Sang pewaris part 56

 

BAB 56

“Sudah tidak apa-apa. Sanah jangan ganggu, kasihan cucuku.”

“Mah tapi…”

“Sssst….”

Hening!


Aku menggeliat dan terbangun karena percakapan yang samar-samar . Mataku terbuka. Aku masih berbaring di atas pangkuan oma.




“Mmmh.. Oma kok masih di sini? Sudah jam berapa, Oma?”


“Sudah bangun, sayang? Jam tujuh kurang.”


“Eh.. maaf. Kok oma gak biarin aku tidur di bantal saja?”




Aku merasa bersalah. Aku tidur hampir dua jam dan oma sama sekali tidak beranjak. Oma tidak menjawab, senyum teduhnya mengembang.




Aku bangkit dan memeluknya. “Aku sayang oma.” ujarku tulus dan haru.




“Hmm.. jadi hanya Oma Alya saja yang disayang?” terdengar deheman dan gerutuan yang dibuat-buat.




Oma Alya tertawa. Aku ikut terkekeh malu. Kusambut tubuh ringkihnya yang memasuki kamar. Gantian aku memeluk Oma Ewer.




“Aku juga sayang oma.”




Kecupan hangat pada kening kudapatkan. Mereka menyuruhku mandi karena sebentar lagi makan malam.




Aku melangkah gontai menuju kamar mandi dan kedua omaku meninggalkan kamar. Tubuhku masih terasa lemas. Ingatanku kembali pada Rere, dan sedih ini mencuat kembali. Ah.. seandainya aku bisa tidur selamanya, dan melupa dari segala rasa sakit dan luka.




Keluar dari kamar mandi Kak Kekey sudah ada di dalam kamarku. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya. Tatap matanya tajam. Tidak ada senyum ramah di sana.




“Rei, kita makan di rumah aja ya. Gak usah makan di luar.” ujarnya dengan suara datar. Ia seperti sedang menahan sebuah emosi, entah apa.


“Iya, Kak, gakpapa. Aku juga capek.”


“Maaf kalau kemarin malam kakak menamparmu?” ujarnya. Tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.




Aku tersenyum, kucium pipinya untuk menunjukan bahwa aku tidak marah. Tetap malam ini kakak memang berbeda. Ia hanya berdiri mematung. Tersenyum pun tidak.




Aku yang pada dasarnya sedang ruwet, tidak mau memikirnya. Aku melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.




“Kenapa, Rei?” tanya kakak sambil memutar tubuh membelakangi karena aku berganti celana.




Aku tidak menjawab. Kupakai celana jeans, juga t-shirt. Kakak masih mematung menunggu jawaban. Aku hanya menghela nafas lalu melangkah menuju cermin dan menyisir rambut. Ia sudah tidak lagi memunggungi, sorot matanya selalu mengamati gerak-gerikku.




“Maaf.” hanya itu yang bisa kuucapkan.


“Kok kamu tega sih pada Rere? Kakak malu loh. Ayah dan mamah pasti sangat kecewa kalau mereka tahu.” suara kakak mulai penuh emosi, tetapi masih berusaha ia redam.


“Ayah dan mamah sudah tahu, Kak.” Eh… aku urung mengucapkannya. Berganti dengan kata maaf yang kembali terucap.


“Rei..!! Kakak benar-benar gak ngerti ama jalan pikiran kamu. Sebenarnya walaupun kakak kecewa tetapi kakak berusaha memaklumi dan kakak menyesal karena telah menamparmu. Tetapi kakak melihat kok kamu malah tidak menyesal sama sekali!” kulihat wajah kakak memerah, bibirnya bergetar meski sudah berhenti berbicara.


“Maksud kakak tidak menyesal?” aku tidak menerima tuduhan kakak.


“Lah buktinya kamu masih menemui Tante Wulan!! Tega kamu, Rei. Kamu benar-benar sudah melukai perasaan Rere. Melukai kakak.. kakak benar-benar kecewa!!” suaranya semakin meninggi.


“Kak, dengar dulu.”


“Apa? Apa lagi yang harus kakak dengar?! Buktinya kamu sudah selingkuh di belakang Rere, dan kamu malah masih menemui perempuan itu!! Apa lagi yang mau kamu jelaskan? Hah?!!” kakak benar-benar murka.




Aku tersentak mendengar kemarahannya yang meledak-ledak. Ekspresinya penuh dengan kekecewaan. Di sisiku, aku merasa semakin terluka. Rere tidak mau berbicara denganku, sekarang kakak malah memarahiku. Aku merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk menyandarkan diri, untuk menitipkan kerapuhan ini. Aku kehilangan pegangan.




Aku sedih.. aku menyesal.. aku kecewa pada diri sendiri. Tetapi aku juga marah atas sikap kakak.




“Iya, aku memang tidak tahu diri. Aku tidak bisa menyenangkan Rere dan kakak. Puas, Kak?” emosiku terpancing.


“Rei!! Kamu?” tangannya melayang dan hanya berhenti beberapa senti di depan pipi kiriku.


“Kenapa diam, Kak? Ayo tampar!! Ayoo..!! Aku memang tidak berguna, ayo tampar saja!!”


“Kamu tuh benar-benar yah… sudah berani ama kakak?” Kak Kekey semakin marah. Begitu juga aku.


“Kaaaaak!!!” tiba-tiba Nzi muncul. Pertengkaran yang semakin besar pun urung terjadi.


“Kak Kekey dan Kak Rei kenapa?” Nzi langsung memelukku, menghalangi tangan Kak Kekey yang kembali melayang. Perempuan memang suka main tangan, tetapi sedikit saja pipi mereka yang terkena tamparan kecil itu seolah sudah meruntuhkan seluruh harga dirinya.


“Kak?!!” Nzi menatap wajahku dan Kak Kekey bergantian.


“Tanya sendiri pada kakakmu!!” ketus kakak. Ia nampak sedang berusaha meredam emosi. Diusapnya jentik air matanya lantas berlalu meninggalkan kamar.


“Kaaak?” tetapi panggilan Nzi pun tidak ia hiraukan.




Nafasku tersengal. Dadaku naik turun. Tanganku terkepal. Adikku langsung memelukku erat sambil sedikit terisak memohon supaya aku tenang.




Banyak tanya dari adik kesayanganku, tetapi kuabaikan.




“Nanti kakak cerita.” ujarku sambil mendorong tubuhnya agar melepas pelukan.


“Janji kakak akan cerita?”




Aku mengangguk.




“Yaudah abis makan kakak cerita yah. Turun yuk, Kak, sudah ditunggu di ruang makan.” Nzi menangkup kedua pipiku.




Aku tersenyum kecut. Hatiku luluh. Kalau bukan karena wajah imutnya, aku pasti sudah pasti akan mengusirnya. Aku tidak mau makan, dan ingin menyendiri.




“Kamu duluan aja, dek. Lima menit lagi kakak turun. Jangan bilang ayah dan mamah yah. Oma-opa juga jangan tahu.” ujarku.


“Iya, Kak.”




Kedua bola mata adikku berkaca-kaca. Kudekap kepalanya dan ia pun terisak. Setelah ia tenang, adikku meninggalkan kamar. Aku duduk di tepi ranjang untuk menenangkan diri.




Pikirku kalut, hatiku terluka. Luka atas perbuatan yang kulakukan sendiri, luka atas sikap kakak yang sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasanku. Ia hanya mau mendengarkan cerita sepihak, yaitu itu Rere. Kakakku membela kekasihku tanpa memberi ruang bagiku untuk menyampaikan penjelasan.




Setelah sedikit tenang, aku pun turun.




“Iih kakak, lama banget.” Nzi menyambut dan mencoba mencairkan suasana.


“Opa.. oma… aku tidak makan yah. Yah.. mah.. aku keluar dulu. Makannya nanti aja.” ujarku.




Semua kaget. Kulihat kakak melengos.




“Kaaak?” heran Nzi.


“Sayang, kamu mau kemana?” suara lembut mamah.


“Aku jalan-jalan dulu sebentar di depan.”




Terjadi perdebatan kecil, tetapi aku bersikukuh untuk pergi.




“Rei, duduk!!!” akhirnya ayah memintaku dengan suara tegas.




Aku menghela nafas dan memelas menatap ayah. Tidak ada kompromi, ayah berubah serius.




“Waa!! Sudah.. sudah… Rei lagi butuh sendiri.” pembela pun datang, Oma Ewer.


“Makasih, Oma.” sebelum dilarang lagi aku pun langsung pergi. Kuabaikan panggilan mamah dan Oma Alya.


“Kakaaaak.” pekik Nzi.




Ia pun menyusulku. Tanganku ditarik supaya kembali, tetapi aku tidak peduli. Nzi pun membuntutiku.




