siksaan rasa
Kehamilan Winda, benar-benar membuat keseharian Pandu tersiksa. Bagaimana tidak, waktu dan tenaga Pandu hampir seluruhnya tak bisa ia gunakan untuk kepentingan pribadinya. Karena semua perhatiannya tercurahkan penuh, demi memenuhi segala kebutuhan Winda..
Apalagi ketika saat mood Winda sedang jelek, kakak kandungnya itu hanya bisa menyuruh-nyuruh Pandu tanpa henti untuk melakukan apa yang ia minta. Memasakkan makanan kegemaran, membelikan cemilan keluar rumah, sampai mengantarkannya kesalon ataupun periksa kandunganpun Pandu lakukan.
Belum lagi saat hamil, Winda jadi sering berpura-pura sakit demi mendapatkan perhatian suaminya yang jarang ia dapatkan. Yah, meskipun nanti ujung-ujungnya Winda kembali menyuruh-nyuruh Pandu sebagai pelampiasan rasa manjanya yang tak tersalurkan.
Keseharian Winda, hanya diisi dengan cara bermalas-malasan dan tiduran dikamar. Tanpa mau beraktifitas keluar rumah sama sekali. Selain itu, kesibukan Ardi yang jarang dirumah juga menjadikan pemicu rasa bosan yang berkepanjangan. Sehingga, pada akhirnya, Ardi meminta Pandu untuk menjadi perawat pribadi istrinya yang harus mempersiapkan berbagai macam kebutuhan Winda selama hamil.
"Mas... Aku pengen mandi..." Teriak Winda sedikit mengencangkan suaranya, ketika Ardi sedang buru-buru berangkat meeting dipagi hari. "Tolong siapin air panas Adek yaaa..."
"Aduh maaf Sayang.... Mas harus buru-buru sampe ke kantor nih... " Jawab Ardi setiap kali Winda meminta sesuatu, "Kamu minta tolong ke Pandu dulu aja yaaa.... Nanti sore pas Mas pulang... Adek bakalan bawain cemilan enak..."
Selalu saja seperti itu. Ardi selalu menjanjikan berbagai macam iming-iming untuk bisa membuatnya terbebas dari segala macam permintaan Winda.
Walhasil, Pandulah yang akhirnya menyiapkan semua kebutuhan mandi Winda, atau membereskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebersihan tubuh kakak kandungnya.
Meskipun Pandu tak bisa serta merta memandikan tubuh Winda karena terkadang masih ada suaminya
dirumah, akan tetapi Pandu bisa mengintip semua aurat kakak kandungnya dengan bebas.
…-------
Jika siang harinya Pandu direpoti Winda karena kehamilannya, malam harinya pun Pandu diusik Ardi dengan tingkah polahnya. Winda dan Ardi seolah kompak untuk membuat ulah pada saat Pandu hendak istirahat. Bukan dengan perintah yang tak pernah berhenti. Melainkan karena suara perseteruan dari dua kelamin berbeda jenis pasangan suami istri itu yang benar-benar berisik.
AAAAHHH TAHIKKK
Seru Pandu setiap kali mendengar kegaduhan dari persetubuhan Winda dan Ardi yang terjadi di kamar sebelah.
Namun, hal yang membuat Pandu tak dapat istirahat, bukanlah dari lenguhan, desahan, jeritan, serta teriakan kedua manusia tak tahu diri itu. Melainkan dari bayang-bayang tubuh kakak kandungnya yang selalu mengganggu kewarasan dirinya.
Karena meskipun Pandu tak dapat melihat persetubuhan pasangan suami istri itu, akan tetapi ia paham betul dengan apa yang mereka lakukan dibalik dinding kamarnya. Badan Pandu sampai panas-dingin mendengar desah lenguh Winda yang keenakan. Desis nafas Ardi yang seperti orang kepedasan. Dan suara adukan kemaluan mereka yang begitu memekakkan telinga.
Satu-satunya hal yang membuat Pandu senang, adalah ketika ia mendengar lolongan Panjang Ardi saat ia mencapai puncak kenikmatannya. Karena itu berarti, waktu penantian tidurnya akan segera datang beberapa saat lagi.
"Ooohhh.. NNGEENTOOOOTTTT... Saayaanngg... Aku keluaaarrr....!!! " Erang Ardi yang kemudian disusul oleh suara tepukan yang semakin cepat. Lalu keheningan yang begitu damai.
Tak ada lagi desahan. Tak ada lagi jeritan. Dan tak adalagi tepukan.
Karena
semua suara-suara berisik itu tergantikan oleh suara bisikan-bisikan halus yang diakhiri oleh
kesunyian malam yang benar-benar senyap.
Dan tak lama setelahnya, barulah terdengar lagi suara deritan tempat tidur. Yang diikuti oleh erangan Suami Ardi, kecupan yang terdengar bertubi-tubi, dan suara gagang pintu kamar beserta hentakan suara daun pintu kamar pengantin.
CKLEK-KLETEK.
Iyak. Hampir setiap hari selalu seperti itu.
Sama.
Tak ada variasi.
Dan monoton.
TIITT.
Pandu menghentikan laju stopwatch di jam tangannya, kemudian melirik kearah penunjuk waktu yang tertera di layarnya dengan senyum yang mengembang lebar.
"Enam menit, duabelas detik..." Ucapnya dalam hati sambil bersungut ceria, "Pasti... Mbak Winda ga bakalan puas dengan stamina suami yang menyedihkan itu... Huh...! Dasar amatir...!" Sambung Pandu tertawa dalam hati sambil menarik nafas panjang lalu memejamkan matanya.
Sebenarnya, Pandu bisa saja meninggalkan Winda saat itu juga dan pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan disana.
saat ini Pandu hampir menyelesaikan
sekolahnya, sehingga tak ada lagi
tanggungan yang harus ia lakukan selain menunggu ijazah kelulusannya. Akan tetapi, setiap kali Pandu bersiap dan mengemasi pakaiannya untuk pergi, suami Winda selalu memberikan penawaran yang sulit untuk ia lewatkan.
Ardi yang notabene anak orang kaya yang memiliki sifat pemalas, selalu memberikan jatah bulanan kepada Pandu sebagai pengganti waktu dan tenaganya. la Pandu digaji bulanan untuk bisa mengurus dan memenuhi permintaan istrinya selama Ardi tak ada dirumah. Selain itu, Ardi juga memenuhi segala kebutuhan sekolahnya, sehingga membuat Pandu selalu berpikir-pikir ulang saat hendak kabur dari rumah.
Oleh sebab itu, selagi Pandu bisa mendapat hasil yang setimpal, ia berpikir harus menahan segala kekesalan dan emosinya sebisa mungkin. Terlebih saat menghadapi segala sifat manja Winda yang bisa kumat sewaktu-waktu.
Selain itu, hal yang membuat Pandu kehilangan rasa bosan saat berada didekat Winda dan suaminya adalah karena kecantikan kakak kandungnya. Karena meskipun Winda sering membuatnya suntuk, akan tetapi Pandu bisa melampiaskan kekesalannya dengan cara coli dengan bermodalkan keseksian aurat tubuh kakak kandungnya.
Perlahan-lahan, Pandu juga mulai bisa menyikapi sifat manja Lala. Menemukan cara untuk mengatasi segala macam tingkah manja kakak kandungnya.
Bahkan, seiring berjalannya waktu, Pandu makin berani untuk bertindak lebih berani ketimbang sebelum-sebelumnya. Untuk mencabuli Winda lebih jauh lagi.
***
"Keramas lagi mba...?" Tanya Pandu keesokan paginya saat hendak membuat roti sandwich untuk
sarapan. "Hmmmm... Wangi..." Sambung Pandu mengendus rambut basah kakaknya dari belakang.
"lya dong..." Jawab Lala sambil membetulkan handuk yang melilit diatas kepalanya
"Halah... Palingan semalem ditinggal tidur lagi..." Ledek Pandu sambil berbisik tepat dibelakang telinga WInda dan memijat-mijat lembut pundak kakaknya. "lya khan...? Semalem, pasti Mbak ga dapet enak sama sekali...? Hanya dapet semburan pejuh suamimu saja... Hehehehe..."
"Hhhhh.. Ngomong apaan sih kamu, Dek..." Balas Winda menggoyang satu pundaknya. Mencoba mengusir tangan pandu yang makin menggerayangi tubuh hamilnya lebih jauh.
"Hehehe... Aku ga ngomong apa-apa kok.. " Lanjut Pandu lagi sambil mengendus tengkuk Winda dalam-dalam, "Hanya mengungkapkan fakta yang semalem terjadi dikamar pengantin.."
"Ihhhhsss.. Geliiii..." Erang Winda kesal yang lagi-lagi menggoyangkan pundaknya karena risih dengan perlakuan Pandu pagi itu.
"Cieeee. Kok keliatannya sewot gitu sih, Mbaa...? Padahal semalem abis dapet jatah dari mas Ardi..." Ledek Pandu yang kali ini, bertingkah makin iseng. Memeluk pinggang Winda dari belakang dan menempelkan tubuhnya erat-erat kedepan.
"Adek...! Mbak potong tanganmu loh yaaaa....!!" Ancam Winda sambil menempelkan pisau dapur ke lengan Pandu yang melingkar di perut hamilnya, "Mbak sedang sibuk nyiapin sarapan nih..!"
"Hehehe.. Potong aja Mbak..." Senyum Pandu yang terus mempererat pelukannya. "Aku rela kalo itu membuatmu seneng..." Sambung Pandu yang semakin maju dan menempelkan tubuhnya
"Ihhhhsssss.Adek..!" Kesal Winda.
"Atau jangan-jangan, semalem selama ini, Mbak ga pernah dapet enak dari Mas Ardi ya...? Karena setiap begituan, Mbak selalu ditinggal tidur oleh suami tersayangmu...? Hehehe... " Goda Pandu sambil mencium-cium pundak Winda yang terbuka.
"Bukan urusan kamu kali, Dek..."
"Ya emang bukan urusan aku, Mbak... Itu memang urusanmu... " Sindir Pandu terus-terusan, "Soalnya kalo aku jadi Masa Ardi, ga bakalan aku tinggalin istriku tidur duluan..."
"lihhsss... Sotoooyyy..."
"lyalah... Karena, aku bakalan bikin Mbak Winda ga bisa tidur sama sekali... Hehehehe..."
Winda tak menjawab.
Hanya mendengus sambil terus membiarkan Pandu berceloteh.
"Aku bakalan buat Mbak Winda goyang sampe pagi..... Mendesah keenakan, muncrat sepanjang malam,
sampe lupa esok hari...
"Issshhh... Sumpah. Mesum banget sih kamu, Deeekkk...!!" Kesal Winda yang terus mempersiapkan sarapan untuk suaminya dengan cekatan. Tanpa mempedulilkan keberadaan Pandu yang terus membisikkan kalimat-kalimat jorok kepadanya, "Awas... Minggir dulu... Mbak mau ambil piring..."
Namun percuma, Pandu tak melepas pelukan tangannya. Pandu tetap menempel dibelakang tubuh Winda setiap kali kakaknya bergerak kekanan dan kekiri. Seperti bayi raksasa.
"Pagi Sayangku... " Sapa sesosok laki-laki yang secara tiba-tiba masuk kedalam dapur. Melangkah kearah kulkas yang ada disudut ruang dan membukanya dengan buru-buru. Sama sekali tak menyadari kejahilan Pandu yang ia lakukan kepada istrinya.
"Ehhh.. Pagi Sayang..." Sahut Winda yang buru-buru mencubit kencang-kencang tangan Pandu.
Menyingkirkan pelukan tangan mesum itu dari tubuhnya.
"Aduuuhhh...
" Pekik Pandu mengusap-usap tangannya. Yang secara spontan, membuat Ardi langsung
menutup pintu kulkasnya
"Eh... Ada Pandu juga toh disini ...?" Ucap Ardi saat menyadari ada lelaki lain diruangan yang sama.
"Heheheh... Nggg... Mau numpang sarapan, Mas..." Jawab Pandu jengah.
"Waaah.. Boleh-boleh... Yuk duduk sini... Sekalian sarapan bareng..." Ucap Ardi yang kemudian menarik kursi dan duduk menghadap istrinya. "Waahh.. Pagi ini... Masak apa kamu, Sayang...? Sepertinya enak bener..."
"Cuman spageti aja kok, Mas..." Ucap Winda yang semula kesal, mendadak ingin tertawa saat melihat kekikukan Pandu ketika duduk disamping suaminya. Dan anehnya, entah kenapa Winda tiba-tiba ingin membalas kejahilan Pandu barusan dengan sesuatu hal yang bakalan membuat adiknya belingsatan.
"Silakan, Mas..." Ucap Winda ketika menyuguhkan makanan keatas meja makan sambil sedikit membungkuk dan memamerkan belahan payudaranya kearah Pandu. "Gimana rasanya, Mas...?"
"Enak banget Sayang..." Jawab Ardi yang dengan lahap menyantap hidangan didepannya.
"Hihihi.. Pelan-pelan makannya, Mas... Sampe belepotan gitu mulutnya..." Bisik Winda yang kemudian memungut ceceran nasi di bibir suaminya dengan bibirnya. CUUUPPP...
"Nyaaeemm...
Tumben romantis banget kamu, Sayang... ?" Heran Ardi ketika melihat Winda yang
membersihkan mulutnya dengan kecupan-kecupan basah.
"Tangan aku bau bawang, Mas... Khawatir nanti baunya nempel dimukamu..." Balas Winda beralasan sambil terus memungut ceceran makanan diwajah suaminya dengan mulutnya
"Nyaem.. Nyaem. Nyaem.." Sahut Ardi yang sama sekali tak cuek. Tak menyadari jika kecupan istrinya itu sebenarnya bukanlah pembuktian kemesraan untuknya. Melainkan itu adalah sebuah godaan mesum untuk adik kandungnya.
Melihat kecupan-kecupan mesra Winda pada suaminya, Pandu tiba-tiba merasa geram. la tak habis pikir dengan kelakuan Winda yang begitu munafik seperti itu. Tak ingin dicabuli, tetapi setiap saat selalu menggoda birahinya.
"Kok makanan kamu ga dimakan, Dek...? " Tanya Winda yang kali ini dengan gerakan gemulai berpindah ke belakang Ardi. Memeluk suaminya erat-erat, dan membenamkan belakang kepala Ardi dalam-dalam ke belahan payudaranya. "Ayo dihabisin aaaahhh.. Nanti keburu dingin..."
Winda tahu, jika Pandu merasa kesal karena tingkah mesranya barusan. Dan dari gelagat Pandu yang berkali-kali membetulkan area selangkangannya, Winda juga tahu kalo penis adik kandungnya itu mulai keras dan menegang karenanya.
MAMPUSSS...!!!
Kekeh Winda puas
"Nanti pulang jam berapa, Mas...?" Tanya Winda pelan.
"Hmmm. Emang kenapa, Sayang...?" Tanya Ardi cuek sambil terus melahap sarapannya
"Jangan malem-malem ya, Mas... Adek kangen kalo kamu tinggal kerja lama-lama, Mas..." Ucap Winda manja sambil mulai mengusap dada suaminya.
"Hmmm... Emang kamu mau kasih apa kalo Mas bisa pulang cepet...?" Tanya Ardi.
"Mas maunya apa...?" Tanya Winda menghadap wajah Ardi namun dengan mata yang melirik kearah
Pandu, "Apa Mas mau kaya semalem...? Mau aku puasin sampe kelojotan...?" Goda Winda yang dengan sengaja mengusap selangkangan suaminya didepan Pandu.
"Eehhh.. Sayang..." Seru Ardi kikuk saat melihat Pandu yang menatap perlakuan genit istrinya, "Ada adik kamu tuh..."
"Biarin aja... Toh dia khan tahu kita udah suami istri... Jadi ya suka-suka kita dong mau ngapain aja dirumah ini... Hihihihi..." Bisik Winda sambil tersenyum licik kearah Pandu, "lya nggak, Dek...? Kamu gak masalah khan kalo Mbak mesra-mesraan dengan Mas Ardi didepan kamu gini...?" Sambung Winda bertanya kearah Pandu tanpa menghentikan usapan cabulnya pada Ardi.
"Uhuk- uhuk..." Pandu tersedak.
Makanannya menyembur keatas meja karena mendengar ucapan Winda barusan. Buru-buru Pandu beranjak dari kursi dan segera mengambil air minum dari dispenser. Setelah itu ia menenggaknya hingga habis sambil menatap kearah WInda dengan perasaan dongkol.
"Kenapa Dek...?" Ucap Winda basa-basi.
"Keselek susu kodok perawan, Mbak... Uhuk uhuk..." Ucap Pandu kesal namun masih menyempatkan diri untuk bercanda.
"Hahahahaha... Lucu banget adik kamu ini, Sayang..." Tawa Ardi kegelian mendengar kalimat Pandu.
KRRRRINNNNGGG... KRRRRINNNNGGG... KRRRRINNNNGGG...
"Eeehh.. Bentar-bentar Sayang... Bos aku teleponn..." Tepuk Ardi ke tangan Winda yang melingkar di area selangkangannya. Setelah itu ia beranjak dan buru-buru menjauh lalu menerima panggilan telephone atasannya.
Sepeninggalan Ardi, Pandu langsung merangsek kearah Winda. Mendorongnya hingga menabrak jendela dapur dan menggencet tubuh hamilnya. Lalu, dengan sengaja, Pandu mencengkram bulatan pantat kakaknya dengan kencang, hingga ibu hamil muda itu pun menjerit tertahan.
NYOOOTTIT
"Aaahhh... Adeeeekkk....!! " Pekik Winda kaget sekaligus khawatir jika suaminya mendengar teriakannya saat dirinya menabrak jendela dapur.
"Bisa-bisanya ya... Mbak ngegoda aku secara terang-terangan gitu..." Kesal Pandu
"Mbak ga ngegoda kok... Khan Mbak sedang bicara dengan suami Mbak sendiri..." Ucap Winda tak terima dengan perlakuan kasar Pandu. Namun sama sekali tak menepis tangan Pandu yang masih meremas dua bokongnya itu.
PLAAAAKKK
Suara tepukan tangan Pandu yang kali ini menampar pantat Winda
"Aaawwww... Adeeekk...!!" Jerit Winda lagi yang harus menahan intonasinya, "Ihhhs.... Dibilangin sakit kok jadi malah ngelunjak yaa...!"
"Bokong istri penggoda yang menggiurkan gini... Memang harus sering-sering dikasih pelajaran,
Mbak..." Ledek Pandu yang lagi-lagi mencengkram kedua pantat Winda secara bersamaan.
"Ihhhhssss.. Siapa juga yang penggoda....!"
"Kalo nggak menggoda.. Kenapa Mbak tadi ngusap-usap selangkangan suami Mbak sambil melirik menggoda kearahku...?" Tanya Pandu sambil menggerayangi tubuh Winda,
"Trus ini... Kalo Mbak nggak
menggoda... Kok dipantat Mbak ga kerasa ada tali kancutnya...?"
"Hmmm. Ini..."
"Aku yakin.. Mbak sekarang ga pake celana dalam khan..?"
Winda diam, hanya menatap kesal namun pasrah kearah Pandu.
Sebal tapi tak menghalangi tangan adiknya saat terus meraba-raba seluruh tubuhnya.
BREEETTT
Karena tak mendapat jawaban sama sekali, Pandu langsung menarik keatas bawahan daster Winda. Dan langsung tersenyum girang saat mendapati bokong putih mulus kakaknya benar-benar tak tertutup
"ADEEKK...!!" Hardik Winda melihat kejahilan adik kandungnya.
"Tuh khan bener..... Kamu ga pake kancut..."
"Emang kenapa...? Kamu liat sendiri khan...? Mbak tuh habis mandi... Terus harus nyiapin sarapan dulu sebelum Mas Ardi berangkat kerja... Jadi Mbak ga ada waktu buat pake celana dalem, Dek..."
"Halah alesan... Dasar Kakak mesum..." Senyum Pandu yang lagi-lagi meremas bulatan pantat Winda yang tak tertutup bawahan dasternya.
"Ihhhsss... Adeeekkk...! Bener-bener deh... Kamu tidak seharusnya mesum dengan Mbakmu ini..."
"Jadi yang boleh mesumin orang tuh cuman dirimu saja...?" Ucap Pandu yang terus memperlakuan
Winda dengan tidak senonoh, "Aku tahu, Mbak... Kamu Mbak memang suka menggodaku..."
"Ihhhhssss.... Lepasin Dek...." Erang Winda mencoba memberontak. Namun, ia tetap tak berusaha kerasa untuk membebaskan diri dari remasan tangan Pandu pada pantatnya.
"Tuhhh.. Lihat... Diremes-remes malah diem aja..." Sindir Pandu yang kemudian menampar pantat
Winda sekali lagi.
PAAAAAAKKKK
"Aaahhhh... SAKIT Dekkk..!!!"
"Bohong aahhh.... " Ledek Pandu, "Akuin ajalah Mbak.... Kalo Mbak tuh suka aku cabulin..."
"Idih... Udah gila kali, Mbak..." Seru Winda juga yang masih saja tak berbuat apa-apa saat mendapat pelecehan seksual dari Pandu.
Alih-alih marah atau melarang Pandu untuk memperlakukan dirinya seperti wanita murahan, Winda hanya menatap suaminya yang sibuk mengobrol dari balik jendela. Mendiamkan ulah cabul Pandu pada dirinya tanpa penolakan sama sekali.
"Aku bener khan...? Mbak tuh istri mesum...!" Bisik Pandu yang lagi-lagi bergerak meraba kearah celah bokong Winda, "Mbak tuh... Istri nakal..."
"Terus...? Kalo Mbak memang istri nakal... Kamu mau apa...?" Lenguh Winda yang kemudian menengok kearah Pandu dengan ekspresi aneh, seolah menantang adik kandungnya untuk berbuat mesum yang lebih jauh.
"Aku pengen ngehukum, Mbak..." Seru Pandu yang melihat wajah ketus Winda, langsung menjulurkan tangannya kebawah. Menyelusup diantara dua bulatan pantatnya dan meletakkan jari telunjuknya diantara tepat di pangkal kedua pahanya.
Setelah itu, Pandu mengais celah kecil Winda yang terasa
sudah terasa lembab
CLEEEKKK
"Panduuu...!!!" Pekik Winda kencang.
Namun sama sekali tak melarang.
Melihat kegelisahan Winda, Pandu hanya tersenyum. la seolah tahu dengan apa yang ada dalam pikiran Winda. Yang meskipun memasang wajah kesal, akan tetapi tetap membiarkan dirinya dicabuli Pandu lebih jauh lagi.
"Kamu suka khan Mbak...? Aku cabulin seperti ini...?" Tanya Pandu yang lagi-lagi mengais celah kamaluannya yang semakin basah itu secara terang-terangan.
"Adek... !! Mas Ardi bisa setiap saat loh, balik kesini...!" Erang Winda berusaha menahan tangan Pandu supaya jarinya tak semakin dalam menyelinap kedalam liang vaginanya, "Kalo kamu terusin... Mbak marah nih.... Kamu tak seharusnya berbuat seper......"
CUUUPPPP
Dengan gerakan supercepat, Pandu langsung membalik tubuh Winda yang semula menghadap jendela dapur menjadi menghadapnya. Setelah itu Pandu membungkam mulut kakak kandungnya yang terus mengomel itu dengan lumatan basah bibirnya.
"Sluuurrrppp..." Tubuh Winda yang semula tegang itu, langsung terkulai luluh dalam pelukan Pandu.
Membuat adik Winda itu langsung memberanikan diri untuk mencabuli kakak kandungnya lebih jauh.
Pandu tahu, pesetubuhan yang dialami Winda semalam dengan suaminya, tak memberinya kepuasan sama sekali. Dan oleh karena hal itu, menyebabkan Winda sudah sewot sedari pagi.
"Cuuuppp... Aku bisa memberimu kepuasan, Mbak..." Ucap Pandu menjeda lumatan bibirnya. Menatap mata Winda dalam-dalam sambil mulai menurunkan celana kolornya.
"Mbak gak butuh...!" Ucap Winda sok cuek, namun sekilas melirik kearah penis adik kandungnya yang sudah mengacung tinggi.
"Kalo itu... Aku tahu banget, Mbak... Mbak memang gak butuh... " Ucap Pandu yang kemudian memajukan kemaluannya ke bawah celah pantat Winda. Mengorek liang vaginanya dengan ujung penisnya dari belakang.
SLEEEEPPP
"Aaahhhh.. " Erang Winda sambil memejamkan mata.
"Tapi lihat deh kontolku... Memek Mbak sudah ngiler mengharapkan kepuasan dari kontolku..." Sahut Pandu sambil menarik pinggulnya mundur. Memperlihatkan lelehan lendir kewanitaan Winda yang sudah basah melumuri sekujur batang penisnya.
"Aahhhh.... Adekkk... Ssshhh...." Lenguh Winda yang meskipun menolak perbuatan cabul penis Pandu pada celah vaginanya, namun sama sekali tak sanggup untuk melarangnya.
SLEEEEEPP
"Sssshhhh... Jangan entot... Memek Mbak, Dek...." Lenguh Winda yang mulutnya seolah berucap tanpa ia perintah. "Mas Ardi masih ada dirumah...
"Jadi...? Kalo suamimu sudah tak ada dirumah... Aku boleh ngentotin memekmu ini, Mbak...?"
SLEEEEPPP
"Aaaahhh... Bukan begituuu... Hhhh, Deekk..." Lenguh Winda sambil menggigit bibir bawahnya.
"Aku gak akan ngentotin memekmu kok, Mbak..." Goda Pandu sambil mencengkram tipis pinggul empuk Winda. "Aku cuman menggesek-gesekin kontolku ke memek istrinya Mas Ardi aja..."
"Uuuhhh...Nggghhh... Sssshhh... Adeeeekkk...." Lenguh Winda terus menggigit bibirnya sambil menatap khawatir kearah jendela. Mengawasi Ardi yang sibuk mondar-mandir sambil menerima telephon diteras belakang dapur rumahnya.
SLEEEP SLEEEP SLEEEEPP
"Enak ya Mbak...?" Goda Pandu yang makin mempercepat gerakan pinggulnya maju mundur dibawah
celah vagina Winda.
"Nggggghhhh...." Lenguh Winda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bener nih...? Mbak gak mau memeknya aku gesek-gesek pake kontol...?" Goda Pandu yang kemudian mendiamkan gerakan tubuhnya.
"Hơ'oohhhh..." Sahut Winda sambil menganggukkan kepala.
"Beneran...? Gesekan kontolku nggak enak, Mbak...?" Ulang Pandu memastikan
"lyaaahhh..." Lanjut Winda cepat.
"Kalo nggak enak... Coba nunggingin dikit pantatmu kebelakang deh, Mbak..." Pinta Pandu.
"Begini...?" Ucap Winda yang secara reflek memundurkan pantatnya. Seolah menyodorkan vaginanya ke arah penis adik kandungnya.
"Wahahahaha.... Dasar istri binal... !!" Ledek Pandu sambil meremas kencang kedua bulatan pantat
WInda, "Bilang gak suka tapi lendir memeknya makin banjir..!!"
"Ssshhh... Oohhhh... Bukan gitu, Deeeekkk... " Lenguh Winda kegelian saat merasakan sodokan kepala penis Pandu bergerak keatas, dan sengaja menyerempet-nyerempet lubang vagina Winda yang semakin hangat.
"Trus gimana...?" Lanjud Pandu sambil berpura-pura bodoh namun terus mengarahkan ujung kepala
penisnya naik. Mencolek liang senggama Winda yang sudah siap untuk disetubuhi.
"Stop Ahhh, Dek... Udah... Jangan gesek-gesek memek Mbak pake kontolmu lagi..." Erang Winda memohon kepada Pandu
"Yaudah deeehh... Kalo memang Mbak ga mau memeknya aku gesek-gesek pake kontol... " Pandu menjeda kalimatnya. Melihat situasi sekitar sambil menggerakkan lagi lagi pinggulnya kearah yang berbeda. "Berarti enakan langsung dimasukin memek aja kali ya, Mbak...?" Sambung Pandu yang kemudian mengarahkan kepala penisnya keatas.
Menuju kelubang vagina Winda yang sudah membanjir basah.
CLEEEEEEPPPP
"ААААНННН.. AAADEEEEKKK..!!!!" Jerit Winda dengan tubuh yang seketika gemetaran karena tak mampu lagi menahan luapan birahinya. Mendesah kenikmatan karena mendapat sodokan nakal penis adik kandungnya yang perlahan-lahan masuk kedalam relung vaginanya.
"OOOHHНН. NGENTOOOTTTT.."
- - Akhir Kilas Balik - -
Bersambung,
0 Komentar