"Nambah Dek...?" Tanya WInda saat melihat Pandu melahap makanan dipiringnya tanpa sisa.
"Pastinya dong... Kapan lagi bisa makan enak gapake bayar seperti ini..." Seru Pandu sambil
menyendok sebongkah nasi hangat dan meletakkannya diatas piring.
Tak lupa Pandu juga memotek sayap ayam beserta dadanya, ati ampela, dan mengguyurnya dengan sambal. Setelah itu ia menyusunnya semua lauk disamping gunungan nasi yang masih mengepulkan uap
"Kamu kalap, Dek...? Makan kaya kuli gitu... Hihihi..." Ledek Winda sambil tersenyum saat melihat cara makan Pandu yang seperti orang kelaparan.
"Biarin... Khan jarang-jarang aku makan sebanyak ini, Mbak..."
"lya deh... Puas-puasin aja makannya..." Senyum Winda yang kemudian ikut mengambil setangkup nasi dari dalam magic com, lalu melengkapi menu makan siangnya. Setelah itu ia duduk didepan Pandu yang sudah menghabiskan setengah nasi beserta lauk dihadapannya.
"Maaaa... Lala pulang..." Teriak Lala lantang saat masuk kedalam rumah. Melepas sepatunya lalu membiarkannya berantakan didepan pintu. Setelah itu Lala langsung masuk kedalam rumah, dan segera menghampiri Winda yang duduk didepan Pandu. Seperti biasa, Lala mengecup tangan Winda dan kemudian berlalu tanpa mengecup tangan Pandu.
"Kok kamu ga salim ama Om, Neng...?" Tanya Pandu heran melihat kecuekan Lala siang itu.
a ala tak mang iad an raud paras an yang mntada nu sal di yankata dany
kearah kamar tidurnya.
BRAAAKKK.
GLUDUK.. KLONTANG-KLONTANG...
Suara benda berjatuhan yang terdengar nyaring dari arah kamar Lala.
"Itu Lala, Mbak...?" Heran Pandu sekaligus kaget.
"Ehhh...? lya ya...?" Sahut Winda yang buru-buru berdiri dan segera menghambur kearah kamar Lala.
Mencari tahu apa yang terjadi pada anak semata wayangnya, "Lalaaaa...? kamu nggak apa-apa...?"
Melihat kepanikan yang terpancar di wajah Winda, Pandu pun segera ikut menyertai langkah kakaknya, dan bergegas menuju ke kamar Lala.
SREEEKK.
mencari tahu.
Winda membuka tirai kain penutup kamar putrinya, "Lala...? Kamu kenapa Sayang...?" Tanya Winda
"Pergi Maa... !!" Hardik Lala ketika melihat ibu kandungnya masuk kedalam kamarnya, "Jangan masuk dulu kesini..."
"Eehhh...?" Kaget Winda ketika mendengar ucapan tegas putrinya, "Kamu kenapa, Nak...?"
"Lala lagi pengen sendiri...." Jawab putri Winda itu dengan nada tinggi.
"Neng...? Kok gitu sih ngomong ke Mama kamu...?" Sahut Pandu berusaha menasehati keponakannya.
"Diem deh Om.... Gausah sok nasehatin Lala..." Balas putri Winda dengan nada kesal.
"Ehhh...?" Kaget Winda dan Pandu hampir berbarengan.
"Udah-udah... Mending sekarang kalian berdua keluar dulu deh dari kamar Lala... Lala capek...! Pengen istirahat...!!" Seru Lala yang kemudian merangkul boneka beruang raksasanya, dan membenamkan wajahnya ke bantal.
"Lala..." Panggil Winda yang kemudian duduk ditepi tempat tidur Lala dan mencoba mengusap pundak
putri kandungnya.
"Maaa.. Please... Tinggalin Lala dulu... Lala pengen tidur...." Ucap Lala menepis tangan Winda dengan gerakan pundaknya.
"Ngggg... Baiklah kalo begitu..." Balas Winda yang kemudian bangkit dari tempat tidur putrinya, sambil mengamit tangan Pandu dan mengajaknya keluar.
Berdua, kakak adik itu saling bertatap-tatapan. Sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi pada diri Lala barusan.
Keesokan harinya, Pandu sengaja tak membuka bengkel rumahnya. la lebih memilih mencari tahu lebih lanjut mengenai Lala ketimbang meladeni pelanggan servisan yang datang kerumahnya.
Betapa tidak, setelah pengusiran Lala semalam, Pandu benar-benar tak dapat tidur dengan nyenyak.
Otaknya berpikir keras, mencari tahu apa alasan perubahan sifat Lala kemarin. Karena memang, Pandu tak pernah mendapati Lala yang terbiasanya periang menjadi pemarah seperti itu.
Pandu sengaja datang satu jam lebih cepat dari waktu kepulangan sekolah Lala. Bersembunyi di balik kerumunan pedagang makanan yang berjejer rapi di sekitaran sekolah, dan menatap tajam kearah gerbang pintu masuknya. Sengaja, Pandu mengenakan topi dan jaket dan celana abu-abu, supaya tak dicurigai Lala karena bisa membaur dengan pelajar lainnya.
TEEEETTT... TEEEETTT TEEEETTT...
Suara bel pulang sekolah terdengar nyaring. Disusul dengan berhamburannya seluruh siswa dan siswi dari gerbang sekolah.
Pandu segera memicingkan mata, mencari tahu dimana sosok keponakannya itu berada. Dan tak lama kemudian, Pandu pun berhasil melihat Lala. Yang berjalan keluar sekolah bersama dua sohib wanitanya.
Dari kejauhan, Pandu merasa tak ada hal yang berbeda dengan sosok Lala. Meskipun wajah Lala terlihat sedikit lelah, akan tetapi la masih terlihat riang dan sesekali tertawa mendengar becandaan kedua temannya.
Tak lama kemudian, salah satu teman Lala, melambaikan tangan. Menghentikan bajaj yang didekatnya dan segera mengajak masuk kedua temannya. Dan setelah ketiga cewek itu masuk kedalam angkutan umum roda tiga itu, mereka pun segera meninggalkan sekolah. Meninggalkan Pandu yang
masih terus mengawasi dari kejauhan.
Melihat kepergian bajaj tumpangan Lala, Pandu segera mengambil motornya dan mengikutinya diam-diam. Dan setelah beberapa kali berbelok, serta naik turun jembatan, mereka pun tiba di salah satu pusat
Rupanya, Lala dan kedua temannya tak langsung pulang kerumah. Melainkan mampir sejenak ke restoran cepat saji yang ada disitu.
Buru-buru, Pandu memarkirkan motornya di parkiran liar yang ada dihalaman mall itu. Berjalan dalam senyap sambil menyusul ketiga cewek belia itu kedalam restoran. Dengan terus berusaha tak terlihat, Pandu celingukan. Mencari tahu dimana posisi terbaik yang bisa ia dapatkan supaya bisa mengintai Lala lebih lanjut.
Dan beruntungnya Pandu, saat mendapatkan bangku kosong dibelakang tempat duduk Lala Terpisahkan oleh pembatas tempat duduk berupa tanaman yang membuat posisi duduknya sedikit tersembunyi. Setelah itu, Pandu segera memesan makanan lalu mendengarkan dengan seksama percakapan ketiga cewek-cewek itu.
"Heeei... Lala..
"Panggil Febri. Teman lala berperawakan kurus, berkacamata dan berambut panjang
sepinggang yang dikuncir kuda. "Denger-denger... Kamu baru aja putus dengan Roni ya...?"
"Hmmm.. Kamu tahu darimana...?" Balas Lala
"Ehhh.. lya... Kok bisa sih...?" Sahut Eni. Sohib Lala yang sedikit gemuk, chubby, dan memiliki gaya bicara ceplas-ceplos yang vulgar, "Padahal kalo aku dan Febri perhatikan... Kalian tuh pasangan yang cocok tauu...
"Hmmmm... Mungkin belom jodoh kali yaaa...." Jelas Lala malu-malu.
"Yah sayang banget deh, Laa.... Padahal Roni tuh idaman banyak cewek loh..." Sambung Febri, "Udah ganteng, ketua OSIS, gagah, kaya, dan royal juga... Pasti seru deh kalo bisa punya pacar kaya dia..."
"Kamu suka ama Roni...?" Sahut Lala, "Pacarin aja, Feb... Kalo emang suka ama tuh cowok..."
"Hahahaha... Roni mana suka cewek kerempeng kaya Febri... Dia mah demennya cewek mulus, cantik dan montok kaya kamu, Laaa..." Celetuk Eni sambil terkekeh kegelian.
"Hmmm.. Gitu ya..?" Sahut Lala seolah tak peduli
"Yah.. Sayang banget ya... Padahal... Kalo jadi pacar Roni, semua kepengenan kamu bisa ia kabulin dengan mudah..." Keluh Febri menyayangkan pisahnya Lala dengan pacar terakhirnya.
"lya-ya... Sayangnya, aku bukan cewe matre sih..." Celetuk Lala sambil tersenyum kecut, "Aku udah puas kok dengan apa yang kumiliki saat ini..."
"lyadeeeehh... Cewek yang punya modal tubuh dan kecantikan macam kamu mah enak, Laaa.. Bisa ngedapetin siapa aja dengan mudah..." Seru Eni sedikit minder dengan kelebihan yang Lala miliki, "Coba kalo Febri jadi kamu... Roni udah pasti jatuh miskin karena diperetin ama tuh cewek matre..."
"Yeeeee... Enak aja..." Protes Febri, "Aku bukan cewek matre... Aku cuman realistis.... Jadi cantik, itu butuh pengorbanan dan banyak duit, Tsay...." Sambung gadis kurus itu sambil tersenyum lebar.
"Hahahaha..... " Tawa ketiganya terbahak-bahak, karena mendengar penjelasan Febri.
Dengan seksama, Pandu mendengar segala celoteh dan obrolan keponakannya dari meja belakang.
Menyimak dan mencoba mencari jalan keluar guna menyikapi sikap ketus Lala yang tiba-tiba tertuju kepadanya.
"Satu nasi goreng special, satu bakmi goreng seafood, satu burger, satu ayam paket jumbo, satu es
satu jus apukat,
teh lychee, dan satu piza..." Ucap seorang pramusaji
menghidangkan semua pesanan keatas meja Lala, "Dan tiga ice cream akan dikeluarkan nanti sebagai hidagan penutup..."
"lya betul Mas..." Balas Febri
"Yaudah-yaudah... Dihari yang spesial ini... Sok-lah, langsung dimakan hidangannya..." Celetuk Nia sedikit menyombongkan diri.
"Waaahhh.... Tumben ntraktir...?" Girang Lala, "Kamu habis dapet rejeki nomplok, Feb...?"
"Hehehehe.... Kamu belom tahu ya La..?" Kekeh Febri yang langsung kegelian sendiri saat melihat tatapan mata Nia yang melotot kearah sohib gendutnya itu.
"Awas aja kalo kamu sampe ngebocorin...!!" Ancam Nia dengan wajah yang langsung merona merah.
"Tahu apaan sih...??" Tanya Lala menatap kearah kedua teman dekatnya secara bergantian dengan raut
muka yang benar-benar penasaran,
"Febri...? Nia...? Kalian punya rahasia apaan sih...??"
"Hihihi... Nia kemarin khan.... Baru saja pecah..... Mppfffhhh..." Belum sempat Febri menyelesaikan kalimatnya, Nia langsung menghambur kearahnya dan membekap mulut chubby-nya itu erat-erat.
Sehingga membuat piring dan gelas makanan diatas meja langsung terguling berantakan.
"Waaahhh... Waaahhh... Udah mulai berani biang gossip nih... " Tegrep Febri terus membungkam mulut
Nia sekuat tenaga, "Waaahhh... Mau cari mati..."
"Mmmpppffff...." Tubuh Nia terlunjak-lunjak. Wajahnya ikutan memerah dengan karena menahan tawa lantangnya yang setiap saat bisa meledak.
"Heeh gendut...!! Awas aja sampe kamu ceritain hal itu ke Lala..." Ancam Nia sambil terus menekan mulut Febri.
"Heeeeehhh Febri....? Niaa...?" Cecar Lala yang makin penasaran. Buru-buru ia menarik tangan Nia dari mulut Febri, "Ada apaan sih... ? Kok kalian ga cerita-cerita ke aku..?"
"Puaaahhh..." Ucap Febri lega saat tangan Nia berhasil tersingkirkan dari mulutnya, "Nia baru pecah perawan, Laaaa... Dia baru aja jadi cewek kaya raya... Hahahahaha..." Sambung Febri yang comel. Tak mampu menjaga rahasia teman dekatnya itu.
"Aaaaahhh.. Kampreeet.. Gendut sialan...!!!"
"Haaah...?" Kaget Lala dengan mulut terbuka lebar, "Ama Sugi?"
"Enggak... Bukan ama Sugi... Melainkan ama Om Johan... Bos Ibunya Sugi... Hahahaha...." Jelas Febri menceritakan panjang lebar tanpa tedeng aling-aling.
"Aaahhh.. Cewek anjimmmm... Udah deh.... Dasar gembul bulet...! Ga bakalan lagi aku cerita-cerita ke kamu..." Rutuk Nia kesal sambil menekuk wajahnya.
"Nia...? Kok bisaa gitu.....?? Ah... Ini bohongan khan, Nia...? Tau memang beneran seperti itu...?" Tanya
Lala begitu kagetnya. Sampai-sampai ia tak sadar jika mulutnya melongo
"Hahahahaha.. Silakan Ibu Nia, maju keatas mimbar... Waktu dan tempat, kami persilakan..." Sahut Febri yang terus mengojok-ojok sohibnya untuk menceritakan lebih jauh, "Cerita-cerita dong, Niaaa...
Gimana caranya kamu bisa jual perawanmu ke Om Johan..."
"lilihhhssss.. Bener-bener deh... Kamu jadi temen bocor banget sih..." Kesal Nia, "Aku sumpahin, kamu makin gendut dan ga bisa kurus-kurus lagi..."
"Hehehehe. Maaf-maaf.... Habisan aku ga tega ngelihat muka penasaran Lala.... " Sahut Eni sambil mengusap-usap punggung sohibnya itu.
"Emang kalo kamu jual perawan gitu... Bisa sampe laku berapa...?" Tanya Lala memecah perdebatan diantara Febri dan Nia.
"Waaahh...? Lalaa...? Kok kamu nanyanya langsung to the point gitu. Laa...? " Kaget Febri
"lya nih... ga ada basa-basi sama sekali..." Sambung Nia yang ikutan kaget.
"Hmmmmm..... Aku... Ngggg.. Pengen tahu aja..." Sahut Lala.
"Hayoooo.... Emang kamu mau jualan perawanmu kesiapa....?" Lanjut Nia
"Iddillihhhh.. Aku mah cuman penasaran aja..." Kelit Lala, "Lagian siapa juga yang mau ama cewek yang cupu dan ga mahir hal-hal yang begituan kaya aku......?"
"Eiitttsss... Jangan salah..." Potong Febri, "Justru cewek cupu kaya kamu yang bisa laku tinggi..."
"Lima belas juta..." Celetuk Nia berbisik pelan.
"HAAAH.. SEMAHAL ITU...?" Kaget Lala yang secara reflek sambil mendekap mulutnya sendiri.
"Stittt.. Heeehh... Lalaaa...!!!" Hardik Febri. Memperingatkan Lala supaya lebih menjaga intonasi suaranya, "Jangan ngagetin orang gitu gitu ah..."
"Ehh Kampret.... Aku memang kaget....!" Balas Lala melanjutkan.
"lya... Aku dapet segitu... Pas jual memek aku untuk pertama kalinya... " Jelas Nia lagi setelah melihat Lala mulai kembali tenang, "Uang segitu mah kecil, Laa... Temen aku si Cintya bisa dapet 50 juta pas perawannya pertama kali dibeli om-om girang..."
"Woooww... Banyak banget...?" Sahut Lala
"Yaaaa. Gitu deh..." Sahut Febri lagi, "Dan duit itupun diluar pemberian hape, tas, makeup, dan uang jajan bulanan.."
"Seriussss...?" Tanya Lala lagi sambil berbisik, "Sampe uang jajan bulanan, bisa kamu dapetin cuman dari jualan memek..?"
"lya dong.... Khan Om Johan jadi sugar dady Nia, Laaa...." Celetuk Febri ikut menjelaskan.
"Haalah Haalaah.. Cewe baru ngerti cara bedakan gitu aja... Bisa-bisaan pake istilah sugar dady segala... Hihihihi..." Ledek Lala sambil tertawa puas.
"Hahahaaa... Ngehinaaaa..." Seru Nia sambil tertawa protes. "Coba bayangkan....Baru bisa bedakan aja... Aku udah bisa dapet banyak hal.... Gimana kalo aku bisa yang laennya...?"
"Ehhh...? Sebentar-sebentar... Bukannya kemaren perawanmu udah diambil Sugi ya..? Kok sekarang bisa-bisanya ngaku perawan lagi sih...?" Heran Lala.
"Sssstttt... Ihhhh Lalaaaa... Ga seru amat sih jadi temen.... Pake bongkar-bongkar rahasia dapur kaya gitu..." Protes Febri makin menjadi-jadi, "Aku khan jualan image, Laaaaa... Pura-pura perawan..."
"Hmmm.. Emangnya Om Johan ga sadar kalo memekmu udah bekas pakai...?"
"Hahahaha.... Niaaaa-niaaaaa.. Polos banget sih kamu jadi cewek... ?" Lerai Febri memisahkan perdebatan sohibnya itu.
"Abis aku bingung... Nia khan udah ga perawan.... Perawannya udah diambil Sugi... Tapi kok malah ngaku perawan dan ngejual memeknya seharga lima belas juta...?" Ucap Lala lagi mengulang informasi dari kedua temannya itu sembari mencoba menarik kesimpulan, "Apa Om Johan bisa dibodohi semudah itu..?"
"Hahahahaha... Feb... Bener-bener deh temen kita satu ini... " Tawa Nia terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, "Coba deh kamu jelasin... Seluk beluk bisnis lendir ini..."
"Jadi gini La... Denger baik-baik..." Seru Febri, "Memang... Perawan Nia udah hilang dari dulu karena diberikan kepada Sugi... Tapi, itu bukan berarti Nia langsung ngaku ke Om Johan kalo dia udah bener-bener nggak perawan... " Sambung Febri terus menjelaskan secara detail kepada Lala.
"Jadi...?"
"Ya Nia harus berpura-pura jadi cewek perawan.... Nah beruntungnya... Kontol si Sugi itu kecil, jadi ga banyak ngerusak selaput daranya Nia... Otomatis pas memek Nia dientot ama kontol Om Johan, tuh lubang kencing Nia... Masih berasa sempit... "
"Punya cowok kontol kecil kok beruntung sih...? Ada-ada aja... Hihihi." Kekeh Lala.
"Ya beruntunglah.... Coba kalo sugi kontolnya besar... Bisa langsung ndower nih meki... Dan ujung-ujungnya... Bisa dihargain murah nih memek aku..." Ucap Nia membela diri
"Hoaaallaaahhhhhh.. Jadi begitu..." Ucap Lala sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "Cuman pura pura jadi perawan aja bisa dapet lima belas juta...? Terus dapet uang bulanan juga...?"
"Hihihihi... Gimana La...? Kamu tertarik juga ikut terjun di bisnis lendir bareng kita-kita...?" Celetuk Febri menawarkan sambil tersenyum lebar kearah Lala
"Kita-kita...?" Ulang Lala
"lya... Febri sebentar lagi juga bakalan jadi ani-ani simpenan, Hihihihi..." Sahut Nia sambil menyikut Febri yang duduk disampingnya, "Sekarang... Dia lagi mati-matian nurunin berat badan.. Biar badannya keliatan makin aduhay..."
"Yo'i... Biar makin tinggi harga jual tubuh aku..." Sahut Febri sambil membusungkan dadanya. "Aku dah capek hidup apa adanya, Laaa... Jadi pas ngelihat Nia bisa bantu-bantu keluarganya, aku jadi pengen seperti dia..."
"Hmmmm... Gila sih... Kalo sampe aku ikutan jual memek perawan aku kaya kalian..." Celetuk Lala.
"Yaaa.. Kamu pikir-pikir aja dulu... Nanti kalo mau, aku kenalin ke temennya Om Johan... Lumayan...
Cuan-cuaann...."
"lihhhsssss... Gilaaaaa... Enggak Lah... " Tolak Lala sambil menautkan alisnya.
Sejenak, Lala menatap ke arah Febri yang terus menceritakan pengalaman serunya saat menjual keperawanannya. Mengamati kehebohan gadis kurus itu karena berhasil mendapat imbalan uang yang begitu banyak, hanya dengan usaha yang tak begitu melelahkan. Satu malam bersama Om Johan, bisa memenuhi kebutuhan Febri selama sebulan.
Febri yang dulu kuper dan kolot, sekarang berubah menjadi supel dan menarik perhatian. Meskipun belum beberapa lama, akan tetapi perubahan penampilan Febri terlihat jelas adanya. Dan bodohnya, ia baru menyadari hal itu.
Handphonenya type terbaru. Giginya diberi kawat gigi. Rambutnya halus tergerai. Dan kuku-kuku jarinya,
la terlihat begitu cerita dan riang bahagia.
Sejenak, Lala merasa iri melihat 'kesuksesan' sohibnya itu. Akan tetapi buru-buru Lala menepis semua pemikiran tersebut. Karena meskipun Febri sekarang bergelimang kemewahan, ada sebuah pengorbanan besar yang harus ia lakukan demi mendapatkan semua itu.
Lala tahu, sebenarnya bisa saja ia mendapatkan hal yang Febri peroleh dari Om Johan. Karena sebelum ini, Roni sering kali menawarkan kemewahan seperti itu. Akan tetapi, Lala belum seberani Febri. Lala masih memiliki rasa malu yang membuatnya mampu berpikir waras untuk tetap menjaga harga diri serta keperawanannya.
"La... Lala...? Kok kamu malah ngelamun sih...?" Ucap Febri sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Lala.
menebak-nebak.
"Jangan-jangan... Lala jadi beneran pengen jualan memek kamu ke om-om girang ya...?" Celetuk Nia
"Kagaaakkklah... Bisa mati aku digantung ama Mama kalo sampe kaya gitu.. Hahahaha..... " Sahut Lala yang secara spontan tertawa keras.
"Emangnya... Kamu belom pernah ngentot, La...?" Tanya Nia.
Lala menggeleng.
"Kalo kamu, Feb...?" Lanjud Nia bertanya ke sohib chubbynya itu, "Ahhh.. Kalo kamu mah udah pasti ga perawan..."
" Sambungnya sambil menoyor jidat Febri.
"Yeeeee... Baru pecah perawan gitu aja.. Udah jadi orang yang sok banget deh kamu, Tsay..." Rutuk
Febri membalas toyoran Nia.
"Bukan jadi orang yang sok sih... Lebih tepatnya aku pinter... Bisa mendapatkan kemewahan dari memek aku ini..
" Jelas Nia sambil mengusap
selangkangannya,
"Ketimbang kamu... Udah capek-
capek ngangkang tapi sama sekali gak dapet apa-apa... Hahahaha..."
"Huuuhh... Jadi perek aja bangga..." Ledek Febri mulai kesal.
"Nggg... Ngentot tuh sakit gak sih...?" Tanya Lala lagi.
"Waduh.... Pertanyaan sohib kita satu ini.... Makin menjurus nih..." Balas Febri menautkan alisnya.
"Bukan.. Maksud aku... Pas pecah perawan... Apa memang sesakit itu...?" Jelas Lala, "Aku denger...
Pas pertama kali memek dimasukin kontol... Bisa sampe berdarah-darah gitu.. Trus pas udah kelar...
Bisa sampe susah jalan..."
"Hmmm.... Ya kalo yang mecahin perawan, kontolnya sebesar kelingking sih... Kita masih bisa ketawa-tawa..
" Jelas Nia secara singkat,
"Ttapi kalo yang kontol yang nyodokin memek kita sebesar botol
mineral ini... Pasti deh... Kita ga bakalan bisa bangun sampe berhari-hari. Hihihihi.."
"Yang jelas, kalo pas memek kita dientotin trus dibayar lima belas juta... Rasa sakitnya aku yakin jadi ga berasa ya, Ni... " Ledek Febri sambil cengegesan.
"Hahahaha... Bisa bisa... Kurang lebih seperti itulah... Hihihihi..."
"Memangnya... Kamu ada kepengenan buat lepas perawan, Laa...?" Tanya Nia.
"Hmmmm... Entahlah..." Jawab Lala gamang.
"Yaahh.... Kalo kamu memang pengen ngelakuin hal itu... Paling tidak, kamu udah tahu caranya supaya bisa dapet hal yang menguntungkan...? " Celetuk Febri sambil melirik kearah Nia.
"lyalah... Ketimbang memek digratisin ke pacar... Mending dijualin ke sugardaddy dooongggg.. Hihihi.."
Kekeh Nia bangga.
"Nia... Semisal aku jual perawan memekku ke Om-Om yang kaya sugardady-mu... Kira-kira bisa laku berapa ya...?" Tanya Lala dengan polos.
"Haaahhh...? Lalaaaaa...?" Kaget Nia dan Febri hampir berbarengan.
"Hehehehe.... Tenang... Aku cuman nanya aja kok... " Kekeh Lala sambil tersenyum lebar
"Bentar-bentar... Daritadi kok kamu nanya-nanya seperti itu sih...? Memangnya kamu mau jadi perek beneran...?" Tanya Febri dengan nada penuh selidik, "Aku perhatiin... Detail banget loh... Semua hal yang kamu tanyain itu...."
Lala terdiam. Menatap bergantian kearah kedua sohibnya yang terlihat begitu penasaran. Setelah itu, ia menghela nafas panjang kemudian menyeruput minuman dihadapannya. "Yaaa.. ga ada salahnya khan kalo cuman nanya..." Hela Lala pelan. "Lagian... Daripada kalo dipikir-pikir... Jadi perek kaya Nia tuh gak ada salahnya juga... Wong ga ngerepotin orang lain...Bener gak Tsay...?"
"Heeeh...?" Kaget Nia lagi dengan penjelasan Lala.
"Ketimbang udah susah-susah berusaha jadi cewek bener tapi masih dapet julukan perek... Mending jadi perek beneran bukan...?" Keluh Lala sambil menatap tajam kearah gelas yang ada ditangannya.
"ASTAGAA.... Lalaaaa...? Kamu kenapa sih...?" Tanya Febri, "Kok ngomongnya ngelantur gitu sih...?"
"Ehhh...? Sebentar... Sepertinya aku tahu, kenapa Lala seperti ini..." Seru Nia yang tiba-tiba menatap serius kearah kedua sohibnya. "Lala jadi linglung seperti ini... Pasti... Gara-gara Roni..."
"Kok Roni..?" Tanya Febri
"lyaaa... Coba deh kamu perhatiin... Semenjak Lala diputusin Roni... Lihat aja... Semua cewek-cewek di sekolahan... Jadi nganggep Lala seperti apa...?" Jelas Eni mencoba menarik kesimpulan,
"Terlebih
cewek-cewek yang ngefans ke playboiy sok kegantengan itu..."
"Oh.. Em... Ji.... Bener dong..." Sahut Febri seolah tersadar dengan kesimpulan Eni, "Pantesan.. Rida,
Suci, Sari... Nanya-nanya banyak hal ke aku tentang Lala..."
"Bener begitu khan Laa...? Semua ini karena Roni...?"
"Entahlah, Ni... Aku gak mau menuduh secara sembarangan..." Ucap Lala sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
"Kamu pasti tahu rahasia Roni ya...? Atau kamu ngelakuin hal yang tak disukai oleh Roni... ?" Tebak Eni panjang lebar, "Makanya tuh cowok sialan dengan sengaja ngejatuhin nama baik kamu disekolahan..."
Lala tak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
Mengingat-ingat kejadian memalukan yang terjadi beberapa waktu lalu bersama Roni. Kejadian yang tak mungkin ia ceritakan kepada siapapun, saat Roni hendak memperkosanya.
Pandu yang sedari tadi mendengarkan percakapan tiga gadis belia dari meja belakang pun akhirnya
paham, kenapa Lala akhir-akhir ini bersikap tak seperti biasanya.
Oleh karenanya, Pandu harus mengambil sikap.
Dan segera mencari jalan keluar.
Untuk bisa membuat keponakan tercintanya itu kembali ceria seperti sedia kala.
bersambung
0 Komentar