“Deek, jangan ikuti kakak. Aku ingin sendiri.” kesalku.


“Tapi kakak sudah janji mau cerita.”


“Iya nanti, yah. Kakak butuh menenangkan diri dulu. Kamu tanya Kak Kekey aja gih biar gak penasaran. Besok kakak sendiri yang akan cerita ke kamu.”


“Gak mau!! Aku mau mendengar dari Kak Rei langsung!” jawab adikku sambil cemberut.




Haisshhh!!! Ingin aku marah, tetapi adikku tidak bersalah. Aku tak menyahut. Kulanjutkan langkahku keluar pekarangan, menyusuri jalan kompleks. Tanpa arah dan tujuan. Adikku membuntuti. Untung ia hanya diam, kalau saja ia berceloteh pasti sudah kudamprat juga.




Aku sangat tidak mengira konsekuensi atas kejujuranku akan meluas seperti ini. Semula aku hanya menduga bahwa masalahku hanyalah dengan Rere. Tetapi nyatanya tidak. Kakak malah memperkeruh suasana. Bebanku semakin besar.




Dalam lara hatiku, masalah besar lainnya masih membentang di depan. Aku sudah janji membantu Tante Wulan. Belum lagi aku juga harus menyelesaikan hubunganku dengan Salsa yang masih menggantung. Aku pergi dan menghilang begitu saja, dan sejak kepulanganku aku belum menemui gadis itu lagi.




“Aaarghhh…” aku mengerang pelan. Kutendang batu kecil yang tergeletak. Salah sendiri ia nongkrong di depan kakiku.




Nzi sigap memeluk lengan kananku. Langkahnya semakin rapat, meski tidak ada kata atau ucap. Satu hal yang pasti, adikku berlinang air mata, tanpa ia sendiri tahu untuk apa ia menangis.




Langkah kami semakin jauh. Ketika tiba di pinggir taman kompleks, kuputuskan untuk berbelok, menyusuri jalan kecil di dalamnya. Aku dan Nzi pun tiba di pinggir danau kecil. Aku duduk di atas bangku panjang, adikku selalu mengawal. Melepas pelukan pada tangan pun tidak. Inilah kursi yang sama ketika aku menemui adikku yang sedang menangis di tengah derasnya hujan.




“Kaak.. jangan diam terus. Hiiiks…” Nzi tidak bisa menahan tangisnya. Pelukannya pindah pada pinggangku.




Suasana cukup sunyi. Aku berdiam diri. Hanya isak Nzi yang terdengar.




Mau tidak mau hatiku lulu. Kupeluk bahunya, kucium kepalanya. Nzi pun mendongak, kuberikan senyumku, meski senyum ini rasanya terlalu pahit.




“Kamu masih ingat tempat ini, Dek?” aku mencoba mencairkan suasana.




Nzi mengangguk lantas mengusapi air matanya. Sorot matanya berubah. Ada kenangan di sana, sekaligus rasa bersalah.




“Mau cerita ke kakak?” ujarku.


“Aku malu, kak. Kakak aja yang cerita, kenapa bertengkar dengan Kak Kekey? Kan udah janji mau cerita.”


“Ama kakak kok malu.” kali ini kedua ibu jariku yang mengusapi sisa air mata pada pipinya. Kubelai rambutnya yang berantakan karena terpaan angin malam.


“Nanti kakak cerita kalau, adek mau cerita.” ujarku lagi. Sebetulnya aku masih belum siap menceritakan keburukanku pada Nzi. Selama ini adikku terlalu melihat aku sebagai seorang kakak yang sempurna, tanpa tahu kelakuanku yang sesungguhnya.


“Kan kakak sudah tahu.” ia mulai merajuk manja.


“Tapi kan tentang kelanjutannya kamu belum cerita.”


“Kaka maaah. Iiih…” wajahnya memerah. Aku bisa melihat karena tersorot lampu.




Nzi mengubah duduknya. Kami duduk bersisian menghadap ke arah danau. Pandangan kami sama-sama kosong ke depan.




“Maafkan aku, Kak. Aku sudah membuat kakak kecewa.” suaranya pelan, nyaris tidak terdengar.




Kutarik bahunya, Nzi pun menyandarkan kepalanya.




“Kakak tidak kecewa.” aku meyakinkannya.




Butuh usaha kecil untuk merayu adikku agar mau bercerita. Kuabaikan sejenak masalahku sendiri. Tingkah lucu Nzi cukup membuatku terhibur.




Adikku pun akhirnya mau bercerita. Ia tentu saja sangat shock atas file video yang kuberikan. Ia sangat marah! Kecewa! Juga malu!! Ia juga ketakutan seandainya video itu menyebar. Bahkan ketika sedang bersama ayah dan mamah pun ia merasa takut dan malu sendiri, padahal mereka tidak tahu apa-apa.




Esoknya, ia langsung menemui Dante di cafénya. Tidak sulit bagi Nzi untuk memintanya putus, toh memang Dante yang meminta duluan. Saat itu, ia menemukan Dante sedang bermesra dengan perempuan lain di ruangannya. Nzi marah. Bukan karena cemburu, tetapi karena Dante sedang memakan korban berikutnya. Nzi pun mempermalukan Dante di depan gadis itu dan adikku menjadi saksi putusnya hubungan Dante dengan gadis itu.




“Kamu ternyata berani juga, Dek.” kekehku.


“Habisnya..!!!”


“Terus setelah itu gak sedih lagi?”




Nzi menggeleng sambil menegakan duduknya. Ia menatapku.




“Aku masih punya ayah dan mamah, punya Kak Kekey, dan juga punya Kak Rei. Aku tidak sedih. Aku bahagia malah.. Makasih, ya Kak, udah bantu aku. Yeah walaupun waktu itu aku gak kenal kakak.” Nzi terkekeh.




Aku tidak ikut tertawa. Aku terharu mendengar ucapannya. Kuusap rambutnya dengan rasa sayang.




“Sekarang sudah ada pengganti Dante belum?” godaku.


“Belooom.” ujarnya manja. “Aku janji, nanti kalau ada cowok yang serius ama aku, aku kenalin dulu ama kakak.. biar gak salah lagi.”


“Ya gak gitu juga, dek. Kamu yang harus memilih sendiri, masa kakak? Kan yang menjalani adalah kamu.”




Kuberikan senyumku. Nzi terkekeh seolah mengamini ucapanku. Tetapi kuyakin ia cukup serius dengan perkataannya sendiri. Adikku sudah mau merayakan ulang tahunnya yang ke-19 tetapi ia masih terlalu polos dalam soal percintaan. Bahkan ia sendiri tidak menyadari jika selama ini ada pemuda yang diam-diam jatuh hati kepadanya. Seorang pemuda yang selalu dekat dengannya; selalu bersamanya; selalu mengikuti Nzi kemanapun ia pergi.




“Kak..”


“Maafkan adek ya. Kakak harus percaya.. adek masih mempertahankan kesucian adek.” ujar adikku pelan.




Aku tersenyum haru. Hanya ada dua alasan kalau ia menyebut dirinya seperti itu: yaitu ketika sedang manja atau ketika menyampaikan sesuatu yang sangat serius. Nzi pun menyampaikan bahwa Dante berulang kali merayunya dan bahkan pernah memaksa, tetapi adikku mempertahankannya.




“Kakak percaya.” ujarku tanpa keraguan. Kuusapi rambutnya dengan perasaan haru.




Yeah.. apa ukurannya bagi seorang pria ketika ia sudah tidak perjaka? Perempuannya dibohongi pun mungkin akan percaya. Tetapi bagi wanita, itu adalah keutamaan yang harus dijaga agar tidak jatuh ke dalam pria yang salah.




Aku adalah satu dari sedikit pria yang egois. Menuntut keperawanan pasanganku, padahal kang pepen sendiri sudah celap celup dot com. Pastinya aku juga akan marah jika kedua saudariku, khususnya Nzi, memberikan mustika mereka kepada pemuda yang salah. Mending kalau pemuda itu kemudian menjadi cinta sejatinya dan kemudian menjadi pasangan seumur hidup. Rasanya aku kesal pada kang pepen karena aku bisa seegois ini.




“Makasih, Kak.” Nzi kembali menyenderkan kepalanya.


“Kak…”


“Hmmm?”


“Untuk masalah ini aku belum cerita ke ayah dan mamah. Kak Kekey juga tidak tahu. Aku cuma bilang putus karena tidak suka pada karakternya si brengsek itu.”


“Tidak usah cerita ke mereka, Dek. Mereka itu sayang banget ama kamu, jangan sampai Kak Kekey marahin kamu seperti tadi ia marahin kakak.” gumamku.


“Kalau Kak Rei sayang adek, nggak?”


“Nggak!”


“Hihi.. makasih.”




Ia memelukku. Jelas ia tahu kalau apa yang kuucapkan berbanding terbalik dengan ucapanku.




Aku dan adikku saling diam selama beberapa saat. Menikmati kehangatan pelukan sebagai dua bersaudara sambil meresapi keheningan malam.




“Sekarang giliran kakak yang cerita. Kenapa kakak bertengkar dengan Kak Kekey?” sesuatu yang sebetulnya ingin kuhindari pun ia sampaikan. Tetapi aku sudah tidak bisa mengelak, bisa-bisa ia tidak mau pulang jika aku tidak menceritakan alasannya. Lagi pula, Nzi memang harus tahu meskipun dengan itu aku akan membuatnya kecewa.




“Kamu sudah tahu kan tentang tradisi leluhur kita, tetang kakak yang harus menjadi penerus, juga tentang ritual dan rintangan-rintangan yang harus kakak jalani?”


“Iyah. Ayah dan mamah sudah tidak pernah menutupi lagi. Aku juga sudah tahu tentang cerita Senja dan ayah.”


“Ini semua ada kaitannya, Dek. Tapi kakak terlalu bodoh sehingga Kak Kekey marah.” aku mendesah. Perasaanku kembali tidak nyaman karena rasa bersalahku pada Rere, pada Tante Wulan, dan juga pada Salsa yang sampai saat ini belum berani kutemui. Aku gelisah karena kembali merasa kesal pada Rere yang tidak mau kuhubungi lagi; juga marah pada Kak Kekey yang lebih berpihak pada kekasihku tanpa mau mendengarkan penjelasanku.




Nzi menunjukan kedewasaannya. Ia meneguhkanku dan bersikap menjadi seorang pendengar yang setia.




“Waktu kakak menjadi Iba, kakak sudah selingkuh di belakang kakakmu.. Kak Rere.. Kemarin malam kakak jujur padanya.” aku mengawali cerita.




Adikku terperanjat. Pelukannya terlepas. Ia menatapku sambil melongo. Dalam keadaan normal sikapnya menggemaskan, tetapi tidak kali ini.




Aku menggeleng resah. Adikku nampak shock tetapi ia bisa menguasai diri, sikapnya kembali tenang dan bersiap mendengarkan.




Aku berdiri sambil menatap riak air danau, sedangkan adikku tetap diam di tempat duduknya. Kusampaikan ceritaku selama menjadi Iba, terutama tentang perselingkuhanku dengan Tante Wulan dan alasan yang ada di baliknya; juga hubunganku dengan Salsa yang murni karena kekhilafan. Tentu saja nama mereka kusamarkan. “Sebut saja nama mereka Wulan dan Salsa,” ujarku.




Kusampaikan kejadian kemarin malam ketika aku jujur pada Rere, termasuk ekspresi shock dan kecewanya, dan juga perubahan sikapnya yang mendiamkanku sampai sekarang. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di dalam isi kepala kekasihku. Sejak kemarin malam ia hanya diam. Aku terakhir berbicara dengannya tadi siang tetapi hanya sebentar karena ia memutuskan handphonenya dan tidak pernah mau mengangkatnya lagi. Pesan pun hanya dibaca tanpa dibalas.




“Kakak menyesal, Dek. Tapi kakak juga terlalu sayang pada Rere, kakak tidak mau membohonginya.” ujarku disusul helaan nafas panjang.




Nzi hanya diam. Aku tidak mau menengok sehingga tidak tahu ekspresinya.




“Tadi siang kakak ketemu wanita itu. Rere mengangkat telpon kakak waktu kakak sudah tiba di café, dan kakak bilang bahwa aku sedang menunggu wanita itu. Rere sepertinya marah dan langsung menutup telpon tanpa mau mendengarkan alasan dan penjelasan kakak. Kak Kekey juga tahu, mungkin Rere curhat ke kakak. Makanya tadi Kak Kekey marah di kamarku.” lanjutku.


“…” masih tidak ada sahutan.


“Kak Kekey sama sekali tidak memberiku kesempatan kepada kakak untuk menjelaskan, makanya kakak balik marah. Kamu tahu, Dek…”




Suaraku mulai meninggi terdorong oleh emosi yang bergolak kembali. Kubalikan badan agar bisa menatap adikku.




Ia menatapku dengan sendu. Binar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan kecewa, tetapi juga teduh tanpa menghakimi.




“Kakak ketemu wanita itu karena kakak sendiri punya alasan!! Kakak sama sekali tidak berpikir kalau kakak menemuinya karena kakak masih menginginkannya!!” suaraku menggebu-gebu, nafasku menderu.


“Itu adalah bagian dari rintangan ketiga kakak!! Kakak harus mengakhiri hubungan kakak secara baik-baik, makanya kakak menemuinya. Sekaligus kakak juga masih berniat untuk membantu persoalan keluarganya. Tapi Rere dan Kak Kekey tidak mau mendengarkan penjelasanku!! Rere seenaknya main tutup telpon dan Kak Kekey hanya marah-marah!!” emosiku semakin meluap.


“Kamu tahu, Dek? Kakak memang salah, kakak bodoh, kakak ceroboh!! Kakakmu ini jahat, tetapi kakak juga punya niat untuk memperbaikinya.”


“Adek tahu? Waktu kakak masih menjadi Iba, kakak sangat marah padamu, Dek. Sangat marah dan kecewa. Tetapi kakak juga sadar kalau kakak tidak lebih baik dari adek. Perbuatan kakak jauh lebih buruk!”




Kulihat Nzi berlinang air mata.




“Kakak akhirnya sadar. Tidak ada gunanya kakak marah. Kakak percaya kalau adek bisa memperbaiki masa lalu, dan itu juga yang akan kakak lakukan.”


“Asal adek tahu.. ayah dan mamah juga sudah tahu tentang perselingkuhan kakak. Kakak tahu kalau mereka kecewa. Sangat kecewa..!! Mereka terluka karena perbuatan kakak. Tetapi mereka tidak marah berlebihan karena ayah dan mamah tahu kalau kakak sudah menyesalinya dan mau memperbaiki kesalahan. Kakak sedih sudah mengecewakan ayah dan mamah, tetapi kakak juga bangga pada mereka….”


“Sebagai seorang perempuan, mamah tahu rasanya luka karena dikhianati, tetapi mamah malah mengusulkan supaya aku tidak jujur pada Rere, Dek. Mamah tidak ingin melihat Rere terluka. Mamah ingin agar hubungan kami langgeng. Tapi…”


“Kakak tidak bisa, Dek. Tidak bisa!! Kakak terlalu menyayangi Rere, dan kakak tidak bisa membohongi orang yang kakak sayangi!! Itu aja, Dek, ituuu alasannya kakak jujur pada Rere!!!”


“Kakak tahu.. kebahagian ayah dan mamah yang kita lihat sampai sekarang.. kasih sayang yang kita dapatkan sampai sekarang… itu mereka bangun di atas luka masa lalu. Ayah dan mamah selalu saling jujur meski kejujuran itu kadang harus menyakiti. Itu yang mau kakak tiru. Kakak tidak ingin kebahagian rumah tangga kakak nantinya palsu.. semu… karena ada yang kakak sembunyikan.”


“Satu yang kakak tidak pernah tahu, Dek. Satu… yaitu rasa sakit. Kakak tidak menyangka kalau rasa sakit dari sebuah kejujuran akan seperti ini. Kakak sakit karena telah membuat kalian kecewa. Sakit karena telah merempas kebahagian Rere dan mengubahnya menjadi luka.”


“Kakak frustasi, Dek…”




Kuuangkapkan semua unek-unekku. Sedih.. marah.. kecewa.. luka… dengan nada suara yang meluap-luap.




“Kaaaak… hiiiiks….” Nzi berdiri dan menghambur memelukku. Tanganku yang terus bergerak, ia tarik agar membalas pelukannya.




Nzi menangis keras, sementara aku mematung dengan nafas tersengal. Perasaan-perasaan ini masih berkecamuk, tetapi bibirku sudah kelu. Luka ini begitu menganga sehingga tidak bisa lagi berkata-kata. Terlepas dari itu, aku juga merasa sedikit lega karena telah meluapkannya di depan adikku. Akhirnya aku membalas pelukan Nzi dan ikut berlinang air mata. Kutumpahkan sisa beban perasaanku.




“Kaak hiiiks… kakak tidak boleh seperti itu. Kakak hebat.. aku bangga pada kakak… hiks hiiiks… kakak jangan marah-marah.. kakak jangan sedih.. hiks hiks…” Nzi terus menangis sambil mendekapku.




Tubuhku luruh dan terjatuh bertumpu lutut. Nzi mengikuti tanpa melepas pelukan. Tangisnya semakin keras, air mataku kian mengalir.




“Haaaaaahhhh!!!” aku setengah berteriak.




Nzi menatapku, sedikit terkekeh di sela derai air matanya. Ia tahu aku sedang mengeluarkan beban.




Tak lama kemudian aku dan adikku berdiri dan kembali duduk bersisian di atas bangku. Tangan kami erat saling menggenggam.




“Adek sayang kakak. Kalau kakak seperti ini, itu sama aja kakak membuat adek sedih juga.” ia menghibur sekaligus merajuk.




Kuacak-acak rambutnya. Kini semua bebanku sudah tertumpah dan tinggal menyisakan hampa.




Butuh waktu bagi aku dan Nzi untuk menghentikan lelehan air mata. Kami saling mengusap dan mengeringkan, senyum kami bagikan, sebuah senyuman pedih.. namun perlahan pudar menjadi senyum yang saling menguatkan. Aku dan adikku saling ada, saling menopang, saling meneguhkan.




“Makasih, Dek. Maaf kalau kakak marah-marah kayak tadi.” ujarku.


“Adek takuutt.” sambil menangkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya.




Mau tidak mau aku terkekeh, Nzi ikut. Aku tertawa, ia juga ikut tertawa. Akhirnya kami sama-sama tertawa lepas. Tawa pelepas beban, meski masalah tak serta-merta terselesaikan.




“Kakak jangan marah lagi pada Kak Kekey. Ia hanya kecewa dan salah paham. Kak Kekey sangat sayang Kak Rei, jadi wajar kalau Kak Kekey marah. Aku juga sayang kakak.” ujarnya di akhir tawa kami. Nzi terus menghiburku, dan meyakinkanku kalau Kak Kekey tidak bermaksud seperti itu.




Aku tersenyum. Adikku benar. Kakakku perempuan, ia akan berada di posisi Rere. Sangat masuk akal kalau Kak Kekey juga lebih banyak menemani dan mendengarkan Rere daripada mendengarkanku. Kak Kekey juga menyesal karena menamparku dan mengajakku makan berdua di luar sebagai permintaan maafnya. Tetapi bahwa ia tahu jika aku bertemu Tante Wulan, itu yang meniadakan semuanya. Kakak kembali marah, kembali merasa kecewa, seperti apa yang dirasakan oleh kekasihku. Yeah.. walaupun mereka tidak mau mendengar alasanku di baliknya.




Tanpa Nzi tahu, senyumku terulas lepas. Aku sedang bangga dan mengaguminya. Si ceriwis.. si centil.. si manja ini… kini nampak lebih dewasa dari pada aku dan Kak Kekey. Tapi aku tidak mau mengatakannya, ia pasti akan berubah ceriwis jika aku memujinya. Aku masih ingin mendengarkan celotehan bijaknya.




“Kakak curang!! Keseeel!! Sebel akunya!!”




Nah kan.. belum juga kupuji, ia sudah merengek ceriwis lagi.




“Loh.. kok?”


“Iya.. kakak minta aku yang cerita duluan biar aku merasa dilindungi dan disayangi kakak. Biar aku tidak marah pada kakak!! Keseeel!! Coba kalau kakak yang cerita duluan, aku juga pasti marah seperti Kak Kekey.”


“Hadeuhh.. cewek memang egois!”


“Enak aja. Cowok tahu yang egois.”




Aku dan adikku berdebat. Berakhir sebuah tawa lepas. Perdebatan kami memang bukan sesuatu yang harus diseriusi, melainkan lebih berupa perayaan atas terurainya beban di hati.




“Makasih, ya adekku sayang. Ayo kita pulang.” ajakku.


“Gak mau. Adek suka melihat kakak menangis.” ia malah menggoda.


“Haissshhh…” kupencet hidungnya.




Ia menggeleng-gelengkan kepala. Rambutnya ikut terkibas.




“Kakak lapar. Kamu juga kan belum makan. Ayo…”


“Gendong!!”




Aku mendelik kesal, tetapi sebelum aku protes, ia sudah meloncat lebih dulu ke atas punggungku.




Aku menggendongnya meninggalkan taman. Tak hentinya kami bercanda. Bukan karena sedih itu sudah tidak ada, melainkan karena ada cinta yang lebih besar. Keluarga!!




Adikku semakin mengeratkan tangannya pada leherku ketika memasuki pekarangan rumah. Aku tahu alasannya. Mamah sedang mondar-mandir dengan gelisah di depan teras.




Wanita hebat itu nampak sangat khawatir atas keadaan kami, apalagi aku dan adikku tidak bisa dihubungi karena tidak membawa smartphone.




Mamah terlihat sangat lega ketika melihat kami pulang sambil bercanda. Tetapi wajahnya tetap dibuat marah. Langkah mamah panjang menyambut kami. Adikku semakin mengkeret di atas punggungku.




Muaaach!!




Aku langsung mencium pipi mamah ketika mulutnya terbuka dan siap melancarkan omelan.




“Kalian…”




Muaaaach!!




Nzi meloncat turun dan mencium pipi mamah yang satunya.




“Mah, lapaaar.” rengek Nzi.


“Kalian…”




Muaaaach!!




Kali ini aku dan Nzi menciumnya bersamaan. Nzi bahkan langsung memeluk mamah, sedangkan aku hanya terkekeh ketika melihat tatapan tajam kesal dan gemas mamah. Kugaruk kepalaku.




Mamah tidak bisa mengomel. Kami berdua selalu menganggunya. Kulihat mamah pun frustasi.




“Ayaaaah!!” teriaknya.




Pria yang kami kagumi dan sayangi pun muncul dari dalam rumah. Sebuah kesalahan besar bagi mamah, karena ayah pasti akan selalu luluh pada si bungsu.




Mamah pun mengadu. Yang terjadi malah mamah seperti sedang mengomeli ayah. Intinya mamah meminta ayah supaya memarahi dan menghukum kami berdua. Benar saja.. rajukan dan pelukan Nzi pada ayah membuat harapan mamah tidak terjadi. Sikap ayah sangat lunak. Tidak ada kemarahan pada ekspresi dan tutur katanya.




“We love you, mom.” ujarku agar mamah tidak kesal lagi.




Awalnya mamah mendengus, tapi hatinya sudah benar-benar luluh. Rambutku ia acak-acak gemas, ciuman pada kening pun kudapatkan.




Ayah beda lagi. Ia malah kehilangan fokus, ia tidak bertanya tentang keadaan kami, tetapi malah bertanya tentang keadaan taman yang baru kami kunjungi. Nzi memang mengatakannya kalau kami pulang dari sana.




Kami berempat memasuki rumah. Langkah adikku riang penuh kemenangan. Mamah nampak begitu gemas atas tingkah kami. Ayah seperti biasa, berlagak tiis. Ia malah seperti senang melihat ekspresi mamah.




Aku dan Nzi makan ditemani kedua orangtua kami. Adikku ceriwis bercerita, dan sama sekali tidak menyinggung peristiwa kami berdua di taman. Yeah.. ini hanya masalah waktu. Ayah dan mamah pasti tidak akan masuk kamar sebelum mendapat penjelasan dari kami berdua. Tetapi saat ini aku dan adikku ingin menikmati makan dulu, tanpa terganggu cerita sendu.




“Kakak kalian menginap di rumah Rere.” mamah seakan paham arti lirikan mataku ke arah pintu kamar kakak.




Aku tersenyum kecut, adikku seperti tak peduli dan tetap melahap isi piringnya.




“Rei…” ujar ayah. Kali ini suaranya terdengar dalam penuh wibawa. “Ayah dan mamah tidak pernah melarang kalian bertengkar karena namanya selisih paham pasti ada saja, tapi ayah dan mamah tidak pernah mengajarkan kalian untuk membiarkan persoalan berlarut-larut.”




Aku mengangguk, begitu juga adikku. Kini saat bercanda sudah lewat, aku (dan Nzi) harus menceritakannya.








https://t.me/cerita_dewasaa








Aku menghentikan mobilku di depan sebuah rumah yang cukup besar. Sekitar seratus meter dari gang menuju kostan yang pernah kutinggali. Aku datang dengan tekad bulat, meski perasaan takut dan waswas tetap sukar untuk kukendalikan.




Seorang gadis berdiri kaku di teras rumah. Ia menungguku. Wajahnya cemberut. Matanya merah. Tangannya menyilang di atas perut.




“Hai, Sa.” aku mendekat.




Plak!!!




“Kamu kemana saja, Ba?”




Hobby perempuan memang menampar, daripada kesal mendingan BERSAMBUNG…



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar