pandu dan lala part 19

 




kebobolan


Siang itu, udara terasa begitu terik. Pandu yang setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya,

menyempatkan diri untuk makan siang di salah satu restoran terenak. Dan ketika selesai makan, Pandu tiba-tiba teringat Winda, yang sering ia belikan makanan disini.

"Mbak...? Ada dirumah gak...?" Panggil Pandu dari ujung telephon.

"Mbak masih diluar, Dek... Ini nganterin pesanan seragam kantor Bu Tina..."

"Aku abis dari tempat makan favoritmu... Mau nitip pesen ga...?"

"Mbak masih kenyang, Dek..." Jawab Winda, "Kalo boleh, beliin buat Lala aja ya..."

"Buat Lala...? Emang dirumah ga masak...?"

"Kebetulan, Mbak tadi buru-buru.. Jadi Lala Mbak tinggalin sendirian dirumah." Jelas Winda, "Nasi sih banyak... Cuman lauknya yang sepertinya kurang..."

"Bukannya Lala hari ini ada kegiatan seharian disekolah...?"

"Kegiatan apa ya...? Gak ada kok..." Jawab Winda polos

"Hmmmm... Tumben... " Jawab Pandu seolah merasa ada yang aneh pada diri Lala

"Tumben kenapa, Dek..?"

"Kok Lala nggak ngabarin aku ya...?" Tanya Pandu dalam hati sambil memacu kendaraannya pulang.

Dan benar, firasat Pandu ternyata tepat. Karena sesampainya dirumah, ia mendapati mobil mewah milik kakak kelas Lala yang kemaren sempet mengantarnya pulang.

Segera

saja, Pandu memarkirkan kendaraannya diluar pagar rumah. Berjalan pelan memasuki

pekarangan, lalu menyelinap masuk ke rumah Winda melalui pintu belakang.

"Uuuhhhhsss.. Pelan-pelan, Laaa...." Lenguh suara lelaki keenakan.

TEK TEK TEK TEK

"Ooohhh.. Lembut banget tanganmu, Sayangg...."

ANJIM

"Pasti Lala dan cowok sialannya sedang berbuat mesum..." Pikir Pandu dalam hati sambil mendekat ke

tempat Lala dan pacarnya berada. Dan ketika Pandu sudah berada dekat di ruang tamu, hatinya pun langsung berkecamuk ketika sepasang remaja itu sedang tiduran sambil berciuman.

Apalagi Pandu juga melihat tangan keponakannya sedang mengocok penis kekasihnya yang sudah

menjulang tinggi.

"Cuuupppp cuppp.. Sluurrrpp... Sluurrrpp... Sayang... Ohhh... Aku kangen..." Ucap Roni terus mencumbu mulut Lala sambil mengusap-usap payudaranya dari luar seragam sekolahnya.

"Buka

bajunya dikit lagi dong, Sayang..."

"Ihhhhsss... Kaaakk... Sabar dulu ahhh..."

"Gimana mau sabar...? Kalo punya cewek secantik dan seseksi kamu, Sayang..." Gombal Roni tak menghiraukan Lala. la lalu membuka kancing seragam Lala dan terus meremasi payudaranya, "Ayoo..

Buka behamu dong, Sayang... Aku pengen jilat putingmu...."

"Ihhhhssss.... Gak mau ah... Nanti ada orang masuk... " Tolak Lala dengan nafas yang sudah berat.

Melihat wajah Lala yang memerah, api cemburu Pandu semakin menggelegak. la tahu, meskipun Lala menolak permintaan cowoknya, nafsu birahinya sedang tinggi-tingginya. Dan ketika birahi keponakannya meninggi, semua perlakuan cabul yang diminta kepada Lala pasti akan ia turuti.

BAHAYA

"Kalo ga kamu bolehin jilat puting... Jilat memekmu aja deh..." Pinta Roni memelas sambil merogoh celana dalam Lala.

"Gak mau... Nanti Ibu pulang..." Tolak Lala mempertahankan celana dalamnya

"Sebentar aja kok..." Sahut Roni terus merayu, "Bukannya tadi Ibumu bilang masih lama pulangnya...?"

"Aku bolehin Kak Roni kerumah khan buat bantu aku jadi model..." Kata Lala sedikit mengingatkan

"lya... Jadi model mah urusan gampang, Sayang... Sekali aku telpon Om aku... Kamu bisa langsung terkenal kok...

"Yaudah kalo gitu... Telpon sekarang aja, Kak..."

"lya iya.. Aku nanti bakalan telpon Om aku kok... Cuman sekarang... Aku udah kangen banget ama kamu nih, Sayang... " Keluh Roni yang merasa tak berhasil membuka baju Lala, ia malah menyingkap rok seragamnya keatas dan mengelus-elus paha muulusnya.


"Ssshhh.. Udah ah Kaakkk... Geli..."

"Paha kamu mulus, Sayang...." Rayu Roni tanpa henti, "Apalagi memek kamu... Bikin aku selalu terbayang-bayang..."

BAJINGAN

"Sejak kapan lelaki sialan itu sudah melihat memek Lala...?" Emosi Pandu dari ruangan sebelah.

"Kapan nih, Sayang...? Kontolku bisa main kesini...?" Tanya Roni sambil mengusap-usap vagina Lala dari luar celana dalamnya.

"Gak mau aahh..."

"Kamu berarti gak sayang aku..." Bisik Roni yang kemudian memindahkan posisinya. Dari awal tiduran disamping Lala, sekarang ia berjongkok. Tepat didepan kedua lutut Lala.

Setelah itu, Roni mengelusin paha dalam Lala, sembari terus mempermainkan paha dalamnya.

Mengantarkan gelitikan-gelitikan penuh nafsu kepada keponakan Pandu itu. Yang membuat Lala perlahan-lahan membuka kedua lututnya, mempersilakan kemesuman jari tangan Roni semakin naik ke selangkangannya.

"Kamu mau ngapain, Kak...?"

"Mau kasih kamu enak..." Seru Roni yang kemudian secara tiba-tiba menyibak celah celana dalam Lala

kesamping lalu mencaplok vagina tembemnya, "HAAAAPPP...!".

"Ooohhhhh..." Lenguh Lala yang secara spontan, malah membuka selangkangannya lebar-lebar.

"Hmmmm... Sedap banget aroma memekmu, Sayang..." Puji Roni ketika hidungnya menghirup bau kemaluan Lala, "Wanginya memabukkan..."

"Ssshhh... Kaak Roni....

" Gelijang Lala sambil menatap sayu kearah Roni.

"Sluurrpp... Lendir memekmu juga... Uhhh... Rasanya... Benar-benar gurih..."

"Ssshhh.. Kak Roni... Uudah aaaahhh Kaaaakk..." Tolak Lala berusaha menjauhkan wajah Roni dari selangkangannya, "Nanti Ibu....

Sebelum Lala sempat menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi Roni menjilati lendir vaginanya dengan ganas, Mencolek, menggelitik, serta mengais lubang kemaluan Lala yang gundul itu. Menggoda syaraf birahi keponakan Pandu itu hingga ia terbang ke langit kenikmatannya

Dan ketika Lala terus memejamkan mata karena kenikmatan birahinya, Roni segera menarik turun celana dalam Lala dengan paksa.

SRRREETTTTT.

"Ahhhh.. Kak Roni...." Protes Lala yang meskipun malu-malu, akan tetapi membiarkan perlakuan mesum kakak kelasnya itu. la sama sekali tak marah. Malahan, Lala menaikkan sedikit pantatnya, supaya Roni bisa dengan cepat melucuti kancut mini itu hingga terlepas dari tubuhnya.

"Ohhh Lala-ku, Sayang....Akhirnya, aku bisa melihat lubang pipismu ini lagi..." Seru Roni kegirangan sembari memijat-mijat kedua bibir kemaluan Lala dengan dua jarinya.

"Ssshhhh... Udah ah kak... Jangan dimainin gitu..."

"Kenapa...?"

"Ssshhh.... Aku malu...."

"Aaaahhh... Kenapa harus malu....?" Tanya Roni, "Harusnya kamu bangga, Sayang... Punya memek special yang mungil dan seksi seperti ini...

"Special...? Memek mah dimana-mana sama Sayang..."

"Enggaklah... Gak ada cewek lain yang punya memek sebagus ini, Sayang..."

"Gak percaya...'

"Beneran.. Memekmu tuh lembut...lmut.... Dan belum tumbuh rambut sama sekali... " Puji Roni tiada henti, "Dan Uuhhhh... Aku yakin... Lubang memekmu ini pasti rasanya sempit sekali..."

"Sotoy deh.... Bisa tahu darimana kali memek aku sempit...?"

"Hmmm.. Ya tahu aja..." Jawab Roni sedikit membual, "Karena memang, baru kali ini aku melihat memek yang secantik lubang pipismu ini, Sayang..."

"lya deh... Yang pakar memek wanita...Hihihi..." Sindir Lala dengan wajah tersipu-sipu. .

"Memekmu tuh ya... Bener-bener memek impian setiap laki-laki, Sayang..."

"Gombal..."

"Beneran.. Makanya aku rela meninggalkan pacar-pacarku, Sayang... Semua demi kamu..."

"lyalaaaahh... Semua demi merasakan memekku..."

"Hehehe.. Kagak, Sayang... Aku bener-bener cinta ama kamuuu..." Ulang Pandu yang kembali menyeruput cairan cinta Lala yang tak henti-hentinya membanjir

SLUURRRPPP... SLUURRRPPP.... SLUURRRPPP...

"Ooouuhhh.. Kaaaakkkk...." Lenguh Lala menggelinjang keenakan.

"Sluurrpp... Enak ya, Sayang...?"

"Bangett...." Jawab Lala dengan senyum dan tatapan mata sayunya.

"Maka dari itu... Boleh yaaa...? Aku mencicipinya sebentar aja..."

"Pake lidah aja khan...?"

"Hehehe... Yaaaa.... Pake ini-lah..." Seru Roni sambil menunjuk kearah selangkangannya yang sudah menggembung besar.

"Gamauk..!"

"Beneran nih gak mau...?" Goda Roni yang kembali menjilati lagi seluruh permukaan vagina Lala.

Membuka kedua pahanya lebar-lebar dan langsung menyerbu ke lubang kencingnya.

HAAAPPP

"Aahhhh... Kaaaaaaakkk.. " Lenguh Lala dengan tubuh melenting-lenting keenakan ketika Roni mengilik celah vagina serta menyedot biji klitorisnya. Tak lupa, tangannya juga meremasi payudara mungilnya sembari menariki putting mungilnya tanpa henti. "Nggghhh.. Kaaakk.. Roni...

HAAPPP.. SLUUURRPPP SLUURRRPPPP

Dari tempat persembunyiannya, Pandu tahu, Lala sedang dilanda dilema. Antara menolak atau mengiyakan keinginan hati mesumnya.

Pandu paham betul jika birahi keponakannya yang cantik jelita itu sudah melambung ke level tertinggi.

Dan gerak geriknya, Pandu bisa menebak, jika beberapa saat lagi Lala akan mendapatkan ledakan orgasmenya.

SLUUURRPPP SLUURRRPPPP

"Aaahhhkkkk... Kaaaakk Roni....Ooohhhh....Enaaakkk Kaaakk... " Erang Lala terus meremasi kepala

Roni

Seperti playboy yang sudah begitu berpengalaman, Roni pun tahu jika orgasme Lala hendak meledak.

Oleh karenanya pemuda tanggung itu pun makin dalam mengais-ngaiskan lidahnya ke vagina Lala.

Membuat tubuh sintal Lala makin kelojotan karena sensasi nikmat yang tak tertahankan.

"Oohhh... Kaaaakkk... Aku mau keluar, Kak..." Jerit Lala sambil meremasi rambut kekasihnya itu, "Aku maaau keeluuaaarrrr.. Hoooohhhh.. Kaaakkk…. Aku keluaaarrrr….!!!"

CREEETIT CREEETTT... CREEEETTT CREEECREEETT CREEEETTTTTTT

Tubuh Lala bergetar hebat. la memejamkan matanya erat-erat hingga alisnya hampir bertautan.

Punggung Lala sampai melengkung kedepan saking dahsyatnya orgasme yang ia rasakan.

"Huuuooohhh.. Kaaaaakk Roooniiiii..." Jerit Lala tertahan.

Melihat pertahanan Lala sedikit mengendur karena gelombang orgasmenya, Roni tiba-tiba bangun dan

celana beserta kancutnya. Lalu setelah telanjang, ia kembali bersimpuh didekat

selangkangan Lala sambil mengarahkan kepala penisnya yang sudah mengeras tepat di depan liang

senggama sempitnya.

"Aku masukin kontolku sekarang ya, Sayang...?" Pinta Roni sambil menggesek-gesekkan kepala penisnya ke vagina Lala. Sekedar melumasi ujung kemaluannya dengan lendir vagina Lala yang sudah

"Aaaaahhhhh... Jangan Kak..." Ucap Lala sambil lemas kehabisan nafas karena orgasmenya.

"Sebentar aja kok.... Pleaaseee..." Sahut Roni memasang muka memelas.

"Jangan ya, Kak... Memek aku masih perawan..."

"Ayolah... Khan nanti kamu bakalan aku nikahin..."

CLEEEEP

Sodok Roni tak mempedulikan penolakan Lala.

"Aaaahhhh..... Kaakk.. Jangan..." Erang Lala sambil mencoba menutup kemaluannya.

"Hehehe... Semakin susah didapetin, aku makin bersemangat mendapatkanmu, Sayang..." Gombal Roni mencoba meraih satu tangan Lala yang menutup selangkangannya, setelah itu, ia lalu mengecupnya pelan sambil terus berusaha menjejalkan kemaluannya maju. "Memang aku ga salah memilih pacar...

Kamu cantik banget kalo lagi sange, Sayang... Seperti bidadari..."

CLEEK CLEEKK CLEEEKK

Suara cipak basah vagina Lala ketika digaruki oleh kepala penis Roni

"Ngggghhhh.. Kaaaakkk.... Jangan dimasukin yaaaahhh..." Lenguh Lala masih tenggelam dalam buaian kata-kata Roni.

Lala yang memang suka dipuji, sejenak terlena dengan gombalan kekasihnya itu. Karena untuk sesaat, setelah mendengar ucapan manis kekasih yang rupawan itu, Lala membiarkan Ronni berbuat lebih jauh.

Lala sampai tak menolak ketika kekasihnya itu menggesekkan kepala penisnya lebih dalam. Hingga kemudian,

CLEEEEPPPP

"Aaahhhhh.... Kaaaaakkk.. Kok kontolnya dimasukiiinnn.... " Jerit Lala kencang ketika kepala penis Roni menyeruak masuk. Membelah liang kewanitaannya dalam-dalam.

"Heeeggghhhh... Sempit banget memekmu, Sayaaannnggg..."

"Jangaaaa Kaaaaa...."

Melihat Roni menggabrukkan pinggulnya maju dan menyodok selangkangan keponakannya, emosi Pandu seketika itu meradang. Dadanya panas. Seolah ada kobaran api yang membakar kesabarannya.

Nafasnya mendengus, seperti banteng yang terkena panah.

"LELAKI BAAJINGAAAANNNN BANGSAAAT.... MEMEK SEMPIT LALA ITU PUNYAKUUUU...!!!" Geram Pandu sambil bersungut-sungut penuh emosi, "DAN ORANG YANG BERHAK MENGAMBIL MEMEK PERAWAN LALA... ITU AKUUUU…...!!!" Sambungnya mengambil ancang-ancang.

Namun, sebelum Pandu sempat menghambur masuk. Tiba-tiba terdengar suara kencang dari dalam ruang tamu. Disusul oleh suara debam jatuh yang begitu keras.

DUUUGGGG

GUBRAAAAAKKK

"Nggak mau.. Kaaakkk...!!!" Jerit Lala terdengar emosi.

Mendengar suara teriakan Lala, buru-buru Pandu mengurungkan niatnya. la kembali bersembunyi sambil mengawasi kondisi keponakannya.

"Aku gak mau, Kak... " Ucap Lala tegas sambil membetulkan posisinya.

"Ayolah.. Sedikit aja kok.. Ujungnya aja deehh..." Sahut Roni yang berusaha bangkit dari lantai.

Rupanya, kegaduhan barusan adalah suara ketika Roni terjatuh dari sofa akibat tendangan kaki Lala.

"Nikahin aku dulu... Baru kamu bisa dapetin memekku...!!" Seru Lala bersikukuh.

"Itu... Gak mungkin Sayang... Apa kata orang kalo aku nikahin kamu yang masih sekolah menengah ini....

"Lalu...?" Tanya Lala

"Palingan nuggu kamu 18 tahun dulu yaaa... Baru setelah itu kita bisa nikah..." Rayu Roni lagi terus mencoba mencolek kemaluan Lala dengan penisnya.

"Yaudah... Kalo gitu kamu harus nunggu sampe aku 18 tahun..."

"Tapi aku khan sayang banget ama kamu, Lala.. Pleaseee... " Ucap Roni kembali memohon didepan kedua lutut Lala yang masih terbuka. Bersimpuh sambil terus mengusap-usap kaki mulus Lala pelan.

"Gak mau, Kaaakk..."

"Yaudah dehhh... Kalo emang kamu ga mau kontolku masuk memek... Aku gesek-gesekan kepala

kontolnya aja dulu deh..." Lanjut Roni terus berusaha.

"ААААННН.. ALESAAN BAAASSSIIIII....!!" Rutuk Pandu mendengar kalimat pemuda sialan itu. Karena apa yang ia lakukan barusan, benar-benar mengingatkannya pada Winda dulu.

"Boleh, yaaa...?" Tanya Roni memelas,

"Pleeeaasseeee...."

"Bener nih...? Cuman gesek-gesekin kepalanya aja...?" Jawab Lala

"lya...Beneran..."

"Ga sampe masuk...?" Ulang Lala mencoba mamastikan.

"Suer...." Jawab Roni tak henti-hentinya berusaha menenangkan Lala.

Roni memang playboy sejati. Karena tak beberapa lama kemudian, ia sudah berhasil mengambil sedikit kepercayaan Lala lagi. Seperti seorang penembak jitu, Roni pun sangat telaten dan tak terburu-buru.

Berkali-kali, ia mengusapkan tangannya ke paha dan lutut Lala, guna mengembalikan rasa tenang dihatinya.

"Percaya deh ama aku, Sayang.... Aku ga bakalan bohongin kamu kok..." Bisik Roni sambil terus tersenyum lebar. Hingga kemudian, lelaki tanggung itu berhasil merebahkan tubuh Lala dengan paha yang kembali terentang lebar.

KAMPREEEETTIT...

Untuk sesaat, Pandu terpukau dengan cara bercumbu kekasih Lala itu. la heran, bagaimana cara Roni bisa membuat wanita bertekuk lutut kepadanya. Membuat wanita yang awalnya menolak, pada akhirnya mau menuruti permintaan cabulnya.

Pandu tahu, ini salah. Disatu sisi, Pandu harus bertindak sebagai seorang Paman, yang harusnya menjaga keselamatan serta kehormatan Lala. Namun disisi lainnya, Pandu juga masih penasaran dengan kelanjutan percumbuan Roni dan Lala.

Memang, pada awalnya Pandu ingin membubarkan perbuatan mesum dan mendamprat muda-mudi yang sedang dimabuk birahi itu. Namun ujung-ujungnya ia mengurungkan diri. Pandu lebih memilih untuk memuaskan rasa ingin tahu lebih lanjut, ketimbang ngamuk dan kehilangan kesempatan menimba ilmu dari kekasih Lala itu.

CLEEK CLEEKK CLEEEKK

Tak lama, suara cipak basah liang senggama terderangar begitu nyaring. Disusul dengan desah dan lenguhan Lala yang tak kalah erotis keenakan. Gimana tak merasa enak jika dalam satu waktu, Lala mendapat dua kenikmatan berbeda. Satu di area payudaranya yang terus dihisapi Roni terus-terusan.

Lalu di vaginanya yang juga digesek oleh penis Roni tanpa henti.

"Oooohhh... Kontolnya...Jangan dimasukin, Kaakk.. Digesek-gesek ajaaa..." Erang Lala kelojotan karena perlakuan cabul kekasihnya.

"Hhhhh...Hhhhh.. Kamu cantik, Laaa..." Sahut Roni terus mengayuh pinggulnya. Menggesek kemaluan kekasihnya sambil terus menghisap dan meremasi payudara Lala

CLEEK CLEEKK CLEEK CLEEKK CLEEEKK

"Oooohh... Kak Roniiii.. Ssshhhhh... Cepetin gesekin kontolnya, Kaaakk... Aaaku mau keluar..." Jerit Lala yang tiba-tiba mencengkram pantat Roni kuat. Seolah meminta kekasihnya itu untuk semakin cepat menggesekkan penisnya.

"Kamu mau keluar lagi...?" Tanya Roni dengan teduh dan tersenyum.

"Oouuuhhhhh... lya Sayang... Aku mau keluar lagiiii... Ooohhh.. Enaaaakkkk..." Desah Lala dengan mata setengah terpejam.

"Kamu mau ngerasain yang lebih enak lagi ga, Sayang...?"

"Mau banget...."

"Kalo kamu yang lebih enak lagi... Lebarin lagi bukaan pahamu, Sayang..." Pinta Roni memberi saran sambil terus menjilati payudara Lala.

"Begini...?" Sahut Lala seolah tunduk akan permintaan Roni.

"lya..." Senyum Roni yang kemudian menekan pinggulnya kebawah guna menggesekan penisnya lebih

kuat lagi ke vagina Lala..

CLEEK CLEEKK CLEEK CLEEKK CLEEK CLEEKK CLEEK CLEEKK

"Huuuooohhh.. Kaaaaakkkk.... Enaaaaakkkkk..." Desah Lala kelojotan, "Kalo gini terus... Aku mau keluuaarrrr... Ooohhh... Ngennnntttoooottttttt…..!!!"

"Kenapa La...? " Goda Roni sambil tersenyum girang, "Ngentot...?"

"Ooohhh.. Ngeeeenttttooootttttt..... Aku keluaaar Kaaaaakkkk... Aku keluaaarr..!!!"

CREEETTT CRRREEETTT... CREEEETTT CREEECRRRREEETT CREEEETTTTTTT Tubuh Lala kembali bergetar hebat untuk kedua kalinya. Mengejang dan mengejat, sambil terus berteriak-teriak keenakan. "Oohhh. Kaaakk.. Aku keluaar... Oooohhh.... Ngentooottt.... Enaaaakkkk...."

