pengakuan
"Udah Pulang Dek...?" Tanya Winda ketika melihat Pandu pulang sekolah.
"Udah..." Jawab Pandu pelan. Nyaris tak terdengar. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran Pandu.
"Banyak PR...?"
Pandu menggeleng. la hanya menarik nafas panjang, setelah itu masuk kedalam kamarnya.
Sepanjang sore, wajah adik kandungnya itu terlihat muram. Meskipun Winda berulang kali mencoba menggodanya, akan tetapi tetap saja tak membuahkan hasil.
Pandu masih diam seribu bahasa. Bahkan, ketika Winda memutuskan untuk mengenakan daster rumahnya yang tanpa beha, Pandu tetep tak bersemangat sama sekali.
"Kenapa kamu Dek...?" Tanya Winda terakhir kalinya, sebelum Pandu masuk ke dalam kamarnya.
Pandu terdiam. la menatap tajam kearah Winda. Diliriknya penampilan kakak kandungnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun untuk beberapa saat, kedua matanya terdiam ketika menatap putting payudara Winda yang tercetak jelas di daster tipisnya, Pandu tetap tak tergoda.
"Yaudah kalo kamu gamau cerita..." Ucap Winda yang kemudian membalik badan dan masuk ke dalam
kamar tidurnya.
"Mbak... "Panggil Pandu, sesaat sebelum Winda menutup pintu kamarnya, "Aku... Nggg... Aku boleh nanya sesuatu nggak...?" Sambung Pandu dengan nada bingung
"Apa tuh Dek...?"
"Ngggg... Mbak Winda...." Jawab Pandu malu-malu
"Kamu mau nanya apa....?"
"Mbak... Udah pernah beginian ya...?" Tanya Pandu sambil menyodorkan Ibu jari yang terjepit oleh telunjuk dan jari tengah kearah WInda.
"liihhh... Kok kamu nanyanya ngaco gitu sih...?"
"Aku ga ngaco Mbak..." Balas Pandu, "Eko bilang... Kalo... Memek Mbak Winda... Kaya udah nggak perawan lagi..."
"Eko...? Tahu darimana dia...?" Tanya Winda sengit
"Kata Eko... Selaput dara mba Winda... Udah berlubang..."
"Heeeehhh.. Dengerin... Selaput dara cewe, tuh selalu ada lubangnya..."
"lyaa...Maksud Eko... Memek Mba... Udah nggak ada selaput daranya..."
"lihhhhssss. Sotoy banget deh temen kamu itu..." Kesal Winda, "Emangnya Eko tahu darimana..?"
"Ngggg... Tadi... Aku.... Nggg.... Aku kasih liat photo memek Mbak ke dia..."
"НААААААН..? APАА...? Kamu udah GILA ya dek..?" Umpat Winda dengan mata melotot kaget, "Kok bisa-bisanya... Kamu pamerin photo memek Mbak ke dia...?"
"Eko bisa dipercaya kok, Mbak...
"GILA kamu ya... Kok bisa-bisanya kamu kasih liat dia sih...? Kalo nanti photo memek Mbak disebarin ama dia, bisa malu keluarga kita, Dek..."
"Ngggg... Sepertinya nggak akan sejauh itu deh Mbak... Aku cuman kasih liat aja photo Mbak... Aku juga ga sampe kirim file photo memek Mbak ke dia kok..." Jelas Pandu, "Jadi, aku pikir, Mbak Winda tenang aja... Eko nggak akan macem-macem ke kamu kok..."
"Dek Pandu, polos sekali kamu, Dek... Kamu ga pernah tahu maksud dia ke kita tuh seperti apa.."
"Beneran Mbak, percaya deh ama aku..." Jelas Pandu lagi, "Nih lihat..."
Pandu buru-buru menyodorkan handphonenya kepada Winda. Memperlihatkan kumpulan photo yang langsung membuat mata Winda terbelalak.
"Sebelum aku share photo memek Mbak ke Eko... Aku udah sering dikirimin Eko photo telanjang mama
Wati dan Mbak Nuri dari dia..."
"Mama Wati dan Mbak Nuri tuh siapa, Dek...? Tanya Winda yang segera menyambar handphone dari tangan adiknya, dan menggeser-geser photo mesum itu dengan antusias.
"Mama dan kakaknya Eko.
"DUUUHH... Bener-bener deh kalian... Photo cabul beginian kok saling share..." Komen Winda yang terus menggeser-geser photo mesum di hape Pandu, "Sepertinya, Eko tuh anak ga bener deh, Dek...
Sepertinya kamu jangan deket-deket ama dia.. Karena.....
"Sebentar... " Potong Pandu yang tiba-tiba kembali kekamar tidurnya. Setelah itu, ia kembali lagi masuk kedalam kamar Winda dan menyodorkan sebuah amplop kertas berwarna coklat, "Nih Mba.. Ada titipan dari Eko..."
"Hah...? Apalagi nih...?" Tanya Winda ketika menerima sodoran Pandu. Kemudian, ia membaca tulisan yang tercoret jelas di amplop itu, "Buat Mbak Winda tersayang...?"
"Itu dari Eko, Mbaaak... "
"Buat apa..?"
"Ya buat kamu Mbak... " Jelas Pandu, "Jadi... kemaren pas Eko ngasih amplop ini... Dia udah nebak...
Semisal Mbak Winda ngamuk setelah mendengar pertanyaan aku tadi... Eko memintaku buat kasih amplop ini ke kamu...
"Hmmmm.... Temen kamu aneh ya...?"
"Coba buka Mbak... Aku juga penasaran, Eko kasih apaan ke kamu..."
Tergoda akan isi dari amplop coklat yang ada ditangannya itu, Winda pun buru-buru menyobek ujungnya.
"Busyeett... Isinya duit, Dek... Banyak banget..." Kaget Winda dengan wajah ceria yang tak bisa ia sembunyikan, "Ini beneran...? Eko kasih buat Mbak...?"
"Jujur... Eko terobsesi denganmu Mbak.... " Jelas Pandu sambil tersenyum melihat mata Winda yang berbinar-binar karena tumpukan uang yang ada ditangannya
"Obsesi...? Kok Eko terobsesi ke aku...?"
Pandu lalu membuka lemari pakaian dalam Winda. Mengambil satu celananya yang usang, dan menunjukkan kepada kakakknya. "Ini celana dalem, masih dipakai ngga, Mba...?"
"Mau kamu pake buat coli ya...?"
"Hehehehe.. Enggak lah..."
"Trus... Kancut bekas gitu mau kamu pake buat apa..?"
"Kalo mba mau.. Eko berani bayar mahal celana dalammu ini..."
"Segitunya...?"
"lya... Apalagi, kalo Mba mau kasih celana dalem yang ada bekas keringat atau noda pipisnya..." Jelas Pandu,"Dia pasti mau bayar mahal demi bisa mendapatkannya..."
"Serius...? Gila Yaaak.... Anak orang kaya emang kadang ga masuk akal.." Seru Winda setengah memuji, "Pantesan kamu demen banget maen kerumah dia...
"Hehehehe. Ya gitu, Mbak..." Sahut Pandu sambil tersenyum sambil menaik-naikkan alisnya, "Jadi...?
Gimana Mbak...?"
"Gimana apa...?" Sahut Winda bingung
"Itu.. tuh..." Lirik Pandu kearah selangkangan kakak kandungnya, "Bener nggak tebakan Eko tadi...?"
"Sebelum Mbak jawab pertanyaanmu, kamu harus janji dulu..." Seru Winda memberi syarat.
"Aku janji mbakku yang paling cantik dan seksi... Aku akan menutup mulutku rapat-rapat..." Seru Pandu sambil memperagakan gerakan pantomin, "Semua rahasia yang ada pada dirimu akan berhenti pada diriku... Aman terkendali... Baik rahasia kemarin... Ataupun nanti..."
"Hihihi... Kamu bener-bener mirip artis, Dek... Jago bermain kharakter..." Celetuk Winda sambil mengusap-usap rambut Pandu, "Jadi... Menjawab pertanyaanmu barusan... Hhhhh.... Iya, Dek...
Bener... Mbak udah nggak perawan lagi..."
Mendengar jawaban Winda, wajah Pandu langsung berubah menjadi merah padam. Matanya melotot dan mulutnya menganga, "Jadi kalo gitu... Memek Mbak tuh....?"
Winda mengangguk. la juga tersenyum. Setelah itu, gadis ranum itu menarik nafas panjang, lalu menceritakan kisah yang seketika itu membuat penis Pandu mengeras, dan imajinasi mesumnya melayang tinggi di awang-awang.
ANJIM...
Pandu seketika itu, merasakan tenggorokannya kering. la tak pernah mengira jika keperawanan kakak kandungnya itu sudah hilang semenjak ia masuk ke usia remaja.
"Jadi... Mbak tak sepolos seperti yang orang kira selama ini... Karena sebenernya, Mbak udah lepas perawan... Dari kelas 2 SMP..." Jelas Winda sambil tersenyum
"Serius, Mbak...?"
"Ngapain juga Mbak bohong...?"
"Terus...? Waktu itu pas Mbak lagi ngapain...?" Sela Pandu mulai memberondong Winda dengan berbagai macam pertanyaan
"Dimana Mbak..?"
"Kok Mbak mau sih...?"
"Apa rasanya..?"
"Sakit nggak...?"
"Memek Mbak sampe berdarah-darah nggak...?"
"Terus main berapa ronde, Mbak...?"
"Mbak ngecrit berapa kali...?"
"Terus.."
"Hei hei heeeeiii..." Potong Winda sambil mengatupkan bibir Pandu, "Kamu sekarang berperan jadi wartawan ya...? Banyak banget pertanyaannya... Hihihihi..."
"Terus... Siapa, Mbak...? Cowo beruntung yg dapet perawan kamu...?" Tanya Pandu penasaran, "Aku kenal dia nggak?
"Emangnya, kalo kenal terus kamu mau apa..?"
"Hmmmm... Aku lebih pengen tahu aja sih... "
"Tuh
cowok... Merawanin memek kamu pake apa, Mbak..? Jari...? Lidah...? Atau ngggg...."Pandu sejenak menatap wajah imut kakaknya. Lidahnya seolah kelu, sehingga ia tak berani meneruskan pertanyaannya
"Hihihi.... Emang bisa merawanin memek pake itu semua...?" Kekeh Winda geli.
"Jadi...? Tuh cowo merawanin Mbak pake....?"
"lya... Mereka ngambil perawan Mbak, Pake kontol..." Jawab Winda blak-blakan
"Haaahh...? Mereka...?" Kaget Pandu seolah tak percaya dengan pendengarannya, "Berarti...?"
"Hihihi.. Ada 3 orang yang ngambil perawan memek ini, Dek...?" Ucap Winda sembari mengusap selangkangannya dari luar rok sekolahnya
"Gila... Gimana caranya, Mbak...?" Tanya Pandu sambil menelan ludah birahinya.
"Hihihi... Ya itunya cowok dimasukin kesini, Dek... Emang gimana lagi coba caranya...?" Tawa Winda renyah sambil mengusap bagian depan selangkangannya
"Bukan, Mbak... Maksud aku... Gimana mereka mainnya...? Gantian nyodok satu persatu sampe keluar...? Atau cuman sedikit-sedikit...?"
"liihhhhsssss.. Kamu kok nanyanya detail seperti itu sih....?"
"Aku penasaran aja, Mbak...
"Penasaran kok selangkangan kamu sampe ngejendol gitu...?"
"Ehhh..." Dengan malu-malu, Pandu buru-buru menutup tonjolan selangkangannya itu dengan bantal.
"Hihihi... Kamu sange, Dek...? " Tanya Winda yang buru-buru menarik bantal penutup selangkangan
Pandu dan meraba tonjolan di celana adik kandungnya, "Wuiihhh... Udah keras loh kontolnya..."
"Anu... Aku..."
"Aku apa...?"
"Aku penasaran aja, Mbak..."
"Penasaran karena pengen tahu siapa yang ngambil perawan Mbak...? Atau penasaran karena pengen ngocok pas denger cerita Mbak...?"
"Ngggg... Dua-duanya..." Jawab Pandu malu-malu.
"Hihihihi... Yaudah.... Kalo gitu... Kamu keluarin deh kontolmu..."
"Ehhh...?" Kaget Pandu, "Beneran Mbak...?"
"lya... Keluarin aja... Biar kamu bisa bebas ngocok kontolmu sembari mendengar cerita Mbak..."
"Serius..?"
"Mau nggakkk...?" Kesal Winda karena ketidak percayaan Pandu.
"Mau-mau Mbak... Mau..." Seru Pandu girang. Buru-buru melucuti seluruh pakaian yang ia kenakan dan segera mengocok batangnya yang sudah begitu mengeras. "Ohhhh.. Mbak Winda...Akhirnya...."
Tak lama, Winda pun menceritakan kisah masa lalunya dengan detail. Dengan seksama, kakak Pandu itu menuturkan segalanya. Dari awal ia berkenalan dengan teman lelakinya itu, hingga proses saat ia kehilangan keperawanannya.
Secara santai, Winda menjawab semua pertanyaan Pandu. Seolah tak rasa sesal maupun beban apapun dihatinya. Meskipun kala itu ia kehilangan kesuciannya sebagai wanita dengan cara yang cukup mudah, dan tanpa imbalan apapun. Semua ia lakukan berdasarkan suka sama suka
Namun, berbeda dengan Pandu. Yang walaupun ia mendengarkan dengan seksama, akan tetapi imajinasi mesumnya terbang kemana-mana. Karena sambil berbincang, Pandu juga berusaha
memuaskan dahaga birahinya. Mengocok batang kelaminnya hingga benih kejantanannya meledak.
Menyembur deras beberapa kali sampai isi buah zakarnya kering kerontang.
- - Akhir Kilas Balik - -
BRRUUUUMMMMM
Suara sebuah kendaraan roda empat, berhenti tepat didepan rumah Pandu. Setelah itu terdengar hempasan suara pintu mobil yang terdengar kencang, Lalu disusul oleh teriakan suara wanita yang memanggil namanya dengan lantang.
"Om Panduuuuu... Ooommmmm...." Seru Lala yang terlihat buru-buru melangkah dan berlari kedalam pekarangan rumah, "Ommm Panduuuu...?"
"Yaaaa...?" Sahut Pandu dari ruang kerjanya, "Ada apa, La...?"
"Aku mau pinjem sound system, Om... " Ucap Lala sambil tersenyum, "Boleh ya Ommm...? Punya sekolah Lala rusak..."
"Hmmmm.. Kalo buat cewek secantik kamu mah, apa aja boleh kok..." Sahut Pandu sembari mengusap kepala keponakannya, "Mau Om anterin sekalian...?"
"Gausah, Om... Aku bawa temen buat bantu bawain kok..."
"Temen...? Siapa...?" Tanya Pandu penasaran
Tanpa menjawab pertanyaan Pandu, Lala segera keluar rumah. Dan tak lama kemudian, ia kembali sambil menggandeng sesosok pemuda tampan dibelakanganya. "Kenalin, Om... Dia Kak Roni... Nanti Kak Roni ini yang bakalan bantuin Lala bawa soundsystem ini kesekolah..."
"Hai Om... Perkenalkan, saya Roni... Kakak kelas Lala..." Sapa teman lelaki Lala itu sambil menyodorkan salamnya dengan sopan.
"Pandu..." Sahut Pandu ketus karena melihat tangan Lala menggandeng pemuda itu.
"Kak Roni itu... Wakil ketua OSIS, Ommm... " Jelas Lala seolah sadar dengan tatapan Pandu, buru-buru melepas pegangan tangannya. "kak Roni tuh, satu kelompok ama Lala buat urusin kebutuhan perangkat hiburannya Omm..."
"Betul Om... Saya minta ijin mau pinjem perangkat sound system. Karena perangkat punya sekolahan sedang bermasalah... Jika sekiranya boleh...." Ucap Roni sopan.
"Udah... Pasti boleh kok... Khan om Lala ini super baek..." Seru Lala yang tiba-tiba masuk ke sela ketiak Pandu. Memeluk satu lengan Pandu erat, sehingga Pandu bisa merasakan kelembutan payudara bulatnya, "Ya khan Om... Lala boleh pinjem perangkat elektroniknya...?"
"Ngggg.. Bo.. Boleh..." Jawab Pandu spontan melihat tingkah Lala.
"Tuuuhh.. Betul khan Kak...? Om aku pasti ngebolehin..." Seru Lala yang kali ini memeluk pinggang
Pandu. Membuat Pandu makin merasakan empuknya tetek keponakannya itu.
"Makasih Om... Kalo gitu, ijin pinjem sebentar ya..."
"Yeeeaayy... Bantu siapin sekalian ya Om ganteng ku..."
"lyeeee..." Sungut Pandu
Dengan hati yang kesal, Pandu pun membantu kebutuhan Lala. Meskipun Roni yang bolak balik mengangkut membawa peralatan sound systemnya, akan tetapi Pandu merasa kesal.
Terlebih ketika ia melihat tatapan Lala kearah pemuda itu, membuat detak jantungnya seketika bergemuruh.
"Udah sampe sedeket apa kamu dengan Roni...?" Tanya Pandu ketika melihat Roni masih sibuk
mengangkut kebutuhan elektronik ke mobilnya, "Kalian pacaran ya...?"
"Ihhhsss.. Oom ngomong apaan sih...?" Balas Lala
"Jawab dulu, Neng... Roni tuh apanya kamu...? Kok tadi gandeng-gandeng tangan kaya gitu...?"
"Emang ngegandeng tangan ga boleh...?"
"Mama kamu udah tahu tentang dia...?"
"Om kenapa sih...? Gajelas deh..." Celetuk Lala.
"Abisan, kamu kok ga cerita ke Om mengenai tuh cowo..." Kesal Pandu melihat reaksi Lala, "Palingan dia menang kaya doang aja...
" Sambung Pandu yang tiba-tiba menarik mundur tubuh Lala, dan
membuatnya duduk dipangkuannya.
BLUGHH
"lilihhhhsss... Apaan sih Om...?" Erang Lala sedikit mencoba melepaskan diri dan buru-buru bangun dari pangkuan Pandu, "Kak Roni tuh baik tau Oommm." Bela Lala.
"lya... Baik... Tapi ujung-ujungnya pasti pengen nyicipin tubuh kamu..."Sergah Pandu menahan Lala supaya tetap berada di pangkuannya.
"Ga mungkin..."
"Beneran, Neng... Om tahu bener tujuan cowok macam dia... " Bisik Pandu lagi, "Iris deh lidah Om.. Kalo tuh cowok bisa nahan nafsunya pas udah liat tetek dan memek kamu..." Sambung Pandu sambil meraba payudara serta selangkangan Lala dari luar baju seragamnya.
"Nnggghhh.. Shhhh... Ga bakalan lah.. Kak Roni mah ga cabul seperti Om Pandu..." Tepis Lala sambil mendesah pelan.
"Yeeeee... Kamu tuh dibilangin kok ga percaya... " Sahut Pandu bersikeras sambil terus meraba-raba tubuh Lala, "Cowo.. Kalo udah deket ama cewek yang cantik dan seksi kaya kamu... Pasti pikirannya bakalan kesono... Apalagi kalo kamu suka ama tuh cowok... Pasti ketika diajak berbuat mesum, kamu bakalan iya-iya aja, Neng...
"Muustaahil!Il..!! " Ucap Lala pasti. "Aku yakin, Kak Roni adalah cowok baik yang otaknya ga ngeres kaya otak Om...
"Hmmm... Segitunya ya kamu ngebelain dia..." Kesal Pandu.
"Emang kenapa sih...?"
"Atau jangan-jangan... Kamu udah jatuh cinta ama tuh wakil OSIS ya..?"
"Jatuh cinta darimana, Taaa...?" Cibir Lala kesal.
bisa ngerasa nyaman ama dia...?"
"Ihhhhhhssss.. GILAK.. Om ngomong apaan sih...?" Celetuk Lala sedikit emosi, "Kak Roni tuh bukan apa-apa aku, Ommm... Lagian, dianterin kerumah aja dicurigain seperti ini...?"
"Hmmmm.. Gitu yaaaa... Jadi, Om ga boleh curiga nih...?" Balas Pandu yang kali ini, mulai mencolek-colek belahan vagina Lala, "Jadi, Om boleh curiganya nanti...? Pas kamu dianter ke hotel...?"
"Nggggghhhh.... ASTAGAAAA... Punya om cuman satu, tapi pikirannya ngeres mulu... " Tampik Lala yang buru-buru mencoba menarik turun tangan Pandu dari selangkangannya,
"Jadi Om boleh curiganya pas kontol tuh cowok... Udah bikin memek favorit Om ini keenakan karena disodok-sodok ama kontolnya...?"
"Nggggghhh... Oommm... Udah aahhh... Memek Lala jadi becek nih..." Erang Lala yang untuk beberapa saat, melenguh karena permainan jari Pandu pada liang senggamanya.
"Kok udah basah aja, Neng...?" Goda Pandu, "Kamu beneran cinta ama tuh cowok ya...?"
"OMMM.... UDAH AH... Ada Roni didepan..." Teriak Lala sedikit menahan intonasi tingginya, "Lala balik kesekolah dulu ya... Udah ditungguin nih ama anak-anak yang lain...." Lanjut ponakan Pandu itu sambil menahan emosi di hati.
Buru-buru, Lala berdiri dari pangkuan Pandu dan merapikan pakaian seragamnya
"Eeehh.... Ntar dulu, Neengg..." Sergah Pandu.
Tapi Lala tak peduli, ia tetap tak menghiraukan panggilan pamannya, dan segera pergi keluar rumah.
"Ntar kita sambung lagi ya Om gantengku... Daaahhh...."
Melihat kepergian Lala bersama cowok lain, membuat hati Pandu seketika itu langsung memanas.
Paman lala itu
seolah terbakar oleh perasaan aneh yang dulu pernah ia rasakan. Terbakar oleh api
cemburu ketika Winda menerima pinangan dari calon suaminya.
"MBAK.. BENERAN MBA MAU MENIKAH...?" Tanya Pandu dengan nada tinggi. Masuk kekamar tidur Winda dengan hati yang begitu penuh dengan emosi. Membuat Winda yang sedang asyik membaca majalah, sedikit terkejut karenanya.
"Maksudnya...?" Tanya Winda.
"lya... Mbak beneran bulan depan mau menikah...?" Ulang Pandu
"Kamu tahu darimana...?"
"Ibu bilang seperti itu..." Sungut Pandu, "Minggu ini... Calon suami Mbak... Bakalan dateng kerumah...
Itu artinya bentar lagi, Mbak bakalan pindah dong...? Ikut suamimu...? Ga tinggal dirumah ini lagi...?"
"Mbak ga nikah dalam waktu deket kok dek... Mbak cuman tunangan..." Jelas Winda
"Tetep aja... Mbak nantinya bakalan ninggalin aku..." /Hmmmm....
Semua orang... Pada akhirnya akan hidup berpasang-pasangan, Dek... Ga mungkinlah
nanti, kedepannya, kita bakalan hidup sendirian..."
"Tapi khan Mbak masih sekolah... Belom lulus sekolah juga... Belom kerja... Belom punya penghasilan sendiri... Masa udah nikah...?" Cerocos Pandu dengan nada kesal,
"Trus gimana nanti kalo Mbak
hamil... Apa kata temen-temen sekolahan kamu Mbak...? Masa bintang sekolahan bunting duluan...?"
Winda hanya tersenyum melihat kekesalan adik kandungnya itu. la kemudian menggeser duduknya, lalu memeluk pemuda yang selalu menemani segala macam cerita hidupnya. "Emang itu salah...?" Tanya Winda sembari mengusap rambut Pandu, "Mbak khan mau nikah, Dek... Bukan mau mempermalukan keluarga...?"
"Tapi khan..."
"Kamu ga rela ya... Mbak nikah cepet-cepet...?" Tebak Winda sambil tersenyum tipis.
"GA RELA BANGET..."
Lagi-lagi Winda memeluk Pandu erat.
"Mbak bakalan ada buat adek Mbak yang paling kusayang kok..." Bisik Winda penuh kasih sayang.
"Beneran, nih denger ya, Dek... Minggu depan, Mbak cuman perkenalan keluarga... Abis gitu, Mbak ga langsung nikah... Mbak cuman tunangan dulu..."
Biarpun cuman tunangan dia udalbisanentotkamuMbak...KesalPandu,
"Enak banget tuh
cowok... Dapet bidadari sepertimu..."
"Hihihi... Pikiran kamu tuh ya... Isinya cuman ngentot.. Ngentot... dan ngentot..." Ucap Winda sambil menyentil ujung hidung Pandu, "Kebanyakan nonton video mesum deh kayanya....'
"Emang itu salah...?" Balas Pandu seolah menyindir kalimat Winda barusan, "Siapa suruh aku punya kakak cantik, seksi dan menggairahkan sepertimu...?"
"Oh Pandu..." Peluk Winda kenceng, "Kamu tuh ya... Buruan cari pacar gih, Dek..."
"Ga ada yang sepertimu, Mbak..." Selah Pandu, "Ucah cantik, seksi, baek, ga pernah ngambek...
"Suka ngocokin kontol adeknya... Ngebolehin adek coli di kancut... Nyepongin kontol adek... Ngebiarin adek buang pejuh di tetek... " Potong Winda melanjutkan kalimat Pandu, "Apalagi Dek...?"
"Ngebolehin cium-cium memek Mbak... Ngebolehin jimek lendir kubang kencing Mbak... Ngebolehin gesekin kontol di memek... " Absen Pandu satu persatu
"Hihihi... Banyak ya...?
"Ngebolehin kontol adek masuk memek Mbak.."
"Hmmmm... Apatuh Maksudnyaaaa... " Sindir WInda sambil buru-buru mencubit pinggang Pandu
"Aww Awww... Awww... Kok lama-lama ngelunjak yee...?"
"Emang ga boleh, Mbak...?" Tanya Pandu pura-pura bodoh, "Sekali ini aja, Mbak..."
"Menurut kamu..?"
kehilangan dirimu untuk selamanya...
"Kehilangan apaan sih...? Wong Mbak juga ga kemana-mana...?" Celetuk Winda.
"lya... Memang Mbak ga kemana-mana... Tapi nantinya, aku ga bisa ngerasain tubuh Mbak lagi..."
"Makanya... Cari pacar Dek..."
"Gak Mau.... Pokoknya... Aku nggak rela Mbak Winda menikah dengan lelaki lain..."
"Dasar Adek GILA.. Hihihihi..." Kekeh Winda yang lagi-lagi menyentil hidung Pandu, "
"lya... Aku GILA karenamu, Mbak... Dan sebelum aku makin gila lagi..." Pandu menjeda kalimatnya. la lalu buru-buru bangkit dari duduknya dan melepas seluruh pakaian yang menempel di badannya.
"Eehh...? Kamu mau ngapain...?"
"Ambil perjakaku, Mbak.. Biarkan aku menikmati tubuhmu... Biarkan aku satukan raga dengan tubuhmu... ljinkan aku benamkan kontol ini... Didalam memekmu... Untuk pertama dan terakhir kalinya..." Seru Pandu sambil menggenggam batang penisnya yang sudah berkedut dengan hebat.
- - Akhir Kilas Balik - -
Bersambung,
0 Komentar