sebuah kesempatan
TOK TOK TOK
"Lalaaaa...? Bukain pintunya Nak... Ini Mama... "
TOK TOK TOK
"Lala? Tolong bukain pintu..."
"Aaaahhhssss.. SIAAALLLAAANN..." Raung Pandu dalam hati, ketika mendapati kakak kandungnya,
Winda, sudah pulang kerumah.
Pandu bercabang. Antara tak menghiraukan ketukan pintu rumah Lala dan meneruskan perbuatan mesumnya. Atau membuka pintu dan berpura-pura jika tak terjadi apapun diantara Lala dan dirinya. Yang jelas, batang penisnya sudah begitu tegang. Dan amat sangat butuh pelampiasan.
"Ssshhh...Ommmmhhh.. Mama... Ooohhh.... Mama pulang" Desah Lala berusaha mengingatkan, sambil berusaha mendorong wajah birahi Pandu dari payudara mungilnya.
CUUUUPPPP SLUUURRRP SLUUURRRRPP
Berulangkali, Pandu berusaha tak menghiraukan permintaan Lala. Terus menyedot kedua payudara keponakannya tanpa henti. Terus mengilik ujung payudara Lala sambil terus memilinnya pelan.
"Uuuuhhh. Ommm.... Sssshh.. Udah Om... " Pinta Lala sembari terus berusaha menghentikan perlakuan cabul Pandu. "Mama pasti marah Om, kalo aku nggak bukain pintu..."
"AAAaarrgghhhh...." Sebal pandu karena kesenangannya terganggu.
"Gapapa ya Om... Nanti kita lanjut aja lagi di lain waktu..." Ucap Lala sembari mengusap lembut rambut
Pandu dengan penuh rasa sayang.
Mendengar kalimat diplomatis dari anak seusia Lala, membuat Pandu merasa seperti terhipnotis.
'Nanti kita lanjut aja lagi di lain waktu'
Dibenak Pandu, kalimat itu terasa begitu berarti. Seolah memberikan kesempatan, sekaligus ajakan yang begitu sulit untuk dilewatkan. Seperti harapan, untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih besar lagi di kemudian hari.
"Bener Neng?" Tanya Pandu, berusaha memastikan.
"lya Om.... Lain kali lagi..." Senyum Lala begitu menghanyutkan sambil terus mengusap kepala Pandu.
TOK TOK TOK TOK TOK TOK
"Fara Kumaaaaalaaaaaaaa...?"
TOK TOK TOK TOK TOK TOK
"Laaaalaaaaaaaa. Bukain pintunya Nak... Ini Mama... Lama amat sillihhhh???"
"Yaudah deh. Kamu bukain pintu dulu sana..." Ucap Pandu yang langsung mengangkat tubuh mungil
Lala dari pangkuannya lya Omkuuh..."
"Oiya, Nanti, kamu jangan bilang apa-apa ke mama Winda ya Neng. Kalo Mama nanya, kenapa lama buka pintu, bilang aja kamu ketiduran..." Jelas pandu memberikan skenario.
"lya.." Jawab Lala menganggukkan kepalanya.
"Beneran Ioh ya Neng. Pokoknya jangan kasih tahu Mama, tentang hal barusan tadi. Mengerti?" Wanti-
wanti Pandu memastikan.
"Hehehe. Lala ga bodo kok Om. Tenang aja..."
"Anak pinteerrr... Okelah kalo begitu, Om pulang dulu kerumah ya, cantik..." Ucap Pandu sambil membuka jendela kamar Lala, "Om sayaaaaaaang banget ama kamu, Neng..." Lanjut paman Lala itu sambil melompat keluar jendela.
TOK TOK TOK TOK TOK TOK
"Lalaaaaaa"
CKLEEK CKLEEEKK
"Aduh Aduh... Maap Maaaa.... Lala ga denger... " Tembak lala begitu melihat raut wajah cemas Winda begitu ia membuka pintu
"Ga kedengeran abis ngapain??" Selidik Winda sambil celingukan kedalam rumah.
