kepuasan pertama
"Mbakmu gak marah Ndu?" Tanya Eko ketika melihat kepergian Winda dari kamar Pandu dengan tubuh
telanjang bulat.
"Ngggg..." Jawab Pandu yang juga kebingungan melihat sikap kakak kandungnya barusan.
"Anjaiy... Mbak WIndamu ternyata nakal juga ya Nduu...?" Celetuk Eko spontan sembari mengusap batang penisnya yang sudah begitu mengeras
"Nakal..?" Heran Pandu tak mengerti
"lya, Nakal. Bener-bener ngebuatku makin penasaran... Sampai sejauh apa sih... Tingkah genitnya..."
"Mbak Winda Nakal... Mbak Winda genit..." Batin Eko polos, yang ikut menilai mengenai perilaku kakak kandungnya itu.
-___
Keesokan harinya, semua terlihat biasa. Walau kemarin Pandu baru saja melihat ketelanjangan Winda, akan tetapi, tak terlihat sesuatu hal yang berbeda diantaranya ketika berada dirumah.
Mereka berdua, masih saling menyapa, ngobrol, dan bercanda tawa. Meskipun tak seseru dulu, akan tetapi kedua kakak beradik itu masih berusaha tak membahas kejadian mandi dan telanjang itu.
Begitupun dengan Eko, ketika berada disekolah.
Meskipun ia kemarin telah mengintip Winda ketika mandi, plus menikmati pemandangan tubuh bahenol kakak Pandu dalam jarak yang begitu dekat, tetap saja la tak membahasnya kepada siapapun.
Remaja dari keluarga kaya itupun masih berbuat keisengan seperti biasam tanpa mengungkit-ungkit
tingkah nakal Winda sedikitpun.
Semakin berjalannya waktu, Pandu merasa jika obsesinya terhadap Winda pun semakin menggebu.
Terlebih ketika ia mendapati jika kakak cantiknya itu, semakin hari semakin memiliki banyak penggemar disekitarnya. Membuat Pandu juga ikut bersaing guna mendapat perhatian lebih dari kakak kandung cantiknya.
Pandu semakin sering membayangkan jika Winda dijahilin oleh teman-temannya. la juga sering
berimajinasi jika kakak kandungnya itu, benar-benar menjadi wanita nakal.
Perlahan, Pandu yang semula memiliki keprbadian polos, gara-gara sering bergaul dengan Eko, berubah menjadi sesosok remaja yang begitu mesum. Pandu yang maniak. Seorang pengintip celana dalam sejati.
Dan, ujung-ujungnya, setelah memikirkan segala kemesuman yang sekiranya bisa dilakukan oleh Winda, sore harinya, Pandu menutup kebiasaan mesumnya itu dengan satu pelampiasan terakhir.
TEK TEK TEK TEK
Onani dengan menggunakan celana dalam serta beha Winda.
Hampir setiap hari, Pandu merelakan waktu sore harinya untuk berdiam-diri digudang samping kamar mandi. Mengintip dengan lebih hati-hati sembari sambil terus mengocok batang penisnya yang telah terlilit oleh celana dalam bekas Winda yang terpakai seharian olehnya.
"Ooohhh. Memek Mbak Winda.." Lenguh Pandu menghisap dalam-dalam aroma celana dalam kakak kandungnya. Menggiring imajinasi mesumnya ketingkat paling tinggi.
Sembari mengintip kearah kamar mandi, Pandu segera membuka baju. Melepas celana pendek dan celana dalamnya yang sudah basah dengan cairan precum. Dan, dengan nafsu yang sudah begitu tinggi, Pandu menghirup bra Winda sembari mengocok penis yang sudah terbungkus oleh celana dalam kakaknya.
TEK TEK TEK TEK
"Ooohhh... Tetek Mbak Winda.. Shhhh... Ohhh.. Harumnya bau keringatmu... Mbak..."Desah Pandu melihat bongkahan bulat payudara Winda yang begitu putih, bulat dan montok dari jendela lubang ventilasi kamar mandi. "Besar banget tetekmuuu Mbaaaak..." Sambungnya menikmati kemolekan dan keindahan tubuh tubuh kakaknya.
Dada Pandu bergemuruh. la tak pernah puas melihat tubuh telanjang Winda yang begitu sintal dan padat.
Dipelototinya tubuh molek kakak kandungnya dari atas ke bawah, tanpa terlewat satu milimeter pun.
Dan ketika mata pandu melihat ke gundukan aurat yang berada di antara kedua kaki yang jenjang Winda, Pandu mulai membayangkan, jika seandainya ia dapat menyetubuhi tubuh kakaknya yang begitu merangsang birahi.
Darah syahwat Pandu mengalir dengan cepat seiring dengan dengusan nafasnya, seiring dengan kocokan penisnya yang sudah begitu keras dan berdenyut-denyut.
TEK TEK TEK TEK TEK TEK
"Nggggg.. Ooooohhh.. Memek Mbak Winda... Sempit banget itu pasti rasanya...." Tanpa sadar Pandu mulai mendesah. Hingga sepertinya mengusik keasyikan Winda mandi.
Kepala Winda tiba-tiba menatap kearah ventilasi. "Adeeeekkk... Kamu ngintip yaaa...?" Tanya kakak
Pandu itu sambil menghentikan aktifitasnya.
DEG.
"GOBLOOOGG..!!" Erang Pandu dalam hati karena tak mampu menahan mulutnya yang berisik.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan membuat meja tumpuan tempat ia mengintip miring.
"Aduh. Aku bakal jatuh dari meja nih..." Otak Pandu memprediksi. "Aku bakal membuat semuanya ketahuan.." Sambungnya sambil buru-buru memikirkan langkah selanjutnya.
Karena tak ingin ambruk dari atas meja, otak Pandu secara reflek, meminta anggota tubuh lainnya untuk segera menyeimbangkan badan. Tangan Pandu terentang, dan kakinya melebar. Berusaha membuat meja miring itu kembali keposisi sebenarnya.
Dalam keseimbangannya, Pandu berhasil menghentikan kemiringan meja tumpuannya. Bahkan, ia juga berhasil mengembalikan meja yang hampir terguling itu keposisi sebelumnya.
Namun belum juga satu masalah selesai, ada masalah lain yang menyusul.
Pandu tak menyadari jika ketika meja miring itu berbalik ke posisi sebelumnya, akan ada momentum kemiringan yang bakal terjadi. Sehingga membuat tepi meja itu membentur kencang ke dinding kamar mandi.
DUUUUUUUG DUG DUG DUG
"ANJRIIITIT... Berisik bangetttt...." Raung Pandu dalam sesal.
Seketika itu juga nafsu birahi Pandu, seolah tiba-tiba hilang entah kemana. Berganti dengan rasa takut dan malu yang begitu luar biasa. Dengan gerakan secepat kilat, Pandu kemudian membungkukkan badan, berusaha sembunyi dari tatapan mata kakak kandungnya.
DEGDEG DEGDEG DEGDEG
Detak jantung Pandu berdetak tak menentu, memikirkan segala macam omelan dan amarah yang harus ia terima dari WInda.
Pandu pasrah, jika pada akhirnya Winda masuk kedalam gudang dan mendapatinya sedang beronani karena mengintip dirinya mandi. Dan yang terpenting lagi, Pandu harus siap dengan segala konsekuensi yang bakal terjadi karena ulah cabulnya ini.
Namun, ditengah kepasrahan hatinya, apa yang Pandu khawatirkan tadi, entah kenapa tak juga terjadi.
Karena setelah ia menunggu lama dalam keputus-asaan, tak ada pergerakan dari Winda sama sekali. la tak marah, ataupun menuju gudang untuk menangkap basah dirinya.
Bahkan, ketika Pandu mencoba untuk mendapati situasi yang ada dibalik tembok gudang ini, sekilas ia mendengar alunan suara dari arah kamar mandi.
"Kok Mbak Winda malah menyanyi...?" Heran Pandu yang kemudian dengan pelan-pelan menaikkan lagi
kepalanya mendekat kearah ventilasi. Dan dengan satu tarikan nafas, adik Winda itu berusaha memberanikan diri untuk kembali mengintip kearah kamar mandi.
"Looh Ehhhh...?" Kaget Pandu ketika melihat apa yang sedang diperbuat Winda didalam sana.
Winda, dengan gerakan gemulai, kembali menggosok-gosok tubuhnya dengan sabun sambil mendendangkan lagu. Wajahnya ceria, seolah tak ada curiga atau emosi karena kejadian dan suara-suara yang terdengar barusan. Bahkan, sekilas Pandu melihat sebuah lirikan tipis dan senyum diwajahnya.
"Mbak Winda senyum?" Heran Pandu sambil mengucek kedua matanya. Seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat diwajah cantik kakak kandungnya.
lya, setelah dilihat dengan seksama, Pandu benar-benar melihat sebuah senyuman, tersungging lebar di bibir WInda. Apalagi ketika melihat lirikan-lirikan di ekor mata Winda, Pandu seolah menyadari, jika sepertinya Mbak Winda tahu akan kehadiran dirinya disitu.
Malahan, Pandu juga merasakan jika Winda, seolah-olah dengan sengaja memamerkan keindahan tubuhnya. Sambil bernyanyi, kakak kandungnya itu mandi sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Menyabuni kedua bongkah payudaranya sembari meremas-remas lembut, asset tubuhnya yang begitu indah.
Dan yang paling membuat Pandu semakin yakin jika WInda ingin ditonton, ia juga mendengar desahan-desahan nikmat ketika sedang mempermainkan kedua payudaranya.
"Mbak Winda sepertinya sedang sange... Jadi ia tak mempermasalahkan keberadaanku disini.." Pikir
Pandu yang menyadari keberuntungannya.
Secepat kilat, Pandu kembali mengurut batang penisnya lagi. Sambil membayangkan sedang meremasi kedua payudara besar Winda.
TEK TEK TEK TEK
Melihat cara mandi Winda yang begitu 'aneh' membuat Pandu begitu terangsang. Rasa malu akan ketahuannya, seketika lenyap. Tergantikan oleh rasa nekat yang begitu menggebu.
"Ooohhh.. Mbak Windaaa..." Desah suara Pandu tanpa sadar, kembali menyusup melalui ventilasi kamar mandi. Mengusik telinga Winda yang begitu sensitif. "Kamu seksi sekali mbaaaakk... Ssshh..."
Mendengar desahan Pandu, entah kenapa bibir Winda melebar. Menampakkan sebuah senyuman tipis diraut wajahnya yang manis. Dalam satu gerakan singkat, Winda menengok kearah ventilasi kamar mandi.
Menatap kearah gelapnya lubang ventilasi dimana mata Pandu sedang merekan semua keseksian tubuh
kakak kandungnya dalam pikirannya.
TEK TEK TEK TEK
Sejenak, Winda mencoba menajamkan pendengarannya. Sekedar mencoba mendengarkan suara tarikan kulit yang berasal dari kocokan penis Pandu.
"Kamu bener-bener nakal deh, Dek...." Desah Winda pelan, sambil terus menatap lubang ventilasi kamar mandi. "Masa Mbak sendiri dijadikan sebagai bahan coli...." Sambungnya lagi yang kali ini, menyunggingkan sebuah senyuman.
"Mbak Winda sepertinya sadar aku intip..." Pikir Pandu dalam pendakian birahinya, "Tapi... Kenapa Mbak
Winda nggak marah...? Kok dia malah senyum seperti itu...? Kenapa ya...?"
Namun, meskipun ada belasan pertanyaan tanpa jawaban yang muncul di kepala Pandu, adik Winda itu sama sekali tak mengindahkannya.
Bagi Pandu, yang terpenting saat itu adalah kepuasan puncak orgasmenya. Oleh karenanya, alih-alih menghindar dari tatapan mata Winda yang terus melihat kearahnya, Pandu malah semakin kencang mengocok batang penisnya.
TEK TEK TEK TEK
"Bodo amat kalo aku ketahuan ngintip..." Erang Pandu dengan tubuh yang mulai bergetar, "Yang nakal tuh kamu, Mbak... Bukan aku..."
TEK TEK TEK TEK
Mendengar suara kocokan kemaluan yang semakin keras, Winda memejamkan mata. Setelah itu, ia mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan kedua tangannya. Meremas kembali kedua payudaranya sambil menarik-narik putting merah mudanya.
"Ennnggghhhh..." Desah Winda ketika terus mempermainkan kedua asset tubuh yang selalu membuat
dirinya terlihat menggiurkan. Sesekali, ia mendekatkan kedua putingnya kemulut, lalu menghisapnya
perlahan. "HAP.. Sluurrppp..."
Tak disitu saja, selain menghisap putting payudaranya sendiri, tangan kanan Winda tiba-tiba merogoh liang kewanitaannya. Dan dengan mata terus menatap kearah ventilasi kamar mandi, la mulai mengusap-usap bibir kemaluannya sendiri. Seolah sedang mempertontonkan kenakalan dirinya kepada Pandu.
"Kamu nakal Dek..." Erang Winda terus mengulang kalimatnya.
"Enggak... Kamu yang nakal Mbak..." Balas Pandu dalam desahannya, semakin brutal mengocok batang penisnya.
TEK TEKTEK TEK TEK TEK
Tiba-tiba, Pandu merasa ada sebuah rasa panas aneh yang mendesak keluar dari dalam kantung
kemaluannya. Melaju kencang tanpa dapat ditahan-tahan. Hingga akhirnya.
"Aaaaaahhkkkhh..Mbak Windaaaaa... Aku keluaaaarrrr......."
" Erang Pandu yang dalam sepersekian detik
kemudian, mencapai puncak kepuasan birahinya. Penisnya mengedut hebat. Disertai dengan dorongan cairan kenikmatan yang memancar hebat dari ujung kepala kemaluannya.
CROOOT CRROOOOTT CRROOCOOOT CROOOT CRRRROOOOTTTTT
Semburan jutaan sel telur Pandu, menyembur deras ke celana dalam Winda yang masih masih setia dalam genggaman. Berusaha menampung benih kejantanan Pandu yang meluber tanpa henti.
Nikmat sekali.
Pandu merasa terbang. Merasakan kenikmatan ejakulasinya kali ini, yang entah kenapa terasa ribuan kali lebih enak daripada sebelumnya.
"Ngggghh...Ngggghh...Nnnnngggghhhhhh... " Tiba-tiba, telinga Pandu mendengar suara desahan Mbak
Winda-nya. Diikuti oleh liukan-liukan tubuh yang begitu hebat.
"ANJIIMMMM.. Mbak Winda juga masturbasi..." Kaget Pandu ketika mendapati tubuh kakak kandungnya itu tiba-tiba ambruk kelantai kamar mandi. Duduk bersandar ke dinding kamar mandi sembari terus mengusap-usap liang kemaluannya sendiri.
CLEK CLEK CLEK CLEK
Suara basah kemaluan Winda yang terdengar begitu becek.
CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK
"Nggggghhhh.. Oooohhh... Oooohhhh...."
CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK
"Ngggghh..Ngggghh..Nnnnngggghhhhhh.. Ooohhhh....." Raung Winda sambil meremas payudara dan kemaluannya dalam waktu bersamaan. "Heeeeggghhhhhhhhh.... Ooohhhhhh...."
Tiba-tiba, suasanya hening.
Tanpa ada lagi suara desahan atau kecipakan becek apapun dari dalam kamar mandi.
Satu-satunya suara yang ada, hanyalah suara nafas tertahan, disertai oleh hentakan tubuh Winda, yang menggelepar tanpa terkontrol, dilantai kamar mandi.
"Nnnnggghhh.Nnnnngggghhhhhh..Heeeeggghhhhhhhhh... Nnngggghhhhhh...."
"Ooohh Mbak Winda... Seksi sekali dirimuu..." Erang Pandu sambil menikmati siksaan nikmat pada penisnya. "Aku nggak ngira jika Mbak Winda akan seberani itu didepan mataku..."
Mendadak, lutut Pandu seketika lunglai. Otot-ototnya melemas dan membuatnya duduk, bersimpuh dimeja, tempat tumpuannya mengintip. Tangannya masih terus bergerak maju mundur, seolah mengurut sisa-sisa cairan kenikmatan yang tertampung di celana dalam kakak wanitanya.
"Ohhhh. Mbak Winda-kuu..." Desah Pandu yang tiba-tiba merasa bersyukur, bisa melihat kebinalan kakak perempuannya.
CKREEEK. JBLAMMMM...
Ketika sedang asyik-asyiknya mengurut sisa-sisa cairan sekresi dari dalam penisnya, tiba-tiba Pandu dikagetkan oleh suara debaman pintu dari ruangan sebelah.
"Mbak Winda...." Raung Pandu yang buru-buru berdiri dan mengintip dari cela-cela ventilasi kamar
mandi, "Gawat... Dia udah keluar. Mbak Winda udah nggak ada disana...!!"
- - Akhir Kilas Balik - -
***
"Ngggghhh.... Jangan dicabut Om..." Erang Lala yang tiba-tiba mencengkram tangan Pandu,
"Ehhh...?" Kaget Pandu
"Jari Om... Biarin aja didalem memek aku..." Pinta Lala dengan wajah sayunya.
"Beneran...?" Tanya Pandu mencoba meyakinkan.
"lya..." Angguk Lala sambil melebarkan bukaan kedua pahanya. "Sakit memeknya, serasa ilang... "
"llang?"
"Ho'oh.... Pas jari Om digerak-gerakin di dalem memekku... Rasanya ilang..."
"Jadi.. Sekarang udah nggak sakit lagi...?" Sambung Pandu yang kali ini, menggerakkan lagi jari tengahnya dilubang kemaluan keponakannya. "Digerak-gerakin begini...?"
"He' ehhhh..." Angguk Lala lagi. "Sakitnya mulai berubah jadi enak... Ooohhh... Om Pandu... Ssshh..."
Melihat Lala sudah kembali tenggelam dalam birahi, Pandu mulai kembali memasukkan jari tangannya ke liang kemaluan keponakannya. Tak lupa, Pandu juga mengusap dan menggosok biji kelentitnya, supaya Lala makin gelagepan karena rasa nikmat divaginanya.
Dan benar, tak lama kemudian, tubuh gadis mungil itu mulai menggelijang. Bukaan pahanya melebar dengan kedua lutut membentang rendah kekanan dan kekiri. Seolah membiarkan tangan Pandu supaya bisa menggosok dan mengeksekusi lipatan daging selangkangan Lala.
"Sebentar ya Neng... " Ucap Pandu yang tiba mencabut tangannya dari vagina Lala. Membuat gadis cantik itu seketika mendesah ngilu.
"Nnggghhh. Kok dicabut...?" Tanya Lala dengan nada kecewa.
"Sepertinya ada yang mengganggu..." Bisik Pandu.
"Mengganggu...?" Kaget Lala celingukan kearah lingkungan disekitarnya. Mencoba mencari tahu, siapa gerangan yang mengganggu kesenangannya ini.
"Hehehe.. Tenang Neng... Mereka nggak bakalan peduli kok dengan apa yang kita lakukan disini..."
Jelas Pandu sedikit menenangkan kekhawatiran Lala, "Yang mengganggu tuh ini..."
BREEETT KREEEEEEKKKK
Tiba-tiba, Pandu menyobek kain legging Lala. Tepat di bagian tengah selangkangannya.
"Ehhhh? Ooommmm....?" Panik Lala karena tak pernah menyangka, jika satu-satunya pakaian yang menutupi ketelanjangangan vaginanya, sekarang telah menganga. Berlubang sebesar telapak tangan dewasa ,"Kok legging Lala dirobek sih Om...? Nanti Lala pulangnya gimana...? Masa memeknya keliatan begini...?"
"Hehehe... Tenang aja Neng cantikkuuuu.... Nanti Om belikan yang baru kok..."
"Hmmmm. Bener loh yaaa...?"
"lyaaaa Cantiiikkk..." Bisik Pandu sambil kembali memulai kemesumannya yang tadi sempat tertunda.
"Ngggggghhh. Ooohhh. Dasar... Om Pandu.... Ngggghh... Gilaaaa..."
"Hehehehe. Sekarang Om bisa puas maenin memek kamu, Neng..." Bisik Pandu yang kali ini, kembali menusuk vagina Lala dari luar celana leggingnya.
CLEEEEEEEPPPPP...
"Ooohh. Oooonmmmmm...." Erang Lala keenakan.
Tak perlu waktu lama, Lala kembali tenggelam dalam birahinya. Terlebih ketika Pandu juga mengelus dan meremasi buah dada keponakannya, muncul sebuah rangsangan tersendiri yang membuat birahinya tiba-tiba datang dan memuncak.
Mata lentik Lala perlahan meredup, sayu merem melek merasakan kenikmatan usapan serta kocokan tangan Pandu. Tanpa sadari Lala mulai menggigiti bibirnya sendiri. Sembari perlahan, tangannya bergerak secara reflek kearah kedua payudaranya. Meremas bulatan daging dadanya dan memilin puting mungilnya
"Ngggghh Oommmm..." Erang Lala keenakan sambil merasakan darah hangat birahinya mengalir lebih
cepat daripada biasanya.
"Enak Neng...?" Goda Pandu sambil terus mengecupi tengkuk keponakannya.
"Nggghhh He'eh..." Sahut Lala mengangguk. la sudah begitu terangsang. Terlihat dari liang vagina Lala yang sudah dibanjiri oleh lendir dari dalam rahimnya
Tubuh Lala meliuk-liuk bagaikan penari erotis dengan kaki yang semakin terbuka lebar. Keringat dinginnya merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Membasahi dahi dan cuping hidungnya.
Udara dingin malam, seakan tak mampu mendinginkan panasnya birahi dari tubuh Lala.
CLEK CLEK CLEK
"Ngggghhh. Ommm... Ssshhhh...." Suara lenguhan Lala, tersamar oleh kocokan jari tangan Pandu yang keluar masuk di liang vagina Lala.
CLEK CLEK CLEK CLEK
Jari-jari besar adik Winda itu, berulangkali menyentuh dan menggesek-gesek dinding vagina Lala.
Mengais dan menggesek benjolan
sebesar kacang tanah yang tumbuh di ujung bibir kemaluan
keponakannya.
"Aku mau pipis Ommm... Nggggghhh... " Erang Lala ketika merasa ada sesuatu yang muncul dari dalam perut bawahnya. Gadis mungil itu tiba-tiba mendekap tangan Pandu yang sedari tadi sibuk mengocok liang vaginanya. Menuntun gerakan maju mundur tangan Pamannya karena merasa sudah mendekati pencapaian puncaknya.
CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK
"Ohhh. Om Pandu...Aku mau pipis Oooommmmm... Ngghhh.. Pipiiissss.... " Raung Lala makin merasa ada rasa hangat yang mendesak, meledak keluar dari dalam rahimnya.
CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK CLEK
Tiba-tiba, pantat Lala mengejat-kejat. Ototnya bergetar hebat disertai kedutan dinding vaginanya yang mengencang kuat. Menjepit jari tangan Pandu yang masih berada di dalam liang senggamanya.
CREEEET CREET CREEEEECEEETTTTTT CREEETTT CCRRREEEEETTTT
"AKU PIPISSS OMMMM... AKU PIPIIIISSSSS...." Jerit Lala dengan mata mendelik keatas. Tubuhnya terus mengejat dengan kaki menendang kesana-kemari. Mirip seperti orang kesurupan, Lala tak mempu mengontrol gerak tubuhnya.
Bersamaan dengan itu Pandu merasakan, ada semburan kuat yang muncrat dari dalam vagina Lala.
SEEEEEEERRRRRR.. SEEEEEEERRRRRRRRR. SEEEEEEEEEERRRRR.....
Buru-buru, Pandu mencabut tusukan jari tangannya dari liang kemaluan Lala. Setelah itu, ia mendekap erat tubuh mungil keponakannya. Pandu tahu, Lala sedang mengalami puncak kenikmatannya. Namun, ia juga harus sadar, jika saat ini sedang berada di tempat umum. Oleh karenanya, Pandu harus segera menahan kelejat nikmat tubuh Lala, supaya tak terlihat jelas oleh orang-orang yang ada disekitarnya.
"Ooomm Panduuu.... Ooohhhh.. Kenapa...Pipisku Enaakk sekali Ommm. ENAAAKK...." Lenguh Lala yang merasakan, tiba-tiba tubuhnya ringan. Pikirannya tenang dan semua beban di benaknya, seolah sirna. Enak. Benar-benar enak.
"Itu namanya squirt, Neng..." Jelas Pandu sambil mengecup tengkuk leher Lala, "Dan beruntungnya kamu, bisa merasakan kenikmatan seperti itu..."
"Beruntung ? Kenapa?"
"Karena memang nggak semua wanita bisa orgasme dan squirt sepertimu..."
"Ehhh? Kok Bisa??"
"Hehehe. Entahlah. Mungkin, jawaban pertanyaanmu itu bakal kamu dapatkan nanti. Ketika sedang ngobrol dengan teman-teman wanitamu..." Jawab Pandu.
"Ihhhhssss. Kok Om gitu sih...?"
"Hehehe. Beneran, Om juga ga tahu jawabannya, Neng..."
Sejenak, Lala terdiam.
Seolah meresapi apa yang baru saja ia rasakan barusan.
"Makasih ya Om..." Bisik Lala sambil tersenyum kearah Pandu. Setelah itu, ia menyenderkan kepala ke bahu Pandu.
"Demi kesenenganmu, apa aja Om bakal lakuin, Neng..."
"Bener nih...?" Sahut Lala, "Apa aja...?"
"lya....
"Kalo gitu... Gantiin nih... Legging bolong aku.... Jangan pura-pura lupa...."
"НАНАНАНАНА...." Pandu tertawa begitu kencang. "Jangankan legging, Neng. Satu setel bajumu juga bakalan Om beliin, kalo itu memang bisa membuat senyum cantik diwajahmu selalu ada buat Om..."
Tiba-tiba, Lala mengecup bisep Pandu, kemudian memeluk lengan kekar pamannya yang membungkus hangat tubuh mungilnya.
"Makasih ya Om gantengku... Udah bisa selalu nyenening aku..." Bisik Lala lembut
"Hmmmm... Jadi... Makasih...aja nih...?" Tanya Pandu sedikit menggoda Lala.
"Ehhh salah ya...? Hehehe..." Tawa Lala bingung, "Emangnya Om mau apa...?"
"Ya kalo ditanyain mau Om apa... Ya, Om pengen kamu kasih yang enak-enak juga lah..."
"Heehhh...?" Heran Lala tak tahu harus berbuat apa, "Enak-enak yang kaya gimana Om..."
"Enak-enak seperti yang baru aja kamu rasain tadi.."
"Waduh....?"
Bersambung,
0 Komentar