tak tertahankan
Setelah menikah, Winda dengan Ardi memutuskan untuk memisahkan diri dari keluarga inti. Mereka mencoba untuk mengurus sendiri segala kebutuhan rumah tangganya dengan cara tinggal dirumah sendiri. Mencoba untuk bisa hidup mandiri tanpa bantuan siapa-siapa.
Meskipun sudah tinggal sendiri, rumah yang Winda dan Ardi tempati pun tak dapat dibilang terpisah jauh.
Mereka masih tinggal di kota yang sama. Kecamatan yang sama. Bahkan komplek yang sama.
Bedanya, lokasi rumah baru kakak Pandu itu hanya berjarak sekitar beberapa ratus meter dari rumah keluarga Winda. Itupun, rumah tersebut adalah rumah yang sengaja dipersiapkan oleh orangtua Ardi, sebagai salah satu hadiah pernikahan mereka.
lya, salah satu hadiah pernikahan. Karena lainnya adalah, perabot rumah yang supercanggih dan modern. Motor matic. Mobil keluarga. Dan sepetak tanah yang sudah dibuatkan toko beserta gudang yang entah untuk apa nantinya.
"Nanti kamu bantu urus usaha Mbak ya, Dek..." Ucap Winda sambil tersenyum lebar ketika Pandu dan
Ibu kandungnya main kerumah barunya.
"Bantuin apa Mbak...?" tanya Pandu.
"Mbak lagi pengen bikin usaha konveksi..."
"Jahit menjahit...?" Ulang Pandu.
"Ya seperti itulah..." Sahut Winda lagi, "Nanti kamu Mbak buatin kamar dibelakang toko, biar bisa sekalian ngawasi gudang kita.."
"Laaaahh... Jadi nanti aku tinggal dirumah Mbak...?" Keluh Pandu.
"Hehehehe... Boleh khan Buuu...?" Balas Winda sambil terkekeh manja kearah Ibu kandungnya.
"Sebentar aja, Nduuu... Bantuin-lah Mbakmu sedikit-sedikit..." Sahut Ibu, "Kasihan...
"Kasihan apaan Bu...?" Rutuk Panduk, "Palingan Mbak Winda pengen ngerjain aku, Buuu..."
"Ngerjain apaaan...? Nggak kok... Mbak beneran butuh orang yang bener-bener bisa ngebantuin Mbak kok Deeekk..." Pinta Winda lagi.
"Ogah...!!"
"Hussshhh... Pandu....!! Gak boleh seperti itu,
Sayang..." Hardik Rahma, Ibu Pandu yang buru-buru
mengetuk dahi putranya pelan.
"Ayolah.. Bantuin Mbakmu sebentaran ini... Ntar kalo kehamilan
mbakmu sudah cukup kuat... Bolehlah kamu tinggalin Mbakmu lagi..."
"Hah...? Mbak Winda hamil...?" Kaget Pandu sambil menengok heran kearah kakak kandungnya.
"lya... Kenapa..?" Sergah Winda yang memasang wajah menantang.
"Kok tokcer banget, Mbak...?" Heran Pandu sambil melirik kearah perut kakak kandungnya yang masih belum terlihat membulat, "Belum juga sebulan nikah..."
"Hihihihi... Emang kenapa kalo Mbak hamil...? Itu artinya Mbak tuh tokcer, Dek... Bisa cepet kasih Ibu cucu..." Goda Winda sambil tersenyum lebar.
"Hmmm.. Gitu ya...?" Balas Pandu basa-basi
"Hehehe. lyalah... Makanya kamu tuh cepetan lulus, kerja yang bener... " Sindir Winda lagi. "Jangan kebanyakan halu aja dirumah..."
"Aku gak halu kok Mbak..." Balas Pandu lagi, "Aku banyak punya kesibukan..."
"lya... Sibuk ngegangguin Mbak mulu.... Sampe-sampe udah umur bangkotan gini kamu ga juga punya pacar, Dek... Hihihihi..."
"Ngapain punya pacar...? Toh aku udah punya Mbak Winda...?" Celetuk Pandu sambil tersenyum penuh arti.
"Huu... Ngarep nih yeee.... Kamu lupa ya...? Mbak khan sekarang punya Mas Ardi..." Sahut Winda sambil menjulurkan lidahnya.
"Ya gapapa lah... Aku bisa kok nunggu bekasannya Mas Ardi..." Jawab Pandu lagi enteng. "Kutunggu jandamu, Mbak..."
"Heeeeeeehhhh... Kok malah ndoain Mbakmu jadi janda sih, Nduuu.... !!" Hardik Rahma lagi sambil menjitak kepala putranya.
"Aduuhhh..." Teriak Pandu sambil berusaha menghindar pukulan tangan Ibunya.
"Hahahaha... Terus Bu... Terus jitak aja putra Ibu yang mesum ini... Hahahaha..." Tawa Winda puas melihat adik kandungnya dikerjain habis-habisan.
Beberapa bulan setelah mendengar kabar kehamilan Winda, tubuh kakak kandung Pandu itupun mulai terlihat perubahannya. Makin semok, buncit, cantik dan makin mempesona. Oleh karenanya banyak orang yang menebak-nebak jika anak pertama Winda adalah cewek.
"Dek.. Temenin Mbak pereksa yuk..." Pinta Winda ketika melihat Pandu baru saja pulang sekolah. la sama sekali tak memberi adik kandungnya jeda untuk beristirahat sama sekali.
"Memangnya... Mas Ardi kemana, Mbak...?" Ucap Pandu pelan. Setelah itu, ia menghempaskan diri keatas sofa. Sedikit melepas lelah sambil mencopot kedua sepatunya.
"Biasa... Mas Ardi sedang sibuk di kerjaannya..." Jawab Winda beralasan. la lalu bergerak kearah sandaran sofa dan mulai memijiti pundak adiknya.
"Emangnya kamu tuh istri siapa sih, Mbak...? Kok tiap kali pereksa, selalu ajak aku...?" Sindir Pandu sambil memonyongkan bibirnya, "Nganter istri sendiri aja kok sepertinya susah banget..."
"Ayolah, Dek... Nanti Mbak traktir bakso deeehhh..." Rajuk Winda sambil mempererat pijitan tangannya.
"Males ah Mbak.... Aku baru pulang sekolah, Capek... Pengen rebahan..." Tolak Pandu.
"Please Deeekk. Temenin Mbak yaaa..." Balas Winda yang kemudian memeluk kepala Pandu dari belakang. Membuat payudaranya yang makin besar karena kehamilannya, terasa bagai bantal awan yang begitu empuk dikepala Pandu.
"Meskipun kamu ngejepit kepalaku pake tetekmu... Hal itu ga bakalan mempan buat ngerubah keputusanku, Mbak..." Jelas Pandu, "Aku bener-bener capek... Pengen rebahan..."
"Bener nih... Tetek Mbak gabisa ngerubah keputusanmu...?" Goda Winda yang kali ini bener-bener melakukan apa yang baru saja Pandu ucapkan. Winda menempatkan kepala Pandu ditengah-tengah kedua payudaranya dan segera memeluknya erat. Membuat Pandu segera gelagepan karena perlakuan kakak kandungnya.
"Aaaakk.. Aaakk.. Ampun Mbak..." Seru Pandu sambil menepuk-tepuk tangan Winda yang melintang didepan tubuh dan mencekik lehernya.
"Anter Mbak yaaa..." Ucap Winda makin mempererat pelukannya.
"Aaaaakkkk...." Erang Pandu kesakitan yang berusaha mempertahankan keputusannya.
Namun, karena Pandu merasa jika penglihatannya mulai berkunang-kunang, oleh karenanya iapun
akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menuruti permintaan kakak kandungnya. "Aaakk...
Aaaakkhhh.. Iya deh lyaa... Aku bakalan temenin kamu pereksa, Mbak... Aaakkkhhh... Ampuunnn...."
"Hihihihi... Nah gitu dooongg..." Kekeh Winda merasa menang. "Yaudah, kalo gitu, kamu langsung ganti baju gih... Mbak tunggu di garasi yaaaa..."
BLAMMM
Suara pintu mobil tertutup rapat. Disusul dengan raungan suara mesin mengiringi laju mobil yang dikendarai oleh Pandu dan Winda. Sejenak keduanya terdiam. Hanya menatap kondisi jalanan yang mulai terang karena nyala lampu jalanan saat menjelang sore.
GUJLAK GUJLAK.
Beberapa kali, kendaraan yang ditumpangi Pandu dan Winda melewati jalanan rusak. Namun Pandu tak mengurangi kecepatan kendaraannya, sehingga membuat tubuh kedua kakak adik itu berguncang mengikuti hentakan suspensi mobil.
"Pelan-pelan Dek..." Ucap Winda membuka obrolan ketika untuk kesekian kalinya, Pandu tak menghiraukan gujlakan jalanan. Sehingga membuat Winda lagi-lagi harus memegangi dada dan perutnya yang membulat supaya tak terguncang terlalu keras.
"lya..." Jawab Pandu singkat. Sama sekali tak menghiraukan kondisi tubuh Winda yang bergoyang
kesana kemari
GUJLAK GUJLAK.
Lagi-lagi, Pandu terus melajukan kendaraannya tanpa mengurangi kecepatan. Sehingga membuat kendaraan yang mereka berdua naiki, terguncang dengan hebat. Begitupun Winda yang secara tak
langsung juga merasakan kesakitan pada tubuhnya.
"ADEK..!" Kesal Winda yang akhirnya harus memberikan teguran mengenai cara berkendara Pandu
yang agak sembrono. "Kamu mau ngebunuh kita bertiga...?"
"Bertiga...?" Tanya Pandu bingung.
"lya... Kamu lupa, diperut Mbak ada keponakanmu...?!" Celetuk Winda sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat makin membuncit.
"Hhhhhhh...." Pandu menghela nafas,
"lye iyeeee.." Sambungnya yang kemudian mengurangi
kecepatan mobilnya. Meminggirkan ketepi jalan. Kemudian menatap kearah kakak kandungnya dengan penuh rasa kecewa.
"Kamu kenapa sih...? Dari tadi Mbak lihat kaya orang mabok aja..." Tegur Winda lagi dengan nada sewot, "Bisa enakan gak sih cara nyetirnya...? Kaya baru pertama kali nyetir mobil aja...!"
"Aku ngantuk, Mbak...!!" Jawab pandu tak kalah sewotnya, "Anter jemput kamu kaya gini khan harusnya tanggung jawab suamimu, Mbak... Bukan aku.! Dan kalo Mbak ga suka dengan cara nyetir aku...
Yaudah, sewa taksi online aja.... Biar aku pulang... Aku pengen istirahat...!!"
Winda menatap tajam kearah Pandu yang sangat terlihat begitu emosi kepadanya. Memang, Winda yang salah. Tak seharusnya ia memaksa
semata wayangnya ini untuk menuruti permintaan
jemputnya. Akan tetapi, Winda juga tak mungkin mengganggu waktu kerja suaminya untuk mengurusi hal sepele seperti ini.
"Hhhhhhh... Kamu marah sama Mbak...?" Tanya Winda yang sekuat tenaga mencoba menurunkan emosi dalam dirinya.
"Gimana nggak marah...? Aku baru pulang seko....."
"Sssssshhhh.... lya... Mbak salah.... Mbak minta maaf ya..." Sebelum Pandu menyelesaikan kalimatnya, Winda menunjuk bibir Pandu dengan telunjuknya. Membuat adik kandungnya itu tak jadi meneruskan semua omelannya
"Beneran deh, Mba... Aku sepertinya ga bisa terus berada didekatmu..." Jelas Pandu sambil terus menyetir dan menatap tipis-tipis kearah Winda.
"Kenapa...?"
"Aku nggak kuat, Mbak... Aku ga tahan..." Jelas Pandu lagi, "Kamu ga tahu sih... Gimana rasanya melihat wanita yang aku cintai, hidup bersama lelaki lain..."
"Hhhhh.. Mulai lagi deh..." Celetuk Winda yang sudah bosan dengan kalimat-kalimat template Pandu mengenai perasaannya. "İya Dek... Mbak paham dengan hal itu... Cuman mau gimana lagi...? Mbak sekarang sudah menikah... Sudah menjadi istri orang... Jadi nggak mungkin dong... Kita menjalin
hubungan seperti dulu lagi... Mbak gak mau mengkhianati hubungan Mbak dengan Mas Ardi..."
"Yang minta mengkhianati hubunganmu siapa Mbak...? Kita tak harus mengkhanati hubungan pernikahanmu kok... Toh suamimu juga tahu tentang hubungan kita berdua... Kita masih bisa kemana-mana berdua, ngapa-ngapain berdua, dan ngelakuin banyak hal tanpa harus khawatir dengan kehadiran suamimu..." Cerocos Pandu tanpa henti. "Apalagi... Setiap kali ngelihatmu bersama suamimu.. Membuat perasaanku makin hancur berantakan.."
"Segitunya, Dek...?" Tanya Winda
"Asal kamu tahu... Iya, Mbak...." Balas Pandu cepat, "Sekarang... Kamu membuat perasaanku menjadi semakin tak karu-karuan... Melihat Ardi sialan itu saat memelukmu, mengusap perutmu, mencium bibirmu... Membuat emosiku meledak-ledak..."
"Apalagi saat aku mendengar semua kehebohanmu setiap kamu dan suamimu sedang ngentot... ku
Membuat pikiranku melayang-layang tak tentu arah... Bisa-bisanya dia mengambil kenikmatan dari dirimu, tapi orang yang mengurusi segala kebutuhanmu adalah aku..." Jelas Pandu tanpa henti, "Oleh karenanya setiap kali melihat wajah suamimu... Ingin sekali aku menghajar lelaki yang sama sekali tak mempedulikanmu itu... la tak pantas menjadi suamimu, Mbak...
"Karena harusnya yang ada disisimu, itu aku... Bukan Ardi sialan itu... Dan lagi, kenapa selama ini aku merelakan waktuku untuk selalu bisa menjagamu...? Itu karena aku yakin, janin yang ada di perutmu adalah hasil dari buah cintaku... Hasil dari kehebatan kontol dan kesuburan benihku ini... "Kesal Pandu semakin menjadi-jadi, "Keponakan di rahimmu...Bukan hasil jerih payah suamimu...
Winda tak menjawab. la hanya terdiam sambil terus menatap tajam kearah adik kandungnya.
"Aaahh.. kamu ngerti nggak sih Mbak dengan apa yang kukatakan barusan...?" Tanya Pandu dengan
nada yang tinggi
"Mbak ngerti, Dek... Mbak tahu..."
"Kamu juga ngerti nggak...? Kalo dengan adanya kamu didekatku kamu selalu membuat nafsuku meledak-ledak...! Kamu selalu membuatku sange... Selalu membuatku ingin mengulang kejadian
kemarin... Aku cinta kamu, Mbak... Aku cinta Winda, kakak kandung tercantikku.."
"Hihihihi...Kamu lucu, Dek..." Sahut Winda yang tiba-tiba tertawa mendengar penjelasan Pandu.
"Kok lucu Mbak..?"
"lya... Kamu masih aja lucu kalo sedang kesal ataupun emosi..."
"Aku serius, Mbak... Aku tak sedang berusaha melucu..." Seru Pandu yang makin emosi ketika melihat
Winda tak meladeni kekesalannya.
Karena penjelasannya tak membuat Winda sadar dengan apa yang Pandu rasakan, segera saja Pandu menurunkan celana dalamnya. Kemudian memperlihatkan kemaluannya yang sudah benar-benar
mengeras kehadapan kakak kandungnya.
"Assstaagaaaa..." Kaget Winda sambil menutup mulutnya ketika melihat batang penis adik kandungnya
sudah menjulang tinggi di dekatnya. Buru-buru ia celingak-celinguk melihat kondisi di sekitar kendaraannya. "Kok kamu bisa ngaceng gitu sih, Dek...? Emang kamu lagi mikirin apaan..?"
"Khan aku udah bilang, Mbak... Aku ga bisa terus-terusan deket kamu..."
"Serius Dek...? Segitunya kamu cinta ke Mbak...?"
"Emang harus selalu aku ceritain ya Mbak...? Gimana perasaanku ke kamu...?" Cibir Pandu menyadari kepolosan kakak kandungnya, "Ya gini... Aku selalu ga bisa nahan birahiku ketika ngelihat kamu, Mbak...
Kontolku akan bakalan selalu ngaceng kalo ada di deketmu.. Terlebih sekarang badanmu makin montok... Tetetmu makin besar... Dan pantatmu makin bulet..."
"Aku yakin... Memekmu juga pasti makin lembut dan empuk untuk dientotin..."Seru Pandu yang dengan santainya, meraba selangkangan Winda.
Mendengar kalimat vulgar Pandu, Winda pun terdiam. Menatap bingung kearah wajah Pandu dan
penisnya yang sudah menjulang dan berkedut dengan keras itu. Melihat kebingungan di wajah winda, pandu buru-buru mengamit tangan kakak kandungnya dan mengarahkan kearah selangkangannya.
"Eehhh.. Kamu mau apa, Dek...?" Kaget Winda yang lagi-lagi celingukan kearah sekitar. Semula, Winda menolak tarikan tangan adiknya. Namun karena Pandu terus bersikeras untuk membuat tangan kakak kandungnya menyentuh kearah kemaluannya, akhirnya gadis yang sedang hamil muda itu menuruti permintaan adik semata wayangnya.
"Bantu aku nidurin kontolku, Mbak... " Pinta Pandu yang dengan percaya dirinya, mulai menggerakkan tangan winda naik turun di sepanjang batang penisnya.
"Kenapa, Dek...?" Sahut Winda lirih.
"lya... Bantu aku ngeluarin pejuhku, Mbak... " Pinta pandu lagi, "Dengan begitu, aku bisa tenang ketika berada disampingmu...
"Mbak ga bisa... " Ucap Winda yang tiba-tiba menarik tangannya.
"Ayolah Mbak..." Sahut Pandu yang dengan sigap kembali menangkap tangan Winda dan kembali
mengarahkan kearah penisnya.
"Ngggg... Kamu khan dengar sendiri ucapan Mbak kemaren, Dek... Pada saat... Ngggg.... " Sambung Winda lagi dengan nada penuh keraguan untuk melanjutkan kalimatnya.
"Pada
saat ngentot...?" Tembak Pandu sambil meminta Winda menggerakkan tangannya untuk mulai
mengocok batang penisnya.
Winda tak menjawab. la hanya mengangguk pelan sambil menatap nanar kearah penis Pandu yang
sedang ia naik turunkan dalam balutan jemari tangannya.
SREK SREK SREK
Suara gesekan tangan Winda dengan ban pinggang celana Pandu.
Karena merasa agak terganggu, Pandu pun kemudian melepas seluruh celana pendeknya, hingga terlepas dari tubuhnya.
"Udah ya Dek..." Pinta Winda yang lagi-lagi menarik tangannya dari penis Pandu.
"Tangan wanita yang sudah menikah tuh rasanya emang beda ya, Mbak...?" Sahut Pandu yang untuk kesekian kalinya, menangkap tangan kakak kandungnya dan kembali menyuruh untuk mengocok batang penisnya. "Lebih lembut... Enak dan seksi..."
Winda tak membalas. la hanya diam sambil membiarkan jemari lentiknya bermain naik turun di sekujur
batang penis adik kandungnya. "Sssshhh.. Tanganmu enak banget, Mbak..."
"Nggggg... udah ah Dek..." Lenguh Winda mencoba menarik tangannya lagi, namun sia-sia. Pandu tak membiarkan jemari tangan kakaknya terlepas begitu saja.
"Aku tahu. Kamu juga menginginkan hal ini, Mbak...?" Celetuk Pandu, "Aku yakin... Kamu juga menginginkan kemesuman diantara kita tak hilang begitu saja..."
"Nngg.. Enggak..." Winda menggelengkan kepalanya. Seolah berusaha menyangkal suara hatinya.
"Ayolah, akuin aja Mbak... Kamu suka dengan hal cabul yang kita lakukan bersama..."
"Ihhhsss Panduuu.. Hentikan, aaahhh..." Erang Winda yang dengan sedikit memaksa, menarik tangannya dari penis Pandu, "Beneran... Mbak sudah janji pada diri Mbak sendiri..."
"Janji yang mana, Mbak...?"
"Mbak... Ngggg... " Jeda Winda sambil menatap tipis-tipis kearah penis Pandu yang berdenyut-denyut saking penuhnya dengan darah birahi. "Dengan berat hati... Mbak harus bisa menghentikan keinginan untuk melakukan hal-hal mesum seperti ini denganmu...."
"Keinginan untuk melakukan hal-hal mesum seperti ini denganku...?" Senyum Pandu tiba-tiba melebar,
"Berarti bener khan, Mbak... ? Kalo kamu bilang ingin... Berarti kamu juga ada hasrat untuk berbuat cabul bersamaku..?"
"Bukan... Bukan begitu maksud, Mbak..."
"Aaahh... Kamu egois, Mbak..." Ucap Pandu yang kali ini mengucapkannya dengan nada datar. Penuh dengan kekecewaan, "Mentang-mentang sekarang kamu sudah punya suami... Dengan mudahnya kamu berkata seperti itu...
"Justru itu alasan utamanya, Dek..."
"Tapi kalo kamu memang punya alasan berhenti berbuat mesum kepadaku... Kenapa kamu masih terus-
terusan menggodaku siang dan malam...?"
"Menggoda...? Menggoda gimana maksudmu...?" Kaget Winda.
"Ya seperti yang sekarang kamu lakukan.."
"Sumpah deh, dek.. Mbak nggak ngerti..."
"Kamu tahu nggak sih Mbak...? Selama ini kamu menggodaku dengan kecantikanmu...!" Seru Pandu yang membuat wajah Winda langsung merah tersipu. "Kamu menggoda dengan tawamu... Dengan senyummu... Dengan wangi tubuhmu... Semua yang kamu lakukan, selalu membuatku tergoda... Kamu selalu membuat birahiku membara...
"Astaga Adeeekk... Mbak tuh ga punya maksud seperti itu..."
"Sudahlah, Mbak... Jikapun memang kamu tak mau lagi meladeni kemesumanku.... Paling tidak kasih tahu aku, Mbak..".
"Kasih tahu apa...?"
"lya... Kasih tahu aku.. Gimana caranya supaya aku bisa cepat meredakan birahi didadaku... Yang selalu makin membara ketika berada didekatmu... " Dengan cepat, Pandu segera meraih tengkuk Winda, dan mengarahkan wajah kakak kandungnya kearah selangkangannya.
"Ehh.. Dek...? Apa yang mau kamu lakukan...?" Kaget Winda yang sama sekali tak diberikan kesempatan untuk melepaskan diri, "Jangan dek... Jangan...'
"Sebentar aja ya, Mbak... " Ucap Pandu yang sudah gelap mata sambil terus memaksa wajah Winda kearah penisnya.
"Lepasin Mbak, Dek...! Ihhhsss... Lepasin...!!" Erang Winda mencoba menyingkirkan tangan Pandu dari tengkuknya dengan sekuat tenaga.
"Sssshhhh... Ayolah Mbak cantikku.... Bantu aku meredakan birahiku...." Seru Pandu tanpa mempedulikan rontaan tangan Winda. Adik Winda itupun bahkan menjepit hidung kakaknya hingga membuat nafasnya mulai sesak dan kehabisan nafas.
"Add... Deeeekkkk..... Aaaaahhhhh..."
Dan ketika mulutnya sedikit terbuka.
GAAAAGGGG.
Pandu lansung mendorongkan ujung batang penisnya yang sudah keras kedalam mulut Winda. Tanpa nempedulikan deretan gigi putih kakakknya yang masih sedikit terkatup.
Sekuat tenaga, Pandu melesakkan bonggol kemaluannya. Menyumpal mulut mungil kakakknya sambil terus menekan-nekan belakang kepalanya kebawah.
Memaksakan seluruh batang penisnya masuk kedalam mulut Winda yang mulai berliur basah.
- - Akhir Kilas Balik - -
Bersambung,
0 Komentar