sesi pengambilan foto, entah untuk apa foto itu? Beberapa kali fotografer yang tal kukenal itu tadi mengambil gambarku dari beberapa arah, aku pasrah dan hanya mengikuti arahannya untuk diambil gambar atau foto wajahku.
















BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar