Setelah melakukan sesi pengambilan foto, kami melanjutkan naik ke lantai 2 bangunan ini. Pemandangannya masih sama, hanya sebuah lorong panjang yang di sisi kiri dan kanan terdapat banyak pintu bertuliskan nama ruangan.
Akhirnya kami sampai juga di depan pintu bertuliskan “huruf L”. Di samping pintu terdapat 2 (dua) buah sofa mungkin tempat tunggu menurutku.
“Gas masuklah, April tunggu di situ...!” April berkata seraya menunjuk ke arah sofa yang berada di samping pintu itu.
“Iya, Pril.” kujawab sembari tanganku akan mengetuk pintu. Belum sampai tanganku mengetuk, ternyata sudah ada suara berat dan bernada tinggi menyahuti dari dalam.
“MASUK...PINTU TIDAK DIKUNCI...”
Segera kubuka handle pintu dan berjalan masuk ke dalam.
“Permisi...” sapaku sopan.
“DUDUK.” Terdengar lagi suara pria muda seumuran 25 tahunan mempersilahkanku untuk duduk.
“Perkenalkan, saya Bagas.” Sebelum duduk aku menyempatkan diri berbasa-basi ingin berkenalan. Namun orang itu hanya memandang tanganku saja, menghiraukan. Dia kembali sibuk membaca beberapa lembar kertas bersampul di sebuah stop map warna kuning.
“KUBERI WAKTU UNTUK MEMBACANYA HANYA 10 MENIT DAN 5 MENIT UNTUK MENGISI DATA DAN TANDA TANGAN DI HALAMAN TERAKHIR.” ujar orang itu sembari tangannya menyerahkan map warna kuning itu kepadaku.
Kubuka map tersebut dan membacanya, terdapat 3 (tiga) lembar kertas di dalamnya.
Halaman pertama dan kedua berisikan "perjanjian asuransi kematin". Nilainya sungguh fantastik, tercantum di sana, angka 1 dan sepuluh angka NOL di belakangnya, aku sedikit tercengang melihat besaran angka tersebut.
“Wow, Rp. 10,000,000,000,00 atau sepuluh miliar rupaiah!” Mataku melotot sambil bergumam dalam hati.
Kemudian setelah menyelesaikan membaca halaman pertama dan kedua lalu kuteruskan untuk membaca halaman ketiga atau halaman terakhir. Halaman terakhir membuatku lebih tercengang, karena di sana tertulis namaku pada pihak pertama lengkap dengan biodataku. Di bawahnya ada pihak kedua dalam keadaan kosong. Aku dipaksa menulis sebuah nama untuk menerima besaran asuransi atas kematianku sendiri
Di bawah pojok kanan kertas terdapat materai di bawahnya ada namaku. Lama kutatap lembaran terakhir, mengingat aku hidup sebatang kara, aku tak mempunyai seorang pun saudara. Setelah berpikir cukup lama kupandangi jam tersisa waktu masih ada 2 (dua) menit sebelum habis dan 15 menit waktu yang akan diberikan olehku.
Tadinya sempet ingin kutulis nama Anin untuk kuisikan pada baris kosong pihak kedua. Namun menimbang Ayah Anin yang sudah sangat kaya raya, aku urung menuliskannya. Mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkannya.
Dan setelah berpikir lalu kuputuskan untuk menuliskan sebuah nama. Entah kenapa aku memikirkannya? Entah kenapa gadis menyebalkan itu malah mengisi pikiranku? Terbayang angan-anganku jauh, ingin melihatnya hidup normal. Aku merasakan ada sebuah keterpaksaan di balik mukanya yang selalu tampil galak di depanku, semoga uang tersebut bisa digunakannya dengan baik.
Kuputuskan menulis nama “APRILIA” di kolom nama itu. Dan diakhiri dengan menandatangani lembaran tersebut.
Setelah selesai, segera kututup map tersebut dan kembali menyerahkannya ke pria muda yang duduk di depanku. Selanjutnya terlihat ia membuka kembali map itu seraya membalik-balikkan lembaran-lembaran kertas di dalamnya sampai pada lembar terakhir. Sejenak ia membacanya. Terlihat dahinya mengernyit setelah membaca di lembaran tersebut lalu matanya tajam menatapku seolah meminta konfirmasi kembali. “YAKIN DENGAN NAMA YANG KAU TULIS?”
Pertanyaannya sama sekali tak aku gubris, tanpa berpamitan aku beranjak meninggalkan pria muda tersebut dan kangsung menghampiri April.
“Sudah, Gas?” April menyambutku sambil tersenyum manis.
Kuanggukan kepala dan membalas senyumanmu. “Ke mana lagi, kita Pril?”
“Rehat yuk Gas, April capek!” jawabnya pelan.
“Rehat ke mana?” tanyaku lagi.
Tak menjawab pertanyaanku malah April berucap kembali sambil merentangkan kedua tangan.
“April pengen mandi, gerah.”
Aku yang bingung mau ngapain masih saja berdiri, hanya diam di tempat.
“Malah diem?” tanyanya.“Ayo..!”
Tiba-tiba tarikan tangannya membuat aku mengikutinya dan aku hanya mengekornya di belakang mengikuti April. Ternyata kami naik ke lantai 4 bangunan ini.
Pemandangannya masih sama, hanya ada lorong panjang dan pintu berjumlah 6 (enam) buah di sini!
Di sisi kanannya terdapat 3 (tiga) pintu, bertuliskan M1, M3, dan M5 dan di sisi kiri juga terdapat pintu, bertuliskan M2, M4 dan terakhir M6.
Dan April ternyata berhenti di pintu bertuliskan M3, lalu ia mengeluarkan kartu berwarna hitam dengan kartu itu pula ia gesekkan ke sebuah alat mirip alat untuk menggesek credite card, terlihat alat itu menempel di dinding di samping pintu.
Ceklek... Pintu terbuka secara otomatis.
“Canggih.” Gumamku dalam hati karena baru pertama kali ini melihat bagaimana cara membuka pintu hanya dengan menggesekkannya dengan sebuah kartu, nggak perlu pake kunci atau pun menggerakan tangan ke handle pintu.
“Ini mess aparteman April di kantor! Duduk dulu, Gas, April tinggal bentar, ya!” ucapnya sembari meninggalkanku memasuki kamar mandi apartemennya.
“Iya, Pril.” Balasku.
Terus terang saat ini, aku grogi banget lah, baru pertama kalinya aku masuk kamar se-mewah ini. Rasa takjubku, aku tunjukan dengan mengarahkan pandangan ke-sekeliling ruangan. Terdapat sofa panjang, tivi yang sangat besar, dapur yang jadi satu ruang makan yang luas. Sementara itu di sisi lainnya terlihat olehku lemari pendingin yang sangat besar berbeda dengan lemari pendingin yang sering aku lihat. Dan di samping kamar mandi, di mana tadi April masuk terdapat pintu kaca bermotif burung api namun masih sedikit tranparan jadi aku masih bisa melihat, walau agak kurang jelas. Kamar tidur yang luas, di tengah terdapat ranjang besar. Mungkin tiga kali besarnya dari ranjang di rumah kontrakanku dulu.
Sambil menunggu April mandi, aku pun langsung duduk di sofa panjang itu yang ternyata sangat empuk dan nyaman sekali." Ini sofa pasti mahal, empuk banget dan nyaman sekali." Gumamku membatin dan secara refleks tubuhku bergerak-gerak merasakan empuknya sofa itu.
15 menit lamanya, April akhirnya baru keluar dari kamar mandi. Mataku benar-benar dibuat takjub olehnya, pasalnya April keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono sexy berwarna pink. Panjang kimono itu tak seberapa sehingga hanya bisa menutupi sejengkal di atas lututnya. Membuat aku bisa memandang dengan jelas paha mulusnya. Sedangkan untuk belahan kimono yang cukup lebar itu sepertinya tidal bisa menutupi payudaranya dengan secara sempurna, karena nampak sebagian payudaranya tersembul, memaksa mataku terus menikmatin keindahan kaum hawa ini di depanku.
“Kenapa Gas? Kok melotot gitu, lihatnya?” tanyanya.
“Eeh...!” Hanya kata itu saja yang keluar dari bibirku. Rasa grogi karena tertangkap basah telah menikmati pemandangan tubuhnya membuatku kebingungan menjawab pertanyaannya.
Mukaku merah padam.
April dengan santainya berjalan memasuki kamarnya, meninggalkanku dengan keadaan salah tingkah.
Tak beberapa lama, April keluar dari kamar mengenakan kaos berwarna putih ketat terlihat cetakan puting menandakan April tidak mengenakan bra dipadu dengan celana hot pant pendek sejengkal di atas lutut.
“Sexy.” Gumamku seketika menelan ludah.
Lalu dia berjalan menuju lemari pendingin besar yang berada di dapur.
"Gaaas..!" April memanggilku sembari melemparkan kaleng berisi softdrink ke arah mukaku. Dengan gerakan cepat, tanganku menangkapnya, jika sampai meleset mukaku bisa bonyok.
"Refleks yang bagus Gas..!” sahut April sembari membuka kaleng softdrink yang berada di tangannya.
“Makasih, Pril.” Sembari kuangkat kaleng softdrink-ku.
“Kamu nggak mandi, Gas?” tanya April kemudian.
“Tas berisikan semua pakaianku ‘kan nggak ada Pril, terus ‘ntar Bagas pake apa?” jawabku bingung.
“Udah tenang aja, bentar April ambilin handuk dulu!” jawabnya sambil berlalu memasuki kamarnya lagi.
Dan tak lama kemudian...
“Nih, Gas...!” April menyodorkan handuk berwarna hitam buatku...
“Makasih, Pril.” Sambil beranjak menuju kamar mandi.
“Gas, di kotak kaca ada sikat gigi baru, ambil buat gosok gigi! Awas sampe mulutmu bauk!” Teriak April dari luar kamar mandi.
"Oke Pril, makasih!" sahutku dari dalam kamar mandi.
Namun aku masih berpikir.
"Ntar pake apa? Masa aku mau pake pakaian April, mana muat." Gumamku membatin.
Segar. Seluruh tubuhku rasanya fresh kembali, ngga sampe 10 menit bagas keluar dari kamar mandi...
Bagas telanjang dada,,,handuk pemberian april hanya mampu menutupi bagian pinggang ke bawah...
Celingak-celinguk aku mencari April, tapi gadis itu nggak ada.
Tak lama dari pintu depan April terlihat menenteng satu buah koper besar.
“Nih, Gas...!”
“Tuh ganti di kamar April sana!” Perintahnya.
Kuterima koper itu, dan mulai berjalan ke kamar April.
Berlanjut membuka koper, di dalam koper aku menemukan 7 (tujuh) buah kaos, 5 (lima) buah celana training, 5 (lima) buah celana pendek santai dan terakhir 7 (tujuh) buah celana dalam berbentuk boxer dan semuanya warnanya item.
Akhirnya kupilih memakai kaos dan celana pendek dan berjalan keluar dari kamar April, masih menenteng koper.
April menatapku sesaat kemudian berucap. "Kopernya mau dibawa ke mana, Gas? Taruh kamar aja!" Perintahnya selanjutnya.
Setelah mengikuti perintah April, aku kembali duduk di sofa panjang di sana udah ada April, kelihatannya dia sedang asyik nonton tayangan televisi.
Tiba-tiba....
Handphone April berdering sekali, mungkin notife tanda ada pemberitauan masuk. April pun beranjak dari sofa meninjau handphone-nya sesaat kemudian dia memandang ke arahku. Kemudian ia kembali dan duduk di sebelahku, merasa jarak kami dekat sekali, kugeser dudukku menjauh. April ikut menggeser duduknya kembali merapat denganku dan sekali lagi aku menggeser dudukku menjauh.
April menatapku tajam, dia kembali menggeser duduknya, mendekat atau duduk mepet denganku. Dan belum sempat aku beranjak / berpindah untuk menjaga jarak darinya.
April berucap dengan nada mengancam. "Sekali lagi kamu geser!" Sambil mengacungkan tangannya yang terkepal ke arahku. Karena bergidik membayangkan pukulan April yang sangat menyakitkan, kuurungkan niatanku untuk bergeser.
"Gas." ucap April lembut di samping telingaku, membuat aku sedikit heran.
"Dasar gadis aneh, bentar bentak-bentak terus nggak lama kemudian jadi sok manja gini" Gumamku membatin.
April menatap sayu ke arahku. "Boleh April tanya, Gas?" Suara April sedikit manja.
Seketika aku kembali grogi.
"Iyaaaaa Priiiiil..." suaraku bergetar dikarenakan grogi.
"Ini apa maksudnya?" Suara April kembali normal sambil melihatkan handphone-nya. Terlihat olehku sebuah foto lembaran terakhir dari map berisikan asuransi yang tadi baru kubuat dan di dalamnya berisikan namaku sebagai pihak pertama dan nama April sebagai pihak kedua sebagai penerima asuransi kematianku.
Lidahku kelu, bingung ngasih jawaban.
"Kenapa kamu nulis nama April di situ? Kasih alasan ke April sekarang juga!" Lontaran kalimat terakhir dari April bernada keras.
"Itu Pril........" ucapanku terpotong, lidahku kelu, aku benar-benar bingung mau ngasih jawaban apa, rasa grogi dan malu memaksa keringat dinginku keluar.
Mataku memerah, dadaku sesak seakan ingin meluapkan sesuatu.
"Pril....Ba-gas hi-dup seor-rang di-ri, Ba-gas se-batang ka-ra, Ba-gas nggak pu-nya siapa sia-pa Pril. Ma-af ka-lo Ap-ril nggak ber-kenan so-al itu. Ba-gas nggak tau kena-pa tiba-ti-ba na-ma A-pril yang Ba-gas tu-lis di si-tu..." ucapku berbata-bata, air mataku mengalir. Aku mengingat kedua orang tuaku yg telah meninggal disusul kematian kakek secara mendadak. Kutundukan kepala ke bawah, sama sekali aku nggak berani mengangkat kepala dan memandang ke arah April.
"Gaaas... nggak boleh cengeng, ya?" April memanggil namaku dan menyemangatiku sembari kedua tangannya diletakkan di pipiku lalu diangkatnya kepalaku sehingga mata kami beradu. Sejenak April menggelengkan kepalanya.
"April nggak marah Gas." ujar April berkata lirih. Kemudian dia tarik kepalaku ke arah dadanya, dibenamkannya kepalaku berlanjut April memeluk tubuhku.
"Nyaman pril, bagas nyaman diginiin." Gumamku dalam hati. Perasaanku tak dapat kupungkiri bahwa aku benar-benar nyaman dapat perlakuan seperti ini dari April. Kucurahkan semua tangisanku dipelukannya, aku merasakan tangan April nggak berhenti mengusap rambutku.
5 menitan kepalaku masih berada di pelukan April.
Tangisku sedikit mereda.
“Gas," suara lembut April menyadarkanku.
Takut April marah karena posisiku di pelukannya, segera kuangkat kepalaku.
“Maaf Pril!” ucapku pelan.
April menggelengkan kepala. “Bagas jangan pernah merasa sendiri, ya! Ada April sekarang, April bakal ada buat Bagas.” Sambil tangannya mencubit hidungku lalu tersenyum manis.
“Makasih, Pril.” Suaraku sedikit bergetar.
Sesaat kemudian, tatapan kami saling bertemu. Terlihat April menutup matanya secara perlahan, bibirnya dibiarkan sedikit terbuka. Dan seperti ada magnet saja, kepala kami saling mendekat.
Cuuuup....Sekali lagi bibir kami bertemu.
Hanya sesaat saja, selanjutnya kami seakan kompak saling memundurkan sedikit kepala. Perlahan mata kami terbuka, pelan-pelan. Mata sayu April bertemu dengan mataku lagi, April nampak tersenyum dan kembali memajukan kepalanya.Refleks mata kami sama-sama tertutup secara perlahan, seperti sebuah magnet tanpa melihat.
Cuuppp... Kembali bibir kami bertemu untuk kesekian kalinya.
Bibirku dilumatnya pelan, aku membuka sedikit mulutku. Kulakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya, melumat bibirnya yang lembut. Lumatan demi lumatan silih berganti di antara bibir kami berdua. Kami saling bertukar liur.
Sesaat kemudian, kurasakan lidah April yang lembut dan hangat memasuki mulutku, menjelajahi setiap ruang rongga di dalam mulutku. Kubalas dengan kuluman di bibirnya. Kini lidahku semakin berani menerobos memasuki mulutnya, lidah kami saling beradu, berlomba untuk saling bergantian menerobos masuk ke mulut.
Tak tinggal diam, tangan April ternyata sudah masuk ke dalam kaosku dari arah bawah. Tangan lembutnya membelai dadaku. Darahku seketika berdesir saat tangan April bermain di putingku. Tanganku refleks mengikuti naluri, membelai rambutnya, belaianku terus turun ke pipinya dan semakin turun dan tiba di payudaranya yang masih kencang dan indah itu. Kubelai payudaranya walau masih terhalang kaos yang dipakainya, namun masih bisa kurasakan putingnya mulai mengeras.
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Teeeng...
Terdengar bunyi lonceng dari jam dinding itu sebanyak 7 (tujuh) kali, seketika menyadarkan kami berdua, bibir kami pun terlepas. Terliat April memandangku, diiringi senyumannya yang sangat manis dan kubalas dengan tersenyum padanya.
“Gaaaas...” ucapnya lirih. “Yuk bobok di kamar!”
Tanpa menunggu jawabanku, tanganku sudah ditariknya dan aku hanya mengikuti arahnya berjalan.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar