BAB 52
Adikku pun menceritakan secara detail tentang sopir itu, dan juga pesonanya. Ya iyalah.. mau bertampang seperti apapun aku selalu punya pesona. Rei!!
“Walaupun aku sempat marah dan kecewa, aku tidak menyalahkan Kak Rere sepenuhnya sih karena Iba itu mengingatkanku juga pada Kak Rei.” Nzi menutup ceritanya.
“Hiikss.. maafkan aku, yank. Yang ada di dalam pikiranku waktu itu hanya kamu.” isak kekasihku.
“Udah gak usah nangis.” kuusap air mata Rere, tetapi tangisnya malah semakin keras.
Langsung kudekap dan kucium kepalanya.
“Kamu kenapa marah ke Kak Rere, dek?” tanyaku.
“Ya waktu itu aku sangat kecewa. Kak Rei kan sayang banget ama Kak Rere.” jawab jujur Nzi.
“Ok. Jadi Rere melakukannya karena membayangkan bahwa Iba itu aku, sedangkan adek marah karena menganggap Rere berkhianat?” aku menegaskan kembali titik persoalan.
Nzi mengangguk. Kurentangkan tangan supaya adikku mendekat. Kupeluk keduanya dengan penuh kasih sayang. Rere masih belum berani menatapku, membalas pelukan pun tidak.
“Aku bangga pada kalian. Aku sayang kalian berdua. Dan kamu, dek, jangan kecewakan kakak.. jangan pernah bertengkar lagi.” ujarku.
“Kamu gak marah, yank?” kekasihku akhirnya bersuara. Nzi ikut mendongak dan menatapku seolah ingin memastikan bahwa aku tidak marah.
“Kalian ini…” kuuyel-uyel rambut keduanya dengan gemas.
Kulepaskan pelukan dan beranjak menuju sebuah laci. Kuabaikan tatapan keduanya yang terheran. Kuambil jam tangan pemberian Rere pada Iba, segera kukantongi.
Aku pun kembali duduk di antara keduanya.
“Sayang?”
“Kak?”
Ujar mereka bersamaan.
“Jadi adek setuju kalau Kak Rere jadi kakak iparmu?” godaku pada Nzi.
Nzi mengangguk. Rere mengusapi air matanya.
“Makasih, dek. Kakak sayang banget ama Rere.” ujarku lagi. Kali ini sambil memeluk kekasihku. Mata bundar adikku berputar-putar. Ia masih belum paham atas sikapku yang tidak marah sama sekali. Ekspresi kecewa pun tidak ada.
“Yank, kamu beneran gak marah? Gak cemburu?” Rere masih menyimpan beban.
“Semoga kamu mengerti. Jika tidak, biarlah Reiku yang mengerti.” ujarku.
Rere sontak mendorong dadaku dan melepaskan diri dari pelukan. Tatapannya tajam, Nzi celingukan bingung.
“Sayang, dari mana kamu tahu?”
“Eh bentar.. bentar.. ini ada apa sih?” sahut adikku.
“Sayang?!” Rere tidak memedulikan Nzi, ia masih menatapku tajam.
Aku terbahak melihat sikap mereka.
“Jawab gak?” Rere mencubit perutku dan memelintir.
“Ampuun.. iya.. iya aku jelaskan.” aku mengaduh.
“Ini ada apa sih?” adikku menjadi orang yang paling tidak paham.
Kukeluarkan jam tangan dari kantong celanaku. Rere semakin terbelalak. Ia merebut jam dari tanganku dan memperhatikanku, selebihnya ia menatapku kembali.
“Jadi gini, dek…” ujarku pada Nzi dan pura-pura tidak acuh pada kekasihku. Aku sangat puas melihatnya kebingungan yang tergurat pada wajahnya.
“Waktu kakak ulang tahun, Rere membelikanku hadiah jam tangan ini. Tapi karena besoknya Iba dipecat, Rere memberikan jam tangan ini kepada Iba dengan menaruhnya di kamar kosan dia.”
“Sayang!! Dari mana kamu tahu?” Rere berubah galak.
“Makasih atas kadonya, sayang.” aku tak peduli. Kutarik bahu Rere agar bisa mengecup keningnya, tapi ia memberontak.
“Sebentar kakaaaak!!” Nzi memekik sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. “Jadi jam tangan ini hadiah ulang tahun kakak? Terus Kak Rere memberikannya kepada Iba? Terus.. terus… aaargh… sekarang kenapa ada di tangan kakak?”
“Hei.. hei.. ini anak-anak mamah kenapa sih ribut malam-malam? Adek kenapa teriak-teriak? Nanti omamu kebangun loh.” tanpa kami sadari mamah sudah berdiri di ambang pintu.
“Kakak nih, Mah.” Nzi mengadu.
“Boleh mamah masuk?”
Kami bertiga pun mengangguk. Aku sih hanya senyam-senyum saja. Rere nampak geram. Adikku masih bingung tanpa jawaban.
“Loh sayang? Kok menangis?” mamah menyadari sisa air mata pada wajah Rere.
“Rei jahat, mah.” Rere malah kembali menangis dan memeluk mamah.
Kini ia punya pelindung. Ia tahu aku tidak akan berbohong di depan mamah.
“Rei? Sayang? Sekarang jelaskan ke mamah.” mamah menatapku aku dan Nzi bergantian.
Nzi yang pada dasarnya ceriwis langsung berceloteh. Ia menceritakan niat mereka untuk jujur tentang pertengkaran mereka di masa lalu. Sambil tetap terisak, Rere menambahkan cerita tentang jam tangan itu. Di akhir cerita, Rere membuka smartphonenya dan mencari sesuatu.
“Oh.. jadi gitu toh ceritanya.” mamah manggut-manggut sambil tersenyum. Mamah tentu saja tidak kaget karena sudah tahu kalau aku dan Iba adalah orang yang sama.
“Terus Rei sudah tahu alasan kenapa kamu mencium Iba?” tanya mamah pada Rere. Kekasihku mengangguk.
“Rei udah melihat videonya?” tanya mamah lagi.
“Nih baru kubuka.” jawab Rere sambil menunjukan layar smartphonenya.
“Nih kamu tonton ini, sayang.” ujar mamah sambil memberikan smartphone Rere.
Kutekan tombol play:
“Mas Iba, aku boleh minta tolong gak?” ujar Rere.
“Eh iya, Neng. Mau minta tolong apa?”
“Tolong ambilin handphone-ku di kamar atas. Di kamar Rei.”
“Kamarnya yang mana, ya Neng?”
“Dari tangga kamu belok kanan, pintunya terbuka kok. Handphone-nya ada di atas meja.”
“Baik, Neng.”
“Terima kasih ya.”
“Hehe.. Neng Rere pake berterima kasih segala. Ya gakpapa atuh, Neng.”
Aku mengangguk sopan, lalu beranjak memasuki rumah. Aku minta ijin dulu pada orangtuaku dan kedua calon mertuaku yang masih asik ngobrol di ruang keluarga. Aku pun menaiki tangga.
Kumasuki kamarku sendiri. Terlihat sangat bersih dan rapi. Nampak tas Rere menumpang di ujung kasur. Aku yang semula biasa, kini tersedak haru. Aku sudah terasing dari kamarku sendiri, fasilitas pribadiku sudah tidak bisa lagi kunikmati.
Degh!
Smartphone Rere tergeletak di atas meja. Sedang dicharge. Namun bukan itu yang membuatku tersentak. Melainkan setangkai mawar yang dipasang pada pas bunga yang sangat indah. Aku melangkah, dan mataku langsung berkaca-kaca.
Sekarang aku paham. Rupanya Rere datang setiap hari, entah pagi atau sore, untuk mengganti bunga itu. Terdapat juga sebuah agenda, namun aku tidak bisa mengintip karena cover tebalnya pake nomor kunci.
Aku merunduk. Kucium harum mawar itu seolah sedang menghirup aroma tubuh kekasihku. Aku membatin.. tulus kusampaikan rasa sayangku.
Ingin rasanya aku melawan takdir. Berlari ke bawah dan memeluk kekasihku. Tapi ada daya, yang akan kudapat malah tamparan. Wajahku kini berbeda, sulit bagi semua orang untuk percaya.
Kuusap jentik air mataku. Kuatur nafas selama beberapa saat lamanya. Tak mau Rere curiga karena terlalu lama, segera kuambil smartphonenya. Kutinggalkan kamar.
Semua peritistiwa di kamarku kala itu rupanya terekam video. Aku yang semula berniat mengerjai Rere dan adikku, kini malah ganti berkaca-kaca. Sekarang aku paham mengapa Rere selalu memepetku ketika sedang berperan menjadi Iba. Ia sedang mencari tahu tentangku. Dan video ini adalah buktinya.
“Jadi kamu mau dicium Iba karena video ini, yank?” tanyaku pada Rere.
Gadisku mengangguk di dalam pelukan mamah.
“Aku juga udah lihat videonya, kak, makanya aku akhirnya bisa memahami tindakan Kak Rere ama Iba waktu itu.” celetuk Nzi.
“Mah..” ujarku pada mamah.
“Iya, sayang?”
“Dek..” kutatap adikku.
Adikku mengangkat alisnya seolah balik bertanya.
“Aku sayang gadis ini.” langsung kutarik Rere dari pelukan mamah dan kudekap erat. Kekasihku menggelinjang tapi tetap kutahan.
Mamah pun tertawa haru. Adikku juga tertawa tetapi hambar karena belum paham.
“Rei.. sayang… apa-apaan sih. Jelaskan dulu kenapa jam tangan ini ada di kamu.” Rere masih terus memberontak.
Mamah semakin tertawa. Ia mengurai pelukan kami.
“Sudah.. sudah.. biar mamah saja yang menjelaskan.” mamah nampak gemas dan tidak sabar karena aku tak kunjung memberi penjelasan.
“Mamah paham kalau kalian bertengkar waktu itu walaupun sebenarnya kamu tidak perlu marah ke Rere, sayang. Jadi gini.. Rei dan Iba adalah orang yang sama.”
“Haaah??” ekspresi kekasih dan adikku menyukakanku. Mereka benar-benar terperanjat.
“Maksud mamah?” tanya Nzi.
“Ya kakakmu ini Iba, iba itu Rei. Sekarang kalian marahin aja tuh.. mamah juga baru diberitahu setelah dia pulang.”
Kedua gadis yang kusayangi semakin terbelalak.
“Mamah benar. Jadi Rere tidak pernah selingkuh.” ujarku, kali ini dengan penuh haru. Lanjutku, “Aku memang sengaja melakukannya, karena salah satu rintanganku adalah dengan bekerja di rumah keluarga sendiri tanpa ketahuan.”
“Keseeel!!!” teriak Rere sambil melempar jam tangan ke dadaku.
“Kakaaak.” Nzi memukuliku.
Kamar pun menjadi riuh, dan aku harus mengelak dari berbagai pukulan dan cubitan.
“Sudah.. sudah.. nanti oma dan opa kalian terganggu!” mamah mengingatkan.
“Jadi.. jadi… aku udah sering nyuruh kakak nyuci mobil, donk?” ceriwis Nzi.
“Gak sopan kamu, dek!!”
Kami pun kembali tertawa.
“Apalagi mamah. Mamah paling sering menyuruh-nyuruh Kang Rei si sopir idaman.” gelak mamah. Kalau tadi ia meminta kami supaya tidak ribut, kini malah tawa mamah yang paling keras.
Setelah tawa kami reda. Kujelaskan semuanya sehingga tidak ada lagi kebingungan di antara Rere dan Nzi.
Tak berselang lama, Kak Kekey muncul, memberitahu bahwa Kak Rega mau pulang. “Ada apa sih kok kayaknya seru banget?” tanya kakak.
“Gak ada apa-apa kwek..” jawab adikku.
Ia nampak senang karena kakak adalah satu-satunya orang yang belum tahu. Ia punya bahan untuk mengerjai kakak esok hari.
Kami semua keluar kamar dan turun ke lantai bawah.
“Mah, aku pulang dulu.” sambut Kak Rega.
“Iya, sayang. Hati-hati jangan ngebut.”
Mamah pun mencium kening Kak Rega. Nzi memeluk Kak Rega, tetapi kakak langsung memisahkan. Bukan melarang, tapi karena ia sendiri masih ingin memeluk kekasihnya.
“Makanya jangan jomblo.” godaku.
Nzi merengut. Kak Rega malah menggoda adikku dengan membalas pelukan kakak. Malam pun berakhir. Kak Rega pulang, dan kami masuk kamar masing-masing.
Sampai sejam kemudian aku tidak bisa tidur. Aku tetap kepikiran Rere. Aku masih ingin bersamanya. Kekasihku terlalu hebat, ia bisa merasakan kehadiranku meski dalam rupa yang berbeda.
Kukirim pesan, rupanya ia juga belum tidur. Aku keluar kamar dan melangkah menuju kamarnya.
Kekasihku sudah berbaring di atas kasur. Aku mendekat dan ikut membaringkan diri. Kutarik kepalanya dan kupeluk erat.
“Gak usah peluk-peluk. Masih kesel..!!” judesnya.
Ia mendorong dadaku tapi kutahan. Bibirku mengecupi kepalanya. Kekasihku adalah gadis hebat yang memiliki cinta yang tak diragukan. Ia punya cara untuk mencari pujaan hatinya, untuk membuktikan instingnya, meskipun sempat kacau karena Nzi mengetahui percumbuan itu.
Kekasihku sudah tak meronta. Ia menatapku sambil satu tangan menepuki pipiku. Pipinya sedikit menggelembung pertanda masih kesal.
“Kok bisa punya ide ngerekam sih, yank? Jadi sebenarnya kamu nyuruh aku ngambilin handphone itu sudah direncanakan yah?” tanyaku. Kurapikan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
Rere mengangguk sambil tak hentinya menatapku. Kini aku juga baru ingat kalau Rere punya dua smartphone.
“Matamu itu loh, yank.” lirihnya.
Aku tersenyum mendengarnya. Rere terlalu peka untuk kubohongi. Sosok bisa beda, tetapi aura tidak bisa mengelabuinya.
“Maaf, sayang. Aku juga tidak bisa menolak takdirku. Rintangannya memang seperti itu.” gumamku.
Kuceritakan gejolak batinku selama aku bekerja sebagai sopir. Rasa cemburu pada diri sendiri dan menganggap Rere tidak setia pada Reinya. Juga rasa cemburuku ketika mengintip Rere berpelukan dengan pria lain di ruangan kantornya, yang ternyata pria itu adalah Kak Rega.
“Reiii!!” Rere gemas.
Ia langsung menindihku setengah duduk. Rambutku sukses ia acak-acak. Kesal, sedih, haru, dan gemas sepertinya bercampur menjadi satu setelah ia mendengar semua penuturanku.
Kekasihku mengecup bibirku, lantas kembali membaringkan diri. Kepalanya ia benamkan di pada bahuku. Kecupan-kecupan kecil ia daratkan pada pipi.
Sambil bermesra kami saling berbagi cerita. Kadang diselingi tawa kecil ketika mengenang kejadian-kejadian konyol pada setiap kebersamaan antara Rere dan Iba. Dulu kami sama-sama menangis karena rasa rindu, kesal karena cemburu, dan juga diam-diam saling mengawasi. Sekarang semuanya itu terasa menggelikan; sebuah kenangan ganjil yang tak akan pernah kami lupakan.
“Aku tuh kangen banget tapi kamunya malah gak mengaku.” ujarnya.
“Aku juga kangen, sayang. Tapi kalau aku ngaku maka semua rintangan akan berantakan.” lirihku.
Bibir kami beradu dan saling mencumbu hangat. Bagi Rere sekarang sudah tidak ada lagi beban. Cinta tulusnya sudah tercurah secara benar. Tetapi tidak bagiku. Aku tidak sesetia gadisku.
“Salsa sering nanyain Iba tuh.” ujar kekasihku di akhir cumbuan.
BER…!!!
SAMBUNG.
Report content on this page
0 Komentar