kejujuran
Tak ingin mensia-siakan waktu, Pandu segera mengecup bibir Winda sambil memposisikan batang penisnya yang sudah berdenyut hebat itu di depan celah kemaluan Winda.
"Aku bener-bener sayang kamu, Mbak..." Lenguh Pandu yang kemudian memagut bibir Winda sembari menepuk-tepukkan kepala kemaluannya yang sudah berdenyut hebat itu berulang kali ke liang peranakan kakak kandungnya. "Aku cinta kamu..."
PUK PUK PUK
Suara tepukan batang penis Pandu di beceknya celah vagina Winda.
Melihat Pandu yang begitu bersemangat, membuat Winda tersenyum lebar. Winda tak mengira jika hari dimana ia harus memberikan kesempatan kepada Pandu untuk dapat menikmati jepitan vaginanya akan segera tiba. Bertepatan dengan hari dimana ia akan mengucap janji sehidup semati bersama lelaki lain.
"Ohhh Pandu... Ayo sodok memek Mbakmu ini, Dek..." Lenguh Winda sambil tersenyum.
"Mbak...?" Tanya Pandu pelan.
"Ya Dek...?" Sahut WInda
"Apa... kita lakukan ini benar...?" Ucap Pandu yang tiba-tiba mencari tahu jawaban dari yang seharusnya
tak ia tanyakan..."
"Maksudmu..?"
"lya... Apakah apa yang akan kita lakukan ini akan merubah pandanganmu kepadaku...?" Sambung Pandu ketika ujung penisnya sudah berada diujung celah selangkangan Winda.
"Hmmm... Menurutmu...?" Tanya Winda yang juga sudah menunggingkan pantatnya. Bersiap-siap menerima sodokan penis adik kandungnya.
"Entahlah... Aku tak mampu menjawab..." Bisik Pandu lirih.
Melihat kebingungan Pandu, Winda hanya tersenyum. Lebar dan tenang. Seolah ingin memberikan kenyamanan kedalam hati adik kandungnya.
"Bukannya... Ini yang kamu inginkan, Dek...?"
"lya sih... Hanya saja... Nnggg.... Aku yakin, setelah ini... Kamu akan melihatku dengan pandangan yang berbeda, Mbak..."
"Berbeda gimana...?" Tanya Winda
"Ya beda aja...
"Sahut Pandu,
"Memang sih... Sekarang aku bisa mendapatkan kenikmatan lubang
memekmu... Tapi sepertinya percuma... Karena aku masih belum bisa mendapatkan dirimu..."
"liihhhssss.... Kok kamu berkata seperti itu sih..?" Rajuk Winda
"Yaaa.. Karena memang seperti itu kenyataannya, Mba... " Jelas Rama, "Tapi.... Terimakasih banyak ya
Mbakk... Bersamamu, aku bisa mendapat banyak cerita dan kesenangan..."
Winda mengangguk. Tersenyum lebar dan mengusap dahi adiknya. Setelah itu, ia membuka lebar kedua pahanya dan menarik tubuh Rama mendekat, "Sekarang... Buruan entot memek Mbakmu ini Dek...
Waktu kita tak banyak..."
"lya.. Mbak..." Dengan sigap, Pandu langsung memajukan penisnya. Mengarahkan kepala kemaluannya pada lubangkemaluan Winda yang sudah berair. Dan dengan satu tusukan panjang, Pandu menjejalkan batang kejantanannya membelah liang senggama Winda.
CLLEEEEEEPPPP
"Hhhh.. Uuuuuhhhh...Sssshhhhhh...." Seru Winda sambil menggigit bibir bawahnya. Alisnya sedikit naik, namun masih menatap tajam kearah selangkangannya, "Oooohhhh... SsssshhhHhhh....."
"Kenapa Mbak..?" Heran Pandu
"Pelan-pelan Sayangghhhh...... Ooohhh.... Punyamu besarrr bangettthhhh....."
Pandu tersenyum mendengar lenguhan kakak kandungnya. la lalu ia memegang satu lutut Winda, dan
setangah tarikan
batang penisnya. Setelah hampir keluar seluruhnya, Pandu kembali
mendorong batang kemaluannya maju. Membelah kemaluan Winda lebih dalam lagi.
CLLLEEEEEEPPPPPPP
"Uuuuhhhh..... Ssshhhh Pandu.... Aaawwhhhhh Sayaaaanggghhhh...... Kontolmu.... Sshh... Penuhhhhh bangettttt...
" Erang Winda yang lagi-lagi mengggit bibirnya dan mulai menggeleng-gelengkan
kepalanya pelan.
Lagi-lagi, Pandu menarik penisnya keluar, dan melesakkan lagi lebih dalam. Berulangkali, Pandu memperlakukan persetubuhan pertamanya seperti itu. Melesakkan penisnya sedikit demi sedikit, sambil menggaruk lubang kemaluan Winda pelan.
CLLLEEEEEEPPPPPPP
"Aaaaaahhhhh, Deeekkk... Cepetin sodokan kontolmu.... OOOHHH ANJIIIMMMM.... Aaaakkhhhh....
Mbak mau... Ssshhh... Oooohhhh.... Mbak mau keluar...."
"Secepet itu, Mbak...?" Kaget Pandu mendengar lenguhan Winda.
Namun, meskipun Pandu ingin ikut meledakkan orgasme penisnya bersama Winda, ia harus dapat menahan diri sekuat tenaga. Oleh karenanya ia sengaja memelankan tusukan penisnya. Selain karena ia tak ingin cepat-cepat orgasme, Pandu juga tak ingin mendapat malu karena dianggap tak mampu memuaskan wanita.
Terlebih, Pandu sadar jika ini adalah pertama kalinya ia merasakan penis wanita. Pandu juga paham jika lubang kemaluan yang sedang ia setubuhi saat itu adalah liang senggama milik wanita yang jauh lebih mahir bersetubuh ketimbang dirinya. Maka dari itu, ketika ia mendengar Winda melenguh disaat-saat dirinya hendak orgasme, membuat Pandu semakin percaya diri.
CLLLEEEEEEEEEEEEPPPPPPP
"AAAAHHHHH..... ANJIMMMMMM... OOhhhhhh... Panduuนนนน... Ohhhhh... Mbak beneran keluar
nih... Deeeekkk... MBAK KELUAAARRRR...... Aaaakkkhhh...." " Lenguh Winda dengan tubuh yang mulai bergetar. Mengejang dengan geliat tubuh yang makin meliar.
CREEETTTT CREEETTTT CREEECRREETT CREEETTTT CREEETTTT
GILAAA...!!!
Pandu takjub dengan apa yang terjadi pada diri Winda. Kakak kandungnya itu bisa orgasme meskipun batang penisnya belum masuk seluruhnya. Terlebih, saat itu penis Pandu juga baru masuk setengah.
Dan belum sempat mengaduk-aduk liang kemaluan Winda dengan maksimal.
NYUUTTT NYUUTTT NYUUTTT
Kedut vagina Winda memijat kuat penis Pandu kuat-kuat.
"Oooohhh.. Mbaaakk.. Pijatan memekmu juara..." Seru Pandu saat menikmati remasan otot dinding vagina Winda yang mencengkram kemaluannya.
"Aahhh.... Emang iya...?"
"Beneran... Kenceng banget ini mijitnyaa..." Seru Pandu sambil mengusap gundukan vagina Winda yang gundul
"Hhhh.... Bisa aja kamu, Dek..." Lenguh Winda menatap sayu.
"Serius Mbak... Memek kamu ga seperti memek wanita lainnya..." Gombal Pandu.
"Memangnya, Hhh... Hhh... Hhh... sudah berapa memek yang sudah kamu rasain, Dek...?" Selidik
Winda sambil mengatur nafasnya.
Mendengar pertanyaan Winda, Pandu hanya tersenyum lebar.
"Heeeehhhh... Malas nyengir...." Celetuk Winda, "Jawab dulu dek..." Pintanya lagi sembari mencubit pinggang pandu kencang-kencang.
"Aaawww.... Aduh aduh...!!!" Teriak Pandu kesakitan sambil tertawa, "Ampun Mbaaakk Ampuunn."
"Makanya.... Jawab dulu...! Udah berapa memek yang pernah kamu entotin...?"
"Uuuhhh.. Sakit tahu....!" Keluh Pandu sambil mengusap perutnya yang memerah.
"Bodo...." Jawab Winda cuek, "Kalo gak buruan jawab malah aku bakalan cubit sampe sobek loh..." Hehehehe sadis amat Mbakkk..." Sahut Pandu sambil cengengesan, "Coba aja deh Mbak tebak...
"Hmmmmm...." Guman Winda yang kemudian mengaitkan alisnya. Seolah berpikir keras. "Kalo ngelihat dari jam terbang dan goyangan pinggangmu... Kira-kira... Ada.... Hmmmm... Dua Memek...!!"
"Ehhh? Dua...?" Sahut Pandu, "Emang Mbak tahu dari mana...?"
"Ya nebak-nebak aja....
" Celetuk Winda, "Satu adalah wanita yang sedang ada dihadapanmu ini..."
"Lalu....? Satu lagi siapa...?" Tanya Pandu penasaran.
"Ibu."
AAAH SIALLL.
Celetuk Pandu kaget dengan tebakan Winda yang begitu tepat.
"Hahahahaha... Bener ya tebakan aku...?" Tawa Winda lantang sambil memegangi perut rampingnya.
Tubuhnya juga bergoyang karena gerakan tertawanya.
"Auk aahhh... Udah udah... Sekarang giliranku, ya Mbak..." Kesal Pandu sambil mulai menggerakkan pinggulnya. Menarik dan melesakkan penisnya yang masih setengah terbenam, maju mundur kedalam vagina Winda.
"Eehhh... Bentar-bentar, Deekkk... Pelan-pelan... Memek Mbak masih ngilu... Nggghhhh....." Racau
Winda mencoba menahan gerakan pinggul Pandu.
"Daripada aku diledekin mulu..." Seru Pandu yang makin menancapkan penisnya lebih dalam dengan
gerakan superpelan.
"Nggggh.. Adeekk....Ssshhh... " Desah Winda yang merasa ngilu vaginanya perlahan sirna. Tergantikan oleh gelitik nikmat vaginanya yang gatal. Yang ingin digaruk oleh kemaluan adik kandungnya yang begitu besar, "lyaahh.. Uhhhh.. Terus Dek... lya... Entot memek Mbak lagi... Uuhhhh... "
PLAK PLAK PLAK
Perlahan tapi pasti, penis panjang Pandu itu makin lama makin masuk lebih dalam. Hingga tak lama kemudian, vagina Winda mampu melahap seluruh batang kemaluan adiknya. Masuk kedalam liang peranakan Winda. Menyisakan dua kantung zakar yang masih tertinggal di luar bibir kenikmatannya
PLAAAAKKK.
"Uuuhh.. Mentok Mbak..." Seru Pandu saat merasakan kepala penisnya menabrak sesuatu.
"Yaudah, sekarang entot yang kenceng..." Pinta Winda.
"Gak mau. Aku maunya pelan aja, mbak...." Jawab Pandu sedikit menggoda
"Ssshhh... Ayo Adekku Sayanggghh......Cepetan, Dek... Memek Mbak udah gatelll bangeett iinihh....
Oooohhhhhh..." Raung Winda makin tak sabaran.
"Uhhh... Sekarang Adek... Ayoo... Hhhh.... Sekarang...Cepet ENTOT memekkuuuu...!!" Tiba-tiba Winda menggoyang-goyangkan pinggulnya sendiri. Sepertinya, nafsu birahi kakak Pandu itu sudah kembali mengisi relung hatinya. Dan karena merasa tak mendapat pelampiasan dari Pandu, la pun menggila.
Dijambaknya rambut Pandu kuat-kuat dengan mata yang melotot. Setelah itu ia berbisik pelan dengan suara yang menggeram gemas.
"Goyangin kontolmu sekarang Adeeeekkk.... Entot memek Mbak sekaraaannggg..!!!"
wwwooowww
Sepertinya, Pandu telah membangkitkan amarah birahi Winda yang tak pernah ia lihat selama ini. Karena seiring goyangan pinggang dan penisnya, Pandu melihat jika perlakuan kakan kandungnya itu mulai beringas.
PLAAAAK
Ditamparnya payudara Winda kencang-kencang, kemudian diremasnya kedua bulatan tetek kakak kandungnya dengan kasar.
"Okeee... Aku bakalan entot memekkmu keras-keras, Mbak..." Seru Pandu yang kemudian mulai
menggerakkan pinggulnya dengan kecepatan tinggi
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
"Aaaakkhhhh.......Ooohhhhh...." Pandu
segera
mengayunkan pantatnya maju mundur. Menghajar
kemaluan Winda yang begitu becek dengan sekuat tenaga.
"Aaaahhhh.. Panduuuu.. Aaahhh...Aaahhh...Aaaaaaaahhh..." Erang Winda seolah tak mampu lagi menahan kekencangan suaranya. Nafasnya mendengus, dan keringatnya mulai bermunculan.
Tubuhnya terombang ambing, dan tak mampu menahan goyang payudaranya yang kesana kemari.
HIngga tak lama kemudian,
Winda kembali orgasme untuk kesekian kalinya. Menjerit sambil
mencengkram erat pantat Pandu yang tak henti-hentinya memacu kemaluannya di lubang sempit yang
ada di tengah selangkangan kakak kandungnya.
"Uuhhhh...Pandduu... Oohhhh... ANJIIIIMMM.. Kontolmu ngebuat... Ohhh... Mbak keluar lagi...
Deekk... Ohhhh.. Ngentooott... " Raung Winda bersamaan dengan semburan lendir yang membasahi paha depan dan perut bawah adiknya.
CREEETTTT CREEETTTT
"Hhiyaaahhh... Hiyaaahhh.. Aaaahhh.. Pandนนนนน.."
CREEECRREETT CREEETTTT CREEETTIT
Lebih dari 5 menit, Pandu mendiamkan tubuh kakakknya yang masih telentang tak berdaya diatas sofa yang ada diruang rias itu. Mendiamkan penisnya didalam liang senggama Winda sembari merasakan rembesan yang hangat serta licin yang tak henti-hentinya keluar dari dalam sana.
Karena orgasmenya yang beruntun, membuat penampilan Winda sudah benar-benar berantakan.
Rambutnya acak-acakan, karena basah oleh keringat. Dasaran makeupnya belepotan akibat ciuman ganas kami berdua. Dan kulitnya dingin, karena basah oleh keringat yang keluar dari pori-pori yang ada di sekujur tubuhnya.
Pandu dan Winda hanya bisa berpelukan. Diam. Saling tatap sambil merasakan sensasi lepek dari kelamin mereka masing-masing.
"Gimana Dek...?" Tanya Winda sambil tersenyum.
"Gimana apanya...?" Tanya Pandu.
"Yaitu tadi... Ngentotnya..." Jawab Winda malu-malu, "Apa itu bisa memuaskan rasa penasaranmu...?"
Pandu menggeleng. Alih-alih menjawab pertanyaan kakaknya, ia malah mencaplok bibir seksi Winda dan kembali mengajaknya bergulat. Hingga tak lama kemudian mereka kembali larut dalam ciuman yang panas dan basah.
Lidah Pandu dan Winda saling jilat. Memilin dan menyelusup ke rongga mulut lawan jenisnya. Bersilat dengan liarnya hingga akhirnya Pandu melepaskan pagutan mulut Winda. "Nungging, Mbak... Aku
entotin memekmu dari belakang..." Sambung Pandu sambil mencabut penisnya dan
menunggingkan pantat kakak kandungnya.
"Sssshhhhhhhh.. Mau doggy, Dek....?" Tanya Winda mendesah lemas ketika dengan perlahan penis adik kandungnya menyelinap masuk dari lubang belakangnya.
CLEEEEEPPPPPPP
PLAAAAKKK
"Akhhh.... Akhhh.... Panduu..... Ooohhh.... Deeekkk..." Lenguh Winda sedikit kaget. Karena sama sekali tak menyangka, jika penis Pandu itu akan langsung masuk dan menabrak dinding rahimnya dalam sekali tusuk.
"Ooohhh.... Langsung mentok, Mbaakkk..."
"Nggghhh.. lya, Dek..."
"Aku sodok lagi ya, Mbak...?"
"Nggghhhh.. lya Sayangghh....Ssshhhh......"
PLAAAAKKK.... PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
Tanpa basa-basi, Pandu langsung menghajar liang senggama Winda dengan kecepatan penuh. la juga mencengkram sambil menampar-nampari pantat bulat nan mulus milik Winda itu dengan kasar. Hingga meninggalkan bekas merah dikedua pipi pantatnya.
PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
Dengan kasar, Pandu juga menarik payudara Winda yang bergoyang kesana kemari itu dan diremasnya kuat-kuat dari belakang. Membuat Winda berteriak lantang dan ikut mengimbangi gerakan dan ayunan pinggul Pandu.
PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
"AAAAJJIIIMMMM.. Deeekkkk.. Ooohhhh.. Mbak dappetthhh Lagihhhhh, Deeekk... AAANJIIIMMM...
Kontolmu enak bangeeee Sayaaannngggg......
CREEETTTT CREEETTTT CREEECRREETT CREEETTTT CREEETTIT
Lagi-lagi, Winda mendapat orgasmenya. Tubuhnya mengejat, dan bergetar hebat.
"Ohhh Udah, Dekk..... Uudah...." Erang Winda yang dalam kelejat nikmatnya, tiba-tiba melemas. Lunglai kemudian ambruk ke depan. Sehingga memposisikan dirinya seperti orang yang sedang bersujud.
Pantatnya menjulang, namun kepala, pundak, dan payudaranya rata dengan lutut.
Melihat kondisi Winda yang sudah lemas karena orgasme darinya, membuat semangat Pandu semakin menjadi-jadi. Digerakkannya lagi penisnya masuk dan keluar dengan kecepatan tinggi, tanpa mempedulikan ketidak berdayaan tubuh kakak kandungnya.
PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
"Aaaaahhh... Addeekkk... Ahhh.... Ahhh... Ahhhh.... Ammpunnn Deekk... Ohhh...Ampuun....." Lenguhan pelan Winda tak berdaya, "Tunggu Dek. Berhenti duluuuu. Mbak lemeeesss.. Ahhh...
Ahhhh...
"Gak pake tungga-tungguan Mbak... Aku juga pengen keluar ....." Seru Pandu yang merasakan jika orgasmenya makin mendekat.
"Sebentar aja Deekk..."
"Gak mauuu....!!"
PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
"Hhhhh... Aku udah dekat, Mbaaakkk... Sebentar lagi aku mau keluarrr...." Seru Pandu yang terus menggagahi vagina Winda tanpa henti.
"Hhhh... Barengan lagi ya, Deekk..." Lenguh Winda pasrah.
PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
"Hhhhh... Mbak Windakuuuu.... Ooohhh... Aku mau nyampek Mbakkk..." Raung Pandu sambil mencengkram kedua pantat bulat Winda
"Yaudah..Keluarin diluar aja, Dek..."
"Ooohhhh... Enakan keluarin didalem aja ya, Mbak…...?" Seru Pandu yang sepertinya malas untuk mencabut kemaluannya dari liang senggama Winda.
"Eeeeehhh... Jangaaannn....!!!" Kaget Winda yang buru-buru berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Pandu.
"ANJJIIIMMMM... Memek kakak kandung... Memang juaraaaa ya Mbaaakkk.. Ooohhhh.. Aku keluaaarrr.... MBAK WINDAAAAA... AKU KELUAARRR..."
PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK PLAAKKK
"HYAAHH... JANGAN DEKKK JANGAAAANN. Oooowwwhhhh. Mbak lagi subur Dekk. Ooohhhh
AANNJIIIMMMM... SIAAAALLL AKU JUGA DEEEKKK...OOOHHH MBAK KELUAR JUGAAAAA....."
"KITA KELUAR BARENGAN AJA MBAAAKK.. ООННН.... MBAK WINDAAAAA... TERIMA PEJUHKUUUU...." Pandu mencengkram pinggang Winda, dan menghentak-hentakkan penisnya sekuat tenaga.
CREEETTIT CREEETTIT CREEECRREETT CREEETTTT CREEETTTT
CRROOOTT CROOOOTTTT CROOOCROOOOTTT CROOOTT CRRROOT
Dengan penis yang masih menancap di dalam liang rahim kakaknya, Pandu memeluk tubuh hangat Winda dari belakang. Berbaring dibelakang tubuh Winda yang rebahan dengan posisi menyamping, disempitnya sofa ruang rias yang lusuh.
Untuk sesaat mereka berdua terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sembari merasakan remasan serta kedut kelamin yang masih tersisa.
"Mbak..." Panggil Pandu.
"Hmmmm..." Jawab Winda lirih.
"Maaf... Aku telat nyabut..." Ucap Pandu takut dan malu-malu.
"lyaahhhh... Mbak tahu..." Jawab Winda datar
"Ngggg... Kalo nanti jadi...."
"Ya berarti itu tanggung jawabmu..."
"Berarti... Nanti semisal ini jadi..."
"Itu anak kamu..."
"Memangnya.. Mbak belom pernah gituan dengan Mas..."
"Belom..." Jawab Winda ketus. Memotong kalimat Pandu yang belum terselesaikan.
"Makasih Mbakku Sayang..." Pandu mengencangkan pelukan tangannya sekencang yang ia bisa.
"Heegghhh....." Erang Winda, "Sak.. Kiitttttt... Deeekkkk..." Sambungnya sambil menepuk-nepuk lengan Pandu.
"Makasih Mbak makasih..."
"Hhhaaaahhhhh... Adek Sinting.. Bisa mati Mbakmu kalo kamu remek seperti itu.." Omel Winda sambil berusaha bangun dari pelukan Pandu, "Udah Ahhhh.. Mbak mau siap-siap lagi..."
"Uuuhhhh.. Nanti dulu ah, Mbaaakkk... Biarin aku peluk kamu buat yang terakhir kalinya..." Seru Pandu yang kembali mengencangkan pelukan tangannya. Namun tak sekencang tadi. Tak lupa, ia juga mengedutkan otot penis yang masih tertancap seluruhnya di kemaluan Winda.
Seolah ingin memberitahukan rasa terima kasih atas kesediaan liang senggama kakaknya saat menerima
semburan ribuan benih cinta kedalam rahimnya.
"liihhhhssss... Geli tahu deeeekkkk..." Lenguh Winda ketika vaginanya terkena dampak kedut penis adik kandungnya.
"Hehehehe... Biar memek kamu selalu inget ama kontol aku, Mbak.."
"Ssshhh.... Uuuhhhh... Kok masih berasa banget sih Dek...?"
"Hehehehe... Karena dia sayang kamu, Mbak..."
"Asli, kontolmu besar banget....!" Seru Winda sambil menghela nafas.
"Gede mana ama punya mas Ardi...?"
Winda tak menjawab. la kemudian memaksa tubuhnya beranjak dari pelukan tangan Pandu. Dan setelah berhasil terlepas, Winda langsung berdiri. Tanpa mempedulikan penis adiknya yang masih tertancap erat dalam vaginanya.
PLOOOPP
"Ssshhhhh... " Desah Winda sedikit menahan ngilu.
SEEEEEEERRRRR
Cairan bening, seketika keluar dari vagina Winda. Mengalir turun dan merayap di paha dalamnya.
"Gila... Pejuh kamu banyak banget, Dek..." Seru Winda ketika menatap lelehan sperma Pandu yang meluber dari kemaluannya. Hingga sebagian menetes dilantai.
"Kita mandi bareng yuk, Mbak...?" Tanya Pandu yang buru-buru mengambil tissue dan mengelap tetesan spermanya di paha serta vagina Winda.
Kali ini, Winda tak menjawab. la hanya menatap kearah Pandu dan mengusap pipi adiknya.
"Dek.... " Ucap Winda menjeda kalimatnya, "Sepertinya... Ini tuh bakalan persetubuhan kita yang pertama dan terakhir kalinya..."
"Eehhh...? Maksudnya...?" Jawab Pandu bingung.
"lya.. Ini tuh....."
Namun, belum juga Winda membuka mulut untuk menjelaskan lebih lanjut,
tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu yang mengagetkan mereka berdua.
TOK TOK TOK
"Windaaa... Ayo Sayang... Calon suamimu sudah siap..." Seru Mbok Suri memanggil dari luar ruangan.
bersambung
0 Komentar