pandu dan lala part 10

 




awal kenalanlan


Kekesalan Pandu karena godaan mesum dari Lala, membuatnya kesulitan untuk memejamkan mata.

Sedari kepergian keponakannya tidur, kantuk di mata Pandu, tak kunjung tiba. Bahkan, hingga akhir acara televisi-pun, adik Winda ini belom bisa tidur.

"Apa yang harus aku lakukan...?" Tanya Pandu berpikir ekstra keras sambil berusaha sekuat tenaga

menahan birahinya hingga menutup mata.

***

KRRIINGGGG... KRRIIINGGGG...

Suara dering handphone, terdengar nyaring di kamar sebelah. Menggugah lelap tidurnya Pandu dibale-bale ruang tengah. Dengan mata setengah terpejam, Pandu melirik kearah jam yang ada didinding.

Memicingkan mata, guna memastikan sekarang pukul berapa.

"Hoooaaaaahhmmm. Jam setengah 5 pagi..." Ucap Pandu menggeliatkan badan. Merenggangkan seluruh otot dan sendi tubuhnya karena tidur diatas kerasnya alas duduk bale-bale.

KRRIIIINGGGG... KRRIINGGGG...

"Sepertinya, itu suara handphone Mas Ardhi...." Batin Pandu menajamkan telinga. Mendengarkan suara berisik yang sedari tadi mengganggu tidurnya.

KRRIlINGGGG...

Lalu sunyi. Sepertinya si penelpon sudah kehabisan kesabaran karena dering telephonnya berhenti.

Pandu tahu, jika kakak iparnya tertidur, ia akan sangat susah untuk dibangunkan.

Jadi, sepertinya wajar saja jika penelpon barusan menyerah karena tak berhasil membuat Mas Ardhi terjaga.

Dalam keremangan malam, Pandu menarik sarungnya hingga sebatas dagu. Menekuk kaki, mendekap lutut, dan meringkuk didalam balutan kain tipis kotak-kotak. Kemudian, ia memutuskan untuk kembali memejamkan mata. Tidur sebelum pagi menyingsing.

TULIT.. TULIT.. TULIT..

handphone barusan.

dering handphone, kembali terdengar nyaring. Bahkan lebih nyaring daripada suara dering

TULIT.. TULIT.. TULIT..

"Aaaahhh. Kampreettt... Berisiiiikkk banget silihhhhh...." Raung Pandu menutup telinga dengan mulut komat-kamit.

Sekali lagi, ia mencoba memejamkan matanya yang masih mengantuk. Namun sepertinya sia-sia. Karena meskipun ia sudah sekuat tenaga mencoba memejamkan mata, namun telinganya masih waspada karena suara dering handphone yang terus mengganggunya.

Karena tak tahan mendengar suara dering handphone dikejauhan, akhirnya Pandu memutuskan untuk mendekat. "Eh... Ini khan suara hape aku..." Heran Pandu karena sedari tadi, tak sadar jika suara bising itu berasal dari handphonenya. "Mba Winda ngapain sih nelpon pagi-pagi begini..?" Rutuk Pandu yang kemudian menjawab panggilan telephonenya.

"Halllooo...." Sapa Pandu malas

"Hallo Dek.... Udah bangun...?"

"Apanya...?" Tanyaku

"Maksudnya...?" Bingung Winda

"lya. Apanya yang bangun....? Yang atas atau bawah...?" Goda Pandu.

"Ihhhhsssss... Kalo itumah mbak ga perlu tanya kamu Dek..." Sebal Winda dengan nada manja.

"Hehehe...Kenapa Mbak?"

"Tolong bangunin Lala, Dek... " Pinta Winda, "Dia harus siap-siap berangkat kesekolah... Mbak lupa,

kalo hari ini dia ada lomba tari"

"Masih pagi banget kali Mbak.."

"Justru karena masih pagi..... Kamu kudu bantu siap-siapin kebutuhan dia untuk berangkat sekolah..."

"Kenapa nggak Mas Ardhi aja sih Mbak..?" Omel Pandu

"Ihhhhhssss.. Kamu tau sendiri khan... Kalo jam segini, Mas Ardhi susah banget dibangunin... " Jelas

Winda, "Ini aja Mbak udah telephone lebih dari 3x, Mas-mu ga bangun-bangun..."

"Bener bener dah... Suamimu tuh kebo banget kalo tidur..."

"lya, Mbak tahu... Kalo gitu tolong bangunin Lala ya Dek...

"Kebiasaan tidur Mas Ardhi, mular ke Lala tuh, Mbak.... Dia jadi sama kaya bapaknya. Kebluk..."

"Tolong ya Dek... Udah makin siang inih..."

"Ogah ah... Mendingan aku mbangunin Mbak Winda-lah... SERU... Hehehe...." Kekeh Pandu, "Bisa bikin langsung seger semua nih badan... Jadi bangun semua..."

"Isssshhh Adeekk.... Kalo itumah emang udah niatan kamu..."

"Hmmm... Ngobrol pagi-pagi denganmu... Bikin batang Adek... Mendadak keras nih Mbak..."

"lyeeeee.... Mbak paham.... Kamu mah emang selalu keras gini tiap pagi..."

"Hehehe... Kasian tau batang aku Mbak... Kalo keras gini mulu tak ga pernah direspon..." Keluh Pandu dengan nada sedih.

"Hhhhhh....

" Winda menghela nafas panjang, "Mau respon gimana lagi sih Dek...?"

"Yaaaa... Minimal, bantuin lemesin deh Mbak..." Pinta Pandu.

"Huuuuu... Kamu tuh ya.. Emang paling pinter deh kalo lagi minta sesuatu..."

"Hehehe.... Boleh ya Mbak...?" Rajuk adik Winda itu.

"Mbak sih masih belom bisa mutusin hal itu Dek... Kamu masih inget khan janji kita dulu....?"

"Hhhh.... " Kali ini, gantian Pandu yang mengela nafas, "Yah Mbak Winda emang jago kalo bikin adik satu-satunya merana seperti ini..."

"Gini aja deh... Besok, Mbak bawain oleh-oleh buat kamu Dek..." Rayu Winda,

"Oleh-oleh yang paling spesial... Khusus buat Adek Panduku tersayang..."

"Aku nggak butuh oleh-oleh darimu, Mbak..." Sebal Pandu, "Aku tuh butuhnya cuman kamu..."

"Yah.. Jangan gitulah, Dek..." Nada Winda melemas, sedikit bergetar.

"Aku udah menunggumu selama lebih dari 12 tahun, Mbak... Demi bisa bersama-mu lagi..."

"Lah ini khan kita udah bersama, Dek.. Kamu tinggal ga jauh dari Mbak...." Jelas Winda dengan nada suara yang semakin pelan, "Jadi kamu bisa deket-deket ama Mbak terus... Tiap saat kamu bisa ketemu Mbak, lihat Mbak, tidur, makan, mandi, bisa ngapa-ngapain aja dideket Mbak..."

"Mbak Windaku tersayang... Maksud aku... Bukan bersama seperti itu mbak..." Bisik Pandu,

"Mbak

tahulah maksudku.."

"Mbak udah punya Mas Ardhi, Dek..."

"lya... Mbak udah punya lelaki yang misahin cinta kita ya, Mbak..."

Winda tak bisa menjawab.

la hanya terdiam diujung telephon.

"Yoweslah... Kalo emang Mbak ga bisa kasih kepastian..." Kesal Pandu dengan nada yang makin lirih.

"Yah Adeeek... Jangan ngambek gitu dong..."

"Udah ya, Mbak... Aku ngantuk banget, mau ngelanjutin tidur dulu." Pamit Pandu berpura-pura

"Heeeeili.. Jangan tiduuurrr... Bangunin Lala dulu, Dek..."

"Ogah.... Mbangunin Lala, sama aja kaya mbangunin Kingkong tidur...."

"Ayolah dek... Pleeeeaasseeee... Sebentaran aja ya adekku Sayang.... Masuk kamar.. Bangunin Lala...

Abis gitu, udah deh.. Selesai..."

"Hmmmm.. Sepertinya.... Ga semudah itu sih Mbak... " Ucap Pandu meralat,

"Mbak tahu khan...?

Tidurnya Lala kaya gimana.."

"Hmmm. lya sih... Mbak tahu... Cuman ayolah Dek.. Bantuin Mbak dulu... "

"Sebenernya, aku tuh bukannya nggak mau ngebangunin Lala, Mbak... Aku cuman takut aja kalo ngelihat Lala, aku jadi khilaf..." Jelas Pandu terus mengurut batang penisnya yang semakin keras.

"Heee...? Lha kok bisa siihh...?" Kaget Winda mendengar ucapan adik kandungnya.

"Abisan, Lala mirip banget ama Mbak.. Dan kalo Adek ngelihat Lala.. Adek jadi makin teringat dengan dirimu... " Bisik Pandu dengan nada yang semain pelan. "Lala bener-bener jelmaan-mu kali ya Mbak...?

Karena jika aku dekat-dekat dengan Lala, ujung-ujungnya Adek jadi pengen kerjain tuh anak, habis-

habisan...."

"Ihhhsss.. Kamu kok tega gitu sih... ?" Ucap Winda memelas, "Lala khan keponakanmu, Dek... Masih darah dagingmu sendiri...

"lya aku tahu, Mbak... Justru karena Lala adalah darah daging aku sendiri, Adek jadi makin pengen memilikimu..."

"Sebegitunya ya...? Kamu pengen ama Mbak...?"

"IYA..." Jawab Pandu tanpa berpikir, "Aku pengen, Mbak... AKU BENER-BENER PENGEN KAMU..."

"Mbak bingung, Dek..." Bisik Winda dengan nada mengambang.

"Bingung apalagi sih, Mbak.?"

"Banyak Dek..."

"lya, Banyak itu apa...?" Kejar Pandu mencari kepastian.

"Hhhhhh..." Untuk kesekian kalinya, Winda menghela nafas, "Kapan-kapan deh, Mbak ceritain..."

"Mbak tuh ya... Selalu aja bilangnya kapan-kapan... " Gerutu Pandu, "Aku tuh udah nuggu Mbak dari jaman aku belum berjembut, sampe Lala SMP loh. Dan itu juga Mbak belom bisa kasih keputusan...."

HIIKKS... HIIKKS... HIIKKS...

Winda tiba-tiba menangis.

"Hhhhhh. Andalan..." Cibir Pandu kesal setiap kali Winda tak bisa berkata-kata, hanya isak air matanya-lah yang bakal ia dapatkan.

"Mbak sayang kamu dek. Saayaaaannng banget ama kamu... Hanya saja... Mbak gak tahu harus berbuat apa, Dek... Mbak bingung..."

"Mbak tuh tahu kok caranya gimana, harus berbuat apa, Mbak tuh cuman ga punya keberanian buat ngelakuin hal itu..." Bisik Pandu lirih namun tegas.

Dari ujung telephone, Pandu bisa mendengar, suara isak tangis Winda makin tak terbendung. Ditambah suara hidung yang berair, menandakan jika ingus Winda mulai turun. Tanda jika kakak kandung Pandu itu benar-benar bersedih.

"Yowes Mbak.... Mbak istirahat aja dulu..." Ucap Pandu mengalah, "Adek mau bangunin Lala dulu..."

"Hikksss...Hikksss..Makasih ya Dek.."

"lyeeee..."

"Mbak sayang kamu Dek..."

"lyeeeeee...

TIIITTT...

Suara panggilan telephone pun terputus.

Dilemparnya handphone itu ke sofa ruang tengah. Buru-buru, Pandu melirik jam dinding yang tergantung manja di sudut ruang tengah. Menunjukkan waktu pukul 5 pagi.

Setelah itu, ia melirik kearah suara dengkuran panjang Ardhi yang begitu membahana dari pintu kamar tidur Winda. Menandakan jika si pemilik dengkur itu, masih lelap dalam mimpinya.

"Aman..." Ucap Pandu yang tanpa menunggu lama, langsung kembali melangkah kearah kamar Lala.

Diraihnya gagang pintu itu, lalu membukanya pelan.

Kamar tidur keponakannya itu terlihat temaram, dengan lampu tidur berbentuk kucing, menyala disamping tempat tidurnya.

Sejenak, mata Pandu mencoba beradaptasi dengan situasi remang di kamar Lala. Setelah itu ia masuk kedalam, dan menutup pintu kamar tidur Lala dari dalam

"Zzzzzzzz....Zzzzzzzz..." Lirih dengkur nafas Lala, masih terdengar berirama. Berarti ponakan cantiknya yang semok itu masih tertidur lelap.

GLEEEEEK.

Mendadak Pandu, merasa kesulitan menelan liurnya.

"Lala tidur setengah telanjang..." Ucap Pandu ketika matanya sudah dapat beradaptasi dalam

keremangan malam. la melihat tubuh keponakannya yang rupawan itu hampir telanjang. Vagina dan satu payudaranya, tersingkap. Tak mampu tertutup oleh daster mini yang ia kenakan.

Pandu baru ingat, jika semalam, Lala sudah membuka semua pakaian dalamnya. Hanya menyisakan daster tipis yang tak dapat menyembunyikan keseksian tubuh nakal keponakannya.

Semalam, Pandu sebenarnya berencana mengambil kesempatan lagi untuk bisa mempermainkan aurat

Lala.

Namun ternyata gagal.

Setelah ia mendapatkan terjangan orgasme, Lala sepertinya sengaja mempermainkan Pandu. la meninggalkan pamannya yang sange-sangenya. Membuat adik Winda itu, seketika kentang karena tak mendapatkan pelampiasan.

"Sepertinya, ini saatnya, buat ngebales... Kenakalanmu semalem, Neng... Hehehe..." Batin Pandu yang mulai berpikir cabul ketika melihat Lala yang terlelap tak berdaya. Dipegangnya pundak keponakannya, kemudian ia goyang pelan. "Neng.... Bangung Neng..."

"Zzzzzzzz...Zzzzzzzz...." Lala masih tetap tertidur.

"Neng...?" Panggil Pandu yang kali ini, mengecup kening keponakannya. Dan tetap saja, Lala tak bergeming.

Melihat kepolosan reaksi Lala ketika tidur, Pandu semakin tak mampu mengontrol birahinya. la kemudian mencium bibir Lala, dan sedikit menghisap bibir bawahnya.

CUPPP...

Sekali, dua kali, tiga kali, Pandu menyelomot bibir tipis kenonakannya. Sedikit berharap supaya Lala membalas. Namun, tetap saja, gadis mungil itu hanya mendengkur pelan, dan menerima segala perlakuan mesum Pandu.

"Neng... bangun Neng..." Ucap Pandu terus berupaya membangunkan tidur Lala sembari mengelus dan

meremas pelan kedua paha mulusnya secara bergantian. Pandu juga mulai merabai vagina Lala sembari memijit-mijit gunungan kelamin tanpa bulu keponakannya, dengan perasaan penuh nafsu.

"Nggghh.... Zzzzzzzz....Zzzzzzzz...."

"Lihat nih Mbak... Anakmu si Lala... Kalo tidur... Bener-bener KEBLUK... Susah dibangunin.... Mirip banget dengan cara tidurmu..." Ucap Pandu lirih sambil membayangkan sedang berbicara dengan kakak kandungnya.

"Aku yakin nih Mbak... Tetek anakmu ini... Bakalan numbuh besar... Mirip tetekmu..." Ucap Pandu lagi yang kali ini, mulai meremasi payudara keponakannya yang tak tertutup daster. Dan juga mulai menjilat-jilat ujung putting Lala. "Pasti... Bakalan banyak lelaki yang tergila-gila, dengan dua daging besar nan empuk milik putrimu ini... HAPPP... Sluuurrrpp.. Sluuurrrppp..." Caplok Pandu sambil meremasi payudara bulat Lala

Mendapat caplokan mulut Pandu pada putingnya, membuat Lala tiba-tiba mendengus dan menggeliatkan tubuhnya. Pandu bergerak menjauh. Sejenak, ia lepaskan kenyotan lidahnya dari payudara Lala. Setelah itu ia mengamati gerak-gerik keponakannya sambil terus mengusap dan merabai kedua payudaranya.

Melihat dengkur Lala kembali terdengar, dengan penuh kasih sayang Pandu membelai belai rambut halus Lala. Mengusap-usap pipinya dan mengecup wajahnya. Dikecup keningnya. Matanya. Hidungnya.

Hingga pada akhirnya, bibir Pandu kembali mendarat di mulut Lala.

CUPPP...

Tak disitu saja, merasa tidur Lala tak terganggu dengan tingkah cabulnya, Pandu mulai kembali mengusap pelan payudara keponakannya yang baru tumbuh. Meremas putingnya yang mengeras.

Menggelitik vaginanya yang tanpa bulu. Hingga perlahan, celah vaginanya makin melembab. Basah oleh cairan licin yang perlahan merembes diantara kedua lipatan bibir vaginanya.

"Hmmm... Sepertinya... Ada yang sedang tidur enak nih..." Ucap Pandu sambil terus mengusel liang kemaluan Lala. Otaknya mulai curiga, ketika melihat mata Lala yang sepertinya terpejam, namun gerak titik sensitif tubuhnya cukup aktif.

"Neng.... Bangun Neng..." Ucap Pandu sedikit menggoda dengan cara mengusap kulit payudara Lala yang halus, sembari sesekali menjilat putting payudaranya.

"Ngggghhh.... Ssshhh.. Zzzzzzzzz....." Lala mendesah. Namun matanya tetap terpejam.

ua puting pay dara Lala. Mana isap ya bergait an kir- anan

sambil terus menggelitik dan mencelupkan sebagian ujung jarinya ke celah vagina Lala.

"Zzzzzzz... Ngggghhhhh... Nggghhhh.... " Erang Lala sambil menggelijang dalam tidurnya. Tubuhnya mulai melengkung-lengkung, perutnya terangkat, dan nafasnya mulai memendek.

"Zzzzz.... Zzzzz....

Hhh... Hhh...

CLEEEEEEPPPPP.

Jari Pandu, menyelinap di celah vagina Lala. Menggelitik bibir vagina Lala tanpa menusukkan kedalam liang kemaluannya. Digerakkannya jemari cabul Pandu, dengan mulut yang terus menghisap payudara dan putting keponakannya.

"Hehehe. Enak ya Neng...?" Goda Pandu yang dengan satu tangan, melepas celana kolornya dan melemparnya kesudut tempat tidur. Membebaskan batang penisnya yang sudah begitu keras sembari terus mengocoknya lubang vagina Lala dengan jemari nakalnya.

"Nggggghhhh..Ssshhhhh." Erang Lala spontan dalam tidurnya. Dengan tubuh menggeliat dan mendesis lirih karena ulah mesum pamannya.

"Kamu bener-bener cantik, Neng.... Masih tidur aja, bisa seksi begini..." Lenguh Pandu yang kemudian bangkit dan bergerak kearah kepala Lala. Mendekatkan pinggang ke mulut keponakannya.

Setelah itu, ia menyodorkan penis tegangnya ke mulut keponakannya yang sedikit terbuka. Meskipun agak susah dan ada sedikit penolakan, akan tetapi Pandu berhasil memaksa batang penisnya masuk.

NYAAMMMMHHHH.. NYAP NYAP

Suara mulut Lala ketika dijejali penis Pandu dengan lidah yang mengecap batang panjang pamannya.

"Ssshhhh.... Lala.... Hangat banget mulutmu, Neng..." Erang Pandu sambil memaju-mundurkan batang penisnya kedalam mulut Lala.

"Nghhhhh...." Sahut Lala sedikit melenguh dalam tidurnya. la juga menggerak-gerakkan mulutnya hingga

membuat giginya mengunyah pelan penis Pandu Merasakan penisnya tergilas-gilas gigi Lala, tubuh Pandu seketika bergidik. la merinding karena merasakan kenikmatan baru dari mulut keponakannya.

"Ooohhhh.... Lalaaaa.. " Erang Pandu yang makin menusukkan batang penisnya lebih dalam lagi.

Mencoba meraup kenikmatan dari mulut keponakannya yang masih tertidur lelap.

"Nggghhh...NYAP NYAP NYAP...." Reaksi Lala yang entah kenapa terus mengunyah penis Pandu tanpa

henti, seolah sedang bermimpi menikmati sosis raksasa yang rasanya begitu gurih.

CLEEEEEEEPPPP

Pandu, tiba-tiba menusuk pelan liang vagina Lala dengan ujung jari tulunjuknya, membuat tubuh gadis yang masih terlelap itu seketika menegang.

"Ngggghhhhhhh..." Erang Lala dalam tidurnya. Sedikit bergidik ketika merasakan tusukan jari Pandu yang masuk semakin dalam di lubang kemaluannya.

Bersambung,


Posting Komentar

0 Komentar