BAB 53
Mendengar bahwa Salsa sering menanyai Iba dari mulut kekasih, aku hanya bisa membisu. Senyumku kecut. Terngiang nasihat ayah: jika kamu mengambil keputusan maka kamu juga harus siap menanggung resikonya. Apakah malam ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan keputusanku?
“Aku bahagia, jangan ambil lagi kebahagiaanku.” lirih kekasihku sambil mendekapku erat.
Permohonan Rere langsung meruntuhkan seluruh bangunan hidupku. Dada kiriku sesak dan sakit. Hatiku remuk. Kelopak mataku panas.
Pikirku gamang. Haruskah aku memberi bahagia dan lara di saat yang sama? Haruskah aku mengguyur cuka pada luka yang baru mengering? Tubuhku kaku, punggungku tiba-tiba basah oleh keringat dingin.
Kekasihku menggeliat dan mengusapi rambut belakangku dengan penuh kasih sayang, sementara aku hanya membeku kaku.
“Yank?” bisiknya.
“…” aku mengeratkan bibir, dan memejamkan mata sekuat tenaga. Aku tidak ingin menitikan air mata.
“Sayang?” Rere mulai sadar akan perubahan bahasa tubuhku.
Ia mengurai dekapan dan memandang wajahku dekat. Ia terlihat terperanjat.
“Sayang, kamu kenapa?” sambil mengusapi kerutan pada dahiku.
“Aku…” hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku langsung duduk dan memeluk kedua lutut. Rere ikut duduk dan mengguncang bahuku.
“Sayang? Aku salah ngomong ya? Maafkan aku.” lirihnya.
“Aku sayang kamu.” lirihku dengan suara sedikit bergetar. Pertahananku runtuh. Air mataku menjentik tanpa bisa kutahan.
“Iya, aku tahu, sayang. Aku bahagia ketika kamu bilang di depan mamah dan Nzi bahwa aku adalah gadis kesayanganmu. Aku juga sayang kamu, Rei. Banget!” jawabka tulus dan tegas. Jari lentiknya mengusap jentik air mataku.
“Katakanlah, sayang, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba begini?”
Raut muka Rere berubah, bahagianya berganti khawatir. Kepalanya merunduk, dan bibirnya mengecup keningku.
Aku merinding. Aku bisa merasakan kekuatan cintanya, luapan kasih sayangnya. Aku memiliki cinta yang sama, tetapi di belakang itu aku telah mengkhianatinya.
“Sayang kamu mengapa? Hiiks.. jangan bikin aku sedih.” melihatku hanya diam, Rere mulai menangis. “Aku salah apa? Hiiiks…”
Kutangkup pipi kanannya, mataku melirik jam. Hampir tengah malam.
“Sayang, sudah malam. Kamu tidur dulu ya, besok kan masih kerja. Aku tidak mau kamu sakit lagi.” ujarku.
Rere menggeleng, matanya yang berlinang menatapku penuh harap.
“Aku janji, besok sepulang kerja aku akan menceritakannya.” lirihku lagi.
Kekasihku kembali menggeleng.
“Kalau kayak gini, gimana aku bisa tidur meskipun ada kamu di sampingku?” suaranya terdengar memelas.
Aku menghela nafas berat. Rere benar… jika menunggu esok itu sama saja membuat Rere tidak tenang sepanjang malam.. sepanjang hari… Apalagi kabar yang akan ia dengar sangatlah menyakitkan. Jika kusampaikan sekarang, ia akan terluka dalam. Jika kusampaikan besok sore, sama saja. Aku tidak bisa mundur, tekad harus kusampaikan, meski berupa tusukan tajam yang akan sangat menyakitkan.
“Iyah.. aku cerita.” gumamku.
Kupeluk kekasihku, ia membalas erat. Kali ini aku benar-benar mengalirkan air mata. Kukecupi rambutnya.
Setelah sedikit tenang dan aku sudah bisa membulatkan tekad, kuurai pelukan. Kudorong pelan tubuh molek Rere dan kubaringkan. Mata kami bertatapan sendu. Aku dengan sedihku, dia dengan khawatirnya.
Aku ikut berbaring bersisian. Kugenggam tangannya. Mataku menatap langit-langit tanpa berani melihat Rere. Ia awalnya tidur miring menatapku, namun feelingnya sangat kuat. Kabar menyakitkan akan ia dengar. Rere pun mengubah posisinya dan ikut telentang menatap langit-langit kamar. Tanpa sepatah katapun ia ucapkan. Kekasihku sedang menunggu.
“Ketika kamu sakit dan masih di ruang ICCU, aku datang.” ujarku sambil mengeratkan genggaman. Telapak tangan kami sama-sama dingin.
“Aku merasakannya. Kamu seperti datang di mimpiku dan mengajakku pulang, tetapi ketika aku sadar kamu tidak ada.” jawabnya, suaranya terdengar mulai hambar seiring ketegangannya menanti cerita yang akan kusampaikan.
Kuyakin Rere berlinang air mata, namun aku tidak berani meliriknya.
“Saat itu…” aku mulai melanjutkan pergulatan hatiku. “Aku sangat terpukul, aku tak sanggup melihatmu berbaring lemah. Andai bisa memilih, aku rela menggantikan posisimu.”
“Separuh dari hidupku terasa hilang, dan aku sudah nekad untuk membuka identitasku. Aku ingin selalu ada bersamamu. Namun hanya beberapa detik sebelum pengakuanku pada mamah (Tante Nur), waktuku habis. Rintangan pertamaku sudah selesai dan aku harus kembali ke Anta.”
“…” Rere diam mendengarkan. Isak tangisnya terdengar.
“Namun bukan itu yang penting. Yang terpenting adalah…” aku menelan liur untuk membasahi tenggorokan. “Aku semakin sadar bahwa kamu adalah segalanya bagiku. Aku sangat menyayangimu dan aku takut kehilanganmu. Tapi…”
Aku meremas jemari Rere, dan ia membalas lemah.
“…di saat yang sama aku merasa bodoh. Aku merasa telah membohongimu. Aku merasa kotor dan tidak pantas memilikimu.”
“Kenapa?” tanya Rere. Ia seolah tidak sabar ingin mendengar inti dari apa yang mau kusampaikan.
“Ketika menjadi Iba, aku.. aku telah…”
Dadaku sesak. Kubuka mulut lebar-lebar. Hidungku sudah tidak bisa mengalirkan oksigen karena cairan. Air mataku panas meleleh.
“….” Rere diam. Genggaman tangannya kaku.
“…selingkuh di belakangmu.”
Kuhembuskan nafas deras. Aku lega sudah bisa mengatakannya. Namun bersamaan dengan terlepasnya himpitan di dada, luka yang teramat perih pun menganga. Aku terluka karena telah menodai cinta sejati seorang gadis tulus dan tegar seperti Rere. Aku sakit karena telah mengecewakannya.
Kurasakan tangan Rere bergetar dan kulitnya semakin terasa dingin. Kuremas tetapi ia tidak membalas. Tangannya akhirnya melepas. Tidak ada jerit tangis, tidak ada teriak murka. Ia mebalikkan badan memunggungiku. Tanpa suara. Tangis pun tidak.
“Salsa?” Rere bertanya, suaranya tanpa sukma.
“Salsa dan seorang wanita lain, namanya Tante Wulan. Maafkan aku.” kuusap jentik air mataku.
Sebagai seorang lelaki aku harus kuat. Tak sepantasnya aku menangis. Bukan karena aku kepala batu dan tidak punya hati, melainkan harus menjadi seorang pewaris yang sejati. Berani berbuat, berani menerima resiko. Akan kujalani dengan tegar segala konsekuensi yang harus kutanggung. Lelaki sejati tidak boleh menangisi, melainkan menjalani.
Aku membulatkan tekad, dan ini cukup melegakan. Aku siap menerima hukuman. Dicaci, dimaki, bahkan direnggang nyawa pun aku siap. Kalaupun ada rasa luka yang tersisa, itu bukan karena aku meratapi diriku sendiri, bukan takut akan nasibku, tetapi itu karena aku telah mengecewakan kekasihku. Rasa bersalah karena membunuh perasaan orang yang disayangi itu jauh lebih besar daripada membunuh perasaan diri sendiri. Ibaratnya, rasa sakit karena terinfeksi corona itu tidak sebanding dengan rasa bersalah karena menularkan virus itu.
Andai saja Rere marah dan memukuli, itu akan lebih baik. Andai saja ia menangis histeris, aku akan merasa lebih lega. Namun yang terjadi sebaliknya. Menangis pun tidak. Lukanya terlalu dalam, ungkapan marah atau tangisan sudah tidak bisa mewakili. Itulah yang membuatku sesak saat ini. Aku sesak bukan lagi karena takut kehilangannya, melainkan karena telah mengubah bahagianya menjadi lara hanya dalam sekejap.
“Aku tidak ingin melihatmu. Tetapi sebelum kamu pergi, tolong kamu jelaskan karena aku tidak mau perpisahan kita meninggalkan salah paham.”
Suara Rere teramat datar, tanpa emosi, bahkan seperti tanpa rasa. Aku tersenyum. Sebuah senyuman paling getir dalam sepanjang hidupku. Kata ‘perpisahan’ yang Rere ucapkan seolah sudah menjadi vonis final yang akan kujalani. Yeah.. aku tidak akan memaksa. Ia layak bahagia dengan orang yang lebih pantas.
Aku bergerak memiringkan badan. Kutatap punggungnya. Bisa melihatnya, meski dari belakang, itu sudah cukup bagiku. Kekasihku masih ada, cintaku juga akan selalu ada. Tidak bisa memiliki itu urusan kedua.
Dengan suara serak kututurkan sebuah perjalanan mesumku. Berawal dari Tante Wulan dengan segala pembenaran alasan yang ada di baliknya sampai pada kejadian berulang dengan Salsa. Rere tidak perlu tahu akan kebodohanku kala itu, yaitu aku mulai terbuai oleh kehadiran Salsa karena terdorong oleh rasa cemburu. Cemburu karena Rere terlihat punya hati pada pria lain. Iba!! Tidak perlu.. ya tidak perlu mengatakan sesuatu yang hanya akan membuat Rere seolah turut andil dalam salah satu perselingkuhanku. Kekasihku telah terbukti setia. Ia tidak pernah salah. Aku saja yang salah, dan memang begitu adanya.
“Maafkan aku, Re.” ujarku di akhir cerita. Memanggil ‘sayang’ saja aku takut. Tambahku, “Aku mohon, berilah aku kesempatan kedua. Aku sangat say…”
“Tolong tinggalkan aku! Aku ingin sendiri!” potongnya dengan suara datar.
“Re, aku.. aku.. telah bersalah dan aku sudah mengakui semuanya. Tetapi aku ingin…”
“Aku ingin sendiri dulu, Rei, beri aku waktu. Kalau aku sudah siap, dan tahu bahwa yang kudengar ini bukan mimpi, baru kita bicara lagi. Tolong.. aku mohon… tinggalkan aku sekarang.”
Aku menghela nafas. Tanganku terulur bergetar, kuusapi rambutnya seolah ini menjadi sentuhan terakhir sebagai seorang kekasih; seolah ini menjadi ungkapan cinta terakhirku yang bisa kuekspresikan. Rere tidak bereaksi. Tidak menerima, tidak juga menolak.
“Aku pergi. Aku mohon tetaplah menjadi Rere, dan jangan pernah berbuat aneh-aneh.” ujarku sambil bangkit dari posisi berbaringku. Rere menelungkupkan mukanya ke atas bantal. Ia seolah tidak ingin aku tatap, atau mungkin tidak ingin lagi melihatku.
Dengan segenap keberanian yang ada, aku merunduk. Kukecup kepalanya. Gadisku tidak bereaksi. Dengan gontai aku pun meninggalkan kamar. Kututup pintu dengan perlahan.
Aku tidak pergi… aku masih di sini. Bersandar pada daun luar pintu dengan perasaan hampa. Semenit.. dua menit.. sunyi… Menit berikutnya terdengar suara samar isak tangis. Semakin keras… Rere mulai menumpahkan segala emosi dan kekecewaannya. Aku tak sanggup mendengar. Langkahku menjauh.. teramat gontai.
Aku urung memasuki kamarku.
Aku harus membangunkan kakak.
Aku tidak ingin Rere seorang diri.
Kuturuni tangga.
Kulewati kamar orangtuaku. Kata maaf pun keluar dari dalam batin, sekaligus menyampaikan bahwa anak lelaki mereka telah melakukan apa yang seharusnya.
Kuketuk pintu kamar kakak pelan. Lebih keras kemudian. Ketukan ketiga dijawab deheman. Aku menunggu.
