"Mbak, maapin aku ya..." Pinta Pandu sambil mangamit tangan Winda. "Pleaseeee..."
Winda hanya menatap tajam kearah adiknya yang sudah beberapa hari ini ia cuekin. Segala perhatian, sapaan, dan perlakuan spesial Pandu, sama sekali tak Winda gubris. Bahkan ketika berpapasan, Winda seoalh benar-benar tak melihat Pandu. Di matanya, Pandu bagai tembus pandang. Tak terlihat mata.
Begitu dengan segala kebutuhan Winda. Jika sebelumnya Winda begitu manja karena meminta bantuan Pandu, Namun sekarang, ia berubah menjadi mandiri. Bahkan sekarang Winda memberanikan untuk bisa kemana-mana sendirian
Hal itu, membuat Pandu begitu terpukul. Pelakuan penuh nafsu yang tak lakukan kemarin, seperti berbalik arah. Sehingga membuat Winda begitu kesal padanya.
Yah meskipun Pandu hanya berlaku selayaknya lelaki yang kelebihan birahi, akan tetapi Winda merasa itu bukan saat yang tepat baginya untuk bisa menyetubuhinya. Terlebih, Pandu adalah adik kandung yang ia sayangi.
----
Dua minggu berlalu. Dan selama itu, pandu masih terus berusaha memperbaiki hubungannya. Namun tetap saja nihil. Sekeras apapun Pandu berusaha menyapa, menggoda hingga menjamu kakak kandungnya, sikap dinginnya tetap saja tak mencair.
Bahkan bisa dikata, jika Winda sama sekali tak mempedulikan segala tingkah Pandu terhadap dirinya.
Hingga suatu ketika, saat Pandu terbangun dari istirahat siangnya, ia merasa heran karena rumah begitu sepi. la tak mendapati kebiasaan yang sering ia dapat ketika bangun tidur. Winda terlihat sama sekali.
Tumben.
Dilihatnya jam dinding yang tergantung di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan tak terlihat tanda-tanda keberadaan kakak kandungnya.
Bahkan ketika jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Winda juga masih belum ketahuan keberadaannya.
"Aneh...." Pikir Pandu mulai gelisah. Tak biasanya Winda berlaku seperti ini.
Winda adalah orang yang tepat waktu. Sebawel-bawelnya dia, ataupun semarah-marahnya dia, selalu
memberi kabar. Selalu ada secarik kertas bertulis tangan yang menempel di kulkas setiap kali Winda ada keperluan. Namun tidak malam ini. Tak ada satu pesanpun untuk Pandu.
"KRUYUK KRUYUK..."
Suara demo cacing perut yang ada di usus Pandu mulai bergemuruh.
"Kamu dimana sih Mba...? Aku lapar..." Erang Pandu meremas perutnya yang mulai terasa melilit.
Merasa tak
ada penampakan Winda meskipun telah ditunggu kira-kira lebih dari satu setengah jam,
Pandu memutuskan untuk pergi ke mang Jana. Tukang nasi goreng langganan yang mangkal di ujung gang rumahnya.
"Nasi gorengnya satu Mang..." Pesan Pandu sambil meletakkan pantatnya di bangku kayu, "Gausah bungkus... Makan disini aja...
"Tumben Mas...?" Sahut Mang Jana
"Sambil nunggu Mba Winda..." Jawab Pandu
"Pantes pesennya cuman satu... Emang Mba Winda kemana...?"
"Justru itu yang aku bingung... Ga biasa-biasanya Mba Winda belum pulang selama ini.."
"Mungkin Mba Winda sedang pacaran Mas...
"Dia ga punya pacar, Mang...
"Ga mungkin atuh.. Mba-nya Mas Pandu mah cantik, jadi pasti banyak yang naksir..»
Pandu sengaja melahap makanannya sepelan mungkin, supaya ia bisa mengawasi jalanan sekitaran gang masuk rumahnya. Berharap ia bisa melihat kakakknya ketika tiba kerumah. Namun, nihil. Hingga makanannya habis tak tersisa, Winda belum juga terlihat sama sekali.
"Mas... Mamang balik dulu yak... Bahan dagangannya udah habis semua... " Ucap Mang Jana sopan,
"Ini juga udah lebih dari jam 1... Jadi mamang mau istirahat dulu..."
"Ehhh. Iya Mang... Makasih..." Jawab Pandu sambil beranjak dari bangku gerobaknya
"Gapapa mas... Kalo Mas Pandu masih mau pake bangkunya, gapapa... Pake aja dulu... " Ucap Mang
Jana sambil meninggalkan bangku gerobaknya di lapak. Kemudia ia pamit pulang.
Dan benar, tak beberapa lama kemudian, Pandu melihat sebuah mobil berjalan lambat lewat didepannya.
Lalu, berbelok ke lapangan yang tak jauh dari tempatnya menunggu. Karena kondisi lapangan yang cukup gelap, Pandu tak dapat melihat siapakah orang yang ada didalam mobil tersebut.
Setelah itu, berapa orang turun dari mobil. Tiga orang berbadan besar dan seorang wanita mungil.
Terdengar celoteh jelas disertai dengan tawa orang mabuk disertai argumen-argumen samar. Tak lama kemudian, gerombolan itu mulai memepet tubuh si wanita itu sembari menarik-narik bajunya.
"STOP... Hentikan... Aku mau pulang..." Erang suara wanita tersebut.
"Ehh... Itu seperti suara Mbak Winda...?" Heran Pandu penasaran sambil mencoba memicingkan mata
"Aku... NGAK MAU...!!" Tolak wanita itu lagi.
"Jangan-jangan itu beneran Mba Winda...?" Sambung Pandu sambil beranjak dari tempatnya dan
berjalan pelan, mendekati kearah gerombolan itu.
"Tangkep dia, San..." Seru salah satu pemuda ketika sang wanita mencoba kabur dari kerumunan pemuda mabuk itu.
"Aaaarrghh..." Jerit si wanita ketika pelariannya tak berhasil, "Please lepasin.. Aku mau pulang..."
"Enak aja..." Bentak salah satu cowok dari bangku depan, "Gantiin dulu utangmu.."
"Dia bukan cowokku... " Argumen wanita itu sambil terus berusaha melepaskan diri,
, "Aku ga sudi kasih
tubuhku buat kalian..."
BREEETTT
Tiba-tiba, baju wanita itu ditarik paksa oleh salah satu lelaki hingga robek. Menyisakan beha putih yang terlihat mencolok dalam gelap
"Aaawww..." Jerit wanita tersebut sambil berusaha menutup tubuh atasnya.
JPLEEETT.
Lagi-lagi, ditariknya lagi tali beha wanita itu hingga terlepas dari tubuh pemiliknya. Membuat payudaranya besarnya seketika melompat dengan bebas.
"Bener... Itu Mba Winda..." Seru Pandu yang meskipun dari jarak yang begitu jauh, hafal sekali dengan bentuk tubuh kakak tercintanya. "HENTIKAN..." Sambungnya dengan emosi membara.
"Panduuuu..." Jerit wanita tersebut, yang ternyata memang Winda.
"BAJINGAN... LEPASIN KAKAKKU...!!!" Teriak Pandu sambil berlari kencang.
"Wooww... Rupanya, ada yang mau jadi pahlawan nih..." Ucap salah satu lelaki berbadan tegap sambil memukul-mukulkan satu tangannya ke tangan yang lain.
"LEPASIN KAKAKKUUU... ANJIMMM... " Raung Pandu yang seperti sudah kehilangan urat takut, langsung melompat tinggi dan mengarahkan kakinya ke dada lawan.
BLUUGGH
Suara hantaman kaki Pandu yang langsung membuat lelaki tegap itu terjengkang kesamping. Rupanya, badan kekar saja tak cukup untuk menahan tendangan Pandu.
Melihat lelaki paling kekar itu tumbang, Pandu segera menerkamnya. Didudukinya dada pemuda itu sambil menghancurkan rahang pemuda itu dengan pukulan bertubi-tubi. Pandu sudak kalap, ia terus menghajar wajah lelaki yang ia duduki tanpa ampun.
BAG BUG BAG BUG
Suara hantaman tangan Pandu nyaring sekali. Membuat si bongsor itu seketika pingsan tak sadarkan diri. Meskipun buku-buku jarinya mulai terasa pedih, tetap saja Pandu menghajar musuhnya tanpa peduli dengan ketidaksadaran dirinya.
Tak terima salah satu temannya hampir mati kelenger, tiba-tiba sesosok lelaki lain, menendang punggung
Pandu. Membuat Pandu tersungkur, dan jatuh dengan wajah terlebih dahulu.
SROOOOKKK
"Haris...!!!" Seru Winda ketika melihat teman lelakinya menyakiti Pandu, "Hentikaann... Dia adikku..."
"BODO AMAT... Gw bakal mati'in tuh bocah..." Seru Haris mengambil ancang-ancang ketika melihat
Pandu membalikkan badan.
Melihat Haris mendekat, Pandu buru-buru menyilangkan kakinya. Menjepit pergelangan kaki Haris dan memutarnya kesamping. Karena mendapat sergapan kaki secara tiba-tiba, Haris tak mampu bergerak. la kehilangan keseimbangan dan tumbang kesamping.
BRUUUG
"ANJIMMM..." Erang Haris karena tak mengira akan ambruknya dirinya.
Mendapat kesempatan baru, secepat kilat Pandu merangkat keatas tubuh lawannya. Mengunci tubuh atasnya dan kembali melancarkan jurus andalannya. Menghajar rahang perundung kakak kandungnya seperti musuh sebelumnya.
BAG BUG BAG BUG. PRAAAAAKK
Suara rahang Haris kembali meramaikan suasana kegelapan malam. Begitu renyah ketika menerima bogem Pandu yang berlumuran darah dari musuh sebelumnya. Meskipun tak langsung pingsan, akan tetapi beberapa gigi Haris copot.
BANGSAAAATTT
Tiba-tiba, terdengar satu teriakan lantang dari belakang Pandu.
PLETAAAAKKK
Suara tampolan di kening Pandu yang membuatnya terhuyung dan ambruk kesamping.
"BAJINGAN...!!" Erang Pandu mencoba berdiri kembali dengan mata berkunang-kunang. Matanya mendadak berasa berair. Dan ketika ia mencoba usap, rasanya licin. "SIAL..." Erang Pandu yang mendapati jika itu bukanlah air mata. Melainkan darah yang mengucur dari keningnya. Rupanya, Pandu baru saja mendapat pukulan dari kunci ban serep.
"Udah udah... Hentikan.. Pleaseeee..." Tangis Winda dengan tubuh gemetaran. Wajahnya panik dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Winda menangis dengan tubuh setengah telanjang.
kembali berjalan kearah Pandu.
"Amir... Please... Jangan sakitin dia..." Ucap Winda yang buru-buru menghalangi langkah pemuda kaya itu. la tak mempedulikan tubuh setengah telanjangnya yang terlihat dengan bebas.
"Sepertinya... Dia udah bosen hidup ya...?"
"Pleaseeee.. Aku bakal lakuin apa aja yang kamu minta..."
BUUGGG...
Amir menendang Winda tepat di tengah-tengah payudaranya. Membuat Winda terjengkang kebelakang dan terguling-guling hingga berlumuran tanah.
"Mbaaa Windaaa..." Jerit Pandu menghambur kearah kakaknya. Diraihnya tubuh yang terkulai lemas itu dan dipeluknya erat. "Kita pulang ya Mba..." Sambung Pandu sambil membopong tubuh Winda di depan dadanya.
"Hei.. BAJINGAN... Jangan kabur lu..." Seru Amir yang tak tahu diri, menyerang belakang kepala Pandu.
Namun, entah mendapat kemampuan reflek darimana, Pandu tiba-tiba memutar tubuhnya kesamping.
Membuat ayunan tangan Amir menyerang ruang kosong. Kemudian, dengan satu ayunan kaki, Pandu menghajar jakun Amir dengan tumitnya.
KLEEK
Suara patahan leher Amir terdengan merdu di telingan Pandu. Disusul dengan tumbangnya lelaki keturunan itu ke tanah.
"Boosss..." Seru satu-satunya anak buah Amir yang masih tersisa. Menghampiri atasannya yang menggelepar-gelepar sambil memegangi lehernya.
"Pandu...? Itu Amir perlu kita tolong ngga...?" Tanya lirih Winda ketika melihat Amir mengerang kesakitan dibelakangnya.
"Kita pulang aja ya Mba... Udah mau hujan..." Jawab Pandu sambil terus berjalan. Meninggalkan lapangan gelap yang mulai dihujani oleh tetesan air dari langit.
***
"Nih... Minum Obatnya Dek..." Sodor Winda memberikan sebutir paracetamol ke adik kandungnya.
"Ssshhh.... Aduh aduh... Shhh..." Erang Pandu ketika merasa sakit diseluruh badannya. Meskipun ia tak terkena banyak pukulan, akan tetapi kepalanya mendapat luka yang cukup serius.
"Jangan banyak gerak dulu..." Sergah Winda ketika Pandu mencoba meraba perban yang melilit di area
rambutnya. "Biarin sembuh dulu..." Sambungnya lagi sambil mencoba memaksakan diri untuk
menyunggingkan bibir tipisnya.
"Aku..."
"lya... Si jagoan Mba ini... Pingsan dua hari..." Jawab Winda sambil menyeka butiran keringat di dahi adiknya, "Untung kakak ikut PMR (Palang Merah Remaja) jadi ngerti apa yang harus Mba lakuin... "
"Makasih ya Mba..."
"Justru Mbak yang harusnya bilang makasih ke kamu..." Potong Winda menyunggingkan seyum lebar.
Pandu menatap sayu kearah Winda yang meskipun tersenyum, masih menyiratkan rasa cemas yang cukup dalam. Kemudian ia menatap ke belahan dada daster Winda yang terbuka.
Ke arah memar di payudara Winda. Buru-buru, Winda menutup sebagian lukanya dan memutar tubuhnya kesamping. Menjauhi tatapan mata penasaran adik kandungnya.
"Tetek favoritku terluka apa nggak, Mba...?" Tanya Pandu sambil mengusap lengan Winda.
Winda menengok sambil tersenyum. "Enggak kok..."
"Aduh duh... Sshh... Nggak percaya..." Ucap Pandu yang kali ini mencoba bangkit dari tidurnya. Sambil merintih, ia memutar tubuh Winda hingga menghadapnya.
"Apanya yang engga...? Tetek Mba, sampe
memar kebiruan gitu..." Sambung Pandu sambil mengamati dari dekat luka lebam di payudara Winda.
"Nggg... Udah-udah... Jangan diliatin kaya gitu... Mba ga kenapa-napakok..." Ucap Winda yang buru-buru menutup belahan dadanya. Lalu dengan tatapan teduh, ia usap dada adik kandungnya. Mencoba menenangkan emosi Pandu yang meledak-ledak.
"Sampe besok aku ketemu tuh bajingan, Beneran deh... Tulang-tulang ditubuhnya, ga bakalan ada yang utuh... Atau kalo bisa, akan kubuat nyawanya nggak betah, tinggal di dalam tubuhnya..."
"Ssshhh.... Udah-uda ah....." Sahut Winda menenangkan kembali
"Beneran Mba... Dia belom tau aja siapa Pandu...
"lya-iya... Adikku sayang... Mba percaya kok kamu bisa berbuat seperti itu...".
"Tapi, Mba..." Untuk sesaat, Pandu menatap tajam kearah Winda, "kok bisa sih...? Kamu punya masalah ama tuh bajingan...?"
Winda menghela nafas, "Panjang ceritanya Dek..."
"Intinya aja deh... Biar aku ga kepikiran terus..."
"Intinya... Cowo yang lagi deket ama Mba... Kalah balapan..." Jelas Winda malu-malu.
"Dan Mba jadi barang jaminannya...?" Tebak Pandu.
"Hmmmm.. Ya kurang lebih seperti itulah..." Jawab Winda lirih, "Yang penting, sekarang Mba udah ngerasa aman kok... Ada pengawal tercinta yang siap ngejagain Mba..."
"Sampai akhir hayat..." Tutup Pandu memotong kalimat kakaknya.
Lagi-lagi, Pandu dan Winda terdiam. Canggung. Keduanya hanya menatap malu-malu sambil tersenyum-
senyum sendiri.
"Kemaren-kemaren... Pas Mba ga cepet-cepet pulang sekolah, rumah jadi sepi dong, Dek...?" Tanya
Winda mencoba mencairkan suasana
"Rumah...? Hmmm.. Ya gitu deh....
"Gitu gimana...?" Tanya Winda lagi.
"Ya sepi..." Jawab Pandu, "Semuanya sendiri-sendiri lagi...."
"Ayah ama Ibu nanyain Mba nggak...?" Selidik Winda
"Hehehe... Pandu khan jago ngarang cerita, Mba..." Jelas Pandu, "Yang jelas, mereka cuman tahu kalo
Mba sedang sibuk persiapan ujian..."
"Gitu ya...?"
"lyalah..." Jawab Pandu super yakin, "Biarin mereka sibuk dengan urusan masing-masing, Mba... Toh yang mereka lakuin, demi kepentingan keluarga kita juga..."
"lya sih... Bener..."
"Yang jelas kesepian tuh aku, Mba... Berangkat sekolah sendiri... Istirahat sendiri... Pulang sendiri...
Makan sendiri..." Jelas Pandu, "Sampai-sampai, tidur pun sendiri..."
"Nonton TV sendiri... Mandi sendiri..." Lanjut Winda.
"Nah tuh tahu...." Sindir Pandu.
"Termasuk ngocok sendiri ya Dek...?" Celetuk Winda menyahuti sindiran adiknya
Mendengar kalimat Winda, Pandu langsung melirik kearah wanita yang tersenyum menggoda di samping tempat tidurnya.
"Kenapa lirik-lirik ke Mba...?" Tanya Winda mencari tahu.
"Nyindir nih...?" Jawab Pandu sok tak peduli
"Hihihihi... Enggak Dek... Mba cuman penasaran aja..." Kekeh Winda kegelian, "Gimana caranya kamu muasin nafsumu yang ga pernah habis itu...?"
"Menurut Mba gimana...?"
"Busyet... Dua minggu lebih loh... Mba ga maafin kamu..."
"Delapan belas hari Mba... Lebih tepatnya Adek menahan diri..."
"Hahahaha... Kuat ya kamu.... " Tawa Winda terbahak-bahak,
"Emang... Ga kemeng apa tuh kontol ga
keluar-keluar selama itu...?"
"Perlu aku jawab...?"
"Hihihihi... Kamu lucu Dek..." Celetuk Winda sebelum diam kembali, "Emang... Kamu ga kangen apa
Dek... Ama Mba mu ini...?"
"Kangen banget lah..."
"Lalu...? Kenapa kamu ga peluk Mba..?"
Tanpa berkata-kata lagi, Pandu segera bangkit dari tidurnya. Menghambur kearah Winda duduk dan memeluk tubuh semoknya. Dikecupnya pipi Winda berkali-kali sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya ke payudara Winda.
"Dasar Adek MESUM... Selalu aja ngambil kesempatan ama kakaknya..." Celetuk Winda
"Aku kangen kamu Mbak..." Jawab Pandu sambil menghirup aroma tubuh Winda yang wangi
"lyeee... Mba tahu kok kamu kangen..."
"Tahu darimana...?"
"Ya kalo nggak kangen... Mana mungkin udah udah keras gitu..." Sindir Winda lagi dengan entengnya
"Keras....? Maksudnya...?"
"Itu... Yang ada di tengah selangkangan kamu...." Tunjuk Winda dengan memonyongkan mulutnya.
"Hehehehe. Kalo yang itumah... Udah setingan otomatis Mba... " Ucap Pandu yang tanpa malu-malu, mengusap batang penisnya dari luar celana.
"Makasih banyak ya Adekku yang supermesum... " Ucap Winda memecah keheningan kamar sambil
mengusap rambut lebat Pandu, "Kalau tadi malem nggak ada kamu disana, entah, Mba ga ngerti apa yang bakalan terjadi dengan Mba..."
"Kayanya... Kamu bakalan diperkosa ama Amir dan kroni-kroninya kali ya Mba...?" Celetuk Pandu
"Nggg... Bisa jadi..." Jawab Winda
"Terus memek ini, kalo semalem ga aku selamatin... Pasti udah ga perawan lagi..." Sahut Pandu sambil merogoh paha Winda, dan meraba vagina kakaknya dari luar celana.
"Ehhh...." Kaget Winda ketika mendapati tangan Pandu menyentuh kemaluannya, "Udah nggak perawan..."Sambungnya lagi yang tanpa rasa risih, membiarkan tangan adik kandungnya tetap menempel disitu.
"Mba...?" Tanya Pandu karena melihat tatapan kosong Winda, "Kok ngelamun...?"
"Eh...? Kenapa Dek..?"
"Jangan pernah tinggalin aku lagi yaa, Mba..." Pinta Pandu yang kali ini kembali membenamkan wajahnya ke payudara Winda
"Ngggg....'
"Maafin aku juga... Kalo semisal kemaren aku kelewatan..." Sambung Pandu, "Aku tahu, aku nggak pantas melakukan hal itu... Hanya saja... Melihatmu, aku jadi selalu khilaf, Mbaa... "
Winda tersenyum. Lagi-lagi mengusap kening Pandu, "lya.... Mba udah maafin kamu kok..."
"Makasih ya, Mba...'
Winda mengangguk, "Udah itu aja...?"
"Emang apalagi, Mba...?"
"Ya kali aja kamu pengen.... Ngocok..." Jawab Winda sambil melirik kearah selangkangan Pandu yang makin besar.
"Ehhh... Aku nggak salah denger khan Mba...? Mba Winda nawarin ngocok...?" Kaget Pandu dengan mata berbinar-binar, "Serius...? Beneran masih boleh, Mba...?"
"Ya itu sih terserah kamu, Dek... Mba cuman nanya aja kok.. Kamu kuat nahan nafsu apa engga...
Hihihihi..." Kekeh Winda melihat kegirangan adiknya, "Toh yang bisa ngatur nafsu kontol kamu... Itu kamunya sendiri..."
"Ya maulah, Mbaku yang cantik... Tolol aja aku nolak ketika ketika ditawarin coli ama cewe semontok dan seseksi kamu..." Seru Pandu yang buru-buru mengangkat pantatnya lalu menurunkan celana yang ia
"Hihihihi.. Cepet amat Dek..." Kekeh Winda ketika melihat Pandu menendang celananya ke lantai sambil mulai mengocok batang penisnya, "Tadi kayanya badan kamu masih berasa ngilu, Dek...?"
"Udah sehat..." Seru Pandu sambil melengkung-lengkungkan badan, "Aku coli sekarang ya Mba..?"
"Bukannya udah dari tadi...? Hahahaha...
TEK TEK TEK TEK TEK TEK
Dengan kecepatan penuh, Pandu berusaha melampiaskan nafsu birahinya yang sempat tertahan selama ini. Menyiksa batang penisnya sekuat tenaga hingga kemaluan itu langsung terlihat begitu merah. Urat-uratnya bertonjolan dengan mulut penis yang mulai mengeluarkan mazi.
TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK
"Aku mau keluar Mba.."
"Ehhh...? Cepet banget Dek...?"
"Udah kelamaan nunggu sih..." Jawab Pandu seadanya, "Aku boleh semprot mukamu, Mba...?"
"Terserah...." Ucap Winda yang kemudian bersimpuh dilantai. la
mendongakkan wajahnya, hingga
menghadap kearah biji zakar Pandu yang bergoyang-goyang dengan gagahnya.
TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK
"Ooohhh.... Mba... Ssshhhh... Mba Winda..... Sssshhhh...."
"Ya Dek...?"
"Mba Winda. Mbaa... Aku keluar ya Mba.... MBA WINDAA....OOHHH... AKU KELUAR YA MBA WINDAAAAKU SAYAAAANNNGGG...
Winda mengangguk pasrah.
TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK
"OOOHHH MBA WINDAA....OOHHH... AKU KELUAR MBA... TERIMA PEJUH ADIK KANDUNGMU INI WINDAAAAKU SAYAAAANNNGGG..OOHHHH....."
CROOOT CROOOT CROOOTTCROOT CROOOCOOT CROOOTTT CROOOTTTTT
Dengan senyum tersungging lebar diwajah, Winda menerima belasan semburan sperma segar di wajah cantiknya. Tak disitu saja. Winda juga membuka mulutnya lebar-lebar, guna membiarkan benih kejantanan Pandu masuk dan tertelan olehnya.
Setelah perjuangan Pandu dalam menyelamatkan dirinya beberapa waktu lalu, Winda merasa ada perasaan aneh didadanya setiap kali ia diperlakukan tak senonoh seperti itu oleh adiknya. Perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Perasaan yang begitu puas, ketika bisa memberikan kepuasan birahi kepada adik kandungnya yang tercinta.
0 Komentar