pandu dan lala part 18

 



tawaran menarik




"Eeehh...? Apa...?" Kaget Rahma buru-buru menatap wajah Pandu, "Kamu tahu darimana...?"

"Ehhh...?" Panik Pandu

"Kok kamu bisa tahu kalo Mbakmu sudah gak perawan...?"

"Aduuuhhh... Mampus aku..." Keluh Pandu yang benar-benar tak mampu mencari kalimat jawaban.

"Anu Bu... Itu... Aku.... Aku tahu karena...." Pandu mengarahkan tatapan matanya ke batang penis yang masih berada dalam kocokan tangan Ibunya.

"Yaaaaa...?" Sahut Rahma yang juga melirik keara yang sama

"Karena kepala titit aku... Udah... Nggg... Masuk ke memek Mbak Winda.."

"Kepala titit ini...?" Sahut Rahma

"lya..."

"НАНАНАНАНА..." Ibu Pandu mendadak tertawa terbahak-bahak, "Jadi kalo kamu ngerasa kepala titit ini udah masuk ke memek Mbakmu... Itu tandanya memek Mbakmu udah ga perawan lagi ya, Dek...?"

"lya..."

"Hahahahaha...." Sambung Rahma masih terus tertawa.

"Maaf ya, Bu... Kalo Pandu berbuat salah..." Ucap putra Rahma itu sambil menunduk.

"Pandu... Kamu lihat ada darah di memek Mbakmu ga...?" Celetuk Ibu Pandu sambil membuka belahan vagina Winda.

"Ngggg.. Nggak ada..."

"Terus pas kamu tadi nusuk memek Mbakmu... Kamu lihat nggak...? Ada darah di kepala tititmu ...?"

Tanya Rahma lagi

Pandu menggeleng.

"Kalo ga ada darah sama sekali... Kira-kira perawan memek Mbakmu, masih ada apa nggak...?"

"Ngggg... Berarti Mbak Winda masih perawan, Bu...?"

"Yaaa. Moga-moga aja begitu..."

"FIUUUHHHH...." Jawab Pandu spontan

"Kenapa kok menghela nafas seperti itu, Dek...? Kamu lega ya...? Tahu kalo memek Mbakmu masih perawan...?" Bisik Rahma yang kembali melanjutkan mengurut sekaligus mengocok penis putranya,

"Atau jangan-jangan... Kamu kecewa, karena ga berhasil membobol memek Mbakmu...?"

"Hmmmm.... Dua-duanya, Bu..." Jawab Pandu singkat, "Lega sekaligus penasaran..."

"lilihhhssssss... Dasar cowok.... Maunya dapet dua-duanya ya, Dek...?" Seru Rahma yang secara mendadak mempercepat kocokan tangannya. Membuat Pandu seketika kelojotan mendapat kenikmatan yang tiba-tiba.

TEK TEK TEK TEK

"Ngggghhhhh.. Ampun Buนนน

"Tahu nggak yang kamu lakuin tadi tuh salah...?"

"lya Bu... Aku salah...

TEK TEK TEK TEK TEK TEK

"Tapi masih ngarepin memek Mbakmu...?"

"Vuuhhhhh.. Ssshhhh. lya Buuuu.... Oohhh. Ampun Buuuu...."

TEK TEK TEK TEK TEK TEK

"Beneran masih ngarepin...?"

"Kalo Ibu ngebolehin..."

PAAAKKK

"Ga anak... Ga bapak.. SAMA AJA....!!!" Seru Rahma yang kali ini melepas penis Pandu dan menampar batang panjang putranya. "Udah ketangkep basah berbuat cabul ke Mbakmu... Masih aja pengen ngelanjutin... Dasar OTAK CABUL...."

"Maa.. Maap Buuu...." Jawab Pandu ketakutan

"Segitu pengennya ya kamu ngentotin memek Mbakmu...?" Selidik Rahma

Pandu tak menjawab, ia hanya mengangguk sambil menatap kearah kaki Ibunya yang berada jauh di lantai. Dengan sungkan, Pandu juga menutupi batang penisnya yang tegang dari tatapan Rahma.

"Hhhhhh... Baiklah... Kalo memang kamu pengen banget seperti itu... Ibu bakalan bantuin..." Ucap

Rahma sembari menyingkirkan tangan Pandu dari selangkangannya

"Bantuin.... Apa ya, Bu...?"

"Yaaaa Bantuin hal yang kamu pengenin..."

"Haahhh...?" Kaget Pandu dengan wajah yang mendadak berseri-seri, "Serius, Buuu...?"

"lya... Asal kamu janji dulu...

" Sahut Ibu Pandu, "Kalo Ibu bantuin... Kamu ga akan melakukan hal

menjijikkan seperti ini lagi ya....."

"Mmmm... Menjijikkan...?" Jawab Pandu agak bingung, mengenai maksud sebenarnya dari kata

'menjijikkan' itu.

"Gimana...? Kamu mau nggak...?" Tanya Rahma sambil tersenyum lebar

"OKELAH... AKU MAU BU..." Jawab Pandu tanpa berpikir lagi.

"Oke.. Kalo gitu... Sini... " Kata Ibu Pandu sambil menarik penis putranya maju, kemudian Rahma melepas daster tipisnya, tepat didepan wajah Pandu.

"Nggggg..." Bingung Pandu

"Sini....! Ibu tidak bisa membiarkan putra kesayanganku berubah menjadi lelaki mesum yang suka menggagahi wanita ketika ia tak sadarkan diri..."

"GLEK..."

dalam mininya.

Suara kerongkongan Pandu ketika melihat Ibu kandungnya, telanjang dengan hanya menyisakan celana

"Kamu suka, Dek...?"

"Su... Suka Buuu..." Jawab Pandu masih terkaget-kaget, "lbu seksi..."

"Bisa aja kamu merayu, Sayang..."

"Beneran... Ibu cantik.... Dan bikin aku...Ng...."

"NG....NGACENG.... Hihihihi..." Goda Rahma terus melumat kepala penis Pandu dengan telapak tangannya, "lya... Ibu lihat kok..."

"Ooohhh.. Ibuนนนน.."

"Hmmm.. Ternyata titit kamu ini udah besar juga ya, Dek... Ini titit... Udah mirip seperti punya Bapakmu,

Hihihi..." Kekeh Rahma sembari terus mengocok penis Pandu.

"Ssshhh... Buuu...

"Enak Ya..?"

"Hooh...

"Hmmm.. Makin besar aja nih titit... Sampe urat-uratnya sampe bertonjolan begini... " Celetuk Ibu Pandu ketika melihat penis putranya yang makin berkedut keras, " Kalo segini mah namanya udah bukan titit lagi, Dek... Tapi KONTOL..."

"Ngggghhh....

"Mbak Windamu ini pernah ngocokin kontolmu, Dek....?" Tanya Rahma gemas. Mencengkeram batang kemaluan Pandu kuat-kuat sembari terus mengocoknya kencang.

"Nggggg..."

"Hihihi... Jawab aja Dek... Ibu ga bakalan marah kok..." Kekeh Rahma melihat raut wajah putranya gelagapan, "Pasti pernah khan...?"

Merasa ada ketenangan pada senyum Ibunya, Pandu pun mengangguk.

"Hhhhh... Ternyata.... Nakal juga Mbakmu satu ini ya, Dek......?"

"Ooohhh... Sshhh... Buuu..... Pelan-pelan...." Lenguh Pandu

"Terus... Kalo kamu... Pernah pegang tetek Mbakmu ga...?" Selidik Rahma

"Nggg... lyaaa... " Jawab Pandu malu-malu, "Pernah Bu..."

"Coba dong... Tunjukin... Kaya gimana kamu megang tetek Mbakmu..." Sahut Rahma lagi sambil mengamit tangan Pandu dan meletakkannya di payudara telanjang Winda yang masih terbuka.

"Ehhhh... ?" Kaget Pandu buru-buru menarik tangannya

"Loh...? Kok malu...? Gapapa, Dek... Kasih tahu aja... Ibu pengen lihat gimana caramu meremas tetek

Mbakmu..." Pinta Rahma kembali meletakkan tangan Pandu pada payudara putrinya.

"Nggggg... Aku..." Bingung Pandu

"Kamu kamu malah ngelihat Ibu kaya gitu, Dek..?" Tanya Rahma ketika Pandu tak melakukan apa yang ia pinta. Alih-alih meremas payudara putrinya, Pandu malah melihat tatapan aneh Pandu pada

payudaranya.

"Nggg. Enggak kok Bu..." Jawab Pandu buru-buru mengalihkan tatapan matanya

"Hmmmmm... Jangan-jangan... Kamu penasaran ama tetek Ibu ya...?" Celetuk Rahma yang langsung meremas satu payudaranya yang juga tak tertutup apa-apa kehadapan Pandu.

"Nggg..Aku...." Jawab Pandu kembali melirik kearah tonjolan montok yang menggelantung indah di

dada Ibunya

"Sok... Pegang aja tetek Ibu..." Ucap Rahma yang dengan sigap, meletakkan tangan Pandu di satu payudaranya.

NYOOOTTTT

"Astaga," Kaget Pandu terpesona, "Empuk banget, Buu..."

"Hihii.. Empuk mana dengan punya Mbakmu...?"

"Empukan Ibu..." Jawab Pandu spontan yang hanya bisa mengagumi keindahan payudara Ibunya.

Meskipun sama-sama terlihat lezat, putting Ibunya lebih besar daripada puting Winda. Mungkin itu karena putting Ibu sudah pernah dipergunakan untuk menyusui.

TEK TEK TEK TEK TEK TEK

Lagi-lagi, Ibu kembali membelai penis Pandu. Menyentak batang kemaluan itu keras-keras hingga precum penis putranya itu semakin meleleh, keluar dari mulut kemaluannya

"Ooohhh. Ibuuu...." Lenguh Pandu makin belingsatan.

"Gimana rasanya..?"

"Oohhhh..Ssssshhh.. Rasanya enak sekali, Bu," Erang Pandu sambil terus meremasi kedua payudara

Rahma secara bergantian.

"Kamu udah mau keluar...?" Tanya Rahma dengan nafas yang mulai mendesah-desah.

"Ngggghhh... Masih lama... " Sahut Pandu sedikit berbohong.

Meskipun Pandu sudah begitu ingin meledakkan spermanya, akan tetapi ia harus menahannya sekuat tenaga. Putra Rahma itu mendadak ingin tahu lebih lanjut, sejauh mana perlakuan cabul mereka bisa terus berjalan.

"Udah lama kalian melakukan hal seperti itu...?" Tanya Ibu Pandu lagi

"Ooohhh. Lumayan, Buuu..

"Mbakmu juga pernah nyepong kontolmu...?"

"Hhhhhh.. lyaaa..."

"Kalo kamu...? Apa pernah jilat memek Mbakmu....?"

"Pernah...."

"Berarti... Kalian sudah melakukan tindakan cabul ini cukup jauh ya...?" Ucap Rahma mencoba menarik kesimpulan, "Kalian udah saling menikmati tubuh masing-masing...? Yang belum hanya tinggal ngentot..."

Merasa Pandu sudah sering bertindak cabul seperti ini, tangan Rahma pun berhenti memompa penis putranya. Setelah itu, ia merebahkan sedikit tubuhnya disamping Winda yang masih tertidur.

"Kamu masih pengen ngentotin lubang memek Mbakmu ini, Dek...?" Tanya Rahma yang kemudian menggoyang tubuh Winda. Mencari tahu, apakan putrinya itu benar-benar tidur atau tidak.

"Pengen banget, Buuu..."

Lalu, ia membuka lubang celana dalamnya kesamping, dan memamerkan vaginanya yang sudah begitu basah. "Kalo lubang yang ini... Kamu pengen entotin juga nggak...?"

ASTAGAAAA

Mata Pandu melotot. Mulutnya menganga.

la seperti tak percaya dengan pertanyaan Ibunya barusan.

"Mak.. Maksud Ibu...?"

"lya... Kamu pengen ngentotin memek Ibu nggak...?"

"Ki.... Kita mau .. Gi..Gituan di sini, Buuu....?" Tanya Pandu dengan kalimat terbata-bata

"lya... Mau nggak...?"

"Yuk yuk.. Aku mau Buuu..." Jawab Pandu spontan sambil segera mengambil ancang-ancang. Naik keatas kasur dan meraih paha Ibunya, "Eh tapi..Mba Winda gimana, Buu...?"

Rahma kemudian menatap putri kandungnya sekali lagi. Menggoyang tubuhnya pelan, lalu tersenyum lebar sambil meraih kepala penis Pandu.

"Biarin aja... Mbakmu ini... Kalo udah tidur... Bakalan susah bangun..." Seru Ibu Pandu yang langsung menarik penis putranya dan mengarahkan kearah liang kemaluannya, "Ayo Dek.. Tunjukin ke Ibu...

Segimana pengennya kamu ngentotin memek wanita..."

Mendengar kalimat Rahma, mata Pandu langsung berbinar-binar. la sama sekali tak mengira dengan nasib mujur yang ia dapatkan saat itu. Alih-alih dimarahi ketika tertangkap basah menggauli vagina kakaknya, Pandu malah mendapat kesempatan merasakan vagina Ibu kandungnya.

"Ooohhh. Ibuuuuu..." Jawab Pandu singkat, "Makasih Buuu...." Sambung Pandu sambil mengecupi pipi

Rahma berkali-kali.

"Udah-udah... Jangan kelamaan... Sekarang buruan sini.. Deketin kontolmu ke memek lbu..." Ucap Rahma yang dengan sigap menempatkan kepala penis Pandu dan menempelkannya ke liang vagina beceknya, "Sekarang... Dorong kontolmu maju, Dek...".

CLEEEEEPPP

"Ohhhhh... " Lenguh Pandu ketika kepala penisnya mulai menyibak vagina Ibunya.

"Ssshhh.... Dorong terus, Dek... Lebih kenceng lagi...."

"Ngggghhh... Memek Ibu... Hangat banget...!!!" Erang Pandu ketika kali ini merasakan kepala penisnya diselimuti oleh kelembutan dan kehangatan yang luar biasa.

"Ssshhh.. lyaa... Sayang...." Desah Rahma sambil menggapai pantat Pandu, dan memintanya terus bergerak maju, "Ohh... Terusss... Dorong kontolmu terusss... Masukin lebih dalem lagi..."

CLEEEEEPPPPPPP

Semakin Pandu mendorong kepala penisnya maju, semakin kencang juga jepitan lubang kemaluan Ibu.

Dan sensasi itu yang membuat tubuhnya seketika merinding. "Oh Ibu...." Erang Pandu secara spontan.

"Sssttt.. jangan berisik... !" Sahut Rahma mengingatkan.

"Enak Banget,

Buuuu..." Dengus Pandu yang semakin menyodok kencang liang sempit Ibunya. Iya

seolah baru tersadar dengan apa telah ia lewatkan selama ini.

"Ssshhh.. Adeekkk... Diem aahhh...." ahut Rahma yang buru-buru membungkam mulut Pandu.

"Ngh.. Ngh.. Ini beneran enak, Buuu..." Balas Pandu yang tidak pernah tahu betapa nikmatnya rasanya sebuah vagina. Tangannya mencengkram pinggul Rahma, sembari terus menekan batang penisnya lebih dalam. Sedikit demi sedikit kemaluannya ditelan oleh vagina manis Rahma. Sehingga tak lama kemudian, Pandu merasakan kepala penisnya menabrak sesuatu.

"Uuuhhh.. Mentok Dek..." Erang Rahma sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Mencoba menahan nikmat yang ia rasakan dari kepala dan batang kemaluan putra kandungnya.

"Sshhh...Tapi kontolku belum masuk semua, Buuu..."

"Ssssshhhh.... Itu artinya... Kontol kamu kepanjangaan, Deeekk..." Jelas Rahma sembari mengatur posisi ternyamannya. Mencoba menempatkan pantatnya supaya lubang kemaluannya bisa menerima sodokan penis Pandu lebih dalam lagi

"lya... Kontolku ga bisa maju lagi, Buuu... Kayanya udah nabrak ujung memek Ibu..."

"Hhhhh... Kontolmu nabrak rahim Ibu, Dek..." Lenguh Rahma sembari melebarkan kedua pahanya kekanan dan kekiri, "Ssshhh... Sekarang. Coba goyang kontolmu maju mundur..."

Dengan gerakan patah-patah, Pandu mencoba melakukan apa yang Ibunya minta. la menarik dan menusuk batang penisnya kedalam kemaluan licin Ibu kandungnya dengan gerakan superpelan.

Pandu tahu, titik ejakulasinya sudah semakin mendekat, oleh karenanya sebisa mungkin ia harus bertahan, supaya bisa memberikan kenikmatan orgasme yang setara pada Ibunya.

PLAK PLAK PLAK

Suara persetubuhan amatir Pandu, mulai menggema di kamar Winda.

"Anjimmm.. Kontolmu, enak banget, Dek..." Erang Ibu sambil meremas sprei.

• . .M Pandu yambl petima splangan komampuan berkata-

kata karena makin tak sanggup lagi menahan sensasi kenikmatan jepitan vagina Rahma.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

Sambil memejamkan mata, Pandu terus menyodokkan penis besarnya masuk dan keluar. la sengaja mengosongkan pikiran supaya, ritme sodokannya bisa lebih kuat dan lama. Keringatnya bercucuran dan tak sedikit yang menetes jatuh membasahi payudara Rahma.

Melihat Pandu yang terus memejamkan mata, Rahma hanya bisa tersenyum sambil mengusap rambut putranya. la tak pernah mengira, jika malam ini, ada penis lain selain milik suaminya yang mengisi kekosongan serta kegatalan vaginanya.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

Alis Pandu bertaut, dan giginya gemeretak. Tanda jika putra kandungnya sudah tak mampu lagi menahan ejakulasinya.

"Kalau mau keluar, bilang-bilang ya, Dek..." Ucap Rahma yang sanat tahu, jika Pandu sebentar lagi akan keluar. Oleh karenanya, ia sengaja melebarkan pahanya, supaya jepitan vaginanya tak terlalu memberikan banyak beban kepada penis putra kandungnya.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

"Pokoknya... Jangan buang pejuhmu didalam memek Ibu..." Ucap Rahma mewanti-wanti, "Ibu sekarang sedang dalam masa subur..."

"Ke.. Kenapa, Buu..?" Tanya Pandu yang seolah tersadar dari ketuliannya.

"Ibu bilang... Jangan keluarin pejuhmu di memek Ibu... Ibu bisa hamil"

"Ooohh.. lyaa... Buuu..."Sahut Pandu yang secara spontan, makin mempercepat sodokan pinggulnya. la mencengkram paha Rahma, dan menghantamkan kemaluannya keras-keras kedalam vaginanya.

Ketika Pandu mendengar kalimat Rahma yang bisa menghamilnya, membuatku Pandu menjadi semakin bersemangat. la mendadak ingin melihat Ibu kandungnya itu hamil. Penisnya makin mengeras, dan tenaganya makin tak terkontrol.

"Pejuhku bisa membuat Ibu bisa hamil...?"

"Ibu mengandung anakku dirahimnya...?"

"Ohhh Ibuนนน..."

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

Pandu mendadak lepas kendali. Birahi Pandu meledak-ledak.

"Ooohhh... Ibuuu.... Ssshhh... Enak banget memekmu, Buuu.. oohhh.. Enaaakkk.. " Erang Pandu sambil mencengkeram paha Rahma. Menghentakkan pinggulnya keras-keras ke vagina Ibunya, tanpa khawatir jika suatu ketika spermanya akan meledak didalah kemaluannya.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

Merasa ada sesuatu yang tak beres, Rahma tiba-tiba menggeliat, "Dek.. Kamu mau keluar ya...?"

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

"Dek...? Oohhh.. Dek... Jangan keluarin didalem, Dek... Jangan....!" Erang Rahma mencoba mendorong tubuh Pandu dari selangkangannya.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

"Oohhh.... Maafin aku Ibuku Sayaaaangg... Ssshhhhhhh.. Memek Ibu terlalu enak untuk disia-siakan...

Nggghhh..." Erang Pandu yang tiba-tiba menggeram karena tak sanggup lagi menahan gejolak orgasme yang hendak meledak dari dalam dirinya. Oleh karenanya, ia memompa batang penisnya lebih keras dan lebih dalam lagi

PLAAAAKKK PLAAAAKKK PLAAAAKKK PLAAAAKKK PLAAAAKKK PLAAAAKKK

"Ooohhh.. Ibuu.. Aku keluaarrr...!!!"

"Oh tidak.. Shhh.. JANGAN DIDALEEEMM, DEEEKKK.. Oohh... " Jerit Rahma

"MAAFIN AKU BUUUU..." Sahut Pandu terus menggeram.

CROOT CROOT CROOOTCROOT CROOT CROOOTTT

Penis Pandu menegang dan berdenyut dengan hebat. Zakarnya memompa dan mengeluarkan seluruh perseduaan air maninya ke dalam rahim Rahma.

Dan anehnya, ketika Pandu menyemprotkan persediaan benih kejantanan didalam rahimnya, Rahma pun merasakan kenikmatan yang serupa. Vaginanya berdenyut hebat, disertai kejangan nikmat dan rasa hangat yang menjalar ke seluruh syaraf tubuhnya.

CREEETT CREETT CREECEEETTT CREEETTT CREEETTTTT

"Nggg... Dekk.... Oohhh... ASTAGA DEEEKK ... IBU JUGA KELUARRR..." Erang Rahma yang dengan sekuat tenaga, mencengkram lengan Pandu. Melebarkan kedua pahanya, menerima sisa-sisa sodokan kasar penis putranya ketika menyetorkan benih segar kedalam rahimnya. "Oohh.... ANJJJIIIIIMMM...

Panduuuhhh... Ibu keluar..!" Sambung Rahma sambil menancapkan kuku-kukunya kekulit putranya

Pandu dan Rahma, mereka berdua mengerang dengan hebat.

Memeluk dan menempelkan tubuh telanjangnya lekat-lekat. Mereka berdua lalu berciuman. Saling lumat, lilit dan bertukar ludah. Berdua, mereka berharap masih bisa mendapatkan lanjut gelitik orgasmenya yang dahsyat.

Dalam sisa-sisa

orgasmenya, Pandu pun masih terus menggerak-gerakkan pinggulnya. Seolah terus

berusaha mengirimkan sisa-sisa benih segar penisnya ke dalam vagina Ibunya.

BRUUUGGG

Tubuh Pandu yang kelelahan ambruk diatas tubuh Rahma. Menimpa payudara Ibunya yang bulat sambil terus mengecupi mulut wanita yang telah melahirkannya itu tanpa henti.

"Hhhhggg... Kepinggir sebentaran Dek... Badan kamu berat banget... Ibu gak bisa nafas" Ucap Rahma dalam sisa-sisa orgasmenya.

"Hhhh... Hhhh... Hhhh... Aku minta maaf, Bu," Ucap Pandu terengah-engah sambil menjatuhkan dirinya kesamping.

PLOOOPP...

Penis Pandu terlepas dari vagina Ibunya. Membuat sperma segarnya merembes keluar dan membasahi sprei yang mereka tiduri. Bukannya marah, Rahma malah tersenyum dan mengusap rambut putranya.

"Gapapa, Dek... Ibu ngerti kok... Kamu pasti tak bisa ya menahan orgasmemu ketika merasa jepitan memek Ibu, ya...?"

"lya... Maafin aku, Bu... Kalo nantinya Ibu jadi hamil. " Ucap Pandu penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa.. Itu bisa diatur kok..." Jawab Rahma yang kemudian menyeka sisa-sisa benih kejantanan Pandu dengan kancut mininya.

"Sekali lagi... Maafin aku, Buu...

Kamar Winda yang semula terasa berisik itu tiba-tiba hening. Hanya terdengar suara desah nafas yang saling kejar-kejaran. Tanpa bersuara, Pandu dan Ibunya hanya bisa bertatap-tatapan. Memikirkan ulah cabul yang baru saja mereka berdua lakukan

Begitupun dengan hawa kamar Winda yang semula panas, mendadak terasa dingin. Saking dinginnya, kulit Rahma sampai merinding ketika putting payudaranya di sentuh putranya.

"Mbak Winda masih tidur, Bu...?" Tanya Pandu Pandu pelan.

Buru-buru, Rahma menengok kearah putrinya yang terbaring disebelahnya. "lya... Sepertinya masih tidur..." Jawab Rahma ketika memperhatikan mata Winda yang masih terpejam. Begitupun dengan posisi tubuhnya juga tak berubah sedikitpun, "Kenapa...? Kamu masih pengen nyabulin Mbakmu.. ?"

"Enggak Buu..." Sahut Pandu memeluk tubuh Ibunya."

"Atau kamu pengen ngentotin memek Mbakmu lagi..?".

Mendengar pertanyaan Ibunya, Pandu hanya tersenyum.

la mempererat pelukan pada tubuh Ibunya sambil mengecupi pipi serta bibirnya.

"Kalo kamu besok-besok pengen ngentot... Dateng aja ke Ibu ya, Dek..." Ucap Rahma disela kecupan bibir putranya.

"Lalu Ayah...?" Tanya Pandu

"Biar Ayah jadi urusan Ibu..." Sahut Rahma,

"Yang jelas... Ketika kontolmu pengen dipuasin... Jangan

minta ke Mbakmu... Kasihan... Dia sebentar lagi mau menikah..."

"lya Ibuku, Sayangg... Pasti CUUPP..." Tutup Pandu mengecup mulut Ibu kandungnya. Lagi-lagi, Pandu mempererat pelukan tangannya. Saking eratnya, jangkauan lengan Pandu sampai ketubuh Winda yang masih tertidur diam disebelah Ibunya.

Tanpa sepengetahuan Rahma, Pandu meraba selangkangan Winda yang masih tak tertutup daster itu.

Kemudian mencolek celah kemaluan kakak kandungnya yang sudah membanjir basah, sambil terus menciumi mulut Ibunya tanpa henti.

bersambung

Posting Komentar

0 Komentar