kesempatan
"Lohh...? Kamu mau ngapain, Dek...?" Tanya Winda ketika melihat gelagat mesum adiknya
"Mau kasih perjaka aku buat kamu, Mbak..." Ucap Pandu yang kali ini mulai mengocok penisnya dengan percaya diri.
"Gak ah... Mbak gak mau..."
"Ayolah, Mbak... Please... Sekali seumur hidup ini aja..." Rengek Pandu dengan tatapan memelas.
"Gak mau, Dek.. Mendingan perjakamu buat cewek yang kamu cintai aja..."
"Justru itu... Satu-satunya Cewek yang aku cintain tuh kamu, Mbak... Saking cintanya aku padamu...
Aku rela mati Mbak, demi kamu..."
"Gak mau..."
"Please Mbak..."
Meskipun Winda menolak, Pandu bisa melihat, ada sejumput rasa penasaran di mata kakaknya. Pandu juga bisa melihat tanda-tanda birahi yang mulai meletup di diri Winda. Matanya sayu. Nafasnya menggebu. Dan beberapa kali, Pandu melihat Winda melirik ke arah selangkangannya sembari mengggigiti bibir seksinya
"Mba Winda cantikku...? Boleh ya...?" Tanya Pandu yang perlahan mulai merangkak naik keatas tempat tidur Winda. Mengusap betisnya yang lembut dan meremas paha mulusnya penuh nafsu.
"Boleh apa...?" Singkir Winda, menepis tangan adiknya yang sudah dilanda syahwat.
"ljinkan aku mencicipi tubuh indahmu ini..."
"Mbak ngantuk..."
Jawab Winda yang kemudian mengalihkan pembicaraan. la lalu meletakkan majalah
disamping tempat tidur dan merebahkan badan. Setelah itu, ia menarik selimut guna menutupi tubuhnya,
"Besok Mbak ada ulangan pagi..."
"Kalo besok ulangan, harusnya malem ini Mbak belajar... Ga malah baca-baca majalah..." Celetuk
Pandu sambil tersenyum karena tahu kebohongan dari alasan Winda.
"Ngggg.. Mbak udah hapal kok materinya..." Jawab Winda kikuk.
PUK PUK PUK
Dengan sengaja, Pandu menepuk-tepukkannya batang penis ke kaki Winda.
"Aku pijitin kakinya ya, Mbak...?" Goda Pandu sambil menekan-nekankan kepala penisnya ke telapak kaki kakak kandungnya. Menjadikan batangnya yang sudah begitu keras itu sebagai alat terapi pijat ketubuh Winda
"Kontolmu... Kok udah heras banget gitu, Dek...?" Lirik Winda kearah selangkangan adiknya
"Karena kamu, Mbak cantik..."
"Segitu nafsunya ya kamu...?"
"Sebenernya ini bukan nafsu sih, Mbak... " Jelas Pandu sambil terus menggesek-gesekkan penisnya ke kaki Winda, "Tapi lebih kearah gak rela aja kamu nikah dengan cowok pilihanmu..."
"Nikah khan anjuran agama, Dek..." Sahut Winda terus mengamati kelakuan mesum adiknya, "Ntar juga kamu bakalan seperti Mbak..."
"Tapi apa harus secepet ini...?"
"Ya mau gimana lagi, Dek...? Pilihan ini, adalah kemauan Bapak..." Jelas Winda lagi.
"Bapak...? Kok bisa...?" Jawab Pandu bingung.
"Yaaa.. Ini semua demi keluarga kita..."
"Jadi, menikah ini bukan karena Mbak yang pengen..?"
"Pengen apa...?"
"Jadi ibu rumah tangga...?"
Winda menggeleng. "Ayahnya mas Ardi, calon suami Mbak, adalah seorang pengusaha... Dan kantor ayahnya mas Ardi, adalah tempat dimana Bapak sering menjual barang dagangannya... Jadi, biar Bapak bisa selalu jadi pemasok tunggal di kantornya mas Ardi.."
"Berarti...Bapak tuh menjual Mbak ke Ayah calon suamimu...? Gitu...?" Potong Pandu sedikit tak terima dengan penjelasan Winda
"Kurang lebih seperti itu, Dek..." Ucap Pandu ketus
"Makin ga respek aku dengan suamimu, Mbak..."
"Kenapa...?" Heran Winda
"Yaaaa.. Karena dia ngedapetin kamu bukan dari jerih payahnya..." Jelas Pandu, "Dia bisa dapet bidadari sepertimu, hanya karena bisnis orang tuanya..."
"Ya gitu deh..."
"Tapi... Diluar dari itu semua... Mbak mau ga dijodohin seperti ini...?" Tanya Pandu, "Mbak rela nggak dengan keputusan Ayah...?"
"Ngggg... Keluarga mas Ardi kaya banget, Dek..."
"Maksudnya...?"
Winda menatap kearah wajah Pandu yang kebingungan. Saking bingungnya, penis Pandu juga sepertinya ikut-ikutan melembek karena percakapan yang sedang terjadi saat ini.
"Kamu beneran tahu nggak...? Bapak bisa ganti mobil seperti sekarang.. Ibu punya mobil baru...
Renovasi rumah yang ada di halaman belakang... Motor baru yang kamu dan Mbak pake... Itu dari siapa coba...?" Tanya Winda.
"Ayah mas Ardi...?"
"lya..."
"Ngggg... Sekaya itu ya...?"
"Hooh..."
"Tapi..... Mbak suka nggak dengan mas Ardi...?"
"Hmmm... Mas Ardinya juga ganteng, Dek..." Celetuk Winda sambil tersenyum, "Dia juga baik.. Ramah...
Rendah hati... Pokoknya... Kalo dilihat-lihat, mas Ardi tuh idaman wanita deh..."
"Udah pernah diajak ngentot...?" Tembak Pandu dengan tatapan penuh rasa cemburu.
"Ehh...?"
"Mbak Winda udah pernah diajak ngentot belum ama calon suami, Mbak..?"
"Kok kamu nanyanya gitu sih..?"
"Jawab aja, Mbak..."
"Buat apa...?"
"Biar aku ga penasaran lagi...
"Trus kalo Mbak jawab, kamu mau apa...?"
"Ya pengen tahu aja... Apa calon suamimu itu tahu...? Kalo wanita yang jadi istrinya ini sudah nggak perawan lagi..."
"Ihhhhssss... Kok kamu ngomongnya gitu sih...?"
"Makanya... Aku penasaran, Mbak... Apa lelaki yang mau menikahimu besok itu, tahu kalo memek calon istrinya ini, udah pernah dimasukin ama banyak kontol lain sebelum dirinya...?"
"Ihhhsss... Kamu bener-bener deh... Ucapan kamu jahat banget, Dek..." Sahut Winda dengan nada kesal,
"Lagian tahu atau tidaknya mas Ardi dengan petualangan bercinta Mbak.. Itu juga bukan urusanmu..."
"Makanya... Aku tadi nanya, apa mas Ardi udah pernah ngent..."
"lya.. Mas Ardi udah pernah ngentotin memek Mbak..." Potong Winda ketus, "Puas..?"
"Se...Serius...?" Jawab Pandu kaget
"lya... Bahkan, tadi pagi juga kontol mas Ardi abis nyemburin pejuhnya didalem sini..." Sambung Winda sambil mengusap-usap selangkangannya dari luar selimut.
"Ta...? Tadi pagi...?" Tanya Pandu dengan raut wajah yang makin penuh akan rasa penasaran, "Dimana, Mbak...? Khan tadi pagi kamu sekolah... Berarti kamu tadi pagi chek-in dong...? Trus, berapa kali dia ngentot memekmu...? Banyak nggak pejuhnya...?"
"НАНАНАНАНАНАНА.» Winda tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Laah..? Kok malah ketawa, Mbak...?" Sewot Pandu
"Abisan kamu nanyanya kaya wartawan gosip..." Sahut Winda sambil menarik lagi selimutnya, dan langsung membalikkan tubuh. Memunggungi Pandu yang begitu penasaran sambil memeluk guling.
"Mbak Winda...? Jawab dong..."
"Kalo Mbak gak mau jawab.. Kamu mau apa...?" Tantang Winda tetap tak nggak mempedulikan permintaan Pandu, "Udah ahhh.. Mbak ngantuk..."
SREEEEETTIT
Pandu menarik lepas selimut penutup tubuh Winda, dan membuangnya kelantai.
"Kalo Mbak ga jawab, jangan salahin aku semisal malem ini aku minta pelampiasan, ya Mbak..." Ancam
Pandu yang kali ini, kembali mengocok penisnya.
"Bodo... Mbak mau tidur...
Mendapat jawaban cuek dari Winda, Pandu kembali merangkat kebelakang tubuh kakaknya. Meraih tepi celana dalamnya, kemudian menarik kain penutup selangkangan kakaknya kebawah.
"Adeekk..." Seru Winda sedikit menahan celana dalamnya dengan satu tangan.
"Biarin... Aku mau malem ini... Perjakaku hilang didalam selangkangan Mbak Winda..." Sahut Pandu terus menarik celana dalam kakak kandungnya turun
"Ihhhsss.. Nih anak... Dibilangin kok susah banget sih...!!" Celetuk Winda ketus, namun tak melarang kemesuman tangan adik kandungnya, "Ahhh... Bodo... Mbak ngantuk..."
SREEETTT
Karena masa bodoh, celana dalam Winda pun akhirnya terlepas. Dan disitu Pandu bisa melihat jika tengah kancut mini itu sudah sangat lembab karena lendir birahinya yang membanjir basah.
"Memekmu udah becek, Mbak..." Seru Pandu ketika melihat kilauan lendir yang ada ditengah selangkangan Winda. "Udah banjir banget..." Sambungnya lagi sembari melebarkan belahan pantat kakak kandungnya
"Adeeekkk...!!! Jangan kurang ajar gini ahhhh... Mbak mau tidur....!!." Celetuk Winda ketus sambil menggoyang-goyangkan pantatnya, "Inget... Kita tuh adik kakak... Dan kita tak seharusnya tak berbuat
"Ayolah, Mbak.... Kalo memang kita gak boleh melakukan hal seseru ini... Harusnya dari dulu kamu ngelarang aku berbuat seperti ini. " Ucap Pandu berusaha memainkan peruntungannya.
"Auk aaah... " Seru Winda yang tak kuasa menolak perlakuan mesum adik kandungnya. Membiarkan gerayangan tangan Pandu di pantatnya yang turun ke lubang selangkangannya.
"Jadi... Boleh ya Mbak.? " Pinta Pandu yang tangan cabulnya makin mempermainkan selangkangan Winda. Mengusap dengan gerakan berputar sambil sesekali melesakkan ibu jarinya ke lubang anus kakak kandungnya dengan penuh nafsu.
"liihhhssss.. Panduuu... Jangan maenin anus Mbak...!" Tolak Winda singkat. Namun tetap membiarkan saja tangan mesum Pandu mempermainkan kedua liang tubuhnya.
"Pleaseeeeee.... Mbak Winda cantikkuuuu...." Rengek Pandu yang kali ini mulai menyelipkan jari tangannya kedalam vagina Winda
"Adeeekkk.. Udah aaahhh... Mbak ngantuk..." Larang Winda yang alih-alih menyingkirkan tangan Pandu, ia malah melebarkan kedua pahanya.
"Sekali ini aja Mbak... Biar rasa penasaranku terpuaskan..." Lanjut Pandu yang tanpa menghiraukan penolakan Winda, langsung membalik tubuh Winda yang semula tengkurap hingga telentang. Dan tanpa babibu, Pandu juga mencolek klitoris Winda yang sudah begitu mengeras.
"Adeeekkk...!!" Seru Winda seolah merasa keberatan.
"Ayolah Mbak... Ijinin aku... Toh memek kamu juga udah sange benget khan...?"
"Haahh... Apaan, Dek...?"
"Ini... Memek kamu udah becek banget, Mbak..." Sahut Pandu yang lagi-lagi mengusap klitoris Winda.
"Auuk aaahh......" Jawab Winda ketus namun tak melarang perlakuan cabul adik kandungnya.
Melihat reaksi Winda yang tak merasa keberatan karena perlakuan mesumnya, Pandu langsung meleskkan jarinya ke celah sempit Wina yang tanpa ditumbuhi sehelai rambut kemaluan sama sekali.
Setelah itu, aa lalu memutar-mutar jarinya disekitaran bibir vagina Winda sambil meniupinya pelan.
"Memekmu selalu cantik, Mbak..." Puji Pandu ketika melihat celah kemaluan Winda yang makin membanjir karena lendir birahinya, "Pink... Dan ngegemesin..."
"Terus...?" Tanya Winda sewot.
"Bikin aku pengen ngerasain gimana rasanya kontol aku ini... Masuk kedalem sini... Abis gitu dijepit ama memekmu yang imut dan menggiurkan ini..." Goda Pandu sambil melebarkan kaki kakaknya.
"Heeehhh...!! Awas aja kalo berani...!!"
Tak mempedulikan ancaman Winda, Pandu malah bergerak naik. Meraih kedua pergelangan kaki kakaknya dan meletakkannya disamping pinggang. Setelah itu, Pandu mensejajarkan batang penisnya tepat di belahan kemaluan kakaknya.
"Dekkk.. Ngapain siihhh...? Mbak ngantuk...." Erang Winda sambil melihat tingkah Pandu yang sibuk melebarkan kakinya sambil memposisikan diri ditengah selangkangannya.
"Aku gesekin kontolku bentaran ya, Mbak...?"
"Gesekin gimana...?" Tanya Winda pura-pura bingung.
"Begini..." Seru Pandu yang kemudian menempelkan batang penisnya ke celah kemaluan Winda.
Menyelipkan kemaluannya di belahan vagina Winda
lalu menggerakkan badannya maju mundur,
menggeseki celah kemaluan kakak kandungnya dengan batang penis yang sudah menegang keras.
SLEEK SLEEK SLEEK
Suara penis Pandu melibas belahan vagina Winda. Mengasah celah yang sudah begitu licin karena cairan birahinya dengan gerakan maju mundur.
"Ngggghhh..." Lenguh Winda dengan tatapan kesal, namun tak memberikan penolakan yang berarti. la tetap membiarkan penis Pandu menggesek-gesek kemaluannya.
"Enak banget, Mbakkk..." Erang Pandu makin mempercepat gesekan penisnya.
"Dekkk.. liihhhsss... Udah aaaaah... "
"Bentar aja Mbak... Aku gesek-gesekin aja kok... " Seru Pandu makin menggerakkan penis dan pinggulnya dengan kencang.
"Hhh... Hhhhhhh... Udahan ahhhh.... Mbak ngantuk... Ngggggghhhhh..."
"Kalo mbak ngantuk... Tidur aja gapapa..."
"Awas aja sampe kontolmu dimasukin ke memek Mbak..."
"Sssshhh.... Nggaklah Mbak... Percaya deh..."
"Beneran loh, Dek... Sampe kontolmu masuk ke delm memek Mbak... Bakalan Mbak potong tuh kontolmu sampe ke telor-telornya...!!! Ancam Winda penuh kekesalan. Namun meskipun kesal, tetap saja Winda tak menolak perlakuan cabul Pandu. Malahan ia makin membentangkan kedua pahanya lebar-lebar, seolah ingin menggoda Pandu lebih jauh lagi.
SLEEK SLEEK SLEEK SLEEK SLEEK
"Ssshhh..... Memekmu bener-bener empuk dan hangat sekali Mbak... " Lenguh Pandu setiap kali batang penisnya terselip diantara lipatan vagina Winda. Membelah lubang kencing kakak kandungnya dan menggelitik syarat kemaluan nan sempit itu.
"Nggghhhh... Deekk... Udah ya Deeekkk...." Balas Winda yang segera meletakkan bantal tidur didepan mukanya. Mencoba menyembunyikan rasa nikmat yang terpancar jelas di wajah cantiknya.
"Bentaran lagi, Mbakkk... Aku masih penasaran dengan rasa jepitan memekmu... " Desah Pandu tak menghiraukan Winda. Meskipun rasa keingintahuannya begitu menggebu, akan tetapi ia masih berusaha mati-matian melawan birahinya.
"Pokoknya... Kontolmu jangan sampe masukin ke memek aku loh ya, Dek..." Ucap Winda sok mewanti-wanti.
"lya, Mbak...." Sahut Pandu mencoba mematuhi permintaan Winda. Yah, walaupun ia yakin Winda tak akan dipermasalahkan sama sekali, jika saat itu penisnya salah masuk kedalam lubang vaginanya.
Akan tetapi Pandu tak berani melangkah lebih jauh. la hanya berani menggesekkan penisnya kedepan
dan kebelakang. Sekuat tenaga mengatur arah tusukan ujung kemaluannya supaya tak mengarah kebawah. "Ooohhhh.... Pasti lubang memekmu ini... Sempit banget ya Mbak...?"
"Nggghhhh... Hhhh....Hhhh... lya kali...." Sahut Winda pelan.
Pandu tahu, saat ini kakak kandungnya itu hanya berpura-pura menolak. Karena dari ekor matanya, ia mendapati jika Winda juga menikmati perlakuan cabulnya. Bahkan ketika ia makin kencang menggesekkan batang penis di vagina kakaknya, Winda terlihat terus-terusan menahan lenguhan kenikmatannya. Seolah berusaha menahan desahan syahwatnya yang makin meninggi
"AANNJIIIIMMMM.... ENAK SEKALI MEMEKMU MBAAAAKKKK..." Batin Pandu ketika merasakan jepitan dan gelitikan nikmat pada bagian bawah batang penisnya.
Semakin ia angkat naik kaki Winda, semakin terasa pula jepitan bibir vaginanya. Mengurut batang penisnya yang terselip di licinnya belahan kemaluan Winda. Apalagi ketika ia merasakan denyutan kuat pada vagina kakak kandungnya, membuat orgasme Pandu makin mendekat.
"AARRGGHHH.. SIAL...!!! AKU TAK TAHAN LAGI..." Raung Pandu dalam hati ketika paha Winda makin membentang seiring gerakan bersetubuhnya. Membuat pertahanan kakak kandungnya ikutan melonggar saat menerima gesekan batang penisnya.
"ASTAGA MBAK WindaAAA... LEMBUT BANGET LUBANG PIPISMU, MBAAKK... BIKIN AKU JADI PENGEN NGENTOTIN MEMEKMUUUU INI..." Jerit batin Pandu ketika mencoba memperkuat tekanan dan gesekan batang penisnya pada kemaluan Winda.
SLEEK SLEEK SLEEK
"Udah Dek..?"
"Belom, Mbak... Uhhh.... Sshhh....
"Nggghhh... Bandel kamu yaaa... Udah tahu Mbak mau tidur... Masih aja nyelip-nyelipin kontol ke memek Mbak..." Balas Winda berpura-pura kesal.
"Abisan rasanya legit, Mbak..." Sahut Pandu sambil terus mempercepat gerakan pinggulnya
SLEEK SLEEK SLEEK SLEEK
"Mbak.. Aku boleh remes tetekmu...?" Bisik Pandu disela-sela goyangan pinggangnya
"Nggg.. Ngelunjak nih yaaa....?" Erang Winda.
"Sedikit aja kok...
"Tadi cuman minta gesekin kontol... Sekarang minta remes-remes tetek... Abis gitu apa, Dek...?" Sindir
Winda masih sedikit berpura-pura sewot, "Ga sengaja ngentotin memek Mbak...?"
"Kalo boleh sih.."
"GA BOLEH....!"
"Ngghhh... Yaudah kalo nggak boleh ngentot... Isep tetekmu aja ya, Mbak... Biar aku cepet keluar..."
"Ngghhh.... Suka-suka kamu ajalah, Dek... Mbak udah bener-bener ngantuk..." Jawabnya sedikit berpura-pura.
"Jadi...? Boleh Mbak...?"
"Hhhhhh... Terserah...."
SEEETTIT
Dengan cepat, Pandu menyingkap daster tipis Winda keatas. Sehingga membuat kedua payudara Winda yang tak terbungkus beha, terlihat dengan jelas. Kemudian tanpa meminta ijin lagi, Pandu segera meremas kedua bulatan payudara kakak kandungnya yang ikut-ikutan bergoyang bersamaan dengan gerakan maju mundur pinggulnya.
"Besar
banget tetekmu, Mbaaakkk.. Empuuukk.." Girang Pandu sambil mencengkram dan
mempermainkan putting Winda yang sudah begitu keras. Menarik dan mencubiti pentil Winda yang semakin memerah, "Gemesin banget sih ini tetek..."
"Aauuuwww.. Sakit, Dek..."
"Hehehe. Kalo gini...? Sakit nggak Mbak...?" Tanya Pandu yang secara tiba-tiba menyosorkan mulutnya.
Melahap payudara Winda bulat-bulat. Menyedot dan mengenyoti payudara bulat Winda yang begitu menggoda hingga tubuh sintal Winda seketika bergetar hebat.
HAAPP
SLUURRRPP... SLUURRRPP.. SLUURRP
Suara mulut Pandu ketika
melahap payudara Winda. Menyedot dan menyelomoti payudara besar
kakaknya yang begitu lembut.
"Ohhh.. Nggghhh... Paaand.. Ssshhhh... Duuuuhhh..." Rintih Winda keenakan sambil menjambak rambut adik kandungnya. Dan karena nafsu syahwatnya tiba-tiba tak terbendung lagi, secara reflek Winda makin membuka paha mulusnya lalu menyabukan kaki dipinggang Pandu. Otomatis membuat penis Pandu yang sedang menggeseki vaginanya sedikit berbelok kebawah dan mengarah ke liang peranakannya.
SLEEK SLEEK SLEEK SLEEK
SLUURRRPP... SLUURRRPP.. SLUURRP
"Ooohhh.. Mbak Windaaaa.." Goyang Pandu makin mempercepat gesekan batang penisnya.
"Nggggg... Nduuuuu...Uhhhh...." Sahut Winda makin memperlebar bukaan pahanya. Dan,
SLEEEKK
"Nggghhh... Aaahh.... Deeekkkk...Kontolmuuuu....." Rintih Winda spontan ketika kepala penis Pandu melesak kebawah dan menembus ke lubang kemaluannya.
CLEEEEPPP PLEEKKK
"Ssshhh... Kenapa Mbak...?" Sahut Pandu yang tak menyadari jika penisnya mulai keluar masuk di lubang vagina kakak kandungnya. Bahkan karena merasa kenikmatan yang berbeda, ia gerakkan pinggulnya makin cepat dan membenamkan batang penisnya dalam-dalam ke kemaluan Winda.
PLEK PLEK PLEK PLEK
"Kontolmu.... Mas... Suukk memek... Kuuhhh..." Erang Winda sambil terus menggigit bibirnya tanpa melarang gerakan penis Pandu yang melesak semakin dalam. Bahkan karena tak mampu menahan nikmat yang semakin dahsyat, Winda membiarkan penis adik kandungnya mengaduk-aduk liang kewanitaannya.
PLEK PLEK PLEK PLEK PLEK PLEK
"НААААНН... KONTOLKU MASUK MEMEK...?" Kaget Pandu yang secara reflek, menengok kearah selangkangannya. Dan ketika Pandu melihat separuh batang penisnya tenggelam di dalam kemaluan kakak kandungnya, gejolak birahinya langsung meledak-ledak.
Merasa batang penisnya sudah membelah kemaluan Winda, Pandu merasa begitu gembira. Senang, sekaligus terharu karena penantiannya selama ini bisa terwujud. Apalagi ketika, melihat Winda yang sama sekali tak memberikan penolakan yang berarti, membuat Pandu bersemangat untuk melampiaskan nafsu hewaninya malam ini.
"Ohhhh... Mbak Winda.... Aku kocok kontolku ya Mbakkk…..?" Pinta Pandu yang kemudian menarik mundur batang penisnya
"Nggghhhh... Jangaaannnn..." Ucap Winda lirih, sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Makasih, Mbak Windaku sayang..." Ucap Pandu lirih sambil mengambil ancang-ancang, "Dengan ini...
Berarti... Perjakaku sudah hilang karenamu...." Sambung Pandu yang kemudian melesakkan pinggulnya maju. Menyodok kemaluan kakak kandungnya dengan batang penisnya yang sudah begitu keras.
"Heeeeggghhh..." Erang Winda pasrah.
BRRAAAAAAKKKK
Belum juga Pandu melakukan rencananya, tiba-tiba pintu kamar WInda terbanting dengan keras. Terbuka lebar dan disusul dengan munculnya sosok wanita yang terlihat begitu geram kearahnya.
"ASSSTAAAGAAAA..Panduu...!" Jerit seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar
Winda. "APA YANG KAMU LAKUKAN PADA MEMEK MBAKMU..?!"
bersambung
0 Komentar