BAB 58
Aku dan Salsa tiba kembali di rumahnya menjelang maghrib. Suasana rumah masih sepi pertanda orangtuanya belum pulang kondangan dari Garut. Aku terduduk gundah di ruang tamunya, sedangkan Salsa masuk untuk mengambil air minum.
Pikiranku masih kacau. Pertengkaran itu... ya pertengkaran itu sangat chaos dan mengundang perhatian banyak orang. Rere murka begitu mendengar bahwa Salsa mengandung anakku. Aku shock . Kakak dan adikku juga tak kalah kagetnya. Hampir saja Rere dan Salsa saling jambak, untung aku berhasil memisahkan, meski tubuhku yang akhirnya harus menjadi korban sasaran pukulan mereka berdua.
Adalah kakak yang menjadi penyelamat. Ia bisa mengendalikan amarahnya padaku dan berhasil membawa Rere pergi. Entah apa yang terjadi setelah itu. Akhirnya aku pun mengajak Salsa pulang, kami urung nonton dan makan.
Sepanjang jalan Salsa menangis. Ia masih tidak habis pikir mengapa sahabatnya bisa semarah itu. Ketika kuajak bicara, malah ia yang marah kepadaku. Maka diam menjadi pilihan.
Lamunanku terhenti. Kumatikan rokok ketika Salsa kembali dan menyodorkan segelas air putih. Langsung kuminum sampai habis, sedangkan ia duduk di seberangku dengan ekspresi wajah yang sulit kugambarkan.
“Sa, bicaralah. Apakah benar kamu mengandung anakku?” ujarku.
Salsa menunduk sambil meremasi jari-jari tangannya yang bertautan. Ia mulai menangis. Butuh waktu setengah jam untuk membuat Salsa tenang dan mau terbuka membicarakannya.
“Aku sedang subur waktu itu. Hiiiks…” tangisnya semakin keras.
Sakit ini kembali kurasa. Salsa benar-benar mengandung anakku. Ingin aku meratapi diri, bahkan terpikir untuk bunuh diri. Tetapi lagi-lagi Sawaka mengingatkan: jangan menjadi seorang pengecut, jadilah sang pewaris yang sejati.
Yeah.. aku tidak bisa egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Salsa dan janinnya harus menjadi prioritas. Suka atau tidak.. cinta atau tidak… Salsa akan menjadi ibu dari anakku. Aku harus menyelamatkan jiwa keduanya.
“Maafkan aku, sayang.” batinku. Bukan.. bukan untuk Salsa penyesalan ini kujeritkan, melainkan untuk Rere kekasihku.
Kalau beberapa hari ini aku menunggu keputusan Rere tentang kelanjutan hubungan kami, kini sepertinya aku yang harus membuat keputusan. Aku akan memutuskannya meski harus meninggalkan luka menganga di dalam hati kami berdua.
Kuhembuskan nafas berat. Aku tidak bisa memilih, bisaku hanyalah menerima kenyataan pahit.
“Kamu jangan menangis, Sa, aku akan bertanggung jawab.” ujarku dengan suara yang kubuat tegar.
Salsa yang sejak tadi menunduk langsung menegakan duduknya, wajahnya sangat basah, dan air matanya masih mengalir deras. Keadaan Salsa benar-benar kusut dan memprihatinkan.
“Kamu serius, Ba? Hiks… hiks…”
Aku pindah duduk ke sampingnya, kutangkup kedua pipinya. Kedua ibu jari mengusapi air matanya. Aku mengangguk, ujarku, “Aku tidak akan lari, janin yang ada dalam kandunganmu adalah anak kita.”
Salsa pun menjatuhkan tubuhnya. Tangisnya semakin pecah di dalam pelukanku. Kubalas erat, kubenamkan kepalanya, kuusapi rambutnya. Sementara mataku.. menangis pun sudah tidak bisa. Jiwaku terasa kosong, dan perasaanku hampa.
“Hiks.. hiks… sebenarnya aku takut kamu menghilang lagi, Ba. Hiiiksss..” suara di sela tangisnya terdengar pilu. “Aku sebenarnya sangat marah ketika kamu datang hiiks… tetapi aku menahan diri, aku tidak ingin kamu pergi lagi. Aku mengajakmu jalan-jalan karena aku mau mencari moment yang tepat untuk membicarakannya. Hiks.. hiks… sampai kejadian tak terduga itu. Sikap Rere membuatku marah dan tidak bisa mengendalikan diri. Hiiiks…”
“Ssst.. sudah yah. Aku juga mohon maaf atas kejadian tadi. Nanti kujelaskan kenapa Rere marah, tapi kamunya tenang dulu.”
Salsa masih melanjutkan tangisnya, aku larut dalam lamunanku. Aku merasa sudah kehilangan segalanya, tidak ada lagi pilihan, tidak ada lagi kesempatan kedua bagiku dan Rere.
Kali ini air mataku benar-benar mengembang. Bukan meratapi nasib cintaku, tetapi terbayang ayah dan mamah. Mereka telah mencintai dan mendidikku sedemikian rupa, tetapi kini kubalas dengan melukai harga diri dan kehormatan mereka. Hilang… pasti akan hilang pandangan sebagai keluarga terhormat… keluarga harmonis… keluarga idaman yang selama ini disematkan oleh keluarga besar.
Aku tidak sanggup membayangkan ekspresi kecewanya mamah dan depresinya ayah.. bahkan sebelum itu terjadi. Aku siap dimarahi dan bahkan diusir dari rumah, tetapi aku tidak siap melihat wajah-wajah kecewa mereka. Mereka pasti akan terluka.. tapi aku harus menghadapinya.
“Ba… Iba…” aku mengerjap. Rupanya lamunanku sudah terlalu jauh.
Salsa sudah berhenti menangis, wajahnya tengadah menatapku yang sedang melamun kosong.
“Iiya, Sa.” kupaksakan sebuah senyuman. Kuusap rambutnya yang kusut.
“Maafkan aku.” sesalnya.
“Jangan minta maaf, Sa. Ini memang kesalahan, tapi bukan salahmu saja, tetapi kesalahan kita berdua. Kita hadapi sama-sama.” aku mengingkari diri, menunjukan bahwa aku sangat tegar. Padahal hatiku sedang rapuh, lebih rapuh daripada apa yang dirasakan oleh gadis yang masih berada dalam pelukanku ini.
“Makasih, Ba.” ujarnya tulus. Untuk pertama kalinya aku melihat senyum Salsa kembali.
Salsa bangkit dari pelukanku ketika smartphonenya berbunyi. Ia berdehem beberapa kali sebelum menjawab panggilan. Kulirik.. tertera tulisan: mamah.
Aku memilih menyalakan rokok, dan kembali melamun. Akal sehatku berusaha menyusun rencana bagaimana aku menjelaskan kepada ayah dan mamah, bagaimana aku menyampaikan keputusanku pada Rere, dan bagaimana aku menghadap kepada orangtua Salsa… tapi perasaan sedih dan takut lebih dominan. Aku benar-benar buntu.
“Mereka baru nyampe Rancaekek.” ujar Salsa sambil meletakan handphonenya di atas meja. Ucapannya membuyarkan lamunanku, aku mengangguk sambil menghembuskan asap rokok.
“Aku tunggu orangtua dan kakakmu, dan aku akan menjelaskannya.” ujarku.
“Jangan sekarang, Ba, aku belum siap. Aku takut.” Salsa memohon.
“Tapi, Sa…”
“Aku takut mereka marah. Yeah.. pasti marah sih, tapi aku belum siap menghadapinya.”
Langsung kumatikan rokokku, dan menarik bahunya. Kami kembali saling memeluk, kali ini sudah tidak ada tangisan.
“Kamu tahu kenapa Rere bisa semarah itu?” tanyanya pelan.
Aku terbatuk mendengar pertanyaan Salsa.
“Ba?”
“Hmm.. iya.. iya aku tahu.”
“Kenapa?”
“Tapi apapun ceritaku, kamu jangan marah. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Salsa menatapku, sorot matanya seolah menyelidiki isi hatiku. Ia pun akhirnya mengangguk menyanggupi.
Kuhela nafas beberapa kali. Aku sungguh gelisah.
“Aku dan Rere itu saling mencintai.” ujarku.
“Haah?” Salsa terperanjat, dan pelukannya terlepas.
Salsa menatapku dengan mata terbelalak seakan tidak percaya.
“Tapi kan, Ba, bukannya kalian hanya kenal sebentar? Lagian.. setahuku Rere itu sangat mencintai pacarnya.” tanya Salsa terheran-heran. Pancaran cemburu juga ada di sana.
