Sang pewaris part 60

 

Bab 60






Aku sedang duduk di atas ayunan di sebuah alam yang sangat luas. Rumput hijau menghampar sejauh mata memandang. Dua ekor harimau putih duduk di samping kiri dan kanan tempatku terayun. Tubuh mereka semampai, nampak kekar dan kokoh. Bulu-bulu lebatnya berkibar diterba angin, nampak bersinar karena terpaan matahari sore yang terasa hangat. Sekali-kali keduanya menyeringai memamerkan siung tajam; bahkan mengaum seolah hendak mengabarkan kepada para musuh bahwa ini adalah daerah kekuasaan mereka. Aku merasa aman. Mereka ada untuk mengawal dan menjagaku.




Di depanku.. di atas batu ceper yang mirip meja alami, ada sosok berlumur darah yang terkulai tanpa daya. Aku mengenal pemuda itu. Dia adalah aku sendiri. Aneh… tapi aku tidak takut… tidak juga heran… aku merasa tetap satu walaupun bisa melihat tubuhku sendiri.




Kulihat juga kakak dan Nzi sedang memeluk tubuh yang berlumur darah itu. Keduanya menangis sambil tak henti-hentinya memanggil namaku supaya bangun. Kenapa mereka sedih ya? Aku kan baik-baik saja dan sedang senang… lucu aja sih bisa melihat tubuhku sendiri yang berdarah-darah. Aku saja tidak merasa kesakitan.




Kulihat mamah menangis sambil mengusapi rambutku. Ayahku sendiri hanya mematung diam, tatapannya seperti kosong.. tidak.. bukan kosong sebetulnya, tapi jiwanya sedang mengeluarkan energi yang sangat besar. Ia terlihat kosong karena kekuatannya sendiri tersedot keluar.




Aku tersenyum ketika melihat sosok lain. Cantik… sangat cantik. Rambutnya berkibar, dan angin seperti sedang bermain-main dengan tubuh moleknya. Tepian roknya yang lebar bergelombang, sekali-kali sedikit tersingkap hingga di atas lutut. Hehe.. alam pun jatuh cinta, dan terus mencumbu tubuhnya melalui terpaan angin. Kalau alam saja gandrung, apalagi aku. Rasa hatiku meletup, aku merasa sangat ringan, cinta ini membahagiakan.




Berbeda dengan mamah serta kakak dan adikku yang menangis meratapi tubuh itu, Rere hanya berdiri mematung. Hanya berjarak sekitar dua langkah dari tubuhku. Wajahnya tanpa ekspresi tapi kulihat air matanya berlinang. Tangannya menggenggam liontin pada untaian kalungnya. Itu adalah hadiah dariku. Sekali-kali ia mencium liontin itu.




Groaaaarrr!! Pengawalku mengaum keras, telingaku dibuat berdengung karenanya. Eh.. tiba-tiba aku mendengar suara-suara, selain tangis mereka tentu saja. Sangat gaduh seperti di tempat keramaian, aku tidak bisa mendengar jelas. Tapi itu semua adalah suara meraka.. suara ayah, mamah, kakak, dan adik, kecuali kekasihku. Aku tidak bisa mendengar suara Rere.




Kupijakan kaki pada tanah sehingga tubuhku berhenti berayun. Aku mencoba fokus mendengarkan suara-suara yang ada. Mataku tetap menatap mereka. Sebetulnya tidak ada percakapan di antara orang-orang di hadapanku, tiga menangis sedangkan yang dua diam. Tapi kenapa suara mereka bisa kudengar, yang awalnya samar kini semakin jelas. Ah.. aku tersenyum. Yang kudengar adalah suara batin mereka. Aku paham.. padahal tidak ada yang menjelaskan.




Suara kakak yang pertama kudengar paling keras. Ia terisak dan hatinya tak henti berbicara.




“Adek, kakak mohon bangunlah, dek. Maafkan kakak karena tidak bisa melindungimu hiiiks.. Jangan hukum kakak seperti ini, dek. Bangun.. bangunlah adekku, sayang.”




Hehe.. kakak lucu. Kenapa nyuruh aku bangun, dari tadi juga aku kan tidak tidur. Tapi kalau kang pepen dari kemarin juga tidur sih, sejak tahu Salsa hamil ia tidak berani bangun.




Tapi kasian sekali kakakku, ia terlihat sangat sedih. Aku juga ikut sedih. Ya.. sedih karena melihat kakak sedih. Eh bukan sedih sebetulnya, aku terharu. Adaku sekarang hanya bahagia, aku tidak merasa sedih sama sekali.




“Kakak sangat sayang kamu, dek. Hiiiks… maafkan kakak kalau kakak sering marah-marah dan mendiamkanmu belakangan ini. Hiiiks hiiiksss… Kakak hanya shock, kakak kaget, hmm.. iyah kakak jujur… kakak juga kecewa… tapi kakak tidak marah. Kakak sayang adek… hiks hiks…”


“Maafkan kakak karena malam itu menamparmu, adekku sayang. Adek tahu? Kakak sangat menyesal.. Asal adek tahu, dengan tangan yang sama.. ya dengan telapak tangan kakak yang menamparmu malam itu kakak menampari pipi kakak sendiri. Kakak bodoh… harusnya tangan kakak ini dipakai untuk menyayangimu… mengusapi rambutmu seperti yang biasa kakak lakukan pada adek sejak kecil… setiap malam.. sebelum adek tidur… hiiiks…”


“Maafkan kakak kalau kakak lebih banyak menemani Reremu yang cantik itu. Memilih selalu bersamanya. Kakak sama sekali tidak ada niat mengindar darimu, dek, tidaaaak..!! Kakak juga melakukannya bukan karena kakak membenci adek. Bangun, dek, jangan hukum kakak hiiiiks… adek harus bangun.. adek harus mendengar penjelasan kakak.”


“Hiks hiiiks… kamu itu adek laki-laki kakak satu-satunya. Kakak percaya adek pasti lebih kuat. Kamu adek kakak yang hebat…”


“Tapi Rere perempuan, dek, lebih rapuh, gak sekuat adek. Adek harusnya bisa melewati masa sulit tanpa kakak karena adek itu adek lelaki kakak yang tangguh, beda dengan Rere. Mengertilah, dek, itulah alasannya kakak selalu bersama Reremu selama ini. Hiiiks…”


“Adeeeek banguuun hiiiiiksss… kakak mohon. Jangan buat kakak menyesal seumur hidup kakak. Bangun, dek, banguuuun.”


“Tapi.. tapi kakak kesel… hiiiks… dari dulu kan kakak sering maksa adek latihan beladiri, tapi adek selalu punya alasan untuk menghindar. Sekarang kena batunya kan.. lawan dua orang aja kalah. Coba kalau kakak tidak lewat dan tidak balik lagi karena merasa ada yang melambaikan tangan dan memanggil kakak… coba kalau kakak tidak ada di situ… apa jadinya dengan kamu, dek? Kamu diculik.. kamu dibun… tidak tidaaak… maaf kalau kakak berpikir seperti itu. Kakak tidak mau kehilangan adek, kakak tidak mauuu hiiiks.. hiiikss… Kamu lemah dek, payaaah.. hehehe… hiiiiks… huaaa… hiiiks… adek banguuun…”




Hehehe.. kakak aneh. Aku jadi tertawa mendengarnya. Tapi tapi.. kenapa pipiku basah. Kok aku menangis? Aku berderai air mata seperti kakak, padahal hatiku bahagia-bahagia saja. Sama sekali tidak sedang bersedih.




“Pokoknya adek harus bangun.. ayo deeek jangan siksa kakak. Bangun, sayang… kamu boleh menentukan pilihan hidupmu sendiri, boleh memilih gadis lain, kakak rela jika adek tidak menikah dengan Rere. Kamu akan tetap menjadi adek kakak, akan tetap jadi kebanggaan kakak. Rere juga kan saudara kita. Kita tidak akan pernah berpisah.. ingat kata adek.. keluarga ya keluarga… satu.. sama… utuh…”


“Kalau adek gak bangun, adek bohong.. di mana utuhnya? Di mana satunya? Kamu itu segalanya bagi kakak, bagi keluarga kita. Tega ama kakak? Tega ama Nzi? Hmm.. kalau adek memang tega pada kami berdua, ya tidak apa-apa, tapi apa adek masih tega ama ayah dan mamah? Bangun, sayang, kakak mohon bangunlah…”


“Hehe..” aku kembali terkekeh. Kali ini sambil berusaha mengeringkan air mataku. Aneh ya.. padahal aku sedang bahagia tetapi kenapa aku menangis. Aku betah di sini, di alam ini, tidak ada kesedihan, malah hanya bahagia yang ada.




Sisanya kakak hanya menumpahkan laranya dalam tangisan, tidak ada lagi kata-kata yang kudengar. Melihat kakak seperti itu, ayah sepertinya sangat sedih, ia tidak tahan melihat si sulungnya seperti itu. Ia pun menarik bahu kakak supaya berdiri.




“Ayaaaah… bangunin Rei, Yaaah. Hiiiks….” kakak pun memeluk ayah dengan sangat erat. Suara jerit tangisnya teredam karena ayah membenamkan wajah kakak ke dalam dadanya.




Nah gitu kan rukun. Kakak tuh sebetulnya paling dekat dengan ayah. Kalau ada apa-apa curhatnya pasti pada ayah duluan, baru sisanya padaku dan Nzi. Tapi kakak terlalu gengsi untuk bermanja pada ayah atau mamah, beda dengan aku atau Nzi yang gak pernah jaim. Sayang yah mereka pelukannya sambil berderai air mata. Gak seruuu!!!




“Kak, kalau kakak gak bangun pokoknya adek marah. Adek akan benci kakak. Adek mau mati aja. Biarin adek gak ngerasain nikah juga.” kali ini suara Nzi yang suaranya paling keras kudengar.




Aku pun tertawa mendengarnya. Adikku memang ceriwis. Kayaknya adikku harus punya suami yang ahli suwir, jadi ia akan menyesal pernah berkata seperti itu.




“Siapa sih tuh orangnya yang berani-beraninya mukulin kakak dan nembak kakak. Adek akan cari dan patahin hidung mereka.” ujarnya lagi.




Aku kembali tertawa. Matanya saja yang bercucuran air mata, tapi kata-katanya lucu dan menggemaskan.




“Adek sayang kakak. Jangan pergi, kaaaak, ayo bangun. Ingat loh kita punya janji untuk bikin acara spesial bagi pertunangan Kak Kekey. Kata kakak kan janji harus ditepati, masa kakak sendiri malah mengingkarinya…”


“Pokoknya kita harus bikin acara istimewa buat bahagiain kakak kita. Kakak yang terbaik kan layak mendapatkan yang terbaik dari adek-adeknya, makanya bangun kak..”


“Kalau kakak bangun, adek janji, nanti kalau Kak Rei menikah, adek juga mau bikin acara spesial buat kakak. Adek gak peduli siapapun istri kakak nantinya, yang penting istri kakak harus baik ke aku kayak kakak…”


“Eh.. tapi.. tapi.. Kak Kekey ama Kak Rey juga harus bikin yang spesial donk buat perkawinan aku. Aku kan adek yang paling cantik, paling imut… Adek pengen bulan madu ke eropa.. pengen menyusuri kota-kota tua yang ada di sana.. hehee.. kakak dan Kak Kekey yang bayarin. Janji looh? Hehe.. makasih, kakak.”


“Hiks.. hiks… hiiiksss…”




Nah kan galau kan. Tadi katanya gak mau menikah, tetapi sekarang bilang ingin dibayarin bulan madu ke Eropa. Ia benar-benar ceriwis… eh tapi malah menangis lagi. Adikku lucu.. gemesin.. pengen acak-acak rambutnya. Tapi nggak ah… aku betah di sini. Walaupun melihat orang-orang yang menangis, aku tidak terpengaruh dan tidak ikut terbawa sedih. Aku akan memilih tetap di sini. Tidak mau pulang.




“Lagian kakak aneh sih. Maen perempuan sembarangan. Kakak lupa kalau punya kakak dan adik perempuan? Coba kalau itu terjadi pada aku atau kakak? Iiih.. amit-amit tapi. Tapi kakak akan tega seandainya hal itu terjadi pada kami berdua? Kakak tahu tentang hubungan aku dan si kampet Dante aja, kakak marah, apalagi kalau lebih dari itu. Hayooo…??! Bangun, kaaak, ayooo…”


“Hiiiksss… pokoknya kalau kakak gak bangun, berarti kakak tega!! Kakak gak sayang aku!! Aku akan benci kakak dan aku akan mati lalu cari kakak, dan akan bunuh kakak!! Titik!!! Hiiikkkss…”




Aku pun terbahak mendengarnya. Kalau aku dan Nzi benar-benar mati, bagaimana mungkin ia membunuhku. Masa orang mati membunuh orang mati. Ada-ada saja adikku.




Sisanya Nzi hanya menangis, sepertinya ia sudah lelah berkata-kata, lelah membangunkan tubuh yang berlumur darah itu.




Kulihat mamah duduk pada kursi yang tadi ditempati kakak. Kak Kekey sendiri masih menangis dalam pelukan ayah. Mamah mengusapi rambut pada tubuhku yang terbujur kaku itu. Satu tangan lagi dipakai untuk mengusapi lengan Nzi yang tiba-tiba memeluk mamah sambil tetap menangis. Mamah tampak lelah dan sedih.




“Sayang, ini mamah. Ayo bangun, sayang.” kali ini suara mamah yang terdengar lebih dominan.


“Kamu tuh anak lelaki mamah satu-satunya, tapi anak mamah yang paling bikin banyak masalah. Sering bikin mamah kesal dan gemas karena ulahmu. Ayo bangun, nak…”


“Kalau kamu gak bangun, lalu siapa yang akan bikin mamah kesal lagi? Yang bikin mamah kecewa lagi? Kan cuma kamu, sayang. Hiiiks…”


“Maafkan mamah kalau kemarin marah, mamah hanya shock, mamah sekali tidak membencimu, sayang. Ayo bangun, sayangnya mamah…”


“Jangan tega ama mamah. Mamah sayang banget ama kamu, nak. Anak lelaki kebanggaan mamah. Setiap bangun tidur, setelah melihat wajah ayahmu, yang ingin mamah lihat adalah kamu dan kakak-adikmu. Melihat kalian bercanda dan saling berkelakar, bahkan bertengkar untuk hal-hal sepele. Kalian tuh kebahagiaan mamah, sumber tawa mamah.”


“Anak laki gak boleh lemah, ayo bangun, sayang. Kasian ama mamah, ama ayah, Kekey, dan Nzi. Jangan siksa ayahmu dengan harus menderita karena kamu tinggalkan. Kamu tuh anak lelaki kebanggaan ayah, sang penerus yang diharapkan. Kamu adalah sang pewaris, nak.”


“Bangun, sayang. Kalau kamu tidak bangun, mamah janji, mamah akan selalu tidur di mana pun kamu dibaringkan.”


“Eh jangan mah.” seruku, tetapi mamah sepertinya tidak mendengar.




Masa mamah mau tidur terus di sampingku, kalau aku tidur di kuburan gimana? Kasihan ayah, masa nyuwir di kuburan, kan gak elok.




“Mamah.. ayah… Kekey… dan Nzi… sangat sayang kamu, nak. Kamu itu bintang bagi kami semua. Bangun, yah nak, mamah mohon.”




Kan kan.. aku jadi bimbang. Mamah aneh-aneh saja. Tapi benar juga sih, kutinggal ketika aku menyamar sebagai Iba saja mamah kelihatan sangat terpuruk, apalagi kalau kutinggalkan selamanya ya. “Mamaaaah…” aku geram sendiri.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar