Sang pewaris part 57

 

Bab 57








Tidak salah kamu marah.


Tidak masalah kami kecewa.


Sedih dan patah hati itu biasa.


Takut? Wajarlah!




Sekarang kamu sedang menghadapi semuanya. Kamu manusia. Bersyukurlah jika kamu mengalami itu semua karena itu berarti kamu masih menjadi manusia. Tidak mati rasa.




Tapi manusia tidak pernah berhenti untuk meratapi perasaan-perasaan buruknya. Tidak apa-apa meratap, tapi segera tatap lagi jalan di depan. Ayunkan langkah.. berjalanlah… Tujuan hidupmu bukan untuk merasakan amarah, kecewa, sedih, patah hati, atau kalut takut secara berkepanjangan; tetapi untuk melewati itu semua dan menyelesaikan penyebab-penyebabnya.




Ingat.. kamu adalah calon pewaris. Jalan hidup ‘sang pewaris’ bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada nasib banyak orang yang akan menjadi tanggungjawabmu. Ada beratus-ratus orang yang harus kamu buat sejahtera dan tertawa bahagia. Untuk mereka kamu harus ada, bukan sebaliknya.




Keluarlah.. jangan hanya memikirkan diri sendiri, utamakan mereka yang telah semesta titipkan kepadamu.








Wejangan Sawaka itulah yang akhirnya membuatku bangkit. Berhenti meratapi kisah cintaku yang masih tanpa kejelasan. Bukan.. bukan karena aku sudah bisa move on. Tidak.. aku tetap merasa patah dan luka. Tetapi kini aku memiliki energi lebih untuk menghadapinya, yaitu sebuah tekad dan motivasi.




Rere masih belum mau kutemui, dihubungi pun tidak diangkat. Biarlah.. Aku tidak ingin menjadi lelaki lemah yang memohon dan bahkan mengemis. Aku memang mencintainya, tetapi aku juga kecewa atas sikap tidak dewasanya.




Aku harus menjadi seorang pewaris yang pantas seperti yang dikatakan Sawaka. Ini harus menjadi pencapaian hidupku. Hanya wanita yang memiliki cinta sejati yang akan menjadi pendamping seorang pewaris. Dan sebelum aku mendapatkannya, siapapun gadis itu, aku harus menjadi sang pewaris yang sejati terlebih dahulu.




Sejenak kutunda urusanku dengan Rere, kulanjutkan apa yang menjadi misiku.




Aku menghentikan mobilku di depan sebuah rumah yang cukup besar. Sekitar seratus meter dari mulut gang menuju kostan yang pernah kutinggali. Aku datang dengan tekad bulat, meski perasaan takut dan waswas tetap ada.




Seorang gadis berdiri kaku di teras rumahnya. Ia menungguku. Wajahnya cemberut. Matanya merah. Tangannya menyilang di atas perut.




“Hai, Sa.” aku mendekat.




Plak!!!




“Kamu kemana saja, Ba?”




Aku tidak marah. Tidak memelas. Aku layak mendapatkannya. Salsa adalah perempuan, punya hati, punya rasa. Juga punya cinta. Ditinggalkan tanpa pesan bukanlah hal mudah untuk menjalaninya. Aku baru ‘ditinggal’ Rere saja sangat perih, apalagi Salsa yang kutinggalkan selama berminggu-minggu. Aku dan Salsa memang belum punya komitmen bersama tentang hubungan kami, tetapi meninggalkannya tanpa alasan itu sama saja dengan mencampakan dan mengabaikan harga dirinya sebagai perempuan.




“Kenapa kamu hubungi aku lagi? Mau ngapain ke sini?” hardik Salsa.


“Sa, aku minta maaf…”


“Apakah dengan meminta maaf, kamu pikir bisa menyelesaikan masalah dan menghilangkan kekecewaanku?!” marahnya dengan nada suara tinggi.


“Tidak, Sa. Permintaan maaf tidak bisa menghapuskan kesalahan yang pernah kubuat, tetapi bisa mengurangi rasa sakit dan mengeringkan luka yang pernah kutorehkan.”




Salsa sudah mau kembali marah, tetapi kupotong, “Aku salah, aku telah meninggalkanmu tanpa kabar. Tapi aku punya alasan, dan sekarang aku datang untuk menjelaskannya.”




“Sekali lagi aku mohon maaf, dan tolong dengar dulu penjelasanku.”




Kata-kataku tidak lantas menghilangkan amarah Salsa, tetapi bahwa ia tidak lagi mengayunkan telapak tangannya dan tidak lagi mengeluarkan kata-kata pedas, itu sudah cukup bagiku. Kemarahan dan kekecewaannya tidak lagi terekspresi dalam kata-kata, namun berupa jentik air mata.




“Yaudah masuk.” ujarnya.




Ia mempersilakanku masuk ke dalam rumah. Suasana nampak sepi pertanda hanya ada Salsa seorang diri.




Aku duduk di ruang tamu sambil mengamati seisi ruangan, sedangkan Salsa pergi ke dalam, sepertinya mau mengambil minuman. Mataku tertuju pada bingkai besar di ruang keluarga. Salsa berdiri di belakang dengan kakaknya, di depan kedua orangtuanya duduk di atas kursi rotan. Di sisi dinding yang lain ada juga foto yang bingkainya sama besar.




“Opa?” aku bergumam sendiri. Kenapa ada foto opa di dalam bingkai itu.




Tak lama kemudian Salsa muncul sambil membawa segelas air putih.




“Kok sepi, Sa?” aku berbasa-basi.


“Orangtua dan kakakku sedang kondangan.” jawabnya.




Salsa tidak meletakan gelas di meja, melainkan langsung menyodorkannya. Ia peka kalau aku sedang haus. Kuterima dan kuminum hingga habis setengah.




Salsa duduk di sampingku. Wajahnya masih merengut, tetapi sorot matanya berubah.




“Kamu membawa kabar baik atau kabar buruk?” tanyanya.


“Eh.. aku.. aku…” tiba-tiba gugup ini melanda. Jelas aku harus menyampaikan identitasku, dan itu bisa jadi kabar buruk bagi Salsa.




Kutatap wajahnya dengan rasa bersalah. Ia balas menatap penuh selidik. Tapi ada yang aneh. Ia seperti menyembunyikan sebuah senyum.




“Sa, sekali lagi aku minta maaf, dan aku datang untuk menjelaskan.” ujarku setelah bisa mengatur nafasku.


“Mau jelasin apa?!” ya.. bahkan ketusnya pun seperti dibuat-buat. Salsa meneruskan, “Kamu mau bilang maaf karena kamu pergi tanpa pesan.. meminta maaf karena meninggalkan kosan tanpa pamit… maaf karena aku tidak bisa menghubungimu karena hapeku ketinggalan di kamar kost…”


“Eh..?” kok dia seperti bisa membaca apa yang mau kusampaikan ya. Aduh… kenapa gadis ini terlihat begitu aneh.


“Iya, kan, kamu mau ngomong gitu?”




Aku salah tingkah dan hanya bisa mengangguk.




“Jadi kamu pergi karena pulang kampung atau karena dapat kerjaan di luar kota?” ujar Salsa lagi.


“Aku…”


“Iya.. iya.. pasti kamu mendapat kerjaan baru. Iya, kan? Gak mungkin kamu pulang kampung karena Rere dan Nzi bilang padaku kalau kamu tidak pernah cerita ke mereka bahwa mau pulang ke kampungmu.”




Aku bengong mendengar celotehan Salsa. Semua tebakannya salah, tetapi bahwa ia mengatakan semuanya dengan percaya diri, itu cukup mengejutkan. Yang mengharukan dan membuatku semakin merasa bersalah adalah ucapan terakhirnya. Sangat jelas kalau Salsa mencariku. Berarti ia tidak marah? Jadi apa arti tamparan itu?




“Kamu mencariku, Sa?” pertanyaanku terdengar bodoh.


“Yaiyalah..!!” suaranya kembali ketus.


“Maaf. Aku menyesal karena…”


“Sttt!!” telunjuknya menempel pada bibirku.




Ia sudah tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Bola matanya pun berbinar.




“Jelaskannya nanti saja. Kamu kembali saja itu sudah cukup bagiku. Aku kangen.” ujarnya.




Tiba-tiba Salsa menyenderkan kepalanya sambil memeluk lenganku. Kan.. kan… ini sebenarnya yang kutakutkan. Perasaan Salsa sudah terpatri padaku, dan itu akan membuatku semakin sulit untuk memberinya pemahaman.




“Kok kaku gitu? Tebakanku salah ya? Cuma aku yang kangen? Kamu gak kangen aku?” ia merajuk.




Sial!! Tangan ini malah bergerak, dan menarik bahunya. Kini kepala Salsa sudah masuk ke dalam dekapanku. Lidahku terasa kelu, padahal tadi di sepanjang jalan tekadku sudah bulat untuk memberi penjelasan pada Salsa dan mengakhiri hubungan kami.




Dan terjadi lagi.. rasa bersalah malah membuatku mengecup kepala Salsa. Reaksinya mengejutkan. Ia mendongak mencari bibirku. Lumatan hangat ia lakukan, dan aku membalas. Sejenak aku hanyut.. aku meluapkan segala sedih dan gelisahku dengan membalas cumbuan gadis yang kini sedang berada dalam dekapanku.




Bayangan Rere terlintas di dalam benakku. Sedih dan marah kembali membuncah, kecewaku padanya kembali ada. Kali ini bayangan kekasihku tidak lantas membuatku menyesal, cumbuanku kian panas.




Aku merasa bahwa Salsa jauh lebih dewasa daripada Rere. Ia menerimaku apa adanya, memaafkanku sebelum aku menjelaskan semuanya. Berbeda dengan kekasihku, sampai sekarang Rere lebih memilih menghindar dan membiarkan hubungan kami tanpa kejelasan.




Cumbuanku semakin dalam, dan Salsa naik ke atas pangkuanku tanpa melepaskan pagutan dan lumatan.








“Reeiii, kamu benar-benar labil. Kemana semangatmu yang tadi kaubawa? Ingat ‘sang pewaris’ tidak boleh hanyut oleh perasaannya sendiri. Masa depan Sawer dan Ewer ada di pundakmu!”








Ah sial!! Sawaka datang di waktu yang tidak tepat, padahal tanganku sudah mau meremas bokong Salsa, dan kang pepen juga mulai menggeliat. Kehadiran Sawaka memang tidak nyata, tapi lebih berupa bisikan di dalam sanubari, namun bagiku bagai terngiang sangat keras.




Perasaanku berkecamuk, namun sedikit akal sehat mengingatkan untuk tidak membuat Salsa curiga. Aku tidak menghentikan cumbuan seketika, kukurangi tempo secara perlahan. Beberapa menit kemudian.. bibir kami terlepas, nafas kami sama-sama terengah untuk alasan yang berbeda.




Perasaanku gundah kembali. Salsa terlihat begitu bahagia, dan itu malah menyakitkanku.




“Terima kasih kamu sudah kembali, dan aku mohon, jangan pergi lagi tanpa alasan.” ungkapnya lembut.




Kini aku bukan hanya merasa sakit, tetapi hatiku sungguh teriris. Aku seakan sedang berada di antara dua pijakan: menyampaikan kebenaran dan mengakhiri hubungan, atau hanya berdiam dan membuat Salsa semakin dalam dengan perasaan sayangnya. Entahlah.. aku malah memilih yang kedua untuk sementara.




Aku tidak tega mengubah rasa bahagia seorang gadis menjadi luka dalam seketika. Aku sudah melakukannya terhadap Rere, dan aku tidak siap melakukan untuk kedua kalinya pada gadis yang berbeda.




Sisanya aku dan Salsa hanya bermesra. Tidak banyak kata. Tapi pelukan dan sentuhan saling berbicara.




“Hari ini kamu masih ada acara?” tanya Salsa.


“Tidak ada.” jawabku singkat.


“Temani aku jalan-jalan. Kamu ceritakan semuanya sambil makan.” bukan hanya kata, sorot matanya pun terlihat penuh harap. Aku mengangguk sambil memaksakan sebuah senyuman.




Salsa langsung girang. Ia mengecup bibirku, lantas beranjak turun dari atas pangkuan.




“Aku ganti baju dulu.”




Tanpa menunggu jawaban, ia pun bergegas menuju kamarnya.




Aku terpaku menatap punggungnya. Aku kembali gelisah. Pikiranku buntu, perasaanku tak menentu. Kogosok muka ini.




Kuputuskan untuk menenangkan diri. Aku berdiri. Sejatinya aku mau keluar untuk merokok. Tetapi mataku kembali pada bingkai foto itu. Kualihkan langkah, berjalan memasuki ruang keluarga. Kali ini kuamati dari dekat.




Foto ini bukanlah foto keluarga kecil Salsa karena foto bersama orangtua dan kakaknya ada pada bingkai lain, tetapi ini adalah foto keluarga besar yang berisi sebelas orang. Aku termangu tanpa mengalihkan padangan. Selain opa, ada dua wajah lainnya yang samar kuingat. Sepertinya aku pernah bertemu mereka juga.




“Itu foto keluarga besarku.” Salsa keluar dari kamarnya. Aku mengangguk, kuputuskan untuk bertanya nanti saja.




Kuamati dandanan Salsa yang sederhana tapi trendy. Ia mengenakan jeans ketat dengan atasan mengenakan t-shirt. Gadis itu kemudian menelpon. Rupanya ia memberi tahu mamahnya bahwa ia akan pergi. Setelahnya, kami pun keluar rumah.




“Kita pakai ‘gocrot car’ aja ya. Mobilku dipake papah dan mamah.” ujar Salsa.


“Gak usah, Sa. Aku bawa mobil kok.”


“Heh?”


“Mobil majikanku. Hehe…”


“Oh.. kirain mobilmu.”




Kukeluarkan kunci mobil dan kutekan remote. Salsa mengernyit sambil melihat nomornya: D 27 REI.




“Kayak kenal mobil ini.” gumamnya.


“Nanti kuceritakan.” ujarku.




Aku belum siap dan lebih memilih untuk menjelaskannya nanti. Kami memasuki mobil dan kulajukan dengan kecepatan sedang. Tujuan kami adalah Crot Walk. Salsa mengajakku nonton dan makan di sana.




Setibanya di mall kami membeli karcis, dan masih ada waktu satu jam sebelum film diputar. Aku dan Salsa memutuskan untuk jalan-jalan keliling mall. Ia tidak pernah melepas lenganku, kemana pun kami melangkah ia selalu mengapitkan tangannya.




“Om Iba.” terdengar seorang anak kecil memanggilku. Aku dan Salsa sama-sama menengok ke arah datangnya suara.




Aku terbelalak. Tante Wulan dan kedua anaknya baru keluar dari sebuah butik. Dua orang pengawal yang juga kukenal mengikuti dari belakang. Raut wajah Tante Wulan berubah. Selain kaget, ia juga terlihat marah.




“Hallo, Om, apa kabar?” tanya si kecil.




Gadis ini begitu sopan dan berlari untuk menyalamiku. Kakaknya yang sudah SMP mengikuti dari belakang, juga menyalamiku. Ah.. terlepas dari situasi keluarganya yang tidak harmonis, Tante Wulan telah berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik. Mereka tidak segan menyapa dan menyalamiku, sekalipun mereka tahunya aku adalah sopir.




“Anak mantan majikanku.” ujarku pelan pada Salsa.




Aku terlibat percakapan kecil dengan mereka, Salsa pun ikut menyapa dan menyalami. Beruntung Salsa begitu ramah, ia terlibat perkenalan menyenangkan. Gadis itu tidak menyadari perubahan raut mukaku.




Aku sungguh merasa tegang. Ketukan high hill Tante Wulan yang mendekat semakin membuatku kelabakan.




“Hallo Iba, apa kabar?” ramah.. sangat ramah.. tapi kilatan matanya sulit kugambarkan.


“Bbu Wulan.” kuterima uluran tangannya.




Kurasakan wanita itu meremas tanganku dengan keras. Jelas ia sedang meredam rasa kesalnya.




“Bbaik, Bu. Ibu apa kabar?”


“Seperti yang kamu lihat.”


“Ini siapa?” lirikannya berpindah pada Salsa.


“Oh iya, kenalin Salsa, Bu.”




Keduanya berjabat tangan. Sepintas tidak ada yang aneh. Nampak wajar. Tetapi aura yang kurasakan berbeda.




“Kalian pacaran?” tanya Tante Wulan.


“Euuu…”


“Iya, Bu.” Salsa mendahului menjawab.




Wajahku terasa panas. Aku merasa malu pada Tante Wulan, sekaligus juga kaget atas pengakuan Salsa. Aku tidak pernah mengungkapkan rasa cintaku padanya. Kejadian persetubuhan itu hanyalah buaian sesaat, dan aku memang tidak punya perasaan istimewa pada gadis ini.




Tante Wulan mengangguk sambil tersenyum. Ada gurat senyum kecut di sana. Kecewa dan marah juga ada. Entah.. mungkin Tante Wulan cemburu, atau marah karena aku tidak pernah menghubunginya lagi. Padahal ketika aku (Rei) bertemu dengannya kemarin, aku mengatakan bahwa Iba sedang keluar kota.




“Mah, ayo ke toko boneka.” ujar si kecil.




Duo gadis kecil itu kemudian menjadi penyelamat. Mereka pamit untuk melanjutkan shopping. Aku mengangguk kaku, Salsa kembali menggandeng tanganku sambil melambaikan tangan.




“Kok kamu tidak pernah cerita tentang mereka?” pertanyaan Salsa membuatku terkejut. Aku tersenyum sambil menggeleng lemah.




Tidak kujawab pertanyaannya. Moodku langsung jelek. Sebetulnya jalan dengan Salsa saja aku tidak mood, apalagi ditambah dengan perjumpaan tak terdugaku dengan Tante Wulan. Kota ini memang kecil, padahal ada begitu banyak tempat shopping dan tongkrongan.




Beruntung Salsa tidak mencecarku. Dengan lembut ia menarik tanganku. Kami menyusuri area mall, khususnya kawasan tempat restoran mewah berjejer.




Ketika melewati rumah makan Jepang, langkahku terhenti. Tubuhku seketika kaku. Keringat dingin pun menyembul tanpa kumau. Telapak tanganku langsung basah.




Tiga orang gadis datang dari arah berlawanan. Dua nampak riang, yang satunya lagi murung. Senyumnya hambar dan tidak selepas kedua temannya.




“Kamu kenapa, Ba?” Salsa belum menyadari kehadiran tiga gadis itu, sepertinya mereka juga belum menyadari keberadaan aku dan Salsa walapun jarak kami semakin dekat.


“Itu kelihatannya enak, Sa, kita cobain yuk.” aku seketika sadar. Kutarik tangan Salsa untuk memasuki sebuah toko roti.


“Eh..” Salsa kaget karena kutarik.




Beruntung ia tidak menolak sehingga aku tidak perlu repot melarikan diri. Tapi…




“Kakak?”


“Iba?”




Seorang gadis memanggilku kakak, dia adalah Nzi. Dua lagi, Kak Kekey dan Rere menyebut namaku sesuai dengan wajah dan penampilanku saat ini.




Sebetulnya mereka tidak sedang memanggilku, melainkan lebih berupa keterkejutan. Namun suara mereka yang cukup keras membuat Salsa berhenti dan menengok ke belakang, sementara tangannya masih memeluk lenganku.




Aku berusaha terus melangkah, tetapi Salsa menahan. Aku sudah tidak bisa lagi mengelak. Aku pun ikut membalikan badan, sementara punggungku sudah basah karena keringat.




“Iba?!” kali ini ketiganya serempak memanggil namaku.




Aku tercekat, hanya Salsa yang ramah menyambut mereka. Tetapi ketiga gadis itu tidak terlalu mempedulikan Salsa yang sedang menggandengku. Fokus mereka tertuju padaku.




Sorot kaget pun berubah kilatan marah. Kakak melotot, wajah Rere merah padam, Nzi berdiri kaku dengan tangan terkepal erat. Yaa.. mereka tahu kalau Rei dan Iba adalah orang yang sama. Meski aku belum pernah cerita secara langsung kepada kakak, ia pasti sudah tahu dari Rere dan Nzi.




“Kemarin dengan tante-tante, sekarang dengan Salsa. Hmm.. ternyata permintaan maafmu palsu!!” gumam Rere tanpa ekspresi.


“Hei.. hello…” Salsa belum paham, ia melambaikan tangan di depan wajah mereka.




Fiiiuhh.. aku lelaki.




“Hadapi, Rei, ayo hadapi, jangan lemah.” aku menyemangati diri sendiri.


“Hai.” aku akhirnya bisa mengeluarkan suara.


“Ini beneran kakak, kan?” tanya Nzi.


“Iya Nzi, aku Kak Iba.” jawabku. Aku berusaha memberi kode kepadanya, juga kepada kakak. Tapi sepertinya mereka tidak paham dan tidak menangkap arti dari kedipan mataku.




Kulihat kakak tidak bisa berkata-kata, ia terlihat begitu marah. Rere tak kalah marahnya, wajahnya merah padam. Air matanya sudah berlinang.




“Kak, Re.. bisa kujelaskan.” ujarku.


“Apa yang mau kamu jelaskan, sayang?” tanya Salsa polos.




Kakak terbelalak mendengar panggilan sayang Salsa, Rere nampak begitu kacau sekaligus geram. Nzi melongo karena shock dan bingung.




Mungkin karena tidak enak pada Rere, kakak akhirnya berujar, “Eh kalian ada di sini juga. Yaudah kami makan dulu ya.”




“Selamat makan.” Salsa sendiri mulai tidak nyaman karena sikap tidak ramah mereka.


“Selamat makan.” aku ikut-ikutan sambil mengangguk.




Kutarik tangan Salsa untuk pergi.




“Tunggu!!!” Rere menghentikan. Suaranya terdengar geram karena menahan emosi.


“Iba, kita bicara!!” ia langsung menarik tanganku dengan kasar.


“Eh Re.. lu apa-apaan sih, yang sopan dikit napa?” Salsa tersulut emosi. Ia langsung sewot karena sikap sahabatnya.


“Sa, tenang.” suaraku pelan.




Rere langsung menarik tanganku dengan marah. Salsa ikut marah dan berusaha melepas tarikan tangan Rere padaku, tapi tidak berhasil. Aku ditarik Rere menuju tempat yang agak sepi, sedangkan aku menarik tangan Salsa supaya ikut. Kuberi kode kepada kakak dan Nzi supaya tidak ikut campur, tetapi mereka malah mengikuti langkah kami.




“Rere, lu tuh ngapain sih?” bentak Salsa.




Kini kami berada di sudut mall, di depan sebuah toko yang tutup karena sedang renovasi.




“Lu tuh yang ngapain.. pergi jalan-jalan ama Re.. ama Iba..?!!” Rere balik sewot.


“Tolong kalian tenang dulu, aku akan jelaskan.” aku mencoba menengahi.


“Brengsek kamu, Ba? Jadi ini kelakuanmu di belakangku? Belum kapok, hah?! Jadi apa arti dari pengakuan dan penyesalanmu?!!!” kali ini Rere menghardikku. Emosinya meluap-luap.


“Heii!! Jaga mulut lu, Re.” Salsa tidak terima aku dikasari.


“Lu tuh yang kegatelan, maen pergi ama Iba!!!” kemarahan Rere semakin meledak, air matanya langsung mengalir.


“Apa lu bilang? Lu tuh yang kegatelan, Re, sudah punya pacar tapi masih aja mepet cowok lain.” Salsa tidak mau kalah.


“Hei.. hei.. kalian tenang dulu.” aku berusaha mencegah pertengkaran yang lebih besar.


“Diam kamu!!!” what the fuck.. keduanya malah menghardikku.


“Hei.. dengar yah…” Ujar Rere pada Salsa, ia berusaha meredam suara tapi tidak bisa.


“Lu yang dengerin gua..” Salsa memotong. “Lu gak punya hak marah kalau gua jalan ama Iba. Dari dulu.. lu tuh emang pengganggu tahu, gak?! Apa salah kalau gua sayang Iba? Apa salah kalau gua jalan dengannya? Memangnya lu siapa? Rei lu mau dikemanakan?”


“Sa, lu gak punya hak ngomong begitu.. lu gak punya hak karena…”


“Apa?” Salsa kembali memotong.


“Karena hati lu sendiri mendua? Gua gak pernah merebut Iba dari lu ya.. dari siapapun… Lu cemburu? Hello.. Rei lu mau dikemanakan? Dengar sekali lagi, apa gua salah kalau gua dan Iba pacaran? Apa gua salah kalau gua sedang mengandung anaknya?!!”




Jedeeer!!!










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar