pandu dan lala part 17

 




kecepolsan


"ASSSTAAAGAAAA..PANDUU...!" Jerit seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar

WInda. "APA YANG KAMU LAKUKAN PADA MBAKMU....?!"

Dengan cepat, Rahma, Ibu Winda dan Pandu, bergegas masuk kedalam kamar putrinya. la lalu menyapu kamar mungil itu kemudian melangkah kearah meja belajar. Setelah itu, ia meraih majalah yang ada tumpukan teratas, menggulungnya hingga berbentuk seperti pentungan, lalu menghajar anak bungsunya secara bertubi-tubi.

PLAK PLAK PLAAAAKKK PLAAAAAKKKKK!!!

"ANAK SIALAN... ANAK CABUL..." Seru Rahma memukul tubuh Pandu secara membabi buta.

"EHHHH... Tunggu, Bu, ini tidak seperti yang terlihat," Kaget Pandu yang sempat tercengang karena kehadiran Ibu kandungnya tiba-tiba muncul dikala ia hendak menyetubuhi kakak kandungnya.

PLAK PLAAAAKKK PLAAAAAKK

"Ga seperti yang terlihat gimana...? Jelas-jelas itu kontolmu masuk kedalam memek Winda...!!" Jerit Rahma menunjuk kearah penis Pandu yang masuk terbenam di vagina putrinya.

"Ehhh.. Anu.. Ini...." Bingung Pandu yang secara reflek, langsung menarik tubuhnya mundur.

PLOOOOPPP

Saking paniknya, Pandu sampai melompat dari tidurnya dan mengambil posisi guna menahan pukulan majalah dari Ibu Winda.

PLAAAAAKKKKK PLAAAAAKKKKK!!!

"Hadehhh PANDUUU...!!! Kok bisa-bisanya ya kamu berbuat mesum seperti ini...?" Jerit Rahma yang makin keras menghajar tubuh Pandu berkali-kali, "Mentang-mentang Mbakmu kalo tidur susah dibangunin, bukan berarti kamu bisa ngentotin memeknya...!!!"

"Ampun Buuuu... Ampuuunnn... Aku bisa jelasin..." Erang Pandu sambil terus-terusan menahan pukulan Ibunya.

PLAAAAKKKKK!!!!

"Yaudah... Sini jelasin....!!!" Seru Ibu Pandu itu sambil menunjuk kearah tepi tempat tidur.

Wajah pandu memerah. Wajahnya panas, dan tangannya terasa pedih. la kebingungan setengah mati karena tak dapat memberikan alasan yang paling masuk akal. Sampai-sampai, penisnya yang semula tegang, mendadak lunglai karena tatapan bengis Ibu kandungnya.

"Malah diemmm..." Hardik Ibu Pandu, "Tadi katanya mau jelasin...?!"

"Ehhh... Anu...." Bingung Pandu menutupi ketelanjangan tubuhnya. Menyembunyikan penisnya yang masih berlumuran lendir Winda dari tatapan Ibunya, "Itu... Nggg.... Itu Anu.... Tadi ..."

"PANDU....!!!" Bentak Rahma.

"Itu kecelakaan, Buu... " Jawab Pandu kaget.

"Kecelakaan...?" Ulang Rahma sambil berjalan mendekat ke arah Pandu. Melirik kearah Winda yang sedang tertidur lalu duduk tepat disamping putranya. "Coba sekarang... Kamu berdiri...! Cepet...!!!

"Nggggg... " Panik Pandu yang mati-matian menutup area selangkangannya.

"Kenapa kamu telanjang...?" Tanya Winda yang berulangkali menatap tajam kearah wajah dan

selangkangan Pandu secara bergantian.

"Ngggg... Aku... Anu...

"Ga bisa jawab...? " Tanya Rahma yang terus-terusan melirik ke arah penis Pandu

Jengah mendapat tatapan Ibu kandungnya, Pandu lalu berjongkok. Mencoba menyembunyikan penisnya yang masih mengkilap karena lendir kemaluan Winda.

"Kok malah jongkok...? Berdiri...!!" Cecar Rahma sambil mengamit tangan putranya.

Lagi-lagi, Pandu meletakkan kedua tangan didepan selangkangannya. Mencoba menutupi penisnya yang benar-benar mengkerut karena rasa takut.

"Singkirin tanganmu...!!! Ibu pengen lihat apa yang kamu sembunyikan...!" Pinta Rahma menepis kedua tangan Pandu. "Barusan... Kamu apain memek Mbakmu, Dek...?"

"Anu Bu... Anu... Aku... Nggg... Anu..." Karena tidak mampu menghadapi tatapan Rahma yang begitu menghakimi, Pandu buru-buru jongkok dan bersimpuh dikaki Ibunya. "Maaf Bu.... Aku minta maaf..."

Sambungnya lagi karena merasa mati kutu.

"Maaf kenapa...?" Sahut Rahma.

"Aku.... Ngggg... Aku...." Jawab Pandu benar-benar kehabisan kata.

"Kamu...? Abis ngerjain Mbakmu..?"

Pandu mengangguk dalam sujudnya.

"Kamu abis mencabuli Mbakmu..?"

Lagi-lagi Pandu mengangguk.

"Bangun..!" Pinta Ibu Pandu. "Berdiri lagi di depan Ibu..."

Tak mampu berpikir jernih, Pandu segera melakukan perinta Rahma. Berdiri tepat didepan wajah Ibu kandungnya.

"Jangan tutupin tititmu...!" Pinta Rahma sekali lagi.

Ketika Pandu melihat kewajah Ibunya, ia baru sadar jika hidungnya mencium aroma vagina Winda yang begitu semerbak dari penisnya. Dan ia yakin, hidung Ibunya pun pasti akan mencium aroma itu, terlebih jarak penis dan hidung Rahma yang begitu dekat.

"Ini tititmu kenapa...?" Tanya Rahma penuh selidik.

"Kenapa, Bu...?"

"Di helmnya... Banyak bercak-bercak -lendir..." Sahut Rahma sambil menyentuh kepala Penih Pandu dengan ujung jarinya, "Kamu abis coli...?"

"Coli..?" Tanya Pandu dalam hati yang tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Daripada ketangkap basah menyetubuhi memek kakak kandungnya, lebih baik ia mengaku masturbasi untuk menyelamatkan diri dari hukuman yang bakal ia dapatkan.

"Dek..?" Ulang Rahma

"Ehh, I.. lya..." Sahut Pandu berbohong.

"Astagaaaa... Adek... Kamu coli di tutuh Mbakmu..? Kamu tidak boleh melakukan hal menjijikkan seperti itu, Dek... " Jelas Rahma, "Apalagi ketika orang tersebut sedang tidur..."

"Aku tahu, Buu... Aku minta maaf." Suara Pandu yang kali ini ia bikin meleyot-leyot, seperti hendak menangis karena takut akan kemarahan Rahma yang terlihat jelas di wajahnya.

"Emangnya, apa tujuan kamu barusan berbuat hal seperti itu ke tubuh Mbakmu, Dek...? Kok sampe nyodok-nyodokin tititmu ke memek dia...?" Tanya Rahma yang lagi-lagi mengusap penis Pandu

"Aku... Nggg...." Sahut Pandu sedikit memundurkan tubuhnya. Khawatir jika Ibunya menyadari bila bercak lendir di penisnya adalah lendir Winda

"Cerita aja ke Ibu..." Balas Rahma yang tiba-tiba menangkap penis Pandu, guna menahan tubuh putranya bergerak menjauh. "Kamu mau kemana...?"

"Eehhh... " Kaget Pandu ketika mendapati sentuhan lembut tangan Rahma pada penisnya.

"Ayo cerita..."

"Nanti... Ngggg... Nanti Ibu malah marah kalo denger ceritaku..." Takut Pandu

"Justru kalo kamu ga cerita, Ibu jadi ceritain hal ini ke Ayahmu lohh... " Sahut Rahma sedikit menakut-nakuti.

"Jangan Bu...."

"Makanya, cerita hal yang sebenernyanya ke Ibu..." Senyum Rahma yang berusaha menenangkan kepanikan putranya.

"Nggg... Bener ya Bu...? Kalo aku cerita, Ibu ga marah atau bilangin ke Ayah...?"

Rahma menggeleng sambil tersenyum.

"Nggg... Aku... Hmmmm....

" Dada Pandu berdetak begitu cepat, campuran antara rasa takut, khawatir,

sekaligus ingin tahu apa reaksi Ibunya ketika ia berkata hal yang sejujurnya.

"lya.. Aku...?" Ulang Rahma menantikan kalimat Pandu selanjutnya

"Aku cuman pengen tahu, buu... Gimana rasanya ngentot..."

FIUH.... Hati Pandu mendadak terasa begitu lega. Plong. Dan begitu ringan.

Meskipun Pandu tak tahu bagaimana reaksi Ibunya setelah mendengar alasan ke-mesum-an pada dirinya

barusan, paling tidak ia merasa ada sedikit kelonggaran didadanya.

"Astaga, Deeekkk..." Ibu menatapku dengan tatapan kasihan. "Kok bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu sih...? Emangnya, kamu abis liat apaan? Gambar porno...? Film mesum...? Atau apa...?"

"Ngggg... Aku penasaran aja, bu..."

"Sepengen itu...?"

Tak menjawab pertanyaan Rahma, Pandu hanya mengangguk.

"Emang coli aja ga cukup...?"

Kali ini, Pandu menggeleng

"Coli aja Kurang puas...?"

Lagi-lagi Pandu mengangguk

"Jadi ketika coli udah ga bisa muasin kamu lagi... Sekarang kamu pengen ngerasain ngentot...?"

Pandu memberanikan diri menatap wajah Ibunya.

Sekilas, ketika menatap mata Rahma, Pandu melihat ada sebuah campuran perasaan ganjil pada wajah Ibunya. Disitu, ia melihat khawatir, kasihan, sekaligus kasih sayang yang begitu tulus setelah mendengar jawaban putranya.

Dan anehnya, Pandu merasa ada sebuah perasaan yang muncul dihatinya, ketika melihat wajah Rahma saat itu. Wajah yang semula tak pernah ia perhatikan dengan seksama, tiba-tiba terlihat begitu cantik di matanya. Yang membuat hatinya bergejolak dan denyut jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

"Siapa sih yang ngajarin kamu hal-hal seperti ini, Dek...?" Tanya Rahma dengan nada lembut.

Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya. la tak mungkin memberitahukan rahasia yang ia miliki. Kaset & video mesum, kartu remi porno, hingga galery dari Eko, tak mungkin semua itu ia beberkan semua kepada Ibu.

"Hhhhh.... Terus, tadi tititmu ini, sudah masuk ke memek Mbakmu...?" Tanya Rahma menatap penis putranya yang masih berada dalam genggaman tangannya.

Pandu menggeleng.

"Beneran...? Belum kamu masukin...?"

Pandu hanya mengangguk.

"Tapi itu kepala tititmu kok banyak bercak-bercak putih gitu...? Dan juga...." Rahma mendekat dan membaui kemaluan putranya, "Ini bau lendir wanita, Pandu... Kamu yakin tadi tititmu ga masuk ke memek Mbakmu...?"

"Nggg... lya.. Tapi...

"Tapi apa...?"

"Tapi... Ngggg.. Cuman Ujungnya aja kok, Bu..."

"Beneran cuman ujungnya aja...? " Selidik Rahma sambil membolak balik penis Pandu, "Kalo Ibu lihat tadi sih... Setengah titit kamu udah masuk ke memek Kak Winda loh...?"

"Ngggg... lya, masuk sedikit..." Jawab Pandu tak bisa berbohong

"Hmmmm. Kamu berbohong ya...?" Tembak Rahma melihat kegelisahan putranya, "Masuk ujungnya aja...? Atau udah masuk semua...?

"Se.. Sedikit...Bu... Ta.. Tadi Aku... Aku baru bisa masukin ke... Kepala tititnya aja..."

"Hihihihih... Kok kamu jadi bingung gitu, Dek...? Khan Ibu cuman tanya aja..." Kekeh Rahma melihat kepanikan pada diri putranya

Entah kenapa, melihat pemuda lugu yang tertangkap basah sedang berbuat tindakan asusila didalam rumahnya, membuat Rahma menjadi penasaran. Sejauh apa hubungan yang terjadi diantara kedua putra putrinya. Meskipun ia paham sekali, Winda dan Pandu memang sangatlah dekat, akan tetapi ia tak mengira jika hubungan keduanya sudah sejauh ini

"Kedua anak kandungmu, sudah melakukan incest, Rahma..." Jerit suara hati Rahma ketika melihat hubungan seksual yang terjadi pada Pandu dan Winda

"Incest...?" Ulang Rahma sambil menatap putrinya yang masih tertidur dengan payudara dan vagina

yang tersingkap jelas disampingnya.

"Ini yang memulai Pandu...? Atau Winda ya...?" Tanya Rahma dalam hati.

"Pandu sebenernya adalah anak polos... la tak mungkin tahu hal tabu seperti ini jika tak ada orang yang memberitahunya..." Pikir Rahma, "Tapi.. Kalo anak polos, biasanya ia tak akan sampai berani melakukan hal senekat ini.."

"Sampai-sampai... Pandu berniat nyodokin kontolnya di memek putriku..."

"Tapi... Mungkin Winda juga salah sih... Kok bisa-bisanya ia tidur tanpa pake kancut dan beha sama sekali..." Lanjut Rahma menatap keanehan pada tidur putrinya, "Atau jangan-jangan, Winda yang ingin dicabuli oleh adiknya...?"

"Buah jatuh, tak jauh dari pohonya...." Celetuk suara batinku kembali menyeruak, berbuat mesum seperti itu... Pasti karena didikan orang tuanya...

Rahma... Jadi meskipun tak diajari... Naluri hewani mereka pasti akan muncul karena mendapat gen cabul dari dirimu..."

SIAL

tangannya.

"Apa mereka mengikuti jejakku...?" Tanyanya lagi yang kali ini menatap penis yang ada di genggaman

"Ini salah Rahma.... Tak seharusnya mereka berbuat seperti ini..." Seru suara hati Rahma

"Jangan biarkan kedua anakmu ikut terjerumus ke lembah hitam incest sepertimu... "

"Terjerumus ke lembah hitam...? Memangnya, incest adalah lembah hitam...?" Kesal Rahma sedikit protes dengan pikirannya,

"Kalo incest adalah lembah hitam, berarti seluruh umat manusia yang hidup di

dunia ini adalah hasil dari lembah hitam..?"

"Karena kita semua, adalah hasil anak pinak dari hubungan incest..."

"Uhhhh.. Ibu.... Sshhhh.... Pelan-pelan, Buuu... " Lenguh Pandu dengan wajah meringis karena menahan sesuatu, "Titit aku ngilu..."

"Ehhh...?" Kaget Winda ketika melihat tubuh putranya melenggak lenggok karena rasa ngilu yang ia

rasakan pada batang kemaluannya. Dan ketika Rahma melihat kearah penis Pandu yang ia jadikan pelampiasan kekesalan suara batinnya, ia mendapati sesuatu yang menggugah rasa penasarannya.

"Wooowww... Besar sekali nih kontol..." Batin Rahma ketika melihat kemaluan putranya yang menjulang tinggi didepan wajahnya. Kepalanya merah membonggol, dengan urat-urat yang bertonjolan di sekujur batang penisnya

Dan, karena melihat penis Pandu, syahwat Rahma perlahan meluap. Birahinya menaik dengan cepat, karena tergiur oleh rasa penasaran dari batang kemaluan putranya yang ada digenggaman tangannya.

"Ohhh.. Pandu... Tititmu ini, bukanlah titit anak SMP.. Melainkan kontol lelaki dewasa...'

"Sssshhh.. Sakit Buuu..." Lenguh Pandu sekali lagi, membuyarkan pemikiran Rahma yang melanglang buana kesana kemari.

BODO AMAT

"Incest bukanlah sebuah lembah hitam... Incest adalah sebuah perwujudan cinta tertinggi yang bisa ditunjukkan ke sesama manusia, terlebih diantara keluarga..."

TEK TEK TEK TEK...

Buru-buru, Rahma menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat, mengurut batang kemaluan putranya sambil meremas-remas kepala penisnya. Memberikan kenikmatan urutan tangan yang biasanya ia berikan pada suaminya.

"Nggggghhh.. Buuuuu...." Lenguh Pandu sejenak melupakan rasa sakitnya.

TEK TEK TEK TEK...

tangannya.

Melihat Pandu keenakan karena kocokan tangannya, membuat Rahma makin mempercepat kocokan

"Beneran...? Tadi tititmu ini cuman masuk ujungnya aja...?"

"lya.. beneran, Bu... Tadi cuman masuk kepalanya aja..." Jelas Pandu, "Kalo Ibu ga percaya... Liat aja memek Mbak... Masih ketutup rapet kok..." Sambungnya sambil menunjuk kearah vagina Winda dengan mulutnya

"Hmmmm... lya.. lya.. Ibu percaya kok..." Senyum Rahma sambil terus menatap wajah dan penis putranya secara bergantian, "Terus terus... Pas titit kamu masukin ke memek Mbakmu... Rasanya gimana, Dek...?" Sambung Rahma yang tiba-tiba meraihnya satu peler Pandu, lalu dipencetnya dengan gemas.

NYUUUTTT

"Aaaww... Aduh Buuu..." Jerit Pandu ketika merasa kesakitan karena remasan tangan Ibunya.

"Ssssttt... Jangan berisik... Nanti Mbakmu bangun..." Lirik Rahma kearah wajah putrinya yang masih tertutup bantal.

"Ngilu, Buuu..." Sahut Pandu sedikit memundurkan pinggulnya

NYUUTT

Rahma meremas peler Pandu satunya lagi, sehingga kedua buah pelernya diremas secara bergantian.

"Aaawww.. Ibuuu..!!" Jerit Pandu sekali lagi sambil mencoba menepis tangan Ibunya.

"Hihihi... Ngilu...?" Goda Rahma

"lyaaa...!" Jawab Pandu ketus.

"Tapi nggak sakit khan...?"

"Engga...

"Cuman ngilu aja...?"

"Ibu kenapa sih nanya-nanya mulu...?"

"Hihihi.. Ibu cuman check aja... Ternyata buah zakarmu sehat..."

Kekeh Rahma yang melanjutkan mengurut batang penis sambil mempermainkan biji peler Pandu dengan

gemas. Membuat Pandu yang semula kesal dengan perlakuan Ibunya, perlahan mulai menikmati tangan jahil pada penisnya.

Terlebih ketika melihat Ibunya beberapa kali mengecupi kepala penisnya, membuat Pandu merasa seperti suami yang sedang dimanjakan kenikmatan bercinta oleh istrinya. Hingga tiba-tiba, Pandu melihat kocokan tangan Ibunya berhenti, dan

HAAAAAPPP

"Nggghhh... Oohhh.... Ibuuuu..." Kaget Pandu ketika mendapati kepala penisnya, masuk dan terhisap kedalam mulut Ibu kandungnya

HAAAPPP

SLUURRRPPP... SLUURRRPPP...

"Ooohhhhh... lihhh.. Buuuu...." Erang Pandu yang secara otomatis langsung mendekap belakang kepala Rahma.

"Sluurrppp.. Sluurrpp... Puaaaahhh..." Suara mulut Rahma ketika melepas kemutannya, "Enak Dek...?"

"Enak...." Ucap Pandu mengangguk.

"Mau diterusin...?"

"Eh...? Nerusin apa, Bu..."Bingung Pandu

"Kok malah nanya...?"

"Ngggg.. Aku bingung..."

"Hihihi... Kamu mau Ibu kasih enak apa nggak...?"

"Mau..."

"Kamu kok ga nanya sih... Enaknya mau dikasih apa...?" Goda Rahma sambil mengecupi kepala penis

Pandu yang sudah mengeluarkan cairan precumnya

"Dikasih Ibu ijin ngentot...?" Celetuk Pandu polos

"ASTAGA.. Panduu...!!!" Kaget Rahma tak percaya mendengar jawaban putranya, "Padahal Ibu cuman nanya, kamu mau tititnya Ibu isep atau tidak loh... Kok kamu malah pengennya ngentot...?"

"Eeehh.. Maksud aku... Itu... Iya, aku mau tititku diisep Buuu..." Ralat Pandu buru-buru membetulkan maksud kalimatnya.

"liihhs.. liihhs... liihhs... Ketahuan yaaaa... Anak Ibu bener-bener mesum nih..." Goda Rahma lagi sambil terus mengurut penis putranya,

"Emang kamu mau ngentotin memek siapa sih...? Sampe segitu

bingungnya...?"

"Ngggg..." Bingung Pandu yang berulang kali melirik kearah Rahma atau Winda.

"Kamu pasti pengen ngentotin memek Mbakmu ya...?" Tebak Rahma yang tiba-tiba mengusap paha

dalam Winda. Mempertontonkan gundukan vagina Winda kepada adiknya

"Nggggg.....

" Pandu yang masih kebingungan, benar-benar hanya bisa berdiam diri. la tak berani

menjawab sama sekali. Hanya mendesah keenakan karena urutan tangan dan jilatan mulut Rahma yang tak henti-hentinya pada batang kemaluannya.

"Hihihihi... Jawab aja, Dek... Tinggal bilang iya aja kok kamu malu-malu..." Kekeh Rahma melihat kegalauan dimata putranya.

"ili.. lya, Buuu..."

"lya apa...?"

"Aku pengen itu..."

"Ihhhssss.. itu apa...? Ga jelas deh..." Ledek Rahma

"Aku pengen ngentotin memek Mbak Winda..."

"Naaaahhh.. Gitu dong... Jadi anak jangan pengecut..." Senyum Rahma yang lagi-lagi mengecup kepala penis Pandu, "Cowok sejati tuh kalo kamu ada kepengen... Langsung aja diucapin... Jangan dipendem mulu dalam hati..."

"lya, Bu... Aku pengen ngentotin memek Mbak WInda..." Ulang Pandu lagi

"Ke memek Mbakmu ini...?" Balas Rahma sambil meremas vagina putri kandungnya.

"lyaaa... Bu.. Memek yang ituu...?"

"Hihihi... Beneran...?" Goda Rahma yang kali ini mulai mencolek-colek belahan vagina putrinya

"lya... Aku bener-bener pengen, Bu...

66

"Hmmmm.. Tapi.... Sepertinya hal itu nggak mungkin deh, Dek..."

"Kok...?"

"Mbakmu khan sebentar lagi mau tunangan... Trus menikah... Jadi, sepertinya Ibu tak akan mengijinkanmu buat ngambil keperawanan memek Mbakmu ini..."

"Yah.. Ibuu...."

"Jangan ya Sayang..." Sahut Rahma sambil tersenyum, "Kalo nanti calon suami Mbakmu tahu Mbakmu udah nggak perawan, bisa rusak rencana Ayah dan Ibu nanti..."

"Tapi khan... Mbak Winda memang udah nggak perawan lagi, Buu...?"

"Eeehh...? Apa...?" Kaget Rahma buru-buru menatap wajah Pandu, "Kamu tahu darimana..?"

DEG...

Dada Pandu seolah berhenti berdetak.

Sepertinya, otaknya sudah benar-benar tertutup oleh nafsu birahi.

Sehingga ia tak mampu mengontrol mulut dan berkata hal yang sejujurnya.

SIAAAAALLLL

- - Akhir Kilas Balik - -

Bersambung,



Posting Komentar

0 Komentar