ADAPTASI PART 12

 

KEMBALI DUNIA CERIA​

POV Bagas

“Pril.” Panggilku lembut.

“Yups, Gas.” Sahutnya cepat.

Kami berdua sudah berbaring di ranjang besarnya, posisi kami sama-sama terlentang, dan mata kami sama-sama melihat ke atap bangunan.

Aku terhanyut memikiran kejadian demi kejadian seharian ini, dari awal aku bertemu dengan April hingga berada di sebuah kamar berdua dengannya. Nggak hanya berdua di kamar saja, malah sekarang kami berada dalam satu ranjang yang sama.

Hari ini terasa sangat lama dan melelahkan, tak ada yang kami lakukan selain hanya berbaring, menikmati lelah, berharap esok akan lebih indah dari pada hari ini. Itu semua yang ada dalam pikiranku. Dan entah apa yang ada dipikiran April? Dia juga terlihat lelah dan menikmati masa istirahat ini.

“Pril, April.” Panggilku kembut.

“Apa sih,Gas? Dari tadi manggil mulu!” sahut April seraya membalikkan badan ke arahku.

“Hehehe...maaf!” Kekehku. ” Bagas boleh tanya?”

“Tanya tinggal, tanya kok?” sahutnya, seketika dia cemberut.

“Bagas boleh tahu usia April sekarang?” tanyaku.

“22 tahun, Gas.” sahutnya.

“Ooooo...!” seruku. Aku sengaja mencairkan suasana dengan mengajaknya bercanda.

“Emang kenapa Gas, tanya-tanya umur?” tanya balik April sepertinya ia kurang puas dengan kata “ooo” yang terlontar dari bibirku tadi.

"Nggak apa-apa, Pril. Cuma kalau bagas suka ke april berati bagas kena syndrome odipush complex, donk?” Aku menjawab dengan dengan aksen kubuat sedikit bloon.

Tiba-tiba...

Ekspresi April berubah jadi merah padam. “Keluar! Tidur sana di sofa!” teriak April sambil mencubit perutku kencang.

“Ampun, Pril. Aku cuma bercanda, kok!” sahutku sembari memegangi perutku yang sepertinya membiru warnanya karena cubitan April tadi. Memang niatku dengan sengaja bikin April sebel,“lihat mukanya cemberut bikin aku ketagihan.” Gumamku dalam hati.

Aku berdiri menuruti perintahnya berjalan menuju pintu untuk keluar dan belum juga langkah kakiku sampai ke pintu.

April kembali berteriak. “Mau ke mana kamu...!”

“Katanya suruh tidur di sofa tadi.” Jawabanku dengan nada enteng tanpa dosa, aku bener-bener menahan tawaku ketika melihat April mulai cemberut dan sedikit emosi.

“Berani keluar!” Ancamnya dengan tangannya memegang remote pengatur jam tanganku

“Iya, iya, nggak usah pake cemberut donk. Bagas ‘kan mau pipis, mau ikut?”

Seketika sebuah bantal melayang ke arahku.

“Bagas nyebeliiiiiin....!”Teriak April.

Aku bersikap sok cuek berjalan menuju kamar mandi, “memang Bagas mau pipis kok.” Gumamku membatin.

Dan beberapa saat kemudian, ketika aku memasuki kamarnya lagi, kulihat April duduk telah di tepi ranjang. Jari tangan kanannya memainkan rambutnya yang ia gerai ke arah depan.

Pandanganku tertuju ke sebuah gitar di pojokan kamar, posisinya hanya terlihat sedikit mengintip,, tertutup besarnya lemari yang menghalanginya, kuarahkan kaki ke posisi di mana gitar itu berada lalu kuambil.




“Pril, boleh?” tanyaku.


“Pake aja, Gas!”




Mendengar jawaban April, kubawa gitar itu dan mengambil posisi duduk di sebelahnya.




“Boleh Bagas nyanyiin lagu buat April?” tanyaku.




April hanya menganggukan kepalanya, sebagai jawaban atas pertanyaanku tadi.




Aku mulai memainkan sebuah lagu dimulai dengan sebuah intro. Jari tangan kiriku menekan membentuk kunci G, kupetik senar gitar dengan jari-jari kananku, sesaat kemudian kupindahkan posisi jariku ke kunci C, kulakukan dua kali.




Saat jari tanganku kupindahkan ke kunci G untuk ketiga kalinya, aku mulai melantunkan lirik sebuah lagu sambil kutatap matanya yang terlihat semakin sayu.






Melihat tawamu.


Mendengar senandungmu.


Terlihat jelas di mataku.


Warna-warna indahmu.


Menatap langkahmu.


Meratapi kisah hidupmu.


Terlukis jelas bahwa hatimu.


Anugerah terindah yang pernah kumiliki.


Hooo...hooo...hooo...


Sifatmu nan slalu.


Rendahkan ambisiku.


Tepikan khilafku.


Dari bunga yang layu.


Saat kau di sisiku.


Kembali dunia ceria.


Tegaskan bahwa kamu.


Anugerah terindah yang pernah kumiliki.




Sejenak aku mengambil napas panjang lalu perlahan menghembuskannya, sambil jari-jariku memainkan Interlude berkuncian, ”C-G-C-G”.




April nampak sangat menikmati lagu yang kulantunkan, dia menggeser duduknya merapat membelakangi tanganku yang sedang memainkan sebuah gitar, kurasakan tangannya masuk memelukku dari belakang dan kepalanya bersandar di pundakku.




Karena jeda yang terlalu lama kuulangi interlude sekali lagi, April memelukku kencang.




Aku mulai fokus melantunkan kembali lagu yang sempat terjeda oleh dua kali interlude yang kumainkan.




Belai lembut jarimu.


Sejuk tatap wajahmu.


Hangat peluk janjimu hooo...


Belai lembut jarimu.


Sejuk tatap wajahmu.


Hangat peluk janjimu.




Aku memberi jeda sebentar dari lirik yang kunyanyikan, sembari tanganku meletakkan gitar ke atas ranjang. Pelukan April terlepas karena gerakanku. Aku membalikkan badan menghadap mukanya. Dekat, sangat dekat. Mata kami beradu. Matanya terlihat semakin teduh. Dan kuteruskan melantunkan lirik yang sempat tertunda, sembari mataku menatapnya dalam-dalam.




Anugerah terindah yang pernah kumiliki.






April tersenyum, senyuman yang menurutku sangat manis, senyuman yang tulus kemudian dia berhambur ke pelukanku. Mukanya dibenamkan ke dadaku, tangannya erat sekali memelukku melingkari pinggangku.




“Bagas nyaman sama April.” ucapku lembut. “Makasih.” Aku kecup keningnya.




Tak ada jawaban dari April, hanya sebuah pelukannya yang kurasakan semakin erat.






5 menit lamanya, kami berpelukan. Perlahan pelukan April mengendur secara pelan. Mata kami kembali bertemu.




“Gas.” Panggil April lembut.


“Iya, Pril.” Sahutku cepat.


“Baru sehari April bareng sama Bagas. April sudah berasa nyaman. Makasih ya, Gas.”




Kuanggukan kepala.




“Begitu juga yang kurasakan. Bagas juga nyaman bareng April.” Jawabku.




Terlihat senyum April berkembang.”Gas.” panggilnya lagi.




“Iya, Pril.” sahutku kembali.


“Mau nggak janji ke April?” tanya April.


“Janji apa, Pril?” Aku jawab sembari melemparkan pertanyaan balik kepadanya.




Sejenak April menghela napas, jari tangannya diarahkan ke jari tanganku, kubuka telapak tanganku. Dan seketika jari kami pun sudah saling menggengam erat.




“Berjanjilah untuk tetap hidup, berjanjilah untuk bertahan hidup untuk dirimu sendiri bukan untuk April atau untuk orang lain yang kamu pandang penting, Gas!”




Tak kujawab kata-kata dari April, hanya sebuah anggukan kepala dariku.




“April takut,Gas. Takut kehilangan Bagas”. sahut April.




Kembali kujawab dengan anggukan.




Lalu seketika aku berucap. “Bagas janji bakal kembali Pril! Boleh bagas jadikan April tempat untuk pulang?”




Tangan April semakin kuat meremas tanganku. “April bakal nunggu kamu, Gas!”jawabnya terharu. Selanjutnya terasa kepalanya bersandar di bahuku.




5 menit kami hanya terdiam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing.




Tiba-tiba...




April berucap. “Gas, bobok yuk! Besuk pagi ‘kan kamu harus ke tempatnya Rere?”


“Rere itu siapa, Pril?” tanyaku penasaran.


“Ntar juga kamu bakalan tahu sendiri, Gas. Udah ah, yuk bobok...!” April menarik tubuhku untuk berbaring di sebelahnya.


“Gaaas...!” Teriaknya sedikit keras.


“Apa lagi, Pril? Tadi katanya ngajak bobok.” Tanyaku bingung.


“Peluk.” ucapnya manja.




Aku tersenyum.




Terlihat posisi tidurnya berubah membelakangiku, kumasukan tangan kananku di antara bantal dan kepalanya, tanganku menggantikan bantal yang ia pakai. Sembari tangan kiriku melingkari tubuhnya.




“Hangat, Gas. April tidur ya, Gas.” suara April lirih. Kujawab dengan semakin mempererat pelukan ke tubuhnya.




Tak begitu lama, kudengar suara napas April mulai datar, pertanda alam bawah sadarnya mulai mengambil alih kerja otaknya.




“Met tidur, Pril. Semoga tidurmu diiringi mimpi yang indah!” Suaraku lirih tanpa menghiraukan lawan bicaraku yang telah terlelap.




Tak pernah terlintas dalam bayanganku akan tidur berdua dengannya, sejenak memory bersamanya seharian ini bermunculan. Sama sekali aku tak mengharapkan datangnya pagi, berharap malam seperti ini tak akan pernah tergantikan oleh teriknya sang fajar.




Kupeluk semakin erat tubuh April.




Sesaat kemudian, mataku menjadi berat. Kututup mataku secara perlahan. Dan kami berdua terlelap dalam tidur.






Keesokan harinya...




Aku terbangun dari alam mimpi karena ada yang bergerak menindihku, perlahan mulai kubuka mataku. Terlihat kepala seorang gadis terbenam di dadaku, tangannya melingkari tubuhku. Sejenak aku flashback kejadian semalam. Sejak kapan kami berpindah posisi, seingatku semalem April yang kupeluk.




Iya, gadis itu April. Gadis penyemangatku saat ini. Di saat tak ada seorang pun yang dapat kujadikan tempat untuk pulang. Dia dengan lapang dada menerima kehadiranku, menyambutku dengan senyum manisnya dan aku membutuhkannya, butuh tempat untuk pulang.




Kuabaikan janjiku dengan seorang gadis berlesung pipit yang berada jauh di sana. Gadis yang sempat kujadikan tujuanku untuk pulang. Namun keadaan memaksaku untuk memutar haluan kapal, bersandar ke pelabuhan yang lain. Keterbatasanku alasan utama di mana rasa tak pantas, menjadikanku urung berlabuh di sana. Sebuah perbedaan yang sangat hakiki, di mana sang putri yang cantik rupawan, bergelimpang harta dan mempunyai garis keturunan berdarah bangsawan. Mustahil untuk bersatu dengan si miskin dengan berbagai kekurangannya. Iya, si miskin itu adalah aku, (Bagas). Kenyataan memaksaku untuk mencoba labuhan yang lain, labuhan yang membuatku merasa nyaman, labuhan di mana aku akan pulang, labuhan itu bernama Aprilia, dialah tempatku pulang.




Sejenak aku tersadar dari lamunan panjang, masih kutatap kepala gadis yang berada di dadaku, tanganku mulai mengusap pelan halus rambutnya, terlihat dia mulai membuka mata secara perlahan.




“Hai.” sapaku lembut.




Namun semua tak sesuai harapanku, matanya tiba-tiba melotot tajam ke arahku.




“Kyiiiiiiiiiaaaaa...” Gadis itu berteriak histeris. Seketika aku pun ikutan kaget.




Buugghh!!




Sebuah pukulan telak bersarang di rahangku dan membuatku seketika terlonjak ke tepian tempat tidur. Namun ternyata tidak sampai di situ saja.




Buugghh!!




Sekali lagi kurasakan sebuah tendangan bersarang tepat di pinggangku, gerakan yang sangat cepat berupa sebuah pukulan diiringin oleh sebuah tendangan membuatku jatuh tersungkur dari tempat tidur.




“Aauuww...!” teriakanku sambil tangan kananku mengelus rahangku sebelah kanan, dan tangan kiriku berada di pinggang...


“Sakit Pril, nyebelin kamu tuh!” omelku dengan wajah meringis kesakitan.




Sejenak kulihat April mengambil kacamatanya yang berada di meja samping tempat tidur dan ia langsung mengenakannya.




Tanpa dosa April cuma cengengesan.




“Maaf, serius April terkejut Gas karena baru kali ini April bangun terus ada cowok seranjang sama April.” Ucapnya memberi alasan.


“Hmm...gitu, ya! Jadi kalo berduaan sama cowok sering donk?” Jawabku dengan sengaja memancing emosinya.


“Bagas...!” teriaknya diiringi sebuah cubitan keras mengarah ke perutku.




Nyuuut!!




“Aauuww! Sakit, sakit sekali rasanya.” Batinku berkata.




Refleks kuangkat sedikit kaosku, terdapat dua lebam biru di sana, dan salah satunya terlihat gosong hasil karya gadis itu di depanku semalam.




“Apa nggak puas kamu Pril nyiksa Bagas?” ucapku lirih, nada bicaraku sengaja kubuat seolah sedih.


“Siapa suruh jadi cowok nyebelin gitu?” Balas April sewot. Terlihat bibirnya masih menggerutu, malah membuatku semakin gemes.




Aku cuma cengengesan sambil garuk-garuk kepala.




“Pril.”


“Apa?” Jawabnya masih sewot.




Seketika kutarik tangannya untuk memaksa tubuhnya mendekatiku, kunyanyikan sepenggal reff sebuah lagu.




Meski kau terus sakiti aku.


Cinta ini..


Akan selalu memaafkan.


Dan aku.


Percaya nanti engkau.




Bait terakhir kujeda sebentar, pandanganku kubuat sangat dalam ke arahnya. Sekali lagi April tersenyum, senyum itu yang membuatku ketagihan, senyum yang sebanding harganya dengan yang kurasakan sakitnya dari; pukulan, tendangan atau pun cubitan dari April. Dengan nada lirih kuteruskan lirik kalimat terakhir lantunan lagu berjudul "Bertahan".




Mengerti.


Bahwa cintaku tak ‘kan mati.




Sejenak kami terdiam, saling bertukar pandang dan seperti ada medan magnet.




Tiba-tiba...




Tubuh kami saling mendekat, kukecup keningnya. Kemudian terlihat April berjinjit sembari tangannya melingkar di leherku. Tanganku bergerak dengan sendirinya melingkari pinggangnya, kemudian bibir kami saling menyatu.




Dimulai dengan pagutan lembut, darah kami sama-sama berdesir, pagutan lembut berganti dengan lumatan, dan lumatan demi lumatan silih berganti antara bibir kami. Mata kami saling memejam, perlahan kami saling melepaskan pagutan...




“Gas. Sudah saatnya.” Suara April terdengar lirih. Sesaat kemudian dia beranjak berlalu meninggalkanku.








15 menit kemudian...




Aku masih duduk di tepi ranjang. Entah moodku seketika hilang? Aku ingin moment bersama April nggak akan habis.




“Mandi gih! Sebentar lagi kita berangkat!” Suara April membuatku memandang ke arahnya.




Sepertinya dia baru saja mandi, terlihat dia masih memakai kimono berbahan seperti handuk, aroma wangi shampo dan sabun semerbak memenuhui seluruh kamar. Seperti kehilangan hasrat dengan lemas kuterima handuk dari uluran tangannya, dan kemudian beranjak menuju kamar mandi.




Hanya dalam waktu 10 menit saja, aku telah menyelesaikan acara mandi dan mengganti pakaianku. Kaos hitam serupa tapi tak sama dengan yang kupakai tadi dan bawahan menggunakan celana training hitam.




April yang melihatku, berucap. “Udah siap?”




Kujawab dengan anggukan kepala.




“Sarapan dulu Gas, sebelum berangkat! April udah bikinin nasgor.” Katanya memberitahu.


“Makasih, Pril!” Sahutku kemudian.




Sebelum berangkat, sejenak kami sempatkan makan berdua. Terlihat di meja makan terhidang dua pirang nasi goreng, di atasnya terdapar telur mata sapi.




“Kok dilihatin aja, Gas?” tanyanya heran.


“Iya Pril,nih mau nyobain!” sahutku. Kuambil sesendok nasi goreng dan kumasukan ke dalam mulut. “Masak sendiri, Pril?”




Bukannya dia menjawab pertanyaanku, malah dia berkata yang lain.




“Kita berangkat sekarang, Gas!” Sembari tangannya meraih tanganku. Sekali lagi aku hanya bisa pasrah mengikutinya.




Kami berjalan menuju lift, dan tak seberapa lama pintu lift terbuka. Kami langsung masuk dalam lift, terlihat April memencet tombol berlogo B lalu tak lama kemudian pintu lift tertutup dan kurasakan lift itu mulai bergerak turun ke bawah.




Tak ada pembicaraan di antara kami selama berada di dalam lift, seakan pikiran kami terhanyut dalam khayalan masing-masing. Tak berselang lama, pintu lift terbuka.




Aku mengekor di belakang April, kami berjalan menuju sebuah mobil mini copper berwarna merah. Kami berpisah sesaat di mana April berjalan menuju pintu pengemudi yang berada di kanan dan aku sebaliknya.




April melajukan mobil, keluar dari area parkie yang berada di basement gedung ini. Jalanan yang lumayan sepi membuat April dengan lihainya melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, di dalam mobil pun kami masih terdiam. Antara kami tak ada yang berani memulai membuka percakapan. Kualihkan pandangan ke kiri menikmati hiruk-pikuk keramaian orang-orang di pinggir jalan.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar