LIHAT, DENGAR DAN RASAKAN
POV April
Kriiiing...
Kriiiing...
Kriiiing...
Terdengar bunyi handphoneku berdering, sekilas kulihat nama "Mrs. Snake" di layar smartphone, selanjutnya kugeser anak panah di layar touchscreen ke arah kanan. Tak ada perbincangan panjang di antara kami dan kebanyakan hanya satu arah pembicaraan dan aku hanya sebagai pihak pendengar. Mrs. Snake atau Tante Linda, aku sering memanggilnya, menjelaskan kepadaku bahwa dia saat ini sedang menjalankan “DL” dan memintaku untuk menggantikan tugas rutinnya menguji ketahanan fisik, dan mental “Calon Peserta Akademi dengan sebutan “MURID” yang bernama Bagas Purnama.
DL itu adalah akronim yang berarti “DINAS LUAR”. Ya, kata DL ini sering kami pakai saat bertugas atau sedang menjalankan misi dengan menyebutnya “DL” tujuannya untuk mengelabui musuh jikalau ada yang mencoba menyadap obrolan kami.
Wanita cantik berumur 35 tahun itu bernama asli Melinda namun di divisi yang menaungi kami, dia lebih terkenal dengan nama Mrs. Snake, dia merupakn satu dari enam orang yang bergelar "master" disini.
Aneh bukan? Menurut kalian “ANEH” mungkin. Tapi bagi mereka yang sama-sama sudah bergelar “master” di divisi ini tahu betul dengan kapasitas atau kemampuan yang dimiliki oleh “Mrs. Snake”.
Mrs. Snake bukan hanya panggilan semata, dia mendapatkan julukan itu secara tidak mudah. Keahliannya dalam hal racun dan mendoktrin orang merupakan salah satu faktor dia menyandang predikat master di sini. Dia mempunyai andil besar dalam hal bergabungnya para murid baru untuk masuk akademi pelatihan. Kami menyebutnya calon-calon peserta akademi dengan sebutan murid, bukan karena apa. Selagi mereka masih menyandang predikat “murid”, belum bisa dipastikan mereka akan diterima di sini! Karena banyak serangkaian tahapan yang harus dilalui oleh seorang murid, di mana setiap tahapan para master lah yang akan memutuskan layak atau tidaknya MURID itu naik kelas untuk mengikuti tahapan selanjutnya.
Setiap MASTER akan memberikan ilmunya dan serangkaian test uji kelayakan, dan untuk bergabung di divisi kami bukan lah perkara yang mudah karena divisi kami ini bernaung langsung di bawah Departemen Keamanan Negara.
Baiklah, di sini akan aku beri sedikit gambaran mengenai para master yang berada di divisi kami!
Wali Kelas 1
Profile dan biodatanya adalah sebagai berikut:
Gelarnya adalah : Master “si kutu”.
Nama lengkapnya : Regina.
Nama panggilannya : Rera.
Dia berusia 22 tahun atau lebih tua satu tahun dari usiaku.
Ciri khasnya memakai kacamata minus sangat tebal dengan poni rambut yang menutupi keningnya. Kegemarannya membaca, sehingga membuat pengetahuannya sangatlah luas dan dari situlah predikat master didapatnya. Dari semua master yang ada, “si kutu” ini merupakan master paling lemah dalam hal ketahanan fisik.
Tugasnya :
Menilai kemampuan akademis dan intelektual seorang murid untuk layak lanjut ke tahapan ke-2 dan tak cuma itu saja, dia juga bertugas untuk membekali “murid” dalam hal; berperilaku, bersikap, dan berbicara dengan banyak orang dengan latar yang berbeda-beda. Selain itu, dia juga bertugas untuk melatih “murid” untuk bisa berpenampilan sesuai dengan misi yang dijalankannya nanti. Tugas hariannya adalah “pembaca sandi dan ahli bahasa di divisi kami”, hampir semua bahasa di planet ini dia kuasai.
Wali Kelas 2
Gelarnya adalah : Master “Mr. Monkey”.
Bernama lengkap : Joko Santoso, dan memiliki nama panggilan : Om Jack.
Dan jangan pernah pernah coba-coba memanggilnya dengan nama “Joko”, kalau tidak ingin terjadi hal buruk yang akan menimpa kalian.
Ciri khasnya nggak ada yang spesial dari penampilannya hanya saja wajahnya bener-bener seram ditambah dengan postur tubuh yang tinggi dan otot-otot yang sangat besar mirip binaragawan membuat setiap orang yang bertemu tak berani menatapnya. Namun di balik wajahnya yang horor atau menyeramkan itu, sebenarnya dia orangnya sangat baik dan ramah.
Tugasnya :
Dia bertugas melatih murid baru untuk urusan fisik, dan daya tahan tubuh. Namun justru banyak “murid” yang gagal di tahapan ke-2 ini karena model latihannya yang memang sangat keras sekali. Selain tugas di atas, Om Jack memiliki tugas hariannya sebagai instruktur olahraga dan pelatih fisik di divisi kami.
Wali Kelas3
Gelarnya adalah : Master “phoenix”.
Dan “Phoenix” itulah julukanku. Menjadi master termuda di divisi kami. Aku bisa berada di sini karena kelebihanku di bidang; kecepatan dan lihai dalam berkelit, bersembunyi atau pun mengelabui musuh dam juga mahir dalam berkendara. Karena aku salah satu ahli “ninjutsu”.
Tugasnya:
Aku di sini mendapat tugas untuk meningkatan “kecepatan” dari para murid karena dalam pekerjaan sebagai seorang “AGEN”, kecepatan dan kelihaian sangat dibutuhkan. Kecepatan dan kelihaian berperan sangat penting untuk pertarungan, menghilangkan jejak dan masih banyak yang lainnya. Di sini aku juga dibebani untuk mengajari murid lihai untuk munggunakan kendaraan, baik itu; kendaraan berat, super car,mobil ataupun motor. Dan tugasku yang lain serabutan kayak semacam humas, hehehe.
Wali Kelas 4
Gelarnya adalah : Master “Mrs. Snake”.
Nama aslinya : Melinda atau biasa disapa dengan sebutan Tante Linda.
Tugasnya :
Mengajari murid berkaitan dengan racun atau pun obat-abatan yang digunakan sebagai perlengkapan menjalankan sebuah misi. Selain itu dia juga memiliki tugas harian sebagai ujung tombak pertama penerimaan calon murid dengan cara menguji mental-mental para murid. Namun karena banyaknya misi dan keterbatasan orang lapangan ,maka “Mrs. Snake”sering mendapat tugas di lapangan. Kelihaiannya dalam menyamar dan memerankan peranan serta didukung oleh kecantikan wajahnya menjadikannya salah satu orang lapangan yang sangat disegani di divisi kami. Namun, kekurangannya hanya satu, genit banget kalo lihat brondong cakep.
Wali Kelas 5
Gelarnya adalah : Master “si Elang”.
Nama aslinya : Febrian.
Namun aku lebih sering memanggilnya : Rian atau Kak Rian. Berumur 30 tahun.
Tugasnya :
Di sini dia berperan sangat penting, dalam usia 30 tahun dia sudah menguasai hampir semua ilmu seni beladiri. Dan lebih hebatnya lagi, dia sendirilah yang menciptakan aliran ilmu beladiri yang ia beri nama “beladiri kamuflase”. Setiap murid akan dilatih dan dibekali ilmu beladiri kamuflase olehnya.
Beladiri kamuflase berisikan materi rangkuman dari hampir semua seni beladiri yang ada, dan yang nggak habis di situ saja beladiri kamuflase juga merangkum semua teknik-teknik baru untuk dipergunakan melumpuhkan lawan yang menggunakan aliran seni beladiri lain karena menurut Kak Rian semua ilmu beladiri itu pasti punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.
Wali Kelas 6
Gelarnya adalah : Master “Om Belut”.
Nama aslinya, hehehe... aku nggak tau, karena dia “master paling misterius” di departemen kami. Kami sering memanggilnya “Om Belut”. Julukannya itu sangatlah tepat, karena ia benar-benar licin seperti seekor belut. Beliau selalu memakai pakaian yang sedikit norak dan kacamata berframe biru adalah ciri khasnya. Dia sangat ahli dalam bidang strategi dan senjata.
Tugasnya:
Mendidik murid supaya lihai menggunakan bermacam-macam senjata dan memaksimalkan kelebihan yang dimiliki senjata tersebut. Dia juga berperan penting mengajari para murid untuk menjadi ahli dalam hal strategi dan juga yang akan memberikan predikat “lulus atau tidaknya” seorang murid. Tugas sehari-harinya aku kurang tau karena jarang sekali aku melihatnya berada di kantor. Dia master paling berpengaruh di sini, namun tongkat kepemimpinan seakaan berada di tangannya. Big bos sebagai kepala tertinggi di departemen ini saja selalu meminta pendapatnya untuk memutuskan sesuatu.
.
Dan terakhir adalah BIG BOSS
Tak ada yang pernah tau seperti apa wajahnya “Big Boss. Mungkin hanya Om Belut yang pernah bertatap muka langsung dengannya karena terlihat dari “Big Boss” sangat dekat dengannya. Dan dia malah lebih misterius dari Om Belut.
Setiap memimpin rapat, Big Boss selalu membelakangi kami, tidak habis di situ saja, dia juga menutup mukanya dengan memakai sebuah topeng saat berbicara dengan kami. Aku yang baru menjabat sebagai master dua tahun ini, baru bertemu dengan Big Boss dalam rapat hanya sekali saja. Dan hanya pas masalah-masalah genting “Big Boss” barulah turun tangan.
Kabarnya, Big Boss dulunya sama seperti kami, dia juga salah satu murid dalam akademi. Namun bedanya, hanya dia saja yang pernah meraih nilai A dari tahapan 1 sampe lulus, berbeda dengan kami yang hanya ahli di salah satu tahapan. Dan kami sebagai “master memiliki hak istimewa” yaitu, memberikan nilai kepada murid.
Nilainya adalah sebuah abjad dari huruf A sampe dengan huruf D.
Nilai A : murid menguasai tahapan 95-100%.
Nilai B : murid menguasai tahapan 85-94%.
Nilai C : murid menguasai tahapan 75-84%.
Nilai D : murid dinyatakan gagal atau menguasai dibawah 75% dari tahapan.
Untuk setiap tahap akan dilalui murid selama sebulan penuh, dan yang bertanggung jawab ialah para master pada setiap tahapan kelas, yaitu kami sebagai wali kelas mereka.
Kartu emas bertuliskan “IN” seperti yang Bagas dapatkan adalah pemberian dari kami para master. Masing-masing dari kami diberikan hak untuk memilih bibit-bibit calon murid yang mempunyai talenta lebih. Membuat seorang master memberikan kartu emas yang dimiliknya kepada calon murid bukanlah perihal yang gampang. Kami sangat berhati-hati memberikannya ke seseorang karena perlu pengamatan lama dari kami sehingga yakin orang tersebut layak menjadi calon bagian dari kami. Dan Selama 2 tahun di sini aku belum pernah ngasih kartu emasku ke siapa pun karena aku lebih memilih main aman, hehehe...
Selama 2 tahun itu pula, baru tiga kali aku melatih calon murid dan ketiga-ketiganya itu semua yang dibawa oleh Tante Linda. Dan dari ketiganya semua berhasil walaupun ada satu di antaranya hampir mendapatkan kartu merah di tahapan terakhir. Aku tahu karena Om Belut memang sangat selektif dalam memberikan nilai.
Usut punya usut, dia terkenal paling banyak memberikan kartu merah hampir sekitar 90% MURID gagal berada di tahapan akhir. Ngomongin Om Belut, dia orang terlama menjabat sebagai master. Sudah sekitar 25 tahun, ia menjabat sebagai seorang master. Walaupun paling senior, kabarnya dia belum pernah memberikan kesempatan sama sekali kepada siapapun, selama 25 tahin kartu emasnya belum pernah keluar. Pernah ada yang cerita dia pernah mau dipromosikan ke pusat menjadi penasehat langsung mentri pertahanan namun ia menolaknya. Misterius bener tuh orang!!!
Kembali ke persoalan “kartu emas”, gelar master yang kami sandang sebagai jaminannya. Karena jika sampai calon murid yang kami pilih mengecewakan dalam masa pelatihan, sang pemberi juga mendapatkan imbasnya. Gak ada tebang pilih karena ini tertulis dalam aturan. Gelar master kami akan dicabut dan digantikan oleh agen-agen lapangan yang mempunyai keahlian sama seperti kami.
Sampai saat ini, aku sendiri belum tau, siapa yang ngasih kartu emas ke Bagas. Dan satu yang paling penting untuk diketahui calon murid. Mereka harus melalui dan menyelesaikan semua tahap minimal dengan nilai C untuk keluar secara hidup-hidup. Jika ada satu saja master yang memberikan nilai D ke murid itu, artinya murid itu mendapatkan kartu merah, bisa dipastikan pula murid itu akan keluar dalam keadaan tewas. Iya, tewas. Karena dalam divisi kami banyak terdapat rahasia dan info penting yang tidak boleh sampe bocor ke dunia luar. Jadi kesimpulannya, jika sampai murid tersebut gagal bertahan maka dia akan berhadapan dengan “sang algojo” untuk menerima kematiannya.
Murid harus mendapatkan kartu hijau dalam setiap tahapan karena “kartu hijau” adalah kunci untuk melanjutkan ke kelas berikutnya. Berarti “MURID” harus bisa mengumpulkan 5 (lima) kartu hijau sampai lulus ujian di kelas 6 dan mendapat kartu emas berlogo “OUT” dari Om Belut.
“Eit, aku kok malah ngelantur sampai ke mana-mana ya?” gumamku membatin.
Kembali lagi ke permintaan, Tante Linda ditelpon tadi. Dia memintaku untuk memastikan satu calon anak didik layak masuk akademi kami. Dan tak lama kemudian ada sebuah notif tanda email masuk berisikan biodata calon murid kami.
"Ganteng juga." Menurut penilaianku setelah melihat sekilas foto yang terlampir di email yang dikirimkan oleh Tante Linda barusan.
Sebenarnya aku paling males ngurusin test mental seperti ini. Aku kembali membaca buku novel kesukaanku, Sambil duduk nyantai di lapaknya Om Heri. Om Heri di sini menyamar sebagai penjual jam tangan bekas. Tugas aslinya sebetulnya sebagai penjaga pintu utama menuju kantor, tapi kebetulan saat ini dia sedang keluar mencari makan siang.
Aku sempat dikejutkan dengan kehadiran cowok ganteng namun terlihat culun dari caranya berpakaian.
Pakai baju saja dimasukin segalam serta dandanan rambut mandarin yang agak panjang. Sama sekali aku enggak menggubris kehadirannya, tetap saja fokusku masih ke buku novel, hahaha... Namun secara tak sengaja anak itu memperlihatkan kartu emas berlogo 'IN', dan hal itulah baru menarik perhatianku.
"Mungkin cowok ini yang dimaksud oleh tante linda?" Pikirku. Aku lalu membuka foto dan melihat lagi foto yang tadi Tante Linda kirim via email, merasa cocok akhirnya aku sedikit membuka obrolan. Setelah beberapa obrolan yang kujawab dengan acuh.
Tiba-tiba...
Cowok itu dengan pedenya mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri.
Jujur semua cowok, kalau tahu siapa aku yang sebenarnya, pastinya akan berfikir 100 kali untuk berkenalan atau pun dekat denganku.
“Lah, ini cowok culun malah ngajakin kenalan? Hahaha...” tawaku geli dalam hati.
Jujur aku memang orangnya sangat menutup diri buat yang dinamakan “cinta”, selain karena pekerjaanku yang mengharuskanku fokus, juga sejak dari kecil aku terkenal galak dan menakutkan. Berbekal ilmu beladiri ninjutsu yang diturunkan ayahku.
Pernah sewaktu SMA, aku berjalan sendiri melewati sebuah lorong yang merupakan jalan pintas menuju rumah. Kala itu, aku sempat digodain oleh 3 (tiga) orang berandalan anak STM sebelah. Dan salah satu dari mereka mau coba-coba meremas payudaraku, namun belum juga kesampaian. Dalam hitungan 5 (lima) detik mereka bertiga sudah tumbang, dan masing-masing mereka menerima satu pukulan cepat hadiah dariku.
Kabar itu pun langsung menyebar luas, akhirnya berefek padaku. Sejak kejadian itu tak ada cowok yang berani-berani godain atau mendekatiku. Tapi, jangan dikira aku “abnormal” atau bener-bener lugu soal seks, aku masih cewek tulen yang punya nafsu juga. Malah terbilang napsuku gede. Bahkan aku gampang banget terpancing nafsu, hal itu salah satu bukti. Karena rasa penasaran aku pernah menonton bokep walau sebentar doang, namun sudah bikin aku horny habis dan berakhir dengan mastrubasi.
"Normal nggak, ya?" tanyaku membatin. Tapi hanya sebatas nonton bokep dan diterusin mastrubasi yang aku lakuin tidak lebih dari itu. Pada saat aku horny, memang benar ada rasa ingin berbuat lebih jauh karena mungkin aku penasaran, rasa ingin tahu yang besar soal seks.
“Jujur sih, pengen nyobain seks sebenarnya! Tapi mau nyoba sama siapa? Boro-boro punya pacar, dari lahir sampai sekarang, aku masih jomblo. Duh Tuhan! Kapan Engkau kirimkan seorang pangeran buat April. Kalo bisa yang ganteng dan badannya kekar ya Tuhan! Culun juga nggak apa-apa. Duh! Kenapa doaku ada kata-kata “culun” ya?” Aku membatin kala itu.
Aku masih saja cuekin dia, ingin rasanya aku ketawa ketika melihat ekspresi mukanya yang lucu itu.
“Kayaknya dia bener-bener grogi deh! Duh, kenapa malah aku mikirin nih orang ya?” kataku membatin.
Dan saat mendebarkan itu akhirnya datang juga, ketika aku harus berdua bersama bagas di ruangan privat room. Walau ini juga berkaitan soal prosedur tugas yang harus aku lakukan.
Aku pun segera masuk ke dalam ruko, tempat kerja Om Fadil. Oiya, perkenalkan dulu namanya Om Fadil. Dia adalah seorang desainer di divisi kami. Hampir semua desain pakaian yang digunakan semua anggota divisi, dia sendiri yang menjahitnya.
Dan khusus buat calon murid, awal masuk ia harus mengenakan jas karena ‘ntar ada sessi foto untuk pembuatan arsip diri, dan kartu anggota serta claim asuransinya. Kenapa kok ada claim asuransi? Jawabannya karena tingkat resiko selama menjadi Murid di akademi ini sangatlah besar sekali. Mungkin lain waktu akan aku jelaskan kembali mengenai masalah ini.
Aku segera menghampiri Om Fadil, tak ada obrolan antara kami. Aku hanya menunjukan kartu nama emas berlogo “IN” kepada Om Fadil yang seketika langsung paham apa yang harus ia kerjakan. Dan aku juga paham apa tugasku selanjutnya. Aku lalu melanjutkan melangkah menuju ke ruang private room. Di dalam ruangan inilah, tempat kami menguji mental dan talenta-talenta calon murid didik kami.
Bagas mengekor di belakangku.
"Duh, kok aku jadi deg-deg'an gini ya?" gerutuku dalam hati. Terbayang akan tugasku nanti membuat bulu kudukku merinding.
Sampai di depan pintu bertuliskan privat room, aku berhenti. Kubuka pintunya, kupersilahkan Bagas masuk terlebih dahulu.
"Maaf, Gas..!” Aku membatin. Dengan gerakan sangat cepat, sebuah obat bius berbentuk jarum kecil kutancapkan di tengkuk Bagas.
Tak sampai 3 (tiga) detik, efek dari obat bius itu pun bekerja. Melumpuhkan secara sementara kerja saraf di seluruh tubuh Bagas, memaksa kesadarannya hilang untuk beberapa jam ke depan. Sebelum Bagas jatuh karena hilang kesadaran, aku sudah menangkap tubuhnya.
“Sekali lagi, maaf ya, Gas! Duh, kok aku berasa feminim gini, sih?” ujar batinku, sejenak aku puas-puasin lihat wajahnya. "Mumpung orangnya pingsan, hehehe...”
Mukanya benar-benar ganteng ternyata, ditunjang tinggi badan dan berat badannya yang ideal, nyaris sempurna. Dipoles sedikit jadi “barang mahal” bisa di makelarin ke tante-tante genit nih.
“April bisa puas, ngelihatin kamu, Gas. Hihihi...” Suaraku lirih. Nggak apa-apa suara keras pun si Bagas nggak mungkin denger ‘kan dia udah dibius pingsan!” Terkembang senyuman di bibirku. “Duh, malah jadi nggak bisa fokus gini sih!”
Jantungku terasa berdetak dengan kencang.
“Kenapa juga, aku mikirin dia ya? Ketemunya aja baru?” Kembali aku mengumam.
Aku putuskan kembali ke tugasku. Tugas pertamaku adalah bikin Bagas telanjang bulat.
Eit, kalian reader nggak boleh mikir yang enggak-enggak ya! Ini sebenarnya tugasnya Tante Linda, hanya saja kali ini aku yang gantiin Beliau.
Mulailah aku melakukannya.
Pertama; aku membuka bajunya, kancing bajunya aku buka satu persatu. Kemudian melepaskannya dari tubuh Bagas.
"Si culun ini badannya kekar, ternyata." Seruku bergumam sampai-sampai aku menelan ludahku sendiri, lalu mulai meraba pelan dadanya yang bidang itu. “Nih anak baru lulus SMA, tapi badannya bagus bener sih...!” Sambil tanganku berpindah ke perut sixpack-nya.
Secara refleks, tanpa bisa aku kendalikan celana dalamku yang sudah basah kuyup.
"Duh pril...! Kamu kenapa sih?" Gumamku kembali dalam hati. “Lihat si culun pingsan, telanjang dada saja, aku sudah horny gini!”
Hampir 10 menit, aku masih menikmati. Mengelus-ngelus dada dan perutnya yang sixpack. Kemudian pandanganku, menuju kakinya.
“Mau nggak mau, aku harus nelanjangin dia.”
Aku lanjutin tugasku selanjutnya.
Kedua; aku mulai dari melepas sepatunya Bagas.
“Duh, sekarang malah aku membayangin bahwa kelak aku akan jadi seorang istri, terus menyiapin sepatu, pada saat suami mau berangkat kerja.”
“Huuffhh...!” Aku membuang napas. “Hari ini, kok gini banget sih...?” Gumamku kembali.
April lanjutin kembali tugas selanjutnya yaitu membuka gesper-nya Bagas.
Ketiga; tanganku sudah berada di depan celananya, namun entah kenapa tanganku bergetar hebat?
"Kok tanganku bergetar gini ya, Gas?" Gumamku. Pertanyaan konyol yang tidak seharusnya aku ucapkan ke orang yang pingsan.
Walaupun tanganku terasa bergetar hebat, tetap saja aku berusaha melepas gespernya dan akhirnya berhasil juga. Gesper Bagas terlepas. Pandangan mataku kini tertuju ke pengait celana jeans yang digunakan Bagas.
Dengan kedua tangan, aku mulai membukanya perlahan. Kemudian dengan sangat pelan restleting-nya kuturunkan. Sekarang bukan cuma tanganku yang bergetar saja, semua bulu kudukku pun ikutan berdiri. Jantungku berasa berdetak lebih kencang.
“Ya Tuhan, apa yang sedang april rasakan ini!? Benar-benar baru kali ini aku se-grogi ini!”
Sedikit kesusahan, aku menarik ke bawah celana jeans yang Bagas kenakan hingga celana jeans itu lepas dari kakinya.
Terlihatlah celana boxer berwarna hitam pakaian terakhir yang masih menempel di tubuhnya tanpa celana dalam.
Keempat; Sedikit ragu-ragu, tanganku mulai menurunkan celana boxer Bagas.Dan setelah celana itu sudah melorot ke bawah.
"Astaga...?!" Aku menjerit histeris dan seketika melepaskan pegangan di celana boxer Bagas. Kedua tanganku bergerak secara reflek menutup mulut, takut kedengaran orang lain.
“Oups.. Privat Room ‘kan ruangan kedap suara!” Gumamku membatin.
Walau celana boxer-nya baru turun sebagian, tapi aku bisa melihat dengan jelas kemaluan Bagas benar-benar besar dan panjang. Aku sering nonton bokep indo koleksi milik Tante Linda tapi punya Bagas lebih panjang dan besar menurutku. Tak terlihat bulu kemaluannya, menunjukan Bagas sangat rajin mencukurnya.
“Dalam keadaan tidur aja, panjangnya sekitar 15 centimeter dengan diameter sekitar 3 centimeter, gimana kalo bangun, ya?” aku bergumam sambil membayangkan kemaluan bagas “Ini pengalaman pertama, aku melihat penis secara langsung. Kini malah dapetnya yang gede dan panjang gini, beruntung banget kamu, Pril!”
Pemandangan di depan, benar-benar membuatku takjub. Refleks bibir bawahku kugigit pelan.
Memekku terasa benar-benar lembab dan basah, karena kurasakan di celana dalamku sudah basah kuyub oleh lendir yang keluar dengan sangat banyak sekali.
"Pril, dia cuma anak culun yang masij bau kencur!" Bisikan nalarku seperti sedang mengingatkanku. Namun di sisi lainnya nafsu setanku benar-benar tak terkendali. Aku benar-benar sudah hilang kendali.
Mukaku kudekatkan ke kemaluan Bagas, keinginanku untuk; menyentuh, mencium, dan meraba mainan baru di depan begitu besar. Tanpa dapat kutahan, kucium kemaluan Bagas. Hangat dan terasa lembut sekali permukaan kulit kelamin-nya. Aku mempraktekan beberapa gerakan yang aku dapatin dari pengalamanku menonton film bokep.
“Aaaaaaaah! Nggak ada salahnya, aku menuruti nafsuku! Lagian pula nggak ada yang bakalan tahu! Di sini ‘kan cuma ada aku dan Bagas yang kini dalam kondisi pingsan. Hihihi...!”
Puting payudaraku nampak mengeras, dan tanpa sadar tanganku meremas payudaraku sendiri.
“Aaaaiiiish...!” sambil terus kulakukan jilatan ke kemaluan bagas, nafsuku benar-benar terbakar dari remasan di payudara tanganku terus turun ke arah celana yang aku kenakan. Tanganku dengan cepat melepas kaitan celana, dan tak sampai di situ saja dengan tergesa-gesa dan diliputi oleh nafsu kuturunkan celanaku beserta celana dalamku secara bersamaan.
Terlihat celana dalamku basah kuyup. Memekku lembab banget, aku maenin memeku sendiri mulai dari mengusap bibir memekku perlahan lalu lama kelamaan menjadi cepat, tanganku berpindah tanpa bisa berhenti mengusap-usap klistorilku sendiri.
Terasa klistorisku membesar. “Gatel. Iya, gatel banget, Gas!” Aku meracau.
Dari gerakan usap, kini kugaruk-garuk sedikit dan kutekan ke dalam dengan menggunakan jari tengah. Memekku yang semakin lama semakin gatel benar-benar dibanjiri oleh lendir, lantai di sekitarku sampe basah. Lendir dari memekku meluber ke mana-mana.
Aku diliputi perasaan pengen pipiiiis. “Aaiisshh...enak banget, Gaaas....! Memek April benar-benar gatel, Gaaas! April benar-benar binal ya, Gaaas...!? Suka kamu, Gaaas....?”
Aku meracau bicara sendiri. “Sebentar-sebentar lagi!” Tubuhku terlonjak.
Jilatanku berganti dengan hisapan-hisapan di kepala penis Bagas. Aku mencoba memberanikan diri mengulumnya.
“Gaaas, kamu mesti tanggung jawab sudah bikin April jadi binal gini! Gaaaas, memekku pengen di entot...!”
Tiba-tiba...
Kemaluan Bagas perlahan berdiri dan menjadi sangat mengeras. Kejadian itu benar-benar bikin aku kaget dan reflek aku melepaskan kulumanku. Nafsu yang dari tadi menggebu-gebu, hilang seketika digantikan oleh rasa malu.
Mukaku memerah. Aku takut Bagas kebangun. Dengan menahan kekecewaan mendalam, aku urungkan ngelanjutin mastrubasi barusan.
Nafsuku hilang seketika, ketika penis Bagas ereksi secara tiba-tiba.
Aku langsung memungut celana panjang sekaligus celana dalamku lalu setelah itu segera kupakai lagi. “Sebel! Menyebalkan kamu, Gas!”
Sejenak aku melihat jam di handphone masih masih jam 3 sore. Sedikit heran, harusnya masih ada waktu dua jam lagi sebelum Bagas sadar.
“Tapi kenapa dalam pengaruh bius total, penis Bagas bisa eraksi, ya? Ah, masa bodoh! Timbang ketauan Bagas atau nanti Om Fadil curiga, nanti aja aku tuntasin hasratku dengan mastrubasi di rumah.” Pikirku.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar