GADIS BERKACAMATA MINUS
POV 3rd
Lalu lintas terlihat tak pernah sepi, hiruk pikuk pejalan kaki menghiasi sepanjang trotoar.
Kota...
Tempat di mana banyak manusia menghambakan dirinya untuk uang, mereka rela menjual waktu hanya untuk uang.
Di sudut salah satu restoran, yang berdekatan dengan Bandara, terlihat Darmawan Rahardja bersama Ratih Sulastri yang tidak lain adalah istrinya yang sangat cantik. Mereka sedang sibuk membolak-balik daftar menu di sebuah restoran ternama.
Tampak seorang pramusaji membawa secarik kertas dan ballpoint mencatat beberapa pesanan mereka.
Mereka berdua adalah orang tua Anin.
Terlihat obrolan santai, layaknya pasangan suami istri sambil menunggu beberapa makanan yang tadi mereka pesan.
Kondisi di restoran ini memang sedikit ramai, mengingat saat itu adalah jam makan siang. Terlihat meja-meja di restoran itu sudah terisi semua dengan para pengunjung yang ingin makan.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara dentuman yang sangat keras.
Duuaarrr...!
Suara dentuman yang sangat keras itu memaksa semua orang di dalam restoran tersebut berhamburan keluar untuk memastikan asal suara dentuman tersebut.
Tampak Ratih ingin berdiri dan bergabung dengan pengunjung yang lain untuk keluar menyaksikan kejadian apa yang menyebabkan suara dentuman itu, namun tangannya tiba-tiba ditahan oleh suaminya dan dia pun kembali duduk. Mengurungkan niatnya bergabung dengan pengunjung yang lain.
Darmawan hanya menggelengkan kepala kepada istrinya.
Sesaat kemudian darmawa berdering. Tak ada obrolan disana, hanya itungan detik handphone itu kembali ia letakkan. Darmawan kembali melanjutkan obrolan ringan bersama istrinya.
Di tempat lain, di waktu yang sama..
Hanya berjarak sekitar 1500 meter dari Bandara
Di sebuah kamar apartemen tak berpenghuni yang berada di lantai 40 sebuah gedung apartemen. Seorang pria, terlihat tersenyum puas setelah peluru yang ia lesatkan dari senjata kesayangannya “MCmillan TAC-50”. Senjata pembunuh jenis sniper buatan Amerika tepat mengenai sasarannya. Terbayang-bayang olehnya akan banyaknya jumlah rupiah yang akan mengalir masuk ke rekeningnya nanti
POV BAGAS
Sinar sang surya terhalang oleh segumpalan awan putih membuat teduh suasana di siang hari ini walaupun itu hanya sesaat.
Sebelum aku beranjak ke terminal menuju Ibukota, aku menyempatkan diri terlebih dulu menatap sesaat rumah kontrakanku itu. Banyak kenangan di sini! Sudah sepuluh tahun, aku bersama Kakek menempati rumah itu. Ada suka maupun duka di sini!
Aku kembali terkenang dengan sosok Kakek yang sempat tinggal bersamaku sepuluh tahun lamanya.
[[ Kakek, orang yang sangat baik. Entah bagaimana aku menjalani hidup tanpa Kakek? Memang kami berdua tak ada ikatan darah sama sekali. Kami bertemu, di kala malam. Ya, sebuah kejadian naas yang menimpa keluargaku waktu itu. Peristiwa rumahku terbakar hebat.
Kala itu, aku sedang dalam perjalanan pulang sehabis memancing dengan Ayah yang mengendarai motor. Ketika jarak menuju rumah sudah semakin dekat sekitar kurang lebih 300 meter lagi.
Dari kejauhan ayahku melihat kepulan asap hitam tebal yang arahnya berasal dari arah rumah kami. Banyak orang berbondong-bondong menuju arah rumah kami sambil berteriak histeris. “Kebakaran...kebakaran...!”
Tanpa pikir panjang, ayahku menggeber motornya semakin cepat menuju rumah. Saat kami sampai di pelataran, terlihat jelas rumahku sudah setengahnya habis terbakar. Terlihat pemandangan para tetanggaku terbondong-bondong, saling bahu membahu mencoba memadamkan si jago merah. Sebagian dari mereka, menyiram menggunakan ember berisikan air. Dan sebagian lagi, memadamkan api dengan menggunakan selang yang di sambungkan ke kran-kran air yang ada di sekitar rumahku.
Hanya itu, bantuan yang ada mengingat akses jalan di tempatku mobil brandweer (truck DAMKAR) tidak bisa masuk. Teriakan histeris orang-orang masih terdengar jelas.
Di dalam rumah aku melihat ibu sekelebat melalui jendela di lantai 2. Dia berteriak meminta tolong seraya menangis keras.
Ayahku tanpa berkata apa-apa langsung menerobos mendobrak pintu rumah untuk menyelamatkan Ibu.
Namun sang api lah juaranya dibantu oleh hembusan angin. Lalapan si jago merah semakin membesar, membakar habis se-isi rumah. Hingga jasad kedua orang tuaku pun tak diketemukan. Hingga kini pun tak ada pemakaman untuk Ayah dan Ibu.
Hari itu, terakhir kalinya aku melihat kedua orang tuaku. Tak ada firasat apa-apa sebelumnya. Kebakaran hebat itu merenggut nyawa kedua orang tuaku. Sekarang aku hanya mampu mendoakan mereka, semoga kedua orang tuaku tenang di alam sana.
Hanya kalung emas dengan sebuah liontin batu permata berwarna biru milik Ibu yang kutemukan disisa-sisa reruntuhan puing dan abu.
Entah terbuat dari apa kotak merah tempat kalung itu? Saat kutemukan kotak itu utuh tak seperti barang lainnya yang habis terbakar.
Kembali aku ingat pertemuan dengan kakek...
Kala itu, aku (Bagas kecil) hanya bisa menangis. Ingin rasanya aku pun ikut masuk menyusul Ayah ke dalam rumah. Namun tanganku tertahan oleh genggaman erat tangan lelaki tua. Seketika Beliau langsung memelukku.
Dialah yang akhirnya kupanggil Kakek.
Tak ada ikatan saudara di antara kami, tapi Beliau benar-benar menganggapku seperti cucunya sendiri. Beliau tak pernah mengeluh, Beliau tak pernah berbicara kasar, Beliau tak pernah mengumpat, Beliau tak pernah menceritakan kejelekan orang, bahkan Beliau selalu diam. Diamnya Beliau karena “bisu”.
Aku yang selalu menemaninya selama 10 tahun terakhir ini pun terkadang tak bisa mengartikan dari diamnya Beliau. Hanya anggukan kepala dan sorot mata teduh yang selalu menjadi jawaban setiap ada kontak di antara kami.
“Maafin Bagas, Kek! Bagas belum bisa bikin Kakek bangga. Bagas belum sempat membahagiakan Kakek. Semoga Kakek tenang di sana! Aamiiin.” ]]
Setelah memberikan kunci rumah kepada pemiliknya yang kebetulan bermukim tidak jauh dari rumah kontakan, hanya berjarak 100 meter dari kontrakan.
Aku lalu melanjutkan perjalanan menuju terminal bus, tujuanku Ibukota. Dan ini adalah pengalaman pertamaku meninggalkan kota ini. Entah kapan aku kembali? Menginjakan kaki kembali ke sini lagi. Di sini aku memegang sebuah janji.
“Suatu saat Bagas bakalan kembali, Nin. Tunggu Bagas!” ucapku dalam hati dengan tekad dan semangat yang tinggi.
Kemudian aku menaiki bus patas menuju Ibukota. Di dalam bus, aku habiskan untuk terlelap, dan aku terbangun kembali saat bus berhenti di rest area hanya sekedar makan. Rasa lelah memaksaku untuk melanjutkan tidur disisa perjalanan.
Aku tersadar kembali dari tidur setelah guncangan kernet bus di bahuku. “Mas,bangun Mas.” Sembari menggonyangkan bahuku.
“Eh, iya Mas. Terima kasih.” Sahutku ramah.
Ternyata, aku sudah tiba di terminal, disudut ibukota. Segera kuraih tas ranselku yang tersimpan di dashbord di atas tempat dudukku dan langsung turun dari bus.
Sejenak aku berhenti di pelataran terminal lalu kuambul handphone jadulku yang berada di saku celana untuk melihat jam.
"Lowbat" gumamki membatin. Kumasukan kembali handphone ke dalam saku celana setelah mengetahui kondisi HP yang lagi lowbat.
“Ibukota, i’m here ...!” Seruku dalam hati.
Karena hari sudah menjelang malam, kuputuskan untuk menginap di sebuah hotel sederhana yang terletak di sekitar terminal bus. Satu kata, LELAH. Mencerminkan kondisiku saat ini. Kuputuskan saja untuk melanjutkan tidur yang tadi sempat terganggu oleh kondektur bus.
Keesokan harinya...
Setelah mandi dan sarapan di warung yang letaknya tepat di samping hotel, aku segera berangkat mencari alamat yang kutuju.
Tapi ternyata mencari alamat di kota sebesar ini (Ibukota) tidaklah mudah seperti yang kubayangkan. Ibukota sangatlah luas dibandingkan kota asalku, mungkin luasnya melebihi empat kali dari luasnya kota asalku.
Dan sudah tiga kali, aku berganti angkot menuju alamat yang tertera di kartu nama berwarna emas ini. Bertanya ke sana kemari. Beberapa kali aku temui manusia-manusia yang sangat menyebalkan yang menyebabkanku harus menyesal karena telah bertanya kepada mereka.
Tak jarang aku pun mendapatkan jawaban dari orang-orang itu, "sorry, gue tak ada waktu banyak. Maaf, gue sedang sibuk.” Atau pun alasan dan jawaban ambigu lainnya. “Gue bukan asli orang sini.”
Mungkin waktu, bagi mereka sangat berharga. Waktu sepertinya bagi mereka sebagai sarana penghasil rupiah yang tidak bisa diganggu gugat.
Aku tak putus asa sama sekali, kuteruskan saja perjalanan menuju alamat di kartu nama yang kubawa walaupun jelas aku tidak tahu persis di manakah tempat itu berada.
Setelah berjalan beberapa meter, aku melihat ada sebuah taksi terparkir di sana. Langsung saja kuputuskan untuk naik taksi, yang ada dipikiranku saat itu cuma “satu”, Pak sopir taksi pasti akan langsung mengantarku ke alamat yang kutuju.
Berselang 20 menit kemudian, taksi yang kutumpangi telah sampai. Berhenti tepat di sebuah tempat perdagangan barang loak. Aku pun harus merogoh kocekku sedikit mahal untuk membayar ongkos taksi dengan nominal yang tertera di argo mobil taksi itu.
Sekali lagi aku melihat kiri dan kanan, mencari toko arloji yang kumaksud namun hasilnya, “nihil”. Kusempatkan bertanya pada sopir taksi tadi untuk meyakinkan kembali bahwa ini benar alamat yang kutuju. “Pak, betul ini alamat yang ditujukan di kartu nama ini?”
“Benar, Mas. Kebetulan saya asli Jakarta. Tapi untuk toko yang dimaksud, saya kurang tau Dik.” jawab sopir taksi itu.
Mau tidak mau, aku turun dari mobil taksi itu. Setelah berada di luar mobil taksi, aku celingak-celinguk melihat sekitar lokasiku berdiri.
"Sial...! Apa mungkin paman itu bohong?" Pikirku sejenah. “Tapi uang yang diberikan bukan uang palsu dan buku tabungan atas namaku juga udah diakui sah oleh kantor bank yang kusambangi.”
Kutepis argumen, “soal Paman seorang penipu”.
"Punya motif apa, paman mau menipu seorang remaja miskin sepertiku?" Kembali aku menggunakan logikaku dalam berpikir.
Tidak mau ambil pusing, aku terus saja melangkah menelusuri sepanjang jalan ini.
Sepanjang mata memandang, hanya terlihat hamparan pedagang loak yang menjajakan barang dagangannya di bahu jalan. Dan di sepanjang bangunan itu juga hanya berisikan bangunan-bangunan berbentuk ruko lawas, sama mereka juga menjajakan barang-barang loak termasuk juga pakaian dan lain-lain.
Delapan orang sudah kutanyain, aku menanyakan alamat atau toko arloji bernama “IN” namun “nihil hasilnya” mereka sama sekali tidak mengetahui di mana keberadaan toko arloji itu.
Kepalaku tertunduk lesu, semangatku hampir padam. Berhenti sejenak, aku mengambil sebatang rokok dan kemudian kuhisap dalam-dalam.
"Berpikir gas...! Kata hatiku “Jangan menyerah, jangan cengeng dan jangan putus asa! kamu harus semangat, gunakan otak jangan pakai emosimu!”
Akhirnya, kuputuskan berjalan kembali ke arah taksi tadi sewaktu menurunkanku.
Kuhentikan langkah beberapa meter sebelum titik lokasi di mana taksi yang kutumpangi tadi berhenti. Rasa dahaga memaksaku menghampiri pedagang kaki lima yang menjajakan minuman dingin.
“Buk, air mineral satu!” ucapku sambil kuperlihatkan botol air mineral yang kuambil dari kotak pendingin.
“Tujuh ribu, Nak.” sahut Ibu itu memberitahu.
"Sial...! Disini air mineral harganya mahal! Gerutuku membatin. Segera kuserahkan uang pecahan sepuluh ribu rupiah pada Ibu itu
Ibu itu memberi kembalian tiga ribu rupiah berbentuk koin lima ratusan sebanyak enam buah koin.
Karena aku terima kembalian dari Ibu itu dengan asal-asalan, mengakibatkan koin-koin itu jatuh semua.
Terpaksa aku jongkok untuk mengambilnya. Pandangan saat aku jongkok menghadap lurus ke lorong kecil di antara deretan pedagang loak. Terlihat samar tulisan berwarna hijau, bertuliskan 'IN'.
Aku berdiri dan melihat tulisan itu lagi, namun ternyata tulisan itu tak kelihatan. Ternyata terhalang oleh sebuah lapak dagangan arloji bekas. Dan dinding bertulisan 'IN' tadi cuma bisa dilihat dengan posisi jongkok.
Ingin rasanya aku melihat dari dekat dinding bertuliskan “IN” berwarna hijau tersebut. Namun akses menuju lorong itu terhalang dagangan arloji bekas. Dan pedagangnya adalah seorang gadis berkacamata dengan rambut diikat kuda.
Kulihat di sisi kanan lapak gadis itu terdapat bangunan ruko lawas dan di pojok atasnya terdapat sebuah papan nama bertuliskan “TAILOR SUIT”. Kesan tempat jahit itu yang kumuh menyamarkan papan nama yang tertempel di dinding pojok atas bangunan tersebut.
“Sedikit ada titik terang.” pikirku."Apakah mungkin, itu lokasinya?"
Dan satu teka-teki lagi yang belum bisa kupecahkan adalah terdapat gambar tongkat juga di kartu nama ini. Akhirnya, kuputuskan untuk berjalan lima meter ke depan, mendekati gadis berkacamata penjual arloji tersebut.
“Cantik.” gumamki membatin memuji kecantikan si penjual arloji bekas.
Kacamata minus yang ia kenakan menambah daya tariknya. Rambut hitam panjang yang diikat kuda ke belakang menampilkan lehernya yang jenjang putih mulus.
“Mungkin ada darah Cina, gadis ini?” Kembali aku bergumam dalam hati menilai sosok di hadapanku.
Lama mataku memandang leher jenjangnya. Tanpa sadar, aku menelan ludahku sendiri.
"Sial..! Bikin haus aja." Omelku dalam hati. Langsung kutenggak sisa setengah air mineral dalam botol yang kupegang sampai airnya habis.
“Gas, kamu harus fokus! Bukan waktunya, jelalatan!” Pikiranku mengingatkan sambil aku menepuk jidatku sendiri.
Dia terlihat sibuk membaca sebuah buku, dari covernya aku bisa memastikan itu sebuah buku novel berjudul, “PELARIAN CINTA” karya rad.
“Gadis yang aneh.” Gumamku membatin.
Aku semakin mendekat, berpura-pura melihat arloji yang gadis itu jajakan namun dia sama sekali tak merespon kehadiranku.
Kembali aku fokus ke deretan arloji bekas yang berjejer rapi itu, mataku tertuju ke sebuah jam tangan berwarna hitam walaupun kelihatan barang second.
“Keliatannya masih bagus.” Gumamku menilai.
Terdapat tiga petunjuk waktu disana. Petunjuk waktu pertama, menandakan waktu saat ini dan terlihat berbeda dari dua petunjuk waktu yang lain, di mana lingkarannya paling besar. Petunjuk waktu yang kedua, menunjukan dua jam lebih cepat dari waktu saat ini. Dan petunjuk waktu yang ketiga, menunjukan lima jam lebih cepat dari waktu saat ini.
Karena ketertarikanku dengan jam tangan itu. Aku iseng menanyakan berapa harganya. “Mbak, berapa yang ini?” Sambil menunjuk jam tangan itu.
Dia hanya melirikku, tanpa melihat ke jam tangan yang kupegang. Kembali gadis itu fokus ke buku novel yang dipegangnya. “Yang itu nggak dijual.” jawabnya ketus.
“Oh, maaf mbak!” sahutku sedikit kecewa.
“Dasar wanita aneh!” Gerutuku jengkel. “Kalo emang, nggak dijual. Kenapa dijajakan di sini?”
Aku masih berdiam diri di depan dagangan gadis itu. Mataku masih saja fokus ke gadis berkacamata dengan rambut dikucir kuda itu. Seakan mata ini tak lelah melihat pesonanya. Walau tanpa make-up, tapi bener-bener cantik.
Aku fokus ngeliatin dia namun dianya juga fokus. Tetapi Fokusnya gadis itu bukan melihatku melainkan ke sebuah buku novel yang ia baca. Aku hanya bisa menepuk jidat karena kege-eranku sendiri.
Pandanganku, turun ke busana yang gadis itu kenakan. Dia menggunakan kaos putih berbahan katun yang sedikit tipis, terlihat jelas dari jarak pandangku.
“Fuuuuuuck!” Umpatku dalam hati.
Ternyata Bra-nya yang berwarna hitam, benar-benar menerawang.
Aku gugup. Iya, benar-benar gugup dan hanya diam terpaku.
Untuk sedikit menghilangkan kegugupan dan rasa gerah, aku keluarkan lagi kartu nama emas dari saku bajuku.
Secara reflek mengingat Ibukota sangat panas, iseng kugunakan kartu nama itu seperti layaknya kipas. Kuayunkan berulang kali ke arah mukaku. Angin kecil yang dihasilkan, lumayan membuat mukaku adem.
Dan, tiba-tiba...
Gadis itu, memperhatikan gerakanku. Aku sedikit salah tingkah karena merasa diperhatikan olehnya.
Kacamatanya sedikit diturunkan, sorot matanya menjadi tajam. Dia lebih fokus melihat kartu nama yang kupegang. Seketika kuhentikan gerakan mengayunkan kartu nama itu.
Tiba-tiba...
“Ini buatmu!” Gadis berkacamata itu berujar sambil memberikan jam tangan yang tadi kutawar.
“Berapa Mbak, harganya?” tanyaku menawar.
“Gratis.” jawabnya singkat sambil menatap lekat ke kartu nama yang kupegang.
“Yang bener, Mbak?” sahutku girang.
Dia tak menjawab namun masih memperhatikan kartu nama yang kupegang.
“Dan ini, ditukar dengan kartu namamu!” Gadis itu menyodorkan sebuah tongkat kecil panjangnya cuma 30-40 cm. Dengan ragu kuberikan kartu nama emas itu ke gadis berkacamata itu, dan meraih tongkat yang ia berikan.
Saat itu juga, aku sangat yakin gadis ini mempunyai peranan penting dalam tujuanku menemui Paman.
“Perkenalkan, saya Bagas Mbak.” ucapku sambil kusodorkan tangan mengajaknya berkenalan.
Dia hanya memandangku, tanpa menyambut sodoran tanganku.
Tiba-tiba...
Dia berdiri dan melangkah ke arah kanan, menuju tailor suit. “Ikuti aku!” ujarnya tegas sambil mempercepat langkahnya.
Aku mengekor di belakang gadis itu, mengikuti setiap langkah kakinya memasuki ruko lawas dengan papan nama bertuliskan tailor suit di pojok atasnya.
Gadis itu masuk dan berhenti sejenak, membuat bapak-bapak paruh baya yang sedang sibuk menjahit setelan jas menghentikan pekerjaannya.
Tak ada obrolan, hanya gerakan si gadis berkacamata minus menunjukan kartu namaku yang dibawanya. Bapak penjahit hanya menganggukkan kepala.
Selanjutnya, gadis itu melangkah ke arah belakang ruko dan aku kembali mengekornya.
Terdapat dua pintu disana. Pintu pertama, bertuliskan private room yang letaknya di sebelah kiri. Dan pintu kedua, bertuliskan gudang penyimpanan yang letaknya di sebelah kanan agak ke belakang.
Lalu gadis berkacamata itu, membuka pintu bertulis private room. Dia mempersilahkanku untuk masuk lebih dahulu, diikuti dengannya sembari menutup kembali pintu tersebut.
Di dalam ruangan itu, kuedarkan pandangan mataku ke-sekeliling. Cuma ada satu kursi di tengah, selebihnya ruangan ini kosong.
Namun, tiba-tiba...
Leher belakangku, terasa seperti disengat lebah. Di bagian itu, kurasakan sangat dingin. Rasa dingin menjalar kemana-mana.
Sejenak pandanganku mengabur secara perlahan. Kuda-kuda kakiku, tiba-tiba melemah seperti rapuh dan tak kuat menahan berat tubuhku. Lama kelamaan, keseimbanganku hilang, hingga aku tersungkur di lantai.
Samar-samar sebelum semuanya gelap, aku melihat gadis berkacamata dengan rambut dikucir kuda itu menyeringai kepadaku.
Senyuman itu.
Dan,tiba-tiba...
Semua menjadi gelap, kesadaranku hilang.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar