pandu dan lala part 20

 




permintaaan terakhir


Hari ini, adalah hari dimana Winda akan melangsungkan upacara pernikahannya bersama Ardi. Hari yang begitu Pandu benci karena hari ini ia harus menyaksikan wanita yang ia cintai sepenuh hati, dipersunting oleh lelaki lain. Hari yang Pandu rutuk, karena itu artinya Winda akan meninggalkan dirinya dan ikut hidup bersama suami pilihannya.

Sebenernya Pandu merasa risih untuk hadir di acara pernikahan Winda. Namun, karena itu adalah sebuah keharusan dalam keluarga, mau tak mau Pandu pun akhirnya menurutinya. Padahal, hati Pandu benar-benar emosi jika membayangkan beberapa waktu lagi, Winda akan terlepas dari genggamannya.

"Baru dateng Dek..?" Ucap Rahma menghentikan menata makeup yang ada dihadapannya. Menatap putra kandungnya yang baru datang dengan raut wajah tak bersemangat, "Kamu darimana aja sih...?

Udah jam segini loh...

"Aku.. Ketiduran, Bu..." Jawab Pandu sedikit mencari-cari alasan.

"Daritadi.. Kamu dicariin Mbakmu tuh..."

"Mo ngapain sih Mbak Winda....? Buru-buru amat... Toh acaranya juga masih lama..." Sahut Pandu sambil menggaruk-garuk kepalanya, "Gatel banget sih yang mau kawin..."

"Huusshh...!!! Nikah, Dek... Bukan kawin..."

"lya-iya.. Nikah..." Ralat Pandu.

"Yaudah kalo gitu... Buruan ganti baju gih... "Saran Rahma sambil menyerahkan sepaket pakaian adat pernikahan pada Pandu, "Ini bajumu udah Ibu siapin..." Sahutnya.

Sejenak, Pandu melirik kearah Ibunya. Entah kenapa, ditengah kekesalan hatinya akan pernikahan

Winda, pagi itu Pandu merasa terpukau akan penampilan Rahma. Pandu merasa, jika wanita yang telah melahirkannya itu terlihat begitu menawan.

Meskipun masih menggunakan pakaian kebaya yang belum sempurna, Rahma terlihat begitu cantik dan menggemaskan. Ditambah dengan gincunya yang merah menyala, membuat perpaduan warnanya begitu kontras dengan warna kulit putih mulusnya.

Dimata Pandu, tubuh Ibunya terlihat begitu padat. Payudaranya menonjol, seperti tak mampu tertampung oleh kemben yang ia kenakan.

Selain itu, pantatnya juga terlihat begitu membulat. Meliuk dalam balutan jarit berwarna putih nan ketat yang sangat menggairahkan.

"Kamu kenapa...?" Tanya Rahma ketika melihat Pandu tak berkedip ketika menatapnya.

"Ibu cantik..." Sahut Pandu sponta.

"Hmmmm... Jadi selama ini... Kamu baru sadar...?" Balas Rahma sambil tersenyum.

"lya... Aku baru tahu kalo Ibu bisa se-seksi ini.." Sahut Pandu yang memberanikan diri menyentuh pinggang Ibunya.

"Heehh.. Kamu mau ngapain...?" Celetuk Rahma sambil celingukan kekanan kekiri.

"Aku kangen, Buu..." Balas Pandu yang kemudian mendekat dan mendekap pinggang Rahma. Lalu dengan santainya ia meremas pantat bulat Ibunya kuat-kuat.

"HUUSSHHH..." Sergah Rahma menepis tangan Pandu, "Jangan macem-macem disini, Dek... Nanti dilihat orang...

"Buuu... Ini sanggul Mbak Windanya udah aku siapin..." Ucap Mbok Suri yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

"Ehhh... Taruh situ aja Mbok..." Sahut Ibu yang buru-buru melepaskan diri dari pelukanku.

"Baik Bu...." Balas wanita sebaya Ibu itu sambil melewatiku.

Mbok Suri telah ikut bersama keluargaku semenjak aku baru lahir ke dunia. la adalah sosok wanita yang membantu Ibu membesarkanku sedari kecil. Namun, ketika aku sudah bisa mengurus diri, lbu memutuskan untuk memindahkan Mbok Suri di toko sembako Ayah.

"Terus....? Yang bantu aku ganti baju siapa...?" Tanya Pandu.

"Ihhhsss.. Ganti sendiri ah... Gausah manja.... "Balas Ibu

"Ibu gak mau gantiin baju aku...?" Sambung Pandu lagi.

"Kamu nggak lihat...? Ibu masih sibuk seperti ini...?"

"Mbok Suri... Kalo Mbok yang bantu aku ganti baju aja, gimana...?" Isengku mencoba mencari peruntungan. Lumayan, meski tak mendapatkan kesempatan dari Ibu, kali saja aku bisa menggoda janda semok itu.

"Mas Pandu ga malu...? Mbok gantiinn bajunya...?" Tanya Mbok Suri malu-malu

"Kenapa malu...? Dulu yang gantiin baju aku khan juga Mbok..." Jawabku enteng, "Mbok juga udah sering khan liat aku telanjang...?".

"Heeeehhh... Pandu... " Hardik Ibu, "Mbok lagi sibuk... Jangan nambah-nambahin pekerjaan dia deh..."

"Sebentaran aja kok..."

"Enggak-enggak... Kamu ganti baju sendiri..." Sambung Ibu ketus.

"Yaudah... Nanti kalo aku pake bajunya salah... Jangan salahin aku yaaa...'

"Hhhhhhhh..." Rahma menghela nafas panjang, "Naek keatas aja sana... Minta tolong ama Mbakmu..."

"Jadi aku ganti ama Mbak Winda, Bu...?"

"Hooh... Sekalian temuin Mbakmu gih..." Sahut Ibu, "Sepertinya dia ada perlu denganmu..."

"Perlu apa..?"

"Entahlah... " Jawab Ibu yang kemudian sudah larut lagi dalam aktifitasnya lagi.

Merasa dicuekin Ibu, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke ruang rias. Menemui Mbak Winda yang sudah duluan disana. Namun, sebelum aku melangkah lebih jauh, Ibu tiba-tiba menyusulku.

"Dek... " Tepuk Ibu di pundakku dengan nada yang sedikit lebih tegas dari biasanya.

"Ya, Buu...?" Jawabku kaget.

"Inget... Jangan 'ganggu' kakakmu..." Celetuk Ibu mewanti-wanti, "Sebentar lagi... Dia akan menjalani hari besarnya..."

"Hhhhh.... Lihat aja nanti..." Jawab Pandu yang dengan langkah malas, melanjutkan naik ke ruang ganti

Mbak Winda.

TOK TOK TOK

Pandu ketuk pintu ruang rias.

"Mbak... Kamu cari aku...?" Tanyaku begitu sampai diruang rias.

"lya Dek... Sini masuk...." Jawabnya pelan.

Dalam keremangan cahaya lampu rias, Pandu melihat Winda duduk termenung di samping deretan gantungan baju yang memenuhi dinding. la menatap layar handphonenya dalam-dalam, seolah menanti kabar yang tak kunjung datang.

"Kucel amat wajahmu, Dek..." Tanya Winda mencoba memecah keheningan pagi.

"Ya gitulah..." Jawab Pandu yang kemudian menarik kursi diujung ruang, lalu duduk didekat Winda.

"Kamu baik-baik aja...?" Tanya Winda memastikan.

"Hmmmm... Aku cuman kurang tidur, Mbak... Itu saja..." Ucap Pandu membuang muka. Menghindari tatapan mata Winda yang begitu teduh.

Tiba-tiba, Winda mengamit tangan Pandu. Dan memajukan wajahnya. Namun, Pandu buru-buru berdiri sebelum bibir Winda menyentuh wajahnya.

Pandu tahu, Winda mencoba mencium guna meredakan kekalutan dipikiran adik kandungnya. Dan Pandu juga paham, jika ciuman itu hanyalah kebiasaan Winda jika ingin menyampaikan sesuatu yang berat dalam hatinya.

Merasa Pandu menghindar, Winda lalu memeluk tubuh kekar adiknya itu dari belakang. Begitu erat, sampai-sampai pandu merasakan desakan kenyal dari payudara besar kakak kandungnya.

"Oohhhh.. Tetek Mbak Winda...." Batin Pandu merasakan kehangatan serta kelembutan payudara Winda yang menekan punggungnya.

"Dek... Aku ga ngira ya.... Kalo hari ini akan datang begitu cepat..." Bisik Winda lirih.

"lya.. Hari dimana kamu bakalan ninggalin aku demi lelaki lain..." Sahut Pandu dengan nada berat.

"Hmmmm.... Mulai deh... " Ucap Winda melepas pelukannya.

"Betul begitu bukan...?" Sahut Pandu yang buru-buru berbalik dan gantian memeluk tubuh Winda dari

depan, "Aku benar-benar cinta kamu, Mbak...."

"lyaa... Mbak tahu itu..."

"Aku benar-benar tak ingin kehilangan kamu..." Sambung Pandu sambil menatap tajam kearah mata

Winda

CUUUPPP

Tanpa tahu siapa yang memulai terlebih dahulu, kedua mulut Pandu dan Winda tiba-tiba saling cium.

Seolah memiliki rencana yang sama, bibir mereka pun larut dalam cumbunya. Saling membuka mulut dan menjulurkan lidah masing-masing. Bergulat hebat sambil bertukar air liur.

"Aku membutuhkanmu, Mbak Winda-ku..." Kata Pandu disela-sela cumbuannya.

Memang, tak dapat dipungkiri jika Pandu dan Winda memiliki perasaan sayang yang begitu kuat antara satu dengan lainnya. Akan tetapi juga mereka tahu, jika perasaan itu tak akan dapat jalan berdampingan.

Pandu dan Winda adalah adik dan kakak, yang semisal mereka melanjutkan hubungan ini ke jenjang lebih jauh tak akan bisa diterima oleh masyarakat.

TOK TOK TOK

"Mbak Winda... Ini air minum dan obatnya..." Sahut Mbok Suri yang masuk duluan ke ruang rias.

"Buruan diminum obatnya... " Ucap Ibu menyusul masuk dibelakang Mbok Suri

"Obat...? Kamu sakit, Mbak...?" Tanya Pandu penasaran.

"Mbakmu ini pasti stress gara-gara mau nikah...".

"Apa sih, Buu...? Aku ga stress kok... " Ucap Winda membela diri, "Aku cuman pusing..."

Buru-buru, Pandu duduk di kursi dekat Winda. la raih tangan kanan kakaknya dan segera memijat salah satu titik di sela-sela jemarinya.

"Aaahhhh...." Desah Winda buru-buru menarik tangannya, "Sakit Dek..."

"Itu tandanya... Kamu sedang tak enak badan, Mbak... Tahan sebentar..."Jawab Pandu.

"Dek... Jagain terus Mbakmu... " Ucap ibu sekali lagi dengan nada ketus, "Ini hari besarnya... Jangan sampe kamu apa-apain dia..." Sambung Ibu yang entah kenapa melirik kearah selangkangan Pandu.

"lya, Buuu..." Jawab Pandu jengah dan merubah posisi duduknya.

"Yowes... Tolong awasin Mbakmu... Ibu tinggal dulu..." Tutup Ibu yang kemudian pergi meninggalkan

Pandu dan Winda di ruang rias.

"Dek... Aduuh duh... Ibu kenapa sih...? Kok sepertinya ia khawatir banget ama kamu..." Tanya Winda meringis-meringis kesakitan.

"Ibu lagi dateng bulan kali..." Celetuk Pandu cuek.

"Emang kamu habis ngelakuin kesalahan ya, Dek..? Sampe Ibu ngelirik kamu kaya gitu.?" Selidik Winda sambil menatap tajam kearah adik kandungnya, "Jangan-jangan... Kamu juga cabulin Ibu ya...?"

"Apaan sih Mbak..." Seru Pandu yang buru-buru menekan titik syaraf Winda kuat-kuat.

"Aaaaaahhhhh... Sakit Adeeeekkk..." Teriak Winda kencang.

"Habisan... Mbak nuduh yang nggak-nggak sih..." Omelku.

"Hihihihi... Gapapa kali, Dek kalo emang beneran..." Ledek Winda

"Beneran apa sih, Mbak...?" Ucap Pandu kaget melihat tatapan kakak kandungnya yang penuh arti.

"Hihihihi... Biasa aja kali ngelihatnya, Dek... Nggak usah kaget kaya gitu... " Potong Winda dengan senyum teduh andalannya. "Mbak tahu kok.. Kalo kamu ama Ibu punya hubungan spesial..."

DEEGGG

Mendengar tebakan Winda, muka Pandu seketika memanas.

Pipinya memerah menahan malu yang merebak di seluruh syaraf kulit wajahnya.

"Apaan sih, Mbak...? Ga jelas..." Ucap Pandu berusaha menutupi debar jantungnya.

"Hihihi... Bener khannn...?" Ledek Winda terus menggoda Pandu, "Kalo pun memang kamu dan Ibu ga punya hubungan spesial... Ibu gak akan seketus itu padamu, Dek..."

"Nggg... Itu... Anu.... " Bingung Pandu yang harus sesegera mungkin mencari alesan.

"Cieeeee... Cieee... Hebat kamu, Dek... Bisa bikin Ibu ngelirik selangkanganmu terus..." Ledek Winda yang kali ini, meraba kearah pangkal paha Pandu.

"Apa sih, Mbak..."

"Wuuilihhhh... Udah keras kontolmu, Dek...?" Kaget Winda ketika merasakan penis adik kandungnya menggelembung, "Pantes aja... Ibu kesengsem ama selangkanganmu... Hihihi...'

"Udah ah, Mbak... Jangan ngobrolin itu mulu..." Pinta Pandu yang lagi-lagi memelas.

"Mbak ikut seneng tau, Dek... Kamu akhirnya bisa punya wanita pengganti Mbak..." Senyum Winda sambil menusap rambut Pandu

"Kamu beneran mau nikah dengan lelaki itu, Mbak...?"

Winda melirik Pandu. Lalu menghela nafas panjang. "Ini adalah jalan terbaik buat semuanya, Dek... dan ini juga udah pilihanku... Jadi... menurut Mbak....

"Kamu cinta dia...?" Potong Pandu.

Winda menatap lagi kearah wajah adiknya yang terima dengan jawabannya barusan. "Jangan bilang...

Kamu berniat ingin merusak acara pernikahanku ini, Dek.

"lya... Kalo memang perlu seperti itu..."

"Hihihihih. Kamu sinting..." Tawa Winda. Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

"Bilang ke aku, Mbak... Kamu ga cinta dia khan...?"

"Hhhhhh...Mungkin...." Winda menjeda kalimatnya. la menghela nafas panjang lagi sebelum akhirnya

berucap kembali, "Untuk saat ini Mbak masih belum menemukan cinta pada dirinya... Tapi suatu saat...

Mbak pasti bisa mencintainya.."

"Arrrggghhhhhhhh... Sial..." Umpat Pandu kesal.

"Kamu masih tak bisa menerima kehadiran Mas Ardi, Dek...?" Tanya Winda.

"Ga bakalan..!!" Jawab Pandu spontan, "Aku... Ga bakalan bisa nerima dia, Mbak... Aku ga bakalan bisa mengijinkan lelaki itu mengambil dirimu... Sampai kapanpun....!!"

"Segitunya ya, Dek...?" Sahut Winda sambil menundukkan kepala.

"Memang, sekilas calon suamimu itu keliatan baik... Akan tetapi entah kenapa, aku punya firasat jika ia mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda, Mbak..." Jelas Pandu

"Itu hanya firasatmu aja, Dek...." Sahut Winda naif.

"Aku bener-bener ga terima,

Mbak... Sebuta itu kamu melihat dia...?" Rutuk Pandu kesal, "Aku tuh

khawatir dengan kebahagiaanmu, Mbak.. Aku ga pengen kamu kenapa-napa..."

"Oh Pandu... Adik semata wayangku... Lelaki pendampingku... Siganteng setiaku ..." Sahut Winda yang lagi-lagi mengusap pipi adiknya, "lya. Sayangku... Mbak mengerti dengan perasaan khawatirmu..."

"Kalo Mbak memang mengerti... Maka gausah nikah dengannya, Mbak... " Ucap Pandu dengan semangat yang berapi-api, "Menikahlah denganku..."

Winda tersenyum. Lalu menatap mata Pandu dalam-dalam.

"Asal kamu tahu ya Dek... Mbak juga mencintaimu... " Jelas Winda sambil tersenyum, "Dan jujur, semenjak kamu menyelematkan Mbak dari penculikan Amir waktu itu... Mbak entah kenapa memiliki perasaan yang special padamu..."

"Hmmmm... Lalu...?"

"Entahlah.. Sekarang... Mbak merasa kalo kamu tuh pelengkap hidupku..." Jelas Winda berusaha mengungkapkan perasaannya.

"Sebagai pelengkap aja. Mbak...?" Selidik Pandu

"Terus...? Kamu maunya seperti apa, Dek....?"

"Aku mau kamu Mbak... Aku cuman mau dirimu, se... u... tuh..nya...." Jawab Pandu sambil mengeja keinginan hatinya, "Aku benar-benar mencintaimu, Mbak..."

"lya, Panduku Sayaang.... Mbak juga jatuh cinta denganmu... "

"Tapi percuma, Mbak.. Karena cinta saja tak membuatmu meninggalkan lelaki sialan itu..."

Winda tersenyum. "Mbak tahu, jika Mbak tak bisa memilihmu dan Mas Ardi dalam satu waktu. Yang jelas,

Mbak selalu mencintaimu..

"Hhhhh..... Mbak mencintaiku, tapi tidak menginginkanku....." Keluh Pandu lirih.

"Aku tahu kamu banget, Dek... Dan kamu juga tahu gimana Mbakmu ini luar dalam... Jadi, maafin Mbak ya... Kalo baru sekarang Mbak memberitahumu bagaimana perasaan Mbak saat ini... Mbak siap salah...

Mbak siap mendapat amarah atau kekesalanmu..."

"Jujur, Mbak takut Dek... Mbak juga tidak tahu harus berbuat apa karena selama ini Mbak sangat tergantung padamu. Mbak tidak tahu bagaimana harus hidup, meskipun Mbak menikah dengan Mas Ardi yang serba berkecukupan...

"Hiikksss... Mbak bingung, Dek... Mbak tak tahu harus berbuat gimana lagi untuk menghadapimu... Hiks hiks" Winda tahu tahu menangis.

"Eehh Mbak... Jangan nangis... Nanti matamu sembab..." Ucap Pandu panik melihat tetesan air mata

Winda yang tiba-tiba mengalir deras.

"Aku sayang kamu Dek..." Ucap Winda yang tiba-tiba mengecup bibir Pandu dalam-dalam.

CUUUPPP

"Aku juga cinta kamu... Mbak Winda-ku tersayang..." Balas Pandu yang segera membalas ciuman Winda dengan penuh gairah. Lidahnya menyelinap masuk ke mulut kakak kandungnya. Menari, melilit serta menjilat tanpa henti.

"Ohhh Panduku..." Lenguh Winda yang kemudian melepas pagutannya lalu menurunkan tubuhnya.

Setelah itu Winda berjongkok. Lalu, ia menarik celana Pandu turun, beserta celana dalamnya.

"Eeeehh... Mbak..?" Kaget Pandu mendapat sikap agresif Winda.

"Emang kamu tuh ya... Adikku yang paling mesum...

" Senyum Winda sambil menatap batang penis

Pandu yang sudah mengacung tinggi, "Baru aja ciuman seperti itu... Kontolmu udah keras begini..."

HAAAPP

Pandu mengerang ketika kepala penisnya dilahap Winda. Sambil menggenggam barang kemaluannya, lidah Winda terus menjilati ujung kejantanan Pandu. Menggelitik lubang kencing adiknya hingga tubuhnya menggelinjang keenakan.

"Ooohhh... Mbak... " Erang Pandu sambil meremas rambut kakak kandungnya

"Enak Dek...?" Tanya Winda

"Banget..."

Sembari mengulum penis adiknya, Winda lalu membuka seluruh pakaian yang ia kenakan hingga telanjang bulat. "Mbak pikir sudah waktunya bagiku... Untuk memberikan memekku ini padamu, Dek..." Desah WInda yang kemudian mendorong tubuh Pandu mundur kearah sofa. Merebahkan diri dan segera menaiki wajahnya.

"Nikmati suguhan tubuhku, Dek..." Sambung Winda sambil meletakkan vaginanya tepat di bibir Pandu.

Merasa mendapat hidangan istimewa, Pandu segera meladeni keinginan kakak kandungnya. la segera melahap vagina basah Winda yang tanpa rambut itu. Mengais celah sempit kemaluannya, sambil mencucupi lelehan lendir vaginanya.

CUUPP SLUURRP SLUURRPPP

"Ohhh Deeekkk..." Erang Winda yang mulai menggoyang pinggulnya. Menunggangi wajah adik kandungnya bagaikan seorang wanita yang sedang naik kuda. Vaginanya makin mengkilap dan lendinrnya makin deras membasahi wajah Pandu.

"Ssshhhhhhh... Ooohhhhh..Panduuu." Lenguh Winda terus menggerakkan pantatnya maju mundur.

SLUURRP SLUURRPPP SLUURRP SLUURRPPP

"Nggghhhh... Adekku Sayangghhh.... Ohhh nikmat banget jilatan lidahmu, Deeekkk... Ssshhhhh...

Oohhh... Jilat yang dalem , Deekkk... Ohhh enaaakkk... " Racau Winda sambil memanggil-manggil nama Pandu. Menggerakkan pinggulnya lebih cepat sambil terus menjejalkan lubang kemaluannya kearah mulut adik kandungnya.

SLUURRP SLUURRPPP SLUURRP SLUURRPPP

Seolah mengerti dengan keinginan Winda, Pandu pun meladeni ulah cabul kakaknya. Menjilat dan

menusuk lubang vagina Winda dalam-dalam dengan lidahnya. Hingga membuat tubuh Winda bergetar hebat karena meraih orgasme pertamanya.

"Aaaaaahhh Aaah... Adeekkk... Aaahhh.. Mbak mau keluar Deeekk... Aaahhh... Adekku sayang... Mbak mau ngecriili Deeekkkk... Oohhh. ANJIIMMMM.... " Tubuh Winda mengejang-kejang. Kelojotan sambil menghempas-hempaskan vaginanya diatas wajah Pandu. "Ngghhh.. Deeekkk... Aaahhh... SIAALL...

Oohhh... Ngentottt Deeeekkk.... Mbak mau keluar."

CREETT CREEETT CREECEET CREETT CREEETTTT

Tubuh Winda bergetar hebat. Menggelinjang sambil menghempas-hempaskan selangkangannya ke wajah Pandu. Pinggulnya bergoyang maju mundur hingga membuat mulut, hidung, dan sebagian wajah Pandu basah kuyup karena lendir cintanya.

"HUUooooo•OOHHH... Enak banget jilatan lidahmu, Deeekkk.. Hhhh.. Hhhh. Hhhh. Bikin gatal birahiku selalu terpuaskan..." Lenguh Winda sembari berusaha mengatur kelejat tubuhnya akibat sisa orgasme yang masih terasa.

"lya... Aku juga seneng liat kamu puas, Mbak... " Sahut Pandu dengan wajah sedih.

"Kok kamu malah jadi sedih gitu, Dek...?" Tanya Winda yang buru-buru mengelap wajah basah Pandu dengan pakaiannya.

"Gimana nggak sedih, Mbak... Bayangin aja... Kalo besok-besok, aku nggak bakalan bisa ngelakuin hal mesum seperti ini lagi denganmu..." Jelas Pandu lirih.

"Khan masih ada Ibu...?" Sahut Winda singkat

"Beda, Mbak..." Jawab Pandu spontan

"Beda...?" Potong Winda sambil tersenyum lebar,

"Berarti bener khan tebakan Mbak barusan...?"

"Ehhhh...Anu.... Nggggg..." Sahut Pandu buru-buru menutup mulutnya

"Hihihihi... Mukamu memerah lagi, Dek..."

"Aku... Anu..."

"Hihihihi... Gak apa-apa kali, Dek... Mbak ga marah kok... Selama kamu dan Ibu bisa menjaga rahasia...

Mbak ga masalah kok kalo kalian beneran ngelakuin hal mesum itu..."

"Тa... Tapi... Beneran Mbak... Kamu dan Ibu tuh berbeda..." Sahut Pandu bersikeras.

"Beda apanya, Dek...? Toh Mbak dan Ibu sama-sama wanita....? Sama-sama cantik... Sama-sama seksi... Sama-sama bertetek besar... Sama-sama berpantat besar... Trus bedanya apa...?" Cecar Winda seolah tak membiarkan Pandu membalas kalimatnya.

"Memek Mbak... Sepertinya lebih enak ketimbang memek Ibu...!!" Celetuk Pandu.

"Wooowwww... Astagaaaa..." Kaget Winda mendengar kalimat adiknya, "Kayanya... udah ada yang pernah ngentotin memek Ibu kandungnya sendiri nih... Hihihi..."

"Aduuuhhh.. " Sahut Pandu lagi-lagi mendekap mulutnya. Setelah itu, Pandu memukul-mukul kepalanya sendiri. Menyesali kebodohan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

Melihat kepanikan diwajah Pandu, Winda hanya bisa tersenyum. "Kalo memang kamu mau merasakan memek Mbak... Kamu harus merelakan kepergian Mbak..."

"Eehhh... Maksudnya...?" Heran Pandu.

"lya... Mbak bakalan kasih kamu kesempatan buat ngentotin memek Mbak ... " Jelas Winda sambil menunjuk kearah celah kemaluannya.

"Be... Beneran, Mbak...?"

"lya...." Jawab Winda yang kemudian meraih penis Pandu, dan mengurutnya perlahan. "Kamu boleh buang pejuhmu juga didalam rahim Mbak..."

"Uuuhhh.... Kamu ga bohong khan, Mbak...?" Erang Pandu keenakan karena kocokan tangan Winda.

"Ngapain Mbak bohong...?" Sambung kakak Pandu itu yang kemudian menarik penis adiknya. "Tapi

dengan satu syarat..."

"A.. Apa itu Mbak...?" Sahut Pandu menuruti permintaan Winda. la memajukan pinggulnya. Lalu menempelkan kepala kemaluannya di lubang kencing kakak kandungnya.

"Setelah kamu ngentotin memek Mbak ini... Tolong... Biarkan Mbak menjalani kehidupan bersama mas

Ardi..."

"Nggggg...." Jawab Pandu kehabisan kata.

Melihat wajah adik kandungnya yang kebingungan, Winda langsung menarik tubuh Pandu mendekat.

"Yuk Dek... Mbak gak sabar lagi untuk merasakan kontolmu... Menembusi sempitnya memek ini dan memasuki tubuh Mbak..." Seru Winda sambil membuka pahanya lebar-lebar, "Setubuhi Mbak

sepuasmu... Jika itu bisa membuat hatimu lega.."

"Entotin memek Mbakmu ini..."

"Sebelum Mbak dinikahi oleh lelaki lain..

bersambung


Posting Komentar

0 Komentar