“Begini, Sa…” kuhela nafas sekali lagi. “Kamu bisa hamil itu ada penyebabnya. Anak kita ada karena kita bercinta, Sa.”
“Ada sebab, ada akibat. Tetapi soal perasaan cinta… datangnya bisa begitu saja.. tanpa sebab.. tanpa alasan… Pikiran kita mungkin menolak, akal sehat bisa membantah, status bisa menjadi benteng… tetapi perasaan cintanya itu sendiri tidak bisa berdusta.” aku mencoba menjelaskan.
“Jadi kamu juga sayang dia?” pertanyaan Salsa sederhana, tetapi jawabannya sangat dilematis. Jika aku jujur, maka aku akan melukai perasaan Sala. Tetapi jika berbohong, aku yang mengkhianati perasaanku sendiri.
“Iya, Sa, aku mencintainya.” kuputuskan untuk jujur.
Sesuai dugaanku, Salsa kembali murung. Ia terlihat begitu kecewa.
“Tapi ada satu lagi yang kamu sendiri pasti sudah tahu… basi sih tapi itulah kenyataannya… cinta itu tidak harus memiliki. Ada Rei dalam hidupnya, dan sekarang ada kamu dalam hidupku.” aku mencoba menghibur Salsa.
“Jadi kamu mau menikahiku karena anak kita? Bukan karena kamu mencintaiku?” pertanyaan-pertanyaan Salsa membuatku kelimpungan. Jawabannya lebih sulit daripada soal ujian ketika aku kuliah di luar negeri waktu itu.
“Maafkan aku, Sa. Cinta itu akan datang dengan sendirinya ketika kita sudah hidup bersama nanti, ketika anak kita sudah lahir.” jawabku diplomatis.
Salsa paham atas maksud jawabanku. Ia pun menghela nafas sedih dan kecewa.
“Maaf.” ujarku sekali lagi.
“Kita sama-sama sudah tidak punya pilihan.” Salsa seperti sedang berbicara dengan diri sendiri. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Hatiku bagai teriris. Dalam waktu yang sangat singkat sejak aku lulus rintangan keduaku, ada begitu banyak orang yang harus kukecewakan.
“Jadi kapan aku bisa ketemu orangtuamu?” kali ini aku yang bertanya.
Salsa menatapku sebentar, lantas menatap kosong ke arah pintu yang tetap terbuka.
“Lebih cepat akan lebih baik, Sa. Aku tidak ingin kamu dan keluargamu menanggung malu jika kita menikah ketika kandunganmu sudah semakin besar. Tapi ingat, Sa, aku tidak mau kamu terseok sendirian. Jangan bilang pada orantuamu tanpa aku, biar aku sendiri yang mengatakannya. Kita akan menghadapinya bersama-sama.”
Salsa tersenyum hambar. Meski begitu ia kembali menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Kudekap dan kukecup rambutnya sekedar untuk memberi ketenangan.
“Sudah jam tujuh, Ba. Kamu mau makan apa?” Salsa menggeliat.
Ada rasa haru di balik sedihku. Salsa perhatian, dan bisa menanggalkan kesedihannya sendiri.
“Yang ada aja, Sa, kalau masih ada sisa siang hangatkan saja, tidak usah masak lagi.” jawabku.
“Kamu yakin? Masih ada nasi ama sayur sih.”
M
“Iya. Kamu jangan capek-capek.”
Usai berkata begitu, tanpa sadar aku pun mengusap perut Salsa. Gadis itu nampak senang, senyumnya kembali terpulas.
Ia menarik lenganku menuju ruang makan. Dengan cekatan ia menyiapkan piring tanpa mau kubantu. Nasi masih banyak di dalam rice cooker sehingga tidak perlu memasak lagi, sedangkan lauknya langsung ia panaskan.
“Terima kasih calon istriku.” ujarku ketika makanan sudah siap terhidang.
Salsa spontan memelukku dari belakang tempat duduk, air matanya berlinang bahagia. Ia tidak tahu bahwa aku menyesal telah mengucapkan itu. Luka hatiku semakin mengaga.
Aku dan Salsa pun makan berdua, sejenak melupakan kesedihan dan ketakutan akan masa depan. Obrolan ringan kami perbincangkan. Kusampaikan juga alasan kehilanganku selama seminggu terakhir. Tentu saja aku berbohong karena tidak mungkin aku menyampaikan perjalanan menuju ritualku kepada orang di luar keluarga Sawer dan Ewer. Salsa memang akan menjadi istriku, tapi belum saatnya ia tahu.
Seusai makan dan menghabiskan sebatang rokok, aku pun pamit pulang. Pelukan erat kami lakukan. Sebuah pelukan untuk saling menguatkan dan meneguhkan, saling menularkan semangat yang dibangun di atas rasa yang hampa.
Aku tiba di rumah sudah jam sembilan lewat. Kusapa oma dan opa, juga ayah dan mamah, sekedarnya. Aku meminta maaf kepada mereka karena tidak makan di rumah, setelahnya aku pamit untuk mandi dan istirahat.
Ketakutanku tidak terjadi, sepertinya mereka belum tahu. Kakak atau Nzi belum bercerita, apalagi Rere, rasanya tidak mungkin gadis itu mengadu kepada orangtuaku.
“Rei..” mamah memanggil.
Aku pun berhenti di atas tangga.
“Iya, Mah?”
“Kakakmu nginap di rumah Rere lagi. Tadi mereka pergi bertiga jalan-jalan, tapi kakakmu tidak pulang, katanya mau nginap di sana.”
“Kalau Nzi, Mah?”
“Ada di kamarnya.”
“Makasih, Mah.”
Entah aku harus kecewa atau lega. Kini semua urusanku tertunda lagi. Rere masih belum mau berbicara, dan situasinya kini semakin rumit. Kakak memang menemani Rere, tetapi ia juga seperti menghindar dan tidak ingin bertemu denganku. Sementara itu, Tante Wulan juga pasti marah karena pertemuan tadi.
Kini aku juga terlalu lelah, dan sudah memutuskan untuk berbicara dengan ayah dan mamah besok sore saja. Kebetulan besok jumat, setidaknya akan disambung week end sehingga tidak akan terlalu membebani pikiran mereka ketika di tempat kerja.
Kuletakan tas kerjaku di atas kursi kamar. Tadinya aku mau langsung tidur, tapi urung, aku kembali keluar menuju kamar Nzi. Kudorong pintu kamarnya yang tidak ditutup rapat. Kosong. Terdengar suara gemericik air, rupanya adikku sedang mandi.
“Dek, kakak pulang.”
“Iya, Kak, jangan tidur dulu. Tunggu aku.”
“Iya.”
Aku kembali ke kamarku dan langsung melempar tubuh di atas kasur. Tubuhku lelah, tetapi pikiranku gundah. Inginku tidur dan melupakan sejenak persoalan, tetapi rasa kantuk sama sekali tidak ada.
Kubuka smartphone. Rere masih tidak membalas chatku. Kakak sama saja. Yang banyak malah chat di beberapa grup yang sama sekali tidak penting. Kuabaikan beberapa chat dari para sahabat dan rekan kerja.
Kutekan sebuah nomor.
Setelah mengakhiri pembicaraan singkat, kubuka smartphone satunya, tidak ada pesan dari Tante Wulan, tetapi ada pesan dari Salsa. Kubalas untuk mengucapkan selamat malam. Aku beralasan mau langsung tidur karena besok harus mengantar boss ke bandara. Bohong lagi kan.. haisssh… benar kata para orangtua, sekali berbohong maka akan tetap berbohong. Kebohongan demi kebohongan diciptakan untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Kuambil bantal satunya dan kututupkan di atas kepala. Ingin kukubur segala ingatan, kututup segala indera. Sia-sia… malah semakin gelisah yang ada.
“Kak..” aku sampai tidak mendengar langkah kakinya.
Kasurku bergerak pertanda adikku sudah duduk. Aku masih malas bergerak. Nzi mengangkat bantalku. Wangi tubuhnya langsung menyerbak. Harum shampoo pun menghiggapi hidungku. Mata kami berpandangan. Sorot matanya teduh tanpa kemarahan. Adikku benar-benar terlihat lebih dewasa.
“Kak, are you OK?” suaranya lembut.
Aku tersenyum sambil menggeleng.
“Kakak mau cerita?” jarinya mengetuki daguku.
“Adek gak marah ama kakak?” aku balik bertanya.
Nzi tidak menjawab. Ia merentangkan tangan. Kedua matanya menyorotkan rasa sedih, tetapi senyumnya tulus. Aku pun bangkit dan kami saling memeluk. Rasa haru pun menyeruak. Aku tidak sendiri.
“Kakak sudah makan?”
“Hmm sudah. Tadi di rumah Salsa.”
“Ngopi?”
Aku menggeleng. Kudekap tubuhnya makin erat. Di balik keterpurukan hidupku, ternyata masih ada yang bisa kubanggakan. Seseorang yang kuanggap berharga ternyata juga menganggap aku hal yang sama.
“Makasih, Dek.”
Pelukan pun terurai. Aku dan Nzi berbaring bersisian tanpa bersentuhan, mata kami menatap langit-langit.
Tanpa kuminta, Nzi bercerita betapa kacaunya Rere setelah pertengkaran di mall tadi. Pengakuan Salsa bahwa ia mengandung telah meruntuhkan semua cinta dan harapan gadis itu. Kalau tidak ada kakak dan adikku, entah apa yang akan terjadi.
“Kak Rere itu sebetulnya masih menyayangi Kak Rei, ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan menerima semuanya. Tetapi kejadian tadi sore sepertinya membuat Kak Rere benar-benar kacau dan berulang kali mengatakan bahwa ia tidak mau membuka hatinya lagi untuk kakak. Hiiiks…”
Senyum pahit terulas dari bibirku begitu mendengar penuturan Nzi. Menitikan air mata pun aku tidak bisa. Ini memang menjadi jalan takdirku, dan aku harus mau menerima. Toh seandainya Rere mau menerimaku kembali pun sudah tidak mungkin. Aku akan memilih Salsa. Ada janinku di dalam rahimnya.
“Kak Kekey juga sangat kecewa pada kakak, tetapi ia tidak menunjukannya pada Kak Rere. Kak Kekey hanya bilang kalau ia ingin menemani Kak Rere dulu. Tapi aku yakin, meski kecewa, Kak Kekey tetap sayang Kak Rei. Kakak bilang, Kak Rei pasti kuat, makanya ia lebih memilih menemani Kak Rere yang sangat rapuh daripada menemani Kak Rei.” jelas Nzi lagi.
“Kakak paham, Dek.” lirihku.
Nzi memiringkan badan agar bisa menatapku. Dari sudut mataku kulihat ia masih mengalirkan air mata.
“Aku sudah bilang pada Kak Kekey dan Kak Rere kenapa Kak Rei menemui wanita itu.. dan juga menemui.. menemui Kak Salsa. Sekarang aku jadi tahu dua wanita itu dari mereka. Maaf, ya Kak.”
Aku membalikan badan. Kini kami berhadapan. Aku mencoba tersenyum sambil mengusapi pipinya yang basah.
“Kakak yang minta maaf, Dek. Kakak sudah membuat adek dan keluarga kita kecewa. Kakak sudah memutuskan untuk.. untuk…” aku merapatkan bibir untuk kembali meyakinkan diri, sekaligus meyakinkan adikku.
“..untuk menikahi Salsa. Ia mengandung anak kakak.”
Nzi pun langsung memelukku sambil menangis.
“Tapi Kak Rei kan sangat menyayangi Kak Rereee.. hiiiks… Lalu Kak Rere gimana? Huaaa…”
Kudekap tubuhnya.
“Ketika kita sudah tidak punya pilihan, maka itulah pilihan yang terbaik.” ujarku.
Adikku semakin segukan, terdengar begitu menyayat hati. Ia seakan sedang merasakan kesakitanku, mewakiliku mengungkapkan segala duka dan lara dan bentuk tangisnya.
Setelah adikku sedikit tenang kudorong kepalanya agar melihatku. Kuusap lelehan air matanya.
“Adek jangan sedih. Ada yang lebih penting dari ini.” ujarku.
“Apa, Kak? Hiiiks…”
Ia menggulung rambutnya ke belakang, sedangkan aku tetap mengusapi air matanya yang masih belum berhenti mengalir.
“Kak Kekey.” ucapku tegas.
“…?”
“Dua minggu lagi Kak Kekey akan tunangan. Kita siapkan acara yang spesial, kita berikan yang terbaik untuk kakak kita tersayang. Kamu mau, kan Dek?”
Nzi mengangguk. Ada senyum di balik derai air matanya. Dan kesanggupan Nzi sudah cukup bagiku.
“Loh Rei, katanya mau tidur tapi kok… eh kalian kenapa, sayang?” terdengar suara mamah.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar