PART 5
“Oooh, Sayaaang! Oooh, Sayaaaaaang!"
Mama Mirna terus meracau. Kini dengan setengah duduk di pangkuan, ia tampak sangat leluasa mengocok batang kejantananku dengan liang kewanitaannya. Kedua tangan memeluk leher dan kedua kaki memijak kanan kiri sofaku duduk. Suara pantat bulatnya yang sekal yang berbenturan di selangkangan, membuat suasana percintaan kami menjadi berwarna.
Plak! Plak! Plak!
Dalam posisi setengah duduk begitu, ada jarak antara selangkanganku dan pantatnya. Ia menjadi sangat leluasa untuk cepat menggerakkan pantat naik turun. Tidak menghiraukan bunyi pantatnya yang membentur selangkanganku.
“Oooh, Sayang! Barengan, Sayang! Ooooooooh! Barengan, Sayang!" desahku.
Rasa berdenyut mulai menjalar di kepala batang kejantananku. Sekarang, aku yang mulai meracau. Mama Mirna tampaknya mengerti permintaan yang kuucapkan dengan suara mendesah parau itu. Ia mulai mengubah gerakan pinggulnya. Kembali dimaju-mundurkan dengan cepat sambil tetap berpegang ke leherku.
“Aaah, Sayaaaaang. Aaah! Aaaah! Aaaah !"
Namun, sepertinya Mama Mirna akan mencapai puncak percintaan ini bersamaan denganku. Ia duduk membenamkan batang kejantanan di dalam liang kewanitaannya sambil memeluk erat tubuhku. Bibir kami berdua saling emut dengan kuat. Mulutnya mengemut sambil menghisap seakan ingin menelan mulutku bulat-bulat. Tubuh kami berdua bersamaan menegang dan langsung berpelukan erat. Pun bersamaan kami mendesah.
"Aaah, Sayaaang! Aaah, Sayaaaang! Aaaaaaaah!"
Hingga akhirnya, puncak percintaan kami berdua pun teraih. Terasa hangat kepala batang kejantananku di dalam liang kenikmatan Mama Mirna. Dilumuri cairan cintanya dan bercampur dengan cairan cintaku yang berulang kali disemprotkan. Tubuh kami menggelinjang sambil berpelukan saat aliran cairan cinta mengisi penuh rahim. Liang kewanitaan Mama Mirna berulang kali berdenyut. Seakan meremas-remas batang kejantanan untuk menumpahkan semua cairan cinta yang masih tersisa. Batang kejantananku pun membalas dengan berulang kali juga berdenyut.
“Sayang, kontol Sayang gede banget! Puas aku, Sayang!”
Mama Mirna tersandar lemas di dadaku. Perlahan ia mendorong agar tubuhku telentang di sofa. Lalu, tubuh putih indah yang telanjang itu menindih lemas tak berdaya dengan batang kejantananku yang masih memenuhi liang kewanitaannya.
"Oooh, Sayang! Puas banget! Oooh! Mirna sayang kamu, Riz!"
Aku mendengar suara Mama Mirna mengucapkan kata-kata itu seakan berbisik. Kecil disertai desahan. Kepalanya terbaring miring di dadaku dengan deru napas yang masih tidak teratur. Aku sambil mengatur napas, mengelus rambut hitamnya yang lurus panjang. Punggungnya basah oleh keringat. Demikian juga dengan tubuhku yang bersimpah keringat.
“Memek Sayang terasa banget ngejepitnya. Sempit. Pas goyang maju mundur tadi, aku gak tahan. Langsung pengen ke luar karena kayak diremas-remas."
Mama Mirna mengangkat kepala. Melihat aku yang sedang bicara.
“Emang iya terasa ngejepitnya, Sayang?" tanya Mama Mirna sambil terus mengangkat kepala.
“Terasa banget! Enak! Aku gak tahan pas Sayang maju mundurin pinggul tadi. Ough ... rasanya pengen langsung muncrat!" jawabku.
Mama Mirna tersenyum. Lekuk bibirnya sangat mempercantik wajah ibu istriku itu. Ia kembali menyandarkan kepala dan kuku jari tangan kirinya digoreskan ke dada. Deru napas hangatnya kembali terasa mengembus dan mengenai kulit.
“Aku jarang berhubungan seks ama suami, Sayang. Selama ini, ya ditahan-tahan aja. Dia kan jarang dateng ke sini."
Mendengar itu, refleks aku langsung mengusap rambut hitamnya yang lurus panjang. Ada rasa ikut prihatin dengan keadaannya yang seperti terabai. Kutarik tubuh Mama Mirna ke arah kepalaku. Mama Mirna pun beringsut dengan mengangkat tubuh dan mengikuti tarikan tanganku. Saat wajah kami sudah berhadapan, kutahan wajahnya agar menatap.

0 Komentar