pandu dan lala part 12

 




darah pertama



Tanpa menunggu lelehan benih kemaluan Pandu yang ada di sekujur tubuh Lala mengering, anak semata wayang Winda itu pun segera saja mengenakan pakaian seragamnya. Membiarkan seragam putih birunya itu bergesekan dengan lendir beraroma pandan pada tubuhnya. Menyerap cairan kenikmatan Pandu hingga meresap keserat-serat kain seraga, sekolahnya.

Setelah mengenakan seragamnya, Lala buru-buru cuci muka dan sikat gigi alakadarnya sebelum kemudian mengenakan sepatu.

"Sarapan dulu Neng..." ucap Pandu menyodorkan setangkup roti kepada keponakannya.

Sejenak, Lala menatap curiga kearah roti yang ada ditangan Pandu.

"Roti apa itu Om..?"

"Roti isi selai kacang kegemaran kamu.."

Lala menatap wajah Pandu, seolah mencari kebenaran akan ucapan pamannya barusan.

"Ini roti.. Nggak Om isi ama pejuh juga khan...?" Tanya Lala menatap waswas kearah Pandu

"Beneran ini... Roti isi selai kacang..." Ucap Pandu sambil tertawa, "Ga ada yang aneh-aneh kok."

Lala mengendus roti selai pemberian Pandu, mengintip isinya sebelum melahap separuh roti sandwich itu dengan lahap.

Tanpa berpamitan kepada ayahnya, Lala langsung meminta untuk segera diantarkan kesekolah.

Menggunakan motor kesayangannya, Pandu segera tancap gas mengantarkan keponakan tersayangnya hingga tiba di tempat lomba.

"Om... " Tepuk Lala ditengah-tengah perjalanan. "Aku lupa pake beha..."

"Laahh? Gimana...?" Kaget Pandu

"lyaa.. Tadi karena buru-buru, aku jadi lupa pake..." Jelas Lala setengah berteriak karena laju kendaraan yang begitu kencang.

"Tapi kalo kancut...? Kamu pake khan..?" Goda Pandu sambil meraba paha Lala.

"Pengennya sih ga pake... Biar Om seneng..." Balas Lala tak mau kalah.

"Beneran nih...?" Girang Pandu yang semakin dalam meraba paha keponakannya.

"liihhhhssss.. Ihhhsss Ihhhsss.... Demen nih kayanya... Hahahahaha. Ya pake lah om... " Sewot Lala sedikit tersenyum melihat kemesuman pamannya, "Emang Lala cewek apaan...?Masa berangkat sekolah ga pake beha ama kancut.."

"Cewe apaan...? Ya cewenya Om-laaahhh... Cewe tercantik, terimut, dan terseksi yang paling Om sayangi di dunia ini.. " Goda Pandu " Kamu tuh cewe Om yang paling berharga bagi Om... Pokoknya...

Cinta Om ke kamu tuh ya... Mengalahkan cinta Om ke bakso Aci..."

"Hahahaha... Dasar buaya buntung... " Kekeh Lala terbahak-bahak, "Om jago banget deh kalo ngegombal.... Masa ngebandingin Lala dengan bakso Aci

"Enak aja buaya buntung..." Protes Pandu

"Lha terus...?"

"Buaya ekor tengah... " Celetuk Pandu lagi yang kali ini, mengamit tangan Lala yang memeluk pinggangnya, dan meletakkannya di selangkangannya.

"Ihhhhssss... Udah keras lagi aja Ommm...?" Sadar Lala ketika mendapati selangkangan Pandu yang sudang menggembung.

"Keluarin kontolku Neng..." Pinta Pandu lagi-lagi mengarahkan tangan keponakannya

"Mau ngapain sih...?"

"Kocokin sebentar dong, Neng..."

"Ihhhsss... Bukannya tadi kontol Om, baru aja keluar dipantat Lala...?"

"Sebentaran aja kok, Neng..." Pinta Pandu memelas, "Gara-gara ngebayangin kamu ga pake beha... Om jadi sange lagi nih...

"Ihhhsss... Ga ada puas-puasnya sih Om...?"

"Pleaasseee... Mau yaa...? Kocokin kontol Om lagi...." Pinta Pandu terus menggosok-gosokkan tangan

Lala di tengah selangkangannya. "Mumpung masih pagi nih, Neng..."

"Tapi ini khan dijalan Om...

"Sebentaaar aja kok..."

"Hmmm... Urut-urut aja deh ya... " Ucap Lala mencoba menawar, "Soalnya kalo ngocok, Lala yakin, Om ga bakalan bisa ngecrot dalam waktu yang cepet..."

"Hahahaha... Bener juga yak..." Tawa Pandu girang karena berhasil mendapat apa yang ia minta,

"Yowes

diurut-urut juga gapapa deh... Yang penting kontol Om dapat nikmat dari tanganmu... Makasih ya,

Neng…・・

"Dasar Om Mesum...."

Pandu kemudian menepi. Menghentikan laju motornya. Lalu, ia melepas jaket yang ia kenakan. Setelah itu, ia melepas kait celana, menurunkan resleting celananya, lalu mengeluarkan batang penisnya.

"Loohh... Ehhh. Kok kontolnya dikeluarin disini sih Om...?" Panik Lala yang lagi-lagi celingukan kekanan dan kekiri. "

"Tenang Neng... Tenang..." Ucap Pandu santai sambil membalik posisi jaketnya, lalu ia kenakan kembali dalam posisi terbalik. "Dah...Ayo bantu kocokin kontol Om lagi Neng... Kalo pake jaket gini, ga bakalan keliatan orang lain..." Sambung Pandu sambil kembali memutar tali gasnya, meluncur ke lokasi lomba Lala.

"Tunggu Lala sebentar ya Om..."

"lya cintaku..." Ucap Pandu yang kemudian menstandart motor kesayangannya dibawah pohon rindang yang ada di sudut halaman sekolahan. Memasukkan penisnya yang masih begitu tegang kedalam celana, lalu menyalakan rokok.

Dengan senyum mengembang di wajah, Pandu mengawasi Lala ketika gadis muda itu menghambur masuk ke dalam gerbang sekolah. Namun, tak sampai tiga menit, Lala kembali keluar.

"Kok... Keluar lagi, Neng...?"

"Lombanya di balai kota Om... Bukan disini... " Ucap Lala panik dengan nafas tersengal-sengal.

"Pantesan sekolahan ini sepi..."

"Yuk anter Lala kesana Om..."

Lagi-lagi, Pandu memacu laju motornya sesuai arahan Lala. Berdua, mereka meliak-liuk diatas aspal kasar sambil mengendarai kuda besi. Demi bisa tiba di lokasi secepat mungkin, Pandu menerobos beberapa lampu merah dengan mengerahkan segala kemampuannya. Dan hanya dalam waktu 15 menit kemudian, Lala tiba di area lomba, yang telah dinantikan oleh banyak orang.

"Akhirnyaaaa... Lalaaaaaa..." Panggil salah seorang guru ketika kami tiba di parkiran GOR.

"Ayo ayo ayo.. Cepetan... Sebentar lagi giliran kamu tampil..." Sahut teman Lala lainnya.

Heboh sekali wanita-wanita ini ketika mereka sedang ada acara. Saling tarik, saling tunjuk, dan saling dorong. Percakapan mereka pun rancu dan tak ada hubungannya dengan persiapan lomba. Ada yang membahas makeup, ada yang mengajak becanda, ngegosip, bahkan ada yang ngebahas mengenai sosok pemuda tampan dari sekolah sebelah.

Namun, dari kehebohan itu, ada sesuatu yang membuatku sedikit khawatir. Dan itu berasal dari salah seorang guru Lala yang menyadari, ada sebuah kejanggalan yang terlihat, dari cara Lala berjalan.

Memang, sekilas, cara jalan Lala terlihat janggal. Seperti terseok karena menahan rasa nyeri yang amat sangat di selangkangannya.

KAMPREEETTT

Pandu menepuk jidatnya keras-keras. la baru sadar, jika sakit pada selamgkangan Lala, adalah akibat dari sodokan kepala penisnya yang ia paksa masuk ke vagina keponakannya pagi tadi. Dan dari ulahnya tadi, ada kemungkinan ada sedikit luka pada kemaluan Lala

"Lala.. Tunggu sebentar..." Panggil si guru tersebut sambil mengamit tangan Lala, kemudian menariknya menjauh dari kerumunan.

"Ya? Kenapa, Bu...?" Heran Lala yang melihat wajah curiga pada gurunya.

"Kamu nggak kenapa-napa...?" Tanya bu Guru itu sambil celingukan kesana kemari.

"Maksudnya Bu...?" Tanya Lala lagi sambil menatap kearahku dari posisinya berdiri.

Seolah tahu, ibu Guru itu langsung menengok, mengikuti arah tatapan mata Lala, dan berakhir ketempatku berada.

KAMPREEETT

"Moga-moga, Lala ga cerita mengenai kejadian mesum yang ia alami dipagi hari tadi..." Ucap batinku dengan jantung berdebar kencang.

"Kamu beneran nggak kenapa-napa...?" Tanya guru Lala itu kembali memastikan sembari melihat kearah

selangkangan Lala.

"Lala nggak kenapa-napa kok, Buu..." Jawab gadis mungil itu mencoba menenangkan.

Akan tetapi, semahir apapun Lala mencoba menjelaskan, ibu Guru itu tak bisa mudah percaya begitu saja. Terlebih ketika ia melihat, adanya bercak-bercak putih di sekitaran leher dan dada Lala, semakin membuat rasa penasarannya menjadi-jadi.

SIIIAAALLL

Melihat gerak-gerik curiga ibu Guru itu terhadap Lala, detak jantungku semakin tak beraturan. Terlebih, ketika ia mengendus aroma yang muncul dari kerak-kerak putih yang ada di tubuh Lala.

"Aduh... Kalo bu Guru itu tahu mengenai kerak putih yang ada di tubuh Lala... Bisa makin runyam nih..." Batin Pandu cemas, "Aku harus segera mencari alasan, semisal itu Guru nantinya akan bertanya-tanya padaku...

Bersyukur, tak beberapa lama kemudian, suara cempreng TOA dari panitia lomba, sedikit memecahkan ketegangan yang terjadi diantara kami bertiga.

"Kami ulangi... Fara Kumala, dari SMP Harapan, diharap segera memasuki area lomba..."

Mengenakan kemben merah yang menutup separuh payudaranya, Lala terlihat begitu seksi. Meliak liuk membawakan tari Jaipong, keponakan Pandu itu mendapat tepuk tangan paling heboh. Betapa tidak, meskipun Lala buka penari profesional, akan tetapi, karena tubuh gemulai Lala yang begitu lentur, membuat gadis mungil itu seperti sedang menari erotis.

Sebagian penonton, bertepuk riuh, guna menyemangati Lala. Beberapa penonton lainnya, ada yang melempar bunga atau uang karena terhibur dengan gerakan tari Lala. Yang jelas, pagi itu, pertunjukan tari Lala benar-benar membuat banyak orang terkesima.

Dengan tubuh yang ramping, gerak liuk gemulai, dan senyum menggoda, membuat riuh tepuk tangan penonton begitu menggema. Membuat Lala semakin heboh bergoyang. Seperti seorang penghibur sejati, Lala seperti tahu dengan apa yang diinginkan penonton. Berkali-kali, Lala seolah sengaja menggoda mata-mata yang menatap lekuk tubuhnya. Tak peduli dengan lomba yang sedang ia ikuti, Lala terus bergolek. Menggoyang tubuhnya seindah mungkin, tanpa mempedulikan kesan 'nakal' yang mungkin akan menempel pada dirinya.

Lala juga seringkali berlenggok sambil menundukkan tubuh, memamerkan goyangan pundak dan keluwesan tangannya. Yang secara tak sadar, juga memperlihatkan kerak putih di dada dan lehernya kepada para penonton.

"Gila, keberanian Lala memang juara. la terus melenggok, meskipun tahu, jika tubuhnya penuh kerak bekas pejuhku..." Batin Pandu sembari membetulkan posisi penisnya yang makin menegang, seiring gerakan keponakannya yang begitu gemulai, "Oh Lala... gadis kecilku yang bergelimang pejuh...

"Hebat kamu, Neng... Bisa dapet juara dua..." Sorak Pandu ketika melihat Lala turun dari podium dengan memegang piala besar bertingkat tiga dalam genggaman tangannya.

"Tapi nggak juara satu nih Om..." Sahut Lala dengan nada jutek.

"Bagi Om... Kamu juara satu..."

"Aaahh... Kurang seru nih... Kalo pujiannya dari Om doang..."

"Hahaha.. Ntar om kasih kado special deh..." Tawa Pandu sambil memeluk Lala erat-erat.

"Kado apa...? Kocokin kontol besar Om terus buang pejuh di badan Lala lagi...?" Celetuk Lala pelan.

"Eeehhhh...." Pandu buru-buru celingukan kesekitarnya, kali-kali ada yang mendengar kalimat mesum Lala. "Hahahahaha... Sumpah... Ponakan Om nih selalu bisa bikin gemes..." Sambung Pandu sambil mencubit pipi bulat keponakannya.

"Aduuuh sakit Oooommm..." Omel Lala mencoba menepis jepitan jari tangan pamannya. "Suka banget

sih nyakitin Lala...

"Om gemes Neng..."

"Gemes apa nafsu...?"

"Hahaha. Dua-duanya..." Ucap Pandu dengan batang penis yang makin mengeras.

Putri Winda ini memang seorang wanita penggoda alami. Meskipun tidak juara pertama, akan tetapi apa yang ia lakukan barusan, benar-benar bisa menghipnotis penonton, sekaligus juri lomba. Terlebih, Lala maju ke pentas, tanpa persiapan sama sekali. Dan lagi, ia juga kurang tidur, karena perlakuan cabul Pandu pada dirinya dipagi hari tadi.

Setelah acara lomba selesai, Pandu dan Lala pun segera pamit.

Ada sedikit kelegaan ketika pada akhirnya, mereka berdua bisa segera meninggalkan tempat lomba itu.

Bukan karena setelah ini mereka bisa bersantai menikmati sisa hari, melainkan karena bisa terbebas dari tatapan mata guru tari Lala tadi, yang sedari datang menatap penuh curiga kepada Pandu.

"Bu Leony..." Batin Pandu dalam hati ketika membaca sebuah nama yang tersemit pada dada kiri wanita

itu. "Aku harus waspada dengan wanita satu itu..."

***

Suatu hari, Lala datang dengan terburu-buru. Wajahnya tegang, bulir keringat membasahi dahi dan ujung hidungnya. Nafasnya menderu, dengan dada yang naik turun.

"Om.. Om Pandu..." Panggil Lala dengan nada panik. Nyelonong masuk kedalam rumah Pandu dengan seragam yang masih menempel di tubuhnya. "Ommm... Om dimana...?"

"Om di workshop Neng... " Sahut Pandu yang buru-buru mematikan soldernya, dan menghampiri Lala yang datang dengan grabak-grubuk, "Hei-hei tenang Neng... Ada apa Neng sih...? Kok sepertinya heboh banget..."

Tanpa menjawab, Lala kemudian menunjuk kearah selangkangannya kengan mulutnya.

"Ada apa dengan selangkanganmu, Neng...?" Bingung Pandu melihat tingkat keponakannya

Lala kemudian menundukkan kepala, menatap kearah kemaluannya. Setelah itu, ia mengamit bawahan kain roknya, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi.

SEEERRRRR.

Lelehan cairan berwarna merah, terlihat mengalir membasahi paha dalam keponakan Pandu itu.

"Memek aku berdarah..." Ucap Lala panik dengan muka sembab. Seperti baru saja mengangis.

"НАААНН..? Kok Bisa...?" Jawab Pandu yang ikut-ikutan kaget.

"Gi.. Gimana inih Ooommm...? Lala takut... Hiks hikss...." Ucap putri Winda itu mulai menangis.

"Emangnya tadi kamu habis ngapain, Neng...?" Selidik Pandu

"Ga ngapa-ngapain kok Om..." Jawab Panda mencoba mengatur isak tangisnya.

"Kamu baru jatuh...?"

"Engga..."

"Kebentur...? Kepleset.?"

"Enggak..."

"Colmekk..?"

"lihhhssss Om mah gimana sih...? Memek aku berdarah malah ditanyain kaya gitu..."

"Yah Maap... Om khan juga ga tau.... Kenapa memek kamu bisa kaya gitu Neng.. Om tuh khawatir juga tauk..." Keluh Pandu ketika mendapati kekesalan serta kepanikan Lala pada dirinya.

"Enggak Omm.. Lala nggak jatuh, nggak colmek, nggak ngapa-ngapain... Tau-tau aja pas tadi turun dari angkot, memek Lala ngucur berdarah seperti ini... " Cerocos Lala, "Nyari Mama dirumah, ga ada...

Yaudah Lala kesini.... Kali aja Om bisa tau memek Lala kenapa..."

"Sakit nggak...?"

"Mules..." Jawab Lala singkat. "Melilit gitu perut bawah Lala, Om..."

"Hmmmm...." Mendengar jawaban dan penjelasan singkat Lala, sepertinya Pandu bisa menyimpulkan jawabannya. la tersenyum. Namun, buru-buru ia sembunyikan. "Sebentar-sebentar... Coba Om liat memekmu...

Dengan spontan, Lala menaikkan lebih tinggi bawahan roknya, lalu menyodorkan selangkangannya maju.

Mendekat kearah Pandu yang masih berjongkok dihadapannya.

"Hahaha. Bukan seperti itu Neng..." Tawa Pandu geli karena kepolosan keponakannya. "Coba kamu duduk dikursi itu...'

"Gapapa kursinya kena darah Lala..?"

"lya gapapa... Tapi enakan dilepas dulu kancutnya.."

Tanpa menunggu lama, Lala kemudian menurunkan celana dalam dan melepaskannya. "Kancut Lala udah basah kuyup kena darah nih Om... Huufff.. Anyirr...."

"Yaudah.. Sekarang kamu duduk aja dulu... Om mau ambil handuk dan air hangat..." Ucap Pandu yang kemudian beranjak kearah dapur.

Beruntung, Pandu yang meskipun bukan lulusan akademi perawat, punya kemampuan khusus di bidang medis. Berbekal buku bacaan dan artikel, membuatnya punya banyak ilmu mengenai kesehatan. Dan tanpa menunggu waktu lama, Pandu bisa tahu, jika yang sedang dialami Lala saat itu, bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan.

Namun, bukan Pandu namanya, jika kekhawatiran Lala akan kondisi tubuhnya, tak ia manfaatkan.

"Sepertinya, apa yang kamu alami sekarang, adalah sesuatu hal yang parah deh, Neng..." Ucap Pandu ketika berbalik dari arah dapur sambil membawa baskom berisi handuk dan air hangat.

"Hah...? Serius Om..?"

" Jawab Pandu tanpa ekspresi.

"Adduuhhhh.. Terus gimana dong Om...? Lala nggak bisa nih.. Pulang kerumah dengan kondisi memek yang berdarah-darah gini..." Panik Lala dengan wajah yang semakin tegang

"Yaudah... Sekarang kamu rebahan ya..." Pinta Pandu sedikit mendorong dada Lala mundur. Sehingga membuat gadis cantik itu tiduran telentang dikursi panjang.

"Buka lebar-lebar pahamu, Neng. Om

pengen lihat memekmu sebentar...

"Emangnya, memek Lala mau Om apain...?" Tanya Lala yang ketika membuka pahanya kesamping, buru-buru menelangkupkan telapak tangannya didepan vagina.

"Singkirin dulu tangannya, Neng... " Pinta Pandu singkat.

"Jawab dulu. Om mau ngapain memek Lala...

"Mau Om perkosa..." Ucap Pandu sambil berpura-pura menurunkan celana kolornya.

"liihhhhsss. Kok gitu Om...?" Kaget Lala

"lya... Om ga tahan liat memek perawanmu yang legit..."

"Waduh... Ga jadi deh... " Ucap Lala makin panik sambil buru-buru bangkit dari rebahannya.

"НАНАНАНАНАНАНА...." Melihat keluguan Lala, Pandu tertawa terbahak-bahak.

"liihhhhhsssss.. Nyebelim deeeehhhhh...." Ucap Lala sambil merengut.

"Abisan, gimana Om bisa periksa memek kamu kalo tangan kamu ada disitu..."

"Lala malu Ommm.."

"Malu kenapa...? Khan Om udah sering lihat memek Lala..." Jelas Pandu, "Yuk.. singkirin.."

Karena tak tahu harus berbuat apa, Lala pun hanya bisa menurut perintah Pandu. la buru-buru menyingkirkan tangannya, dan membuka kedua pahanya kesamping. Memperlihatkan celah lubang vagina gundulnya yang belepotan darah ke hadapan Pandu.

"Sebentar ya Neng... Om bersihin dulu darah-darah di memekmu ini..." Ucap Pandu yang setelah itu menyeka cairan kemerahan yang tak henti-hentinya merembes keluar dari liang kemaluan keponakannya.

"Uhhh..." Lenguh Lala sambil memejamkan mata.

"Enak ya Neng...?"

"GEEELLIIIII..." Seru Lala sewot ketika Pandu sesekali menyenggol kemaluan Lala.

"Ntar juga lama-lama enak... Hahahaha..."

"Dasar Om ga jelas..."

Dengan telaten, Pandu mengelap aurat kewanitaan Lala. Berkali-kali, ia membasuh lubang mungil yang ada di selangkangan Lala dengan handuk basahnya. Tak lupa, ia juga membersihkan lelehan darah di paha gadis mungil itu.

"Dah.... Sekarang, memekmu keliatan mengkilap..." Goda Pandu ketika selesai mengusap vagina Lala hingga bersih.

"Trus memek aku kenapa Om...?" Tanya Lala bener-bener penasaran sambil menatap kearah Pandu

melalui belahan pahanya.

"Kalo dari luaran sih, sepertinya nggak ada yang salah, Neng..." Ucap Pandu singkat, "Tapi.. Om kudu liat daleman memekmu lagi buat memastikan ga ada yang luka..."

"Trus...? Gimana cara ngelihatnya...?"

"Sebentar... Coba buka lebih lebar lagi memek kamu Neng... Om mau intip..."

"Gini...?" Tanya Lala yang tanpa ragu, menyibakkan kedua bibir vagina mungilnya kesamping.

Mempertontonkan liang kemaluan Lala yang berwarna merah cerah.

GLEEEEKKK

Ucap Pandu dalam hati ketika melihat kebeningan vagina keponakannya yang terpampang jelas di depan mata. Vagina Lala, terlihat begitu cerah. Mulus, bening, berwarna pink, dan tanpa rambut sama sekali.

Gundukan gemuk ditengah selangkangan itu, terbeliak kekanan dan kiri, dengan bibir vagina yang begitu berkilauan.

Karena gemas melihat kepolosan vagina Lala, Pandu kemudian menyentuh kacang itil keponakannya yang terlihat menyempil di ujung vaginanya.

"Ssshhh....." Desah Lala spontan.

"Sakit Neng...?" Tanya Pandu yang sekarang belagak seperti dokter.

Lala menggigit bibir bawahnya. Matanya sayu. Lalu menggeleng pelan.

SREEETTT

Lagi-lagi, Pandu menggesek klitoris Lala. Sembari sedikit mengucek tonjolan daging sensitif, yang menonjol diatas bibir vagina Lala.

"Sssshhh... Ommm... Jangaaannn..."

"Jangan apa...?" Goda Pandu

"Jorok Ommm. Itu lubang pipis Lala..."

"Emang kenapa...? Om suka kok..." Seru Pandu yang lagi-lagi mempermainkan biji klitoris Lala.

"Hhhggghhh... Ommm... Jang... Oohhhh... Aaannn... Dikorek gituuhh....Oomm... Ssshhh......" Lenguh Lala dengan mulut menganga. Matanya merem melek berusaha menahan nikmat yang amat sangat.

Urat-urat dileher sampai menegang karena kegelian akibat gelitikan jemari Pandu yang semakin

Tak tahan melihat respon polos Lala, Pandu makin mendekatkan wajahnya kearah vagina botak yang begitu imut menggairahkan itu. Dan dengan nafsu birahi yang begitu memburu, Pandu segera menyosor kelamin keponakannya yang merah merekah itu.

HAAAPP.

SLUURRRP SLLUUURRRPPP

Suara mulut Pandu, menjilat dan menyucupi semua lendir kemaluan dan darah Lala yang tak henti-

hentinya merembes keluar.

Asin, gurih, sekaligus anyir. Rasa lidah Pandu ketika ia melahap vagina Lala yang sudah belepotan lendir kewanitaan bercampur darah menstruasinya.

Pandu. Menjambak rambut pamannya itu dengan kencang.

Melihat reaksi keenakan dari Lala, Pandu bukannya berhenti. la malah semakin merangsek maju.

Menyibakkan kedua bibir vagina keponakannya itu lebar-lebar kesamping. Membuka kedua pahanyanya kesamping dan makin membenamkan ujung lidahnya masuk. Mengais-ngais semua lelehan lendir kemaluan Lala yang makin tak terbendung.

"Hhgggghhhh.. Ngggghhh.. Oommmm..." Erang Lala terus meracau karena darah hangat birahinya makin meledak-ledak. la begitu terangsang.

SLUURRRP SLUURRRP SLLUUURRRPPP

Suara mulut Pandu terus menghisap lendir vagina Lala kuat-kuat. Tak mempedulikan tubuh keponakannya yang kelojotan karena rasa geli selangkangannya yang begitu dahsyat.

"Oooohhh.. Ooommmm.... Nggghhhhh...Ommmm.. Nggghhhh.... " Erang lala tanpa henti. Dengan nafasnya menderu-deru dengan kelejatan tubuh yang makin susah dikendalikan, tubuh Lala meliuk dan bergoyang bagai cacing kepanasan, "Ampun Ommm... Ohhh... Enak bangeeettt..."

"Puaaahhh....." Jawab Pandu sedikit menghentikan jilatan mulut pada vagina Lala, "Kamu Suka Neng...?

Memeknya Om jilatin seperti ini...?"

Tak menjawan pertanyaan Pandu, Lala makin membuka lebar kedua pahanya dan menyuguhkan vagina gundul yang begitu menggiurkan kepada pamannya. Dan tanpa meminta dua kali, ia menarik rambut Pandu untuk segera kembali kearah selangkangannya. Dengan maksud meminta lidah gesitnya kembali mengaduk-aduk liang senggamanya.

"Ooohh..... Ssshhh..... Sumpah... Lidah Om... Enak banget...." Erang Lala ketika Pandu mengerti permintaan Lala, "Isep terus memek Lala Om... Ssshhhh... Enak banget..."

"lissshhh... Berani-beraninya kamu memerintah Om...?"

"Lala ga kuat lagi Ooommm....

"Ga kuat kenapa...?"

"Gateeeelll...

"Hehehee... Dasar ponakan nakal..." Celetuk Pandu yang kembali menyeruput lelehan lendir vagina Lala tanpa henti.

"Ssshhhh... Ooohhhh. Enak banget Ommm.... Ssshhh... Ngentoottt..." Ucap Lala spontan, tak sadar dengan kalimat yang meluncur faseh dari bibirnya. Begitupun dengan Pandu yang juga tak mengira jika

Lala mempunyai kosakata jorok seperti itu.

SLUURRRP SLUURRRP SLLUUURRRPPP

Semakin dalam lidah Pandu menusuk liang kemaluan Lala, semakin heboh pula jeritan dan racauan Lala tak peduli dengan status keponakan dan paman yang melekat pada diri keduanya. Yang jelas, ia ingin cepet-cepet mendapat nikmat dari jilatan lidah Pandu yang semakin dalam merojoh-rojoh liang peranakannya.

"Ngghhh... Aku mau pipis Ommm... Nggggghhh... " Erang Lala ketika merasakan lagi, gelombang hangat-hangat nikmat makin memanas di area bawah pusarnya. Dan secara tak sadar, Lala mulai menekan-nekan kepala Pandu supaya makin dalam merasuk ke tubuhnya.

"Om Pandu...Aku mau pipis Oooommmmm... Ngghhh.. Ssshhh. Aku mau Piii...Pilissss....

Sepersekian detik kemudian, pantat Lala mengejat-kejat. Ototnya bergetar begitu hebat. Dinding vaginanya mengedut, menegang, dan mengencang kuat. Menjepit kepala Pandu yang masih sibuk ditengah selangkangannya.

CREEEET CREET CREEEEECEEETTTTTT CREEETTT CCRRREEEEETTIT

"OMM PANDUUU... ОООННН... AKU PIPISSS OMMMM... AKU PIPIIIISSSSS...." Raung Lala dengan mata melotot. Tubuhnya mengejat kuat dengan kaki yang menendang-nendang. Dan seperti sebelumnya, tak berapa lama setelah Lala orgasme, wajah Pandu disembur oleh cairan hangat yang muncrat dari dalam vagina keponakannya.

SEEEEEEERRRRRR... SEEEEEEERRRRRRRRR.. SEEEEEEEEEERRRRR.....

Lagi-lagi, Lala squirt.

"ноооннн. ноооннн... ноооннн... OOOMм... AMPUUNNN... " Lenguh Lala mencoba

mengatur nafas dengan tubuh yang lemah tak berdaya karena kejut orgasmenya barusan

"Hahahaha... " Tawa Pandu begitu puas melihat keponakannya kelojotan tanpa henti.

"Ooohhh.. Ooommm.... Enaaaaaakkkkk..."

Sore itu, entah mengapa, Lala merasa begitu syahdu. Kelopak matanya berat, dan pikirannya begitu tenang. Lala tak pernah mengira, jika tiduran sore hari di sofa panjang rumah pamannya, terasa begitu asyik. Hingga tak terasa, langit sudah semakin gelap.

"Udah bangun, Neng...?" Tanya Pandu sambil membawakan sebuah nampan yang berisi dua gelas teh manis hangat, dan sepotong roti bakar.

"Emang aku tidur...?" Kaget Lala ketika terbangun dalam kondisi terbungkus selimut.

"Sampe ngorok..." Celetuk Pandu sambil tersenyum

Memang, setelah merasa denyut hebat orgasmenya barusan, pandangan Lala tiba-tiba memutih.

Pikirannya ringan, dan tubuhnya menghangat. la merasa, semua sendi tubuhnya terlepas, dan tubuhnya lunglai seperti tanpa tulang.

Nikmat. Lega. Dan entah apa istilahnya, Lala menjadi merasa puas.

"Minum dulu tehnya, Neng... Biar ada tenaga..." Ucap Pandu yang kemudian membawa tongkat pel dan ember dari sudut ruangan, "Om keluar bentaran ya...'

"Mau kemana Om...?" Tanya Lala ketika melihat Pandu mengambil dompet dari saku celananya.

"Kewarung..." Ucap Pandu mengecup telapak kaki Lala.

"Emang mau ngapain...?"

"Beli pembalut..." Jawab Pandu sambil tersenyum.

"Pembalut....?" Heran Lala, "Emang buat siapa...?"

"Buat cewek yang baru sadar dari pingsan enaknya..."

"Sadar dari pingsan enak..?" Heran Lala sambil terus berpikir keras.

"lya... Cewek yang masih selimutan tanpa pake bawahan atau celana dalam sama sekali..."

"Kayanya, cewek yang ga pake celana dalam tuh Lala ya Om...?" Tebak Lala

"Hahahaha..." Tawa Pandu

"Tapi.. Kok rasanya, memek Lala becek lagi ya Om...?"

"Kamu sange lagi...?"

"Enak aja... Dasar Om otak mesum..." Celetuk Lala sambil membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Dan begitu melihat kondisi vaginanya, Lala berteriak histeris, "Astaga... OM PANDUUU...

Memek aku berdarah lagiii....

"

"Tenang Neng...Tenang... Gausah Panik...."

"Memek aku berdarah lagi Om... Gimana Lala bisa ga panik...?"

"Itu tandanya, kamu udah mens... Hahaha.. " Tawa

Pandu terbahak-bahak melihat kepolosan

keponakannya.

"Emang buat apa Lala pake pembalut...?" Tanya gadis imut itu sambil melongok kedalam selimutnya,

Kamu abis apain aku Ommm...?"

"Ya buat jaga-jaga supaya darah mens kamu ga kemana-mana.... Pembalut ini, bakal menghisap darah mens kamu... Jadi memek kamu tetep bersih..."

"Ihhhhsss.. Buat apaan... Ogah ah..."

"Kok ogah...

"Khan Lala punya Om Pandu..."

"Maksudnya...?"

"lya... Mulut Om khan bisa bersihin darah di memek Lala..." Celetuk Lala polos, "Jadi kalo memek Lala berdarah, tinggal minta tolong Om buat ngebersihinnya..."

"Hahahahaha..

"Neng Lala cantikku... Sekarang kamu udah dewasa, Neng..." Sahut Pandu, "Tubuh kamu, udah bisa punya anak..."

"Udah bisa punya anak...? Maksud Om hamil...?"

"lya... Kamu sudah bisa hamil, Neng...." Jelas Pandu makin tersenyum lebar, "Semisal ada kontol dari lelaki jahat, yang sengaja buang pejuh di dalem memek kecilmu itu..."

Bersambung,



Posting Komentar

0 Komentar