pandu dan lala part 4

 



perubahan


Godaan, bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Termasuk dari teman baik, atau pun keluarga sendiri. Pandu yang sedari kecil sudah terbiasa berperilaku polos, perlahan mulai berubah. Terlebih karena pergaulannya dengan Eko, yang selalu menanamkan hal-hal negatif pada dirinya.

Begitupun dengan Lala, yang secara perlahan, diperkenalkan dengan hal tabu oleh Pandu. Membuat gadis belia yang tak tahu apa-apa itu, semakin terjerumus kedalam godaan paman kandungnya.

***

- - Awal Kilas Balik - -

"Ndu. Aku boleh minta celana dalam mbak-mu?" Celetuk Eko tiba-tiba.

"Hah? Celana dalam Mbak Winda? Buat apa?"

Dua lembar uang bertuliskan limapuluh ribu, kembali disodorkan ke Pandu. Seolah mewakilkan jawaban dari Eko.

"Yang bekas dipakai Mbakmu aja ya Ndu. Kalo ada..." Celetuk Eko menambahkan.

"Celana dalam bekas pakai? Khan bau, Ko...?"

"Gapapa.. Ambilin aja. Kalo ada..."

Walaupun heran, tetap saja Pandu keluar mencari celana dalam Winda di tumpukan pakaian kotor yang ada di tempat cucian kotor.

Sejenak, Pandu mengaduk-aduk isinya. Dan setelah beberapa saat, ia

berhasil menemukan dua celana dalam bekas pakai, milik kakak kandungnya.

"Nih.. " Ucap Pandu melempar salah satu celana dalam yang ada ditangannya kearah Eko.

HAP.

Tangkap Eko yang segera saja mengamati setiap detail celana dalam milik kakak Pandu itu. Otak Pandu berpikir keras. Kenapa celana dalam kumal itu nampak begitu menarik di mata Eko.

Sampai-sampai, Eko menghirup dalam-dalam aroma yang tertinggal di kain mungil itu.

Karena penasaran, Pandu ikut mengamati celana dalam Winda yang ada ditangannya. Memperhatikan setiap keanehan yang ada disitu. Didekatkannya wajah Pandu ke celana Winda yang mungkin telah dipakainya kemarin atau kemarinnya lagi.

Celana itu telah kotor, karena nampak ada bekas daki ke-kuning-kuningan yang mungkin disebabkan keringat di selangkangan kakak kandungnya.

Kemudian Pandu melihat ke bagian tengah celana dalam. Ke bagian dimana celah vagina Winda menempel erat padanya. Warnanya semakin kuning yang pekat. Mungkin di bagian itu terdapat sisa-sisa air kencing yang bercampur keringat yang tertinggal.

"Coba deh kamu cium celana dalam itu, Ndu... " Celetuk Eko sambil tersenyum karena melihat gerak-

gerik Pandu. "Aromanya pasti memabukkan...

Wajah Pandu memerah. Malu. Karena wajah penasarannya terlihat jelas oleh Eko. Tapi, bodo amat. Toh, ini celana dalam kakak kandungnya sendiri.

TUING.

bekas pakai itu.

Penis Pandu mendadak mengeras begitu ia mencium aroma pesing yang amat lekat pada celana dalam

Darah

birahinya langsung berdesir. Memompa semangat pada batang selangkangannya. Darah

shaywatnya juga naik ke kepala. Membuat wajah dan ubun-ubun Pandu semakin panas.

"Oohh... Aroma wangi memek Mbak Windaaaa". Ucap Pandu seperti melayang, menghirup aroma pesing kencing dan asem keringat selangkangan kakak kandungnya. Bau aneh vagina Winda, seketika terekam erat di pikirannya. Menjadi sebuah memory wewangian yang begitu memabukkan. Yang tak pernah ia temui dimanapun ia berada "Segar sekali. Ooohhh. Memek Mbak Windaaaa"

Pandu merasa, menciumi aroma vagina di celana dalam Winda adalah sebuah hobby baru. Hobby yang membuat hasrat birahinya meledak dan terbakar. Menggelegak dan liar.

Semakin Pandu menghirup aroma pesing celana dalam itu, imajinasinya langsung terbang bebas. Lepas.

Dan tak dapat ia kontrol.

Pikiran Pandu membayangkan, jika Mbak Winda telah menantikan kecupan bibir dan jilatan lidah pada selangkangan serta vaginanya.

JBLAAMM

Tiba-tiba, terdengar suara gabrukan pintu kamar mandi.

"Mbak Winda mandi..." Seru Eko dan Pandu hampir bersamaan.

Buru-buru, Eko dan Pandu bergegas menuju gudang yang berada tepat disamping kamar mandi. Naik kemeja, dan menunggu tempo yang tepat dibawah ventilasi kamar mandi.

"Kamu mau apa Ko?" Tanya Pandu ketika melihat sohibnya menurunkan seluruh celana yang ia pakai.

Setelah itu ia mulai memijat, menarik dan mengurut batang penisnya.

"Coli" Jawab Eko santai sambil membungkus batang selangkangannya dengan celana dalam bekas

pakai Mbak Winda tadi.

"Coli?"

"lya. Kocok Peli... Ehhh??" Tiba-tiba tersenyum lebar kearah Pandu, "Jangan-jangan. Kamu belom pernah coli ya selama ini..

Pandu menggeleng.

"HAHAHA. ******!!!" Geram Eko sambil menghantam lengan Pandu. "Jadi selama ini, kontolmu hanya dipake buat kencing?"

"Emang bisa buat apalagi?"

"Sumpah TOLOL banget kamu jadi cowok. Yaudah. Sini ikutin aku..."

BYUUURRRR BYUUUURRR.

"Aaaahh. Gara-gara kamu. Aku jadi telat liat Mbak Windamu mandi..." Sebal Eko sambil naik keatas meja, mengintip adegan erotis kakak Pandu ketika mandi, sambil mulai mengocok kemaluannya.

Dengan hati yang berdegub begitu kencang, Pandu juga menegakkan badannya. Ikut mengintip kearah

Winda yang sedang mandi diruang sebelah.

GILAAAAA.

Akhirnya, dengan mata kepalanya sendiri, Pandu bisa melihat tubuh telanjang Winda yang begitu sensual. Tubuh seksi tanpa penutup yang basah kuyup.

Yang sama sekali tak pernah ia sadari sebelumnya.

Payudaranya bulat, membusung begitu kencang. Seolah menantang, dengan ujung puting berwarna merah kecoklatan yang selalu menunjuk kedepan.

Perutnya padat, ramping dengan pinggang yang meliuk, serta pusar menggaris tipis. Benar-benar sempurna.

Vagina Winda pun tak luput dari sasaran tatapan mata Pandu. Meskipun tak terlihat lubang vaginanya secara jelas, akan tetapi Eko dan Pandu, terus saja menatap tajam kearah vagina Winda. Vagina yang walau sudah mau lulus Sekolah Menengah, tak ada sedikitpun bulu jembutnya yang tumbuh diselangkangannya.

"Nggghhhh... Mba Windaaaa..." Erang Eko terus mengocok batang penisnya kuat-kuat. "Seksi banget tubuhmu Mbaaa. Tetekmu... Pantatmu... Memekmu... Sshshhhh... Oooohhhhh... Mba Windaaa..."

TEK TEK TEK TEK TEK

Dengan perasaan bingung dengan apa yang sedang terjadi pada sohibnya, Pandu pun mengikuti langkah-langkah Eko barusan. la lalu membungkus batang penisnya dengan celana dalam Winda.

Kemudian mengocoknya pelan sambil kembali mengintip tubuh kakak kandungnya.

Tak lama kemudian, Winda mulai menyabuni tubuhnya. Dimulai dari tengah dadanya, naik ke leher, lalu bergerak memutar kesamping. Kearah ke kedua payudaranya, sambil me-melintir putingnya yang sudah begitu mencuat tegang.

"Eehhhmmmmhhhhh.... "Erang WInda yang kemudian, tangannya bergerak turun. Menyabuni vaginanya sambil menggelitik lubang kencingnya pelan.

"Ndu, bayangin kontolmu itu, masuk kedalam memek Mbak WInda-mu..." Erang Eko yang lagi-lagi memberikan komentar mesum. Sengaja melihat reaksi Pandu yang terlihat sangan mupeng.

"Ooohhh..." Erang Pandu ketika ia merasakan nikmat aneh yang menggelitik sepanjang batang kemaluannya.

"Gimana rasanya? Enak?" Sindir Eko, "Bayangin terus Ndu... Sampe mbakmu itu kelimpingan..."

Pandu mengangguk.

"Itulah rasanya COLI, Ndu. Nikmat. Enak. Dan bikin ketagihan..." Jelas Eko sambil terus membetoti batang kejantanannya yang semakin keras.

TEK TEK TEK TEK

Suara tarikan kulit penis Pandu dan Eko saling bersahut-sahutan. Memenuhi gudang sempit nan pengap itu.

Mereka berdua seolah berlomba-lomba, untuk dapat memuaskan nafsu birahinya yang sudah begitu tinggi dengan waktu sesingkat mungkin.

TEK TEK TEK TEK

"Aaahhhh... Mbak Windaaa. Aku pengen ngenyotin tetek besarmu Mbaaak..." Erang Eko ketika melihat Winda sedang menggosok kedua payudara besarnya secara bergantian. "Aku juga pengen ngentotin memekmu, Mbaaak... Oohh... Pasti rasanya nikmat sekali..."

TEK TEK TEK TEK TEK TEK

Dan tak berapa lama kemudian, Pandu merasa, ada desakan aneh dari dalam penisnya. Rasanya hangat, yang perlahan menjadi panas. Urat-uratnya mengedut, dan seperti memompa sesuatu dari bawah batang penisnya.

Dan,

dalam sepersekian detik kemudian. Pandu merasakan sebuah kenikmatan aneh yang tak pernah ia

rasakan seumur hidupnya.

"Ooohhh... Kooo... Rasa apa ini Kooooo?" Lenguh Pandu ketika tak bisa lagi menahan kencing nikmatnya keluar

"Kocok terus aja Ndu... Ntar pasti kamu ngerasain hal yang enak..."

"Ngggghhh... Nggghhhh...." Geram Pandu makin mempercepat kocokan tangannya. Merangsang syaraf kenikmatannya supaya segera hadir dan menghantarkan jutaan benih kejantanannya keluar, bersamaan dengan denyut orgasme yang begitu dahsyat.

TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK

"Oooohh. Kooo. Aku ga tatah lagi Ko... Ini... Shhhh... Aneh banget rasanya..." Bingung Pandu tak mengerti, apa yang sedang ia rasakan saat itu, "Aku pengen kencing Kooo... Ooohhh. Anjing..."

CROOT CROOOT CROOOCROOOT CROOOTTT CROOOOTTTIT

Semburan cairan bening kental, menyembur tepat kedalam balutan celana dalam bekas Winda.

CROOT CROOOT

Saking banyaknya, lelehan lendir itu, tak tertampung sama sekali. Menetes deras membasahi tangan, dan permukaan meja tempat Pandu mengintip.

"HAHAHA. Cepet banget kamu ngecrotnya, Ndu..." Ledek Eko yang masih semangat mengocok batang penisnya. "Kontol kamu gedhe tapi bapuk...! Cepet keluar...!! HAHAНА..."

"Hhhh..Hhhh..Hhhh..." Pandu tak membalas. la hanya menghayati kenikmatan denyut otot penisnya

pasca ejakulasi. Sambil mengamati tingkah mesum Eko yang masih beronani disampingnya.

Tak lama kemudian, tubuh Eko pun ikut bergetar. Punggungnya melengkung-lengkung. Dan seriring dengan itu, sohib mesumnya itu pun keluar. Disertai dengan suara mengembik yang tak karu-karuan

CROOT CROOOT CROOOCROOOT CROOOTTT CROOOOTTTITTIT

"NGENTOOTT. MBAK WINDAAA OOHHH.. ENAK BANGET KALO BISA NGENTOTIN MEMEKMU MBAAK. OOHH. ANJING.. ENAK BANGEEETIT...." Erang Eko lantang

"EKO JANGAN BERISIIKK!!!!" Buru-buru, Pandu menarik Eko turun dan mendekap mulut sohibnya supaya tak mengerang-erang lantang seperti itu.

"DEK? KAMU NGINTIP YA?" Teriak Mbak Winda lantang dari balik tembok kamar mandi

"Aduh... Mati kita Koooo.. Mati kitaaaa..."

Akhir Kilas Balik - -

***

"Apakah itu kali ya, yang dinamakan rasa sayang?" Tanya Lala dalam lamunannya, sambil memandang aliran air sungai yang begitu segar di ujung halaman rumahnya. "Rasanya, membuat dada begitu berdebar-debar.

Membuat nafas memburu. Membuat pikiran selalu terbayang-bayang. Aneh. Kenapa bisa begitu ya?"

Selama dua hari ini, Lala merasa jika pikirannya melayang-layang. Senyum diwajahnya tak dapat ia sembunyikan. Entah. Rasa aneh apa ini.

Sepulangnya Pandu kemarin sore, pikiran Lala seolah tak bisa berhenti untuk tak memikirkannya.

la merasa, ada rasa bahagia, takut dan cemas, yang berputara . di hatinya, yang muncul secara

bersamaan di waktu yang sama. Senyum-senyum sendiri, tertawa sendiri, ngomong sendiri.

Sekilas, Lala merasa seperti menjadi orang gila, akan tetapi anehnya, ia masih bisa berpikir waras.

Bahkan saking merasa bahagia-nya, ketika Lala mematut dirinya didepan cermin yang ada di pintu lemarinya, bayangan dirinya pun seperti sedang tersenyum menatapnya.

"Oh. Lala. Perasaan apakah ini...?" Ucap Lala yang tak henti-hentinya memikirkan kejadian bersama

Pandu kemarin siang.

Dengigit gigin yang sam Lala tarsadar, jakr meryanya terbiray a yaity Seksi kelika a's, memubit, serta,

atau mempermainkan bibir.

"Ternyata, ciuman bareng cowok tuh nggak se-menjijikkan itu." Batin Lala lirih sambil membasahi bibirnya dengan lidah. "Enak... Basah. Dan membuat hati berdebar-debar..."

Lagi-lagi, Lala teringat kejadian bersama Pandu kemarin.

Saat bibirnya dikecup, dilahap, dan digigit mesra. Saat lidahnya dikait, saling lilit dan saling bertukar ludah. Saat payudaranya diremas, dikecup dan dijilat dengan lidah Pandu yang kasar. Dan saat, ketelanjangan tubuh bawahnya dilihat dengan kedua mata Pandu.

"Ooohhh. Om Panduuu..." Desah Lala yang nafsunya mulai kembali bangkit. "Shhh... Kenapa tetekku bisa jadi mudah geli seperti ini ya?..." Erang Lala yang mencoba mengingat-ingat rasa aneh ketika payudaranya diremas Pandu.

Lala kemudian menyelipkan kedua tangannya dari bawah tanktopnya. Meraba kedua payudaranya yang mulai membesar, dan meremasnya pelan.

"Sssshhh... Enak banget..." Erang Lala sambil merem melek. Mencoba mencari kenikmatan yang sama seperti kemarin. Meremas sambil memilin putting payudaranya yang masih terbenam di ujung payudaranya. "Ooohhh.. Rasanya... Enak... Tapi bikin geli sekali..."

"Ooohhh. Om Panduuuu..." Erang Lala yang secara reflek, meraba celah kemaluannya. Memijit-mijit garis kelaminnya sembari terus mempermainkan kedua payudaranya.

"Ehhhmmmmhhh. Oooohhhhhh.. GILA. Rasanya enak bangeet..." Batin Lala mendengus-dengus karena birahinya makin tinggi. "Aku sepertinya bakalan susah berhenti nih. Aku seperti ketagihan..

Ooohhh. Om Panduuu.... " Sambungnya sembari mulai menyelipkan tangannya kedalam karet celana dalamnya.

"Oooohhhh. Geli-geli nikmaaaattt..." Erang Lala yang secara reflek, mencolek biji klitorisnya pelan.

Jemarinya mulai mengais-ngais, tanda jika nafsunya semakin tak terbendung. "Eehmmmhhh.."

"Lalaaa... Makan malemnya dah jadi Sayang. Yuk kita makan bareng-bareng.." Ucap Winda memanggil putrinya dari luar korden kamarnya.

DEG.

"Mama mau masuk kamar..."

Lala yang sedang berusaha mengulang peristiwa kemarin siang, buru-buru menjauhkan tangannya dari tubuhnya. Menurunkan tanktopnya, serta merapikan pakaiannya yang tadi sempat terbuka.

Dengan susah payah, gadis mungil itu menghentikan secara paksa pelampiasan birahinya. Mengabaikan segala macam godaan yang telah membuat vaginanya begitu membanjir basah.

"l.. lya Maaa..." Jawab Lala gagap.

Tak lama kemudian, gadis mungil itu keluar dari kamar, dan bergabung dengan Winda didapur.

"Mau Mama ambilin? Atau ambil sendiri?" Tanya Winda seolah tak memerlukan jawaban putrinya, ia lalu menyendok nasi dari penanak nasi dan meletakkannya di piring. "Pake lauk tempe? Ati ampela? Atau telur mata sapi?"

"Tempe aja Maaa..." Sahut Lala.

"Makan yang banyak ya Sayang..." Ucap Winda yang seolah tak mempedulikan jawaban putrinya. la tetap saja meletakkan semua jenis lauk yang ada dimeja ke piring Lala. Setelah itu ia membereskan piring bekas santap malamnya. Dan melangkah pindah keruang tamunya.

"Mau kemana Ma?" Tanya Lala, "Temenin Lala dong..."

Sejenak, Winda menghentikan langkahnya. la menengok dan tersenyum kearah putri semata wayangnya,

"Mama mau cepet-cepet kelarin pesenan Pak Darsono Sayang..." Sambungnya lagi sambil berbalik

arah. Kemudian mengecup kening Lala dalam-dalam "Beliau mau semua pesanan kantornya selesai tiga hari lagi..".

"Salaaaaamm... Mbak Winda... Mbaaak..." Panggil suara seorang lelaki, yang tiba-tiba berteriak lantang dari arah teras rumah. "Masak apa hari ini ya Mbaaak?"

"Sayur lodeh nangka. Tempe. Ati ampela. Dan telor ceplok..." Sahut Winda dengan suara tak kalah lantang, "Sini-sini Dek...Masuuukk."

"Aseeeekkk..."

"Naaah Sayang. Sementara kamu makannya ditemenin ama Om Pandu aja gapapa yaaa...?" Ucap

Winda memberi saran, "Sini Dek.. Mba didapur..."

"Ehhhh.. Ehhh... Ehhh. Ada si cantiknya Om...." Ucap Pandu ketika mendapati Lala didapur, "Sedang makan juga ya Neng?"

Melihat kehadiran Pandu, wajah Lala mendadak memerah tanpa ia sadari. Panas. Dan membuatnya tersipu. Otak gadis belia itu, mendadak teringat tentang apa yang baru saja mereka lakukan kemarin.

"Dek. Temenin Lala makan yaa. Mbak mau nerusin jahit...." Ucap Winda yang juga menyendokkan nasi keatas piring beserta sayur dan lauknya.

"Siap Mbaaak... Demi Neng Lala... Aku siap kok disuruh apa aja..." Sahut Pandu sambil tersenyum.

Selama beberapa menit kemudian, Lala dan Pandu menyantap makanan dalam diam. Sama sekali tak berucap. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang bersahut-sahutan.

"Kamu kok daritadi semenjak Om dateng, kenapa senyum-senyum mulu sih Neng...?" Tanya Pandu yang tak tahan akan kesunyian diantara mereka, "Ada yang salah di muka Om?" Lala menggeleng. Dan lagi-lagi tersenyum.

"Tuuuuuhh. Senyum lagi...." Ucap Pandu, "Kenapa sih...?"

Lagi-lagi Lala menggeleng. Dan kembali tersenyum.

"Ihhhsss.. Kamu kesambit ya Neng?" Tanya Pandu.

Lala tersenyum. Dan menggelengkan kepalanya lagi.

"Hmmmmm.... Sepertinya Om tahu... Kenapa kamu senyum-senyum mulu..." Ucap Pandu yang sekilas melirik kearah ruang tamu dimana Winda berada. Dan setelah dirasa aman, ia mendekatkan wajahnya kearah keponakannya. "Kamu senyum-senyum sendiri ngelihat Om tuh pasti karenaaa...."

CUUUUUUPPPP.

Pandu mencium bibir Lala tanpa aba-aba sedikitpun. Membuat gadis belia yang terus saja senyum itu, langsung membelalakkan matanya.

HAPP CUUUPP CUUPPPP

Pagut Pandu terus mencium mulut Lala. Menjepit bibir lembut keponakannya itu sambil mulai melilitkan lidah.


Lala yang tak menyangka akan mendapatkan perlakuan mesum Pandu, sesaat merasa terkesima oleh kenekatan pamannya. la mendiamkan diri sejenak, melirik kearah Winda yang masih sibuk dengan mesin jahitnya. Dan setelah beberapa detik kemudian, mulai membalas ciuman basah pamannya.

CUUP CUP CUUP

SLUUURPP SLUURRP CUUPP CLUUURRP

Selama beberapa detik, Pandu dan Lala berciuman dengan ganasnya. Tak mempedulikan dengan status paman dan keponakannya saat itu. Saling kecup bibir, saling lilit lidah, saling tukar air liur.

Dan dalam hitungan detik, birahi keduanya pun meninggi. Memanas membakar ubun-ubun.

Melihat respon Lala yang sudah bisa mengimbangi ciuman basahnya, tangan Pandu pun langsung merangsek maju. Menyentuh kedua payudara Lala yang masih terbungkus oleh tanktop tipisnya.

Meremas pelan sambil memilin putting payudaranya yang mulai mengeras.

SLUUURPP SLUURRP CUUPP CLUUURRP

Tak cukup disitu saja, Sambil terus berciuman, Pandu mengamit tangan Lala dan mengarahkannya ke selangkangannya. Menyodorkan batang penisnya yang seketika mengeras ke tangan keponakannya.

"Pegang kontol Om, Neng..." Bisik Pandu yang kemudian, mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang celana kolornya. "Kocokin kontol Ommm..."

Lala yang baru pertama kali melihat, dan memegang penis lelaki dewasa, hanya bisa diam. Menuruti permintaan mesum Pandu tanpa rasa takut, malu, ataupun sungkan.

Lala seolah telah dibutakan oleh rasa 'sayang' sekaligus penasaran yang bergejolak didalam hatinya.

Bahkan, ketika tangan Pandu menuntun genggaman tangan keponakannya itu untuk bergerak naik turun, Lala dapat langsung mempraktekkannya tanpa kesulitan yang berarti. Karena tangannya, sudah langsung mahir melakukan gerakan mengurut disekujur batang jumbo pamannya.

"Ohhh. Neeeeenggg... Enak banget kocokan tanganmu..." Erang Pandu ketika merasakan belaian tangan halus Lala pada batang penisnya., "Sssshh Iyaaa Neeng. Teruuus.. Ohh Enaaakkk..."

KLETEK

Tiba-tiba, terdengar suara gunting jatuh dari arah ruang tamu.

Karena kaget. Keduanya langsung menghentikan kegiatan mesum mereka. Pandu buru-buru

memasukkan penisnya, dan Lala buru-buru merapikan peralatan makan. Keduanya, saling bertatap-tatapan dengan nafas yang masih memburu. Terpaksa menghentikan sejenak pendakian birahinya, karena situasi yang tak memungkinkan.

Otak Pandu segera memutar otak. la harus bisa menuntaskan rasa 'kentang' dihatinya.

TING

Sebuah ide, tiba-tiba melintas di benaknya.

"Neng. Nonton layar tancep yuk. Malem ini filemnya action comedi.." Ajak Pandu sambil mengedipkan mata kearahnya. Seolah mengajak Lala bersandiwara ketika berjalan kearah Winda yang sedang sibuk di ruang tamu.

"Yuk yuk... Boleh Om..." Seru Lala yang tahu akan maksud Pandu. Mengangguk girang dari arah dapur, sambil berpura-pura melanjutkan acara beberes peralatan makannya, "Tapi aku minta izin dulu ke Mama

"lya gih sana..." Senyum Pandu, melihat rencana mesumnya disambut baik oleh Lala.

"Maaaaa, aku mau nonton layar tancep bareng Om Pandu boleh ga Maaa?" Ucap Lala menyusul kearah ruang tamu. Menghadap WInda sambil mengedip-kedipkan matanya.

"Dimana Dek?" Tanya Winda yang masih sibuk menyelesaikan pesanan jahitannya sambil menatap anak

semata wayangnya.

"Di lapangan Mbak, sebelah kelurahan"Jawab Pandu sedikit berteriak, "Ikut yuk"

"Hmmm. Pengen sih... Cuman, Mbak masih harus selesaiin pesenan baju-baju kantornya Pak Darsono nih Dek. Palingan Mbak nitip Lala aja ya kalo gitu..."

"Bener nih...?" Tanya Pandu memastikan, "Disitu ada bakso tetelan daging dan telor yang enak loh."

"Iya Dek. Mbak bener-bener lagi repot..."

"Aku traktir deh...

Sejenak, Winda menghentikan mesin jahitnya. la tersenyum sambil menatap sayu kearah Pandu.

"Pandu, Adekku yang paling ganteng. Mbak belom bisa itut nonton... Mending, kamu buruan ganti baju aja gih sana. Masa mau nonton pake kolor ama kaos gombrong gitu...?"

"Emang kenapa? Wong gini juga masih ganteng kok..." Sombong Pandu menepuk dadanya, "Hehehe.

Oh yowes kalo emang Mbak lagi ribet... Kalo gitu, aku pinjem Lala sebentar ya. Mau ajak dia kencan.."

"lya gih..." Jawab Winda yang kemudian melanjutkan menjahit

"Kalo gitu, aku jalan dulu ya Mbak..."

"lyeeeeeee..." Sahut Winda mulai jengkel dengan kecerewetan Pandu.

"Aku jalan juga ya Maaa..." Sahut Lala..

"Eh eh eh...." Melihat Lala yang masih berpakaian rumahan, Winda langsung memanggil putrinya lantang. "Kamu mau jalan nonton layar tancep pake baju gitu, Sayang?" Tanya Winda mengkoreksi cara berpakaian putrinya yang hanya mengenaiak tanktop tipis dan celana kolor pendeknya. "Ganti baju dulu sana..."

"Ngggg.. Om Pandu boleh pake baju rumahan. Masa aku nggak boleh, Ma?"

"Kamu anak perempuan. Ga baek kalo pake baju mini gitu keluar rumah. Udah sana ganti..."

"lya, Neng. Ganti aja yang agak cakepan. Tapi Gausah cantik-cantik. Nanti banyak yang pengen culik kamu..." Tambah Pandu sambil mengusap kening keponakannya.

"lya Ommm..."

"Pake daster aja Neng. Yang simpel-simpel..." Ucap Pandu lagi memberi saran.

"Daster yang mana?" Bingung Lala.

"Kalo enggak, pake kaos aja, ama legging..." Bisik pandu lirih sambil meremas kedua bulatan pantat montok keponakannya itu tanpa sepengetahuan Winda.

"Ngg... Yang mana ya...?"

"Bebas... Tapi.... GAUSAH pake celana dalem... "

"Ehhh?" Mendengar permintaan aneh Pandu, wajah Lala seketika mendadak berubah merah. Pikirannya langsung melebar kemana-mana. Lala malu. Namun penasaran.

"lya. Gausah pake celana dalem..." Pinta Pandu sambil tersenyum tipis, "Biar kita nanti gampang kalo mau ngelanjutin yang enak-enak ...

"Emang mau ngapain Om..?" Tanya Lala.

"Mau ngelanjutin yang tadi" Jawab Pandu singkat dengan senyum super lebar, "Yaaa. Itupun kalo kamu mau..."

"Nggggggg...." Bingung Lala.

"Gimana? Mau ya..?" Bisik Pandu lagi

Tanpa berpikir lagi, Lala kemudian mengangguk. la tersenyum malu dan masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju.



Posting Komentar

0 Komentar