Pintu kamar pun terbuka. Sosok kakak muncul sambil menggulung rambutnya yang kusut.
“Rei? Ada apa, dek?” ia heran. Kantuknya langsung hilang.
“Kak, aku mohon temani Rere di kamarnya?” ujarku.
“Loh Rere kenapa? Sakit lagi? Kita bawa ke dokter saja.” paniknya.
“Tidak sakit, kak.”
“Lalu?”
“Rere sedang menangis karena.. karena…”
Tangan kakak terulur cepat dan menjewer kupingku keras. Aku terperanjat dan meringis sambil berusaha melepaskan jewerannya.
“Kamu telah menodainya?!” sorot mata kakak berkilat marah.
“Kak, lepasin. Nggakk.. bukan karena itu.”
Ada helaan nafas lega ketika kakak mendengar jawabanku. Jewerannya terlepas.
“Kalian bertengkar?”
“Lebih dari itu.”
“Hah? Maksudnya?”
“Kak, aku mohon. Buruan temani Rere. Nanti aku jelaskan.” aku memelas.
Kakak pun menarik tanganku menaiki anak tangga.
“Kamu jelaskan sekarang.” perintahnya dengan suara tertahan.
Aku menghela nafas sambil menjejeri langkah panjangnya.
“Aku telah selingkuh, dan aku baru jujur pada Rere.” jawabku dengan nafas tersengal.
“Aap…?” kakak nyaris berteriak namun keburu menutup mulutnya sendiri.
Wuuut!!! Plaaaaak!!!!
Bukan tamparan, melainkan gamparan. Langkahku terjejer. Kakak menatapku dengan mata menyala penuh amarah. Aku yakin ini adalah tamparan pertamanya seumur hidup. Segalak-galaknya kakak, ia tidak pernah sekasar ini.
“Kamu.. arrrgh…” kakak geram.
Ia pun berlari menuju kamar Rere, sedangkan aku mematung sambil mengusapi bekas gamparannya. Aku merasa sungguh teraniaya. Tetapi aku harus menjadi seorang lelaki. Ayah dan mamah sering menasihatiku begitu. Aku harus kuat.
Aku nyaris lunglai dan hampir terduduk pada anak tangga. Tetapi aku terus menghibur diri. Perlahan aku melangkah menuju kamarku sendiri.
Apapun itu… sekuat apapun motivasi diri, aku tetaplah manusia yang punya perasaan. Aku menangis. Bahkan aku sudah tidak tahu lagi untuk apa aku menangis. Toh apa yang kulakukan, menurutku sudahlah benar. Aku sudah bisa mengambil keputusan, dan kini harus merangkak untuk bisa menerima konsekuensinya.
Setelah lama meratapi diri di atas kasur, aku pun bangun. Kulepaskan pakaian. Kurendam tubuhku di dalam bathtub. Merendam diri sepanjang sisa malam, tanpa sedikit pun mata tertidur.
“Ayah dulu sampai pernah gila karena ibumu, Rei.” aku teringat cerita ayah.
Aku tertawa tanpa suara. Terasa getir. Tapi aku tidak mau seperti ayah. Ayahku cemen, aku kuat. Seandainya Rere memilih kami putus pun aku tidak mau gila. Cukup ayah saja. Aku kembali tertawa, kali ini bersuara. Aku terbahak sendiri. Lalu menangis. Tertawa lagi. Menangis lagi. Kupukul dinding, kuelus punggung tanganku yang memerah dengan penuh rasa sayang.
Kusentil-sentil kang pepen yang pernah nakal sehingga membuatku seperti ini. Aku kembali tertawa melihatnya mengkerut kedinginan. Kusatukan ujung jari tengah dan ibu jari. Kumasukan kang pepen.
“Hahahaha….” aku terbahak. “Kamu kecil, kang.” ujarku.
Tawaku lepas, sementara air mata tetap mengalir. Kusuwir-suwir bulu jembutku, kutarik-tarik… kang pepen tetap tertunduk malu. “Rasain kamu sekarang, kang.” aku terus ngomong sendiri. Aku pun lelah.. lantas terdiam dengan tatapan hampa. Aku seperti ada tetapi juga tidak ada.
Dok dok.
Terdengar gedoran pada pintu kamar mandi.
“Rei, kamu di dalam?” terdengar suara kakak.
Aku terkejut dan mengerjapkan bata beberapa kali. Tubuhku menggigil. Air sudah tidak lagi hangat, dingin kurasa.
“Rei?!!” kakak terdengar khawatir.
“Eh iya, kak. Lagi mandi.” aku tergagap.
“Sshhh… syukurlah. Buruan mandinya, nanti terlambat ke kantor.”
“Iya, kak.”
Aku pun beranjak dari dalam bathtub sambil menggigil. Kuputar keran ke arah titik merah dan kunyalakan shower. Air hangat pun mengucur. Perlahan tapi pasti aku sudah tak lagi semenggigil tadi. Namun kepalaku terasa pening, berdiriku sedikit limbung.
Butuh waktu bagiku untuk memulihkan kekuatan dan memulangkan semua ingatan. Aku tersenyum kecut. Aku tidak tahu apakah aku akan menjalani hari ini sebagai kekasih Rere atau sebagai jomblo. Kalau yang kedua, mungkin aku akan memilih jomblo selamanya. Ah.. entahlah!!
Kukeluar kamar mandi sambil mengenakan kimono. Adikku sudah menunggu.
“Kakak kebo ih.. buruan udah ditunggu sarapan.” ujarnya.
“Hmmm.. iya dek. Masih pagi juga.”
“Pagi? Kakak aneh deh. Lihat tuh..”
“Oh shit…” aku kaget sendiri. Sudah hampir setengah delapan.
“Buruan, kakaaaak.”
“Heheh.. iyah.. iyah… yaudah adek keluar dulu. Aku mau pake baju.”
“Oh iya hihiii.”
Nzi pun mencium pipiku lalu meninggalkan kamarku. Kulirik ke arah kasur dan aku tersenyum kecut. Biasanya kalau Rere menginap, ia menyediakan pakaian gantiku. Tapi tidak pagi ini.
Kupilih pakaian. Kuputuskan untuk berangkat kerja dengan berpakaian casual. Paling-paling nanti diomelin Bunda Rahma.
Kuamati wajahku di depan cermin untuk memastikan bahwa wajah ini sudah segar. Kelopak mataku sedikit bengkat. Kuurut kecil.
Kumasukan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas, lantas melenggang menuju pintu kamar yang tadi ditutup adikku. Langkahku kubuat tegap. Aku harus gentle. Tidak boleh terlihat rapuh. “Lelaki sejati harus bisa menghadapi resiko dari setiap keputusannya.” ujarku pelan. Sebuah kalimat yang selalu kuulang-ulang.
Anehnya, setelah mengatakan itu, aku malah merasakan sebersit rasa sakit di dalam dadaku. Nzi rupanya menungguku di depan kamar. Senyumnya cerah seperti biasa.
“Adikku benar-benar belum tahu.” batinku.
Ia pun menggandengku dengan manja, sama-sama menuruni tangga. Wajah-wajah ramah menyambutku. Rere juga melirik dengan sedikit senyum. Penampilannya pagi ini sedikit berbeda, makeupnya lebih tebal.
“Pagi semua.” sapaku, disahut mereka semua. Seperti biasa, ritual pagi adalah mencium pipi mereka satu per satu. Mulai dari oma dan opa, orangtua, dan…
Jantungku berdebar kencang ketika mencium pipi kakak. Bukan karena kakak, tapi Rere. Haruskah aku menciumnya setelah ini?
Kakak sedikit berbeda. Ia melingkarkan tangannya ke belakang dan meraih kepalaku. Ia balik mencium tepat pada pipi yang semalam ia tampar keras. Sorot matanya sendu penuh penyesalan.
“Pagi…”
“Pagi, sayang.”
Seeerrr… perasaanku berdesir. Rere memotong sapaanku yang bergetar dengan menyapa duluan. Bukan hanya itu, ia juga sedikit beranjak mengecup tipis bibirku.
Senyum-senyum bahagia terpancar melihat kami, tapi tidak dengan kakak. Senyumnya menyembunyikan sesuatu.
Aku duduk di samping Rere sambil tersenyum. Kekasihku malah mengoles roti dan meletakannya di atas piringku. Sikapnya tidak ada yang berubah. Haruskah aku bahagia? Ia mau memaafkanku? Ah entahlah.. setelah ini aku akan tahu.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar