pandu dan lala part 9

 



unjuk gigi


Cinta pertama, adalah sebuah momen, atau saat, dimana seseorang akan merasakan euforia dan perasaan senang yang intens untuk pertama kali. Cinta bisa menyerang siapa saja tanpa terkecuali. Pria, wanita, tua, muda, kaya, miskin, semua pasti akan merasakan apa yang namanya cinta.

Termasuk Pandu, yang pada akhirnya, berani untuk mengatakan perasaannya. Meskipun pada awalnya takut karena ancaman, dan tekanan Winda, namun pada akhirnya, pemuda culun itu juga mendapat sebuat kejutan, dari apa yang dinamakan cinta.

- - Awal Kilas Balik - -

TOK TOK TOK TOK

kurang sabaran.

"Deeek...?" Panggil Winda mengetuk pintu kamar Pandu. "Deeeekkk.?" Sambungnya dengan nada

Merasa tak mendapat respon dan jawaban dari Pandu, Winda pun membuka pintu kamar adiknya Masuk. Kemudian menghambur ke tempat tidur. Menepuk-nepuk pipi Pandu sehingga ia terbangun dari tidur siangnya.

PUK PUK PUK PUK

"Deeeeekkk....? Bangun Deeekkkk..." Ucap Winda terus menepuki pipi Pandu.

PUK PUK PUK PUK

"Eehhh. Mbak...?" Jawab Pandu membuka mata, terkaget karena tepukan tangan Winda yang tak henti-hentinya menampar pelan.

"Melek Dek... Bangun..."

Pandu mengerjapkan matanya. Menatap kearah Winda yang sepertinya baru saja pulang sekolah.

Semerbak aroma matahari, terpancar dari tubuh gadis cantik yang ada di hadapannya.

Membuat mata Pandu, merayap dari wajah kakak kandungnya, kebawah. Kearah leher Winda yang basah karena keringat, ke ketiaknya yang lembab, ke payudara besarnya yang lepek, dan ujung-ujungnya kearah selangkangan yang beraroma menyengat.

Pikiran aneh Pandu, langsung terbang. Mengimajinasikan tubuh molek Winda yang ada disamping tempat tidurnya. Meskipun ia masih berseragam sekolah, dimata Pandu kakak kandungnya itu sudah bertelanjang bulat.

"Pasti celana dalam mbak Winda hari ini... Asem banget nih..." Pikir Pandu yang secara otomatis, membangunkan batang penis di selangkangannya.

"Deeeekk..Malah bengonnng..." Panggil Winda yang lagi-lagi menepuk pipi Pandu, "Deeeek..."

"Eeeehhh.?" Kaget Pandu lagi-lagi, tergugah dari lamunannya.

"Sejak kapan kamu suka ngintip, Dek?" Tanya Winda dengan waut wajah penuh tanda tanya. Ditatapnya wajah sayu Pandu yang belum sepenuhnya sadar dari tidur lelapnya.

"Ngggg..." Bingung Pandu mencari kata, karena tak disangka, Winda menanyakan hal itu.

"Siapa yang ngajarin kamu kaya gini sih...? Kok mendadak jadi cabul..."

"Setahu Mbak, kamu tuh ngga kaya gini deh..."

"Sekarang kamu kok mesum ya Dek...?"

"Seharian Mba mikir, Mba mengingat-ingat, dan memperhatikan kamu... Kok adik Mba, suka banget ya ngelakuin hal yang aneh-aneh sih...?"

"Aneh-aneh...?" Tanya Pandu.

"lya... Sekarang kamu Suka nyolong celana dalam... Suka nyolong beha..."

"Suka coli..."

"Dan yang bikin Mba makin heran, kok ya colinya pake baju-baju Mba...."

"Kenapa nggak baju Mama atau baju temen cewe kamu...?"

"Kamu sadar nggak sih...? Kalo Mba tuh kakak kamu...?"

"Aduuuhh.. Mba pusing Dek..."

"Mba ngga ngerti deh... Apa yang ada di otak kamu... Sehingga kamu sekarang kaya gini..."

"ITU SEMUA... KARENA MBA CANTIK...!!" Teriak Pandu spontan, karena bingung dengan semua serbuan pertanyaan Winda. "Dan dari kecantikan Mbak... Membuatku jadi selalu kepikiran tentang Mba... " Sambung Pandu dengan nada yang lebih pelan.

"Karena Mba cantik, yang ada dikepalaku cuman Mba.."

"Kecantikan wajah Mbak, Senyum Mba, Tawa Mba, pokoknya semua tentang Mba..."

"Trus... Kenapa kamu jadi cabul gini Dek...?" Potong Winda ditengah penjelasan Pandu.

"Lelaki normal mana? Yang bisa tahan untuk ga berbuat cabul? Kalo deket bidadari kaya Mba...?" Jelas

Pandu dengan mata yang sekarang mulai berkaca-kaca.

"Mba cantik, seksi, molek... Membuat otakku jadi ga bisa berpikir mengenai hal lain..."

"Bagiku, Mba tuh mirip candu..."

"Dan sekali kena candu... Ga akan pernah bisa lepas darinya..."

"Kamu cantik Mba.. Itu alesan utama Adek menyukai Mba..."

"Dan maaf kalo pada akhirnya, Adek menjadikan baju-baju Mba sebagai pelampiasan..."

"Adek takut... Mba akan menganggap Adek aneh... Menjauhi Adek... Mengucilkan Adek..."

"Karena Adek.."

"CINTA...'

"Kepada Mba Winda... Kakak kandung Adek..." Tutup Pandu dengan setitik air mata yang menetes dari ujung matanya.

Mendengar curahan isi hati Pandu, Wajah winda seketika itu langsung memerah. la tak mengira akan

kejujuran Pandu mengenai apa yang ia rasakan selama ini. Ditatapnya mata adik semata wayangnya yang mulai berkaca-kaca. Diusapnya kening Pandu, dan tersenyum.

"Kamu....Serius Dek? Dengan apa yang kamu ucapkan tadi.?" Tanya Winda sambil terus mengelus dahi

Pandu, "Jadi selama ini, kamu......

"lya Mba... Aku..... Aku suka dengan Mba..." Ucap Pandu yang menatap mata Winda dengan perasaan malu-malu. "Dan semakin aku pendam perasaanku ini, aku jadi makin sadar Mba... Kalo aku nggak bisa sedetikpun tanpa mikirin Mba..."

Setelah mengucapkan sebagian isi hatinya, penis Pandu tiba-tiba menggeliat.

Menggembung besar, karena desakan darah birahi yang memompa ke seluruh syaraf kemaliannya. Dan, entah kenapa, secara spontan, tangan Pandu tiba-tiiba menjulurkan tangannya, meraih barang yang

menonjol di tengah selangjangan, dan membetulkan posisi batang penisnya.

"Kamu

ngaceng Dek...?" Celetuk Winda ketika melihat gerakan tangan Pandu yang terpusat

diselangkangannya.

"Eeehh..." Kaget Pandu malu, karena ternyata kakak kandungnya memperhatikan gerak-geriknya.

"Emangnya... Kenapa kamu pegang-pegang selangkanganmu Dek...? Kamu terangsang...?"

"Nggg Nggak kok Mba... Aku cuman.... Nggg....."

"Ayo coba... Keluarin tititmu... Dek. " Cetuk Winda sambil menatap kearah selangkangannya Pandu yang sudah menggembung, " Mbak pengen lihat..."

"Hahh...?" Ucap Pandu kaget.

"Ayo Dek.... Cepet keluarin... Mbak pengen lihat. " Seru Winda menarik-narik celana sekolah Pandu,

"Gantian dong... Masa kamu udah lihat tetek dan memek Mba.... Mbak ga boleh lihat tititmu..."

"Aku malu Mba..." Ucap Pandu dengan mulut gemetaran.

"Halah... Malu kenapa sihh...? Toh kemarin pas ngintip, kamu nggak malu sama sekali. Bahkan, kamu sampe bisa coli segala...

"Aku malu kalo.... Ngggg... Nanti... Mbak bakalan ketawa pas liat tititku..."

"Laaah...? Emang kenapa Mbak bisa sampe ketawa...?"

"Karena.. Ngggg.... Tititku..... Kecil...." Ucap Pandu dengan wajah yang memerah sambil menekan batang penisnya yang semakin menggembung dari luar celana.

"Ya makanya... Coba kasih liat... Sekecil apa tititmu itu...." Rujuk Winda yang terus menarik-narik celana pendek Pandu.

"Aa...Aku malu, Mbak... " Ucap Pandu mencoba mempertahankan diri.

"Buka nggak... Celana pendekmu...!" Ancam Winda seperti kehilangan kesaraban. "Atau kalo kamu nggak mo ngeliatin... Mba laporin Ayah loh...."

Mendengar ancaman Winda, Pandu seketika itu merasa terpojok. Dan akhirnya menyerah. la lebih memilih malu karena penilaian Winda terhadap dirinya, ketimbang harus berurusan dengan ayahnya.

"Gimana...? Buka celana dan kasih lihat tititmu...? Atau Mbak laporin semua perbuatan mesummu...?"

Dengan masih dalam posisi rebah, Pandu mengangkat pantatnya. Manggeser tali pinggang celana sekolahnya turun, hingga lutut. Setelah itu, Pandu buru-buru menutup area selangkangannya dengan kedua tangan.

"Buka nggak...?" Pinta Winda menarik kedua tangan Pandu.

Lagi-lagi, Pandu menurut. la menarik telungkupan tangannya, dan membiarkan mata Winda menatap kearah kemaluannya.

"Hmmmm... Kamu tuh belum sunat khan ya Dek...?" Tanya Winda ketika menatap heran kearah kepala penis pandu masih memiliki kulit penutup.

Pandu menggeleng, "Emang kenapa Mbak?"

"Itu...Kok masih ada kulupnya..." Balas Winda menunjuk kearah kulit penutup kepala penis adiknya.

"Khan setiap kali aku diajak ke Matri, aku selalu panas tinggi Mbak..."

"Ooh iya ya.. Sepertinya... Udah 3 kali ya, kamu gagal sunat... Hehehe" Kekeh Winda, "Makanya Ayah ga ngajak kamu ke Mantri lagi..."

"lya..."

Ditengah percakapan Pandu dan Winda, tiba-tiba, ada sebuah keanehan yang terjadi. Ketika Winda menatap tajam kearah selangkangannya, penis Pandu yang semula setengah tegang, entah kenapa

makin menegang. Membesar perlahan hingga pada akhirnya, tak mempu lagi Pandu sembunyikan.

"Mbak ga ngira loh Dek... Kalo tititmu sekarang udah sebesar itu dek..." Ucap Winda kagum.

"Nggg... Emang... Ukuran segini tuh.... Besar ya Mbak...?"

"lya... Tititmu tuh besar Dek... Bahkan... Menurut Mbak... Udah ga pantes lagi disebut titit..."

"Terus...? Disebut apaan dong...?"

"KONTOL..."

"Kontol...?"

"lya... Titit kalo udah segedhe ini.... Disebutnya kontol Dek..." Jelas Winda, "Pandu, si kontol besar..."

Mendengar Winda memberikan nama panggilan baru buat dirinya, membuat Pandu mendadak pongah.

Walhasil, ia tak malu-malu lagi karenanya. Bahkan sekarang, ia dengan percara diri, memperlihatkan batang kemaluannya yang menjulang tinggi dihadapan kakak kandung tercintanya dengan gagah.

"Kok bisa besar gini ya sekarang...? Padahal usianya masih muda..." Gumam Winda seperti sedang berbicara dengan diri sendiri, "Cowok-cowokku aja kontolnya ga ada yang sebesar ini..."

"Ngggg.... Gimana-gimana Mbak...? Maksudnya gimana...?" Kaget Pandu ketika mendengar Winda sering melihat penis pacar-pacarnya.

"Ehhh..? Kenapa Dek...?" Kaget Winda tersadar dalam lamunannya.

"Tadi Mbak bilang... Kontol cowok-cowok Mbak...? Emang Mbak Winda udah pernah ngelihat kontol siapa aja...?"

"Oh itu... Ehhh... Itu... Ngggg... Nganu...." Buru-buru, Winda menutup mulut dengan kedua tangannya.

Kakak Pandu itu seketika tersenyum kikuk. Mukanya mendadak memerah, dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Maksudnya.. Ngggg... Lupain ajalah ucapan Mba barusan..."

"Siapa aja Mbak..?"

"Ssshhh... Udah-udah... Disini, Mbak pengen tahu tentangmu... Jadi... Gausah bahas Mbak..."

"Tapi aku pengen tahu, Mbak...

"Sssssshhhh..... Udah... Stop..." Winda mengatupkan jarinya di depan bibir Pandu. "Sini mendekat..."

Dengan perasaan bingung, Pandu menggeser pantatnya. Lebih mendekat ketempat Winda duduk .

Kemudian, Winda dengan seksama mulai memperhatikan penis adik kandungnya. Mulai dari ujung kepalanya, urat-urat yang menonjol disekujur batang penisnya, hingga turun sampai ke buah zakar.

"Kamu kalo ngocok, kulupnya bisa sampe kebuka semua ngga...?" Tanya Winda yang lagi-lagi menunjuk kearah kepala penis adik kandungnya.

"Kulup...?" Bingung Pandu

"lya... Kulit yang nutupin kepala kontolmu itu tuh.. Kalo kamu sedang coli, bisa ketarik kebawah semua ngaak??


"Nggg.. Narik kulit kepala kontol...?" Ucap Pandu semakin bingung, "Maksudnya gimana sih Mbak..?"

"Gini deh... Mbak coba kasih unjuk ya..." Sahut Winda yang dengan tanpa basa-basi, meraih batang penis Pandu, dan mulai membelai kemaluan adik kandungnya.

"Hmmmm. Panas banget Dek..." Ucap Winda yang lagi-lagi, tanpa meminta ijin mengusap precum yang keluar dari mulut kepala penis Pandu dengan jempolnya. Setelah itu, tangannya mulai bergerak naik turun dan menarik kulit kepala penis pandu kebawah.

"Aawwww.... Awwww.... Sakit Mbak... " Erang Pandu.

"Tahan sebentar..."

Perintah Winda yang terus menarik paksa kulit kepala penis Pandu kebawah.

Membuat kulit kulup yang tipis itu meregang dengan kuatnya.

"Sssshh.. Aaaawwww... Mbaaak.... Sakiittt..." Rintih Pandu berusaha mengambil alih batang penisnya.

"Tahaaannn...." Tepis Winda sambil terus memaksa kulit kulup penis Pandu tertarik sepenuhnya.

Hingga tak lama kemudian,

MLEK.

Kulit kepala penis Pandu pun pada akhirnya bisa tertarik sepenuhnya kebelakang. Membuat kepala penisnya, tercekik ujung kulup, dan membonggol merah.

"HUUUUFFFFFFFF.. Akhirnyaaa..." Lega Winda yang pada akhirnya, bisa membuat kepala penis

Pandu, terbebas dari tutupan kulit kulupnya.

"Aduuuhhh... Sakit Mbak..." Ucap Pandu terus berusaha mengambil alih batang penisnya. Namun, tak juga berhasil. Karena setiap kali ia ingin mengusir tangan Winda dari batang selangkangannya, kakak kandungnya ini selalu melotot.

"Sekarang... Kamu bakalan ngerasain nikmat yang lebih hebat daripada kemarin..." Ucap Winda sambil terus menggerakkan tangannya naik turun. membiasakan kelenturan kulit kulup Pandu supaya bisa terbuka sempurna.

"Nikmat apaan... Sakit banget tahu Mbak..." Rutuk Pandu terus-terusan mengeluh.

"Sakit apaan sih Dek...? Ini tuh enak looh..." Goda Winda sambil terus menarik ulur kulut kepala Penis

Pandu dengan jemari lentiknya.

"Enak darimananya...? Yang ada mah tititku terasa periilihhhhh..."

"Titit...? Yang mana ya...?" Goda Winda seolah bingung dengan ucapan Pandu.

"KONTOL adek Mbak... PERIIIHHHH..."

"Hihihihi.. Padahal... Cowok-cowok Mbak, suka banget loh kalo Mbak giniin..." Kekeh Winda dengan tatapan mata sayu kearah batang penis Pandu

"Ehhhh.... Tuuuhhh... Tuuuhhh... Cowok-cowok yang mana Mbak..?"

"Uppsss..." Ulang Winda yang buru-buru menutup mulutnya lagi dengan satu tangan.

"Uuuuuhhhhsss..Bau pesing apa nih...?" Tanya Winda ketika melihat ada serpihan-serpihan lengket

berwarna putih kekuningan di jemari tangannya. "Adeeeekkkk.. Kamu ga pernah bersihin kontolmu yaaaa.. Jorok banget silihhhh.....!!?"

"Hah...? Bersihin gimana Mbak....?"

"Ini... Kontolmu banyak tahi kencingnyaaaaa..."

"Tahi kencing...?" Heran Pandu.

"Sumpah, punya Adek kok ya blo'on banget sih..." Omal Winda yang buru-buru menorehkan serpihan lengket ditangannya ke sprei tempat tidur Pandu. "Lihat nih... Di leher kepala kontolmu... Banyak tahi kencingnya. Atau yang dinamakan smegma..."

"Smegma...?"

"Ini tuh tempat ngumpulnya kotoran Dek. Bahaya tahu kalo ketelen atau masuk ke memek cewekmu

besok... Penuh penyakit..."

"Emang siapa juga sih...? Yang bakalan nelen titit aku Mbak...? Wong aku juga baru kali ini ngelihat apa itu smegma...

"Hmmmm. Bener juga yak... Hihihihi..." Kekeh Winda sambil sedikit berpikir. "Yaudah.... Kalo gitu Mbak bantu bersihin aja ya..... Biar ga pesing banget gini...."

"Terserah...

Dengan telaten, Winda mulai membersihkan serpihan-serpihan smegma penis Pandu yang tersembunyi dibalik leher penisnya. Meskipun hanya dengan sapuan kain sprei, kakak kandung Pandu itu terlihat begitu perhatian dengan kesehatan kelamin adiknya.

Bahkan tak disitu saja. Sesekali, Winda terlihat mencium jemari tangannya, seolah ingin mengechek, apakan penis adik semata wayangnya itu, sudah benar-benar bersih atau belum.

"NAAAAAHHH.... Kalo gini khan... Kontolmu jadi makin keliatan gagah, Dek..." Puji Winda sambil memperlihatkan batang penis Pandu yang sudah bersih kepada pemiliknya, "Dan kalo gini... Sekarang, kamu nggak bakalan malu, kalo minta sepongin kontol ke pacarmu..."

"Sepong...? Makanan apa pula itu Mbak...?"

"ADDDUUUUH... Sumpah... Kamu kudu cari pacar deh Dek... " Ucap Winda yang tak habis pikir dengan kepolosan adik kandungnya.

"Buat apa Mbak...?"

"Ya buat ngebantu ngurangin keBEGOan-mu..."

"Aku nggak mau cari pacar Mbak..." Ucap Pandu lirih.

"Laaah...? Kenapa.....?"

"Nggak mau aja..."

"Emang kamu nggak mau deket ama cewek...?"

Pandu menggeleng

"Emang kamu nggak mau diginiin ama cewek...?"

Pandu tak menjawab. la hanya menatap jauh kebawah. Kearah tangan Winda yang masih aktif naik turun dibatang penisnya.

"Karena cewek yang mau aku jadikan pacar... Udah ada disampingku...." Ucap Pandu singkat.

Winda seketika itu, menghentikan gerakan tangannya. Menatap Pandu yang masih melihat lurus kearah jemarinya yang membelit penis adik kandungnya dalam-dalam.

"Segitunya kamu ama Mbak, Dek...?" Tanya Winda.

Pandu mengangguk. "Aku CINTA kamu Mbak..."

"Hmmm.... Khan Mbak.... Kakak kandungmu, Dek..." Ucap Winda lirih, "Kamu nggak seharusnya punya rasa itu ke Mbak..."

"Lalu... Titit... Eh..." Pandu diam sejenak. Menatap wajah Winda yang tak henti-hentinya menatap

kearah batang yang menjulang ditengah selangkangannya, "Kontol... Yang sedang Mbak maen-maenin ditangan Mbak... Juga bukan punya cowok Mbak..."

Winda buru-buru melepas batang penis Pandu.

"Aku rela kok Mbak.... Dijadikan barang mainanmu...." Ucap Pandu yang entah mendapat keberanian darimana, langsung meraih tangan Winda. Menariknya pelan, dan mengarahkannya kembali ke batang penisnya. "Meskipun mungkin bukan sekarang... Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga... Untuk bisa mendapatkanmu... Seutuhnya..."

"Kamu gila Dek..." Ucap Winda yang kembali mempermainkan batang penis Pandu.

"lya. Karena kamu, Mbak cantik-ku..."

"Kontolmu juga ternyata... Keras banget..."

"Sshhh...Itu juga karena-mu..." Lenguh Pandu mulai merem-melek keenakan.

"Dan

sepertinya... Kamu udah sange banget ya...? Hihihi...." Sambil terkekeh, Winda lagi-lagi

menggerakkan ibu jarinya ke mulut penis Pandu. Mengusap precum yang tak henti-hentinya keluar dari mulut penisnya.

"Ennggghh..." Erang Pandu, ketika merasakan jari kakak kandungnya digeser-geserkan di sekeliling lobang kencingnya. Membuatnya merasa bagaikan ayam yang hendak disembelih. Meronta, mendesis, dan mengejat keenakan.

"Kenapa Dek...? Sakit...?" Tanya Winda ketika melihat tingkah Pandu yang baru pertama merasakan kenikmatan dari tangan kakaknya.

"Ennnggg... Enggak Mbak....."

"Terus... Kalo engga sakit, kenapa kamu meronta-ronta seperti itu..."

"Nggg. Geli..." Jawab Pandu, "Juga enak..."

"Kalo gitu.... Mbak berenti...? Atau terusin...?"

"Terserah Mbak aja...

"Yaudah... Kalo kamu ngerasa kegelian... Mbak udahin aja ya...?"

"JANGAN...." Teriak Pandu spontan. Buru-buru, ia menangkap tangan WInda dan menggerakkannya lagi naik turun di batang penisnya, "Maenin aku Mbak... Maenin kontolku..."

"Bener nih...?" Goda Winda seolah memberikan pilihan, "Nanti kalo geli...? Atau sakit... Gimana...?"

"BODO AMAT Mbak... Yang jelas... Maenin kontolku sesukamu..."

"Hihihihi. Dasar Adek mesum..."

Atas permintaan Pandu, WInda kembali melanjutkan kegiatan cabulnya. Mengurut batang penis adik kandungnya.

Membuat remaja SMP itu merasakan kenikmatan baru yang membawanya serasa terbang

ke awang-awang. Tak henti-henti, tubuh Pandu mengejat, merasakan kenikmatan yang begitu hebat.

Berbeda dengan Pandu, Winda yang melihat tubuh adik kandungnya mengejang-ngejang, hanya tertawa geli. Menikmati segala reaksi yang tergambar jelas di wajah Pandu.

Terlebih ketika Winda mengocok penis besar itu yang ada ditangannya, ia tertawa puas melihat wajah lucu Pandu yang merem melek dengan mulut menganga lebar.

TEK TEK TEK TEK TEK

Suara betotan kulit penis Pandu yang mengeras, seiring dengan lenguhan kenikmatannya.

TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK

Hingga pada puncaknya, tubuh Pandu tiba-tiba menengang. Otot-otot tubuhnya mengeras, bersamaan dengan kedut penisnya yang terasa sekali di jemari tangan Winda.

"Mbaaakk.. Aku mau keluar...!!!" Erang Pandu yang secara spontan, meremas payudara Winda yang bergoyang-goyang karena kocokan tangannya.

CROOT CROOOTCROOT CROOOT CROOOCOOOT CROOOT CROOOTTTT....

Tujuh semburan hebat, melesat keluar dari mulut penis Pandu. Terlontar tinggi keatas, hingga melewati kepala Winda. Dan beberapa cairan sperma, juga meleleh di jari dan tangan Winda.

"Ooohhh. Mbaaakk. Enak banget kocokan tanganmu...." Lenguh Pandu sambil terus mengejat nikmat dengan tangan yang tak henti-hentinya meremasi payudara kakak kandungnya.

Dan, ketika Pandu sedang mencoba merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasmenya, mendadak, ia melihat sebuah pemandangan aneh sekaligus seksi dari Winda. Sebuah peristiwa, yang bakal merubah

penilaiannya terhadap diri kakak kandungnya.

Dengan tangan yang penuh terkena lelehan sperma, Winda lalu melepas genggaman tangan pada batang penis adiknya. Membiarkan batang besar itu, terus memancarkan lendir kenikmatannya hingga berhenti samasekali.

"Bau pejuhmu... Kok sepertinya enak banget Dek..." Ucap Winda yang tanpa Pandu sangka-sangka, langsung mengendusi lelehan sperma yang ada ditangannya. Kemudian, ia jilat dan kecapi lendir kental nan licin yang ada ditangannya itu, hingga benar-benar habis.

SLUUURRRPPP. NYAM NYAM NYAM SLUURRP SLUUURRPPP...

ANJIIMMMMM.

Pandu berteriak dalam hati. la tak pernah mengira jika kakak kandungnya itu akan berbuat hal yang

menjijikkan, sekaligus seksi seperti itu.

SLUURRP SLUUURRPPP...

"lya. Pejuhmu... Rasanya enak..." Ucap Winda sambil menyelomoti jarinya satu persatu. "Meskipun Yaaahhh... Agak-agak bau amis... Tapi rasanya enak... Agak manis-manis buah..." Ucap Winda sambil tersenyum.

"Ga jijik Mbak...?"

"Kenapa harus jijik...?"

"Itu khan... Dari lubang kencing aku..." Pekik Pandu.

"Hihihihi... Ntar... Ketika masanya tiba... Kamu juga bakalan ngerasain memek cewek yang kamu cintain

Dek..." Jelas Winda enteng, sambil meraih batang penis Pandu yang masih menegang

"Ehhh.. Kak...?" Heran Pandu ketika melihat wajah Winda mendekat kearah selangkangannya.

"Nikmatin aja ya.. Adekku tersayang..." Ucap Winda singkat, sebelum ia membuka mulut, dan melahap batang penis Pandu yang masih belepotan sperma.

HAAAAAP....

"OOOOHHH.. MBAAAK...." Erang Pandu ketika merasakan rongga mulut Winda yang hangat. Lembut.

Sekaligus basah. Tubuh Pandu kembali mengejat dan menggelijang, ketika ia merasakan sapuan lidah Winda, menjilati kepala dan mulut penis sambil sesekali menyedotnya kuat. Membuat remaja tanggung itu, merinding, dan kegelian yang amat sangat.

"SLUURRP SLUUURRRPP SLUUURRRRRPPPP..." Suara mulut Winda ketika membersihkan sisa-sisa sperma yang ada dibatang penis Pandu. Mulut Winda, juga mengenyot-ngenyot kepala penis Pandu, seperti bayi yang sedang meminum susu dari botol.

GAAGGG.. GAAGGG....SLUUURPPP SLUUURRPPP SLUUUURRPPPP......

"Ngggg.. Mbaaakkk Windaaaa..... Ooohhhhh...Ssshhh... Enak banget mulutmu, Mbaak...." Erang Pandu keenakan sambil memainkan kepala Winda naik turun ketika menjilati batang penisnya.

GAAGGG.. GAAGGG.. GAAGGG....SLUUURPPP SLUUURRPPP SLUUUURRPPPP.....

"Enak Dekk...?" Tanya Winda sambil membuka mulutnya. Menjulurkan lidahnya kemudian menggesek-gesekkan kepala penis Pandu pada sisik indera pengecapnya yang kasar.

"Oohhh. Mbaaaak Geli banget lidahmuuu....." Lenguh Pandu yang karena tak tahan, langsung menjejalkan batang penisnya dalam-dalam ke mulut Winda.

SLUUURPPP..***AGGG.. GAAGGG.. GAAGGG....

"Ohhhh..Sshhh.. Mbaakk.... Aku... Ohhh... Sepertinya mau keluar lagi nih... Ohhh.... Sial... Enak bangeeett kenyotan mulutmu..." Raung Pandu yang sepertinya sudah tak mampu lagi menahan desakan ejakulasinya. Karena tak beberapa lama kemudian, Pandu kembali mengalami kenikmatan ejakulasi untuk yang kedua kalinya.

"Aku keluar mbak... Aku keluaarrr...!!!" Erang Pandu mencoba mendorong kepala Winda supaya melepaskan sedotan penisnya. Namun, Winda bersikeras. la tetap menyedot penis yang sudah berkedut itu, meskipun tahu jika adik kandungnya akan segera ejakuliasi.

CROOT CROOOT CROOOCOOOT CROOOT CROOOTTIT....

Tanpa memberi tahu Winda, lima semburan nikmat muncrat tak tertahankan dari ujung penis Pandu.

Sperma segar, seketika itu langsung memenuhi rongga mulut kakak kandungnya.

"Ooohhhh... Mbaaaakkkkkk.... Wiilinnnnndddaaaaaa....." Raung Pandu ketika merasakan, sedotan mulut

Winda yang semakin kuat ketika ia ejakulasi.

Bahkan, gadis cantik itu, tak memberi jeda sama sekali ketika buat Pandu untuk menikmati denyut orgasmenya. Satu tembakan sperma, satu kenyotan kuat. Satu semburan benih kejantanan, satu sedotan dahsyat.

AMPUUUN MBAAAAKK...

"Sudaaaahhh. Mbaak.. Sudaaahh.. Bisa copot kontolku kalo kamu sedot kuat-kuat seperti inii..." Lenguh Pandu tak habis pikir. Mau sampai kapan, Winda menghisap sperma dari penisnya yang sudah dua kali keluar itu.

NYOT NYOT NYOOOTT SLUUUUUUUUURPPP

mulut kakak kandungnya terus menyedot sambil mengocok batang penisnya pelan.

"Puaaaaahhh...." Ucap Winda ketika ia melepas batang penis Pandu dari mulutnya. Setelah itu, ia membuka mulutnya dan memperlihatkan genangan lendir sperma didalam rongga mulutnya.

GLEEEEKKK.

Winda menelan habis sperma Pandu, dengan senyum lebar diwajahnya

"Pejuhmu Enak Dek... Hihihi..."

ANJIIIIMMMMM.

"Nakal sekali kamu Mbak..." Ucap Pandu dalam hati.

"Hihihihihi... Kok diem aja Dek...? Kamu kenapa..?" Sambung Winda tertawa sambil mentowel penis adiknya yang masih mengeras.

"Ampun Mbak... Aku udah nggak kuat lagi..." Bisik Pandu lirih sambil menatap sayu kearah kakaknya.

"Aaaahh. Baru dua kali keluar kok mau udahan...."

"Kontolku ngilu...."

"Ngilu gimana...? Wong masih keras gini..." Goda Winda yang kemudian menepuk-tepukkan batang penis Pandu ke mulutnya.

PUK PUK PUK

"Uhhh... Mbak... Ngiluu..."

"Kontolmu hebat ya Dek... Sepertinya dia masih bisa satu kali keluar lagi..." Ucap Winda, yang lagi-lagi langsung melahap batang penis Pandu. Mengenyot-ngenyot batang penis adiknya, hingga kepala penisnya terlihat makin memerah. "Mbak jadi penasaran nih... Stok pejuhmu sebanyak apa sih...?"

HAAAPPPP

"ADUH AMPUN MBAK..."Rintih Pandu tak bisa berbuat apa-apa ketika batang penisnya, untuk kesekian kalinya keluar masuk kedalam mulut Winda. Biarpun masih kuat, keras berdiri, namun jika dilihat dari penampilannya, penis itu sungguh tersiksa. Warnanya sudah sangat merah. Seperti sosis.

NYOT NYOT NYOOOTT SLUUUUUUUUURPPP

Suara sedotan mulut Winda yang terus memaksa supaya penis Pandu kembali ejakulasi.

"Ohhhh... Ampuuunn Mbaaaaaaak...." Erang Pandu dengan tubuh yang mulai gemetaran. Merasakan perpaduan antara rasa nikmat, ngilu, dan bingung.

SLUUURRRPPP..... GAAGGG... GAAGGG....SLUUURPPP SLUUURRPPP SLUUUURRPPPP......

Dengan tanpa rasa iba sedikitpun, Winda terus menyedot dan menghisap penis Pandu. Mengurut dan

mengocok batang penis adik kandungnya tanpa henti. Seolah yakin, jika Penis Pandu masih memiliki banyak persediaan sperma.

Sampai akhirnya, Pandu ejakulasi lagi untuk yang ketiga kalinya.

CROOT CROOOT CROOOCOOOT CROOOT CROOOTTTT....

Enam denyutan hebat, terasa begitu nikmat pada penis Pandu. Disusul dengan tiga semburan kecil benih kejantanan Pandu yang merembes tanpa daya sama sekali.

Melihat lelehan sperma Pandu yang keluar dari penisnya, Winda buru-buru menyucup kepala penisnya.

Menghabiskan sisa-sisa sperma adiknya yang sudah tak kental lagi.

"Udah Mbak... Aku udah nggak kuat lagi...."

"Hihihi... Beneran udah nggak kuat...?" Goda Winda sambil terus menjilati batang penis Pandu.

"Ampun Mbak... Besok lagi yaaa..." Lenguh Pandu yang berusaha menjauhkan mulut Winda dari

kejantanannya. Mencoba melepaskan diri dari terkaman mulut kakaknya yang tak pernah puas.

Awalnya Winda tetap bersikeras. Tak mau melepaskan batang penis adiknya. Namun ketika melihat penolakan dan gelengan kepala Pandu, pada akhirnya ia mau melepaskan penis itu. 'Beneran besok loh yaaa..." Sahut Winda sambil tertawa puas

"lyaaa Mbak.... " Jawab Pandu begitu lemas dengan tatapan mata kosong. Mirip seperti zombie yang tak punya keinginan untuk hidup samasekali.

"Salah sendiri punya pejuh enak... Jadinya Mbak pengen ngerasain terus... Hihihihi...." Celetuk Winda sambil tersenyum.

Pandu mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun.

"Yaudah kalo gitu... Abis gini, kamu makan gih. Udah sore..." Ucap Winda yang kemudian bangkit dari samping tempat duduk Pandu.

"lya Mbaakk.."

"Makan yang banyak... Biar besok pejuh kamu udah terkumpul banyak lagi...." Goda Winda sedikit meremas zakar Pandu, lalu berjalan kearah pintu kamar

Sejenak, melihat kepergian Winda, Pandu merasa begitu lega. Seperti ada beban berat di dada, yang langsung terangkat ketika melihat langkah kaki kakaknya menjauh. Nafas Pandu juga berasa begitu bebas. Plong, dan ringan.

"Kamu benar-benar beruntung..." Ucap Pandu dalam hati. Menatap kearah langit-langit kamarnya sambil tersenyum lebar. Bagaimana tidak? Jika barusan, ia bisa tiga kali orgasme. Tiga kali muncrat. Tiga kali spermanya menyembur dengan dahsyat. Selain itu, ia juga bisa orgasme tanpa menggunakan tangan.

Tanpa tissue. Tanpa kotor sama sekali.

"Semua berkat mulut, dan tangan Mbak Winda-ku..." Erang Pandu yang tiba-tiba meraih batang penisnya, dan menggenggamnya erat. Setelah itu, ing menggerak-gerakkan tangannya naik turun, dan mengocok penis kebanggannya kuat-kuat.

- - Akhir Kilas Balik - -

Bersambung,




Posting Komentar

0 Komentar