"Lala ketiduran Maaa. Capek banget tadi sepulang sekolah..." Sambung putri Winda itu sambil menguap dan kucek-kucek mata. "Pak Rojim kasih tugas rumah banyak banget..."
"Hoalaah Sayaaaaang. Pantes, tumben-tumbenan kamu kunci pintu rumah..." Sahut Windasambil memeluk tubuh putrinya
"Abisan... Lala khawatir Ma... Soalnya ga ada orang dirumah.." Ucap Lala yang kemudian membalas pelukan ibunya
"Emangnya, Om Pandu daritadi nggak kesini?"
"Engga.."
"Hoalah. Yaudah. Sana bobo lagi gih... Istirahat..." Anjur Winda tersenyum menatap penjelasan Lala,
"Nanti sore, kamu kerumah Om Pandu aja Sayang. Minta dia bantuin kamu ngerjain tugas sekolah.."
"l.. Iya Maaa.. Pasti.."
光火火
Selama beberapa hari kedepan, Pandu merasa begitu bingung. la sama sekali tak mampu berpikir jernih.
Otaknya, terus-terusan mempertimbangkan permintaan Eko yang menurutnya benar-benar aneh itu.
Pikirannya berisikan segala hal mengenai kakak perempuan semata wayangnya.
Sepulang dari pertemuan terakhir di rumah Eko, Pandu mulai memperhatikan segala aktifitas Winda.
Merekam segala macam detail yang ada sangkut pautnya dengan kakak perempuannya. Dari sepulang sekolah, sore, malam, hingga bangun pagi keesokan harinya.
Bahkan ketika libur Sabtu Minggu, Pandu memilih tak bermain keluar rumah. la memutuskan untuk terus berada didekat keberadaan Winda dan merekam segala gerak gerik kakak cantiknya itu ingatannya.
Dan selama seminggu kedepan, disetiap harinya Pandu sengaja bangun tidur lebih awal, demi bisa mengetahui semua jadwal keseharian Winda. Seperti kapan kakaknya bangun tidur, kapan waktunya mandi, kapan berangkat sekolah dan seterusnya.
"Ternyata, Mbak Winda memang cantik..." Puji Pandu setelah memperhatikan kakak kandungnya itu lebih seksama, "Kamu memang begitu menggugah selera, Mbak..."
Wajah Winda, dimata Pandu, seolah tiba-tiba berubah. Dari yang semula wajah Winda hanya bernilai alakadarnya, sekarang berubah menjadi seperti artis. Putih, bercahaya, dan mempesona. Dengan
senyumnya, dengan bibir tipis kemerahan, terasa begitu menggoda.
Tubuhnya pun terlihat makin sensual. Walau sedikit pendek, tapi berat badannya ideal. Perutnya ramping dengan lekuk pinggang nan berkelok. Kakinya jenjang, dengan betis mulus tanpa noda dan paha yang begitu halus.
Melihat kecantikan Winda, seolah membuat Pandu merasa ada sebuah perasaan aneh yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Senyum Winda, membuat Pandu semangat. Lirikan mata Winda, membuat Pandu melayang. Dan kalimatnya, membuat Pandu terbayang-bayang. Pandu seolah merasa jatuh cinta.
Karena semakin Pandu berusaha mengalihkan perhatian dari kakaknya, pikiran dan hatinya selalu mengarahkan lagi padanya.
Detak jantungnya, sering menjadi tak menentu. Rasa panas di dada, sering muncul tanpa sebab.
Selangkangannya sering menggembung tanpa alasan.
Melihat semua 'kelebihan' kakaknya, seketika membuat Pandu merasa lelaki paling beruntung sedunia.
Bahkan, ketika Pandu memperhatikan lebih lanjut, ia mendapati jika ternyata Winda adalah seorang yang amat sangat cuek dan tak memperhatikan cara berpakaian.
Membuat Pandu, seringkali mendapati kemolekan tubuh kakak kandungnya didepan kedua matanya.
Payudara Winda, sering terlihat ketika Winda selesai mandi. Belahan payudaranya sering nampak ketika Winda membungkuk. Bongkah pantatnya sering tercetak ketika Winda menungging. Dan kilasan celana dalamnya sering terpampang jelas didepan mata.
Semua, membuat Pandu tak dapat mengontrol pikirannya. Penisnya begitu sakit. Ngilu sepanjang hari.
Tanpa tahu, gimana cara melampiaskannya sama sekali.
***
Flashback Start.
"Gimana Ndu?" Tanya Eko menanyakan ketika mereka sedang istirahat di kantin sekolah, "Kira-kira, udah ada keputusan belum?"
"Keputusan apa ya?" Tanya Pandu bingung.
"Hehehehe. Jadi... Pura-pura ga ngerti nih, ceritanya? Itu tuh... Permintaanku kemarin.." Sambung Eko sambil terkekeh, " Bisa nggak? Ngintip Mbak Winda-mu mandi??"
"Ohhh. Yang itu.... Ngggg...." Bingung Pandu cara menjawabnya.
"Nih. buat kamu.." Ucap Eko ketika melihat raut polos Pandu yang begitu gelisah untuk memutuskan
jawabannya. Buru-buru, ia menyodorkan beberapa lembar uang bertulisan seratus ribu ke Pandu.
"Ehh? Ngapain?" Tanya Pandu sedikit menolak.
"Trima aja. Itung-itung, itu buat ngebantu kamu mikir."
Melihat lembaran uang dihadapannya, pikiran pandu semakin kalut. Antara menerima atau menolak permintaan sohibnya itu.
"Kurang Ndu?" Tanya Eko lagi, "Nih. Aku tambahin lagi..." Lanjutnya sembari menyelipkan beberapa lembar uang ke saku seragam Pandu.
"Serius ini semua buat aku?" Tanya Pandu
"lya. Bahkan, kalo emang kamu mau lebih, itu bisa kita obrolin. Yang penting, aku bisa ngintip Mbak WInda-mu mandi..." Jelas Pandu makin menggoda, "Gimana? Bisa?"
Entah mendapat jawaban darimana, Pandu pun mengangguk. Mengiyakan permintaan Eko tanpa berpikir lebih jauh.
---
Hari yang dinanti pun akhirnya tiba. Hari dimana Pandu, akan memperbolehkan kemolekan tubuh kakak kandung tercintanya, dapat dinikmati oleh orang lain. Sebentar lagi, Eko akan melihat kepolosan aurat Mbak Winda-nya. Tubuh telanjangnya, tetek besarnya, vagina polosnya, pantat bulatnya, yang dalam beberapa menit kedepan, akan dilihat oleh orang lain.
"Oh Mba Winda..." Desah Pandu bingung. la mendadak merasa tak rela. Walau hanya sebatas pandangan mata, tetap saja hati kecil Pandu menolak keinginan Eko.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu, mengagetkan Pandu.
TOK TOK TOK
"Panduuu..."
Ada keraguan dalam diri Pandu. Antara memperbolehkan Eko masuk dan ujung-ujungnya mengintip kakak kandungnya mandi, atau tak merespon panggilannya. Membiarkan ia diluar sana hingga capek, dan akhirnya pulang lagi kerumah.
Akan tetapi, ditengah ketidakrelaan itu, tiba-tiba muncul perasaan aneh, yang membuat birahi Pandu mulai meluap. la ingin melihat reaksi Eko ketika melihat ketelanjangan kakak kandungnya. Iya, Pandu ingin mendapati, apa komentar Eko akan kecantikan dan keindahan tubuh seksi Mbak Winda-nya.
CKLEK
"Cepet amat datengnya Ko..." Ucap Pandu yang tak mampu menahan lagi rasa penasarannya.
"Mbak Winda udah pulang sekolah?" Tanya Eko tak sabaran, "Dimana dia sekarang?"
"Udah.. Yaa... Kira-kira sejaman lalu" Jawab Pandu, "Palingan, sekarang dia masih tiduran dikamar"
"Oh... Oke oke..." Jawab Eko melangkah masuk sambil celingukan, "Trus jam berapa Mbakmu mandi?"
"Kira-kira, tiga jam lagi dia bangun..." Sambung Pandu, "Setelah itu, ia nonton TV sebentar. Trus mandi sore ... Yowes masuk gih..."
"Kalo gitu, aku nunggu dikamarmu aja ya?" Tanya Eko
"Bebas, Ko..." Sahut Pandu yang kemudian mengajak sohibnya masuk kekamarnya yang ada diujung belakang rumah. Sesekali, Pandu menceritakan kondisi rumahnya ketika siang. la juga menjelaskan rencana pengintipan Winda ketika nanti di kamar mandi.
Sembari berjalan kearah kamar, Eko terus saja celingukan keseluruh penjuru rumah Pandu. Dan ketika ia melewati kamar Winda, tiba-tiba, ia berhenti.
"Ndu..." Bisik Eko, "Kalo sekarang, kira-kira Mbak Winda-mu sedang apa?"
"Ngggg... Gatau juga Ko, aku belom pernah ngintip dia didalem kamarnya..." Jawab Pandu sambil mengangkat bahunya.
"Kita intip yuk..." Ajak Eko sambil tersenyum tipis.
"Nngggg.. Pas mandi nanti aja deh Ko. Aku khawatir Mbak Winda bangun..." Cemas Pandu.
"Mbak Winda baru aja pulang sekolah sejam tadi khan? Kayanya, kalo dia tidur, nggak bakal bangun.
Percaya deh..." Ucap Eko mencoba meyakinkan Pandu sambil menunjuk kearah jendela kecil yang ada
diatas pintu kamar kakaknya.
Dengan sigap, otak mesum Pandu langsung memerintahkan untuk mengambil kursi, dan meletakkannya tepat didepan pintu kamar kakaknya.
"Aku duluan ya..." Ucap Eko yang dengan gagah berani, naik keatas kursi. Dan tanpa rasa takut. la mengintip kondisi kamar kakak Pandu dari jendela pintu kamarnya. "Mbak Winda lagi tidur Ndu.
Sepertinya kecapekan..."
"Ohhh. Coba liat...." Sahut Pandu.
"Sebentar..." Jawab Eko lagi. "Mbakmu, tidurnya masih pake seragam. Kayanya nyenyak sekali..."
Dengan cekatan dan hati-hati, Eko lalu menjulurkan tangannya kearah gagang pintu. Lalu, dengan gerakan superpelan, ia memutar gagang itu. Dan. CKLEK
"Ga dikunci Ndu..." Girang Eko yang kemudian membuka pintu kamar Winda sedikit demi sedikit.
"Ah.. Sial.... Kenapa hal ini tak terpikirkan olehku..." Geram Pandu ketika mendapati kamar kakaknya tak pernah terkunci ketika ia tidur.
"Sebentar. Kita tes dulu. Mbak Winda-mu kalo tidur se-lelap apa..?" Ucap Eko sambil mengambil buku dari meja belajar Winda yang ada disamping pintu, dan melemparkannya kelantai. Tepat disamping tempat tidur Winda.
BLUGGH
"НЕЕЕЕН. GILA KAMU KO..."Kaget Pandu melihat cara Eko mengetes tidur kakaknya.
"Ssssstttt... Jangan berisik..!" Ucap Eko santai.
"Kamu yang BERISIK!!!"
"Sssssstttt. Percaya deh ama aku..."
Dan benar. Winda tak bergeming. la tetap tidur tanpa terganggu sedikitpun. Matanya masih terpejam,
dan gerak dadanya masih teratur.
BRUUUUGGG
Lagi-lagi, terdengar suara benda terjatuh. Kali ini, suara yang dihasilkan jauh lebih kencang daripada sebelumnya. Setelah diperhatikan, Eko tadi menarik tas sekolah Windadari atas lemari belajar dan membiarkannya jatuh berdebam kelantai.
"AMAN..."Seru Eko dengan wajah berseri-seri, "Mbakmu, sepertinya kalo tidur, mirip KEBO, Ndu. Susah dibanguninnya..." Sambungnya lagi sembari membuka pintu kamar Winda lebih lebar lagi.
"Kamu mau lihat ga? Gimana Mbak Winda-mu kalo sedang tidur?" Tanya Eko memberikan sebuah penawaran yang tak bakal bisa ditolak Pandu.
"Ngggg..." Jawab Pandu ragu.
"Mau nggak?"
Pandu mengangguk. Sambil berpikir heran. Harusnya, dirinya lah yang sepatutnya lebih tahu mengenai kakak kandungnya. Bukan Eko.
Tapi, apa boleh buat. Pandu memang tak seberani Eko. Pandu juga tak semesum Eko. Dan yang jelas, jam terbang Eko dalam hal mesum dan cabul seperti ini, jauh lebih banyak daripadanya.
Dengan gerakan pelan namun santai, Eko masuk kedalam kamar Winda tanpa dibarengi oleh Pandu.
Adik Winda itu masih diliputi oleh perasaan takut. la hanya bisa menatap was-was sohibnya dari celah
pintu dengan perasaan birahi yang makin menggebu.
"Mbak Winda-mu, memang cakep banget ya Ndu..." Seru Pandu memuji kecantikan gadis yang sedang tidur dihadapannya. "Seksi..." Sambungnya lagi sambil duduk di tempat tidur Winda. Diusapnya rambut Winda pelan, sambil sesekali mengelus pipinya.
"E....Kooooo!!!" Panik Pandu ketika melihat kenekatan sohibnya itu. "Udah ah. Ayo keluar..." Eko tak menjawab, ia hanya tersenyum kearah Pandu sambil terus mengelus pipi Winda.
"Ahhh... Ayo keluar Ko.. Jangan cari perkara dah..."
Mendengar kepanikan pada suara Pandu, membuat Eko semakin berani berbuat lebih jauh. Sohib Pandu itu, malah berani menyibakkan rambut yang menutupi wajah Winda. Membuat kecantikan wajah kakak kandung Pandu itu, semakin terpancar jelas.
Bahkan, tanpa meminta ijin, tangan Eko tiba-tiba bergerak kearah leher Winda. Membuka kancing baju seragamnya satu persatu hingga semuanya terlepas. Setelah itu, ia sibakkan kesamping, sampai-sampai memperlihatkan kedua payudara berukuran besar yang masih terbungkus dengan beha warna cream.
"Busyeet. Gede banget nih tetek Mbak-mu, Nduuu..." Seru Eko dengan mata melotot. Seolah mau lompat saking girangnya karena melihat bulatan daging montok Winda.
GLEK
Walau Pandu melihat penampakan payudara Winda dari kejauhan, seketika tenggorokannya terasa kering. Membuatnya kesulitan menelan ludah.
"Mau pegang nggak, Ndu? Pasti halus dan empuk deh rasanya..." Ucap Eko yang tanpa persetujuan Pandu, mulai menyentuh kulit payudara Winda. Mengelus kedua buah dada Winda sambil sesekali meremasnya pelan. "Bener Ndu... Empuk banget tetek Mbak-mu ini"
"Heeeeeehhhhhhhhh!!!!" Erang Pandu tanpa suara. Walau hatinya merasa begitu keberatan dengan apa yang sedang Eko lakukan pada kakak kandungnya. Namun, entah kenapa Pandu tak merasa cukup berani untuk melarangnya. Bahkan, untuk sekelebat niat, Pandu ingin melihat Eko sedikit mencabuli Mbak Winda-nya.
lya, Pandu ingin melihat reaksi Mbak Winda. Apa yang ia lakukan jika mendapati ada seseorang yang sedang menodai dirinya.
"Heeeh. Malah bengong aja. Kamu mau pegang tetek Mbak-mu nggak?" Ulang Eko menawarkan hal yang tak pernah Pandu bayangkan sebelumnya.
Sebenernya, Pandu ingin sekali bisa ikut merasakan kelembutan payudara Mbak-nya. Hanya saja, entah kenapa ia menggelengkan kepala. Mungkin, rasa takut ketahuannya, lebih dominan ketimbang rasa ingin tahunya. Walhasil, ia mengabaikan rasa penasarannya dan memilih untuk membiarkan sohibnya,
mencabuli kakak kesayangannya lebih jauh lagi.
"Bener nih...? Gamau remes-remes tetek Mbakmu?" Goda Eko menawarkan terakhir kalinya, "Yaudah kalo kamu gak mau."
Setelah dirasa cukup meremas-remas
payudara Winda, tangan mesum Eko lalu pindah ketubuh bagian
bawah. Ditatapnya rok biru Winda yang setengah terbuka itu dengan penuh rasa nafsu. Sekilas, Eko menatap kearah Pandu yang masih berdiri di gawangan pintu, lalu melambaikan tangan supaya
mengajaknya mendekat.
Lagi-lagi, Pandu menggeleng. la masih tak berani meladeni kenekatan sohibnya.
"Huuu. CUPUU..."Ledek Eko sambil tersenyum. Setelah itu, ia kembali menghadap kearah Winda. Dan dengan santai, tangan mesumnya kembali menarik bawahan rok sekolah Winda hingga sebatas
didepan kedua mata Eko dan Pandu.
lengan sante uat pana dan celana dalam gadis yang sedang tertidur nyenyak itu, terpampang je
"Beneran Ndu. Sini... Mbak-mu tuh ga bakalan bangun....Sini deh. Coba rasain paha Mbakmu ini..." Seru Eko santai. Yang kali ini, meraba paha mulus Winda dan perlahan merayap naik kearah gundukan vagina
Winda yang tercetak nyata di celana dalamnya.
"Busyeeet... Mulus bener pahanya Nduu... " Seru Eko yang berulang kali, mengusap paha putih Winda.
Naik turun sambil sesekali meremasnya pelan. "Kamu udah pernah ngerasain belom?"
Pandu menggeleng.
Melihat keberanian Eko, adik Winda itu merasa amat sangat iri. Hati kecilnya meronta, ingin ikut merasakan kemesuman bersama Eko, namun Pandu bener-bener tak bernyali sedikitpun. la lebih memilih menikmati rasa penasarannya. Karena selama tinggal bersama Winda, ia sama sekali belum pernah merasakan kehalusan paha kakak kandungnya itu.
"Kalo ngusap paha Mbakmu kamu nggak mau... Ngusap memek pasti mau dong...?" Ucap Eko yang tiba-tiba, meremas lembut daging selangkangan Winda.
"GILA. Ini gila..." Jerit Pandu dalam hati.
"Wuiihhh. Ndduuuu. Memek Mbak Winda-mu, empuk banget Nduuu... Hangat..." Senyum Eko sambil mulai menggerakkan jarinya naik turun, tepat di belahan celah vagina Winda, "Kamu pernah nggak?
Ngebayangin kaya gini? Atau mungkin kamu pernah nggak, berimajinasi ngentotin memek Mbak tersayangmu ini?"
"UDAH KO...UDAH..." Erang Pandu emosi. la buru-buru masuk lebih jauh kekamar Winda. Kemudian menarik tangan Eko, dan menyeretnya keluar kamar. "Perjanjiannya nggak kaya gini, Ko..."
"Hehehe. Iya iyaaaa..." Kekeh Eko tanpa merasa bersalah.
"Memang. Perjanjiannya nggak seperti ini..." Ucap Eko sambil merogoh saku celananya, dan menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke saku baju Pandu "Nih. Tambahan buatmu. Makasih ya.
Udah kasih aku sedikit kesempatan buat menikmati tubuh Mbak tercintamu... Hehehe"
"Oke. Sekarang kita pindah kekamarmu deh. Nunggu waktu buat ngintip Mbak Winda mandi..."
Bersambung,
0 Komentar