pandu dan lala part 25

 



permulaan


Sepulang perjalanan dari restoran, Pandu semakin bingung. Memikirkan rencana terbaik yang bisa ia lakukan untuk membantu keponakannaya membalas dendam ke mantan pacarnya. Meskipun Pandu sadar, jika hal itu bukanlah sebuah hal yang mudah.

Roni adalah anak tunggal orang terpandang di kotanya. Yang mampu berbuat apapun. Selama hal yang ia inginkan bisa dibeli dengan materi, maka semua bisa ia dapatkan. Oleh karenanya Pandu harus merencanakan dengan matang supaya bisa membuat Roni mati kutu terhadapnya.

Namun, karena pada dasarnya Pandu adalah orang yang cerdas, ia tak memerlukan waktu yang lama untuk membuat konsep pembalasan terhadap Dlo. Dipenghujung hari, ia sudah berhasil menyusun tahap demi tahap rencana busuknya. Dan supaya tak membuang waktu, dimalam harinya ia sudah memulai langkah awal untuk menjatuhkan nama baik Roni.

Dimulai dengan mengawasi gerak-gerik Roni, Papanya, Mamanya, bahkan seluruh pekerja yang ada di rumahnya, Pandu rekap dengan seksama. Pandu juga meminta tolong ke seluruh teman dan 'relasi' yang sudah sering berkecimpung di dunia kejahatan untuk bisa memberi cara ataupun masukan dalam menjalankan rencana busuknya.

Meskipun Pandu bukan orang berada, akan tetapi ia rela merogoh kocek lebih dalam demi bisa membalas dendam kepada Roni.

Pandu merasa harus bergerak cepat. la tak bisa berleha-leha karena tak tega ketika melihat Lala yang Semakin terpuruk. Pandu harus segera menghilangkan ketakutan Lala dan menjadikan keponakan tercintanya menjadi ceria kembali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Lalu lalang jalanan juga sudah terlihat begitu lengang Lampu-lampu toko dan bangunan disekitaran juga sudah padam. Menandakan jika sudah tak ada lagi aktifitas pemilik didalamnya. Mereka pasti sudah terlelap dengan nyenyak, berselimut hangat sambil memimpikan hal yang indah.

Berbeda dengan situasi di salah satu bangunan yang terletak di ujung jalan .Tempat ngumpul kawula muda yang masih terlihat ramai didatangi oleh penikmat music dan minuman keras. Meskipun sudah mendekati jam tutup, tempat itu masih dikerumuni oleh muda-mudi usia tanggung yang mencari kesenangan sesaat.

Tak jauh dari sana, sepasang mata mengawasi tempat ramai itu dengan seksama. Ditemani secangkir kopi dan puluhan puntung rokok yang berserakan ditanah sembari menunggu rencana besar yang sebentar lagi ia jalankan.

"Yuk genks... Gw cabut dulu..." Pamit salah satu pemuda ganteng sambil melambaikan tangan kearah teman cowok dan deretan cewek-cewek seksi yang berkerumun didekatnya.

"Makasih kak Roni... Makasih bang... Makasih broo..." Sahut gerombolan muda-mudi itu hampir berbarengan. Sekedar berterima kasih atas semua keseruan yang baru saja mereka dapatkan dari Dlo.

"Ron... Lu setirin mobil gw nih... Pusing banget pala gw..." Seru Roni sambil melempar kunci mobilnya kesalah satu temannya yang berbadan tinggi besar. "Kampret... Bisa-bisanya gw oleng cuman gara-gara minuman segitu..."

"Lu habisin lima botol sendirian sob..." Sahut teman Roni lagi sambil memapah tubuh Roni.

"Ahhh.. Itumah baru sedikit, Riff..." Ungkap Roni menyombongkan diri, "Gw pernah ngabisin sepuluh botol dan masih tetap tegak berdiri...!"

"Apanya yang berdirii...? Kontol...?" Sahut Rifat meledek sambil terus memapah Roni kemobilnya.

Setelah Roni dan teman-temannya masuk ke mobil, mereka langsung melesat dengan cepat menembus kegelapan jalan menuju kearah rumah. Melihat kepergian Roni, sosok yang sedari tadi mengamati itupun langsung bergegas menyusul. Melajukan motor yang ia kendarai dan mendahului laju mobil Roni.

BRAK BRAK BRAK

"Heh ANAK SETANNN... Turun lu...!!" Teriak sosok itu sambil menggebrak kaca mobil Roni berulang kali. la juga menggebrak kap mobil Roni dan memepet mobil yang dikendarai Mika hingga penutup mesin itu penyok dibuatnya

СІТТТПТ...

Suara decit ban mobil Roni saat berhenti berputar. Mika dan Rifat, segera keluar dari mobil dengan

sudah terlihat tak menyenangkan. Sambil memukul- mukulkan tangan, seolah ingin

memberikan aura intimidasi yang mengerubungi sosok misterius itu.

Namun, sepertinya hal itu tak membuat lawannya gentar, karena meskipun Mika dan Rifat sudah

mengepung

sosok tersebut, ia terlihat biasa saja. Tak gentar sedikitpun. Malahan sosok itu berani

melempar puntung rokok yang masih menyala kearah Roni yang masih duduk didalam mobil.

Melihat kekurang ajaran sosok tersebut, Mika dan Rifat langsung menyerang pemuda gagah itu secara bersamaan, tanpa memberinya kesempatan untuk menanyakan duduk perkaranya terlebih dahulu.

"BANGSAAT...!!! Berani-beraninya lu ANJIM... Ron... Fat... HAJAR TUH MONYET..!" Umpat Roni yang langsung memerintahkan kedua sohibnya untuk menghajar sosok itu.

"SIAPP BOOSSS... " Seru Mika yang lebih dulu melancarkan serangan, "Jangan salahin gw kalo bentar lagi lu disambut baik oleh rumah sakit...!"

"Mati lu monyeeett...!!" Sahut Rifat yang secara bersamaan juga melayangkan bogem mentahnya.

Dengan sigap, pemuda misterius itupun menepis semua serangan yang tertuju padanya. Bahkan, sosok itu meladeni serangan kedua teman Roni yang berbadan besar itu seperti anak kecil. Sama sekali tak

sebagai musuh yang sulit. Sampai-sampai, sosok tersebut bisa

membalikkan serangan 'pengawal' Roni itu dengan satu tangan.

Mungkin karena Mika dan Rifat hanya memiliki setengah kesadaran yang masih tersisa, membuat sosok gagah itu dengan mudah mengalahkan mereka Dan untuk semakin mendramatisir adegan perkelahian diantara mereka, sosok itu mematahkan tangan Mika dan Rifat guna membuat gentar tuan mudanya.

KRAAAAKKK!!!

Agak berlebihan memang. Namun terasa perlu.

"ANJIIIMMM..." Geram Roni ketika melihat kedua 'pengawalnya' langsung terkapar sambil memegangi

tangannya yang terkulai lemah. "SETAN...!! Lu apain temen-temen gw...?"

Sosok itu tak menjawab. la langsung merangsek kearah Roni yang duduk ketakutan didalam mobil.

Mencengkram lehernya, dan menariknya keluar. Menyeretnya di atas aspal lalu melempar tubuh Roni diantara kedua sohibnya.

"Heehh..? Heeehh...? Apa yang lu inginkan, Hahh...?" Tanya Roni yang juga dalam keadaan setengah mabuk dengan wajah pucat pasi, "Lu mau uang..?? Nih... Nih.... Ambil dompet gw....!"

"NGGAK.... !!! Gw gak pengen uang lu, Monyet...!!" Jawab sosok itu sambil menepis tawaran dompet dari tangan Roni.

"Lalu...? Lu mau apa...? Mobil.? Lu mau bawa mobil gw...?" Sahut Roni yang semakin panik sambil mencari-cari kunci mobil di saku celananya.

"Gw juga ga pengen mobil lu...

"TERUS LU MAU APA, ANJIIIMMM..."

Gw mau nama baikmu RUSAK...!!!" Jelas sosok tersebut sambil menginjak selangkanan Roni.

BUUGGG

"Aaaaahhhh.. Setaaaaannnn...!!!" Jerit Roni kesakitan, "Sakit BANGSAAATT...!!".

"Gw mau lu baikin lagi nama baik keponakan gw...!!!"

"Nama baik keponakan...?" Heran Roni sambil berusaha mencari alasan, kenapa ia tiba-tiba diserang seperti ini. Ditatapnya dalam-dalam wajah pemuda yang sedang menyerangnya barusan.

Dan begitu Roni tahu, ia langsung berteriak lantang.

"ANJIM...? Lu khan...? Lu... " Seru Roni tak bisa menyusun kata-kata saking paniknya.

"Gw siapa...?"

"Lu... Yang ngehajar gw kemaren...!" Sambungnya lagi sambil menunjuk-nunjukkan tangannya, "Lu

Pamannya si perek sialan itu....? lya.. Inget gw... Lu Paman Lala...!!" .

"lya... Gw Pamannya Lala... Cewek yang lu rusak nama baiknya disekolah...!!" Sahut Pandu sambil tersenyum lebar.

"Dirusak apanya...? Perek kaya Lala mah memang udah rusak dari lahir... " Jelas Roni sambil menghina keponakan Pandu itu, "Jadi... Ga perlu gw rusak pun... Nama baik manusia sampah kayaa Lala juga udah rusak duluan...?"

BUUUGGGGG.

"DASAR COWO ANJIIIMMM...!"Lagi-lagi, Pandu menendang selangkangan dengan keras. Sampai-sampai tubuh lelaki ganteng itu terpental mundur kebelakang dan berguling beberapa kali diatas aspal.

"Buka baju dan celana lu...!!" Bentak Pandu kencang.

"Hah...?" Bingung Roni, "Buka...? Disini...?" Sambungnya sambil celingak-celinguk kearah kedua temannya yang masih meringis kesakitan.

"IYA...BUKA.... Lu budeg ya...? LEPASIN SELURUH PAKAIAN LU...!!!" Bentak Pandu sambil menginjak tulang kering Roni.

"Aaaarrggghhhhh..." Jerit Roni yang walaupun bingung, akhirnya menuruti permintaan Pandu. Sambil duduk diatas jalanan, pemuda ganteng itu melucuti pakaiannya sendiri hingga menyisakan celana dalamnya saja.

"Lepas juga kancut lu...." Bentak Pandu lagi yang kali ini, berjongkok tepat dihadapan Roni.

"HАAAH...? LU UDAH GILA YA...? Buat apa gw harus buka kancut segala...?" Kaget pemuda tampan itu sambil menutup selangkangannya dengan kedua tangannya.

"NYOOOTTTT... "

Pandu meremas selangkangan Roni kuat-kuat. Hingga membuat mantan pacar Lala ini kelojotan.

"AARRGGGGHHH.. ADUH ADUH AAADUUHH...!" Jerit Roni kencang sambil berusaha melepaskan penisnya dari cengkraman tangan Pandu.

"Sekarang lu pilih deh... Mau BUGIL disini...? Atau mau biji peler lu pecah berantakan..?" Ancam Pandu yang makin memperkuat remasan tangannya.

"Aaahhh... lya iya.. Stop...! STOOOPP...! Gw telanjang sekarang... Gw telanjang...!!" Sahut Roni dengan tubuh yang menggelepar-gelepar kesakitan.

"Bagus.!!"

Dengan terus memandang kearah Pandu, Roni yang ketakutan pun mulai menurunkan celana dalamnya.

Hingga tak lama kemudian, mantan pacar Lala itu pun sudah telanjang bulat.

Mika dan Rifat yang berada tak jauh dari Roni hanya bisa memandang kasihan atas ketelanjangan tubuh

'BOS'nya dengan rasa takut yang benar-benar terlihat diwajah. Bahkan, ketika Pandu sibuk menyiksa Roni, mereka pun secara diam-diam mulai bergerak menjauh. Dan segera lari secepat kilat untuk menyelamat diri.

"Heeehhh...!! Mika... Rifat...!! Kok kalian malah kabur...?!" Teriak Roni yang seketika itu merasa kesal melihat teman dekatnya pergi.

"Hahahaha... Lu kayaknya salah memilih anak buah…...!!" Ledek Pandu ketika melihat Mika dan Rifat lari tunggang langgang meninggalkan Roni sendirian, "Masa Bosnya ditinggalin sih... Hahahaha...

Sejenak, Pandu mengamati tingkah kikuk Roni yang benar-benar kebingungan mencari cara untuk menutup ketelanjangan dirinya. Berulang kali, Roni celingak-celinguk. Seolah mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membungkus tubuh polosnya.

"Udah-udaaahh... Lu santai aja..." Celetuk Pandu sambil mengambil handphone dan mulai merekam gerak-gerik Roni. "Senyum dong... Jangan cemberut gitu...."

"NGAPAIN LU REKAM-REKAM GW BANGSAT...!" Raung Roni yang langsung menyergap Pandu dan

berusaha meraih telephone pintarnya.

Namun, sebelum Roni sempat mengambil handphone, Pandu langsung menghajar rahang Roni dengan bogem mentahnya. Membuat Roni untuk kesekian kalinya, kembali terjengkang kebelakang sambil mengusap-usap bagian kanan kiri wajahnya. "Aaarrgghhh..."

"Mau ngapain rampas-rampas hape segala, Hah...?" Hardik Pandu pelan

"Please...Jangan videoin gw..." Ucap Roni sambil buru-buru bersujud di kaki Pandu.

"Ya kalo ga mau divideoin... Jangan ganggu ponakan gw..." Saran Pandu memberikan sedikit nasehat sambil terus meremak semua tingkah Roni, "Lu tuh yaaa.. Meskipun kaya dan ganteng... Akan tetapi tolol..!! Saking tololnya... Lu sampe mau perkosa Lala... Dan begitu lu ga berhasil ngentotin memek keponakan gw dengan kontol maenan lu... Lu malah hancurin nama baiknya... "

"lya.. lya... Gw minta maaf... Gw salah..." Rengek Roni terus bersujud dibawah kaki Pandu.

"Telat...!" Jawab Pandu singkat, "Kalo lu ga gw giniin.. Pasti lu ga bakalan tobat...!"

"Sumpah, Gw minta maaf... Gw mau tobat.." Ucap Roni meminta ampun.

"Gausah sampe sujud-sujud gitu ah... Gw bukan Tuhan.." Sahut Pandu tanpa mempedulikan permintaan maaf Roni, "Udah-udah.. Sekarang lu berdiri...!"

"Please Om... Pleasee.. Jangan rekam gw lagi..."

"Berdiri...!!" Bentark Pandu sambil menjambak rambut Roni, "Gw pengen ngerekam kontol kecil lu..!!"

Mendengar permintaan Pandu yang tak terelakkan, wajah Roni memerah. Otot rahangnya mengeras, dan giginya bergemeretak menahan emosi.

Namun karena Roni khawatir akan keselamatan dirinya, ia tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa diam saja menuruti segala permintaan aneh dari Pandu.

"Hmmm... Sebenernya... Kalo dilihat-lihat... Kontol lu tuh lucu juga yaa...? Kaya dot susu maenan bayi anak-anak... Hahahaha..." Kekeh Pandu sambil men-zoom penampakan penis Roni yang masih tergolek lemas.

"Tapi gw tuh sebetulnya heran... Kok bisa-bisanya ya.. Kontol sekecil itu lu bangga-banggain

kecewek lain...?"

"Udah ya Ommm... Jangan rekam lagi....Pleaseee..."

"BELUM...!!" Potong Pandu, "Sekarang kocok kontol mini lu..."

"Haahh..? Buat apaan...?" Kaget Roni.

"Biar seluruh dunia tahu, se-MESUM apaan diri lu..."

"ANJIIMMM...!! TUJUAN LU SEBENERNYA MAU NGAPAIN SIH...?" Bentak Roni yang langsung kembali emosi. "Sumpah, setelah ini selesai... Lu bakal abis ama gw...?" Ancam Roni.

"Hahaha.. Emang lu bisa apa...? Palingan lu minta tolong ama Papa atau Mama lu..." Ledek Pandu.

"Dasar HOMO keparat...!!" Balas Roni. "Lihat aja nanti pembalasan gw...!"

"Gw Homo...? Hahahaha.. Lu ga pernah ngaca ya.. ?" Ucap balik Pandu sambil tertawa, "Kalo gw homo... Ga mungkin Mama lu ngajakin gw ketemuan mulu... Sampe seminggu tiga kali loh..."

"Heeehh...? Mama ngajakin ketemuan...?" Kaget Roni," Jangan ngada-ngada lu, Setan..!"

"Hahahaha... Emang lu ga tahu ya..? Kalo Mama lu tuh udah gw dapetin...." Jelas Pandu, "Dan sebentar lagi... Gw juga bakalan bikin Mama hamil... Buat kasih adik ama lu... Hahahaha..."

"Cuih... HOMO kebanyakan NGEHAYAL..!!" Umpat Roni tak terima penjelasan Pandu, "Mana mungkin

Mama gw mau ama lelaki busuk dan miskin seperti lu...!!"

Pandu kemudian merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan satu handphonenya lagi. Sambil terus merekam dengan handphone sebelumnya Pandu membuka galery dan menunjukkan kepada Roni, photo-photo erotis yang tersimpan didalamnya.

"LIHAT...!" Sodor Pandu mempertunjukkan layar handphonenya ke Roni, "Ini mama lu bukan...? Astari Ambarwati. Rumah di Perumahan Wisata Bahari. Blok Delima no.8. Tepat di samping gerbang utama perumahan...?"

"Kok lu bisa tahu...?"

"Mama lu suka jalan-jalan ke gunung... Mencari kulineran ke tempat-tempat baru di akhir pekan.. Ga suka pake beha ketika dirumah... Suka berenang telanjang ketika malam... Dan yang paling gila... la punya hobby... Pesen gigolo ketika banyak pikiran..."

"Gigolo...?" Ulang Roni.

"lya... Mama lu suka pesan jasa pemuas nafsu birahi...." Jelas Pandu sambil tersenyum, "Mama lu suka minta lelaki berkontol besar sepertiku... Buat menghilangkan gatal memeknya..."

"GA MUNGKIN...!!" Teriak Roni tak percaya, "MAMA GW BUKAN WANITA MURAHAN SEPERTI ITU...!!"

"Yakin...?" Goda Pandu mencibir jawaban Roni. "Semisal gw bisa ngebuktiin semua kelakuan binal

Mama lu... Gimana...?"

"Mama gw ga mungkin ngelakuin hal itu..." Jawab Roni tegas,

"Mama tuh orang rumahan yang ga

bakalan nerima hal-hal mesum kaya itu..

"Hahahaha.. Dioooo- Roni...." Pandu tertawa lebar, "Lu tuh yaa.. Sebagai anak tunggal dari orang tua yang super kaya.. Harusnya jangan tolol-tolol banget deh... "

"Jaga mulut lu, Setan....!"

"Gini ya Roni yang tolol... Mama lu tuh bukan anak kecil lagi... Dia punya banyak uang yang bikin dia gak bisa diem dirumah... "Jelas Pandu panjang lebar,

"Mama lu tuh sama aja dengan wanita kebanyakan..

Yang masih punya hasrat birahi dan nafsu yang harus ia salurkan..."

"Papa lu sibuk... Jarang pulang... Jarang nemenin Mama lu dirumah... Terus gimana caranya...? Mama lu yang cantik.... Seksi dan ngegemesin itu buat ngelampiasin hasrat seksnya kalo bukan dengan manggil gigolo-gigolo kaya gw...? Haaah...?" Sambung Pandu dengan nada penuh kemenangan.

"Tetep aja.. Lu ga ada bukti...!" Kesal Roni, "Photo-photo Mama gw yang kaya gitu mah... Siapa aja bisa dapetin..."

"Hmmm.... Anak tolol ya kaya gini nih..." Ledek Pandu lagi, "Gini deh... Semisal gw bisa kasih liat lu sesuatu yang bisa bikin pikiran lu kebuka gimana...?"

"Gw kasih mobil gw sekarang juga... Gw yakin lu salah orang...!" Jawab Roni langsung, "Dan kalo lu salah orang... Lu hapus semua video gw barusan... Dan gw bakal ambil keperawanan memek Lala...

Keponakan lu yang ga berguna itu....!" Sambungnya lagi dengan nada yang benar-benar yakin.

"DEAL...!!!" Seru Pandu yang kemudian menjulurkan tangan. Menyambut kesepakatan dengan Roni.

Pandu kemudian membuka m-bankingnya. Mengutak-atiknya sejenak lalu kembali menunjukkan mutasi rekening bank digitalnya kepada Roni. "Coba lu baca baik-baik... Siapa nama orang yang sering

mentransfer uang-uang itu ke gw setiap paginya.?"

"Astari Ambarwati....?" Kaget Roni, "Gak mungkin... Ini gak mungkin..!!"

"Masih ga percaya...?" Pandu lalu mengeluarkan dompetnya. Mengambil sebuah kartu berwarna hitam metalic dan menunjukkan kembali ke Dlo, "Coba buka mata lu... Dan baca lagi... Siapa nama pemilik kartu unlimited ini...?"

"ANJIMMM..." Dengus Roni sambil bersungut-sungut ketika mendapati nama di kartu tersebut sama

dengan nama ibu kandungnya.

"Sekarang lu udah bisa percaya khan..? Kalo Mama cantik lu yang lu bangga-banggakan itu bukan wanita baik-baik.."

"Mama ga mungkin kasih kartu unlimitednya ke lu...!" Debat Pandu, "Bisa aja lu nyopet...!"

"Duhhh.. Mungkin otak lu besarnya sama dengan biji pelermu ya...? " Olok Pandu sambil menepok jidatnya, "Capek deh ngobrol ama lu..."

"Udah-udah.. Gw juga capek ngurun hal gak penting kaya gini..." Ucap Roni yang pada akhirnya memberanikan diri untuk mengambil bajunya yang berserakan di jalan dan segera bangkit.

Namun, sebelum Roni sempat berdiri, Pandu kembali menendang pantatnya dan membuat lelaki tampan itu terjerembab kedepan.

"Mau kemana lu...?" Hardik Pandu yang segera mendekat kearah Roni dan kembali mempertunjukkan bukti otentik kepada Roni, "Buka lebar-lebar mata lu.. Karena wanita yang sehebat apapun... Pasti bakal nurut kalo udah kena pentungan kontol sakti gw...

" Sambung Pandu yang kemudian menunjukkan

kembali puluhan photo Mama Roni di pesan singkatnya.

"Nih.... Gw bakalan kasih unjuk... Photo-photo Mama lu pas mau gw entotin kemarin.. " Bisik Pandu lirih tepat ditelingan Roni, "Ini photo pas Mama lu masih di kamar tidurnya.."

"Ini pas Mama lu sarapan...

Lihat, ada lu juga tuh diseberang meja makan... Ini pas lagi mau mandi... Ini pas abis selesai mandi...

Lihat tuh handuknya sampe mau lepas gara-gara sibuk kirim photo seksi ke gw... Terus ini... Pas pake daleman seksi sebelum nerima gw dirumah... Beuhh. Lihat deh... behanya sampe ga muat nampung tetek besarnya... Gimana udah percaya khan...?"

"ITU BUKAN MAMA TARI.... BUKAN...! ITU BUKAN MAMA GW...!! " Teriak Roni lantang

"Dasar anak tolol...! Wanita secantik dan seseksi itu malah ga diakuin Mama sendiri...!!" Seru Pandu sambil mentoyor jidat Roni, "Jangan jadi anak durhaka lu, Monyettt... Lihat deh.. Lihat... Wanita seksi yang ada di hape gw tuh mama lu...!"

"Enggak...! Gak mungkin Mama berbuat seperti itu.!"

"Huuuhh... Masih aja nyangkal..." Lanjut Pandu yang kembali mempertunjukkan photo-photo selanjutnya yang lebih mencengangkan. "Lihat nih... Ini Mama lu udah bugil, tepat pas gw sampe didepan dirumah lu.. Bahkan serunya lagi, Mbok Dar, Yuk Min, Sama Pak Sapto sampe diminta ngejamu gw sesaat pas sebelum Mama lu ngajak ke kamar....!"

"Bilangnya sih, pipa kamar mandinya mampet... Padahal, Mama lu sendiri yang ngerusakin tuh pipa...

Terus minta gw buat njebolin liang memeknya... Hahahaha..." Tawa Pandu renyah,

"Ini pas Mama lu

udah telanjang bulat.. Ini pas nyepongin gw... Cantik banget ya mukanya... Trus... Ini photo ngangkang dan nunggu sodokan kontol gw... Lihat... Becek banget ya memek Mama lu..."

"BANGSAAAATTTTT.. !! ANJIIMMM LU....!!! " Emosi Roni mendadak berkobar melihat photo-photo seksi ibu kandungnya yang ada ditangan Pandu, " SEBENTAR LAGI... LU GW MATIIN BARENG PONAKAN LU YANG KAYA PEREEKK SIALAN ITU...!" Sambungnya yang untuk kesekian kalinya mencoba lagi merangsek kearah Pandu. Menyerang paman Lala itu secepat dan sebisanya. Menendang dan memukul dengan gerakan yang tak terkontrol dan membabi buta.

Namun, dengan telaten Pandu meladeni amukan Roni. la sama sekali tak membalas atau menangkis serangan Roni. Pandu hanya menghidar sambil terus merekam tingkah Roni dengan handphonenya.

Tertawa-tawa puas sambil terus meledek hingga pemuda tampan itu kehabisan tenaga. Karena semua serangan yang ia lancarkan tak mengenai musuhnya sama sekali.

"Hhhhh...Hhhhh...Hhhhh.... Bajingan sinting... Bisanya cuman ngehindar...!" Umpat Roni tak terima.

"Ssshhh... Hemat hemat nafasmu itu, Nyet... Karena gw mau kasih liat lu banyak hal..." Seru Pandu dengan nada yang penuh rasa puas.

"ni photo Mama lu pas gw entotin... Lihat, Mama lu cantik banget khan...? Dia tuh bener-bener kesepian loh, Nyet... Butuh banyak kasih sayang dari kontol-kontol lelaki diluaran sana..." Ucap Pandu terus memberikan fakta mengenai Mama Roni. "Lu pernah kepikiran gak sih...? Nyoba kasih perhatian ke

Mama Tari...?"

"Hehh..?" Heran Roni

"lya... Coba deh... Lu entot memek dia... Pasti dia bakalan seneng kalo kontol kecil lu itu bisa nyenengin memek dia..?" Ucap Pandu yang terus memberikan sedikit modifikasi pandangan, kepada Roni. "Enak tahu memek wanita kesepian seperti Mama lu... Wangi... Ga seperti memek cewek seusia lu yang kebanyakan pesing dan amis... Hahahaha.."

"Grrr..." Gigi Roni gemeretak karena tak sanggup lagi mendapat kenyataan dari kelakuan ibu kandungnya yang semok menggairahkan itu. Namun kali ini, ia tak mampu mengamuk, karena hal itu sama sekali tak berarti jika menghadapi Pandu. Walhasil, Roni hanya diam dan mengamati puluhan photo seksi ibu kandungnya itu.

"Masih kuat ga emosi lu buat nerima kenyataan dari kebinalan ibu kandungmu...?" Tanya Pandu yang

kali ini, membukakan sebuah video mesum dan mengencangkan volumenya.

Divideo itu, terlihat sebuah adegan persetubuhan yang benar-benar membuat kedua mata Roni terbelalak Disitu terlihat seorang wanita bertubuh gemuk, sedang telanjang dan merebahkan diri diatas

tempat tidur.

la terlihat sedang meremas payudaranya sendiri dengan kuat, sembari menariki putingnya yang berwarna coklat tua. Kedua kakinya terbentang lebar, dan membiarkan sebuah benda hitam panjang, masuk dan keluar di tengah-tengah selangkangannya dengan gerakan super cepat.

PLAK PLAK PLAK

"Ohhh Pandu... Enak sekali kontolmu, Sayang... Ngghhh... Sssshhh.... Sssshhh.... Oohhh.. Iya... Terus Sayang... Terusss... Sodok memekku dengan kontol besarmu...." Ucap suara wanita yang terus menerus melenguh kenikmatan.

Roni menatap tak percaya kearah Pandu. Berulangkali ia mengucek-kucek matanya dan kembali menatap kearah layar handphonenya.

"Gimana...? Wanita semok itu Mama lu...? Atau bukan...?" Tanya Pandu.

Secara reflek, Roni mengangguk.

Namun masih tetap tak percaya dengan kenyataan yang ditunjukkan Pandu kepadanya.

"Anjimmm... Mama ternyata bisa seseksi itu..." Seru Roni dalam hati sambil terus menatap tajam kearah layar handphone Pandu itu lekat-lekat.

bersambung


Posting Komentar

0 Komentar