pandu dan lala part 23

 




terakhir kali


"Aaadeeeek... GAAGGG.... GAAAGGGG... Stooopp... Mbak gak mau... Aaahhh... Nyepongin kontolmu ini.... GAAAAGGGG.... GAAAGGGG.. !!" Raung Winda saat mendapatkan perlakuan tak senonoh Pandu yang memaksakan mulutnya untuk dapat melahap seluruh batang panjangnya, "Htop Hekk...

Henhihaaannn...! Nanti heliahan ohang, Heeekk.... (Stop Dekk... Hentikaaannn...! Nanti keliatan orang,

Deeekk....)"

"Ayolah, Mbak.. Sebentar ajaaa... Biarkan aku melampiaskan kekesalan birahiku kepadamu..." Kesal Pandu yang terus saja memaksakan batang penisnya masuk kedalam mulut kakak kandungnya.

Menjejalkan seluruh kemaluan besarnya kedalam mulut Winda yang mungil.

HAAAPPP

"CLAKKK...CLAKKK...CLAKKK..."

Suara decak liur mulut Winda yang begitu berair, becek dan berisik, terdengar seperti sebuah lantunan musik yang mengalun indah di telinga Pandu. Membuat adik Winda itu seolah larut dalam ketenangan imajinasi mesumnya.

Beberapa kali, Winda sampai terbatuk-batuk saat batang penis Pandu berusaha masuk semakin dalam.

Namun hal itu sama sekali tak dipedulikan oleh adik kandungnya. Dimata Pandu, hanya ada rasa ingin membalas dendam semua perlakuan Winda yang telah membuat perasaannya tersiksa akhir-akhir ini.

"Ayo... Isep dalem-dalem kontolku, Mbak..." Erang Pandu terus menekan kepala Winda supaya bisa menelan seluruh batang kemaluannya.

"Gaagg hisa, Heeekkk... Hontolmu kegeheaaaann... (Gaakk bisa, Deeekkk... Kontolmu kegedeaaaann...)

" Sahut Winda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bisaaaa kok, Mbaaakkk... Kamunya aja yang kurang berusaha nelennya..." Celetuk Pandu yang lagi-

lagi menekan kepala Winda kebawah.

"HAAAKKK HAAAUUU...!!! (GAAAKKK MAAAUUU...!!I)" Teriak Winda yang memprotes perlakuan kasar kepada adiknya dengan cara mencakar kedua paha Pandu.

"Sssshh... Uuuuhhhh.... Sumpah... Aku jadi makin suka loh... Kalo kamu meronta-ronta seperti ini,

Mbak...Keliatan makin seksi...." Lenguh Pandu saat penisnya terus melesak masuk kedalam pangkal

leher kakaknya.

Kepala penisnya seperti dipijat lembut oleh dinding basah kerongkongan Winda

saat wanita hamil itu

mencoba memasukkan kepala penis adiknya lebih dalam.

"HUHAHH HEEEKKK... HULUT MHAK HAKIITTT.!!! (SUDAHH DEEEKKK. MULUT MBAK SAKIITTT...!!!) Seru Winda yang terus menggeleng sambil meronta-ronta minta dibebaskan.

"Makanya nurut....!" Balas Pandu yang kemudian

menaikkan pinggulnya keatas, untuk merojoh

kerongkongan Winda lebih dalam sebelum ia melepas kepala kakak kandungnya.

"PUAAAAHHH.. Uhuk uhuk uhuk...." Suara Winda melepeh penis Pandu cepat-cepat sambil terbatuk-batuk. "ANJIM kamu Dek.... Uhuk uhuk uhuk.... Berani-beraninya kamu maksa Mbak nyepongin kontol sialanmu....!" Sambung Winda yang menyeka lelehan liur di bibir dan dagunya.

"Kenapa, Mbak...? Kamu mau laporin aku ke suami gak bergunamu itu...?"

Winda terdiam. la hanya menyeka wajahnya dan merapikan penampilannya. "Udah-udah.. Buruan anter

Mbak sekarang...!" Pinta Winda dengan nada ketus.

"Eittsss... Puasin aku dulu..." Balas Pandu.

"NGGAK..!!"

"Hmmmm... Bener-bener kamu ya Mbak...." Ucap Pandu mendatarkan nada bicaranya, "Mbak tinggal pilih... Mau muasin kontolku dengan paksaan atau dengan sukarela...?"

"ADEK...!! Kamu kenapa sih...?" Hardik Winda meninggikan kalimatnya. Wajahnya menegang dan alisnya bertaut, "Sadar, Dek... Aku ini Mbakmu ...!!"

"Terus...? Memangnya kenapa..?" Jawab Pandu dengan nada sengit.

"Yaaaa kita ga seharusnya berbuat seperti ini... Apalagi ditempat umum begini..." Jelas Winda.

"Memangnya dari tadi Mbak lihat ada orang yang sadar dengan apa yang kita lakuin disini...?" Sahut Pandu dengan penuh percaya diri, "Kaca mobil kita gelap Mbak... Jadi aku yakin kita bisa bebas berbuat mesum disini..."

"Yaaaa... Tetap saja, Dek... Mbak gak suka dicabuli seperti ini... " Sungut Winda, "Memangnya kamu lupa ya Dek...? Kalo Mbak ini sekarang sudah menjadi istri orang...?"

"Enggak kok... Aku tahu kalo Mbak udah jadi istri Mas Ardi... " Sahut Pandu, "Tapi sayangnya, suamimu tak pernah ada untukmu...

"Dia sibuk..!" Balas Winda super ketus.

"Mana ada pengantin baru sibuk terus-terusan sih, Mbak..." Ledek Pandu, "Apalagi ngebiarin istri cantiknya yang sedang hamil mud ini periksa kehamilannya sendiri..."Sambung Pandu yang lagi-lagi menarik tangan Winda dan menggenggamkannya ke penisnya.

"Udah aaahh... Yuk kita jalan lagi... Mbak khawatir telat ini..." Tolak Winda yang buru-buru menarik tangannya dari kemaluan Pandu.

"Heeehh. Siniin dulu tangannya... Sayang banget kalo tangan semulus ini dibiarin nganggur..." Sahut Pandu yang kembali meraih tangan Winda dan kembali mengocok-kocokkan ke penisnya.

"Hhhhh.... Udah aaahhh... Mbak capek nih terus-terusan debat ama kamu... " Tolak Winda menepis penis adiknya.

"Makanya gausah debat mbak... Penuhi aja keinginanku... Maka semua akan terasa menyenangkan..."

"Semua yang dipaksakan, tak akan menjadi hal yang menyenangkan..."

"Makanya, lakuin aja dengan sepenuhhati, Mbak... Jangan sampe terpaksa..." Ucap Pandu tesenyum lebar dan kemudian kembali menarik kepala Winda mendekat kearah selangkangannya.

"Hhhh... Gak maauukk Adeeekk..!!" Tolak Winda bersikeras,

"Mas Ardi pasti bakalan heran kalo Mbak

sampe datengnya telat Dek.." Sambung Winda beralasan.

"Makanya.. cepetan Isep kontolku lagi Mbak... Biar Suamimu gak curiga..." Pinta Pandu terus memberikan arahan,

"Toh kamu gampang banget bikin aku keluar, Mbak.. Palingan isep isep isep udah..

Aku ngecrot beberapa menit kemudian..."

"Bener nih...? Cuman dalam berapa menit...?" Tanya Winda mulai gamang

"lya.. Janji... Apalagi kalo sambil ngeremes-remes tetek besarmu ini..." Seru Pandu yang tanpa ijin, langsung menjulurkan tangannya dan meremas kedua payudara besar kakak kandungnya.

"Aaaaahhh..Sssshhh Adeekk...." Lenguh Winda secara spontan karena yang tak mengira jika Pandu

akan mencabuli payudaranya.

"Looohhh..? Kok pentilmu udah keras gini Mbak...?" Heran Pandu yang kemudian memeriksa tonkolan daging mungil yang sudah mencuat di ujung tetek Winda,

"Ternyata... Kamu udah sange juga ya,

Mbak...? Hehehe..." Selidik adik kandung Winda itu sambil merogoh ke arah selangkangannya.

"Heeeehhh... Adeeek...!!!" Kaget Winda saat mendapati celah dressnya sudah dimasuki tangan Pandu.

"Buka dikit pahamu, Mbak..." Pinta Pandu sambil terus merogoh kearah celana dalam Winda

"Gak mau...!" Ucap Winda tegas, namun tetap membiarkan tangan adiknya menyelinap masuk ke tengah selangkangannya.

"Hmmmm... Kancut kamu udah lembab, Mbak... " Seru Pandu girang, "Kamu pasti menikmati juga aku cabulin seperti ini ya...?" Sambung Pandu yang kemudian menyelipkan telunjuknya kebalik celana dalam Winda.

"Heeeehhh.. Jangan masukin jarimu kememekku, Deekkk... !!"

"Hehehehe... Bilangnya jangan-jangan... Tapi ternyata memeknya udah becek nih yeeee.... "

"Gimana memek Mbak gak becek kali jarimu cabul gitu..!"

"Mbak suka khaaann...? Aku cabulin seperti ini..."

"Enggaaakkk.!!"

"Yaudah kalo gitu... Yuk isepin kontolku sampe keluar... Biar kita cepet sampe di tempat periksa dedek bayiku, Mbak..."

"Ini dedek bayi Mas Ardi...!" Ralat Winda.

"lya deh... Dedek bayi Mas Ardi yang merupakan hasil benih kejantananku... Hehehe..." Kekeh Pandu puas melihat wajah Winda yang semakin kesal kepadanya.

"Dasar Adek SINTING yang super cabul...!!" Ulang Winda meledek adiknya.

"Dasar

Mbak sange-an..." Balas Pandu sambil menuntun kepala Winda mendekat kearah

selangkangannya lagi.

Mendengar ledekan mesum Pandu, entah kenapa hati Winda berbunga-bunga. Meskipun hatinya kesal, akan tetapi pada akhirnya ia menuruti permintaan mesum adik kandungnya.

Winda seolah menyerah, pasrah dan tak bisa berkutik dengan kalimat serta perlakuan kasar Pandu.

Karena sekuat apapun

ia berdebat dan berusaha melawan, Pandu tetap saja tak memberinya

kesempatan untuk membela ataupun melepaskan diri.

Satu-satunya hal yang bisa Winda lakukan hanyalah berusaha membuat Pandu segera orgasme. Dan dengan begitu nafsu birahi adiknya itu sirna.

"Inget ya Dek... Ini terakhir kalinya Mbak mau nyepongin kontol sialanmu ini....

"lya Mbakku, Sayaaaannggg..."

Dengan tatapan kesal, Windapun akhirnya menggenggam penis Pandu. Mengamati sejenak daging keras yang tumbuh di selangkangan adik kandungnya itu, sambil membolak-baliknya pelan. Setelah itu, ia menurunkan kepalanya dan membuka mulutnya.

HAAAAPPP

Sekarang di mulut Winda, sudah terisi penis Pandu yang sudah ereksi penuh. Dengan lihai, Winda melumat kepala penis adiknya dengan sapuah lidahnya. Menyesap cairan bening yang sudah terus

merembes dari ujung penisnya dengan seksama. "Sluuurrpp..."

"Ooohhh.. Mbak Windakuuu..." Erang Pandu keenakan. "Oohhh... Enak bener sepongan istri orang..."

Winda mengusap mulut penis Pandu dengan ibu jarinya. Memberinya gerakan memutar sambil merasakan kedut kenikmatan kemaluan besar yang tak sanggup ia genggam dengan tangannya.

Dengan telaten, Winda menjilati kepala penis adiknya itu hingga ke buah zakarnya. Menggigit-gigit buah zakar yang bergelayut manja itu dengan bibirnya.

"Telen kontolku, Mbak... Aku pengen ngerasain jepitan mulutmu..." Erang Pandu yang kemudian menekan belakang kepala Winda.

Mendengar permintaan Pandu, Winda langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan berusaha memasukkan batang jumbo itu lebih dalam

"Aaahhh.. Iya begitu..." Erang Pandu keenakan saat merasakan denyut penisnya terlahap oleh mulut mungil kakak perempuannya.

"Sluurrpp.. Sluuurrppp...Sluuurrppp..." Suara decak mulut Winda yang juga merasakan denyutan penis Pandu di bibirnya. Mulutnya penuh namun terus berusaha menelan batang kemaluan yang jauh lebih besar daripada milik suaminya. Dan seiring gerak mulut dan lidahnya saat melahap kemaluan Pandu, entah kenapa Winda merasa ingin bisa melakukan hal cabul yang lebih jauh lagi.

Winda tiba-tiba ingin "membuktikan" jika dirinya bisa memasukkan seluruh penis panjang adiknya itu ke

dalam mulutnya. Meskipun saat ini ia sedang diberikan siksaan oleh Pandu, akan tetapi sebenarnya Winda yang memberikan siksaan imajinasi kepada adiknya.

"Rasakan pembalasanku, Adek sialan..!!" Batin Winda yang terus berusaha memasukkan sisa batang panjang dan keras milik Pandu itu ke dalam mulutnya. "Kamu gak akan bakal nemuin cewek yang bisa memuaskan kontolm ini sepertiku... Aku akan membuatmu semakin tergila-gila kepadaku...!!"

"Ooohhh.. Mbaaakkk... Kok mulutmu terasa enak sekali yaaa...?" Raung Pandu kelojotan karena merasakan jepitan serta denyutan pangkal lidah Winda. "Ssshhh... Rasanya begitu nikmat.....

"Sluurrpp... Sluuurrppp..Sluuurrppp..." Sahut Winda yang terus mempercepat hisapan serta gerakan kepalanya naik turun.

Semakin dalam Winda mencoba menelan penis Pandu, semakin belingsatan juga adik kandungnya itu merasa keenakan. Rasa nikmat yang diterima Pandu pada seluruh syaraf penisnya, benar-benar terasa baru dan belum pernah ia rasakan.

Oleh karenanya ketika Pandu merasa jika orgasmenya akan datang dalam waktu beberapa saat lagi, ia langsung menggerakkan kepala Winda naik turun dengan cepat. Menjadikan mulut sempit kakak perempuannya itu seperti sebuah lubang vagina baru yang enak untuk disetubuhi.

"CLAKKK...CLAKKK...CLAKKK..."

"GAAGG GAAGG GAAGGG..." Erang Winda pasrah saat adik kandungnya mulai menggunakan mulut

serta kerongkongannya sebagai sarana pelampiasan nafsunya. Winda berpikir, semakin cepat Pandu orgasme, itu akan menjadi semakin baik. Kakak Pandu itu juga membiarkan rambut panjangnya ditarik dan dijambak dan digunakan Pandu seperti tali kekang untuk mengontrol gerak naik turun kepalanya, dengan harapan supaya Pandu cepat keluar.

"CLAKKK...CLAKKK...CLAKKK..."

Suara liur Winda makin merembes tak karuan. Menetes dan mebasahi dagu serta paha Pandu. Berulang kali Winda juga tersedak dan batuk dengan kencang. Karena tak mengira jika adiknya yang sedang merasakan keenakan pada penisnya akan memperlakukannya sekasar ini.

Secara mendadak, Winda merasa kewalahan dengan cara bercinta Pandu. "Nnnghh... Hukup Hek...

Hukup.....! (Nnnghh... Cukup Dek... Cukup......)" Teriak Winda dengan mulut masih penuh tersumpal penis Pandu. Gadis cantik itu mulai meronta sambil mencoba menggelengkan kepalanya.

"CLAKKK...CLAKKK...CLAKKK..."

Namun sepertinya percuma, Pandu terus saja memaksa kepala Winda untuk terus naik turun diatas penisnya. Meskipun Winda beberapa kali menepuk-nepuk paha adiknya guna untuk menghentikan siksaan kasar penisnya, namun tetap saja Pandu malah semakin memperkuat jambakan di rambut kakaknya.

"AHЕЕEKKК... HTTOOPPP...!! (ADEEEKKK.. STTOOPPP...!!)" Raung Winda yang kali ini mencoba memukul serta mencakar paha Pandu dengan tujuan untuk memberitahukan kepada adiknya jika perlakuan kasarnya membuatnya tersiksa.

"Kenapa Mbak...?" Tanya Pandu yang sepertinya tersadar dan kemudian menarik lepas mulut Winda dari kemaluannya.

"PUUUAAAAHHHHH.... Hhhh..." Seru Winda sambil terengah-engah saat kerongkongannya terlepas dari sumbatan penis adik kandungnya. Mata melotot dan pipinya mulai memerah. la menyeka mulutnya yang penuh liur dan mengusapkan ke pahanya "Tega kamu, Dek... Hhhh...Hhhh.. Tega...!!"

"Hehehe.. Sepertinya kamu memang binal ya Mbak..." Celetuk Pandu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu memang seperti perek murahan yang pintar menggunakan mulutmu..."

"ANJIIMMMM... !! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu ke Mbakmu ini, Dek....!"

"Hehehe... Yuk isep kontolku lagi... Aku sebentar lagi keluar, Mbak... " Kekeh Pandu tersenyum lebar sambil menggiring kembali wajah Winda yang berantakan kearah kemaluannya. "Aku sayang kamu, Mbak... Aku sayang istri Mas Ardi ini..." Sambung Pandu yang seolah merasa bangga karena berhasil membuat kakak kandungnya yang cantik itu pasrah dan menerima segala perlakuan mesumnya.

"GAAAAGGGG... GAAAGGGG..... GAAAGGGG....."

Seperti sedang membalas dendam, Pandu terus memperlakukan Winda seperti layaknya seorang

pelacur. la hanya mengerang keenakan saat sedang meniduri mulut kakak perempuannya yang sedang

hamil muda itu.

"Ooohhhh.. Mulutmu memang nikmat, Mbak..." Erang Pandu sambil tersenyum puas. Tanpa menghiraukan tatapan tajam Winda serta setitik air mata yang terbentuk di sudut matanya.

Seperti kesurupan, Pandu terus saja menghentak-hentakkan kepala Winda pada batang penisnya.

Memaksa supaya mulut mungil kakak kandungnya itu bisa menelan seluruh kemaluannya. Dan anehnya, semakin Winda meronta, semakin bersemangat pula Pandu menyiksanya lebih jauh.

Pandu seolah tidak peduli. Bahkan, jika dilihat-lihat adik Winda itu menginginkan untuk bisa menyiksa kakak kandungnya itu lebih jauh.

"Telan kontolku, Mbaaakk..." Erang Pandu sambil mendengus.

"GAAAGGG GAAGGG Aaarrggghhhh... " Raung Winda yang protes namun tak sanggup mengeluarkan

sepatah katapun. la hanya bisa menjerit, menyipitkan matanya karena merasa kesakitan akibat sodokan penis adiknya.

"Hampun Heeekk.. Hampunnn... (Aampun Deeekk.. Aampunnn... )" Erang Winda memohon belas kasih dengan mata terpejam rapat. Air matanya yang menumpuk di sudut matanya pun menetes saat penis Pandu pada akhirnya bisa tertelan sepenuhnya.

"Ooohhhh.. Enaaaknya mulut sempitmu, Mbak... Sssshhhh... Bahkan... Lama-lama mulutmu bisa kaya memek..." Lenguh Pandu keenakan saat merasakan dinding kerongkongan Winda yang tegang dan sempit itu terus-menerus mengejang, saat mencoba mengeluarkan benda asing yang menyumbat jalur pernafasannya,

"Bisa ngejepit dan mijit-mijit kepala kontolku... Kalo gini caranya... Bentar lagi aku

ngecrot nih, Mbakk.... Oohhh... Mulut Mbak Windakuuu..."

Dan benar. Tak beberapa lama kemudian Pandu merasakan ada desakan panas yang menggulung dari pangkal penisnya. Melesat dan bergerak cepat keujung kemaluannya seiring denyut penisnya yang makin meningkat. Dan sesaat kemudian, Winda merasa semburan lahar kenikmatan yang sudah begitu ia nanti-nantikan memenuhi seluruh rongga mulutnya.

CROOOTTT CROOOTTT CROOOOCROOOTT CROOOTT CROOOTTTTT.

Tujuh denyutan hebat, terasa begitu nyata di mulut Winda. Disusul dengan semburan cairan anyir yang begitu kental nan licin, kedalam mulutnya.

Tanpa tersaring sedikitpun, benih kejantanan adik kandungnya itu langsung meluncur, masuk kedalam lambung dan berbaur dengan segala macam cairan diperutnya.

"Huuuooohhh... Mbaaaaakkk... ANNNJIIIMMM BANGEEETTT.... Sumpah... Enak banget jepitan kerongkonganmu, Mbak... Bikin kantung pejuhku langsung kosong seperti ini... Oooohhhh...

Ngentoottt...

" Raung Pandu keenakan karena sambil menahan kepala Winda dalam-dalam di

selangkangannya selama beberapa saat, kemudian melepasnya bebas.

"PUAAAAAHHH...." Lenguh Winda dengan nafas terengah-engah saat untuk kedua kalinya, penis jumbo

Pandu terlepas dari kerongkongannya. "ANJIM kamu Dek.. Kamu bener-bener Bajingan..!!"

"Hehehehe... Makasih ya Mbakku Sayang... Makasih..." Sahut Pandu sambil cengengesan. Seolah sama sekali tak mempedulikan emosi yang meluap di diri Winda.

"Sumpah... Kamu dan kontolmu ini bener-bener kelewatan Dek..." Rutuk Winda yang tiba-tiba meraih batang kemaluan serta biji peler adiknya yang perlahan melemas. Setelah itu, gadis cantik itu menariknya kuat-kuat, "Kalian berdua... Sudah membuat mulut dan kerongkongan Mbak sakit...!!!"

"Aaaawwwww.. Aawwwww... Sakit Mbak... Sakiittt..." Jerit Pandu yang langsung belingsatan karena tak mengira jika Winda akan membetot kemaluan beserta kantung semarnya sekuat itu.

"BODO AMAT....!" Seru Winda seolah membalas perlakuan kasar Pandu tadi. la tak mempedulikan

kesakitan yang adiknya rasakan.

"Aduuuhhh.. Ampun Mbak.. Ampunnn...!!" Raung Pandu yang tak mempu menghindar dari siksaan nikmat Winda, "Sakiiittt....

"Mau Mbak lepasin nggak kontolnya...?" Tanya Winda dengan nada super ketus.

"lya Mbak... Mau... " Jawab Pandu tanpa berpikir.

"Tapi kamu harus janji dulu..."

"Aduuh aduuhh.. Janji...?"

"lya... Janji... Kalo kamu gak akan minta Mbak ngelakuin hal mesum seperti tadi..." Dikte Winda dengan nada serius.

"Ngggg.... Aduuhh.... Berat banget janjinya Mbak...?" Keluh Pandu

"Heeehhh... Kalo kamu memang gak mau janji.... Biar Mbak tarik putus aja nih kontolmu... Biar ga ngisengin istri orang lagi..."

"Ngggghhhh.... Aduuuhhh... Aku ga bisa janji, Mbak...." Rintih Pandu dengan wajah memerah menahan rasa sakit, "Ngegodain istri orang sepertimu... Adalah satu-satunya hiburanku di dunia ini..."

"Bener nih...? Mbak bakal pecahin loh biji pelermu kalo kamu masih gak mau janji..." Ancam Winda lagi sambil memperkuat remasan tangannya.

"HEEEEGGGGGGHHHH..SSSSSHHHHH.. Pe... Pecahin aja, Bi... Biji pelerku, Mbak... Se.. Selama itu bisa mem... Membuatmu senang..." Erang Pandu menahan rasa sakit pada penisnya yang mulai membiru karena cengkraman tangan Winda yang benar-benar kuat.

"Yakin... Kamu mau biji pelermu ini Mbak pecahin...?" Geram Winda yang kali ini, mengerahkan dua tangannya untuk menarik penis beserta kedua kantung zakar Pandu kuat-kuat.

"lyaaaa.... Pe.. Pecahin aja, Mbak... Aku rela kok..."

"Kalo bijimu pecah... Kamu ga bakalan bisa punya anak lagi lohhh..."

"Khan aku... Ssshhh... Udah punya anak... Di.... Dirahimmu..." Lenguh Pandu disisa-sisa pertahanannya.

Mendengar kalimat Pandu, Winda pun makin memperkuat remasan tangannya. Ingin memberikan pelajaran kepada adiknya jika ia tak main-main dengan keputusannya. Namun, ketika Winda menarik penis Pandu menjauh, ia merasakan jika batang kemaluan adiknya yang berwarna biru keunguan itu tiba-tiba berdenyut hebat. Disusul oleh tubuh Pandu yang seketika bergetar hebat.

"Eeehhh...? Dek...? Kamu kenapa...?" Jerit Winda yang langsung panik saat melihat kaki Pandu mulai bergerak tak beraturan. "Dekk...? Kamu kenapa, Dekk..?"

"Ooooohhh... Mbaaaakkk..." Erang Pandu dengan tubuh mulai kejang, "Aku sayang kamu, Mbak..."

"Adek...! Jangan jangan becanda aahhh... Stop main-mainnya..." Panik Winda makin bingung

"Aaaahhh.. Ssshh... Aku... Aku ga main-main, Mbak... Ooohhh.. Aku... Cuman ngerasa... Kalo kontolku sakit banget..." Lenguh Pandu dengan suara makin lemas.

"Haaahh...? Maaf-maaf... " Kaget Winda yang tak sadar jika selama ini ia masih meremas dan menarik penis Pandu sekencang itu. Buru-buru, ia membebaskan penis adik kandungnya dari siksaan kedua tangannya, dan....

CROOOTIT CROOOTIT CROOOOCROOOTT CROOOTT CROOOTTTTT.

Penis Pandu secara dadakan, orgasme untuk kedua kalinya. Menyemburkan sisa benih kejantanannya kuat-kuat, kearah tangan, paha, dan perutnya. Bahkan tak sedikit cairan kenikmatan Pandu itu yang menyiprat ke wajah kakak kandungnya.

"AAAADEEEEKKKK...!!!!" Jerit Winda spontan, ketika merasakan lelehan sperma adik kandungnya meledak didepan wajahnya. "Kok bisa-bisanya kamu ngecrot ditengah-tengah siksaan yang Mbak kasih kepadamu...?"

"Oooohhh.. Aku juga nggak tahu, Mbak..."

"Dasar Adek mesuuummm....!!"

- - Akhir Kilas Balik - -

Bersambung,



Posting Komentar

0 Komentar