pandu dan lala part 13

 




ketagihan


"Makasih ya Dek, udah jagain Lala selama ini..." Ucap Winda dengan mata tertuju kearah jarum mesin jahit yang bergerak naik turun. Sepulang dari kunjungan ke pabrik tekstil di Ibukota, membuat Winda memiliki banyak ide cemerlang yang bisa ia jual ke pelanggannya. Walhasil, beberapa hari ini, kakak Pandu itu kewalahan karena kebajiran orderan

"lyeee.." Jawab Pandu santai sambil tiduran di bale-bale rumah Winda.

"Makasih juga yaa... Udah jadi Ayah pengganti buat Lala...."

"Bukan Ayah pengganti, tapi pembantu buat Lala..."

Winda menghentikan aktifitas menjahitnya. Melirik kearah Pandu yang masih sibuk mengisi TTS di bale dekat tempatnya menjahit. "Ihhhhsss... Mana ada pembantu ganteng sepertimu...?"

"Mbak Winda ada-ada aja deh... Mana ada Ayah pengganti Mbak....?"

"Ada dong... ya kamu itu Ayah pengganti Lala..."

"Hmmmm.... Gitu ya...? Berarti kalo Aku adalah Ayah pengganti, berarti aku juga bisa jadi suami pengganti kamu dong Mbak..?"

"Tuuuhh.. Khan... Mulai deh..."

"Hhhhhhh.... Yah... Mau gimana lagi Mbak..? Emang Ayah asli Lala ga bisa diandalkan..." Kesal Pandu

"Bukan gitu Dek..." Selah Winda,

"Bukan ga bisa diandalkan... Tapi kamu lihat sendiri khan... Lalanya

sendiri yang lebih dekat ke kamu, ketimbang ke Ayahnya..."

"Aahhh.. Itu bisa-bisanya Mbak aja cari-cari alesan buat nutupin kekurangan suamimu..." Sambung Pandu yang makin kesal setiap kali Winda membela suaminya, "Laki-laki modal kontol doang ya gitu...

Bucin kamu Mbak..."

"Kok kamu gitu sih Dek..."

"lyalah... Laki-laki kok ga bisa diandelin keluarganya..."

"Mas Ardhi cuman sedang jelek aja usahanya, Dek... Dia lagi terpuruk..."

"Bukan terpuruk Mbak... Dia terlena dengan kesuksesan usahamu... Jadi kerjanya hanya makan, tidur,

mancing, dan jalan dengan temen-temennya..."

"Mas Ardhi juga bantu Mbak terus kok..."

"lya... Bantu ngabisin duitmu...." Ucap Pandu dengan nada makin meninggi, "Udah-udah... Bela aja terus suami tak bergunamu itu Mbak..."

"Mamaaa.. Aku pulang..." Tiba-tiba, terdengar suara cempreng anak gadis yang mengagetkan sepasang kakak beradik itu.

"lihhhhsss Lalaaaaa... Kalo masuk, biasain ucapin salam...." Seru Winda sambil mengelus dadanya.

"lya iya iya, Lala lupa.... SALAAAMMM....

Gimana perutnya, Sayang..? Masih sakit..?" tanya Winda yang segera beranjak menyambut kedatangan putrinya. Membantu melepaskan tas sekolah, dan mengusap perut bawahnya.

"Udah mendingan Ma."

"Tapi masih berasa sakit ngga...?"

"Masih sih.. Tapi cuman dikit...

"Yaudah... Kalo gitu duduk dulu gih... Mama mau ambilin sesuatu..." Ucap Winda yang kemudian melangkah ke dapur dan membawakan segelas minuman berwarna kuning keruh dan memberikan ke anak semata wayangnya,

"Nih... Diminum dulu Sayang..."

"Itu apa Ma...?"

"Jamu...

"Ihhhsss.... Lala gasuka minum jamu, Maa.." Tolak Lala enggan

"Ini biar kamu ga kesakitan..." Pinta Ibu Lala sedikit memaksa

"Tapi beneran deh, Ma... Sakitnya ga terus-terusan kok... "

"Gapapa... Minum dikit aja, Neng..." Sahut Pandu yang melihat kerasnya penolakan Lala,

"Biar sakit

mens kamu cepet selesai...

"Emang minum jamu kaya gini, bisa bikin sakit di memek Lala cepet selesai ma..?"

Winda melirik kearah pandu. Seolah menanyakan jawaban pasti kepada adik kandungnya.

"Percaya ama Om deh, Neng..." Sahut Pandu,

"Ihhhss. Sotoy deeehh..."

"Khan Om punya banyak pengalaman..."

"Om cowok... Mana pernah punya pengalaman mengenai mens..."

"Hahahaha... Tapi khan... Om pernah punya banyak cewek yang juga mengalami mens..." Sahut Pandu

"Udah-udah... Yuk buruan diminum nih jamunya. Setelah itu ganti baju..." Sergah Winda yang sedikit mencekoki mulut putrinya supaya segera minum jamu suguhannya.

"liuuuhhhh... Huueeekkk... Huueeekkk... Rasanya gaenak banget, Maaa..." Celoteh Lala sambil menjulur-julurkan lidahnya.

"Hehehe Biar sehat..." Celetuk Pandu.

"Sayang.... Berhubung kamu sekarang udah menstruasi, itu tandanya, kamu tuh udah gede.. Udah ga remaja lagi... " Jelas Winda mencoba memberi wejangan kepada putri tunggalnya, "Dan itu artinya, kamu, setahap lagi menjadi wanita dewasa..."

"lya Ma, Lala tau..."

"Kamu, juga udah gak boleh terlalu dekat sama anak laki-laki ya..."

"Heeh...? Emang kenapa, Maa...?"

"Yaa Mama ga pengen terjadi hal-hal yang ga kamu inginkan aja..."

"Hal-hal apa Ma...?" Tanya Lala penasaran

"Banyaklah..."

"Hmmmm.... Kalo ama Om Pandu gimana Ma...?" Tanya Lala sambil melirik kearah adik Winda

"Om Pandu...?" Heran Winda yang juga melirik kearah yang sama, "Emang kenapa dengan Om

Pandu..?"

"Ya khan Om Pandu juga laki-laki..."

Mendengar pertanyaan Lala, Pandu membalas tatapan Winda. Mencari tahu, apa jawaban Winda dari pertanyaan putrinya

"Kalo Om Pandu...." Winda menjeda kalimatnya. Bingung harus berkata apa. Untuk beberapa saat, ia terus menatap kearah lelaki tampan disudut ruangan yang juga berharap-harap cemas dengan jawabannya.

"Boleh doonngg.. Khan Om Pandu masih saudara deket ama kamu, Neng..." Ucap Pandu super pede.

Memotong jawaban kakaknya.

"Emang boleh gitu, Ma..?" Sahut Winda

"Malah... Kamu tuh dianjurin buat selalu ada di deket Om..."

"Beneran Ma...?"

"lya khan Mbak...?" Senyum Pandu kearah Winda

"Ngggg... ... lya... Boleh..." Angguk Winda mengiyakan

"Tuhkan... Emang Om Pandu deh yang paling ngertiin tentang kamu, Neng... Hahaha..." Sombong

Pandu lagi sambil tertawa penuh kemenangan.

***

- - Awal Kilas Balik - -

Setelah kejadian menghisap penis beberapa waktu lalu, Pandu jelas-jelas menjadi ketagihan. Otaknya seperti selalu menagih kenikmatan ejakulasi pada dirinya. Walhasil, hampir setiap saat, Pandu meminta Winda untuk bisa mengocok hingga membuatnya orgasme.

Sebagai kakak yang baik, Winda pun selalu meladeni keinginan adiknya. Meskipun sibuk dengan segala macam aktifitasnya, gadis cantik itu selalu menuruti permintaan Pandu. Kapan pun dan dimana pun.

Hanya saja, Winda memberi syarat, selama kondisinya memungkinkan dan tentunya, ketika rumah sedang sepi.

Winda sengaja mau menuruti permintaan Pandu, dikarenakan semenjak mendapatkan oral seks, Pandu menjadi adik yang super nurut. Semua permintaan Winda, dilakukan oleh Pandu tanpa banyak pertanyaan. Selain itu, Winda juga suka dengan aroma dan rasa sperma pandu.

"Win-win solutionlah..." Batin Winda tanpa mempedulikan status mereka yang kakak beradik.

Begitupun dengan Pandu. Setelah mengetahui kenikmatan yang bisa ia dapatkan dari Winda, membuatnya seketika itu, jadi jatuh cinta dengan kakaknya. Diotaknya, Saat bersama Winda berubah menjadi saat yang selalu ia nantikan. Otak Pandu, selalu mengingkan Winda.

Setiap kemana saja, Pandu ingin selalu bersama Winda. Disekolah, Pandu mendampingi Winda kemanapun ia berada. Dirumah, Pandu selalu ingin berada di dekat Winda. Bahkan hingga tidurpun, pikiran Pandu selalu mengenai Winda. Pokoknya, di mata Pandu, Winda forever yang ada dihatinya.

Pandu, seperti sedang mengalami jatuh cinta. Menjadi posesif, penuh prasangka, dan selalu merasa kurang jika sedetikpun tak berinteraksi dengan Winda.

Hingga disuatu kesempatan, setelah Pandu baru saja selesai melaksanakan ritual mesumnya, ia menyempatkan diri berbincang dengan Winda. Sambil tiduran dipaha kakaknya, ia mendapatkan topik seru sembari menyibukkan diri bermain-main disekitaran pantat Winda.

"Mbak..." Tanya Pandu yang jari tangannya sedari tadi sibuk meremas-remas bulatan pantat kiri Winda,

"Aku boleh nanya sesuatu...?"

"Sekarang pijat sebelah kanannya Dek..." Pinta Winda cuek sambil terus membiarkan adik semata

wayangnya tidur dan mempermainkan kedua bulatan pantatnya.

"Yang ini Mbak...?"

"lya... Atasan dikit..." Sahut Winda memberi arahan, "Agak pegel bagian itu..."

"Disini...?"

"lyak... Betul... " Jawab Winda sambil terus tiduran dan membaca majalah kegemarannya, "Kamu mau nanya apaan...?"

"Eh iya... Aku mau nanya..." Ucap Pandu, "Kata Eko...."

"Hhhhhhh...." Sela Winda mengambil nafas panjang, "Eko lagi.. Eko lagi..."

"Hehehehe.. Habisan dia banyak nanya Mbak...

"lya... Emang apa yang mau ditanyain ama temen mesummu itu...?"

"Dia khan punya banyak pengalaman ama cewek, Mba.. Trus cerita macem-macem..." Ucap Pandu memberikan prakata, "Emang bener ya Mbak... Memek cewek itu rasanya enak...?"

"Haahh....?" Kaget Winda. la menghentikan membolak-balik majalah dihadapannya. Membalikkan tubuh dan menatap penasaran kearah adiknya."Gimana-gimana...? Maksudnya gimana..?"

"lya... Kata Eko... Memek cewek tuh rasanya enak..." Jawab Pandu polos, "Emang bener Mbak...?"

"Hmmm.... Gatau juga sih Dek... Mbak khan juga belom pernah ngerasain memek cewek...

"Kalo emang kaya gitu... Kira-kira, aku boleh ga...? Liat memek Mbak...?" Tanya Pandu dengan wajah yang mulai memerah.

"Eeeeh..? Mau ngapain...?" Tanya Winda heran dengan permintaan Pandu

"Yaaaa.... Penasaran aja Mbak..."

"Buat apa...? Khan kamu juga udah sering banget liat memek Mbak..."

"Yaa... Khan selama ini, aku cuman ngintip aja Mbak... Paling banter cuman ngeliat pas mbak mandi atau ganti baju aja.... Itupun dari jauh...

"Ihhh... Ada-ada aja kamu dek..."

"Boleh ya Mbak... Adek pengen liat memek Mbak dari deket..."

"Hmmm.... Mbak..... Ngggg.... Malu Dek...." Ucap Winda memberikan alasan.

"Kok gitu...? Kenapa malu Mbak...?"

"Ya kamu khan adek aku.... Masa mbak kasih liat memek mbak... Ke adek sendiri....?"

"Kalo malu... Kenapa mbak selalu mau sepongin kontol Adek...?"

"Ya khan beda, Deeeekk.... Kalo sepong, itu khan kamu yang pengen..."

"Ayolah Mbak... Sedikit aja...." Ucap Pandu sambil terus meremasi kedua pantat Winda,"Mbak nggak pengen apa...? Memek Mbak gantian Adek kasih enak..."

"Ini pasti permintaan Eko ya..?"

"Enggak kok.... Eko ga minta Adek buat liat memek Mbak..."

"Lalu...? Kenapa tiba-tiba kamu pengen liat memek Mbak..?"

"Adek penasaran Mbak... Sumpah... Adek pengen liat memek Mbak dari deket..."

"Bener...? Itu aja...?"

"lya... Suer samber geledek deh... " Ucap Pandu yang kemudian menyusupkan tangannya kedalam celana dalam Winda, dan meremas kulit pantat kakaknya. "Boleh ya Mbak...?"

"Ssshhh... Adek..." Desah Winda sambil merintih panjang.

"Sebentar aja kok... " Ucap Pandu lagi yang dengan cekatan, mulai menarik celana dalam Winda turun kearah betisnya.

"Terus kalo udah liat.. Kamu mau apa..?"

"Ga mau ngapa-ngapain kok... Cuman pengen liat aja..."

"Bener loh ya..." Ucap Winda yang tanpa diminta lagi, menaikkan pinggulnya. Dan membiarkan adik kandungnya menurunkan celana dalamnya hingga terlepas dari kakinya.

ASTAGA

Kagum Pandu ketika bisa melihat penampakan kedua bulatan pantat Winda dengan mata melotot.

Meskipun vaginanya masih berada dibagian bawah tubuhnya, mata Pandu tak berkedip ketika melihat tubuh celah sempit yang bersembunyi diatara selangkangan putih mulus milik kakak kandungnya itu.

"Pantat Mbak... Seksi banget..."

"Gombal.. "

"Beneran.... Beda jauh ketimbang photo-photo cewek di majalah dewasa..."

"Beda jauh...?" Tanya Winda, "lilihhhhss... Berarti... Pantat Mbak jelek ya..?

Pandu menggeleng, "Ini jauh lebih seksi ketimbang pantat yang ada di majalah Mbak... Pantat Mbak, seperti pantat Bidadari. Bulet, empuk, dan lembut... Seperti bakpau yang pengen Adek makan..."

"Alaaahhhh... Tipuuuu.... " Seloroh Winda, "Kaya pernah liat pantat Bidadari aja kamu Dek..." Toyor

Winda menjauhkan wajah Pandu dari pantatnya.

"Boleh bebalik tidurannya, Mbak...?"

Winda menaikkan alisnya. Meskipun heran dengan keinginan adiknya. la akhirnya menuruti permintaan aneh Pandu. la membalikkan badannya. Sehingga sekarang, Pandu bisa melihat selangkangan tak berbulu Winda dari dekat.

GLEEEKK

Tenggorokan Pandu mendadak terasa berasa begitu kering. la seketika merasa kesulitan untuk menelan

ludahnya. Mulutnya melongo, dan matanya tak berkedip sedetikpun.

"Kok diem aja, Dek...?" Tanya WInda.

"Me.. Memek Mbak... Cantik..." Ucap Pandu terbata-bata, "Bener-bener beda ya Mbak... Nggak kaya memek cewek-cewek lain..."

"Sotoy banget deh... Emang sebelum ini... Kamu udah pernah liat memek..?"

"Eko.. Dia sering kasih liat video-video memek cewek, Mbak..." Jawab Pandu polos

"Hah..? Kok bisa..?"

"lya.. Dia khan ceweknya banyak Mbak... Jadi, dia sering merekam memek cewek-ceweknya..." Jelas Pandu lagi, "Dan dari semua memek yang Eko kasih liat ke Adek... Ga ada satupun memek yang secantik memek Mbak itu..."

"Hihihihih... Bisa aja gombalan Adekku..." Ucap Windu sambil mengacak-acak rambut Pandu.

"Aku boleh pegang, Mba...?" Ucap Pandu dengan mata berbinar-binar

"Pegang aja loh yaaa..."

Pandu mengangguk, dan menjulurkan tangannya. Menyentuh bagian atas vagina Winda yang tak

nulkalan tamÅŸktlya. Maryantuin bukyn atak vagina Winda yang tak.

"Hmmmm..." Jawab Winda cuek

"Boleh aku cium, Mbak...?" Tanya Pandu malu-malu sambil mengusap paha kakaknya.

"Cium aja khan...?" Lirik Winda mengamati tingkah mesum Pandu.

"Terserah kamu..." Jawab Winda mengiyakan permintaan adiknya..

Dengan sigap, Pandu segera menyosor kearah selangkangan Winda. Mendekatkan wajahnya kearah celah kemaluan kakaknya yang begitu montok.

"Wangi mbak..." Ucap Pandu yang menghirup dalam-dalam aroma vagina Winda

"Masa...?"

"lya... Bener... " Seru Pandu girang.

"Ya gitulah..."

"Kok ga kaya cerita-cerita Eko ya Mbak...?"

"Emang Eko bilang apa...?"

"Ya katanya sih baunya asem... Ga kaya bau memek Mbak gini..."

"Bisa aja kamu, Dek...

"Beneran Mbak...." Senyum Pandu yang lagi-lagi menghirup aroma dari celah kemaluan kakak

kandungnya. "Aku boleh jilat, Mbak...?"

"Hmmmm. Mulai aneh-aneh deh...." Sindir Winda mempertanyakan, namun membiarkan perlakuan adik kandungnya yang semakin mesum.

"Sedikit aja kok Mbak..." Senyum Pandu sambil menelan ludah birahinya, "Boleh ya...? Please..."

"Terserah..." Ucap Winda membiarkan adiknya membuka bibir vaginanya.

CUPPP.. SLUURRRPPP

Nafas Winda mulai memburu. Tubuhnya menghangat dan wajahnya memerah. Mendapati perlakuan cabul adiknya, Winda mulai gelisah. Tubuhnya mulai bergidik. Kulitnya merinding dan muncul perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan dari dalam dirinya.

"Ada apa ini...?" Tanya Winda ketika Pandu yang makin ganas menjilati vaginanya.

CUPPP... SLUURRRPPP... SLUURRPPP.....

"Ooh... Ssshhhh.... Dek... " Erang Winda meremas rambut Pandu.

"Kenapa Mbak...?"

"Geli.. Sssshhh....

Melihat tubuh Winda yang mulai menggelinjang, ada perasaan bangga yang perlahan muncul dari diri Pandu. Membuat Pandu makin semangat mengais lendir kemaluan Winda dengan lidahnya. Menyeruput lelehan cairan kemaluan kakak kandungnya dalam-dalam.

"Ooohhh. Deeekk... " Weang Winda yang secara spontan menjambak rambut Pandu.

SLUURRRPPP... SLUURRPPP.....

"Sumpah... Memek kamu... SLUURRRPPP... Gurih banget, Mbaak...." Seru Pandu yang makin memperdalam rojohan lidahnya ke vagina Winda.

"Ohhh... Ssssshhhh.... Jangan Dek " Tolak Winda tetapi dalam hati ingin terus dijilat.

Tak menggubris Winda, Pandu terus-terusan menjilat vagina kakaknya. Dibukanya belahan vagina Winda lebar-lebar sembari menyapu seluruh permukaan vaginanya. Dihisapnya klitoris Winda kuat-kuat hingga natas kakaknya tersentak-sentak.

SLUURRRPPP... SLUURRPPP.....SLUURRPPP.....

Winda memejamkan mata. Menikmati tarian lidah Pandu di vaginanya.

"Ohhh. Deeekkk.. Nggghh.. Aaaahh... Ssshhhhh...." Erang Winda yang secara tak sadar, makin memperlebar bukaan pahanya. Membiarkan lidah Pandu terus menyusup dan mengorek celah kemaluannya.

SLUURRRPPP... SLUURRPPP.....SLUURRPPP.....

"Aaassshhhhh.. Deeekk... " Erang Winda menggelijang kegelian menahan birahinya. Sampai-sampai, karena merasa kenikmatan yang makin tak terbendung lagi, secara reflek Winda langsung membuka seragam sekolahnya. Menaikkan beha yang ia kenakan dan meremasi payudara besarnya.

Melihat Winda yang semakin tenggelam dalam birahinya, Pandu tersenyum penuh kemenangan. Hingga tak lama kemudian, ia merasa, vagina yang ia hisap mulai berkedut hebat. Dan

CREEETTT...CREEETTT...CREEEECREEETT CREEETTIT... CREEETTIT

Tubuh Winda terlonjak-lonjak. Punggungnya melenting, dan tangannya menggelepar-gelepar. Winda juga menariki rambut Pandu dan menjepit kepalanya dengan kedua belah paha jenjangnya.

"HHHUOOOHHH.. HОOOHHH... HUUOOOOHHH.. AAAADDDEEEEKKKKKK...." Raung Winda kesetanan. Pahanya melebar dan menutup dengan kuat. Menjepit kepala Pandu dan membiarkan wajah adiknya terbenam dalam celah kemaluannya yang begitu basah.

"Kamu seksi sekali Mbaaak... Bikin Adek makin sange aja... " Puji Pandu dalam jepitan paha Winda.

Meskipun merasa sakit akibat tabokan paha semok Winda, Pandu tersenyum tersenyum penuh kemenangan.

"Hoohh Adeek.... Kamu sange...?"

"lya Mbaak... Adek jadi pengen ngentotin kamuนนน..."

"Ngentotin Mbak...? Uhhhhsss... " Lenguh Winda yang tak sadar dengan apa yang ia ucapkan di sisa-sisa orgasmenya, "Kok jadi pengen ngentotin sih...? Khan kamu baru keluar...

"lya... Adek pengen ngentotin kamu, Mbak..." Ucap Pandu yang kemudian merangkak keatas dan menempatkan diri diantara selangkangan Winda, "Boleh ya Mbak...?"

"Ihhhssss.. Jahat.... Masa Mbak sendiri mau dientotin sihhh...? Ssshhhh..."

Tanpa menunggu persetujuan Winda, Pandu segera menempelkan batang penisnya yang sudah begitu keras, dan menepuk-tepukkan ke bibir vagina kakak kandungnya.

PUK PUK PUK...

"Pasti sempit sekali ya rasa memekmu, Mbak...?" Bisik Pandu mengambil ancang-ancang.

Sejenak Pandu tertegun melihat vagina Winda yang masih berdenyut pelan itu. Begitu resik dengan rona-rona merah yang menggoda. Disibakkannya bibir kemaluan Winda kekanan dan kekiri, hingga menampakkan lubang vagina yang begitu sempit dengan lubang kecil di tengahnya.

"Mbak.. Adek entot memekmu ya...?" Tanya Pandu sambil mulai menggesekkan penisnya maju mundur dicelah selangkangan Winda.

"Ngggghhhh...? Entotin memek Mbak...?" Jawab Winda tak jelas. Antara sadar dan tidak, Winda malah melebarkan pahanya dan membiarkan penis Pandu menggergaji liang kemaluannya.

"lya.. Boleh ya, Mbak...?"

"Ooohhh.. Adekkk....

CLEEEEEPPP

Awalnya, ketika kepala penis Pandu mulai menyeruak masuk kedalam vaginanya, Winda tak merasakan hal yang mengkhawatirkan. la masih saja mendesah keenakan sembari terus meremasi kedua payudaranya yang besar.

Bahkan ketika penis adik kandungnya mulai membelah bibir kemaluannya, Winda malah memperlebar bukaan Pahanya. Mempersilakan supaya Pandu bisa melangkah semakin jauh dalam perlakuan cabul kepadanya.

Rasa nikmat karena sisa-sisa orgasme, sepertinya sudah membutakan Winda. Denyut birahi yang masih terasa di kemaluannya, seolah menyamarkan perih otot vaginanya yang dipaksa merenggang karena sodokan kepala penis adiknya. Yang ada dikepala Winda, hanyalah raungan untuk bisa mendapat kepuasan birahi yang lebih jauh.

"Kak Windaku, Sayang.. Terimalah sodokan kontol adik kandungmu ini..." Erang Pandu sambil menarik penisnya mundur guna mengambil ancang-ancang. Setelah itu, ia mendorongkan pinggulnya maju.

Namun. ketika Pandu bersiap menaaduk-aduk lubana peranakan Winda. tiba-tiba mata

kakak

kandungnya itu terbuka lebar. Seperti tersadar dengan kesalahan yang sedang ia lakukan, Wind mendengus. Matanya melotot dan berteriak lantang.

"ADEK... KAMU MAU NGAPAIN....?" Jerit Winda yang secara reflek mendorong tubuh Pandu hingga ia terjengkang kebelakang.

PLOOOPP

Seiring gerak jatuhnya, penis Pandu yang baru setengah masuk. Ikut terlepas dari celah vagina Winda, dan menjelepat keluar menabrak perutnya sendiri. Kemudian,

CROOOTTT CROOOTTTT CROOOCROOOT CROOOTTTT CROOOOTTIT

Semburan benih segar adik Winda itu menyembur deras dari mulut penisnya, dan terbang ke segala arah.

- - Akhir Kilas Balik - -

Bersambung,



Posting Komentar

0 Komentar