Melihat Lala tenggelam dalam orgasmenya, Roni tersenyum penuh arti. Dan dengan tatapan setengah mengejek, kekasih Lala itu pun tiba-tiba mengarahkan kepala penisnya kebawah. Menuju ke lubang kemaluan lala.

CLLLEEEEPPP

Roni mendorong ujung kemaluannya kuat-kuat kecelah senggama Lala. Menekan liang becek nan sempit itu hingga kepala penisnya mulai terbenam secara perlahan.

"Hhhheeeeegggghhhhh.. " Erang Roni terus berusaha merangsek maju. Menjebol gawang selaput dara

Lala sekuat yang ia bisa.

"Eehhh.. Sayang...? Kamu mau apa....?!!" Kaget Lala ketika merasakan lubang kemaluannya dijejali oleh daging keras yang memaksa bibir vaginanya melebar dengan tiba-tiba

"Aku mau ngentotin memekmu, Sayang...." Senyum Roni sambil terus memajukan pinggulnya.

"Ehhhh.....? Jangan Kaaaakkk..."

"Aku tak tahan lagi, Sayang.... Oohhhh.... Aku pengen ambil perawanmu...."

"AAAAARRRGGGHHHHHH... KAAAKKK.... JANGAAAANNNN..." Jerit Lala melolong panjang.

Merasa keselamatannya terancam, Pandu segera menghambur masuk. Menerjang kearah Roni dan menyerang pemuda tanggung itu dengan membabi buta. Menendang samping punggung kekasih Lala itu hingga ia terguling kesamping dan menabrak meja.

BRAAAAAAKKKKK

"BAJIIINGAAAAAAAAANNNN....!!!!!! MAU KAU APAIN MEMEEEKK KEPONAKANKUUU...!!!" Teriak Pandu yang segera melanjutkan serangannya. Menghajar wajah Roni berkali-kali hingga hidungnya berdarah dan beberapa giginya tanggal.

BAG BUG BAG BUG BUG BUG

"Sekali kau rusak Lala... Kau bakal berhadapan denganku...!!" Teriak Pandu sambil menyeret Roni yang masih telanjang bulat keluar dari rumah kakak kandungnya.

"Ampun Ommm.. Ampunnnn..." Jerit Roni sambil berusaha melepaskan diri.

Tiba-tiba, ketika Roni hampir terseret keluar rumah, Lala menghadang Pandu. la mendorong tubuh Pandu supaya tak mempermalukan kekasihnya lebih lanjut. Setelah itu, Lala menangkup kaki Pandu dan memeluknya erat. Sekuat tenaga, Lala berusaha mencegah Pandu supaya tak lagi menyerang Roni lebih Lanjut.

"Jangan Om... Jangan... " Teriak Lala memohon sambil terus mendekap kaki Pandu. "Tolong... Jangan sakitin Kak Roni ya, Ommm..."

Melihat wajah melas Lala saat berusaha menyelamatkan kekasihnya, membuat Pandu buru-buru menarik nafas panjang. Terlebih melihat tubuh telanjang Lala yang bersimpuh dikakinya, membuat hati Pandu mendadak Iba.

"Kak Roni.... Kamu pulang dulu sana..." Pinta Lala pelan tanpa melepas dekapan di kaki Pandu.

"liiyyaa..." Sahut Roni menyeka darah yang terus mengucur dari hidungnya, "Maafin aku ya, Laa..." Sambungnya lagi sambil buru-buru mengambil pakaiannya yang teronggok diatas lantai

"BURUAN PERGI KAU BAJINGAN...!!!" Teriak Pandu lantang sambil berusaha memukul kekasih Lala dengan tangannya yang bebas, "AWAS AJA SAMPE KEMBALI MENDEKATI LALA..!!!" Sambungnya

sambil merampas pakaian Roni yang belum sempat ia kenakan.

Bersambung,



Posting Komentar

0 Komentar