ADAPTASI PART 6

 

ULAR BETINA​

Kadang yang terlihat buruk ternyata berhati mulia.

Dan sebaliknya yang terlihat indah namun nyatanya sangat berbisa.

POV 3rd

Di sebuah cafe berada di sudut pinggiran kota.

Nampak terduduk sendirian seorang lelaki dengan kisaran usia 30 tahun berpenampilan layaknya seorang executive muda. Dia memakai baju lengan panjang dipadu celana panjang denim, ditangannya melingkar jam tangan merk rolex membuat penampilannya terlihat fasionable.

Dia sedang duduk santai seorang diri mungkin menanti pelayan datang karena nampak meja di depannya masih kosong. Hanya terdapat sebuah asbak dan tas ransel miliknya di atas meja tersebut. Benar saja sesaat kemudian terlihat dia sedang berbicara dengan gadis pelayan café. Lalu dia memesan secangkir coffee late dan seporsi kentang goreng untuk menemani waktu santainya sembari menikmati sajian lantunan music jazz yang menjadi suguhan di cafe tersebut. Tergambar dengan jelas kebahagiaan di raut wajahnya.

Beberapa jam yg lalu.

Hal yang membuatnya sangat bahagia adalah sebuah notife sms banking di handphonenya menunjukan saldo yang bertambah cukup fantastik. Tepat berada disamping mejanya, terlihat sepasang pria dan wanita berkisar berusia separuh baya duduk membelakangi lelaki tadi.

Sang pria paruh baya berpenampilan santai menggunakan celana pendek warna putih dipadu dengan baju pantai warna merah bermotif bunga tak lupa kacamata berwarna biru menempel menutup mata tajamnya, posisi duduknya menghadap lurus ke meja panjang tempat barista kopi meracik minuman sang. Tampak berbeda jauh dengan penampilan teman wanitanya yang berada didepannya, walau umurnya tak lagi muda, dia terlihat masih sangat cantik. Memakai setelan blus hitam dan rok pendek hitam memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus, di padu dengan perhiasan glamour bak wanita sosialita, tampak juga kacamata berwarna hitam menempel menutup matanya.

Mereka berdua terlihat santai menikmati obrolan-obrolan ringan. Tiba-tiba sang pria paruh baya mengangguk kemudian menatap tajam ke arah wanita cantik dihadapannya. Seperti paham akan kode yang di berikan sang pria sesaat kemudian sang wanita menyulut rokok yang terselip dijarinya lalu berdiri dari kursi, dia kemudian berjalan ke arah barista berada. Bersamaan dengan itu dari arah sebaliknya seorang gadis pelayan berjalan kearahnya membawa nampan berisikan secangkir kopi dan kentang goreng. Jarak antar meja yg terlalu dekat memaksa keduanya untuk sedikit bergeser menyamping saat berpapasan.

Sekilas tak ada yang aneh namun dalam gerakan lambat, keadaan itu dimanfaatkan dengan gerakan tangan yang sangat cepat dilakukan wanita cantik tersebut, terlihat dalam gerakan lambat abu rokok yang terselip dijarinya diketukkan ke dalam cangkir kopi yang berada di dalam nampan yang dibawa pelayan tersebut.

Seperti tak melakukan sesuatu dengan tenang sang wanita cantik lalu berbelok ke arah kasir meminta bill untuk mejanya. Lalu dia nampak pergi keluar cafe meninggalkan teman satu mejanya yang tak lain sang pria paruh baya.

Jam menunjukan pukul 11 malem, tepat sudah 1 jam lamanya lelaki berpenampilan khas layaknya executive muda itu duduk santai menikmati alunan live musik bergenre jazz. Terlihat dimejanya cangkir coffee latenya sudah kosong pertanda dia teguk habis. Tak lama kemudian dia merapikan bawaannya kemudian berdiri lalu berjalan menuju kasir. Setelah membayar bill atas mejanya lelaki itu keluar dari cafe dan berjalan sedikit gontai menuju area parkir mobil. Tak disadari olehnya, pria paruh baya berkacamata biru yg sempat duduk membelakanginya mengikutinya dari arah belakang. Belum sempat dia membuka pintu mobil sport merk audy miliknya tiba-tiba tubuh lelaki muda tersebut terlebih dulu jatuh tersungkur. Kemudian tubuhnya mengejang bersamaan dari mulutnya mengeluarkan liur bercampur busa berselang beberapa detik kemudian lelaki tersebut nampak meregangkan nyawanya.

Melihat pemandangan yang tak lazim sang pria paruh baya yang sedari tadi membuntutinya malahan terlihat sangat tenang, dia lalu berjalan mendekati lelaki yang tergeletak tak bernyawa tersebut. Seolah sudah sering menghadapi situasi seperti itu, alih-alih memberi pertolongan. Sang pria menyeringai, lalu tanpa dosa mengambil ransel dari lelaki yang terkapar. Keadaan parkiran yg begitu sepi ditambah penerangannya yang cukup redup memudahkan aksi pria tersebut tanpa diketahui seseorang. Selanjutnya dia berjalan dengan santai menuju ke mobil miliknya. Dan sesaat kemudian terdengar suara dari mesin mobil yang menyala lalu mobil yang dikendarainya bergerak meninggalkan area parkir tersebut.

30 menit berselang area parkir tersebut telah dikerumunin orang, mereka berlomba mendekat untuk melihat dari dekat apa yg sedang terjadi. Disusul beberapa menit kemudian, beberapa mobil polisi nampak mulai berdatangan dan beberapa polisi mulai melakukan menyeterilkan TKP

POV

Bagas

Tubuhku terasa dingin masih dalam keadaan telanjang bulat tadi sempat kucari pakaianku namun hasilnya nihil. Kuabaikan ketelanjangan tubuhku lagian cuman ada aku dan gadis itu disini, toh dia udah puas dari tadi ngelihat ketelanjanganku.

Cuek aja pikirku.




Tiba-tiba gadis itu menyebutkan namanya Aprilia sembari mengulurkan tangannya. Pandangku teralih tertuju ke uluran tangan april. Banyak pertimbangan yang membuatku enggan menjabat tangannya.




Akhirnya kuberanikan diri tetap cuek ta menggubris uluran tangannya, aku beralih pura-pura masih merasakan sakit dengan memegang dadaku.




“Kamu marah??” Sahut april dengan nada tanpa merasa bersalah ataupun berdosa melakukan tindakan seperti tadi ke aku.




Masih ku acuhkan pertanyaannya darinya. "Benar-benar gadis aneh" gumanku membatin.




“Minta maaf kek.” Celutukku sangat pelan berharap dia tak mendengarnya.


“Soal tadi, April cuma menjalankan tugas”


“Ya udah kalo masih ngambek.” Sahutnya lagi, lalu Dia beranjak berjalan menuju pintu.


“Eeeh tunggu..!” Sahutku, lalu mengejar dia sebelum tangannya menggapai gagang pintu.




Reflek kusentuh bahunya.




“Eeeeeiiiiit...!“ Aku tersentak kaget saat tanganku di cengkram erat menggunakan kedua tangannya.


“Guuuuuuuubraaaaaaaaaak...!” Dalam hitungan detik April membungkukakn tubuh, membuat Tubuhku terangkat keatas mengikuti tarikan kuat di tanganku. Selanjutnya tubuhku seakan terbang melompati tubuhnya hingga berakhir terpelanting keras berbenturan dengan pintu.


“Aaaaaaaaaarrrrggghhh...!” Aku mengerang kesakitan, pinggangku yang menjadi tumpuan berbenturan dengan lantai ruangan.


“Ooooups..! reflek ga sengaja.” Sahut april sekali lagi dengan ekpresi tanpa berdosa.


“Dasar gadis menyebalkan...!” Teriakku menahan emosi, sambil memegang pinggangku.


“Lain kali jangan pernah ngagetin April. Tunggu disini, April cuma keluar sebentar.” Jelas April sambil melenggang keluar ruangan. April terlihat ta menggubris teriakanku, dia memilih membuka pintu dan keluar dari ruangan ini.


"Benar-benar cewek sialan...!"Gumanku masih menggerutu.




Ingin aku membalas perlakuannya namun aku menyadari beladiri yang di miliki April sangat hebat. Menimbang hal itu aku urungkan niatan tersebut. Aku yang semasa kecil sempat menekuni beladiri taekondo sama sekali tak bisa membaca kecepatan pukulannya terlebih lagi ke gerakan refleknya. Dengan tubuhnya yang ramping dan tinggi kurang lebih sepundakku, dia mampu mengangkat tubuhku dan tidak habis disitu, dia lalu membanting tubuhku dengan mudah. Tenaganya benar-benar besar menurut pengamatanku. Hal itu yang membuat nyaliku menciut dan membuang jauh niatan bales dendam kepadanya.






Aku memilih terduduk dilantai beristirahat dan mengumpulkan kembali tenagaku yang habis terkuras imbas dari menahan siksaan yaang tadi April berikan. Sesaat kemudian pintu ruangan kembali terbuka, nampak April masuk sambil menenteng dua kantong tas plastik besar.






“Pake ini CEPEEET…! Teriaknya, sambil melemparkan tas plastik besar yang ternyata berisi pakaian ke arahku.


“Mana tas ransel dan pakaianku tadi??” Sahutku Tak menggubris perintahnya, malah balas bertanya.


“PAKE ATAU MAU KUPAKSA MAKE..!” Teriak kencang April, sambil melotot menegaskan kembali perintahnya.




"Benar-benar gadis yang sangat menyebalkan...!" Gumanku membatin, tak mau sesuatu yg buruk menimpaku lagi kuputuskan mengambil tas plastik tersebut lalu membukanya. Di dalamnya terdapat setelan jas berwarna hitam, baju lengan panjang berwarna putih, celana berwarna senanda dengan jas, sebuah ikat pinggang dan terakhir sepatu hitam lengkap dengan kaos kaki pendek berwarna hitam juga.




Satu persatu kupakai semua atribut tersebut, aneh semuanya bisa pas dan sesuai ukuran dari jas,baju,celana dan sepatu.




Merasa janggal kulihat tak ada brand merk disana, nampaknya pakaian yang kukenakan merupakan buatan penjahit bukan dari pabrikan, tapi kenapa benar-benar pas sesuai ukuranku.






“Ga usah bingung, sewaktu pingsan April ngukur badanmu sampe ukuran kakimu.”


“Terus selama pingsan tadi om Fadli yang tadi pagi ketemu di depan langsung bikinin setelan pakaianmu.” Jelas April panjang lebar.


“Makasih Pril.” Sahutku, sedikit lirih.


“Tapi mana ransel dan pakaianku?” Sekali lagi kuberanikan diri menanyakan barang bawaanku.


“Barang-barangmu ga dibutuhinn disana, udah ga usah dipikirin.” Jawab April sedikit ketus.


“Terus hp bagas gimana Pril?” Tanyaku kuatir setelah menyadari Handphone milikku berada di saku celanaku tadi.


“Ooooh… Handphonemu yang jelek trus butut, April masukin wastafel. Hahaha” Celetuknya di iringi tawa.


“Serius dikit pril.” Sahutku dengan expresi muka kubuat sedikit sedih, berharap April sedikit mempunyai rasa belas kasihan.


“Emang muka April keliatan bohong Gas?” Jawabnya dengan nada menyindir sambil mendekatkan mukanya kearahhku.


“Aaaaaarrrggghhh terserah deh…!” Ucapku kesal.


“Ayok waktu kita ga banyak Gas…!” Seru April, langsung menyeret tanganku.


“Kemana Pril?” Jawabku penasaran, tapi menuruti tarikan tangannya.


“Ga usah banyak tanya…! Eit bentar gas...!” Potong April dengan juteknya.


“Tadi suruh cepet, ni malah berhenti...! Mau kamu apa sih..?” Keluhku, saat melihat April malah mengeluarkan tongkat dan jam tangan yang sempat diberikan untukku tadi.


“Ni pake jam tangannya...!” Dengan segera april menarik tangan kiriku dan memasangkan jam tangan tersebut, setelah terpasang rapi terlihat april memencet tombol kecil yang berada di samping jamku.


“Waaataaaaaw...!” Tiba-tiba area tangan dimana jam itu terpasang seperti ditusuki jarum setelah itu tubuhku seperti tersengat listrik. Reflek daya kejutnya membuatku terpelanting, aku mengerang kesakitan sambil bergulung ke kanan dan ke kiri. Hanya 10 detik tiba-tiba jam tangan itu kembali normal.


“Hahahahaaa...!” April tertawa tanpa dosa.




"Sial bener elo gas ketemu gadis gila kayak april" Gumanku membatin. Beberapa saat kemudian kupaksa melepas jam tersebut namun nihil, jam tersebut seperti menempel dikulitku.




“Percuma Gas, jam itu ga mungkin bisa lepas, hiihihi”


“Ikut april sekarang, ntar April jelasin sambil jalan…!” Mau tak mau, saat ini yang dapat kulakukan hanya menuruti perkataan dari gadis super menyebalkan bernama Aprilia tersebut.




Kami akhirnya keluar dari ruangan ini berjalan menuju bagian belakang ruko dimana terdapat sebuah pintu besi bertuliskan EXIT di atasnya.




April membuka pintu itu dan ternyata pintu itu tembus ke lorong dimana berada dinding yang sudah lusuh dan terdapat coretan cat berwarna hijau tua bertuliskan 'IN'.




Sepintas kualihkan pandangan ke sekitar dimana terdapat pintu besi yang cukup besar dan tepat di atasnya terdapat lonceng kecil. April membunyikan lonceng 2 kali, seketika pintu itu terbuka.




Aku benar-benar terperanjat. Expetasiku sangat tinggi, terbayang sebelumnya jika di dalam sini merupakan kantor sebuah Agen Intelijen atau tempat berkumpulnya para Mafia.




Kutepuk jidatku, ternyata semua dugaanku meleset jauh.






La ini kok dalemnya ternyata…...?










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar