Bab 59
Aku telah melewati dua malam yang panjang. Nyaris tidak pernah tidur. Tetapi aku tidak mau berhenti, cukup aku meratapi diri.
Aku sudah menelpon Tante Nur dan menjelaskan duduk perkaranya. Aku juga memohon maaf berulang-ulang dan berjanji untuk menghadap Tante Nur dan Om Sulis. Tetapi aku memohon waktu selama beberapa hari ini untuk menyelesaikan semua urusan yang tertunda. Wanita itu jelas menangis di ujung telpon. Tante Nur juga tidak bisa berbohong kalau ia kecewa, tetapi tetap tidak pernah bisa berhenti menyayangiku. Aku sudah seperti anaknya sendiri.
Mamah? Ia sangat marah. Bukan hanya itu, mamah juga pingsan ketika mendengar keputusanku. Ayah marah.. sebuah kemarahan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Apapun itu, keputusanku sudah bulat. Kemarin malam semua terbangun, beruntung ada Oma Alya, Oma Ewer, dan Opa Ardan yang membantu menengahi. Akhirnya semua menerima keputusanku, meski itu semua dibangun di atas luka dan rasa kecewa.
Kini aku sedang duduk di kantorku. Kupisahkan urusan pribadi dan pekerjaan. Aku berusaha bersikap profesional, meski jiwa dan ragaku terasa sangat lelah.
Kupesan makan siang ke resto milik kami dan kuundang Inka untuk makan siang di kantor saja. Sejak pagi ia sangat mengkhawatirkanku karena di matanya aku sangat murung, lelah, dan pucat. Bahkan ia memintaku untuk pulang dan beristirahat. Kuabaikan.. dan sekarang sudah saatnya Inka kuberi tahu.
Setelah makan berakhir, kuceritakan semuanya pada Inka. Sepupuku tentu saja tak kalah terkejutnya. Ekspresi kecewa pun terpancar. Tapi lagi-lagi.. seperti Nzi, ia tidak menghakimiku.
“Aku ingin membereskan urusan pribadiku sebelum acara pertunangan Kak Kekey, Ka.” ujarku.
Kusampaikan rencana-rencanaku. Aku akan menghadap orangtua Salsa, menemui Rere untuk meminta maaf dan mengakhiri hubungan kami, lantas menghadap Om Sulis dan Tante Nur sebagai orangtuanya. Aku juga akan menemui Tante Wulan dan mempertemukannya dengan Enzo secepatnya.
“Aku ijin cuti selama tiga hari, Ka, dan kalau dalam tiga hari itu belum beres juga, mungkin aku hanya akan masuk kantor setengah hari. Maafkan aku.” ujarku.
“Kamu jangan pikirkan pekerjaan, aku bisa menghandelnya. Kamu fokus dulu pada urusan pribadimu.” jawabnya tulus sambil mengeringkan bekas air matanya.
Ia pun memelukku hangat. Ada perasaan yang berdesir, entah apa. Yang jelas aku merasa sangat nyaman dan lebih tenang. Lagi-lagi.. aku tidak pernah sendiri dalam menjalani langkah hidupku.
“Eh…” Inka tiba-tiba melepaskan pelukan dan menatapku tajam. Sorot matanya berbinar seperti masih ada harapan.
“Kenapa, Ka.”
“Sebentar… sebentar…” Inka mengambil gelasnya dan minum sampai habis. Ia nampak sedang berpikir keras.
“Kamu yakin Salsa hamil?”
“Heh? Masa Salsa bohong?” aku balik heran.
“Masih ada harapan.” untuk pertama kalinya ia tersenyum lebih lepas.
Aku pun semakin heran dan tidak paham, sementara sepupuku nampak masih berpikir sambil mengusapi lenganku yang dari tadi ia genggam.
“Kamu sudah pernah bertemu orangtuanya?” tanyanya.
Aku menggeleng. Aku memang belum pernah bertemu, karena ketika aku datang sebagai Iba, Sawaka sudah mencarikanku kosan dan sudah membayarnya untuk tiga bulan. Aku tidak pernah bertemu dengan sang empunya kontrakan.
“Okay, kamu pergi dan temui Salsa dan orangtuanya hari ini juga.” ujarnya tegas.
“Iya, rencananya memang aku mau jalan ama Salsa nanti sore. Kalau bertemu dengan orangtuanya sih kayaknya tidak hari ini, aku mau menunggu Salsa siap dulu.” jawabku.
Aku punya alasan sendiri untuk ini. Aku harus memberi tahu Salsa bahwa Iba dan Rei adalah orang yang sama. Jelas sosok Ibaku hanyalah sementara, jadi ketika menghadap orangtuanya aku harus datang sebagai seorang Rei. Dan Salsa harus sudah tahu itu.
“Aaarrrh… coba kalau sperma kang pepen juga bisa beda antara sperma Iba dan Rei. Jadi kan aku bisa punya dua istri dengan sosok yang berbeda. Puas nyuwir tiap hari dah…”
Eh bangke.. masih sempat-sempatnya aku mengkhayal.
“Tidak, Rei. Kamu datang ke rumah Salsa hari ini sebagai Rei, bukan sebagai Iba.” tegas Inka.
“Hah? Kok?”
“Haiisssh.. kuliah S2, tapi otak TK!!” Inka gemas.
Aku hanya bengong melihat sikap Inka. Ia berubah lebih ceria.
“Gini, Reiku sayaaaang…” ia semakin gemas melihatku yang hanya bengong. “Kalau kamu datang sebagai Rei, kamu bisa mencari tahu tentang hubunganmu dengan keluarganya Salsa. Cari tahu tentang foto itu.. kenapa ada foto opamu di sana. Paham?!! Dan…”
Haish.. Inka bertanya tapi malah tidak memberiku kesempatan untuk menjawab.
Lanjutnya, “Kalau kamu bertemu Salsa sebagai Rei, kamu bisa memastikan apakah Salsa memang hamil anakmu, atau hanya berbohong!!!”
Tuiiiiing!!!
Kang pepen bergetar dan sedikit mengeras, ia senang karena tidak disalahkan terus. Selama beberapa hari ini ia layu karena sering dipenis hitamkan.
“Ka…!!!” seruku.
Sepupuku pun mengerling. Langsung kucium bibirnya, meski sama-sama kaku.
“Issshhh.. Rei.. jangan cium bibir gue. Masih oriii!!” Inka protes, dan kalau sedang kesal biasanya kata ‘gue’ yang keluar. Tapi kok wajahnya merona gitu ya? Ia juga tidak sungguh-sungguh marah.
“Hehe.. maaf…” sambil menggaruk kepala.
“Yeaaah.. setidaknya kamu harus memastikan semuanya terlebih dahulu, Rei. Kalau ternyata Salsa memang mengandung anakmu, yaudah itu nasibmu.” ujar Salsa disusul tawa khasnya.
Aku pun ikut tertawa. Masih ada harapan, walaupun kemungkinannya sangatlah kecil.
“Dah sana buruan pergi ke rumah Salsa.”
“Thanks, ya Ka, sepupuku yang cantik. Sekali lagi aku minta maaf karena sering meninggalkan kantor.”
“Sanaaah!! Bawel!!”
Hadeuh.. yang bawel siapa, yang dituduh siapa. Aku merapikan meja kerjaku, sedangkan Salsa menelpon OB untuk membereskan peralatan bekas makan.
Aku pun pamit pada Inka, dan langsung melangkah menuju pintu.
“Rei..”
“…?”
“Apapun itu, tetaplah menjadi Rei. Kamu tidak sendirian, kami berada di belakang keputusamku. Semangat!!”
“Kaaa..” aku terharu. Langkahku kembali kepadanya, kami pun saling memeluk erat. Kudengar Inka sedikit terisak tanpa kutahu alasannya.
Aku pun meninggalkan ruangan. Langkahku kini terasa lebih ringan. Bukan karena terlalu berharap bahwa Salsa memang membohongiku, tetapi karena masih ada orang-orang yang tetap mencintai dan menerimaku apa adanya. Aku tidak pernah sendiri. Dan kuyakin, jika memang aku akhirnya harus memperistri Salsa, cinta itu akan datang dengan sendirinya, walaupun butuh waktu untuk melupakan cinta yang lama.
Tiga puluh tujuh menit kemudian aku pun tiba di tujuan. Kubuka pintu pagar besi yang tingginya hanya sedada. Aku pun melangkah menuju pintu rumah. Kuketuk dan terdengar jawaban gadis yang sudah kukenal. Ceklek..
“Rei? Ada mimpi apa kamu datang ke rumahku? Tahu rumahku dari mana?” ia terlihat kaget.
“Hai, Sa. Sengaja maen aja.” jawabku.
Kuulurkan tangan dan ia membalas. Ada yang aneh.. ia sama sekali tidak terlihat murung. Padahal ketika aku terakhir bertemu dengannya kemarin, ia terlihat sangat kacau. Yah.. kemarin memang bukan sosok asliku yang hadir, melainkan wajah kampret seorang Iba.
Salsa pun langsung mempersilakanku masuk. Aku duduk di ruang tamu. Salsa masih berdiri, ia terlihat masih tidak percaya akan kehadiranku.
“Bengong!! Aku haus nih. Disuguhi minum atau apa kek.” godaku. Aku memang berusaha menampilkan diri sebagai seorang Rei yang ia kenal.
“Hehehe.. iyah.. iyah… kebetulan aku lagi bikin jus nanas.” jawabnya dan langsung ngeloyor ke dalam.
Ujubuneh!! Jus nanas?! Jangan-jangan?!! Ah… itu tidak boleh terjadi. Aku panik sendiri.
“Kok kamu bisa tahu rumahku sih?” teriaknya dari dalam.
“Ya tahulah..” aku sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa jus dan setoples keripik pisang raja. Aku merasa sedikit lega karena ia hanya membawa segelas jus untukku. Kalau saja ia minum jus itu, akan kularang habis-habisan. Dan setelah ini aku harus memastikan bahwa ia memang tidak meminumnya.
“Minum, Rei.”
“Makasih. Kok sepi?”
“Iya. Papah dan mamah sedang keluar sebentar.” jawabnya.
Aku pun minum dan berlanjut dengan obrolan ringan. Salsa banyak kepo tentang kabarku, dan ia masih penasaran karena tahu rumahnya. Aku bilang saja tahu dari Iba, ia sudah menjadi asisten pribadiku. Sikap ramah Salsa berubah sejenak, ia nampak sangat kaget, tetapi hanya sebentar, ia pandai menyembunyikan.
“Kamu gak kerja?” tanyaku.
“Hari ini aku tidak ada jadwal ngajar.”
“Heh? Bukannya…”
“Hehehe.. aku kan sudah gak kerja di admin lagi, Rei. Sudah sebulan ini aku menjadi Asdos mamahmu. Kamu gak tahu yah?”
“Oh ya? Kok mamah gak pernah cerita ya?” heranku. Eh.. tapi aku sadar selama ini aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sehingga mulai kehilangan banyak moment bersama di tengah keluarga.
“Ya mana kutahuuu.. tanya sendiri ama Bu Dosen.” kekeh Salsa.
“Wah Rere seneng dong kamu sudah pulang.” entah keceplosan atau sengaja Salsa bertanya seperti itu. Tetapi aku senang, aku tidak perlu mencari-cari cara lagi untuk menyelidikinya.
“Senang sih, tapi…” sengaja kugantung dengan menyeruput jusku kembali.
“Kenapa?”
“Rere jadi aneh. Kamu kan sahabatnya, Sa, kamu tahu gak kenapa?”
“Emang aneh gimana?”
Kulihat duduk Salsa mulai tidak nyaman. Mungkin menyesal karena telah menyinggung soal Rere. Ada juga ekspresi marah, mungkin kembali teringat kejadian kemarin.
“Ya aneh aja. Kayak menyembunyikan sesuatu gitu. Apa dia selingkuh ya?” ujarku diakhiri suara pelan seperti sedang bertanya pada diri sendiri.
“Gak mungkinlah. Rere itu sangat sayang kamu.” Salsa langsung menyahut.
“Kamu yakin, Sa? Ia gak pernah cerita apa gitu ke kamu?”
“Aku sih yakin, Rei. Percaya ama aku.”
Suara Salsa penuh keyakinan, dan aku tidak bisa membedakan apakah Salsa memang sedang melindungi sahabatnya, atau karena memang ia ingin menjauhkan Rere dari Iba yang hampir menjadi miliknya.
Aku manggut-manggut. Obrolan terpaksa berhenti ketika mendengar suara klakson. Salsa pamit untuk membukakan pintu halaman.
“Pah, Mah, di dalam ada teman aku.” terdengar suara Salsa.
“Siapa, sayang?”
Aku langsung berdiri untuk menyambut orangtua Salsa.
“Selamat sore Om.. Tante…”
“Sore. Eh….?”
Mamah Salsa nampak terkejut melihatku, begitu juga suaminya.
“Saya, Rei Tante.” aku memperkenalkan diri.
“Rei? Rei anaknya Sirnawa dan Callysta?” tanya ayahnya Salsa.
Waduh?! Kok mereka bisa tahu, padahal aku tidak kenal mereka.
“Iya, Om.”
“Ya ampuuun. Kamu sudah beda banget, Rei. Ada mimpi apa main kemari?” mamahnya Salsa langsung mengguncang-guncang bahuku. Ia terlihat begitu senang, sedangkan aku hanya bisa melongo, begitu juga Salsa.
“Eh.. ini… euu…”
“Loh kamu gak kenal tante dan ommu? Kirain ke sini mau silaturahmi? Kok bisa kenal Salsa?” mamahnya Salsa semakin nyerocos, dan aku semakin tidak paham.
“Mah? Pah? Kok?” Salsa tak kalah herannya.
Papahnya pun tertawa, sedangkan mamahnya menutup mulut. Ia terlihat kaget sekaligus gemas pada kami berdua.
“Kamu sudah berubah banyak, Rei. Terakhir kali ketemu berapa tahun yang lalu ya?” ujar ayahnya Salsa.
“Kita ini saudara jauhmu, jadi kamu dan Salsa bersaudara.”
Jedeeeer!!!
“Yah walaupun tidak sedarah..” sambung mamahnya.
“Kalian ikut sinih…” mamahnya Salsa yang teryata bernama Tante Yossy menarik lembut lengan kami menuju ruang keluarga. Langsung menuju bingkai foto yang kemarin kulihat.
“Ada yang kamu kenal, Rei?”
“Opa..” aku terkejut. Tapi kali ini hanya pura-pura. Suwerr… kalau kemarin aku terkejut sungguhan, tapi tidak kali ini.
“Kok bisa ada foto Opa Pras dengan Oma eh Tante.. eh Oma Andini? Ada Tante Reta juga?”
“Rei, kamu kok kenal mereka?” kali ini Salsa yang terheran-heran.
Tante Yossy dan suaminya yang bernama Om Sintung Cau tertawa. Tante Yossy malah memeluk kami berdua. Rejeki tidak kemana, lenganku terhimpit gundukan empuk payudaranya. Wah payudara calon mertuaku sepertinya masih asoy juga. Plak!! Tangan batinku menampar pipi khayalku.
Kami pun duduk di sofa ruang keluarga. Om Sintung mulai menyalakan rokoknya. Tante Yossy yang memang cerewet (biasanya beringas di atas ranjang.. eh..!!) langsung menjelaskan hubungan kami.
Tante.. eh oma.. eh ribet.. Oma Andini aja deh. Hehee.. susah juga punya oma seumuran Tante Nur. Oma Andini adalah adiknya Om Sintung Cau. Karena Oma Andini menikah dengan Opa Pras, papah kandung mamah, jadi kami menjadi saudara karena perkawinan mereka. Reta adalah tanteku meski usianya hanya dua tahun lebih tua dari Kak Kekey. Dia adalah adik mamah dan Tante Maya dari satu ayah beda ibu.
Aku manggut-manggut paham.
“Reiii.. aku gak nyangka. Pekik Salsa.”
“Makanya kalau punya saudara itu sering-sering silaturahmi, jangan putus hubungan.” celoteh Tante Yossy. Aku pun terkekeh malu.
“Jadi harusnya aku manggil tante dan om juga dengan oma dan opa ya?” kekehku.
“Emoh.” Tante Yossy memasang wajah galak.
Kami semua tertawa. Dan keakraban pun terjadi, kami saling bercerita sambil menikmati kopi yang disuguhkan Salsa. Sejenak aku lupa akan tujuanku, melupa dari kehamilan Salsa. Eh Salsa hamil? Perasaanku kembali terganggu. Apakah Salsa mau menerimaku jika ia tahu kalau Rei itu adalah Iba? Apakah Om Sintung dan Tante Yossy akan memberi restu? Yeaah.. secara agama dan sosial-budaya tidak ada halangan jika aku dan Salsa menikah. Atau.. mungkin Sawaka menghendaki keluarga besar kami bersatu karena perkawinan aku dan Salsa. Entahlah!! Aku belum mau merusak pertemuan ini. Biar kami bahagia sesaat karena perjumpaan ini.
Suasana semakin hangat ketika Saba, kakaknya Salsa datang bersama anak-istrinya. Kami saling berkenalan dan langsung akrab satu sama lain. Aku senang karena kehadiran mereka membuat jus nanas bikinan Salsa habis. Gadis itu ngambek, walaupun kutahu hanya pura-pura, sekedar merajuk pada sang kakak dan kakak ipar.
Jam empat sore aku pun pamit dengan alasan masih ada acara. Padahal aku hanya mau pergi sebentar dan datang kembali sebagai Iba. Aku (Iba) sudah janji untuk menjembut Salsa jam setengah lima dan mengajaknya jalan-jalan. Pakaian ganti pun sudah kusiapkan di mobil.
Kami saling memberi salam perpisahan dengan janji untuk tetap menjaga tali silaturahmi dan saling mengunjungi. Salsa mengantarku sampai ke mobil.
“Kamu beneran bossnya Iba, Rei?” kini aku tahu alasan Salsa mengantarku.
“Iya, Sa.”
“Ohh..” singkatnya.
“Kenapa?” aku mencoba tersenyum untuk menggodanya.
“Nggak. Gak kenapa-napa.” Salsa gugup.
“Sa, jangan minum jus nanas. Gak baik untuk kandunganmu.”
“Haah?”
“Iba sudah cerita, makanya aku datang, tadinya aku mau melamarkanmu untuknya, tapi obrolan kita malah panjang karena ternyata kita masih satu keluarga.”
Salsa berdiri kaku, kepalanya menunduk. Kulihat ia berkaca-kaca.
“Sudah gak apa-apa, Iba pasti akan bertanggung jawab.” hiburku.
“Makasih, Rei.”
Aku pun tersenyum sambil menepuk bahunya. Setelah pamit sekali lagi aku pun memasuki mobil dan langsung meninggalkan Salsa yang masih tetap berdiri sampai mobilku menghilang.
Aku berhenti di dekat sebuah taman yang agak sepi. Niatku adalah merokok sambil menunggu waktu untuk kembali menemui Salsa dan keluarganya. Hanya dengan usapan tiga kali pada bandul kalungku, wajah dan suaraku sudah berubah. Aku menjadi seorang Iba.
Smartphone pun bergetar. Salsa menghubungi nomorku yang satunya.
“Hallo, Sa?”
“Iba? Pembohong kamu?” Salsa terdengar marah.
“Eh kenapa, Sa? Aku salah apa?”
“Kemarin katanya mau mengantar bossmu ke bandara, tapi bossmu masih ada di Bandung!”
“Eh itu.. dari mana kamu tahu, Sa?” aku pura-pura bodoh.
“Aku ketemu Rei. Rei itu bossmu, kan?”
“Eh iya, Sa. Maaf.”
“Kenapa gak cerita kalau Rei itu boss kamu? Terus kenapa kamu cerita ke Rei?”
“Eh.. mmaksudmu yang mana?”
“Kehamilanku!” suaranya ketus dan galak.
“Eh iya, Sa. Aku memang cerita karena.. karena aku butuh bantuannya. Aku mau pinjam uang untuk biaya pernikahan kita.”
“Ibaaa!! Haiiissh!! Kamu tuh malah memperumit masalah, tahu gak?”
“Loh kok gitu?”
“Rei itu saudaraku.”
“Wow? Kok aku malah baru tahu. Tapi bagus donk, jadi urusan kita semakin mudah.”
“Aaarrrh.. Ibaaa!!! Udah kamu gak usah jemput aku, aku masih kesel!! Jalan-jalannya besok aja.”
“Eh Sa? Sa...”
Klik!!
Eh ni anak kenapa sih? Tiba-tiba memutus telpon begitu saja. Kucoba menelpon balik tetapi tidak ia angkat. Sebenarnya aku senang-senang saja jika Salsa membatalkan jalan-jalannya, toh aku juga merasa sangat lelah, tetapi sikap Salsa terasa membingungkan.
Aku setengah duduk di atas kap mobil sambil menghisap rokok. Aku mencoba menganalisa, tetapi tidak menemukan kemungkinan jawaban sedikit pun. Eh.. aku melambaikan tangan ketika sebuah sedan melintas.
“Kak!!” teriakku.
Sia-sia, sepertinya kakak tidak melihatku. Mobil terus melaju tanpa berhenti. Aku hanya menghela nafas sambil kembali menghisap rokokku.
Tak berselang lama terdengar bunyi klik pada earphone bluetooth-ku. Aku memang biasa memasangnya ketika berkendaraan, dan aku belum mencopotnya ketika keluar mobil.
Number 0831***** is calling…
Ada panggilan dari nomor baru. Kuberi perintah menjawab, kuubah suaraku menjadi Rei.
“Iya, hallo?”
“Hai.. ini aku.”
“Eh.. Salsa?”
“Iya.Tadi kan aku minta nomormu.”
“Iya.. kenapa, Sa?”
“Yang tadi tolong jangan bilang-bilang keluargaku, biar aku dan Iba saja yang menyelesaikannya.”
“Eh iya. Maaf, ya Sa, aku gak ada niat untuk ikut campur, aku hanya peduli karena kemarin Iba cerita dan…”
“Ia mau meminjam uang ke kamu?” potongnya.
“Iya, Sa.”
“Jangan kamu kasih pinjam!”
“Loh kenapa?”
“… hiks.. hiks…”
“Sa, kamu kenapa?”
“Hiiiks.. aku aku…”
“Sa? Hallo...”
Kudengar Salsa menangis. Sementara fokusku sedikit terganggu ketika tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti mendadak di sampingku. Kalau tidak salah, mobil ini sudah tiga kali bolak-balik padahal rokokku belum habis.
“Jadi begini, Rei…”
“Sa, sorry nanti kutelpon balik.”
Klik.
Wuuuuut!!!
Sebuah pukulan melayang ke arah daguku, tapi aku sigap menghindar. Dua orang berbadan kekar sudah berdiri di depanku dan tanpa sepatah kata pun langsung melayangkan pukulan. Kulihat masih ada pria lain yang tetap duduk di kursi tengah. Ketiganya tidak kukenal.
“Hei apa-apaan ini? Siapa kalian?” bentakku.
Wuuuutt!! Pertanyaanku dijawab pukulan susulan. Aku berkelit sambil berusaha menangkis. Tap..!! Si penyerang pun terhuyung terbawa oleh dorongan tenaganya sendiri.
Buuuuk!!! Pukulan bisa kuhindari, tapi tendangan pria asing satunya tiba-tiba menghantam perutku.
Ulu hatiku langsung terasa sesak. Tubuhku terhuyung. Duaaak.. bruuuuk… punggungku kena sikut dan langsung ambruk di atas aspal.
Aku mengerang sambil berusaha bangkit. Tapi lawanku lebih gesit, tanganku dipelintir ke belakang. Aku meronta tetapi tenaga penyekapku lebih kuat. Sreeeet… gelap… kepalaku ditutup kain hitam.
“Aaaarhhh…” erangku ketika hantaman kembali menimpa kepala belakangku. Aku tidak berdaya, pusing dan mual menyergap. Tubuhku diseret.
Buuuuk!! “Aaaaau….”
Duaaaaak!! “Hhheekkkk. Bangsat!!”
Eh.. kenapa penyekapku pada berteriak?
Bruuuuk!!! Aku ambruk. Tangan mereka terlepas dari tubuhku. Aku merintih karena kepalaku membentur aspal.
Aku mengerjap sambil memegangi kepala. Terjadi keributan, tapi tak seorang pun yang memukulku. Segera kulepas penutup kepalaku. Aku melongo…
Sosok gadis cantik sedang bertarung dengan dua pria bertubuh besar itu. Gerakannya sangat luwes dan lincah, baik ketika menyerang maupun berkelit.
“Kakak?! Aaaarhhh…” aku berusaha bangkit sambil mengerang.
Wuuuut buuuuk. Tendangan kakak menghantam dagu lawannya.
Deeesss.. desssh… kepalan tangan mungilnya menghantam perut si pria satunya.
Raungan kesakitan pun terdengar dari keduanya.
Kakakku yang cantik, yang lembut, yang lemah gemulai kini bagai serigala betina. Sangat ganas dan tanpa belas kasihan. Tendangan dan pukulannya seperti ringan, tetapi mematikan lawan.
“Ampun.. ampun…” keduanya memohon ampun sambil beringsut ke dalam mobil mereka yang pintunya tetap terbuka.
“Minggat kalian!!!” bentak kakak.
Aku menghela nafas lega, karena kakak aku terlepas dari bahaya. Tapiii… pria asing yang sejak tadi tidak keluar mobil menodongkan sesuatu. What the… pistol dengan laras peredam.
Desssshh.. cleeeeb….
“Aaaarrrrh…” aku mengerang sambil memegang dada kiriku.
Tubuhku ambruk, dadaku panas, darah menyembur keluar.
“Ibaaaa.. uh Reiiii… Adiiiiikku?!!”
“Kak aku.. aku…”
Oeeeeek… aku muntah darah. Aku tak bisa melanjutkan ucapanku. Kakak langsung menangkap tubuhku yang hampir terjatuh. Jerit tangisnya tedengar. Samar dan samar… gelap dan semakin gelap… satu-satunya sinar adalah tulisan BERSAMBUNG…
Report content on this page
0 Komentar