ADAPTASI PART 5


SAKIT BERUJUNG NIKMAT​

POV ANIN

Sebuah kota yang berpegang teguh akan adat ketimuran, di mana di dalamnya masyarakat menjunjung tinggi keramahan. Kota yang tak pernah habis budayanya.l

Kota pelajar, kota di mana aku berpijak saat ini. Kemaren aku baru berada di mobil Tante Ana menikmati perjalanan dari Bandara Internasional Adi Sutjipto menuju ke rumahnya. Jalanan yang sedikit lenggang membuat Tante ana melajukan mobilnya sedikit cepat.

Karena tante hanya fokus ke kemudi, aku putuskan untuk membuka HP blackberry-ku sekedar mengabari kedua orang tuaku kalau aku sudah bertemu dengan Tante. Sebenarnya sih, fokusku cuma nge-chek notif SMS. Berharap Bagas mengirim kabarnya via SMS, maklum HP Bagas masih butut nggak ada aplikasi BBM.

Ada sedikit kecewa di hatiku. “Gas, kamu kok nggak ada kabar?”

Kuberanikan diri mengirim SMS ke Bagas berharap mendapat balesan secepatnya.

To : Bagas

From : Anin

“Gas, Anin sudah nyampe.”

Jalanan kembali sedikit ramai saat kami hampir sampai di rumah Tante Ana, mengingat rumah Tante berada persis di tengah kota.

Tante Ana adalah adek kandung ibuku yang paling bungsu, usianya baru 35 tahun, suaminya bernama Hartanto. Mereka berdua, belum dikasih momongan. Karena aktifitas Om Har yang super sibuk dan tanteku hanya ditemani oleh dua pembantu di rumah mereka. Akhirnya aku dipaksa Tante untuk tinggal di rumahnya.

Sebenarnya, aku pengen nge-kost. Hitung-hitung belajar mandiri, terlebih jarak antara rumah Tante dengan kampusku lumayan jauh, sekitar 45 menit jika itu ditempuh dengan kendaraan pribadi.

Sampe di rumah Tante, aku langsung masuk kamar yang sudah dipersiapkan Tante sebelumnya. Bersih-bersih dulu di kamar mandi di dalam kamar yang kutempati ini, terus rebahan deh.

“Nin, makan dulu...!” Teriak Tante dari luar kamar.

“Iya Tan, bentar.” sahutku setengah berteriak. Sambil maenin HP berharap ada SMS dari Bagas.

Eh, nggak kerasa malah aku ketiduran. Dan baru terbangun lima jam kemudian. Namun aku masih belum mau beranjak dari tempat tidur.

Tiba-tiba...

Perasaanku benar-benar nggak enak, aku membuka lagi handphone berharap ada SMS kabar dari bagas

"Tidak biasanya bagas kayak gini, setiap anin SMS, ngga beberapa lama kemudia pasti bagas membalasnya." Gumamku berpikir.. "Gas, kamu baik-baik saja 'kan? Semoga cuma perasaanku saja."

POV BAGAS

Guyuran air menyadarkan pingsanku, rasa dingin merasuk ke seluruh tubuhku, seketika memulihkan kesadaranku perlahan.

Entah berapa lama, aku dalam keadaan hilang kesadaran? Posisiku saat ini, terduduk di kursi tengah yang tadi sempat kulihat sebelum hilang kesadaranku.

Tanganku dijadikan satu terikat sangat kuat ke belakang, kedua Kakiku masing-masing diikatkan erat ke kaki meja. Dan yang paling membuatku terkejut, tak ada sehelai pakaian yang menempel di tubuhku.

Posisiku menghadap dinding, se-isi ruangan kosong. Terlihat hanya ada digital timer menempel di dinding tembok menunjukan angka 10:00. Kujelajahi pandangan memutar, tak ada orang lain di sin

Seketika aku berteriak. “Toloooong...! Tolooooong...! Toloooooong...!”

Berharap ada yang mendengar suara teriakanku. Teriakanku pun menggema di ruangan 6x6 meter ini, aku menerka ruangan ini kedap suara.

Selanjutnya, kucoba menggerakkan badan berusaha melepaskan diri dari ikatan ini. Namun sia-sia, ikatan tali di tangan dan kakiku sangat kencang.




Entah dari mana datangnya? Si gadis berkacamata itu sudah berada tepat di depanku.




Tiba-tiba...




Duuaagghh...




Sebuah pukulan menghantam tenggorokanku, memaksa mataku melotot dan mulutku menganga lebar.




“Aargghh...!” Teriakku merasa kesakitan.




Gerakannya cepat sekali, nyaris tak terlihat. Namun efeknya sangat menyakitkan.




Aku mengambil napas panjang untuk mengurangi rasa sakitku. Namun belum sempat tarikan napasku sempurna.




Buugghh...




Kurasakan kembali pukulan yang tak kalah kencang di ulu hatiku memaksaku untuk mengunci napas. Mataku memerah mengeluarkan air mata. Pukulan kedua ini, benar-benar terasa sangat menyakitkan.




Aku meningkatkan kewaspadaan, mataku menatap tajam ke arah si gadis itu. Terlihat di depanku dengan santainya si gadis berkacamata melepaskan ikatan karet di rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas. Dilanjutkan gerakan kepalanya ke kanan yang membuat rambut panjangnya ikut bergerak mengikuti gerakan kepalanya.




“Sangat cantik, sangat mengoda. Namun perlakuan sebelumnya kepadaku itu “JAHAT” . Omelku dalam hati.




Inginku kembali aku berteriak, berharap ada orang yang akan mendengar dan memberikan pertolongan padaku. Namun rasa sakit yang masih terasa di tenggorokan dan dada, memaksaku masih bernapas hanya menggunakan mulut.




Jarak antara kami hanya sekitar dua meter.




“Fuck...!” Umpatku dalam hati.




Terlihat jelas di depanku, gadis itu mulai melepaskan busana yang ia kenakan. Dimulai dari kaos yang ditarik ke atas secara perlahan, selanjutnya dilemparkannya ke sembarang tempat. Terlihat payudara yang besar, walau masih tertutup BRA hitam. Besaran bra-nya tak mampu menampung besarnya payudaranya.




Aku hanya mampu menelan ludah menyaksikan setiap gerakannya sembari masih merasakan sakit di tenggorokan dan dadaku




“Apa yang bakal dia lakukan selanjutnya?” Pertanyaan itu memenuhi pikiranku.




Bayangan akan mendapatkan siksaan lanjutan, meminimalisir nafsuku melihat tubuhnya. Tapi tak bisa aku pungkiri untuk remaja se-usiaku melihat tubuh wanita setengah telanjang pastinya akan membangkitkan nafsu birahiku tanpa diperintah.




Dan benar saja, ternyata ia tidak berhenti di situ. Gadis berkacamata itu kemudian membuka retsleting celana jeans yang dikenakannya, dengan gerakan sangat pelan dan menggoda ia menurunkannya. Nampak celana jeans itu merosot sedikit demi sedikit hingga mencapai tungkai kakinya, menampilkan kakinya yang mulus dan jenjang.




Di hadapanku kini berdiri sosok gadis yang memiliki; tubuh yang indah, putih, mulus dan tanpa cacat. Di tubuhnya hanya berbalut bra hitam dan celana dalam berwarna senada.




Bagi orang awam dalam persoalan seks sepertiku, pemandangan ini benar-benar membuatku terangsang. Tanpa dikomando, penisku berdiri tegak imbas dari pemandangan yang kulihat.




Rasa sakit di tenggorokan dan dadaku berangsur-angsur hilang terbias oleh besar gairah nafsuku.




Kemudian ia mulai bergerak mendekat, sambil tangannya melepaskan bra dengan gerakan yang sangat erotis. Mataku tak dapat aku kendalikan lagi, seolah bergerak dengan sendirinya mengambil peranannya untuk mengikuti setiap gerakannya.




Belum berhenti sampai di situ saja, kini terlihat kedua tangan lentiknya memegang ujung celana dalam yang ia kenakan dan perlahan ia menurunkan celana dalamnya hingga melewati mata kakinya.




Kini dia benar-benar telanjang bulat, tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh indahnya, hanya kacamata minus yang masih menempel di tubuh semakin menambah daya tarik sensualnya.




Kini payudara indah yang masih terlihat kencang, bergerak mengikuti irama ketika ia berjalan, membuat napasku mulai tidak beraturan menahan birahi yang melanda.




Kemaluannya pun tak kalah menggoda, terlihat sangat indah hanya ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus yang terlihat jarang seplah tak mampu menutupi garis lurus di belahan vaginanya. Menambah kesempurnaan tubuhnya yang sekarang berada tepat di depanku .




Benar-benar bikin haus, secara tak sadar sudah beberapa kali aku menelan ludahku sendiri.




Berbeda dengan busana lain, yang langsung dilemparkannya dan berserakan di lantai. Celana dalammya masih dipegangnya dan kini malah berpindah ke atas. Nampak olehku, ia sedang menggigit ujung celana dalamnya.




Aku benar-benar dikuasai nafsu, menyaksikan setiap gerakan erotisnya. Kembali dia mendekat dan mulai meraba dadaku yang bidang.




Darahku benar-benar berdesir.




Kupejamkan mata, meredam rangsangan yang ia berikan.




Tiba-tiba...




Buugghh....




Pukulan yang sangat keras menghantam perutku. Kembali lagi, rasa sakit menyadarkanku. Memaksaku melolong sembari mulutku menyemburkan air ludahku...




Fuuiiihhh...




Sakit. Sakit sekali, rasanya. Mataku kembali memerah dan air mata kesakitan tidak dapat kutahan. Aku mencoba menahan rasa sakit dengan mengambil napas menggunakan mulut.




Terasa jemarinya menarik rambutku ke belakang memaksa kepalaku mendongak ke atas mengikuti arah tarikannya.




Sesaat dia menyeringai.




Dan....




Dengan gerakan cepat, dia memasukan celana dalamnya ke dalam mulutku lalu sedikit ditekannya hingga celana dalamnya makin masuk ke dalam tenggorokanku.




“Brengsek......!”


“Bajingan.......!”


“Wanita jalang!”




Kata-kata umpatan keluar dari mulutku sebagai bentuk protesku atas kekejamannya, namun kata-kata kasar yang keluar dari mulutku hanya berupa gumaman yang tidak jelas karena suaraku terhalang oleh sumpalan celana dalamnya yang berada di dalam mulutku.




“Hhhmmmppp....!”


“Hhhmmmppp....!”


“Hhhmmmppp....!”




Aku mencoba mengatur napasku kembali dengan menggunakan hidung. Dan mencoba sekali lagi menggerakan tubuhku untuk melepaskan diri dari ikatan di tangan dan kakiku namun ternyata hasilnya sia-sia, tali pengikat ini sungguh sangat erat. Semakin aku berontak, maka akan semakin kuat pula ikatan di tangan dan kakiku, aku akhirnya menyerah karena menyadari batasan tenaga yang kumiliki.




Bertahan, hanya itu yang saat ini terlintas di pikiranku.




Aku berusaha untuk tenang dan bernapas pelan menggunakan hidung, tenagaku hampir habis untuk menahan sakit, menerima pukulan demi pukulannya tadi.




Melihatku sudah mulai tenang, gadis berkacamata itu mulai mendekatiku, kemudian ia menempatkan tubuhnya di atasku. Ya, dia duduk di pangkuanku. Gesekan antara tubuhnya dengan tubuhku memaksa penisku perlahan kembali berdiri.




Dia mulai agresif, mencumbuiku. Dimulai dari bibir bagian bawahku dilumatnya dengan penuh nafsu. Mulutnya kemudian beralih menuju telinga kananku. Terasa hangat lidahnya menyeruak masuk ke dalam daun telingaku.




Desiran-desiran nikmat, bertubi-tubi mulai mendera seluruh tubuhku.Perlahan jilatannya mulai turun menyusuri leherku. Hangat, dan geli itulah yang kurasakan saat ini. Aku tak menyangka sama sekali akan menerima perlakuan seperti ini.




Rasa sakit tadi seakan sirna, berganti dengan rasa nikmat yang tak ada hentinya. Jilatannya malah turun menuju dadaku, putingku dihisapnya dengan pelan.




"Fuck...!" umpatku dalam hati. Ya, baru pertama kali ini aku merasakan rangsangan dari wanita, penisku benar-benar sudah tegang dengan sempurna.




Tangan lentiknya mulai meraba penisku, kurasakan tangannya yang halus bergerak dengan lembut, mengelus-elus penisku. Nafsuku benar-benar sudah tak tertahankan.




Tanganku yang terikat seakan-akan ingin berontak. Rasanya ingin meraba gadis berkacamata itu yang sudah berada di pangkuanku dalam keadaan telanjang bulat. Namun apa daya, tanganku terikat erat.




Sejenak, dia berhenti melanjutkan aksinya, kemudian bangkit membenarkan posisi kacamatanya yang ia kenakan. Mulutnya kembali mendekati telingaku. Sedikit berbisik, dia berbicara. “Timer on."




Seketika terlihat timer berwarna hijau tersebut berjalan mundur memperlihatkan sisa waktu 9:58 atau sembilan menit lima puluh delapan detik. Timer tersebut terus berjalan mundur.




Dan yang membuatku terkejut ketika melihat tangan kanannya menggenggam sebuah pistol. Entah dari mana ia mengambilnya? Kemudian dia meletakan pistol tersebut di antara kakiku. Terbayang olehku, mungkin setelah timer itu habis dia akan membunuhku.




Selanjutnya, kulihat dia kembali berjongkok. Dia mulai menjilati kepala penisku, lidahnya terasa begitu hangat dan basah. Perlahan-lahan jilatannya turun menyapu semua bagian penisku, air liurnya membasahi sekujur penisku.




Berkali-kali aku mendesir, tak bisa kugambarkan rasa nikmatnya saat ini. Nafsuku benar-benar membumbung tinggi. Penisku seakan-akan ingin meledak.




Sesaat, dia kembali menghentikan aksinya.




Aku melihat kembali timer di atas masih tersisa 7 menit 10 detik. Kerlingan matanya menatapku sayu. Kembali dia berdiri lalu ia menempatkan mulutnya di samping telingaku.




"Bertahanlah, tinggal tujuh menit lagi. Jika kamu orgasme sebelum timer itu habis. Aku terpaksa membuat lubang di kepalamu.”




Cuuppp... Sebuah kecupan jatuh di pipiku.




Mencerna ucapannya, menyebabkan keringat dingin mulai membasahi kepalaku. Aku benar-benar paham apa maksud dari kata-kata tadi.




Dia mulai melanjutkan aksinya, terlihat dia kembali berjongkok. Namun kali ini, kedua tangannya menggapai penisku. Sangat pelan, jari-jari lentiknya mulai menggenggam dan mengocok penisku.




Cuuppp...Bibirnya mengecup kepala penisku. Sesaat kemudian terasa jilatan-jilatan hangat di area kepala penisku.




Aku kembali berdesir.




Jilatan demi jilatan, di kepala penisku semakin membuat keringatku mengalir deras. Aku tahu konsekuensi dari kenikmatan ini. Aku berusaha mengalihkan pikiranku. Kucoba dari membayangkan Anin, namun sia-sia, konsentrasiku buyar akan kenikmatan di penisku.




“Fuck....!” Kembali aku mengumpat dalam hati.




Dia semakin menggila kini kedua tangannya dilepas, dengan susah payah ia mencoba memasukan semua bagian penisku kemulut mungilnya. Walau hanya menyeruak masuk 3/4 dari panjang batang penisku. Terasa kepala penisku menyentuh tenggorokannya. Dia memulai aksinya dengan memaju mundurkan kepalanya mengulum 3/4 panjang penisku. Dari mulai ritme pelan, sedang lalu menuju cepat. Dan itu ia ulang berkali-kali.




Darahku benar-benar berdesir, sebentar lagi kurasakan ada yang akan meledak di penisku.




Nyawaku berada di ujung tanduk, terbayang akan ucapannya tadi. Dengan sisa-sisa kesadaran karena hampir semua sarafku tersihir oleh nikmatnya service yang ia berikan dari kuluman mulutnya.




Aku melihat waktu masih tersisa tiga menit lagi.




Aku coba menjulurkan lidahku, walau itu sulit karena berdesakan dengan sumpalan celana dalamnya yang berada di dalam mulutku. Sedikit demi sedikit, kujulurkan hingga lidahku tepat berada di ujung antara gigi atas dan bawah. Dengan konsekuensi celana dalam yang berada di mulutku semakin masuk ke dalam tenggorokanku. Kupejamkan mata dan kugigit kencang lidahku.




Sakit, pasti. Sakit banget, malahan.




Ternyata perjuanganku tak sia-sia, setengah sarafku yangg terhitnotis oleh kenikmatan kulumannya mulai bekerja kembali merespon rasa sakit di ujung lidahku. Di dalam mulutku terasa asin dan anyir, menandakan lidahku mengeluarkan darah.




Sementara di bawah sana, gadis berkacamata itu masih dalam keadaan jongkok dan mulutnya dipenuhi oleh penisku, ia menatap sayu padaku. Kemudian mengerlingkan sebelah matanya.




Merasa penisku sedikit melembek, dia mulai manambah panas permainannya. Dilepasnya kuluman pada penisku, mulutnya kini beralih ke biji testis-ku. Dia mulai dari jilatan-jilatan lalu berakhir dengan hilangnya biji testis-ku dalam kulumannya. Tangannya tak tinggal diam, mengambil andil menggenggam penisku, menaik-turunkan dengan ritme cepat.




“Sial, penisku kembali mengeras.” Gumamku membatin.




Kulihat timer waktu masih tersisa 50 detik lagi.




Aku memejamkan mata pasrah, gelombang nikmat hasil karya mulut dan tangannya benar-benar membuat penisku hampir mencapai puncak orgasme. Tinggal hitungan detik lagi.




Tiba-tiba...




Dia menghentikan gerakan mulut dan tangannya bersamaan.




Sekilas aku memandang ke atas, melihat timer, waktu tersisa tinggal 25 detik lagi.




“Hampir saja.” Gumamku sedikit lega.




Sekarang, dia hanya mencumbui penisku. Sementara timer mulai bergerak mundur dari angka 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Dan timer pun berhenti menunjukan angka 00:00.




Huuff... Lega rasanya. Badanku bermandikan keringat.






“Andai saja kocokannya tidak berhenti, mungkin kepalaku sudah berlubang.” Gumamku dalam hati.


“Terima kasih.” ucapku untuknya namun suaraku tertahan sumbatan di tenggorokanku. Yang terdengar suara tidak jelas. “$$##%@@%%##$$.”




Sang gadis nampak berdiri, kembali dia berbisik di telingaku. "Nikmati bonus dariku."




Kembali dia turun melahap penisku, mulut mungilnya dipaksa menelan penisku sampai mentok. Terlihat air mata gadis itu mengalir dan mukanya memerah saat kepala penisku menyeruak masuk lebih dalam menelan habis batang penisku.




“Mungkin sampai ke tenggorokannya ya?” ucap batinku.




Dengan gerakan cepat, dia memaju-mundurkan kepalanya. Kemudian menahan lebih lama saat penisku menyeruak masuk, mentok hingga tenggorokannya.




Tangannya ikut andil memberikan remasan pelan di kedua biji testis-ku.






“Aah, nikmat sekali. Aaarrrggghhh...! Aaaarrrggghhh...! Aaarrrggghhh...!”






Tak dapat kutahan lebih lama lagi rasa nikmatnya, aku benar-benar mengalami orgasme hebat. Dalam keadaan terikat aku melenguh panjang sambil berusaha memasukan lebih dalam penisku ke dalam tenggorokannya.




Kusemburkan semua spermaku di dalam mulutnya, dengan perlahan dia mulai memundurkan kepalanya.




Terlihat mukanya masih memerah, peluh membasahi keningnya.




Sepintas terlihat di sudut bibir mungilnya mengalir sperma, namun tak banyak. Dengan lidahnya, ia kembali memasukan ke mulutnya. Gerakannya benar-benar binal...




Sejenak dia mengusap kening menggunakan punggung tangannya kemudian mengambil napas panjang. Tak lama dia berdiri memunguti pakaiannya yang berserakan dan menghampiriku. Dilumatnya lagi bibir bawahku.




“Buugghh...”




Sebuah pukulan kembali bersarang di perutku, kurasakan sakit bukan saja di bagian perut tetapi rasa sakit itu juga kurasakan di bagian tenggorokanku, memaksaku untuk membuka mulut seraya melolong kesakitan.




Moment itu ternyata digunakannya untuk memasukan jarinya ke mulutku mengambil celana dalamnya.




Tenggorokanku terasa sakit, namun rahangku terasa ringan mengingat tak ada lagi sumbatan di mulutku yang memaksa rahangku terus menerus terbuka sejak tadi. Hanya sebentar, kualihkan fokus darinya guna mengatur napas meredakan sedikit rasa sakitku.




Tiba-tiba...




Semua pakaian yang berserakan tadi, kini telah menempel kembali di tubuhnya dengan rapi.




Dan yang lebih membuatku tercengang adalah ikatanku sudah melonggar sehingga aku dapat meregangkan otot-otot tangan dan kaki yang sedikit kaku.




“Kamu lolos.” ucap gadis itu. Diikuti mengulurkan tangan kanannya sambil berucap. “APRILIA.”








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar