ADAPTASI PART 3

 

SURAT SAYONARA​

POV BAGAS

Rembulan tak nampak di malam ini. Kegelapan malam hanya tersamar lampu-lampu samar di sepanjang jalan kecil menuju kontrakanku. Aku menyusuri gang kecil dengan langkah santai. Aneh suasana sekitar terlihat begitu sepi, padahal waktu baru menunjukan pukul 19.00 wib.

Aku merasakan ada seseorang mengawasiku dari belakang, aku berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Namun ternyata “nihil”.

Aku melanjutkan kembali langkahku, kini aku berjalan agak lebih cepat dari sebelumnya. Ada perasaan takut, dan was-was yang tiba-tiba datang di benakku.

“Ah, itu mungkin hanya perasaanku saja, padahal kenyataannya tidak ada orang sama sekali pas aku menengok ke belakang tadi.” Aku meyakinkan diriku supaya berani dan membuang rasa was-was di hati.

Sampai di depan rumah, aku merogoh saku celana, mencari kunci. Bersamaan dengan itu pula terdengar bunyi nada pemberitahuan dari HP, pertanda bahwa ada SMS masuk di HP-ku

Segera kubuka HP, melihat SMS yang baru masuk itu, ternyata SMS itu berasal dari Anin.

From : Anin

“Dasar, kau lemah, Gas...!”

Aku lantas berpikir sambil bergumam.

“Apa sih, maksud SMS Anin ini?”

Beberapa saat kemudian, aku dibuat lebih kaget lagi. Pasalnya, semua nama nama di phonebook(buku telpon di HP) mengirimkan SMS yang sama persis isinya dengan SMS yang Anin kirimkan tadi.

“Sial..!” Gerutuku dongkol. “Ulah siapa ini?”

“Siapa di balik pelaku pengirim SMS ini? Siapa dia, sehingga mampu meng-hacker semua nomor kontak di HP-ku? Dan untuk apa orang itu meng-hacker semua nomor kontak-ku?”

Otakku berpikir keras.

Aku berusaha mencerna dalam-dalam isi SMS tersebut, sembari memasuki rumah kontrakan. Namun tetap saja aku tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, tak ada yang bisa kusimpulkan. Nihil.

Tubuhku berasa berkeringat, lengkat dan menimbulkan rasa gerah dan tidak nyaman. Segera saja aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badan

“Ah, tanggung lebih baik sekalian saja aku mandi.” Pikirku dan aku pun memutuskan untuk mandi.

Malam semakin larut, aku masih saja terjaga “tak bisa tidur”. Sambil menyeduh secangkir kopi hitam yang baru saja kubuat di dapur. Ya, kopi hitam seduh sachet-an yang bergambar “kapal sedang berlayar” yang kini sudah ada di tanganku.

Aku pun berjalan menuju bangku panjang dan duduk di sana. Di samping bangku panjang yang kini kududuki, terdapat meja kecil tempat aku menaruh secangkir kopi hitam. Terlihat di atas meja itu, sudah ada asbak besar yang berisikan berpuluh-puluh puntung rokok, sisa dari rokok-rokok yang sudah kuhisap.

Pikiranku kacau, sehingga memaksaku untuk menghisap rokok. Perlahan asap rokok yang mengandung nikotin dan tar mulai masuk ke dalam tubuhku. Pikiranku menerawang jauh, berpikir mengenai; kejadian di taman, soal kepergian Anin, soal teror SMS yang tadi kuterima. Semua kejadian-kejadian itu, membuatku susah untuk memejamkan mata. Hampir 39 jam, mataku terus terjaga.

Mungkin ada yang bertanya padaku, “Apakah aku ngantuk?” Jawabannya, “pasti ngantuk” namun pikiran yang sedang kacau seakan-akan tak mengijinkan mataku untuk terlelap.

Kalau tak salah hitung, dalam dua hari ini saja. Aku telah menghabiskan sepuluh cangkir kopi hitam dan enam bungkus rokok kretek; lima bungkus yang sudah habis kuhisap, ditambah sebungkus rokok yang tadi kubeli pada saat jalan-jalan dengan Anin.

Bisa panas kupingku dijewer Anin kalo sampe ketauan merokok. Sosok manjanya bakal berubah menjadi sosok yang lebih kejam daripada “ibukota” maupun “ibu tiri”.

“Anin, sifatmu mirip banget dengan mendiang Ibu.” Gumamku lirih ketika aku teringat dengan Anin.

Di balik sifat lemah lembutnya Anin, tersimpan sisi keganasan seorang wanita.

Aku tak sebodoh seperti yang kalian kira dan aku pun tak seculun seperti yang kalian duga. Namun kadang dalam hidup kita butuh peranan pura-pura bodoh ataupun menjadi sosok yang culun untuk memerankan panggung sandiwara kehidupan.

Aku sebenarnya memahami semua yang dirasakan Anin. Namun sebagai lelaki yang punya harga diri dan prinsip, aku tau batasanku; Siapa aku dan siapa Anin? Status sosial-ku dan status sosial Anin.

Jadi kesimpulannya adalah aku harus memantaskan diri terlebih dulu, jika aku benar-benar menginginkannya.

"Belum waktunya,nin. Semoga ucapanmu tadi, dapat bagas pegang. Tunggu bagas, nin!" Batinku berkata dengan penuh keyakinan.

“Fokus Gas, kamu harus fokus!”ujarku membatin.

Di sini aku mulai menyemangati diri sendiri yang telah berada di ujung rasa frustasi dan mulai lelah.

Sepintas, aku lembali teringat akan pesan Ibu dikala aku kecil.








Pada waktu itu usiaku baru 8 tahun. Kala itu, aku bersama teman-teman bermainku sedang asyik memetik buah mangga milik tetangga. Beberapa saat kemudian, sang pemilik pohon mangga ternyata mengetahui dan memergoki kami ketika itu. Bahkan sang pemilik pohon mangga sampai mengejar kami satu per satu. Dan di situlah temanku yang bernama Danis, bertubuh paling gemuk di antara kami tertangkap oleh sang pemilik pohon mangga.




Saat kejadian itu, aku bener-bener ketakutan sekali. Saking takutnya aku saat itu, sampai-sampai aku ngumpet di kolong meja di rumahku.




Tak lama kemudian “sang pemilik pohon mangga” datang ke rumah, namun karena beliau tidak menemukanku sang pemilik pohon mangga hanya menegur ibuku di halaman depan rumah.




Setelah mendengarkan teguran dari sang pemilik pohon mangga, tak lama kemudian ibuku masuk ke dalam rumah dan langsung memanggilku.




Entah kenapa? Mungkin karena cengeng, atau karena “merasa bersalah” hingga timbul rasa takut yang menderaku. Air mataku pun meleleh. Aku menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan dari Ibu.




Dan ibuku ternyata sama sekali tidak menunjukan ekpresi marah, malah beliau membelai kepalaku dan berucap. “Nak, jadi anak cowok nggak boleh nangis. Cowok itu harus kuat, Nak. Contohlah, ayahmu! Dia selalu bertanggung jawab dengan ucapannya dan tidak pernah lari dari masalah yang sudah perbuat.”




“Ingat pesen Ibu, Nak!” ucap beliau mengingatkan. "Menangis tak akan menyelesaikan masalah, malah menunjukan bahwa kamu lemah.”




“Nah, sekarang tau ‘kan! Apa yang harus Bagas perbuat untuk memperbaiki kesalahan?” ujar ibuku kembali.




Aku menganggukan kepala.




Ibuku mencium pipiku sembari berucap. “Jadilah lelaki yang kuat, Nak...!”




Mendapatkan nasehat dan wejangan Ibu membuatku menjadi "PEMBERANI". Berani untuk mengakui kesalahanku dan meminta maaf atas yang sudah kuperbuat.




Dengan mantap dan yakin, aku pun melangkah menemui sang pemilik pohon mangga untuk “meminta maaf”. Dan apa yang aku takutkan ternyata tidak seperti yang kubayangkan di benakku. Tenyata sang pemilik pohon mangga orangnya baik hati, malah Beliau memberikan nasehat yang bijaksana, “kalo kalian pengen buah mangga, lebih baik “bilang” dari pada ngambil sembunyi-sembunyi gitu! Kalian masih kecil, kalo jatuh dari pohon ‘kan fatal akibatnya. Ntar Om yang petikin buah mangganya kalo kalian pengen.”




Dan saat itu pula, aku melihat. Di pojok rumah sang pemilik pohon mangga, si Danis nyengir sambil makan buah mangga yang dipetik oleh Om Rudi, sang pemilik pohon mangga.




Kadang ekspektasi kita belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada, dan itulah namanya “kehidupan”.




Mau tidak mau, suka atau tidak suka, semua masalah akan datang menemui semua individu-individu yang masih bernyawa. Entah akan berujung “MANIS” atau berakhir dengan “PAHIT”? Dan benar apa kata Ibu, bahwa KITA (Individu-individu yang masih hidup) janganlah lari ataupun menghindari dari masalah-masalah yang namun hadapilah masalah-masalah itu dengan “hati yang ikhlas dan penuh kesabaran”.




Ikuti ALUR dari-Nya adalah “jalan terbaik”. Karena KITA hanyalah sebuah WAYANG KULIT yang sedang dimainkan oleh SANG DALANG yaitu TUHAN yang menciptakan alam semesta beserta isinya.




Kesimpulannya adalah KITA (manusia yang masih bernyawa) hanya menjalankan saja peran yang sudah ditentukan oleh SANG PENCIPTA, Tuhan YME. Entah itu perannya sebagai petani, pedagang, pengusaha, atau apapun peranan-peranan lain yang sudah diberikan Sang Kuasa, Tuhan YME.








“Seandainya ibu masih ada, mungkin aku tidak sampai segundah ini. Ibu pasti punya beribu cara untuk membuatku tenang.”Gumamku membatin.




“Ibu...! Bagas kangen.”




Aku mulai memahami apa yang dikatakan Ibu, ternyata “BAHAGIA ITU SEDERHANA TAPI KITA SENDIRI KADANG YANG MEMBUATNYA RUMIT”.




Dari ingatan, pengalaman masa kecilku bersama Ibu. Aku semakin mantap dan yakin dengan pilihanku. Benar kata Ibu,




“masalah tak akan selesai dengan sendirinya tanpa kita sendiri yang menyelesaikannya.”








Telegram : @cerita_dewasa








Keesokan harinya, atau tepatnya hari Rabu pagi, pukul 8.30 wib. Aku berlari dengan kencang menuju kediaman orang tua Anin.






“Semoga saja, belum terlambat.” Kataku dalam hati.




Hooosh...


Hooosh...


Hooosh...






Suara napasku seakan-akan mau habis karena pasokan oksigen di paru-paruku seperti sedang berpacu kencang. Segera kuambil napas panjang untuk kembali menetralkan kondisiku saat ini yang nampak ngos-ngosan.




Setelah mendingan, aku langsung menghampiri pos satpam, tempat kerjaan Pak Tris. “Pak, boleh Bagas minta tolong?”




“Apa yang bisa Bapak bantu, Gas? Eh, kenapa kamu ngos-ngosan gitu!?” Sahut Pak Tris setengah kaget melihat napasku masih ngos-ngosan ditambah pula kaosku yang kupakai nampak basah oleh keringat.


“Tolong berikan ini, ke Non Anin Pak!” jawabku, dan langsung saja kuserahkan kotak merah dan sepucuk surat untuk Anin.


“Kenapa tidak Nak Bagas saja sendiri yang ngasih? Non Anin, beserta Tuan dan Nyonya belum berangkat ke Bandara Nak.” ucap Pak Tris memberitahu.


“Pak, Bagas saat ini belum siap bertemu Anin. Bagas mohon sama Bapak mau bantuin nyerahin ini ke Non Anin. Bisa ya, Pak?” ujarku lirih penuh mohon dan bantuannya.


“Iya, nanti Bapak berikan ke Non Anin pas mau berangkat ya. Bapak sungkan masuk ke dalam rumah Tuan Rahardja Nak, jika tidak Beliau perintahkan.” sahut Pak Tris beralasan. Ya, maklum memang Beliau ditugaskan untuk menjaga kediaman ini. Menerima dan menyeleksi tamu-tamu yang akan berkunjung ke rumah majikannya adalah tugas pokoknya.


“Terima kasih, Pak. Kalo begitu, Bagas pamit.” kataku sembari mencium tangan Pak Tris sebagai tata krama untuk menghormati Beliau yang lebih tua dariku.


“Dasar bocah aneh, kamu Gas! Hehehe...” Ledek Pak Tris bercanda. Beliau sempat tertawa kecil. “Hati-hati ya, di jalan!”




Aku hanya menganggukan kepala, dan langsung berlari menjauhi kediaman orang tua Anin yang menurutku sangat mewah, megah dan luas untuk ukuranku sebagai orang tak punya.




“Di sini, aman!” Gumamku membatin.




Sekarang aku berdiri di balik pohon besar yang berada di ujung jalan, sedikit agak jauh dari rumah Anin, namun dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat aktifitas di halaman depan rumah Anin.




Terlihat Anin beserta Ayah dan ibunya sedang melangkah menuju sebuah mobil sedan hitam. Terlihat juga Om Udin, supir pribadi ayahnya Anin nampak sibuk. Dia membuka bagasi mobil lalu memasukan tiga buah koper yang mungkin akan dibawa Anin ke kota sebelah.




Dari pos satpam, terlihat Pak Tris bergerak setengah berlari ke arah Anin beserta Ayah dan ibunya berada.




Entah obrolan apa yang mereka bicarakan? Dan sesaat kemudian, kulihat kotak merah yang tadi kutitipkan pada Pak Tris sudah ia berikan ke Anin.




Dari sini, aku bisa melihat walau agak samar-samar, Anin sedang mencium kotak merah itu dan kemudian ia membaca secarik kertas yang sengaja kutulis buatnya.




Setelah memastikan mobil itu melaju meninggalkan rumah, aku pun segera beranjak dari balik pohon meneruskan langkahku kembali ke rumah. Sejenak aku berhenti dan bergumam dalam hati. “Sampai jumpa, Nin. Doa Bagas selalu menyertaimu.”










Telegram : @cerita_dewasa










POV ANIN






Air mataku berlinang sudah. “Kamu jahat, Gas. Nggak mau ngiringin Anin pergi. Hiks..hiks.. hiks..”






Kembali kubaca secarik surat dari Bagas.






Untuk: Anin.




Maafin Bagas, Nin!




Saat ini, Bagas belum siap ketemu Anin, Om dan Tante.




Bagas merasa belum pantas berada di situ!




Bagas janji, suatu saat nanti kalau Bagas sudah berhasil, Bagas akan penuhi semua janji KITA.




Di dalam kotak kecil berwarna merah itu, isinya adalah kalung, Nin. Kalung itu peninggalan satu-satunya dari mendiang Ibu Bagas!




Tolong, kamu jaga baik-baik ya, Nin!




Makasih ya Nin, sudah sayang sama Bagas.




Tunggu Bagas ya, Nin!




Dari : Bagas.








"Iya, gas. Sampai kapanpun, anin bakal nungguin bagas! Hiks.. anin sayang banget sama bagas" Gumamku pilu dalam hati.




Aku langsung membuka kotak kecil berwarna merah pemberian Bagas. Dan benar sekali seperti yang dikatakan Bagas dalam suratnya bahwa di dalam kotak kecil berwarna merah ini adalah sebuah perhiasan emas berbentuk kalung dengan liontin permata berwarna biru muda.




Mataku seperti tersihir, menatap lekat kalung itu tanpa berkedip sekalipun.




"Indah sekali." Gumamku dalam hati, kagum akan keindahan perhiasan yang sekarang berada di tanganku “Anin, suka Gas. Makasih.”


“Iya, Gas. Anin janji, bakal menjaga baik-baik kalung dari mendiang Ibu Bagas!” ucapku sembari mencium kalung itu dan langsung saja kupakaikan di leherku.




Tidak terasa, belaian lembut tangan ibuku mengusap kepalaku, lalu kepalaku ditarik Ibu ke pangkuannya.






“Anin nyaman, Bu.”


“Dek, sudah gede nggak boleh nangis gitu dong! Ntar cantiknya hilang, nanti Bagas berpaling loh cari yang lebih cantik.” celoteh Ibu membuatku berhenti menangis terus memaksa pura-pura cemberut lalu dilanjutkan dengan tertawa.


“Berjanjilah sama Ibu! Adek nggak boleh nangis lagi, ya! Ibu yakin, kalo Bagas tau Adek nangis gini, ia bakalan sedih juga.”




Lalu aku menganggukan kepala dan membenamkan kembali wajahku di pangkuan Ibu. “Makasih, Bu.”




“Dek, Ayah sama Ibu percaya kok, kalo Bagas itu anak yang baik. Biarkan ia mengejar cita-cita dan impian masa depannya dengan caranya sendiri. Ibu yakin Dek, Bagas adalah cowok yang bertanggung jawab dan bisa dipegang kata-katanya. Adek nggak salah telah sayang sama dia. Ibu yakin, Bagas bakal nepatin janjinya Dek. Udah donk, berhenti menangis!” bujuk Ibu padaku supaya aku berhenti menangis.


“Iya, Bu. Hiks.. Hiks.. Anin cengeng banget ya, Bu?”




Ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil terus mengusap lembut kepalaku lagi.




Tangisku telah hilang, dan kini berganti dengan senyuman di bibirku. "Bagas, anin bakal nunggu kamu dateng" ujarku dalam hati.




Perjalanan menuju Bandara masih sekitar tiga puluh menit lagi, aku mulai terbuai dan rasa kantuk menyerangku, perlahan mataku terpejam dan aku mulai terlelap di atas pangkuan Ibu.








Telegram : @cerita_dewasa








POV 3rd






Tiga puluh menit, setelah pesawat yang ditumpangi Anin terbang.




Sedan Camry hitam dengan nomor polisi X 1212 WY melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran bandara.




Tiba-tiba...




Duuaarr....!!




Terdengar suara ledakan yang sangat hebat dari sebuah mobil Sedan Camry hitam itu. Kobaran api dan kepulan awan hitam pun membumbung tinggi di udara. Suara dahsyat tersebut seperti suara bom yang meledak dengan sangat keras sekali memaksa setiap orang melihat ke arah suara itu berasal.




Dari kejauhan, tampak terlihat di seberang jalan berdiri seorang wanita yang menggunakan kaca mata hitam tersenyum nakal penuh kepuasan. sesaat kemudian, wanita itu meraih telpon genggam.




“DONE...!” ucap wanita itu kepada lawan bicaranya, kemudian ia mematikan sambungan telponnya.




Sesaat, terlintas bus menghalangi jarak pandang menghalangi posisi wanita berkaca mata hitam itu berada. Dan seketika, wanita itu menghilang bersamaan dengan melajunya bus yang melewatinya.







POV BAGAS






Aku kemasi semua barang-barangku. Semalam suntuk, aku memikirkan ke mana langkahku ini berjalan.




Dan kini, tekadku sudah bulat.




Rasa penasaran yang begitu besar, memaksaku untuk mengambil opsi kedua dari paman, menemuinya di alamat yang tertera di kartu nama emas ini.




“Ibukota, aku datang. Semoga kau tak sekejam ibu tiri dibanyak cerita-cerita novel.” gumamku bersemangat








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar