Sang pewaris part 55

 

Bab 55








Aku terlalu mencintainya. Teramat besar!!! Karena rasaku sangatlah dalam maka luka sekecil apapun akan terasa sangat perih. Apalagi ini bukan hal sepele. Ia bukan hanya menggores hatiku, tetapi menusuk dan bahkan mencabik-cabiknya.




Aku tahu ia harus ritual. Tetapi aku sangat tidak menyangka ia akan selingkuh di luar itu. Ia main hati.. main kelamin!! Brengsek kamu, Rei. Hiiiiks…




Aku membencinya. Sangat benciii!!! Tidak.. aku sayang dia hiiiks… aaaarh….!!! Aku tidak mau lagi berbicara dengan dia, melihat wajahnya pun aku tidak mau. Aku muak.. aku jijik!! Tapi.. tapi hiiikss.. ia telah jujur kalau ia selingkuh. Rei, aku kangen. Aaaargggh… sialan kamu, sayang. Tidak.. tidaaaak!! Aku tidak sayang kamu lagi. Aku tidak kangen! Aku benciiii!!!




Mataku kosong menatap layar komputer. Perasaanku benar-benar kacau. Marah! Benci! Sedih! Lara!! Kecewa!! Kangen.. tidak.. tidak!! Aku tidak kangen dia. Aku tidak sayang dia. Ia sudah mengecewakanku.




Tubuhku ada di kantor, tapi jiwaku sudah mati. Mati? Aaaargggh… kenapa aku tidak mati saja sekalian ketika sakit kemarin. Kenapa, Tuhan? Hiks.. hiiiks…




Aku ingin teriak. Aku ingin menangis. Tetapi kenapa air mata ini tidak mau keluar? Ah ya.. air mataku tidak mau keluar. Tidak ada yang perlu lagi ditangisi. Aku tidak boleh rapuh!! Papahku tentara bintang tiga, aku harus bermental baja seperti papah. Tapi… haish… Rei sialan. Benci… aku muak.. marah… kesal. Aku benci kamu, sayang. Eh… aaarrrrgh.




“Mbak Rere…” salah seorang teman kerjaku mencolek lenganku. Ia mengajak makan siang. Tiga temanku yang lainnya sudah bediri di depan mejaku. Sejak tadi pagi mereka banyak bertanya karena aku murung sekali, tetapi jawabanku selalu standar: aku baik-baik saja.




Aku tidak terbujuk. Aku tidak mau makan. Biar.. aku mati kelaparan saja. Keempat temanku memutuskan tidak mau makan. Mereka ingin menemaniku. Aku marah.. aku kalap. Kulabarak mereka agar pergi makan siang. Aku ingin sendiri.




Mereka mengalah, mereka meninggalkanku. Mereka terlihat shock karena aku tiba-tiba marah padahal mereka tanpa salah. Kujambak rambutku sendiri. Mulutku terbuka.. rasanya ingin teriak…




Kututup mukaku sambil bergetar. Aku ingin menumpahkan rasa, tapi menangis saja tidak bisa.




“Hei.. ayo makan. Kakak temani.” seseorang datang dari ruang sebelah. Tangannya lembut mengusap bahuku.




Aku tidak peduli. Aku tidak mau makan!!




“Re, kita makan yah. Abis makan kakak antar kamu pulang. Kamu ambil libur aja selama beberapa hari. Seminggu.. dua minggu juga boleh.” ujarnya lembut.




Kubuka kedua telapak tanganku dan kutatap sosok yang setengah terduduk di atas meja kerjaku. Senyumnya terulas. Teduh.




Aku menatapnya heran. Ia tetap tersenyum. Ujarnya, “Kakakmu sudah cerita. Ia sangat mengkhawatirkanmu, makanya ia meminta kakak untuk menemanimu.”




Aku paham. Kak Kekey rupanya sudah cerita kepada Kak Rega.




Aku menggeleng lemah. Kak Rega lantas banyak menghiburku, tapi tidak ada kata-katanya yang meresap. Aku tidak ingin ditemani, aku tidak mau dihibur, inginku hanyalah hilang. Pergi ke dunia lain dimana di sana tidak ada yang namanya sakit hati.




“Ayolah, Re. Adik kakak gak pernah lemah seperti ini.” bujuknya.


"Aku bukan adikmu lagi!!" aku berteriak dalam hati. Hampir saja kalimat itu terucap. Tetapi aku masih sedikit sadar, walaupun seandainya aku dan Rei tidak berjodoh, ia tetaplah kakakku. Kak Kekey adalah sepupuku, meskipun orangtua kami bukanlah saudara kandung.




Kak Rega terus membujukku dengan sabar, sementara smartphoneku terus bergetar. Nama si mesum sialan itu muncul di layar. Kesaaal!! Kenapa sih dari tadi nelpon mulu? Jangan harap aku mau bicara dengan kamu!




“Sinih.” ujar Kak Rega setelah ia ikut melirik ke arah smartphone.




Ia merunduk sambil merentangkan tangan. Aku merubuhku tubuhku, kupeluk Kak Rega dengan erat. Air mataku akhirnya berlinang, panas mengalir, akhirnya menderas. Aku pun terisak di atas rengkuhan bahunya.




Kak Rega tidak berbicara lagi. Ia hanya diam dan membiarkanku menumpahkan segala kepahitan dalam tangisku. Kurasakan ia juga mengecup ubun-ubunku.




Aku merasa sedikit lega. Curahan kasih sayang Kak Rega membuatku merasa terlindungi.




“Ayo angkat, habis itu kita pergi makan.” ujarnya setelah sekitar setengah jam aku menagis dalam pelukannya. Sementara handphoneku kembali bergetar.


“Aku gak mau ngangkat hiiiks… Aku gak mau bicara dengan dia. Aku.. hiiiks.. aku benci dia.” ujarku.




Kak Rega mengusapi air mataku dengan gemas. Kedua pipiku setengah ia jembel.




“Beneran benci?” sambil tersenyum.


“Iyah!! Banget!!!”


“Yaudah kalau kamu benci Rei angkat telponnya, kalau tetap gak kamu mengangkat itu berarti masih sayang.”




Aku mengernyit mendengar ucapannya. Haaah.. untung nada panggilan dari si brengsek itu berhenti.




“Kok gitu?” heranku. Kuusapi sisa air mataku dengan tissue.


“Ya gitu. Palingan Rei akan nelpon lagi.”




Belum juga tenggorokan Kak Rega kering, namanya kembali muncul di layar. Smartphone pun bergetar-getar.




“Jadi sayang atau benci?” godanya.


“Benci!!”


“Angkat donk kalau benci.”




Haiiish.. ini Kak Rega kenapa sih? OK. Akan kubuktikan kepadanya kalau aku memang membenci calon adik iparnya.




Tanganku bergetar mengambil smartphone. Nafasku memburu. Jariku bergetar ketika menekan tombol hijau. Kuloud-speaker sekalian agar Kak Rega bisa mendengar.




“Hallo.” suaraku kubuat datar.


“Yank.. eh… Re… eh sayang..”




Kan kan… seenaknya aja manggil aku ‘sayang’. Sayangi tuh si.. siapa namanya.. oh iya Wulan.. Tante Wulanmu itu. Ama Salsa sekalian. Keseeel!!!




“Hmm.. kenapa?” gumamku.




Kulirik Kak Rega menggelengkan-gelengkan kepala karena sikapku.




“Kamu jangan mendiamku seperti ini. Bisakah kita bertemu dan membahasnya?”


“Aku belum siap.” jawabku ketus. Kuabaikan anggukan Kak Rega yang memberi kode supaya aku mengiyakan.


“Please..”


“Beri aku waktu seminggu.” jawabku tanpa semangat menanggapi.


“Re, please. Aku tidak bisa menunggu tanpa kepastian.”




Kan.. kan… jadi aku yang salah? Dia yang selingkuh, kenapa dia kesal karena kudiamkan.




“Aku tidak suka diselingkuhi. Kecewa. Sakit hati.”




Aku akhirnya bisa mengungkapkan isi hatiku, meski dengan suara yang teramat datar dan tanpa penekanan.




“Maaf. Aku sayang kamu, Re. Aku menyesal dan aku mohon beri aku kesempatan untuk bertemu.”


“Kamu gak dengar? Beri aku waktu seminggu!”


“Please, Re. Tiga hari aja gimana?”


“Seminggu!!”




Si tukang selingkuh itu malah memohon-mohon. Aku bukannya luluh, malah semakin kesal yang ada. Dia tuh egois gak sih? Beri aku kesempatan untuk menenangkan diri napa?!




“Re, please. Aku tidak sanggup…”


“Yaudah temui aku sekarang juga!!!” emosiku membuncah.




Ok fine..!!! aku mau bertemu dengannya sekarang juga. Aku tidak mau hanya berdiam diri. Akan kulabrak dan kuluapkan semua kekesalanku.




“Eh.. jangan sekarang, Re. Nanti sore gimana?”


“Kenapa?”


“Sekarang aku sedang di ‘de Valle’. Sudah janjian makan siang dengan Tante Wulan!”




Brengsek!!! Kutekan tombol merah dengan perasaan sangat marah. Buukk!! Kulempar dan mengenai dada Kak Rega. Praaaak!!! Jatuh ke lantai.




Kali ini aku sungguh-sungguh menangis. Meraung dalam dekapan Kak Rega, sekali-kali juga sambil mengumpat. Kuratapkan perasaan perih dan marahku di dalam pelukan Kak Rega.








https://t.me/cerita_dewasaa








Aku sadar, harusnya Rere menjadi prioritas. Hubungan kami harus jelas. Tetapi aku juga sadar bahwa yang sedang kulakukan saat ini adalah untuk menebus rasa salahku padanya. Mungkin cinta kami tidak akan bisa menyatu, tetapi setidaknya aku punya keberanian untuk menata kembali masa lalu. Jujur.. aku masih berharap Rere mau menerimaku apa adanya. Tetapi seandainya itu sungguh terjadi sementara kerikil-kerikil yang ada belum kubersihkan, itu sama saja hanya akan menciptakan penghalang, bahkan mungkin bisa menjadi keributan tak berujung. Untuk apa aku bersamanya jika hubungan kami tidak harmonis karena kisah masa lalu yang belum dituntaskan.




Terlepas dari itu, ini memang menjadi tahap rintangan yang harus kujalani. Tetapi aku sudah tidak peduli. Bukan.. bukan.. bukan karena aku tidak mau melaksanakan rintanganku, hanya motivasinya yang kuubah. Aku menjalaninya bukan agar lulus ujian, tetapi murni karena aku ingin memperbaiki kesalahanku. Demi Rere kekasih abadiku!!! Demi kebaikan Tante Wulan!! Demi masa depan Salsa!




Hehe.. keren ya aku bepikir seperti itu. Padahal hatiku.. ah yasudahlah.. aku tidak ingin membayangkan bahwa aku akan kehilangannya. Aku belum sanggup. Aku sangat berharap cinta kami utuh kembali. Semoga ia baik-baik saja setelah tiba-tiba mematikan smartphonenya.




Kini aku sedang duduk di sebuah restoran elite, tidak jauh dari gallery milik Tante Wulan. Tubuhku terasa lemas karena memang belum tidur. Tetapi kupaksakan…




“Hai, Rei.”




Wanita yang kutunggu muncul. Langkahnya anggun. Tubuh indahnya terbungkus kemeja putih dengan kancing atas terlepas. Payudaranya menggelembung ketat. Bagian bawah mengenakan rok setengah betis, tetapi belahannya sampai di atas lutut. Rok hitam itu membungkus ketat pinggulnya, lantas melancip ke bagian kaki.




“Selamat siang, Bu.” aku berdiri menyambutnya.




Tangan kami bersentuhan ketika bersalaman. Terasa sangat halus dan lembut. Perasaanku berdesir. Kenangan itu tiba-tiba kembali mampir.




Aku mempersilakannya duduk. Sekuat tenaga aku bersikap tenang meski dadaku bergemuruh. Jiwa seorang Iba melonjak, teringat gelinjangnya ketika telanjang, juga erangnya di atas ranjang. Aku merekatkan gigi dan duduk di hadapannya dengan wajar.




“Kapan pulang. Katanya habis dari LN ya? Kok lama banget?” cerocosnya ramah. Ia seperti tidak sedang bersedih karena kehilangan Iba.


“Baik, Bu. Yeah.. biasalah namanya juga sedang merintis bisnis jadi harus mencari rekanan sampai ke negeri orang.” jawabku diplomatis.


“Iya juga sih. Kamu kelihatannya masih capek banget. Padahal ketemu ibu bisa kapan-kapan saja.” ujarnya. Aku tersenyum. Aku memang lelah, tapi bukan karena baru pulang dari luar negeri, melainkan karena ingatanku selalu pada Rere; ditambah aku juga belum tidur.




Wanita di hadapanku sungguh bisa menempatkan diri. Ia bersikap layaknya wanita terhormat, istri dari seorang pengusaha hebat. Jika aku tidak pernah menjadi Iba, aku tidak akan pernah mengenal sifat aslinya, sekaligus tidak akan tahu kerapuhan hatinya yang sesungguhnya.




Sejenak kami saling memilih menu, yang bukunya sudah sejak awal diletakan. Setelah beres, kulambaikan tangan pada pelayan. Ia mencatat lantas pergi dengan sopan.




“Bagaimana bisnis keponakan ibu?” tanyaku.


“Bbaik.. baik, Rei.” Tante Wulan sedikit gugup.


“Syukurlah kalau begitu, jadi kerjasama kita bisa semakin ditingkatkan.” aku masih bersikap sebagai partner bisnisnya.




Tante Wulan seperti enggan membahasnya. Ia mengalihkan obrolan dengan banyak bertanya tentang usahaku. Rupanya ia sudah mendengar bahwa dua perusahaan kopi yang kami miliki sudah menyatu di bawah satu naungan perusahaan.




“Eh kamu sendiri ke sininya, Rei?” ujarnya setelah berbincang tentang karier bisnisku.


“Iya, Bu.”


“Gak dengan.. ehem… dengan Iba, sopirmu?”




Aku tersenyum. Sebisa mungkin aku bersikap wajar meskipun sudah tahu arah pembicaraan Tante Wulan. Ia sedang mencari Ibanya.




“Iba sedang saya tugaskan keluar kota. Sebenarnya ia bukan sopirku, tapi orang kepercayaanku yang sangat loyal. Selama aku pergi kuminta dia untuk menyamar sebagai sopir agar bisa leluasa menjaga keluargaku.” jelasku dengan berbohong.


“Oh..” Tante Wulan nampak terperanjat namun bisa menutupinya.




Ia terlihat shock mendengar penjelasanku. Namun ia terselamatkan oleh dua orang pelayan yang datang. Mereka membawa pesanan kami.




“Selamat makan, Bu.”


“Selamat makan juga, Rei.”




Kami pun menyantap hidangan. Keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat.




“Ehem.. makasih atas kiriman novelnya, Rei. Bagus!! Ibu gak nyangka kamu punya jiwa menulis juga.” ia nampak tidak betah hanya saling diam.




Aku tersenyum sambil mengusap bibirku. Aku tahu, ia tidak sedang ingin membahas novel, tetapi mengarahkan kembali pembicaraan pada Iba.




Aku pun mulai bercerita. Sengaja kutarik-ulur obrolan agar Tante Wulan merasa nyaman. Agar Tante Wulan tidak merasa malu dan terus penasaran, aku bercerita tentang Iba. Tentu saja hanya karangan. Aku membohonginya.




“Iba sudah bercerita banyak tentang Bu Wulan.” ujarku.


“Eh.. hmm.. iya? Cerita apa saja?” Tante Wulan gugup.


“Maaf, ya Bu. Bu Wulan jangan menyalahkan Iba karena ia cerita padaku. Ia sepertinya sangat perhatian pada ibu dan mau membantu.” ujarku sambil tersenyum.




Tante Wulan mengangguk, tetapi wajahnya terlihat pucat. Kunyahan makannya terhenti.




“Ia banyak cerita tentang hubungan ibu dengan Enzo.” ujarku. Kulanjutkan suapanku.


“Hanya itu?”


“Iya, Bu.”




Bu Wulan menghela nafas lega. Meski begitu sorot matanya berubah sendu. Ia sudah tidak bisa menutupi bahwa ia sedang banyak pikiran.




“Enzo adalah sahabatku. Kalau ibu butuh bantuanku, jangan sungkan, bilang saja, Bu.” aku mencoba menenangkannya.




Bola mata Tante Wulan menatapku sendu. Senyumnya terpulas, sebuah senyum yang penuh kesedihan.




“Ibu boleh meminta sesuatu?”


“Apa itu, Bu?”


“Jangan formal. Panggil tante saja. Toh konteks kita bukan sebagai partner bisnis.”




Aku mengangguk dan menyanggupi.




“Tante.” lirihku pelan sebelum menyeruput minumku. Lebih mirip berbicara sendiri.




Kami sama-sama terkekeh, entah apa yang kami tertawakan. Suasana pun menjadi cair, Tante Wulan nampak lebih rileks.




Aku pun mulai mengajaknya bercanda. Kuabaikan lara hatiku karena Rere, kulontarkan celetukan-celetukan jenaka yang bisa membuat Tante Wulan tertawa.




“Rei.” ia menatapku serius.


“Iya, Tante?”


“Kamu serius mau bantu tante?”




Aku mengangguk.




“Tante takut bertemu dengan Enzo. Tapi tolong pertemukan tante dengannya.” lirihnya.


“Boleh aku tahu persoalan yang sesungguhnya antara ibu dan Enzo? Siapa tahu aku bisa mengajak bicara Enzo dulu, sebelum mempertemukannya dengan tante.”




Tante Wulan tak langsung menyahut. Sorot matanya lekat padaku seolah sedang menyelami isi hatiku dan mencari kepastian bahwa aku bisa dipercaya.




“Itu juga kalau tante tidak keberatan. Kalau ibu tidak berkenan, aku tidak…” aku menghentikan ucapanku ketika Tante Wulan mengibaskan tangan dengan lembut.


“Tante percaya sama kamu.” gumamnya.




Tante Wulan menyeruput minumannya, pandangannya berpaling, menatap ke arah jendela resto. Ia sedang mengumpulkan kenangan.




“Enzo adalah anak suamiku, Reno Ban Fith.” ia memulai kisah hidupnya. “Ia adalah anak Mas Reno dari istri pertamanya.” ia bersuara lagi. Sebuah nama pun ia sebutkan, dan itu adalah ibunya Enzo.




Tanpa diminta, dan hanya dengan pancingan-pancingan kecil, Tante Wulan pun bercerita. Ia dan ibunya Enzo rupanya sudah bersahabat sejak SD sampai lulus SMA. Ada duri kecil yang mewarnai persahabatan mereka, yaitu sama-sama mencintai orang yang sama: Reno Ban Fith. Pria itu kemudian menikahi sahabatnya dan terlahirlah Enzo.




Tante Wulan harus mengubur perasaannya dan berusaha ikhlas. Waktu berlalu… dan Tante Wulan memutuskan mencari kerja di Surabaya agar bisa melupakan patah hatinya. Tanpa disangka ternyata ia bekerja pada perusahaan Reno, tapi baru tahu setelah setahun bekerja.




Sejak pertemuan yang tidak disengaja, mereka menjadi dekat. Cinta lama pun tumbuh kembali. Reno bahkan mengungkapkan rasa cintanya, tetapi Tante Wulan menolak. Ia tidak mau mengkhianati sahabatnya sendiri.




Singkat cerita, Tante Wulan menjadi orang kepercayaan Reno. Ia menjadi kaki tangan pria itu dalam membesarkan perusahaan. Strategi bisnisnya selalu jitu. Saingan bisnis mereka satu per satu mulai disingkirkan, dan tak sedikit yang tunduk dan menjadi partner. Perusahaan pun semakin besar, berbagai bidang mereka rambah. Seiring dengan itu cinta mereka juga semakin tidak bisa disembunyikan. Perselingkuhan pun tak terelakan lagi.




Namun Tante Wulan tetap bertahan, ia tidak mau dinikahi. Ia yang telah mengkhianati sahabatnya, tidak ingin melukainya lebih dalam.




Kabar buruk pun datang. Ibunya Enzo dikabarkan meninggal karena sakit keras, tak lama kemudian disusul oleh kedua kakek dan nenek Enzo yang juga meninggal karena kecelakaan. Reno pun terpukul.




Tante Wulan selalu ada dalam peristiwa duka itu. Mendampingi dan menguatkan Reno. Setengah tahun kemudian mereka menikah. Semua bidang usaha peninggalan kakeknya Enzo pun diambil alih dengan dalih untuk diselamatkan sampai Enzo menjadi besar.




Hanya beberapa bulan setelah menikah, Tante Wulan mulai tahu perangai asli suaminya yang kasar, dan bahkan terang-terangan main serong dengan perempuan lain. Dan pada usia perkawinan yang kedua tahun, Tante Wulan mulai menemukan banyak kejanggalan dalam dokumen perusahaan. Ia mencari tahu, dan kabar buruk pun ia dengar. Sahabat dan kedua orangtuanya bukan meninggal karena sakit dan kecelakaan, melainkan dibunuh oleh Reno.




“Pada waktu itu tante sadar kenapa Mas Reno tidak pernah mau mempertemukan tante dengan Enzo. Rupanya Enzo menghilang karena disembunyikan oleh keluarga dari pihak ibunya.” gumam Tante Wulan.




Air matanya meleleh. Berulang kali ia usap, namun tak berhenti mengalir.




“Minum dulu, Tante.” kugeser gelas minumnya.




Aku cukup prihatin mendengar kisah hidupnya. Sementara dari pihak Enzo, aku mendengar bahwa justru Tante Wulanlah yang telah merebut ayahnya karena ketamakan. Ayah dan Tante Wulan telah bersekongkol untuk mengambil alih kekayaan milik kakeknya. Sahabatku telah salah paham.




Setelah minum, Tante Wulan melanjutkan ceritanya. Menurut penuturannya, ia berubah benci pada suami dan antipati. Tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena seorang putri sudah lahir dari dalam rahimnya.




Tante Wulan juga selalu berusaha mencari Enzo, namun hasilnya nihil. Ada selentingan bahwa Enzo diungsikan keluarganya ke Bandung. Itulah sebabnya ia memaksa suami supaya tinggal di kota ini. Suaminya menuruti kemauan Tante Wulan dengan syarat Tante Wulan tidak bekerja lagi dan lebih fokus mengurusi anak mereka. Tante Wulan setuju. Wanita itu tidak mau masuk lebih jauh ke dalam bisnis kotor suaminya. Lagipula, ia sudah bertekad untuk mencari Enzo.




Hari dan tahun berganti, tetapi pencarian Tante Wulan tidak pernah menemukan titik terang. Sementara itu suaminya semakin jarang pulang dan semakin liar mengumbar nafsu birahinya dengan banyak perempuan.




Meskipun jijik dan bahkan benci, Tante Wulan berusaha menyadarkan suaminya. Ia berhenti meminum pil KB hingga ia mengandung anak kedua. Ia berharap suaminya mulai sadar. Namun harapan tinggalah harapan, suaminya semakin jarang pulang. Tante Wulan ditelantarkan secara batiniah, walaupun kebutuhan hidup tetap dipenuhi. Sekaligus, ia dikekang karena di rumah selalu ada orang-orang kepercayaan suaminya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi.




Tante Wulan sudah tidak bisa menahan diri. Ia tersedu di akhir ceritanya. Aku pun terenyuh, tanpa permisi kugenggam tangannya sekedar memberi sedikit kekuatan bahwa ia tidak sendirian.




Butuh waktu untuk menunggunya tenang.




“Maaf, Tante jadi begini.” lirihnya sambil menghela nafas panjang. Diraihnya kembali lembaran tissue untuk mengeringkan lelehan air mata terakhir.


“…” aku tak menyahut. Biar bahasa tubuh ini yang menjadi isyarat dari empatiku.




Aku sebetulnya kasihan dan menyesal karena aku juga sudah salah paham. Aku terlalu percaya pada cerita versi Enzo, meskipun itu juga bukan kesalahan sahabatku. Aku juga menyesal karena telah mengisi kesepian Tante Wulan dengan cara yang salah.




Kami terus berbincang. Tak terasa waktu sudah menunjukan jam setengah empat sore. Kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Janji pun terucap, aku akan membantu Tante Wulan untuk mempertemukannya dengan Enzo.




“Rei..” ujar Tante Wulan sebelum ia memasuki mobil yang pintunya dibukakan oleh sopirnya.


“Iya, Tante?”


“Terima kasih ya. Dan Tante punya satu permohonan lagi.”


“Apa itu, Tante?”


“Tolong bilang ke Iba supaya menemui Tante. Atau setidaknya untuk menelpon Tante. Tante masih punya utang padanya.”




Aku mengangguk sambil tersenyum kecut. Ia jujur ingin bertemu dengan Iba, meskipun aku tahu ia telah berbohong mengenai alasannya.




“Akan saya sampaikan, Tante. Dan saya pastikan, ia akan menemui Tante.”


“Terima kasih, Rei. See you.”


“Hati-hati, Tante.”




Aku pulang dengan perasaan gamang. Peristiwa pahit menimpa diriku dalam dua hari berturut-turut. Pertama masalahku dengan Rere, dan kedua masalah Tante Wulan yang kini menjadi masalahku juga.




Pikiranku benar-benar buntu. Aku sangat lelah. Energiku benar-benar terkuras.




Aku pun tiba di rumah, langkahku lesu. Kusapa mamah dan Oma Ewer yang sedang ngobrol sambil minum teh. Opa Ardan duduk di samping kolam sambil merokok.




“Capek, sayang?” sambut mamah dengan senyum khasnya.




Kujawab dengan senyuman. Kucium pipi mereka bergantian. Oma malah memelukku erat seolah kasihan melihat wajah lesuku.




“Ayah dan kakak belum pulang, Mah?”


“Belum. Biasanya juga jam lima baru nyampe rumah. Enzi ada di studionya.”


“Hmm.. baiklah. Oma.. Mah.. aku istirahat dulu sebentar yah.”




Keduanya mengangguk sambil tersenyum penuh kasih sayang. Kusapa Opa Ardan sebentar dan mengingatkannya supaya jangan kebanyakan merokok. Tapi aku malah ditimpuk korek karena aku sendiri seorang perokok. Oma dan mamah menertawakanku.




Setibanya di depan kamarku, nampak Oma Alya sedang melihat-lihat bonsai di dekat perpustakaan keluarga.




“Oma.”


“Sayang, baru pulang?”




Ia nampak heran karena melihat raut mukaku. Aku mendekat dan menciumnya. Sorot matanya selalu memandang seolah bertanya.




Aku menggeleng sambil berusaha tersenyum. Aku melangkah menuju kamar, dan langsung merebahkan diri di atas kasur. Oma Alya rupanya mengikutiku dan langsung duduk di tepi ranjang. Tangannya yang mulai keriput mengusapi rambutku.




Mau tidak mau aku pun membalikan badan dan menatap oma.




“Ini pasti bukan karena kerjaan.” ujar oma. Ia sangat peka.




Aku tidak menjawab. Tiba-tiba kelopak mataku terasa panas. Rasanya ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi aku tidak mau kelihatan lemah.




“Yaudah nanti aja cerita ke omanya. Kamu tidur dulu, sayang.” oma sangat pengertian.




Ia naik ke atas kasur dan duduk selonjor. Kubaringkan kepalaku di atas pahanya. Kupeluk pinggang oma dengan erat.




Oma mengusapi rambutku lembut. Tanpa kata, tiada tanya. Tapi bahasa tubuhnya mengabarkan rasa sayang yang sangat besar.




Kupejamkan mataku. Kini sambil memeluk lengan kanannya.




Tangan kiri oma mengusapi kedua alisku bergantian. Ini adalah kebiasaannya ketika menidurkanku waktu kecil. Maklum aku lebih banyak bersama Oma Alya ketika ayah dan mamah bekerja.




Sentuhan oma membuatku perlahan tenang. Aku mulai merasa nyaman. Kesadaranku hilang, tertidur setelah terjaga selama lebih dari dua puluh empat jam.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar