dapur yang sempit
Setelah orgasme yang kuat, Tante Maya masih terbaring tengkurap di kasur tipis ruang tamu. Tubuhnya bergetar pelan, napasnya tersengal-sengal. Memeknya masih berdenyut pelan menggenggam sisa kontol Ari yang belum keluar. Cairan campuran mereka menetes perlahan ke kasur yang sudah basah.
Tante Maya menghela napas panjang dan bergetar. Wajahnya masih tenggelam di bantal, malu untuk menoleh ke belakang. Suaranya lemah, hampir tak terdengar.
"Ari.... cukup dulu... Tante sudah... sangat puas. Tubuh Tante capek..."
Ari mengangguk pelan meski kontolnya masih tegang dan berdenyut di dalam. Dengan hati-hati ia mundur, kontolnya keluar pelan dari memek Tante Maya yang hangat dan basah. Sensasi itu membuatnya menggigit bibir. la berdiri, celana kolornya sudah jatuh ke lantai sejak tadi. Kontolnya masih tegak sempurna, mengkilap oleh cairan Tante Maya.
Rasa tidak percaya menyelimuti Ari. Baru saja aku... dengan Tante Maya... istri Om Joko... Pikirannya kacau. Rasa bersalah yang dalam bercampur dengan kenikmatan yang masih membara di seluruh tubuhnya. Kontolnya belum mau lemas.
"Aku... ke kamar mandi dulu Tante," gumam Ari pelan, suaranya hampir hilang. la berjalan ke belakang tanpa memakai celana kolor, bagian bawah tubuhnya telanjang sepenuhnya.
Di dalam kamar mandi yang sempit, Ari berdiri di depan cermin kecil yang kusam. la menyiram wajahnya dengan air dingin berulang-ulang, tapi bayangan apa yang baru saja terjadi tidak hilang. Ini benar-benar terjadi... aku baru saja melakukan itu dengan Tante... Rasa bersalah semakin berat. Om Joko yang baik hati sudah menerimanya numpang, tapi ia malah mengkhianati kepercayaan itu.
Beberapa menit kemudian, Ari keluar dari kamar mandi. Bagian bawah tubuhnya masih telanjang, kontolnya masih setengah tegang. la berjalan ke dapur yang sempit untuk minum air. Aroma masakan malam tadi masih samar tercium.
Di dapur itu, Tante Maya sudah berdiri di depan wastafel. Dasternya sudah dirapikan, tapi rambutnya masih acak-acakan dan pipinya masih merah. la sedang menuang air putih ke gelas dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ari mendekat pelan. Lorong dapur itu benar-benar sempit, hanya cukup untuk satu orang lewat.
"Tante.
aku lewat ya..."
Tante Maya tidak bergeser. Malah tangannya memegang pinggir meja lebih erat, tubuhnya tetap membungkuk sedikit. "Lewat saja Ari..." bisiknya pelan, suaranya masih agak serak.
Saat Ari mencoba melewati di belakangnya, Tante Maya tiba-tiba menahan pinggul Ari dengan tangan kirinya, tidak membiarkannya lewat sepenuhnya. Tubuh mereka sangat dekat.
"Ari... tunggu sebentar..." suara Tante Maya pelan dan malu-malu. "Tante... masih pegel... pijit Tante lagi
ya….. sambil berdiri di sini.."
Ari membeku. Kontolnya yang masih tegang tanpa sengaja bersentuhan lagi dengan pantat Tante Maya melalui daster tipis. "Tante... di dapur... sempit sekali..."
Tante Maya tidak melepaskan tangannya. la menunduk, wajahnya panas. Kenapa aku bilang begini... ini sudah keterlaluan... tapi tubuhku masih panas... masih berdenyut... Rasa malu membakar pipinya, tapi hasrat yang belum sepenuhnya reda membuatnya sulit berhenti.
"Nggak apa... Tante nyaman... pijat pundak dan leher Tante dulu... pelan-pelan..."
Ari mulai memijat pundak Tante Maya dari belakang sambil berdiri. Tanganannya naik ke leher dengan gerakan melingkar yang lambat. Tapi posisi sempit membuat kontolnya yang tegang kembali menempel erat di belahan pantat Tante Maya. Bahkan beberapa kali, saat Ari memijat lebih dalam, kepala kontolnya tanpa sengaja menyentuh anus Tante Maya melalui kain daster.
Tante Maya mendesah pelan, suaranya tertahan. Birahinya perlahan kembali naik. Sentuhan kontol Ari yang panas dan tebal membuat memeknya berdenyut lagi. la diam saja, menikmati sensasi itu sambil pura-pura fokus pada pijatan, tapi hatinya penuh pergulatan.
Ini salah... aku baru saja selesai... kenapa aku malah ingin lagi... Ari... keponakan kita... aku istri yang buruk sekali...
Ari berusaha keras menahan nafsunya. "Tante... aku.... aku susah konsentrasi..."
Tante Maya tidak menjawab langsung. Birahinya sudah kembali membara. Akhirnya ia berbisik parau, suaranya penuh malu.
"Ari... angkat daster Tante sedikit... Tante mau kamu pijat pinggulnya juga..."
Ari mengangkat daster Tante Maya pelan. Kontolnya kini menempel langsung di belahan pantat Tante Maya yang tanpa celana dalam. Kulit mereka bersentuhan langsung, panas dan licin.
Sambil memijat pinggul Tante Maya, kontol Ari yang sudah sangat tegang tanpa sengaja menyentuh bibir memek yang masih basah. Tante Maya menggeser pinggulnya pelan, kali ini lebih tegas, mencari posisi agar kepala kontol Ari pas di bibir memeknya.
"Ari... dorong pelan..." bisik Tante Maya, suaranya gemetar karena malu dan hasrat.
Ari tidak bisa menolak. Kontolnya didorong pelan masuk ke memek Tante Maya dari belakang sambil tangannya masih memijat pundak. Mereka kembali pura-pura memijat, tapi gerakan Ari semakin dalam.
Tante Maya mendesah panjang, suaranya tertahan. "Ari... enak pijatanmu... dorong lebih dalam... pijat pinggul Tante sambil dorong..."
Ari memijat pinggul Tante Maya dengan kedua tangan sambil mengentot dari belakang. Gerakannya semakin kuat, kontolnya masuk dan keluar dengan suara basah yang jelas di dapur sempit itu. Setiap dorongan membuat Tante Maya menggigit bibir kuat-kuat supaya tidak mendesah keras.
Akhirnya Tante Maya orgasme lagi. Tubuhnya menegang hebat, memeknya mengejang kuat menggenggam kontol Ari. "Ari... Tante keluar lagi... ahh... puas sekali..."
Ari juga tidak tahan. Dengan dorongan terakhir yang dalam, ia menyemburkan sperma panas dan banyak ke dalam rahim Tante Maya sambil mendesah tertahan. Kontolnya berdenyut kuat, mengeluarkan mani kental yang memenuhi memek Tante Maya hingga meluber keluar.
Mereka berdua berdiri diam di dapur sempit itu, napas tersengal, tubuh masih saling menempel rapat.
Sperma Ari bercampur cairan Tante Maya menetes pelan ke lantai keramik.
Tante Maya masih membungkuk di depan wastafel, tangannya memegang meja erat-erat. Wajahnya merah padam. Rasa malu yang sangat besar tiba-tiba menyergapnya setelah gelombang kenikmatan surut. Apa yang aku lakukan... dua kali dalam satu malam... di dapur rumah sendiri... dengan Ari..
la tidak berani menoleh. Hanya bisik pelan dengan suara bergetar,
"Ari... sudah... Tante... Tante mau bersih bersih dulu..."
Ari mundur pelan, kontolnya keluar dengan suara basah. la berdiri diam, hatinya campur aduk antara puas dan rasa bersalah yang semakin berat.
Malam itu, setelah kejadian di dapur, mereka tidak banyak bicara lagi. Tante Maya merapikan daster-nya dengan tangan gemetar dan berusaha bersikap biasa. Ari kembali ke kamar kecilnya dengan kepala penuh pikiran.
Rumah kontrakan kecil nomor 7 terasa semakin sempit.
Dan rahasia di antara mereka semakin sulit disembunyikan.
bersambung
0 Komentar