pandu dan lala part 2

 


lanjut kenikmattan



"Kita pindah kekamar yuk, Neng" Ajak Pandu berpindah tempat.

Lala tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala dengan mata penasaran yang terus menatap kearahku. Memperhatikan segala gerak gerikku

Dengan gerakan supercepat, Pandu kemudian menurunkan tubuh mungil Lala dari pangkuannya dan berhambur ke ruangan depan. Mengunci pintu dan mematikan TV. Setelah itu, Pandu mengamit tangan

Lala dan mengajaknya kekamar.

CUUP CUUPP CUUUPP

Tanpa basa-basi, Pandu lalu duduk di tempat tidur Lala. Kemudian melanjutkan kemesumannya tadi dengan mendudukkan keponakannya kembali di selangkangannya. Setelah itu, ia melumat bibir mungil Lala sembari menyedot-nyedot lidah basahnya.

"Kamu cantik Neng.." Erang Pandu sambil mulai mengais-ngais lidahnya. Meludahi mulut keponakan moleknya itu sambil melilit-lilit lidahnya.

"Ooohh. Ommm..." Lenguh Lala mulai terhanyut dalam permainan maksiat Pandu.

Tanpa melepas pagutannya, Pandu mulai meraba-rabai tubuh mungil Lala. Meremas kedua payudara Lala yang baru mulai tumbuh itu dari luar dasternya.

"Shhhhh. Oomm.." Lenguh Lala dengan tubuh yang bergetar. Buru-buru, ia menangkap pergelangan tanganku. Menahannya supaya tak bergerak lebih jauh. Matanya setengah terbuka, dengan mulut yang juga tak sanggup ia tutup.

Pandu tak merespon tangkapan tangan Lala. Tangan Pandu terus mencoba meremas kedua payudara keponakannya itu lebih jauh lagi. Bahkan ia mulai mempermainkan gundukan mungil yang perlahan mengeras di ujung payudaranya.

"Sepertinya, Lala mulai sange..." Girang Pandu ketika mendapati tonjolan di ujung payudara mungilnya semakin menonjol, kenyal dan sensitif.

"Uhhh. Ssshhh... Oommm..."Lenguh Lala yang walaupun menahan tangan Pandu supaya tak meremas payudaranya, tetap membiarkan jari mesum pamannya mempermainkan kedua putingnya Memelintir dan mencubit daging mungil miliknya, yang meskipun belum sepenuhnya terlihat, tetap saja bisa terasa dari balik daster tipisnya.

"Kenapa Neng?" Bisik Pandu pura-pura tak mengerti lenguhan Lala.

"Ehhhmmhhh.. Geli..." Desah Lala dengan wajah yang makin memerah, seperti sedang menahan sesuatu rasa aneh yang menggelitik syaraf nafsunya.

Tak puas dengan remasan dari luar pakaian, Pandu mulai menyusupkan tangan jahilnya kedalam lubang daster Lala. Mencoba merasakan secara langsung, payudara dan putting keponakannya.

"Halus banget kulitmu, Neng..." Ucap Pandu yang kemudian melepas ciuman bibirnya. Menatap wajah cantik keponakannya sambil terus merabai tubuh mungilnya.

"Uuuhh. Geli Ommm..."

"Gapapa Neng. Itu tandanya, kamu normal..." Ucap Pandu memberikan penjelasan palsu sembari terus mencoba meremas asset tubuh Lala tanpa perlawanan. Memberikan doktrin cabul supaya ia bisa merasaan tubuh putri Winda itu, "Wanita, jika semakin cantik penampilannya, akan semakin mudah merasa geli pada tubuhnya. Jadi, kalo kamu sekarang kegelian, itu tandanya kamu akan jadi semakin cantik, Neng"

"Nggghhhh... Emangnya Lala cantik ya Om?" Tanya gadis molek itu mendesis-desis mirip ular, karena mulai jatuh kedalam rayuan Pandu, "Ssshhh... Geli ...."

"lya Neng, Kamu memang cantik... Malah... Kamu tuh terlalu cantik dimata Om. Mirip bidadari" Puji Pandu tanpa henti. "Sumpah. Kamu cantik banget Neng.... Lala cantik..."

"Lala cantik...?" Ulang Lala.

"Om boleh liat tetek kamu, Neng?" Tanya Pandu yang semakin tak kuat menahan birahi, "Om pengen periksa, sepertinya ada yang aneh ama tetekmu..."

"Ehhhmmm. Tetek Lala aneh?" Desah bertanya-tanya. "Aneh kenapa Om?"

"Om juga belom tahu, Neng. Karena Om ga bisa periksa..." Jelas Pandu yang sedikit demi sedikit, menurunkan tali daster Lala, "Om periksa ya? Om khawatir ada penyakit didalam sini. Om ga pengen, keponakan cantik Om, punya tetek yang berpenyakit"

"Ooohhh.. Ommm...." Lenguh Lala mengangguk. Mempersilakan tangan mesum Pandu, menelanjangi tubuh atasnya. Membiarkan daster tipisnya, teronggok manja di perut rampingnya.

"Ohhh Lalaaaa... Tetekmu sempurna, Sayang..." Desah Pandu begitu melihat payudara keponakannya yang tanpa penutup sama sekali. Putih, licin, dengan kulit halusnya yang berkilauan saking bersihnya.

Payudara mungil sudah membesar. Sebesar mangkok, dengan putting yang berwarna cerah. Serta urat kehijauan yang terlihat samar, ditengah-tengah dadanya.

Benar-benar cantik. Seksi dan menggairahkan.

Tanpa dapat Pandu tahan-tahan, ia langsung menyosor payudara mungil Lala. Menjilati kedua bongkahan polos itu tanpa meminta ijin samasekali.

HAAAPP. SLUUURRRP SLUUURRRRPP

Caplok Pandu kesetanan. Menyelomoti payudara putih bersih Lala.

"Ennggghhh. Oooommm. GELII...." Erang Lala tak mampu menolak perlakuan cabul Pandu. Tubuhnya kelojotan. Menahan geli yang amat sangat karena jilatan pamannya. Pupil matanya mendelik keatas, tak mampu menjelaskan kenikmatan yang ia rasakan.

CUUUUPPPP SLUUURRRP SLUUURRRRPP

Sedot Pandu tanpa henti, sembari mengilik putting payudara Lala yang masih tenggelam. Mengorek lubang mungil yang berada diujung payudara keponakannya, sambil terus memilinnya pelan.

"Enggghhhh.. Oooommmm... Ssshhh. Oooohhhh..." Lenguh Lala tak mampu berkata-kata. Gadis polos itu hanya bisa terus mengejat, tanpa bisa menolak segala macam kecabulan pamannya. Terlebih, ketika Pandu, yang sedang menikmati empuknya payudara Lala mulai merogoh isi celana dalamnya, membuat keponakannya itu menjerit lirih.

"Ssshhh.... Om Panduuu... Mau diapain pepek Lala Oomm... Hhhhh?" Lenguh putri Winda itu kaget karena merasakan korekan jemari Pandu pada celah kemaluannya. "Uuuh Gellii...".

"Pepek Lala, becek..." Seru Pandu, sambil menunjukkan lelehan lendir kemaluan Lala pada jemari tangannya. "Kok bisa becek gini, Neng?"

"Ssshhh... Lala nggak tahu, Omm..." Jawab keponakannya polos.

"Lala ngompol?" Tanya Pandu pura-pura tidak tahu

"Emmmhhh... Enggaklah... Udah besar gini masa masih ngompol...?"

"Lha ini buktinya... Pepek Lala udah basah banget..." Ucap Pandu lagi sambil memperlihatkan kebasahan jemari tangannya. "Om periksa aja ya...? Kali aja ada penyakit di pepek Neng..."

Mendengar kalimat Pandu barusan, ada sedikit keraguan yang muncul di pikiran Lala. Namun karena jilatan lidah Pandu yang tak henti-hentinya di kedua payudara, ditambah dengan kobelan jemari mesum pamannya, membuat Lala tak mampu berpikir jernih.

"Om buka ya celana dalem kamu? Lihat nih, becek banget pepeknya..."

"Ennnngghh.. Mmmhh.. lya.."

Sebuah kalimat yang benar-benar membuat Pandu begitu cinta pada kepolosan Lala.

"Sebentar lagi, aku akan menikmati isi celana dalammu, Neng..." Batin Pandu dengan senyum kemenangan, "lya. Aku bakal merasakan kenikmatan tubuh perawanmu.."

"Yaudah, sekarang kamu berdiri dulu. Om mau turunin ini celana dalammu..." Pinta Pandu dengan

jantung yang berdetak begitu kencang. Memompa darah birahinya yang sudah begitu meledak-ledak, keseluruh penjuru badan.

SREEEEETT

Tanpa menunggu lama, Pandu segera menurunkan karet celana dalam Lala. Menariknya kebawah dan membuatnya terlepas dari tubuh keponakannya. Setelah itu, ia juga menurunkan lipatan daster mini, yang sedari tadi melingkar di perut ramping Lala.

Melihat ketelanjangan Lala, mata Pandu, seolah hendak copot. Keluar dari lubangnya dan menggelinding dilantai kamar keponakannya.

Dihadapannya, terpampang sebuah keindahan dari tubuh polos seorang remaja SMP yang begitu sempurna. Molek dengan kulit putih bak pualam. Dengan rambut hitam panjang sepunggung, membuat Lala terlihat begitu kontras. Mempesona dengan segala kepolosannya.

Dan ketika Pandu menatap aurat Lala yang tepat berada di depan wajahnya. Jantung Pandu seolah berhenti berdetak.

DEEEGGG

Otak Pandu kram. la tak menyangka jika dirinya bisa memperdaya Lala semudah ini.

"ANJIM... Gemuk banget memekmu, Neng..." Kalimat vulgar Pandu, tak sengaja terlontar spontan dari mulut kotornya.

"lilihh Ooom Panduuuu..." Malu Lala yang buru-buru menutup vaginanya. Menyembunyikan celah kewanitaannya dari mata keranjang adik ibunya.

CKLEK.. CKLEK

TOK TOK TOK

"Laaaa? Lalaaaa...?" Sebuah suara ketukan pintu, tiba-tiba terdengar lantang dari depan rumah. Disusul oleh panggilan seorang wanita.

TOK TOK TOK

"Lalaaaa...? Bukain pintunya Nak... Ini Mama...

TOK TOK TOK

"Lala? Tolong bukain pintu..."

"Aaaahhhssss.. SIAAALLLAAANN..." Raung Pandu dalam hati, ketika mendapati kakak kandungnya,

Winda, sudah pulang kerumah.

Mendengar suara panggilan Winda ketika pulang kerumah, membuat Pandu mendadak teringat akan kenakalan masa lalunya. Dikamar yang sama dengan kamar ia berada bersama Lala saat ini.

Kamar Winda ketika masih muda.

Dari kamar inilah, pertama kalinya, Pandu melihat sosok Winda yang dulu terlihat begitu menyeramkan baginya, menjadi sosok yang begitu ia impi-impikan.

***

Flashback Start

"Sotonya satu ya Pak, es tehnya dua..." Ucap Winda sambil tersenyum ramah ke Pak Karyo. Penjual soto terenak di samping sekolahan.

"Banyak amat tehnya Nda. Ga kembung kamu nanti?" Sahut Wati teman sekelas Winda yang ikut makan siang sepulah sekolah.

"Gapapa atuh Neng. Khan biar Neng Winda makin manis..." Sahut Pak Karyo menimpali

"Bisa aja Pak... "Balas Winda

"Beneran Neng. Malah gara-gara kemanisan Neng Winda, setiap kali Neng Winda kemari, warung soto saya langsung penuh. Jadi dagangan saya cepet abis"

"Waaah. Kalo gitu, Winda kaya penglaris buat bapak dong?"

"Hehehe. Penglaris cantik.."

"Kalo gitu, kasih bonus dong Pak..."

"Boleh Neng, Mau bonus apa?"

"Tambah suwiran ayam ama telor bulet boleh ya Pak?"

"Aaaahh. Itumah gampang..." Ucap Pak Karyo, "Buat Neng Winda mah, apa aja boleh.."

"Hussh. Winda. Bisa tekor mulu tuh dagangan Pak Karyo, kalo tiap kamu makan disini, selalu minta diskon" Sewot Wati

"Laaah? Orang dianya yang nawarin..." Balas Winda tak mau kalah. "Bener khan Pak?"

"Hehehe. Iya Neng, gapapa kok. Buat Neng Wati, kalo mau bonus juga boleh"

"Ehh? Saya juga dapet? Wah makasih ya Pak, kalo gitu, aku mau yang sama ama Winda Pak... Hehehe"

Celetuk Wati cengengesan.

"Huuuuu. Dasar wanita murahan...." Goda Winda menggelitik pinggang Wati.

"Biarin. Orang ditawarin juga..." Balas Wati yang juga menggelitik pinggang Winda.

"Hahahaha..." Tawa kedua gadis manis itu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Mbakmu cantik ya Ndu..." Ucap Eko, menenggor pundak Pandu ketika sedang memperhatikan gerak-

gerik Winda dari kejauhan.

"lya, cantik banget malah. " Sahut Jaya menimpali,

"Malah kadang aku pikir, Winda tuh bukan mbakmu

deh Ndu. Karena beda bangeettt...."

"lya yak. Winda kalo diliat-liat, ga mirip Pandu..." Ucap Eko lagi, "Winda putih, Pandu gelap. Kulitnya putih mulus. Pandu, burem. Badan Winda seksi, kalo Pandu ya gitulah, asem diliat. Bentukannya Winda semok. Teteknya besar dan pantatnya, bikin gemes. Lha terus Pandu, yah, diliat aja bikin ga nafsu makan, cungkring kurang gizi gini."

"Ahhh. Kampret kamu Ko..." Sengit Pandu sambil mentoyor jidat sohibnya

"HAHAHAHAHA"

"Bener bener bener. Mbak Windamu bener-bener menggairahkan Ndu..." Celetuk Diki, "Bodynya menggiurkan. Lihat deh kalo ketawa. Badannya goyang semua. Empuk banget tuh kayanya.."

"Pasti kamu bahagia ya Ndu, bisa tinggal serumah ama cewek secantik itu..."

"Bahagia? Boro-boro." Jawab Pandu, "Mbak Winda mah serem. Kaya nenek lampir..."

"Ga mungkinnnnn" Timpal Jaya dan Diki hampir bersamaan.

"lya ga mungkin, cewek secantik itu, ga mungkin nyeremin Ndu..." Sahut Eko membela Winda

"Yang ada. Pasti kamu coli terus ya? Kalo dirumah bareng mbak Windamu..."

"HAHAHAHAHA"

Memang benar, Mba Winda, adalah seorang bunga kelas banyak memiliki banyak fans. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang tinggi dan ramping, kulitnya yang mulus, dengan asset payudara dan pantat yang begitu bulat mempesona, membuat banyak disukai oleh teman-temannya. Baik cewek, maupun cowok.

Terlebih, karena dan otaknya yang cemerlang, sikapnya yang ramah, dan kemampuan bicaranya yang begitu syahdu mendayu, menjadikan dirinya sebagai target cewek idaman dari hampir seluruh siswa cowok yang ada disekolah ini.

Bahkan, karena sering ditaksir oleh lawan jenisnya, membuat Pandu terkadang jengah karena nafsu cowok-cowok yang ada disekelilingnya. Karena sering sekali, Pandu dimintain photo Winda secara diam-diam. Yah, meskipun Pandu tak diberitahu secara pasti, untuk apa tujuan pengambilan gambar itu.

Hanya saja, mereka menginginkan photo kakaknya untuk memuaskan nafsu birahinya.

"Busyeeettt Lihat deh.... Itu tetek. Gede amat yaaa?" Seru Jaya ketika sedang asyik membaca majalah

"Mana mana. Lihat...." Sahut Diki ikut mengintip majalah dewasa yang ada ditangan Jaya. "Anjay.....

Hiyak bener. Gedhe banget. Sampe tumpah-tumpah gitu yaa?"

"Hahaha. Itumah biasa kaleeee... Lihat yang ini nih..." Tunjuk Eko memamerkan salah satu koleksi majalah dewasanya ke Jaya dan Diki.

"Ah... Gedhean ini Ko. Cewek yang itu, teteknya palsu..." Celetuk Diki.

"Kaya tahu aja tetek asli dan palsu..." Ucap Eko.

"Beneran itu palsu, Ko" Sahut Jaya mendukung pendapat Diki, "Bener nggak Ndu, tetek cewek itu palsu?" Sambungnya sambil meminta dukungan Pandu.

Pandu, yang sibuk memperhatikan photo-photo majalah dewasa ditangannya, tak mendengar pertanyaan Jaya. Berulangkali, ia membolak balik lembar majalah itu, sambil beberapa kali membetulkan posisi penis di selangkangannya.

"Woi Nduuu...!!" Panggil Jaya sambil menimpuk sohibnya itu dengan bantal, "Ditanyain tuh jawab Nduu.

Jangan malah ngaceng aja....

"Ehhhh? Kenapa?" Kaget Pandu dengan wajah bengongnya.

"Hahahaha... Muka kontol..." Tawa Jaya dan Diki berbarengan.

"Hahaha.. Kamu ngaceng Ndu?" Tanya Eko sambil tertawa.

"Ehhh. Kaga Ko..." Jawab Pandu berusaha menutupi tonjolan penisnya.

"Hahaha. Santai Ndu. Santai.." Ucap Eko sedikit menenangkan, "Kalo ngaceng juga gapapa kok. Toh wajar, kalo cowok ngaceng karena lihat cewek..."

"Hehehe. Abisan majalahmu bagus-bagus Ko..." Sahut Pandu sedikit mengalihkan pembicaraan.

"Kamu suka? Ambil aja kalo mau..."

"Serius?"

"lya. Bawa aja Ndu..." Ulang Eko dengan senyum aneh, "Asal. Jawab dulu pertanyaan aku..."

"Pertanyaan apa?"

"Kamu suka ya? Lihat tetek besar gitu?" Tanya Eko, "Jawab jujur loh ya..."

"Hmmm...

" Pandu tak langsung menjawab. la melirik ke Jaya dan Diki yang juga mulai serius menatap

kearahnya. "Nggak begitu suka sih..." Sambung Pandu

"Kalo ga begitu suka, kenapa daritadi, aku perhatiin, semua gambar yang lu liat, isinya tetek jumbo-

jumbo semua?" Lanjut Eko lagi.

"Hmmmm.... lya ya?" Jawab Pandu sedikit bingung.

"lya khan? Kamu suka liat tetek yang besar-besar?" Tanya Eko lagi, "Kaya tetek Mbak Winda-mu...?"

"Ngggg.. Ituu... Nggg..." Ucap Pandu celingukan ke arah Jaya dan Diki yang sedari tadi tersenyum-

senyum melihatnya

"Hehehe. Santai aja Ndu. Gausah Grogi gitu..." Ucap Eko menepuk-nepuk pundak Pandu. "Gapapa kok Ndu, kalo kamu suka tetek besar gitu. Sama kok. Aku juga suka. Bahkan aku punya imajinasi sendiri ama cewek bertetek besar..."

"Imajinasi Eko mah Parah..." Celetuk Jaya.

"Hiyak. Cabul anaknya..." Sambung Diki.

"НАНАНАНА." Tawa Eko kencang sambil melempar bantal kearah kedua temannya."Kaya kalian berdua

"Aku, Jaya, ama Diki, emang cabul Ndu..." Jelas Eko. "Kami bertiga, memang memiliki satu kecabulan yang sama.

Suka cewek tetek besar. Hanya saja, yang kami sukain adalah, tetek dari wanita yang ada

hubungan keluarganya."

"HAH??? Maksudnya?" Kaget Pandu.

mana ketertarikan temannya itu akan pengakuan dirinya.

Wajah Pandu terlihat begitu tegang. Berulangkali, ia menjulurkan lidah guna membasahi bibirnya. Pandu benar-benar menanti kelanjutan kalimat Eko. Tak henti-hentinya, ia celingukan dan melirik kearah Jaya dan Diki dengan tatapan ingin tahu.

"Aku suka, tetek mamaku Ndu...." Bisik Eko sambil tersenyum bangga.

"Se.. Serius...?" Ucap Pandu tak percaya,

"Mama Yuni?"

Eko tersenyum, ketika melihat Pandu menelan ludah. Berusaha membasahi kerongkongannya yang

mendadak kering karena ucapan Eko barusan.

"lya. Aku suka tetek wanita yang terlah melahirkanku." Ucap Eko sambil berjalan kearah lemari bajunya Mengambil kotak sepatu dari balik susunan baju dan menyerahkannya ke Pandu. "Lihat aja kalo nggak percaya."

Dibukanya kotak sepatu pemberian Eko.

GLEK

Lagi-lagi, Pandu menelan ludahnya.

Didalam kotak itu, ada ratusan photo ibu kandung Eko yang sepertinya diambil tanpa sepengetahuan beliau. Dari mulai photo dirumah, kondangan, dipantai semua lengkap. Disusun dalam album yang dinamai satu persatu.

Bahkan, disitu juga, ada photo Mama Yuni ketika sedang mandi. Yang diambil secara lengkap semenjak berpakaian, membuka baju, telanjang, mandi, hingga selesai. Dan yang paling parah, Eko juga memiliki photo kedua orang tuanya, ketika sedang bercinta.

"Gausah makin ngaceng, Ndu. Biasa aja ngelihatnya... Hehehe..." Ledek Eko yang mengetahui nafsu Pandu yang memuncak. "Kaya ga pernah liat yang kaya gitu aja..."

"Hiyak. Cupu kamu Nduuu..." Sahut Jaya.

"Huuuuh. Kaya kamu punya photo sepupumu aja Jay...?" Ledek Pandu.

"Waaaahh. Belom tahu dia bro..." Sambung Diki

"Jaya dan Diki, mereka juga punya photo wanita pujaannya Ndu..." Ucap Eko, "Khan tadi udah aku bilang. Kami tuh lelaki pecinta keluarga..."

AANJRRRIIIITTT

Teriak Pandu dalam hati. la samasekali tak pernah mengira, hal seperti ini ada didunia ini. Mencintai keluarga, tapi sekaligus 'cinta'.

Aaahhh. Pusing kalo dipikirkan.

"Aku yakin, walau kamu bilang ga suka dengan Mbak Winda-mu" Jelas Eko sambil tersenyum kearah

Pandu,

"Aku yakin, kamu menaruh rasa 'cinta' kepadanya. Rasa yang awalnya ga suka, bakal berubah

menjadi suka.."

"Nggaklah. Cuuuuiiih. Mana mungkin aku bakal suka ama Mbak Winda Kooo. Amit-amit" Ucap Pandu yakin. "Wong selama ini, kita sering berantem. Jadi ga bakalan deh, aku suka. Atau bahkan jatuh cinta dengan nenek lampir itu.."

"Belom aja Ndu..." Celetuk Diki,

"Sebentar lagi juga kamu bakalan nyembah-nyembah Mbak Winda"

"Coba kamu liat tetek cewek dimajalah yang ada ditanganmu..." Pinta Eko.

"Heee?" Heran Pandu

"Tetek mba Winda-mu segedhe itu gak.?" Tanya Eko

"Ngggg....Sepertinya sih... Iya, sama... " Jawab Pandu sedikit malu.

"Kamu udah pernah liat tetek mbakmu Ndu?" Sahut Jaya

Pandu menggeleng

"Kamu udah pernah lihat mbamu telanjang?" Tambah Diki

Pandu menggeleng

"Lha terus...? Berarti kamu belom pernah ngelakuin hal aneh terhadap mbak-mu itu Ndu?.." Tanya Eko heran.

Pandu lagi-lagi menggeleng

"Grepe-grepe pas mbak-mu tidur?"

"Pegang teteknya? Usap pahanya? Remes pantatnya?"

"Ngintipin mbak-mu mandi?"

"Coli di beha atau celana dalem mbak-mu?"

"Belom pernah" Geleng Pandu sambil menatap heran kearah teman-temannya. "Buat apa? Ga seru ah, kalo aneh-aneh bareng mbak sendiri..." Sambungnya lagi dengan nada polos.

"НАНАНАНАНАНА" Tawa ketiga sohib Pandu, terbahak-bahak.

"Jaga mulut BEJAT kalian...!" Hardik Pandu panas, karena mendengar kalimat pedas teman-temannya.

"Cieee... Ada yang tersinggung nih..." Sahut Eko, "Bilang kita BEJAT, tapi ngaceng. Hahahaha..."

Pandu tak mengira, jika kalimat mesum teman-temannya itu, mampu membawa gairah aneh pada dirinya. Mengakibatkan penisnya semakin membengkak. Terisi birahi yang memompa tanpa henti ke batang selangkangannya.

"Ini ngaceng gara-gara majalah pornomu, Ko..." Kilah Pandu mencoba menutupi nafsu syahwatnya.

"НАНАНАНА Iya deeeehh..." Tawa Eko yang kemudian mendekat kearah Pandu. "Kamu suka majalah-

majalah itu?"

"Ngggg. Emang kenapa?" Tanya Pandu

"Ya kalo suka. Ambil aja Ndu..." Sahut Eko

"Ambil...? Maksudnya...?"

"lya. Bawa pulang aja... Semua buatmu..." Jelas Eko, "Asal..."

Pandu menunggu kelanjutan kalimat Eko dengan penuh tanda tanya.

"Asal apa?"

"Asal aku, bisa ngintip mbak Winda-mu, ketika dia mandi..."

"AAASSSHHH. Sinting. Permintaan macam apa pula itu"

"Gimana? Bisa nggak?"

"Gila kamu Ko... Bisa dibunuh mba Winda aku... Kalo minta hal seperti itu"

"НАНАНАНА. Ya terserah kamu Ndu. " Ucap Eko lagi sambil tertawa puas. "Khan keputusannya ada ama kamu..."

Sepulang dari rumah Eko, pikiran Pandu terasa begitu kalut. Bingung. Sekaligus bersemangat. Bahkan, saking bersemangatnya, sepeda gowes yang dinaiki Pandu, hampir nyebur ke selokan. la tak pernah mengira, jika semua temannya itu, begitu cabul. Mereka dengan bangganya, menceritakan hubungan sedarah yang menurut Pandu, begitu tabu, dan tak pantas untuk dilakukan.

"Polos bener nih bocah..." Ucap Eko

"Hiyak nih... Hahahaha. Bener-bener bodoh kamu jadi adik, Ndu..." Sahut Diki

"Kalo aku jadi kamu, Ndu.. Mungkin mbak Winda-mu itu udah ga perawan lagi..." Sambung Jaya.

"Sayang banget Ndu... Punya kakak cewek secakep Winda, kalo memeknya ga diperawanin ama kontolmu sendiri... Huuuu cupuuu... Hahaha..." Seru Jaya sembari tertawa.

"Ehhhh... Itu kalo masih perawan loh yaa... Kalo perawannya udah diambil orang? Pasti bakal lain ceritanya tuh" Celetuk Eko

"Bener juga ya.. Secara, Winda cakep gitu... Pasti udah banyak yang booking kali yaaa?"

Penggalan-penggalan ucapan teman sekelas Pandu, terngiang-ngiang di telinga. Membayang di pikiran.

Melekat di hati.

"Mbak Winda nggak perawan?" Ulang Pandu lagi

"Mbak Winda dibooking?"

"Mbak Winda, telanjang. Dengan tetek besarnya yang ia remas pelan-pelan. Rebahan sambil ngangkang dan memamerkan celah pepeknya. Untuk disodok ama kontol lelaki lain..."

"Oooh. Mbak Windaaaaa..."

ANJING. BANGSAAATT

Umpat Pandu tenggelam dalam imajinasinya.

"Memang sih, kamu itu cantik, Mbak. Kamu tuh seksi..." Batin Pandu sambil menggenjot pedal sepedanya cepat-cepat. Berharap bisa sampai dirumah dengan segera.

"Wajahmu cantik. Badan kamu bagus. Dan gerak tubuhmu menggairahkan..." Sambung Pandu terus menggowes sepedanya. Menerabas semua tikungan, tanjakan, dan segala lubang yang ada dijalan.

"Tapi, apa bener kamu masih perawan ya Mbak? Ohhh. Mbak Winda... Kalo dipikir-pikir, kamu memang

NAKAL Mbak. " Seru Pandu

Bikin kontol adekmu ini... Ngaceng sengaceng-ngacengnya..."


Posting Komentar

0 Komentar