Sang pewaris part 54

 

BAB 54






Kehadiran kedua oma dan opa Ardan membuatku terlepas dari kecanggungan perasaanku sendiri. Mereka membuat suasana pagi ini ceria. Dan kami senang ketika Oma Alya mengatakan tidak akan pulang ke Lembang hari ini. Mereka masih kangen dengan para cucunya. Kakak di luar biasanya, ia paling banyak berbicara untuk menanggapi tuturan oma dan opa. Ia seperti mau menutupi kekakuan antara aku dan Rere.




Kakak meletakan smartphonenya di atas meja. Jarinya mengetuk-ngetuk layar, sedangkan matanya tertuju padaku. Aku paham. Kubuka smartphoneku.






From: Kakak Cantik


Kamu antar Rere ke kantornya seperti biasa.






Aku mengangguk. Toh memang biasanya juga begitu. Tetapi kakak sepertinya masih menyembunyikan sesuatu.




Jam delapan kurang kami bubar. Meninggalkan oma dan opa di rumah. Ciuman mereka daratkan pada kening kami. Mamah berangkat ke kampus bersama Mang Karta. Kakak bersama ayah. Nzi berangkat ke kampus dengan mobilnya. Aku dan Rere menuju mobilku. Ia menggandeng tanganku. Ah.. hariku terasa cerah. Ketakutanku tidak terjadi.




“Maafkan kakak karena menamparmu, dek. Kakak sayang kamu. Tetaplah menjadi adek kakak yang hebat. Harus tegar!” bisik kakak ketika Rere melepas gandengan dan memutari mobil menuju pintu samping.




Aku tak sempat menjawab. Kami saling melambaikan tangan satu sama lain dan masuk ke dalam mobil masing-masing.




“Yank…” sapaku pada Rere yang sudah duduk manis di dalam mobil.




Rere memalingkan wajah menatap keluar melalui pintu samping. Aku menggigit bibir. Sekarang aku paham, sikapnya di ruang makan hanyalah pura-pura.




Kuhela nafas. Kuinjak gas. Mobil pun melaju. Aku tidak ingin opa dan oma yang berdiri di teras curiga. Lima menit kami membisu. Aku kehilangan kata-kata. Rere melirik pun tidak.




“Re, …”


“Buruan nyopirnya. Sudah telat ini!”


“…”




Luka ini kembali terbuka. Sementara memenuhi permintaannya, aku tidak bisa. Jalanan cukup macet.




Sepuluh menit… tetap saling membisu. Aku merasa gerah padahal AC mobil kunyalakan. Setelah berhasil mengatur nafas dan pikiran yang berkecamuk, aku menepikan mobil. Untuk pertama kalinya Rere melirik ke arahku. Sorot matanya datar, keningnya mengkerut heran.




“Re..” aku memberanikan membuka suara. “Akan lebih baik bagiku jika kamu marah, jika kamu menangis, jika kamu memukuliku. Aku sangat tidak nyaman didiamkan seperti ini.”


“Jalan!!!” ketusnya.


“Re…”


“Jalan kubilang! Atau aku turun dan naik taksi saja.”


“…” aku diam menatapnya.




Raut muka Rere semakin datar, ekspresi marah terpancar. Tanpa kata ia menarik lock pintu dan membukanya.




“Re, jangan turun. Iya.. iya kita jalan.” aku mencegahnya.




Rere menatapku tajam. Aku mengangguk. Ia pun kembali menutup pintu yang sudah sedikit terbuka. Kugosok wajahku beberapa kali dan melajukan kembali kendaraan.




Kaku. Beku. Dingin. Tanpa kata, tanpa sapa.




Neraka pun berakhir. Aku sudah tiba di lobi kantornya.




“Nanti aku pulang sendiri.” ketusnya. Gadis itu pun turun tanpa permisi. Kutatap punggungnya, berharap ia menengok sekedar untuk melambaikan tangan. Nihil. Tubuhnya menghilang.


“Mas Rei, silakan maju, di belakang antri.” seorang security menegurku. Ya.. ia memang kenal aku.


“Eh iya, maaf, Pak.”




Kulajukan mobil dengan kencang, menyalip zigzag di tengah kepadatan. Aku rela jika harus celaka dan merenggang nyawa. Klakson kubalas dengan klakson, makian kubalas dengan makian. Sial.. aku malah tiba di kantor dengan selamat.




Aku hanya mengangguk pada security dan karyawan yang menyapa. Langkahku panjang menaiki lift, dan menghempaskan diri pada kursi empuk setibanya di ruang kerjaku.




Kubuka smarphone.






From: My Lovely Rere


“Kemarin malam aku bilang: bahagiamu adalah bahagiaku, sukses dan gagalmu adalah sukses dan gagalku. Dan sekarang aku kena karma atas kata-kata itu! Aku menyesal mengucapkannya.”






Kulempar smartphone ke atas meja. Kututup wajahku dengan tubuh bergetar. Aku sungguh merasa terpuruk. Kehadiran OB-lah yang membuatku menegakan duduk, dan pura-pura menyibukan diri membuka laptopku.




Tak berselang lama, Bunda Rahma dan Inka masuk.




“Loh kirain belum datang, Rei. Sombong gak nemui bunda dulu. Untung OB ngasih tahu kalau kamu sudah datang.” cerocos bunda.




“Hehe.. maaf, Bun.” aku pun berdiri dan cipika-cipiki.




Kulakukan hal yang sama dengan pada Inka. Gadis itu bahkan memelukku.




Kami bertiga duduk diatas sofa mewah. Beberapa hal bunda rahmaa sampaikan. Intinya inka sudah resign di FaF dan ini menjadi hari pertamanya kerja di perusahaan kami. Aku sih senang-senang saja mendengarnya.




Karena interior ruangan sebelah belum selesai didesign ulang sesuai selera Inka, maka untuk sementara kantorku akan menjadi ruangan kerja kami berdua.




Aku merasa bangga pada diriku sendiri. Bunda Rahma hanya membahas perkerjaan, tanpa menanyakan hal pribadi. Itu artinya aku berhasil menutupi kegundahanku. Ia pun kembali ke dalam ruangannya.




“Kok kamu beda, Rei, gak suka yah kerja seruangan dengan aku?”


“Heh?”




Aku yang mau kembali ke meja kerjaku langsung berhenti dan berpaling pada Inka. Gadis cantik itu mendekat lantas menatapku lekat.




“Kenapa?”


“Emang kamu melihat beda gimana?” Aku balik bertanya.


“Kamu sedang sedih!”




Waduh… Ni gadis peka banget. Bunda Rahma saja tidak sadar, tapi sepupuku malah tahu.




“Tidak ada, boss. I’m fine.” ujarku sambil melanjutkan langkah dan duduk kembali pada kursi kerjaku.




Inka tidak percaya begtu saja. Ia duduk di atas meja dengan kaki kanan terangkat, kaki kirinya tetap menjejak lantai. Ia tidak mengenakan rok pendek, tetapi tetap saja lutut dan betis indahnya terpajang. Ia merunduk dan terus menatapku.




“Kaaa…” keluhku.




Aku tidak bisa mengelak. Kurebahkan punggungku dalam-dalam pada sandaran, desah resah kuhembuskan.




“Rere.” ujarku.


“Kalian bertengkar?”


“Yep..!” singkatku.


“Karena?”


“Bukan hanya bertengkar, tapi kayaknya bakalan putus.” aku tidak menjawab pertanyaannya.


“What?!!”




Boss muda sekaligus sepupuku terperanjat. Ia langsung menarik kursi kerjanya dan duduk bersisian. Ia memutar kursiku agar berhadapan.




Layar smartphoneku menyala. Nama kakak muncul. Aku terlepas sejenak dari rasa penasaran Inka. Kuulurkan tangan, tetapi Inka lebih cepat.




“Jangan singgung soal ini dulu.” ucapku.




Inka paham. Ia mengangkat telpon dan langsung terlibat percakapan hangat. Sepupuku juga bercerita bahwa ia sudah masuk kerja dan untuk sementara seruangan denganku. Lima menit kemudian, Inka menyerahkan smartphoneku.




“Hallo, Kak.”


“Dek, are you OK?”


“Yeah.. all good, Kak.” aku berbohong.


“Hiiikss.. maafkan kakak, semalam menamparmu. Kakak menyesal dan kepikiran terus.”kakak terdengar terisak.


“Iya, Kak, aku maklum. Tidak apa-apa, aku aja tidak memikirkannya.”


“Makasih, adekku sayang. Hiiiks…”


“Iya, Kak. Sudah ah jangan nangis. Boss kok cengeng.” aku menghiburnya, sekaligus untuk menghibur diri sendiri sebetulnya.


“Kamu! Nanti malam kita makan berdua yah. Di luar. Kakak akan merasa bersalah terus kalau belum minta maaf secara langsung. Sekalian kita ngobrolin masalah kamu ama Rere. Tadi di perjalanan gimana? Tidak bertengkar, kan? Rere nyampe kantor dengan aman, kan? Tuh anak memang keras kepala, padahal kakak untuk memohon-mohon untuk tidak masuk kerja. Eh terus.. kok kamu diam aja, gak jawab pertanyaan kakak.”


“Kakak bawel. Iyah, nanti kita makan luar di luar. Udah ya, kak. Have a nice day.”


“Reii…”




Klik.




Fiuuuuh. Kuhela nafas panjang.






From: Kak Kekey


“Kamu tuh!”






Kuabaikan pesannya. Aku kembali menatap Inka yang masih menunggu.




“Selamat kerja, boss.” ujarku.


“Kamu tuh!” ujarnya menirukan bunyi pesan kakak karena ia sempat ikut membacanya.


“Hehe…”


“Ayo cerita.”


“Aku malu, Ka.”


“Tumben merasa malu. Biasanya sombong dan sok kegantengan.”


“Ka…!!”


“Iya.. iya.. ayo cerita. Kalau punya masalah itu jangan dipendam. Kamu dan Rere kenapa?”


“Janji gak akan membenciku dan keep secret?."




Sepupuku mengangguk. Setelah helaan nafas panjang kuceritakan masalahku. Tidak detail, tapi sudah cukup membuat Inka paham.




“Gila kamu, Rei.” ungkapnya.


“Katanya gak akan membeciku. Udah janji loh.”


“Iya, aku tidak membenci kamu. Tapi kesel!! Marah!!!”




Inka pun ngomel. Aku hanya diam. Tidak ada kata-kata Inka yang bisa kucerna, isi pikiranku kembali pada Rere.




Kalau lanjut, ya lanjut. Jika putus, ya jelas sekalian. Ini serba menggantung. Sejak lahir aku menahan kang pepen yang menggantung saja aku sanggup, tapi digantung seperti ini rasanya sangat berat.




“Aku paham sih betapa sakit hatinya Rere. Tapi kamu juga hebat, Rei. Tidak banyak lelaki yang bisa jujur seperti kamu. Aku bangga.”




Inka memelukku. Aku membalas. Gundahku tertumpah.




“Aku tuh bahagia banget melihat kalian berdua. Tapi sekarang.. shhh… aku sendiri bingung.” gumamnya.


“Kok bahagia? Bukannya kamu suka aku, yah? Aku kan ganteng.” lirihku.


“Gak usah sok bercanda dan tegar. Aku tuh tahu kamu.” omelnya sambil melepas pelukan dan mengacak-acak rambutku.


“Makasih.”


“Aku gak tahu harus membantumu seperti apa, Rei. Tapi aku selalu siap mendengarkan, jika kamu butuh teman curhat.” ujarnya tulus dan lembut.


“Makasih, Ka.” kembali kupeluk. Kali ini hanya sebentar. Setelah ia kembali merapikan rambutku, Inka pun menggeser kursinya ke balik meja kerja yang tak jauh dari mejaku.


“Semangat!” ia mengepalkan tangan. Aku mengangguk sambil tersenyum kecut.




[Kamu benar, Rei. Aku tuh sayang banget sama kamu. Tapi aku sudah cukup bahagia melihatmu bahagia. Kamu dan Rere itu pasangan sejati di mataku. Aku janji akan selalu ada untukmu, membantumu, mendengarkan keluh kesahmu. Itulah alasan aku mau pindah kerja ke perusahaan kita. Kelak, kalau aku sudah benar-benar melihatmu duduk di kursi pelaminan entah dengan siapa, aku baru akan membuka hati pada pria lain. Walaupun aku masih punya harapan kalau wanita itu adalah aku. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, boleh kan aku berharap?]




Inka nampak mulai menyibukan diri di depan laptopnya, sedangkan aku hanya memandang layar laptopku sendiri dengan pandangan kosong. Mungkin karena semalaman tidak tidur, pandanganku mulai buram. Mataku terasa ngantuk, tetapi pikiranku terus berputar. Keberadaanku antara sadar dan alam bawah sadar.




“Kamu yang kuat donk, Rei.” pelukan hangat kurasakan.




Inka kembali mendekatiku. Sepertinya ia tidak tega melihatku.




'I’m OK, Ka.” lirihku sambil mengucek mata.




Inka tersenyum. Jelas ia tidak percaya kalau aku baik-baik saja. Tak berselang lama, seorang OB membawakan kopi. Rupanya Inka memesannya. Kuseruput di bawah pandangan teduh sepupuku. Aku kembali merasa segar.




“Ka..”


“Hmmm…?”


“Nanti aku mau makan siang dengan tante Wulan.”


“Apa? Kamu.. belum kapok juga?!!”


“Dengar dulu…”


“Iya aku mendengar, tuh tulisannya gede gitu: BERSAMBUNG…



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar